Tafsir : Al Baqarah, ayat 2

Oktober 5, 2017 Tinggalkan komen

KITAB (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Ibnu Juraij mengatakan, Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa makna zalikal kitabu adalah “kitab ini”, yakni Al-Qur’an ini. (

Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ikrimah. Sa’id ibnu Jabir, As-Saddi, Muqatil ibnu Hayyan, Zaid ibnu Aslam, dan Ibnu Juraij. Mereka mengatakan bahwa memang demikianlah maknanya, yakni zalika (itu) bermakna haza (ini). 

Orang-orang Arab biasa menyilihgantikan isim-isim isyarah (kata petunjuk), mereka menggunakan masing-masing darinya di tempat yang lain; hal ini sudah dikenal di dalam pembicaraan (percakapan) mereka. 

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari, dari Ma’mar ibnul Musanna, dari Abu Ubaidah.

Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa isyarat tersebut ditunjukkan kepada Alif lam mim, sebagaimana yang terdapat di dalam firman-Nya yang lain:

لَا فارِضٌ وَلا بِكْرٌ عَوانٌ بَيْنَ ذلِكَ

yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan di antara itu. (Al-Baqarah: 68)

ذلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ
Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kalian. (Al-Mumtahanah: 10)

ذلِكُمُ اللَّهُ

(Zat) yang demikian itulah Allah. (Yunus: 3)

Masih banyak lagi contoh isyarat memakai lafaz zalika dengan pengertian seperti yang telah disebutkan.

Sebagian kalangan ahli tafsir berpegang kepada apa yang diriwayatkan oleh Al-Qurtubi dan lain-lainnya, bahwa isyarat tersebut ditujukan kepada Al-Qur’an yang telah dijanjikan kepada Rasulullah Saw. akan diturunkan kepadanya, atau isyarat ditujukan kepada kitab Taurat atau Injil atau hal yang semisal; semuanya ada sepuluh pendapat. Akan tetapi, pendapat ini dinilai lemah oleh kebanyakan ulama.

Yang dimaksud dengan “Al-Kitab” di dalam ayat ini adalah Al-Qur’an. Orang yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan lafaz zalikal kitabu adalah isyarat kepada kitab Taurat dan Injil, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lainnya, jauh sekali menyimpang dari kebenaran. tenggelam ke dalam perselisihan dan memaksakan pendapat, padahal dia sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Ar-raib artinya keraguan. As-Saddi meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas dan dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud dan dari sej’umlah orang-orang dari kalangan sahabat Rasulullah Saw., bahwa makna la raibafihi ialah “tidak ada keraguan di dalamnya”. 

Hal yang sama dikatakan pula oleh Abud Darda, Ibnu Abbas. Mujahid. Sa’id ibnu Jabir, Abu Malik. Nafi’ maula Ibnu Umar, Ata, Abul Aliyah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Muqatil ibnu Hayyan, As-Saddi, Qatadah, dan Ismail ibnu Khalid.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, “Aku tidak pernah mengetahui ada perselisihan pendapat mengenai maknanya.” 

Akan tetapi, adakalanya lafaz ar-raib dipakai untuk pengertian “tuduhan”, seperti makna yang ada pada perkataan Jamil, seorang penyair:

بُثَيْنَةُ قَالَتْ يَا جَمِيلُ أَرَبْتَنِي … فَقُلْتُ كِلَانَا يَا بُثَيْنُ مُرِيبُ

Busainah mengatakan, “Hai Jamil, apakah engkau curiga kepadaku?’ Maka kukatakan, “Kita semua, hai Busainah, mencurigakan.”

Adakalanya dipakai untuk pengertian “kebutuhan”, seperti pengertian yang terkandung di dalam ucapan seseorang dari mereka, yaitu:

قَضَيْنَا مِنْ تِهَامَةَ كُلَّ رَيْبٍ … وَخَيْبَرَ ثُمَّ أَجْمَعْنَا السُّيُوفَا

Kami telah menunaikan semua keperluan dari Tihamah dan Khaibar, setelah itu kami himpun pedang-pedang (senjata kami).

Makna ayat ialah bahwa kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalamnya, ia diturunkan dari sisi Allah. Pengertiannya sama dengan makna firman Allah Swt. di dalam surat As-Sajdah. yaitu:

الم تَنْزِيلُ الْكِتابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعالَمِينَ

Alif lam mim. Turunnya Al-Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam. (As-Sajdah: 1-2)

Sebagian ulama mengatakan bahwa bentuk kalimat ayat ini merupakan kalimat berita, tetapi makna yang dimaksud adalah kalimat nahi larangan). yakni: “Janganlah kalian meragukannya!”

Di antara ulama ahli qiraah ada yang melakukan waqaf (menghentikan bacaan) pada lafaz la raiba fihi kemudian melanjutkan bacaanya dari fihi hudal lil munaqin.

Melakukan waqaf pada firman-Nya, “Ia raiba fihi lebih utama karena berdasarkan ayat yang telah kami sebut tadi, karena lafaz hudan menjadi sifat Al-Qur’an (yakni kitab Al-Qur’an ini tidak diserukan lagi, di dalamnya terkandung petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa). 

Makna ini lebih balig (kuat) daripada fihi hudan (kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa).

Lafaz hudan bila ditinjau dari segi bahasa dapat dianggap marfu’ karena menjadi na’at (sifat), dapat pula dianggap mansub karena menjadi hal (keterangan keadaan). 

Hidayah ini dikhususkan bagi mereka yang bertakwa, seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدىً وَشِفاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولئِكَ يُنادَوْنَ مِنْ مَكانٍ بَعِيدٍ

Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”(Fushshilat: 44)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَساراً

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Isra: 82)

Masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan makna bahwa hanya orang-orang mukminlah yang beroleh manfaat dari Al-Qur’an, karena diri orang mukmin itu sendiri sudah merupakan petunjuk. Akan tetapi, yang beroleh petunjuk itu hanya mereka yang bertakwa. sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفاءٌ لِما فِي الصُّدُورِ وَهُدىً وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus: 57)

As-Saddi meriwayatkan dari Malik, dari Abu Saleh. dari Ibnu Abbas; As-Saddi juga meriwayatkannya dari Murrah Al-Hamadani, dari Ibnu Mas’ud dan darisejumlah sahabat Rasulullah Saw. mengenai makna hudal lil muttaqin. 

Makna yang dimaksud ialah cahaya bagi orang-orang yang bertakwa.

Abu Rauq meriwayatkan dari Dahhak, dari Ibnu Abbas mengenai hudal lil muttaqin. 

Ia mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang mukmin yang menjauhkan diri dari kemusyrikan terhadap Allah, dan mereka selalu beramal dengan taat kepada-Nya.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad maula Zaid ibnu Sabit, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai makna al-muttaqin. 

Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang takut terhadap siksaan Allah dalam meninggalkan hidayah yang mereka ketahui, dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dalam membenarkan apa yang didatangkan-Nya.

Sufyan As-Sauri menceritakan dari seorang lelaki, dari Al -Hasan Al-Basri mengenai firman-Nya, “lil muttaqin.” 

Al-Hasan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang memelihara diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan menunaikan hal-hal yang telah difardukan-Nya.

Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan bahwa Al-A’masy pernah bertanya kepadanya mengenai makna al-muttaqin. Maka dijawabnya, 

“Tanyakanlah masalah ini kepada Al-Kalbi.” Dia menanyakan kepada Al-Kalbi, dan Al-Kalbi menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar. 

Kemudian Abu Bakar ibnu Iyasy berkata lagi, “Ketika aku merujuk kepada Al-A’masy mengenai apa yang dikatakan oleh Al-Kalbi, ternyata Al-Kalbi mempunyai pendapat yang sama denganku dan tidak memprotesnya.”

Qatadah mengatakan bahwa muttaqin adalah orang-orang yang disebut di dalam firman Allah Swt. pada ayat berikutnya:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat. (Al-Baqarah: 3)

Sedangkan Ibnu Jarir berpendapat bahwa makna ayat mencakup semua yang telah dikatakan oleh pendapat-pendapat di atas.

Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis melalui riwayat Abu Uqail (yaitu Abdullah ibnu Uqail), dari Abdullah ibnu Yazid, dari Rabi’ah ibnu Yazid dan Atiyyah ibnu Qais, dari Atiyyah As-Saddi yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

«لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ»

Seorang hamba masih belum mencapai golongan orang-orang bertakwa sebelum dia meninggalkan hal-hal yang tidak mengapa karena menghindari hal-hal yang mengandung apa-apa (dosa).

Menurut Imam Turmuzi, hadis ini berpredikat hasan garib.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Imran, dari Ishaq ibnu Sulaiman —yakni Ar-Razi—, dari Al-Mugirah ibnu Muslim, dari Maimun Abu Hamzah yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat Abu Wa’il, masuklah seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Abu Arif, salah seorang murid Mu’az. 

Syaqiq ibnu Salamah berkata kepadanya, “Hai Abu Arif, tidakkah engkau menceritakan kepada kami apa yang telah dikatakan oleh Mu’az ibnu Jabal?” 

Ia menjawab, “Tentu saja, aku pernah mendengarnya mengatakan bahwa kelak di hari kiamat umat manusia ditahan dalam suatu tempat. 

kemudian ada suara yang menyerukan, ‘Di manakah orang-orang yang bertakwa?’ Lalu mereka (orang-orang yang bertakwa) bangkit berdiri di bawah naungan Tuhan Yang Maha Pemurah; Allah menampakkan diri kepada mereka dan tidak menutup diri-Nya. Aku bertanya, ‘Siapakah orang-orang yang bertakwa itu?’ 

Mu’az menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang menghindarkan diri dari kemusyrikan dan penyembahan berhala, dan mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Swt. semata,’ lalu mereka masuk ke dalam surga.”

Al-huda menunjukkan makna hal yang mantap di dalam kalbu berupa iman. Tiada yang mampu menciptakannya di dalam kalbu hamba-hamba Allah selain Allah Swt. sendiri, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi. (Al-Qashash: 56)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُداهُمْ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk (Al-Baqarah: 272)

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلا هادِيَ لَهُ

Barang siapa yang Allah sesatkan. maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk (Al-A’raf: 186)

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِداً

Barang siapa diberi petujuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberinya petunjuk kepadanya. (Al-Isra: 97)

Masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan makna yang sama. Lafaz Al-huda adakalanya dimaksudkan sebagai keterangan dan penjelasan mengenai perkara yang hak, penunjukan dan bimbingan kepadanya, sebagaimana makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلى صِراطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy-Syura: 52)

إِنَّما أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هادٍ

Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (Ar-Ra’d: 7)

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْناهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمى عَلَى الْهُدى

Dan adapun kaum Samud. maka mereka Kami beri petunjuk. tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu. (Fushshilat: 17)

وَهَدَيْناهُ النَّجْدَيْنِ

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10)

Sebagian orang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan an-naj-dain ialah jalan kebaikan dan jalan keburukan: penafsiran ini lebih kuat daripada yang lainnya.

At-taqwa makna asalnya ialah mencegah diri dari hal-hal yang tidak disukai, mengingat bentuk asalnya adalah qawa yang berasal dari al-wiqayah (pencegahan). An-Nabigah (salah seorang penyair Jahiliah terkenal) mengatakan:

سَقَطَ النَّصِيفُ وَلَمْ تُرِدْ إِسْقَاطَهُ …فَتَنَاوَلَتْهُ وَاتَّقَتْنَا بِالْيَدِ

Penutup kepalanya terjatuh, padahal dia tidakbermaksud menjatuhkannya. maka diamemungutnya seraya menutupi wajahnya —menghindar dari pandangan kami— dengantangannya.

Penyair lain mengatakan:

فَأَلْقَتْ قِنَاعًا دُونَهُ الشَّمْسُ وَاتَّقَتْ …بِأَحْسَنِ مَوْصُولَيْنِ كَفٌّ وَمِعْصَمُ

Dia menanggalkan penutup kepala yang melindunginya dari sengatan sinar matahari, kemudian ia menghindarkan (wajahnya dari sinar matahari) dengan dua persendiannya yang tercantik, yaitu telapak tangan dan lengannya.

Menurut suatu riwayat, Umar ibnul Khattab r.a. pernah bertanya kepada Ubay ibnu Ka’b tentang makna takwa. maka Ubay ibnu Ka’b balik bertanya, “Pernahkah engkau menempuh jalan yang beronak duri?” Umar menjawab, “Ya, pernah.” Ubay ibnu Ka’b bertanya lagi, “Kemudian apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab, “Aku bertahan dan berusaha sekuat tenaga untuk melampauinya.” Ubay ibnu Ka’b berkata, “Itulah yang namanya takwa.” Pengertian ini disimpulkan oleh Ibnul Mu’taz melalui bait-bait syairnya, yaitu:

خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا … وَكَبِيرَهَا ذَاكَ التُّقَى

وَاصْنَعْ كماش فوق أرض … الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى

لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً … إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى

Lepaskanlah semua dosa, baik yang kecil maupun yang besar, itulah namanya takwa. Berlakulah seperti orang yang berjalan di atas jalan yang beronak duri. selalu waspada menghindari duri-duri yang dilihamya. Dan jangan sekali-kali kamu meremehkan sesesuatu yang kecil (dosa kecil). sesungguhnya bukit itu terdiri atas batu-batu kerikil yang kecil-kecil.

Abu Darda di suatu hari pernah mengucapkan syair-syair berikut:

يُرِيدُ الْمَرْءُ أَنْ يُؤْتَى مُنَاهُ … وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا مَا أَرَادَا

يَقُولُ الْمَرْءُ فَائِدَتِي وَمَالِي … وَتَقْوَى اللَّهِ أَفْضَلُ مَا اسْتَفَادَا

Manusia selalu mengharapkan agar semua yang didambakannya dapat tercapai, tetapi Allah menolak kecuali apa yang Dia kehendaki. Seseorang mengatakan.”Keuntunganku dan hartaku” padahal takwa kepada Allah merupakan keuntungan yang paling utama.

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah disebutkan dari Abu Umamah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“مَا اسْتَفَادَ الْمَرْءُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ، إِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ، وَإِنَّ غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ”

Tiada keuntungan yang paling baik bagi seseorang sesudah takwa kepada Allah selain dari istri yang saleh; jika dia memandangnya, membuat dia bahagia; dan jika dia memerintahnya, ia taat; jika melakukan giliran terhadapnya, maka ia berbakti; dan jika dia tidak ada di tempat, meninggalkannya, maka ia memelihara diri dan harta suaminya.

Sumber Tafsir Ibn Kathir 

Advertisements
Kategori:Uncategorized Tag:

Personaliti : Said bin Amir al Juhami (Bhg 2)

Oktober 4, 2017 Tinggalkan komen

​“WAHAI  ‘Umar!  Saya  memohon  kepada  Allah  semoga  Anda  tidak  mendorong  saya condong  kepada  dunia,”  kata  Sa’id.

“Celaka  Engkau!”  balas  ‘Umar  marah.  “Engkau  pikulkan  beban  pemerintahn  ini  di pundakku,  tetapi  kemudian  Engkau  menghindar  dan  membiarkanku  repot  sendiri.”

“Demi  Allah!  Saya  tidak  akan  membiarkan  Anda,”  jawab  Sa’id.

Kemudjan  Khalifah  ‘Umar  melantik  Sa  ‘Id  menjadi  Gubernur  di  Himsh. Sesudah  pelantikan,  Khalifah  ‘Umar  bertanya  kepada  Sa’id,  “Berapa  gaji  yang  Engkau inginkan?” “Apa  yang  harus  saya  perbuat  dengan  gaji  itu,  ya  Amirul  Mu’minin?”  jawab  Sa’id  balik bertanya.  “Bukankah  penghasilan  saya  dan  Baitul  Mal  sudah  cukup?”

Tidak  berapa  lama  setelah  Sa  ‘id  memerintah  di  Himsh,  sebuah  delegasi  datang menghadap  Khalifah  ‘Umar  di  Madinah.  Delegasi  itu  terdiri  dari  penduduk  Hims  yang  di  tugasi Khalifah  mengamat-amati  jalannya  pemerintahan  di  Himsh.

Dalam  pertemuan  dengan  delegasi  tersebut,  Khalifah  ‘Umar  meminta  daftar  fakir  miskin Himsh  untuk  diberikan  santunan.  Delegasi  mengajukan  daftar  yang  diminta  Khalifah.  Di  dalam daftar  tersebut  terdapat  nama-nama  si  Fulan,  dan  nama  Sa’id  bin  ‘Amir  Al-Jumahy. Ketika  Khalifah  meneliti  daftar  tersebut,  beliau  menemukan  nama  Sa’id  bin  ‘Amir  AlJumahy.

Lalu  beliau  bertanya  “Siapa  Sa  ‘id  bin  ‘Amir  yang  kalian  cantumkan  ini?” “Gubernur  kami!  “jawab  mereka. “Betulkah  Gubernur  kalian  miskin?”  tanya  khalifah  heran. “Sungguh,  ya  Amiral  Mu’minin!  Demi  Allah!  Sering  kali  di  rumahnya  tidak  kelihatan tanda-tanda  api  menyala  (tidak  memasak),”jawab  mereka  meyakinkan.

Mendengar  perkataan  itu,  Khalifah  ‘Umar  menangis,  sehingga  air  mata  beliau  meleleh membasahi  jenggotnya.  Kemudian  beliau  mengambil  sebuah  pundi-pundi  berisi  uang  seribu dinar. “Kembalilah  kalian  ke  Himsh.

Sampaikan  salamku  kepada  Gubernur  Sa’id  bin  ‘Amir. Dan  uang  ini  saya  kirim  kan  untuk  beliau,  guna  meringankan  kesulitan-kesulitan  rumah tangganya”  ucap  ‘Umar  sedih. Setibanya  di  Himsh,  delegasi  itu  segera  menghadap  Gubernur  Sa’id,  menyampaikan salam  dan  uang  kiriman  Khalifah  untuk  beliau  Setelah  Gubernur  Sa  ‘id  melihat  pundi-pundi berisi  uang  dinar,  pundi-pundi  itu  dijauhkannya  dari  sisinya  seraya  berucap,  ‘inna  lilahi  wa  inna ilaihi  raji’un.  (Kita  milik  Allah,  pasti  kembali  kepada  Allah).”

Mendengar  ucapannya  itu,  seolah-olah  suatu  mara  bahaya  sedang  menimpanya.  Kerana itu  isterinya  segera  menghampiri  seraya  bertanya,  “Apa  yang  terjadi,  hai  ‘Sa  ‘Id?  Meninggalkah Amirul  Mu ‘minin?” “Bahkan  lebih  besar  dan  itu!”  jawab  Sa’id  sedih.  “Apakah  tentara  muslimin  kalah berperang?”  tanya  Isterinya  pula. “Jauh  lebih  besar  dri  itu!”  jawab  Sa’id  tetap  sedih.

‘Apa  pulakah  gerangan  yang  Iebih dari  itu?”  tanya  isterinya  tak  sabar. ‘Dunia  telah  datang  untuk  merusak  akhiratku.  Bencana  telah  menyusup  ke  rumah tangga  kita,’  jawab  Sa’id  mantap.

Bersambung

Sumber dari Bahan Tarbiah

Kategori:Uncategorized Tag:

Hadis : Kelebihan berdakwah

Oktober 4, 2017 Tinggalkan komen

​DARIPADA Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: 

“Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya  itu, sedang barangsiapa yang mengajak kearah keburukan, 

maka ia memperoleh dosa  sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedrkitpun dari  dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu.” (Riwayat Muslim) 

Kategori:Uncategorized Tag:

Feqah : Sisa makanan dan minuman binatang

Oktober 3, 2017 Tinggalkan komen

SISA  makanan  dan  minuman  binatang  adalah  suci.  Ketetapan  ini  bersifat umum  pada  semua  binatang,  baik  sisa  makanan  dan  minuman  kucing  maupun binatang  yang  lain.  

Semua  binatang:  kuda,  keledai,  binatang  buas,  tikus,  ular, dan  seluruh  binatang  yang  memakan  dagingnya  atau  tidak,  sisa  makanannya dan  minumannya  adalah  suci.  

Begitu  pula  peluh  dan  air  liurnya  dengan  tidak makruh.  Dalam  hadits  yang  diriwayatkan  dari  Jabir  dikemukankan: “Sesungguhnya  Nabi  saw.  pernah  ditanya:  Apakah  kami  boleh  wudlu  dengan  air  sisa keledai?  Beliau  menjawab:  Ya,  begitu  juga  dengan  (air)  sisa  binatang  buas”. 

Namun  dikecualikan  dari  semua  bintang  tersebut,  anjing  dan  babi, bahwa  keduanya  najis. Sabda  Rasulullah  saw.  : “Bilamana  anjing  menjilat  perkakas  salah  seorang  di  antara  kalian,  maka  cucilah perkakas  itu  tujuh  laki”. Dalam  sebuah  riwayat  dikemukakan  pula: “Maka  tumpahkanlah,  kemudian  cucilah  tujuh  kali”.

Perintah  agar  ditumpahkan  dan  dicuci  adalah  sebagai  dalil,  bahwa  anjing adalah  binatang  najis. Pada  dasarnya  air  itu  adalah  suci  dan  begitu  juga  sisa  makanan  dan minuman  binatang. 

 Dengan  demikian,  tidak  bisa  diterima  bahwa  suatu  air dinyatakan  najis  karena  oleh  seseorang  dianggap  najis.  Akan  tetapi  tidak  boleh tidak  yang  bersangkutan  harus  benar-benar  terlebih  dahulu  mengetahui;  najis apa  yang  telah  jatuh  ke  dalam  air  tersebut?  

Bilamana  dinyatakan,  bahea  air  ini terkena  najis  maka  berita  itu  jangan  begitu  saja  diterima,  sehingga  tamapak  jelas; najis  apakah  yang  telah  jatuh  ke  dalamnya.  

Langkah  ini  harus  ditempuh,  karena bisa  jadi  orang  yang  memberitakan  air  itu  najis  disebabkan  ia  melihat  binatang buas  menjilatnya.  Barulah  berita  diterima,  jika  tampak  jelas  bahwa  benda  najis benar-benar  yakin  terhadap  kesucian  suatu  air  atau  meragukannya,  maka  ia diperbolehkan  wudlu  dengannya  karena  pada  dasarnya  air  itu  dianggap  suci. 

Bilamana  ia  benar-benar  yakin  tentang    najisnya  air  itu  atau  meragukan kesuciannya,  maka  dia  tidak  diperbolehkan  wudlu  dengannya  karena  pada dasarnya   air   itu   dianggap   najis.   

Kemudian   jika   aia   tidak   yakin   atas ketidaksucian   dan  ketidaknajisan  suatu  air,  maka  berwudlulah  dengannya karena  pada  dasarnya  air  itu  dianggap  suci.
Bersambung …

Oleh Ali Raghib

Kategori:Uncategorized Tag:

Aqidah : Syahadah panduan hidup (Bhg 4)

Oktober 3, 2017 Tinggalkan komen

TERMASUK dalam kategori masyarakat jahiliyah juga ialah masyarakat Yahudi dan Kristian di seluruh muka bumi ini kerana:  

Pertama: Konsep dan kepercayaan hidupnya yang menyeleweng dan terpesong, yang tidak mentauhidkan Allah swr dengan sifat-sifat ketuhananNya, malah dijadikan bagi-Nya kongsi-kongsi dan sekutu-sekutu di dalam beragam bentuk kesyirikan, baik yang berbentuk putera Suci (Tuhan) atau dalam bentuk tiga-tuhan (trinity) atau menggambarkan Allah SWT bukan dengan gambaran yang sebenar, dan menggambarkan hubungan sifat-sifat Allah berlainan daripada yang sebenarnya.  

Firman Allah yg  Maksudnya: 

Dan berkatalah orang Yahudi: “Uzair itu anak Allah” dan berkatalah orang-orang Nasrani: “Isa [Al Masih] itu anak Allah.” Yang demikian itu adalah omongan mereka dengan mulut-mulut mereka, menyerupai perkataan-perkataan orang kafir yang dahulu; mudah-mudahan Allah binasakan mereka Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan [Attaubah: 30]     

FirmanNya yg lain Maksudnya: 

Sesungguhnya telah kafirlah oran~orang yang berkata: bahawa Allah itu ialah yang ketiga daripada tiga [Tuhan] pada hal tidak ada tuhan, melainkan Tuhan Yang Tunggal dan jika mereka tidak berhenti dan apa yang mereka katakan, nescaya akan mengenai orang-orang kafir dan mereka itu azab yang pedih [Al Ma ‘idah: 73]  

Juga firman Allah:  
Maksudnya: Dan orangorang Yahudi itu berkata: “Tangan Allah terbelenggu,” pada hal tangan-tangan merekalah yang terbelenggu, dan dilaknatlah mereka dengan [sebab] apa yang telah mereka katakan itu, bahkan kedua tangan Allah itu terbuka. Ia membelanjakan sebagaimana yang Ia suka [Al Maidah: 64)  

serta firman Allah SWT yg Maksudnya: Dan telah berkata orang-orang Yahudi dan Nasrani: “Kami hi anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. ‘Tanyakanlah mereka: “Kalau begitu mengapakah Allah itu menyeksa kami dengan sebab dosa-dosa kamu? Bahkan kamu itu manusia dan makhluk yang Ia jadikan.[Al Maidah 18]  

Masyarakat Yahudi dan Kristian masuk di dalam kategori masyarakat jahiliyah dengan sebab bentuk, syiar dan juga lambang-lambang keagamaan mereka yang berbentuk peribadatan, istiadat-istiadat dan upacara-upacara rasminya yang tercetus daripada konsep dan kepercayaan yang menyeleweng dan sesat serta menyesatkan. 

Kemudian lagi masyarakat itu menjadi masyarakat jahiliyah kerana sistem hidup, peraturan dan undang-undangnya yang tidak berdasar kepada pengabdian diri kepada Allah SWT mengakui hak memerintah dan berkuasa hanya kepada Allah SWT dan tidak mengambil kekuasaan daripada syariat dan panduan Ilahi; 

malah mereka dirikan badan-badan dan lembaga yang terdiri daripada manusia yang diberi hak kekuasaan tertinggi, sedang hak kekuasaan tertinggi itu adalah kepunyaan mutlak Allah SWT dan sejak dahulu lagi. Allah SWT telah cap mereka kutur dan syirik kerana mereka telah memberikan hak itu kepada para padri, pendeta dan rahib agama mereka untuk membuat peraturan dan undang-undang dan pihak diri mereka (padri pendeta dan rahib) itu sendiri, peraturan dan undang-undang yang mesti diterima dan dipatuhi oleh para penganut dan pengikut agama itu.  

Firman Allah SWT yg Maksudnya: 

Mereka itu telah menjadikan padri-padri, pendeta-pendeta dan rahi~rahib agama mereka sebagal Tuhan-tuhan selain daripada Allah dan juga mereka menjadikan Al Masih putera Maryam itu sebagai Tuhan sedangkan mereka tidak diperintah melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang tiada lagi Tuhan selaln daripada-Nya. Maha sucilah Ia dan apa yang mereka sekutukan itu. [At-Taubah: 31]  

Sedangkan orang Yahudi dan Nasrani tidak beriktikad dan menganggap para pendeta dan rahib agama mereka itu sebagai Tuhan yang mereka sembah, juga mereka tidak melakukan ibadat kepada para pendeta dan rahib itu, mereka hanya sekadar mengakui bahawa pendeta-pendeta dan rahib-rahib itu mempunyai hak dan kuasa dalam soal pemerintahan dan kekuasaan negara, dan mereka patuh sahaja menerima apa yang diputuskan oleh para pendeta dan rahib itu,

walaupun dalam perkara yang tidak diizinkan oleh Allah sama sekali. Oleh sebab itulah mereka itu layak disifatkan sebaga syirik dan kufur. 

Bersambung …

Oleh  Sayyid Qutb

Kategori:Uncategorized Tag:

Personaliti : Said bin Amir al Jumahi

Oktober 3, 2017 Tinggalkan komen

SA’ID  BIN  ‘AMIR  AL  JUMAHY, termasuk  seorang  pemuda  di  antara  ribuan  orang  yang pergi  ke  Tan’im,  di  luar  kota  Makkah.

Mereka  berbondong-bondong  ke  sana,  dikerahkan  para pemimpin  Quraisy  untuk  menyaksikan  pelaksanaan  hukuman  mati  terhadap  Khubaib  bin  ‘Ady, iaitu  seorang  sahabat  Nabi  yang  mereka  jatuhi  hukuman  tanpa  alasan.

Dengan  semangat  muda  yang  menyala-nyala,  Sa’id  maju  menerobos  orang  banyak  yang berdesak-desakan.  Akhirnya  dia  sampai  ke  depan,  sejajar  dengan  tempat  duduk  orang-orang penting,  seperti  Abu  Sufyan  bin  Harb,  Shafwan  bin  Umayyah  dan  lain-lain.

Kaum  kafir  Quraisy  sengaja  mempertontonkan  tawanan  mereka  dibelenggu.  Sementara para  wanita,  anak  anak  dan  pemuda,  menggiring  Khubaib  ke  lapangan  maut.

Mereka  ingin membalas  dendam  terhadap  Nabi  Muhammad  saw.,  serta  melampiaskan  sakit  hati  atas  ke kalahan  mereka  dalam  perang  Badar.

Ketika  tawanan  yang  mereka  giring  sampai  ke  tiang  salib  yang  telah  disediakan,  ‘Sa’id mendongakkan  kepala  melihat  kepada  Khubaib  bin  ‘Ady.  ‘Said  mendengar  suara  Khubaib berkata  dengan  mantap,  “Jika  kalian  bolehkan,  saya  ingin  shalat  dua  raka’at  sebelum  saya  kalian bunuh….”

Kemudian  Sa’id  melihat  Khubaib  menghadap  ke  kiblat  (Ka’bah).  Dia  shalat  dua  raka’at. Alangkah  bagus  dan  sempurna  shalatnya  itu.  Sesudah  shalat,  Khubaib  menghadap  kepada  para pemimpin  Quraisy  seraya  berkata,

“Demi  Allah!  Seandainya  kalian  tidak  akan  menuduhku melama-lamakan  shalat  untuk  melambat-lambatkan  waktu  kerana  takut  mati,  nescaya  saya  akan shalat  lebih  banyak  lagi.”

Mendengar  ucapan  Khubaib  tersebut,  Sa’id  melihat  para  pemimpin Quraisy  naik  darah,  bagaikan  hendak  mencencang-cencang  tubuh  Khubaib  hidup  hidup.

Kata  mereka,  “Sukakah  engkau  si  Muhammad  menggantikan  engkau,  kemudian  engkau kami  bebaskan?” “Saya  tidak  ingin  bersenang-senang  dengan  isteri  dan  anak-anak  saya,  sementara Muhammad tertusuk  duri….,”  jawab  Khubaib  mantap.

“Bunuh  dia…!  Bunuh  dia…!”  teriak  orang  banyak. Sa’id  melihat  Khubaib  telah  dipakukan  ke  tiang  salib.  Dia  mengarahkan  pandangannya ke  langit  sambil  mendo’a,  “Ya,  Allah!  Hitunglah  jumlah  mereka!  Hancurkanlah  mereka  semua. Jangan  disisakan  seorang  jua  pun!”

Tidak  lama  kemudian  Khubaib  menghembuskan  nafasnya  yang  terakhir  di  tiang  salib. Sekujur  tubuhnya  penuh  dengan  luka-luka  kerana  tebasan  pedang  dan  tikaman  tombak  yang  tak terbilang  jumlahnya.

Kaum  kafir  Quraisy  kembali  ke  Makkah  biasa-biasa  saja.  Seolah-olah  mereka  telah melupakan  peristiwa  maut  yang  merenggut  nyawa  Khubaib  dengan  sadis.

Tetapi  Sa’id  bin  ‘Amir Al-Jumahy  yang  baru  meningkat  usia  remaja  tidak  dapat  melupakan  Khubaib  walau  agak sedetikpun.

Sehingga  dia  bermimpi  melihat  Khubaib  menjelma  di  hadapannya.  Dia  seakan-akan melihat  Khubaib  shalat  dua  raka’at  dengan  khusyu’  dan  tenang  di  bawah  tiang  salib.  Seperti terdengar  olehnya  rintihan  suara  Khubaib  mendo‘akan  kaum  kafir  Quraisy.

Kerana  itu  Sa’idketakutan  kalau-kalau  Allah  swt.  segera  mengabulkan  do’a  Khubaib,  sehingga  petir  dan halilintar  menyambar  kaum  Quraisy.

Keberanian  dan  ketabahan  Khubaib  menghadapi  maut  mengajarkan  pada  Sa’id  beberapa hal  yang  belum  pernah  diketahuinya  selama  ini.

Pertama,  hidup  yang  sesungguhnya  ialah  hidup  berakidah  (beriman);  kemudian  berjuang mempertahankan  ‘akidah  itu  sampai  mati.

Kedua,  iman  yang  telah  terhunjam  dalam  di  hati  seorang  dapat  menimbulkan  hal-hal yang  ajaib  dan  luar  biasa.

Ketiga,  orang  yang  paling  dicintai  Khubaib  ialah  sahabatnya,  iaitu  seorang  Nabi  yang dikukuhkan  dari  langit.

Sejak  itu  Allah  swt.  membukakan  hati  Sa’id  bin  ‘Amir  untuk  menganut  agama  Islam.

Kemudian  dia  berpidato  di  hadapan  khalayak  ramai,  menyatakan:  alangkah  bodohnya  orang Quraisy  menyembah  berhala.  Kerana  itu  dia  tidak  mahu  terlibat  dalam  kebodohan  itu.  Lalu dibuangnya  berhala-hala  yang  dipujanya  selamaini.

Kemudian  diumumkannya  bahwa  mulai  sa ‘at  itu  dia  masuk  Islam. Tidak  lama  sesudah  itu,  Sa  id  menyusul  kaum  muslimin  hijrah  ke  Madinah.

Di  sana  dia senantisasa  mendampingi  Nabi  s.a.w.  Dia  ikut  berperang  bersama  beliau,  mula  mula  dalam peperangan  Khaibar.  Kemudian  dia  selalu  turut  berperang  dalam  setiap  peperangan  berikutnya.

Setelah  Nabi  saw.  berpulang  ke  rahmatullah,  Sa’id  tetap  menjadi  pembela  setia  Khalifah Abu  Bakar  dan  ‘Umar.  Dia  menjadi  teladan  satu-satuya  bagi  orang  orang  mu’min  yang  membeli kehidupan  akhirat  dengan  kehidupan  dunia.

Dia  lebih  mengutamakan  keridhaan  Allah  dan pahala  daripada-Nya  di  atas  segala  keinginan  hawa  nafsu  dan  kehendak  jasad.

Kedua  Khalifah  Rasulullah,  Abu  Bakar  dan  ‘Umar  bin  Khaththab,  mengerti  bahwa ucapan-ucapan  Sa’id  sangat  berbobot,  dan  taqwanya  sangat  tinggi.  Kerana  itu  keduanya  tidak keberatan  mendengar  dan  melaksanakan  nasihat-nasihat  Sa  ‘id.

Pada  sutu  hari  di  awal  pemerintahan  Khalifah  ‘Umar  bin  Khaththab,  Sa’id  datang kepadanya  memberi  nasihat. Kata  Sa’id,  “Ya  ‘Umar!  Takutlah  kepada  Allah  dalam  memerintah  manusia.  Jangan  takut kepada  manusia  dalam  menjalankan  agama  Allah!  Jangan  berkata  berbeda  dengan  perbuatan. Kerana  sebaik-baik  perkataan  ialah  yang  dibuktikan  dengan  perbuatan.

Hai  Umar!  Tujukanlah  seluruh  perhatian  Anda  kepada  urusan  kaum  muslimin  baik yang  jauh  mahupun  yang  dekat.  Berikan  kepada  mereka  apa  yang  Anda  dan  keluarga  sukai. Jauhkan  dari  mereka  apa-apa  yang  Anda  dan  ke  luarga  Anda  tidak  sukai.  Arahkan  semua karunia  Allah  kepada  yang  baik.  Jangan  hiraukan  cacian  orang-orang  yang  suka  mencaci.”

“Siapakah  yang  sanggup  melaksanakan  semua  itu,  hai  Sa’id?”  tanya  Khalifah  ‘Umar. “Tentu  orang  seperti  Anda!  Bukankah  Anda  telah  dipercayai  Allah  memerintah  ummat Muhammad  ini?  Bukankah  antara  Anda  dengan  Allah  tidak  ada  lagi  suatu  penghalang?”  jawab Sa’id  meyakinkan.

Pada  suatu  ketika  Khalifah  ‘Umar  memanggil  Sa’id  untuk  diserahi  suatu  jabatan  dalam pemerintahan. “Hai  Sa’id!  Engkau  kami  angkat  menjadi  Gubernur  di  Himsh!”  kata  Khalifah  Umar.

Bersambung …

Bingkisan dari Bahan Tarbiah

Kategori:Uncategorized Tag:

Hadis : Memulai buat Sunnah yg baik

Oktober 3, 2017 Tinggalkan komen

​DARIPADA Abu ‘Amr yaitu Jarir bin Abdullah  r.a., katanya: “Kita pernah berada di sisi Rasulullah s.a.w. pada tengah siang hari. 

Kemudian datanglah kepada Nabi saw itu suatu kaum yang telanjang, mengenakan pakaian bulu  harimau – bergaris-garis lurik-lurik-atau mengenakan baju kurung, sambil menyandang  pedang, umumnya mereka itu dari suku Mudhar, atau memang semuanya dari Mudhar,  maka berubahlah wajah Rasulullah s.a.w. karena melihat mereka yang dalam keadaan miskin itu. 

Kemudian beliau masuk – rumahnya, lalu keluar lagi, terus menyuruh Bilal untuk  berazan. Selanjutnya Bilal berazan dan beriqamat lalu bersembahyang, kemudian Nabi berkhutbah. 

Nabi s.a.w. mengucapkan ayat – yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertaqwalah engkau semua kepada  Tuhanmu yang menjadikan engkau semua dari satu diri – Adam,”  sampai ke akhir ayat  yaitu – yang artinya: 

“Sesungguhnya Allah itu Maha Penjaga bagimu  semua.” (an-Nisa’: 1). 

Nabi membacakan pula ayat yang dalam surat al-Hasyr – yang artinya:  “Hai sekalian orang-orang yang beriman, bertaqwalah  engkau semua kepada  Allah dan hendaklah  seseorang itu memeriksa apa yang akan dikirimkannya untuk hari esoknya.” 

Disaat itu ada orang yang bersedekah dengan dinarnya, dengan dirhamnya, dengan bajunya, dengan sha’ gandumnya, juga dengan sha’ kurmanya, sampai-sampai Nabi bersabda: “Sekalipun hanya dengan potongan kurma – juga baik.” 

Selanjutnya ada pula orang dari kaum Anshar yang datang dengan suatu wadah yang tapak tangannya hampir-hampir tidak kuasa mengangkatnya, bahkan sudah tidak kuat. 

Selanjutnya beruntun-runtunlah para manusia itu memberikan sedekahnya masing-masing, sehingga saya dapat melihat ada dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sampai-sampai saya melihat pula wajah Rasulullah s.a.w. berseri-seri, seolah-olah wajah beliau itu bercahaya bersih sekali. 

Kemudian Nabi bersabda: “Barangsiapa yang memulai membuat sunnah  dalam Islam berupa amalan yang baik, maka ia memperoleh pahalanya  diri sendiri dan juga pahala orang yang mengerjakan itu sesudah -sepeninggalnya – tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu. 

Dan barangsiapa yang  memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang buruk, maka ia memperoleh dosanya diri sendiri  dan juga dosa orang  yang mengerjakan itu sesudahnya – sepeninggalnya – tanpa dikurangi  sedikitpun  dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu.” (Riwayat Muslim) 

Kategori:Uncategorized Tag: