Riadus Solihin 2

KITAB PAKAIAN

Bab 117

Sunnahnya Mengenakan Pakaian Putih Dan Bolehnya Mengenakan
Pakaian Berwarna Merah, Hijau, Kuning, Hitam, Juga Bolehnya
Mengambil Pakaian Dari Kapuk, Katun, Rambut, Bulu Dan Lain-lain
Lagi Kecuali Sutera

Bab 118 Sunnahnya Mengenakan Baju Gamis

Bab 119

Sifat Panjangnya Gamis, Lobang Tangan Baju, Sarung, Ujung Sorban
Dan Haramnya Melemberehkan Sesuatu Dari Yang Tersebut Di Atas
Karena Maksud Kesombongan Dan Kemakruhannya likalau Tidak
Karena Maksud Kesombongan

Bab 120

Sunnahnya Meninggalkan Yang Tinggi-tinggi — Yakni Yang
Terlampau Indah — Dalam Hal Pakaian Karena Maksud
Merendahkan Diri

Bab 121

Sunnahnya Bersikap Sedang — Sederhana — Dalam Pakaian Dan
Jangan Merasa Cukup Dengan Apa Yang Menyebabkan Celanya Yang
Tidak Ada Kepentingan Atau Tidak Ada Tujuan Syara’Untuk Itu

Bab 122

Haramnya Berpakaian Sutera Untuk Kaum Lelaki, Haramnya
Duduk Di Atasnya Atau Bersandar Padanya Dan Bolehnya
Mengenakannya Untuk Kaum Wanita
Bab 123

Bolehnya Mengenakan Pakaian Sutera Untuk Orang Yang
Berpenyakit Gatal-gatal

Bab 124

Larangan Duduk Di Atas Kulit Harimau Dan Naik Di Atas
Harimau

Bab 125

Apa Yang Diucapkan likalau Mengenakan Pakaian Baru, Terumpah
Dan Sebagainya
Bab 126

Sunnahnya Memulai Pada Anggota Kanan Dalam Mengenakan
Pakaian

KITAB KESOPANAN TIDUR

Bab 127

Adab-adab Kesopanan Tidur Dan Berbaring

Bab 128

Bolehnya Bertelentang Atas Tengkuk Leher, Juga Meletakkan Salah
Satu Dari Kedua Kaki likalau Tidak Dikhuatirkan Terbukanya Aurat
Dan Bolehnya Duduk Dengan Bersila Dan Duduk Ihtiba’ — Yakni
Duduk Berjongkok Sambil Membelitkan Sesuatu Dari Pinggang Ke
Lutut Atau
Tangannya Merangkul Lutut

Bab 129

Adab-adab Kesopanan Dalam Majlis Dan Kawan Duduk

Bab 130

Impian Dan Apa-apa Yang Berhubungan Dengan Impian Itu

KITAB BERSALAM

Bab 131

Keutamaan Mengucapkan Salam Dan Perintah Untuk
Meratakannya

Bab 132

Kaifiyat Bersalam

Bab 133

Adab-adab Kesopanan Bersalam
Bab 134

Sunnahnya Mengulangi Salam Kepada Orang Yang Berulang Kali
Pula Bertemu Dengannya Sekalipun Dalam Waktu Dekat, Seperti la
Masuk Lalu Keluar Lalu Masuk Lagi Seketika Itu Ataupun Dihalang-
halangi Oleh Pohon Dan Sebagainya Antara Kedua Orang Itu
Bab 135

Sunnahnya Bersalam jikalau Memasuki Rumahnya

Bab 136

Mengucapkan Salam Kepada Anak-anak

Bab 137
Salamnya Orang Lelaki Kepada Isterinya Dan Wanita Yang Menjadi
Mahramnya Atau Kepada Orang Lain — Yakni Bukan Isteri Atau
Mahram, Seorang Atau Banyak Yang Tidak Dikhuatirkan Timbulnya
Fitnah Dengan Mereka Itu. Demikian Pula Salam Kaum Wanita Itu
Pada Lelaki Dengan Syarat Tidak Menimbulkan Fitnah

Bab 138
Haramnya Kita Memulai Bersalam Kepada Orang-orang Kafir Dan
Caranya Menjawab Salam Kepada Mereka Dan Sunnahnya
Mengucapkan Salam Kepada Orang-orang Yang Ada Di Dalam
Majlis Yang Di Antara Mereka Ada Kaum Muslimin Dan Kaum
Kafirin

Bab 139

Sunnahnya Memberikan Salam Jikalau Berdiri Meninggalkan Majlis
Dan Memisahkan Diri Kepada Kawan-kawan Duduknya, Banyak
Ataupun Seorang

Bab 140

Meminta Izin Dan Adab-adab kesopananNya

Bab 141

Menerangkan Bahwa Sunnah Hukumnya Apabila Kepada Orang
Yang Meminta Izin Ditanyakan: “Siapakah Engkau? Supaya
Mengucapkan “Fulan” Dengan Menyebut Nama Dirinya Yang
Mudah Dimaklumi, Baik Nama Sendiri Atau Nama Kun-yahnya
Dan Kemakruhannya Mengucapkan: “Saya” Dan Yang Seumpamanya

Bab 142

Sunnahnya Mentasymitkan — Mendoakan Agar Dikaruniai
Kerahmatan Oleh Allah Dengan Mengucapkan: Yarhamukallah —
Kepada Orang Yang Bersin, Jikalau la Memuji Kepada Allah Ta’ala — Yakni
Membaca Alhamdulillah — Dan Makruh Mentasymitkannya Jikalau
la Tidak Memuji Kepada Allah Ta’ala, Begitu Pula Uraian Tentang
Adab-adab Kesopanan Bertasymit, Bersin Dan Menguap

Bab 143 Sunnahnya Berjabatan Tangan Ketika Bertemu Dan Menunjukkan
Muka Yang Manis, Juga Mencium Tangan Orang Shalih Dan Mencium
Anaknya, Serta Merangkul Orang Yang Baru Datang Dari Bepergian
Dan Makruhnya Membungkukkan Badan — Dalam Memberi
Penghormatan

KITAB PERIHAL MENINJAU ORANG SAKIT,
MENGHANTARKAN JANAZAH,
MENYEMBAHYANGINYA,
MENGHADHIRI PEMAKAMANNYA, BERDIAM
SEMENTARA
DI SISI KUBURNYA SESUDAH DITANAMKAN

Bab 144

Meninjau Orang Sakit
Bab 145

Ucapan Yang Dapat Digunakan Untuk Mendoakan Orang Sakit

Bab 146

Sunnahnya Menanyakan Kepada Keluarga Orang Yang Sakit
Tentang
Keadaan Si Sakit Itu

Bab 147

Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Sudan Putus Harapan Dari
Hidupnya — Karena Sakitnya Sudah Dirasa Sangat Sekali Dan Tidak
Akan Sembuh Lagi
Bab 148

Sunnahnya Wasiat Kepada Keluarga Orang Yang Sakit Dan Orang
Yang Melayani Orang Sakit Itu Supaya Berbuat Baik Padanya,
Menahan Dan Sabar Pada Apa Yang Menyukarkan Perkaranya, ]uga
Wasiat Untuk Kepentingan Orang Yang Sudah Dekat Sebab
Kematiannya Dengan Adanya Had Atau Qishash Dan Lain-lain
Sebagainya

Bab149

Bolehnya Seseorang Yang Sakit Merigatakan: “Saya Sakit”
Atau “Sangat Sakit” Atau “Panas” Atau “Aduh Kepalaku”
Dan Lain Sebagainya Dan Uraian Bahwasanya Tidak Ada
Kemakruhan Mengatakan Sedemikian Tadi, Asalkan Tidak
Karena Timbulnya Kemarahan Dan Menunjukkan
Kegelisahan — Sebab Sakitnya Tadi

Bab 150

Mengajar Orang Yang Sudah Hampir Didatangi Oleh Ajal
Kematiannya Dengan La llaha Wallah

Bab 151 Apa Yang Diucapkan Ketika Memejamkan Mata orang Mati
Bab 152 Apa Yang Diucapkan Di Sisi Mayit Dan Apa Yang Diucapkan
Oleh Orang Yang Ditinggalkan Oleh Mayit
Bab 153
Bolehnya Menangisi Orang Mati Tanpa Nadab – Menghitung-
hitung Kebaikan Mayit – Juga Tanpa Suara Keras Dalam Tangisnya
Itu

Bab 154 Menahan – Tidak Menyiar-nyiarkah — Sesuatu Yang Tidak Baik

Yang Diketahui Dari Seseorang Mayit Bab155 Menyembahyangi Mayit, Mengantarkannya — Ke Kubur, Menghadhiri Pemakamannya Dan Makruhnya Kaum Wanita Ikut Mengantarkan Janazah-janazah
Bab 156 Sunnahnya Memperbanyakkan Orang Yang
Menyembahyangi Janazah Dan Membuat Barisan-barisan
Orang-orang Yang
Menyembahyangi Itu Menjadi Tiga Deretan Atau Lebih
Bab 157

Apa-apa Yang Dibaca Dalam Shalat Janazah

Bab 158

Menyegerakan Mengubur Janazah
Bab 159

Menyegerakan Mengembalikan Hutangnya Mayit Dan
Menyegerakan Dalam Merawatnya, Kecuali Kalau Mati Secara
Mendadak, Maka Perlu Dibiarkan Dulu Sehingga Dapat Diyakinkan Kematiannya
Bab 160 Memberikan Nasihat Di Kubur

Bab 161

Berdoa Untuk Mayit Sesudah Dikuburkan Dan Duduk Di Sisi
Kuburnya Sebentar Untuk Mendoakannya Serta Memohonkan
Pengampunan Untuknya Dan UntukMembaca — Al-Quran

Bab 162

Sedekah Untuk Mayit Dan Mendoakan Padariya

Bab 163

Pujian Qrang-orang Pada Mayit

Bab 164

Keutamaan Orang Yang Ditinggal Mati Oleh Anak-anaknya Yang
MasihKecil
Bab 165

Menangis Serta Takut Di Waktu Melalui Kubur-kuburnya Orang-
orang Yang Menganiaya – Dirinya Karena Enggan Mengikuti
Kebenaran -Dan Tempat Jurunnya Siksa Pada Mereka Itu Serta
Menunjukkan Iftiqar Kita Kepada Allah — Yakni Bahwa Kita Amat Memerlukan Bantuan Dan Pertolongannya — Dan Pula Menakut-
nakuti Dari Melalaikan Yang TersebutDi Atas Itu
KITAB ADAB-ADAB KESOPANAN BEPERGIAN

Bab 166 Sunnahnya Keluar Pada Hari Kemis Dan Sunnahnya Pergi Di
Permulaan Siang Hari
Bab 167
Sunnahnya Mencari Kawan — Dalam Bepergian — Dan
Mengangkat Seorang Di Antara Yang Sama-sama Pergi Itu Sebagai
Pemimpin Mereka Yang Harus Diikuti Oleh Peserta-peserta
Perjalanan Itu

Bab 168

Adab-adab Kesopanan Perjalanan, Turun, Menginap Dan Tidur
Dalam Bepergian, Juga Sunnahnya Berjalan Malam, Belas-kasihan
Pada Binatang-binatang Menjaga Kemaslahatan-kemaslahatan
Binatang-binatang Tadi Serta Menyuruh Orang Yang Teledor
Memberikan Hak Binatang-binatang Tadi Supaya Memberikan
Haknya Dan Bolehnya Naik Di Belakang Di Atas Binatang
Kendaraan, Jikalau Binatang Itu Kuat Dinaikki – Sampai Dua Orang
Bab 169 Menolong Kawan

Bab 170

Apa-apa Yang Diucapkan Apabila Seseorang Itu Menaiki
Kendaraannya Untuk Bepergian

Bab 171

Takbirnya Seorang Musafir Jikalau Menaiki Tempat Tinggi—
Cunung-gunung — Dan Sebagainya Dan Bertasbih Jikalau Turun Ke
Jurang Dan Sebagainya Serta Larangan Terlampau Sangat Dalam
Mengeraskan Suara Takbir Dan Lain-lain
Bab 172

Sunnahnya Berdoa Dalam Bepergian
Bab 173

Apa Yang Diucapkan Sebagai Doa Apabila Seseorang Itu Takut
Kepada Orang^orang Atau Lain-lainnya
Bab 174

Apa Yang Diucapkan Jikalau Seseorang Itu Menempati Suatu
Pondokan — Penginapan
Bab 175

Sunnahnya Mempercepatkannya Seorang Musafir Untuk Pulang Ke
Tempat Keluarganya, Jikalau Sudah Menyelesaikan Keperluannya

Bab 176 Sunnahnya Datang Di Tempat Keluarganya Di Waktu Siang Dan
Makruhnya Datang Di Waktu Malam, Jikalau Tidak Ada
Keperluan Penting
Bab 177

Apa Yang Diucapkan Apabila Seseorang Musafir Itu Telah Kembali
Dan Apabila Telah Melihat NegerinyaBab 178

Sunnahnya Orang Yang Baru Datang — Dari Bepergian — Supaya
Masuk Masjid Yang Berdekatan Dengan Tempatnya Lalu
Bersembahyang Dua Rakaat Di Dalam Masjid Itu
Bab 179 Haramnya Wanita Bepergian Sendirian

KITAB FADHAIL (BERBAGAI
FADHILAH ATAU KEUTAMAAN)

Bab 180

Keutamaan Membaca Al-Quran

Bab 181

Perintah Berta’ahud Kepada Al-Quran — Memelihara Dan
Membacanya Secara Tetap — Dan Menakut-nakuti Berpaling
Daripadanya Karena Kelupaan
Bab 182

Sunnahnya Memperbaguskan Suara Dalam Membaca Al-Quran
Dan Meminta Untuk Membacanya Dari Orang Yang Bagus
Suaranya Dan Mendengarkan Pada Bacaan Itu
Bab 183 Anjuran Membaca Surat-surat Atau Ayat-ayat Yang Tertentu
Bab 184 Sunnahnya Berkumpul Untuk Membaca – Al-Quran
Bab 185 Keutamaan Berwudhu’
Bab 186 Keutamaan Berazan
Bab 187 Keutamaan Shalat
Bab 188 Keutamaan Shalat Shubuh Dan Ashar
Bab 189
Keutamaan Berjalan Ke Masjid
Bab 190 Keutamaan Menantikan Shalat
Bab 191

Keutamaan Shalat Jamaah
Bab 192
Anjuran Mendatangi Shalat Jamaah Shubuh Dan Isya’
Bab 193 Perintah Menjaga Shalat-shalat Wajib Dan Larangan Keras Serta
Ancaman Hebat Dalam Meninggalkannya
Bab 194 Keutamaan Saf Pertama Dan Perintah Menyempurnakan Saf-saf
Yang Permulaan Yakni Jangan Berdiri Di Saf Kedua Sebelum
Sempurna Saf Pertama Dan Jangan Berdiri Di Saf Ketiga Sebelum
Sempurna Saf Kedua Dan Seterusnya, Serta Meratakan Saf-saf Dan
Merapatkannya
Bab 195 Keutamaan Shalat-shalat Sunnah Rawaatib Yang Mengikuti Shalat-
shalat Fardhu Dan Uraian Sesedikit-sedikit Rakaatnya, Sesempuma-sempurnanya Dan Yang Pertengahan Antara Keduanya
Bab 196 Mengokohkan Sunnahnya Dua Rakaat Shubuh
Bab 197 Meringankan Dua Rakaat Fajar—Sunnah Sebelum Shubuh,
Uraian Apa Yang Dibaca Dalam Kedua Rakaat Itu Serta Uraian
Perihal Waktunya
Bab 198 Sunnahnya Berbaring Sesudah Mengerjakan Shalat Sunnah Dua
Rakaat Fajar — Sebelum Shubuh — Pada Lambung Sebelum Kanan
Dan Anjuran Untuk Melakukan Ini, Baikpun Pada Malam Harinya
Bersembahyang Tahajjud Atau Tidak
Bab 199 Shalat Sunnah Zuhur
Bab 200 Shalat Sunnah Asar
Bab 201 Shalat Sunnah Maghrib, Sesudah Dan Sebelumnya
Bab 202 Shalat Sunnah Isya’ Sesudah Dan Sebelumnya
Bab 203

Shalat Sunnah Jum’ah
Bab 204 Sunnahnya Mengerjakan Shalat-shalat Sunnah Di Rumah, Baikpun
Sunnah Rawaatib Atau Lain-lainnya Dan Perintah Berpindah
Untuk Bersembahyang Sunnah Dari Tempat Yang Digunakan
Bersembahyang Wajib Atau Memisahkan Antara Kedua Shalat Itu
Dengan Pembicaraan
Bab 205 Anjuran Melakukan Shalat Witir Dan Uraian Bahwa Shalat Ini
Adalah Sunnah Yang Dikokohkan Serta Uraian Mengenai
Waktunya
Bab 206 Keutamaan Shalat Dhuha Dan Uraian Perihal Sesedikit-sedikitnya
Rakaat Dhuha, Sebanyak-banyaknya Dan Yang Pertengahannya
Serta Anjuran Untuk Menjaga Untuk Terus Melakukannya
Bab 207 Bolehnya Melakukan Shalat Dhuha Dari Tingginya Matahari
Sampai
Tergelincir — Atau Lingsirnya Dan Yang Lebih Utama
lalahDilakukan
Ketika Sangatnya Panas Dan Meningginya Waktu Dhuha
Bab 208 Anjuran Melakukan Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid –
Menghormat
Masjid — Dua Rakaat Dan Makruhnya Duduk Sebelum
Bersembahyang
Dua Rakaat, Di Waktu Manapun Juga Masuknya Masjid Itu Dan
Sama
Halnya, Apakah Bersembahyang Dua Rakaat Tadi Dengan Niat
Tahiyat, Shalat Fardhu, Sunnah Rawaatib Dan Lain-lainnya
Bab 209 SunnahnyaDua Rakaat Sesudah Wudhu’
Bab 210 Keutamaan Shalat Jum’ah, Kewajibannya, Mandi Untuk
Menghadhirinya, Datang Berpagi-pagi Kepadanya, Doa Pada Hari Jum’ah, Membaca Shalawat Nabi Pada Hari Itu, Uraian Perihal
Saat Dikabulkannya Doa-doa Dan Sunnahnya Memperbanyak
ZikirKepada Allah Ta’ala Sesudah Jum’ah
Bab 211 Sunnahnya Sujud Syukur Ketika Mendapatkan Kenikmatan Yang
Nyata Atau Terhindar Dari Bencana Yang Nyata
Bab 212 Keutamaan Bangun Shalat Di Waktu Malam
Bab 213 Sunnahnya Bangun Malam Ramadhan Yaitu Untuk Malam
Mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih
Bab 214 Keutamaan Mengerjakan Shalat Di Malam Lailatul-Qadri
Dan Uraian Perihal Malam-malam Yang Lebih Dapat
Diharapkan Menemuinya
Bab 215 Keutamaan Bersiwak — Bersugi — Dan Perkara-perkara Kefitrahan

Bab 216 Mengokohkan Kewajiban Zakat Dan Uraian Tentang
Keutamaannya Serta Apa-apa Yang Berhubungan Dengan Zakat Itu
Bab 217 Wajibnya Puasa Ramadhan, Uraian Keutamaan Berpuasa Dan Hal-
hal Yang Berhubungan Dengan Puasa Itu
Bab 218 Dermawan Dan Melakukan Kebaikan Serta Memperbanyak
Kebagusan Dalam Bulan Ramadhan Dan Menambahkan Amalan
Itu
Dari Yang Sudah-sudah Apabila Tiba Sepuluh Hari Terakhir Dari
Ramadhan Itu
Bab 219 Larangan Mendahului Ramadhan Dengan Puasa Sesudah
Pertengahan
Sya’ban, Melainkan Bagi Orang Yang Mempersambungkan
Dengan
Hari-hari Yang Sebelumnya Atau Tepat Pada Kebiasaan Yang
Dilakukannya, Misalnya Bahwa Kebiasaannya Itu lalah Berpuasa
Hari Senin Dan Kemis Lalu Bertepatan Dengan Itu
Bab 220 Apa Yang Diucapkan Di Waktu Melihat Bulan Sabit Yakni
Rukyatul Hilal
Bab 221 Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya Selama Tidak Takut
Menyingsingnya Fajar
Bab 222 Keutamaan Menyegerakan Berbuka Dan Apa Yang Digunakan
Untuk Berbuka Itu Serta Apa Yang Diucapkan Setelah Selesai
Berbuka
Bab 223 Perintah Kepada Orang Yang Berpuasa Supaya Menjaga Lisan Dan
Anggotanya Dari Perselisihan Dan Saling Bermaki-makian Dan
Sebagainya
Bab 224 Berbagai masalah dalam berpuasa
Bab 225 Keutamaan Berpuasa Dalam Bulan Muharram, Sya’ban Dan
Bulan-bulan YangMulia – Asyhurul Hurum Bab 226 Keutamaan Berpuasa Dan Lain-lain Dalam Hari-hari Sepuluh
Pertama Dari Bulan Zulhijjah
Bab 227 Keutamaan Berpuasa Pada Hari Arafah,’Asyura Dan Tasu’a
Bab 228 Sunnahnya Berpuasa Enam Hari Dari Bulan Syawal
Bab 229 Sunnahnya Berpuasa Pada Hari Senin Dan Kemis
Bab 230 Sunnahnya Berpuasa Tiga Hari Dalam Setiap Bulan
Bab 231 Keutamaan Orang Yang Memberi Makan Buka Kepada Orang
Yang
Berpuasa, Keutamaan Orang Berpuasa Yang Dimakan Makanannya
Di Sisinya Dan Doanya Orang Yang Makan Kepada Orang Yang
Makanannya Dimakan Di Sisinya Itu

KITAB ITIKAF
Bab 232 I’tikaf

KITAB HAJI
Bab 233 Haji

KITAB JIHAD
Bab 234 Jihad
Bab 235 Uraian Perihal Kelompok Golongan Orang-orang Yang Dapat
Disebut Mati Syahid Dalam Pahala Akhirat Dan Mereka Ini
Wajib Dimandikan Dan Disembahyangi, Berbeda Dengan
Orang Yang Terbunuh Dalam Berperang Melawan Kaum
Kafirin
Bab 236
Keutamaan Memerdekakan Hambasahaya
Bab 237 Keutamaan Berbuat Baik Kepada Hambasahaya
Bab 238 Keutamaan Hambasahaya Yang Menunaikan Hak Allah Ta’ala
Dan HakTuannya
Bab 239 Keutamaan Beribadat Dalam Keadaan Penuh Kekacauan Yaitu
Percampur-bauran Dan Timbulnya Berbagai Fitnah Dan Sebagainya
Bab 240 Keutamaan Bermurah Hati Dalam Berjual-beli, Mengambil
Dan Memberi, Bagusnya Menunaikan Hak Yang Menjadi
Tanggungannya — Yakni Mengembalikan Hutang, Bagusnya Meminta Haknya — Yakni Menagih, Memantapkan Takaran
Dan Timbangan, Larangan Mengurangi Timbangan, Juga
Keutamaan Memberi Waktu Bagi Seseorang Yang Kecukupan
Kepada Orang Yang Kekurangan — Dalam Mengembalikan
Hutangnya – Serta Menghapuskan Samasekali – Akan Hutang
– Orang Yang Kekurangan Itu

KITAB ILMU

Bab 241 Ilmu pengetahuan

KITAB MEMUJI DAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH TA’ALA

Bab 242 Memuji Dan Bersyukur Kepada Allah Ta’ala

KITAB SHALAWAT KEPADA RASULULLAH S.A.W.
Bab 243 Bacaan Selawat kepada Rasulullah s.a.w
KITAB BERBAGAI ZIKIR
Bab 244 Keutamaan Zikir Dan Anjuran Mengerjakannya
Bab 245 Berzikir Kepada Allah Ta’ala Dengan Berdiri, Duduk, Berbaring
Berhadas, Sedang Junub Dan Haidh, Kecuali Al-Quran, Maka
Tidak Halal Bagi Orang Yang Sedang JunubAtau Haidh
Bab 246 Apa Yang Diucapkan Ketika Hendak Tidur Dan Bangun Tidur
Bab 247 Keutamaan Berhimpun Untuk Berzikir Dan Mengajak-ajak
Untuk Menetapinya Dan Larangan Memisahkan Diri
Daripadanya Kalau Tanpa UzurBab 248
Zikir Di Waktu Pagi Dan Sore
Bab 249 Apa-Apa yang diucapkan ketika hendak tidur

KITAB DOA-DOA

Bab 250 Doa-doa
Bab 251
Keutamaan Berdoa Di Luar Adanya Orang Yang Didoakan
Bab 252
Beberapa Masalah Dari Hal Doa
Bab 253 Karamat-karamatnya Para Waliullah Dan Keutamaan Mereka

KITAB PERKARA-PERKARA YANG TERLARANG
MELAKUKANNYA

Bab 254 Haramnya Mengumpat Dan Perintah Menjaga Lisan
Bab 255
Haramnya Mendengar Kata Umpatan — Ghibah — Dan
Menyuruh Kepada Orang Yang Mendengar Umpatan Yang
Diharamkan Itu Supaya Menolaknya Dan Mengingkari —
Tidak Menyetujui — Kepada Orang Yang Mengucapkannya.
Jikalau Tidak Kuasa Ataupun Orang Tadi Tidak Suka
Menerima Nasihatnya, Supaya la Memisahkan Diri Dari
tempat Itu Jikalau Mungkin la Berbuat Demikian
Bab 256 Uraian Perihal Gljibah — Mengumpat — Yang Dibolehkan
Bab 257
Haramnya Mengadu Domba Yaitu Memindahkan Kata-kata
Antara Para Manusia Dengan Maksud Hendak Merusakkan
Bab 258
Larangan Memindahkan Kata-kata Atau Pembicaraan Orang-
orang Kepada Para Penguasa Negara, Jikalau Tidak Didorong
Oleh Sesuatu Keperluan Seperti Takutnya Timbulnya Kerusakan
DanLain-lain
Bab 259 Celanya Orang Yang Bermuka Dua – Kemunafikan
Bab 260
Haramnya Berdusta
Bab 261 Uraian Perihal Dusta Yang Dibolehkan Bab 262
Memiliki Ketetapan Dalam Apa Yang Diucapkan Atau Apa
Yang Diceriterakan
Bab 263
Uraian Kesangatan Haramnya Menyaksikan Kepalsuan
Bab 264 Haramnya Melaknat Diri Seseorang Atau Terhadap Binatang
Bab 265 Bolehnya Melaknati Kepada Orang-orang Yang Mengerjakan
Kemaksiatan Tanpa Menentukan Perorangannya
Bab 266 Haramnya Memaki Orang Islam Tanpa Hak (Kebenaran)
Bab 267 Haramnya Memaki-maki Orang-orang Mati Tanpa Adanya Hak
(Kebenaran) Dan Kemaslahatan Syariat
Bab 268 LaranganMenyakiti
Bab 269 Larangan Saling Benci-membenci, Putus-memutuskan — Ikatan
Persahabatan — Dan Saling Belakang-membelakangi — Tidak
Sapa-menyapa —
Bab 270 Haramnya Hasad – Dengki – Yaitu Mengharapkan Lenyapnya
Sesuatu Kenikmatan Dari Pemiliknya, Baikpun Yang Berupa
Kenikmatan Urusan Agama Atau Urusan Keduniaan
Bab 271 Larangan Menyelidiki Kesalahan Orang Serta
Mendengarkan Pada Pembicaraan Yang Orang Ini Benci
Kalau la Mendengarnya
Bab 272 Larangan Mempunyai Prasangka Buruk Kepada Kaum Muslimin
Yang Tanpa Adanya Dharurat
Bab 273 Haramnya Menghinakan Seorang Muslim
Bab 274 Larangan Menampakkan Rasa Gembira Karena Adanya Bencana
Yang Mengenai Seorang Muslim
Bab 275 Haramnya Menodai Nasab — Keturunan — Yang Terang
Menurut Zahirnya Syara’
Bab 276 Larangan Mengelabui Dan Menipu
Bab 277 Haramnya Bercidera — Tidak Menepati Janji
Bab 278 Larangan Mengundat-undat — Yakni Membangkit-bangkitkan
Sesuatu Pemberian Dan Sebagainya
Bab 279 Larangan Berbangga Diri Dan Melanggar Aturan
Bab 280 Haramnya Meninggalkan Bercakap – Yakni Tidak Sapa-
menyapa -Antara Kaum Muslimin Lebih Dari Tiga Hari
Kecuali Karena Adanya Kebid’ahan Dalam Diri Orang Yang
Ditinggalkan Bercakap Tadi — Yakni Yang Tidak Disapa —
Atau Karena Orang Itu Menampakkan Kefasikan Dan Lain-lain
Sebagainya
Bab 281 Larangan Berbisiknya Dua Orang Tanpa Orang Yang Ketiga Dan
Tanpa Izinnya Yang Ketiga Ini, Melainkan Karena Adanya
Kepefluan, Yaitu Kalau Kedua Orang Itu Bercakap-cakap Secara Rahasia Sekira Orang Yang Ketiga Itu Tidak Dapat Mendengarkannya
Atau Yang Semakna Dengan Itu, Umpamanya Keduanya
Bercakap-cakap Dengan Sesuatu Bahasa Yang Tidak Dimengerti
Oleh orang yang ketiga tadi
Bab 282 Larangan Menyiksa Hamba Sahaya, Binatang, Wanita Dan
Anak Tanpa Adanya Sebab Yang Dibenarkan Oleh Syara’
Ataupun Dengan Cara Yang Melebihi Kadar Kesopanan –
Meskipun Dibenarkan Oleh Syara’
Bab 283 Haramnya Menyiksa Dengan Api Pada Semua Binatang, Sampai
Pun Kutu Kepala Dan Sebagainya
Bab 284 Haramnya Menunda-nundanya Seorang Kaya Pada Sesuatu Hak
Yang Diminta Oleh Orang Yang Berhak Memperolehnya
Bab 285 Makruhnya Seseorang Yang Menarik Kembali Hibah — Yakni
Pemberiannya — Kepada Orang Yang Akan Dihibahi, Sebelum
Diterimakan Kepada Yang Akan Dihibahi Itu Atau Hibah Yang
AkanDiberikan Kepada Anaknya Dan Sudah Diterimakan Atau Belum
Diterimakan Padanya, Juga Makruhnya Seseorang Membeli
Sesuatu Benda Yang Disedekahkan Dari Orang Yang Disedekahi Atau
Yang Dikeluarkan Sebagai Zakat Atau Kaffarah – Denda – Dan Lain-
lain Sebagainya, Tetapi Tidak Mengapa Kalau Membelinya Itu Dari
Orang Lain — Bukan Yang Disedekahi Atau Dizakati Dan
Sebagainya — Karena Sudah Berpindah Milik Dari Orang Ini Ke
Orang Lain Itu
Bab 286 Mengokohkan Keharamannya Makan Harta Anak Yatim
Bab 287 Memperkeraskan Haramnya Harta Riba
Bab 288 Haramnya Ria’ – Pamer Atau Memperlihatkan Kebaikan Diri
Sendiri
Bab 289 Sesuatu Yang Disangka Sebagai Ria’, Tetapi Sebenarnya
Bukan Ria’
Bab 290 Haramnya Melihat Kepada Wanita Ajnabiyah — Bukan
Mahramnya — Dan Kepada Orang Banci Yang Bagus Tanpa
Ada Keperluan
Yang Dibenarkan Menurut Syara’
Bab 291 Haramnya Menyendiri Dengan Wanita Lain — Yakni Yang
Bukan Mahramnya —
Bab292 Haramnya Orang-orang Lelaki Menyerupakan Diri Sebagai Kaum Wanita Dan Haramnya Kaum Wanita Menyerupakan Diri Sebagai Kaum Lelaki, Baik Dalam Pakaian, Gerakan Tubuh Dan Lain-lain
Bab 293 Larangan Menyerupakan Diri Dengan Syaitan Dan
Orang-orang Kafir
Bab 294 Larangan Orang Lelaki Dan Perempuan Untuk Menyumba –
Yakni Menyemir – Rambutnya Dengan Warna Hitam .
Bab 295 Larangan Menguncit Yaitu Mencukur Sebagian Kepala Dengan
Meninggalkan Sebagian Lainnya Dan Bolehnya
Mencukur Seluruh Kepala Untuk Orang Lelaki, Tidak Untuk
Orang Perempuan
Bab 296 Haramnya Menghubungkan Rambut Sendiri Dengan Rambut
Orang Lain. Mencacah Kulit – Dengan Gambar. Tulisan Dan
Lain-lain – Serta Wasyr Yaitu Mengikir Gigi – Untuk
Merenggangkannya.
Bab 297 Larangan mecabut Uban dari Janggut, Kepala Dan Lain-Lain Dan
Larangan Orang Banci Mencabut Rambut lariggutnya Pada
Permulaan Tumbuhnya
Bab 298 Makruhnya Bercebok Dengan Tangan Kanan Dan Memegang
Kemaluan Dengan Tangan Kanan Ketika Bercebok Tanpa
AdanyaUzur
Bab 299 Makruhnya Berjalan Dengan Mengenakan Sebuah Terumpah
Atau Sebuah Sepatu Khuf Tanpa Adanya Uzur Dan Makruhnya
Mengenakan Terumpah Atau Sepatu Khuf Dengan Berdiri
Tanpa Uzur
Bab300 Larangan Membiarkan Api Menyala Di Rumah Ketika
Masuk Tidur Dan Lain-lain, Baikpun Api Itu Dalam
Lampu Ataupun Lain-lainnya
Bab 301 Larangan Memaksa-maksakan Yaitu Perbuatan Dan Ucapan
Yang Tidak Ada Kemaslahatan Di Dalamnya Dengan
Kemasyarakatan – Yakni Kesukaran —
Bab 302 Haramnya Menangis Dengan Suara Keras Kepada Mayit,
Menampar Pipi, Merobek-robek Saku, Mencabuti Rambut,
Mencukur Rambut Serta Berdoa Dengan Mendapatkan Kecelakaan
Dan Kehancuran
Bab 303 Larangan Mendatangi Ahli Tenung, Ahli Nujum, Ahli Terka,
Orang-orang Meramal Dan Sebagainya Dengan Menunjuk
Dengan Menggunakan Kerikil, Biji Sya’ir Dan Lain-lain Sebagainya
Bab 304 Larangan Dari Perasaan Akan Mendapat Celaka — Karena
Adanya Sesuatu Bab 305 Haramnya Menggambar Binatang Di Hamparan, Batu, Baju,
Wang Dirham, Wang Dinar, Culing Bantal Dan Lain-lain, juga
Haramnya Menggunakan Gambar Tadi Diletakkan Di Dinding
Atap, Tabir, Sorban, Baju Dan Sebagainya Serta Perintah
Merusakkan Gambar Itu
Bab 306 Haramnya Memelihara Anjing Kecuali Untuk Berburu, Menjaga
Ternak Atau Ladang Tanaman
Bab 307

Makruhnya Menggantungkan Lonceng — Bel — Pada Unta Atau
Binatang Lain-lain Dan Makruhnya Membawa Anjing Dan
Lonceng – Bel – Dalam Bepergian
Bab 308 Makruhnya Menaiki lalalah Yaitu Unta Lelaki Atau Perempuan
Yang Makan Kotoran. (ikatau la Sudah Makan Makanan Biasa –
Bukan Kotoran *- Yang Suci Lalu Dagingnya Menjadi Enak
Dimakan, Maka Hilanglah Kemakruhannya
Bab 309 Larangan Berludah Dalam Masjid Dan Perintah
Menghilangkannya
Jikalau Menemukan Ludah Itu Dan Pula Perintah Membersihkan
Masjid Dari Segala Kotoran
Bab 310 Makruhnya Bertengkar Dalam Masjid, Mengeraskan Suara Di
Dalamnya, Menanyakan Apa-apa Yang Hilang, J’ual Beli,
Persewaan Dan Lain-lain Hal Yang Termasuk Mu’amalat
Bab 311 Larangan Makan Bawang Putih, Bawang Merah, Petai Dan Lain-
lain Yang Mengandung Bau Busuk Dari Masuk Masjid Sebelum
Lenyapnya Bau Tersebut —Dari Mulut –Kecuali kalau darurat
Bab 312 Makruhnya Duduk Ihtiba’ Pada Hari Jum’at Di Waktu Imam
Sedang Berkhutbah, Sebab Duduk Semacam Itu Dapat
Menyebabkan Timbulnya Kantuk Lalu Tidak Memperhatikan
Lagi Untuk Mendengar Khutbah Dan Pula Ditakutkan Akan
Batalnya Wudhu’

Bab 313 Larangan Bagi Seseorang Yang Didatangi Tanggal Sepuluh
Zulhijjah Dan la Hendak Menyembelih Kurban Kalau la Mengambil
– Memotong Atau Mencukur – Sesuatu Dari Rambut Atau Kukunya
Sendiri, Sehingga laSelesai Menyembelih Kurban Tadi
Bab 314 Larangan Bersumpah Dengan Menggunakan Makhluk Seperti
Nabi, Ka’bah, Malaikat, Langit, Nenek-moyang, Kehidupan,
Ruh, Kepala, Kehidupan Sultan, Kenikmatan Sultan, Tanah Si
Fulan, Amanat Dan Sumpah-sumpah Semacam Inilah Yang
Terkeras Larangannya
Bab 315 Memperkeraskan Keharamannya Sumpah Dusta Dengan
Sengaja Bab 316 Sunnahnya Seseorang Yang Sudan Terlanjur Mengucapkan
Sumpah, Lalu Melihat Lainnya Yang Lebih Baik Dari Yang
Disumpahkannya Itu, Supaya la Mengerjakan Saja Apa Yang
Sudan Disumpahkan Tadi Kemudian Membayar Denda Atas
Sumpahnya Tersebut
Bab 317 Pengampunan Atas Sumpah Yang Tidak Disengaja Dan
Bahwasanya Sumpah Semacam Ini Tidak Perlu Dibayarkan
Kaffarah, Yaitu Sumpah Yang Biasa Meluncur Atas Lisan Tanpa
Adanya Kesengajaan, Seperti Seseorang Yang Sudan Biasa
Mengucapkan: “Tidak, Wallahi” Dan “Ya, Wallahi” Dan Lain-lain
Sebagainya
Bab 318 Makruhnya Bersumpah Dalam Berjualan, Sekalipun Benar
Kata-katanya
Bab 319 Makruhnya Seseorang Meminta Dengan Zatnya Allah Azza Wa
Jalla
Selain Dari Syurga Dan Makruhnya Menolak Seseorang Yang
Meminta Dengan Menggunakan Ucapan “Dengan Allah Ta’ala”
Serta
Bersyafa’at Dengan Kata-kata Itu
Bab 320 Haramnya Mengucapkan Syahansyah’— Maha Raja Atau Raja
Di Raja — Untuk Seseorang Sultan Atau Lain-lainnya, Sebab
Artinya, Itu lalah Raja Dari Sekalian Raja, Sedangkan Tidak
Boleh Diberi Sifat Sedemikian Itu Melainkan Allah Subhanahu
Wa Ta’ala

Bab321 Larangan Memanggil Orang Fasik Atau Orang Yang
Berbuat Kebid’ahan Dan Yang Semacam Itu Dengan
Ucapan “Tuan – Sayyid —” Dan Yang Seumpamanya
Bab 322 Makruhnya Memaki-maki Penyakit Panas
Bab 323 Larangan Memaki-maki Angin Dan Uraian Apa Yang Diucapkan
Ketika Ada Hembusan Angin
Bab 324 Makruhnya Memaki-maki Ayam
Bab 325 Larangan Seseorang Mengucapkan: “Kita Dihujani Dengan
Berkah Bintang Anu”
Bab 326
Haramnya Seseorang Mengatakan Kepada Sesama Orang
Muslim: “HaiOrangKafir”
Bab 327
Larangan Berbuat Kekejian — Atau Melanggar Batas — Serta
Berkata Kotor
Bab 328 Makruhnya Memaksa-maksakan Keindahan Dalam Bercakap-
cakap Dengan Jalan Berlagak Sombong Dalam Mengeluarkan Kata-kata Dan Memaksa-maksa Diri Untuk Dapat Berbicara Dengan
Fasih Atau Menggunakan Kata-kata Yang Asing – Sukar
Diterima – Serta Susunan Yang Rumit-rumit Dalam Bercakap-
cakap Dengan Orang Awam Dan YangSeumpama Mereka Itu

Bab 329 Makruhnya Berkata: “Cemarjiwaku”
Bab 330 Makruhnya Menamakan Anggur Dengan Sebutan Alkarmu
Bab 331 Larangan Menguraikan Sifat – Keadaan Atau Hal Ihwal – Wanita
Kepada Seseorang Lelaki, Kecuali Kalau Ada Keperluan Untuk
Berbuat Sedemikian Itu Untuk Kepentingan Syara’ Seperti
Hendak Mengawininya Dan Sebagainya

Bab332
Makruhnya Seseorarg Mengucapkan Dalam Doanya: “Ya Allah,
Ampunilah Saya Kalau Engkau Berkehendak”, Tetapi Haruslah la
Memantapkan Permohonannya Itu

Bab 333 Makruhnya Ucapan: “Sesuatu Yang Allah Menghendaki Dan
Si Fulan Itu Juga Menghendaki”
Bab 334 Makruhnya Bercakap-cakap Sehabis Shalat Isya’Yang Akhir
Bab 335 Haramnya Seseorang Isteri Menolak Untuk Diajak KeTempat
Tidur Suaminya, jikalau Suami Itu Mengajaknya, Sedangkan
Isterinya Itu Tidak Mempunyai Uzur Yang Dibenarkan Oleh
Syara’

Bab 336

Haramnya Seorang Isteri Mengerjakan Puasa Sunnah Di
Waktu Suaminya Ada Di Rumah, Melainkan Dengan Izin
Suaminyaltu

Bab 337 Haramnya Makmum Mengangkat Kepala Dari Ruku’ Atau Sujud
Sebelumnya Imam
Bab 338 Makruhnya Meletakkan Tangan Di Atas Khashirah — Yakni
Rusuk Sebelah Atas Pangkal Paha – Ketika Shalat
Bab 339 Makruhnya Shalat Di Muka Makanan, Sedang Hatinya Ingin
Padanya Atau Bersembahyang Dengan Menahan Dua Kotoran
Yaitu Ingin Kencing Atau Berak
Bab 340 Larangan Mengangkat Mata Ke Langit – Yakni Ke Arah Atas –
Dalam Shalat
Bab 341 Makruhnya Menoleh Dalam Shalat Tanpa Adanya Uzur
Bab 342 Larangan Shalat Menghadap Ke Arah Kubur Bab 343 Haramnya Berjalan Melalui Mukanya Orang Yang
Bersembahyang
Bab 344 Makruhnya Makmum Memulai Shalat Sunnah Setelah Muazzin
Mulai
Mengucapkan Iqamah, Baikpun Yang Dilakukan Itu Shalat
Sunnah Dari Shalat Wajib Yang Dikerjakan Itu — Yakni Rawaatib
— Ataupun Sunnah Lainnya
Bab 345 Makruhnya Mengkhususkan Hari )um’at Untuk Berpuasa Dan
Malam Jum’at Untuk Shalat Malam

Bab 346 Haramnya Mempersambungkan Dalam Berpuasa Yaitu Berpuasa
Dua Hari Atau Lebih Dan Tidak Makan Serta Tidak Minum Antara
Hari-hariltu

Bab 347 Haramnya Duduk Di Atas Kubur
Bab 348 Larangan Memelur Kubur Dan Membuat Bangunan Di Atasnya
Bab 349 Memperkeras Keharaman Melarikan Diri Bagi Seseorang Hamba
Sahaya Dari Tuan Pemiliknya
Bab 350 Haramnya Memberi Syafa’at – Yakni Pertolongan – Dalam
Hal Melaksanakan Had-had Atau Hukuman — Sehingga
Diurungkan Terlaksananya Hukuman Itu —
Bab 351 Larangan Berberak Di Jalanan Orang-orang — Yakni Tempat
Mereka Berlalu Lintas —Juga Di Tempat Mereka Berteduh
Dan Di Tempat Mendatangi Air – Sumber-sumber Air – Dan
Yang Seumpamanya
Bab 352 Larangan Kencing Dan Sebagainya Di Air Yang Berhenti – Yakni
Tidak Mengalir
Bab 353
Makruhnya Mengutamakan Seseorang Anak Melebihi Anak-anak
Yang Lainnya Dalam Hal Menghibahkan — Yakni Memberikan
Sesuatu –

Bab 354 Haramnya Berkabung — Meninggalkan Berhias — Bagi Seseorang
Wanita Atau Meninggalnya Mayit Lebih Dari Tiga Hari, Kecuali
Kalau Yang Meninggal Itu Suaminya, Maka Berkabungnya Selama
Empat Bulan Sepuluh Hari

Bab 355 Haramnya Menjualkannya Orang Kota Pada Miliknya Orang Desa
Dan Menyongsong Penjual Di Atas Kendaraan, Juga Haramnya
Menjual Atas (ualan Saudaranya — Sesama Muslim —, Jangan Pula
Melamar Atas Lamaran Saudaranya, Kecuali Kalau la Mengizinkan
Atau la Ditolak LamarannyaBab 356 Larangan Menyia-nyiakan Harta Yang Tidak Di Dalam Arah-arah
Yang Diizinkan Oleh Syari’at Dalam Membelanjakannya
Bab 357 Larangan Berisyarat Kepada Seorang Muslim Dengan Menggunakan
Pedang Dan Sebagainya Baikpun Secara Sungguh-sungguh Atau
Senda-gurau Dan Larangan Memberikan Pedang Dalam
Keadaan Terhunus
Bab 358 Makruhnya Keluar Dari Masjid Sesudah Azan Kecuali Karena
Uzur, Sehingga Melakukan Shalat Yang Diwajibkan
Bab 359 Makruhnya Menolak Harum-haruman Tanpa Adanya Uzur
Bab 360
Makruhnya Memuji Di Muka Orang Yang Dipuji jikalau
Dikhuatirkan Timbulnya Kerusakan Padanya Seperti Menimbulkan
Rasa Keheranan Pada Diri Sendiri Dan Sebagainya, Tetapi )awaz –
Yakni Boleh — Bagi Seseorang Yang Aman Hatinya Dari
Perasaan Yang Sedemikian Itu Jikalau Menerima Pujian Pada Dirinya

Bab 361

Makruhnya Keluar Dari Sesuatu Negeri Yang Dihinggapi Oleh
Wabah Penyakit Karena Hendak Melarikan Diri Daripadanya
Serta Makruhnya Datang Di Negeri Yang Dihinggapi Itu
Bab 362 Memperkeras Keharamannya Sihir
Bab 363 Larangan Bepergian Dengan Membawa Mushhaf — Yakni Kitab
Suci Al-Quran — Ke Negeri Orang-orang Kafir, likalau
Dikhuatirkan Akanjatuhnya Mushhaf Itu Di Tangan Mereka
Bab 364

Haramnya Menggunakan Wadah Yang Terbuat Dari Emas Dan
Wadah Dari Perak Untuk Makan, Minum, Bersuci Dan Macam-
macam Penggunaan Yang Lain-lain

Bab 365 Haramnya Seseorang Lelaki Mengenakan Pakaian Yang Dibubuhi
Minyak Za’faran

Bab 366 Larangan Berdiam — Tidak Berbicara — Sehari Sampai
Malam
Bab 367 Haramnya Seseorang Mengaku Nasab — Atau Keturunan — Dari
Seseorang Yang Bukan Ayahnya Dan Mengaku Diperintah Oleh
Orang Yang Bukan Walinya — Yakni Yang Tidak Berhak
Memerdekakannya

Bab 368 Menakut-nakuti Dari Menumpuk-numpuk Apa-apa Yang
Dilarang Oleh Allah AzzaWaJalla Serta Oleh Rasulullah s.aw.

Bab 369 Apa-apa Yang Perlu Diucapkan Dan Dikerjakan Oleh Seseorang Yang Menumpuk-numpuk Apa-apa Yang Dilarang — Oleh
Agama — Atas Dirinya

KITAB ALMATSURAT DAN ALMULAH
Bab 370
Beberapa Hadis Yang Berserakan — Tidak Termasuk Dalam Bab
Tertentu — Dan Yang Sedap-sedap Dirasakan

KITAB ISTIGHFAR
Bab 371 Mohon Pengampunan
Bab 372
Uraian Perihal Apa-apa Yang Disediakan Oleh Allah Ta’ala
Untuk Kaum Mukminin Di Dalam Syurga

TAMMAT

————————————————————————————————-

Bab 117

Kitab Pakaian

Sunnahnya Mengenakan Pakaian Putih Dan
Bolehnya Mengenakan Pakaian Berwarna Merah, Hijau,
Kuning, Hitam, juga Bolehnya Mengambil Pakaian Dari
Kapuk, Katun, Rambut, Bulu Dan Lain-lain Lagi Kecuali
Sutera.

Allah Ta’ala berfirman:
Hai anak Adam – yakni manusia, Kami telah menurunkan untukmu semua
pakaian-pakaian yang dapat engkau semua guna-kan untuk menutupi aurat-auratmu dan pula pakaian untuk hiasan dan pakaian ketaqwaan adalah yang terbaik.” (al-A’raf:26)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan Allah membuat untukmu semua pakaian-pakaian untuk memelihara
engkau semua dari panas, juga pakaian-pakaian – baju besi – untuk melindungi engkau semua dalam peperangan.” (an-Nahl: 81)

776. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Kenakanlah yang berwarna putih dari pakaian-pakaianmu itu karena
sesungguhnya yang putih itu adalah yang terbaik di antara pakaian-pakaianmu, juga berikanlah kafan orang-orang yang mati dari engkau semua dengan kain yang berwarna putih.”

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

777. Dari Samurah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kenakanlah
pakaian-pakaian yang putih, sebab yang sedemikian itu adalah lebih suci dan
lebih bagus serta berilah kafan orang-orang yang mati dari engkau semua
dengan kain putih.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Nasa’i dan Hakim dan Hakim
mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.

778. Dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu adalah
seorang yang sedang tingginya – yakni tinggi tubuhnya itu sedang, sungguh-
sungguh saya telah melihat beliau s.a.w. me-ngenakan pakaian yang berwarna merah. Tidak pernah samasekali saya melihat sesuatu apapun yang tampaknya lebih indah dari beliau s.a.w. itu.” (Muttafaq ‘alaih)

779. Dari Abu Juhaifah yaitu Wahab bin Abdullah r.a., katanya: “Saya
melihat Nabi s.a.w. di Makkah. Beliau ada di Abthah dalam kubbahnya –
kemahnya – yang berwarna merah yang terbuat dari kulit yang sudah dimasak.
Bilal lalu keluar dengan membawa air wudhu’yang disediakan untuk Nabi s.a.w. Di antara orang-orang itu ada yang terpercik airnya dan ada pula yang terkena air itu banyak-banyak. Selanjutnya keluarlah Nabi s.a.w. mengenakan pakaian berwarna merah, seolah-olah saya masih dapat melihat pada keputihan kedua betisnya. Beliau s.a.w. lalu berwudhu’ dan Bilalpun berazan. Saya selalu mengikuti saja gerak mulut Bilal yang bergerak ke sini dan ke situ sambil mengucapkan azan itu menoleh ke kanan ke kiri yakni ketika mengucapkan: “Hayya ‘alash shalah – menoleh ke kanan – dan Hayya ‘alal falah – menoleh ke kiri.” Kemudian ditancapkanlah sebuah tongkat – di muka beliau s.a.w. sebagai tanda batas yang tidak boleh dilalui. Beliau s.a.w. lalu maju ke muka terus bersembahyang. Di muka beliau s.a.w. itu berlalulah seekor anjing dan seekor keledai, tetapi tidak dicegah – sebab ada di luar batas tongkat di atas.” (Muttafaq ‘alaih)
Alanazah dengan fathahnya nun ialah seperti tongkat.

780. Dari Abu Rimtsah yaitu Rifa’ah at-Taimi r.a., katanya: “Saya melihat
Rasulullah s.a.w. dan beliau mengenakan dua baju yang berwarna
hijau.“Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi
dengan isnad yang shahih.

781. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. memasuki -kota Makkah
– pada waktu membebaskan Makkah dan beliau s.a.w. mengenakan sorban
hitam.” (Riwayat Muslim)

782. Dari Abu Said yaitu ‘Amr bin Huraits r.a., katanya: “Seolah-olah saya
masih dapat melihat kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau s.a.w. pada waktu itu
mengenakan sorban hitam. Beliau melemberehkan ujungnya di antara kedua
bahunya.” (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim lain disebutkan bahwasanya Rasulullah
s.a.w.berkhutbah di muka para manusia dan beliau s.a.w. mengenakan sorban
hitam.

783. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. dikafani –
ketika wafatnya – dengan tiga buah baju yang berwarna putih, buatan negeri Sahul yaitu terbuat dari kapuk. Di dalam kafan itu tidak terdapat gamis dan
tidak ada pula sorbannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Assabuliyah dengan fathahnya sin dan boleh pula dengan dhammahnya
ha’, sin dan ha’ itu muhmalah, artinya ialah baju atau pakaian yang dinisbatkan
kepada negeri Sahul yaitu sebuah desa di daerah Yaman. Alkursuf artinya
kapuk.

784. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. pada
suatu pagi keluar dan beliau s.a.w. mengenakan baju yang digambari dengan
gambar pelana dan terbuat dari rambut hitam” (Riwayat Muslim)
Almirth dengan kasrahnya mim ialah pakaian dan Almurahhat dengan
ha’ muhmalah, yaitu yang bergambar pelana unta dan itulah yang disebut
Alakwaar (yakni jamaknya Akkuur, artinya pelana unta).

785. Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a., katanya: “Saya berada dalam
perjalanan bersama Nabi s.a.w. pada suatu malam. Kemudian beliau bertanya:
“Adakah engkau membawa air?” Saya menjawab: “Ya.” Beliau lalu turun dari
kendaraannya lalu berjalan sehingga tertutup dalam kegelapan waktu malam.


Selanjutnya beliau datang kembali. Seterusnya saya menuangkan air pada beliau untuk bersuci. Beliau s.a.w. lalu membasuh wajahnya dan beliau mengenakan jubah – baju panjang sampai ke lutut – yang terbuat dari bulu, kemudian beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengannya dari baju itu – karena sempitnya lobang tangan – sehingga dikeluarkan-lah kedua lengannya itu dari bawah jubah. Selanjutnya beliau s.a.w. membasuh kedua lengannya dan mengusap kepalanya. Sesudah tu saya turun ke bawah hendak melepaskan kedua sepatu khufnya, tetapi beliau s.a.w. bersabda: “Biarkan sajalah kedua sepatu itu, sebab sesungguhnya saya memasukkannya itu dalam keadaan suci, seterusnya beliau
s.a.w. mengusap di atas kedua sepatunya itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Beliau s.a.w. mengenakan jubah buatan
negeri Syam – yakni Palestina – yang sempit kedua lobang tangannya.

Dalam riwayat lain lagi disebutkan bahwasanya poristiwa ini -yakni
sebagaimana yang diuraikan di atas – adalah terjadi dalam perang Tabuk. Bab 118

Sunnahnya Mengenakan Baju Gamis

786. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, katanya: “Pakaian yang amat
dicintai oleh Rasulullah s.a.w. ialah baju gamis.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Bab 119

Sifat Panjangnya Gamis, Iobang Tangan Baju, Sarung,
Ujung Sorban Dan Haramnya Melemberehkan Sesuatu Dari
Yang Tersebut Di Atas Karena Maksud Kesombongan Dan
Kemakruhannya jikalau Tidak Karena maksud
Kesombongan

787. Dari Asma’ binti Yazid al-Anshari radhiallahu ‘anha, kata-nya:
“Lobang tangan gamisnya Rasulullah s.a.w. itu sampai pada pergelangan
tangan.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

788. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang menarik bajunya – yakni melemberehkan sampai
menyentuh tanah, baik yang berupa baju, sarung dan Iain-lain – karena maksud
kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat –
maksudnya tidak akan dilihat dengan rasa keridhaan dan kerahmatan.”
Abu Bakar lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya sarungku itu
selalu melembereh saja – karena kurusnya badan, kecuali kalau saya
membenarkan lagi letaknya, misalnya dengan diikat keras-keras atau diangkat
ke atas.” Maksudnya, apakah diancam dengan tin-dakan sebagaimana di atas itu.
Rasulullah s.a.w. lalu menjawab: “Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan
orang yang melaku-kan semacam rtu dengan maksud kesombongan,” jadi tidak
apa-apa hukumnya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayat-kan
sebagiannya.

789. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah tidak akan melihat – dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan
– kepada orang yang menarik sarungnya – yakni melemberehkannya sampai
menyentuh tanah – karena maksud kecongkakan.” (Muttafaq ‘alaih)

790. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. sabdanya: “Apa yang
ada di bagian bawah dari kedua matakaki, maka akan dimasukkan dalam
neraka.” (Riwayat Bukhari)

791. Dari Abu Zar r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Ada tiga macam orang
yang tidak diajak bicara oleh Allah – dengan pem-bicaraan keridhaan, tetapi
dibicarai dengan nada kemarahan – pada hari kiamat dan tidak pula dilihat
olehNya – dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan, serta tidak pula
disucikan olehNya -yakni dosa-dosanya tidak diampuni – dan mereka itu akan
men-dapatkan siksa yang menyakitkan sekali.” Katanya: Rasulullah s.a.w.
membacakan kalimat di atas itu sampai tiga kali banyaknya.
Abu Zar kemudian berkata: “Mereka itu merugi serta menyesal sekali.
Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Rasulullah s.a.w. ber-sabda: “Yaitu orang
yang melemberehkan – pakaiannya sampai menyentuh tanah, orang yang
mengundat-undat – yakni sehabis memberikan sesuatu seperti sedekah dan Iain-
Iain lalu menyebutnyebutkan kebaikannya pada orang yang diberi itu dengan
maksud mengejek orang tadi – serta orang yang melakukan barangnya –
maksudnya membuat barang dagangan menjadi laku atau terjual -dengan jalan
bersumpah dusta – seperti mengatakan bahwa barangnya itu amat baik sekali
atau tidak ada duanya lagi.” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Almusbilu izarahu
yakni yang pertama ialah orang yang melemberehkan sarungnya – sampai
menyentuh tanah.

792. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Melemberehkan itu ada pada sarung, gamis dan sorban. Barangsiapa
yang menarik sesuatu – yakni melemberehkan sarung, gamis atau sorban –
dengan maksud kesombongan, maka Allah tidak akan melihatnya – dengan
pandangan keridhaan dan kerahmatan -pada hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Nasa’i dengan isnad
yang baik.

793. Dari Abu Juraij yaitu Jabir bin Sulaim r.a., katanya: “Saya melihat ada
seorang lelaki yang orang-orang semuanya sama me-ngeluarkan uraiannya
berpokok pangkal dari pendapat orang tersebut. Orang itu tidak mengucapkan
sesuatu, melainkan orang-orang sama mengeluarkan uraiannya dengan
berpedoman dari ucapan orang tersebut. Saya bertanya: “Siapakah orang itu?”
Orang-orang sama menjawab: “Itu adalah Rasuiullah s.a.w.” Saya lalu
mengucapkan ‘”Alaikas salam, ya Rasulullah,” sampai dua kali. Rasulullah s.a.w.
lalu bersabda: “Jangan mengucapkan: ‘Alaikas-salam, sebab ‘Alaikas-salam
adalah sebagai penghormatan kepada orang-orang mati. Ucapkanlah: Assalamu
‘alaik.”
Jabir berkata: “Saya lalu bertanya: “Apakah anda itu Rasulullah.” Beliau
s.a.w. menjawab: “Ya, saya adalah Rasulullah yakni utusan Allah. Allah ialah
yang apabila engkau ditimpa oleh sesuatu bahaya, kemudian engkau berdoa
padanya – supaya bahaya itu dilenyapkan, maka Allah pasti melapangkan
engkau dari bahaya tadi. ]uga jikalau engkau ditimpa oleh tahun paceklik –
bahaya kelaparan – lalu engkau berdoa padaNya, maka Allah akan
menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu dan jikalau engkau berada di suatu tanah kersang atau di daerah yang tandus, kemudian engkau kehilangan ken-
daraanmu, kemudian engkau berdoa padaNya – mohon supaya diselamatkan,
maka Allah akan mengembalikan kendaraanmu itu padamu.”
Jabir berkata: “Saya lalu berkata: “Berilah saya suatu perjanjian yang wajib
saya penuhi!” Beliau s.a.w. bersabda: “Jangan sekali-kali engkau mencaci-maki
kepada seseorangpun.”
Jabir berkata: “Sesudah saat itu saya tidak pernah lagi mencaci-maki
kepada siapapun, baik ia orang merdeka atau hamba sahaya, ataupun kepada
unta dan kambing.”
Beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya: “Janganlah engkau meremehkan
sedikitpun dari perbuatan yang baik – yakni sekalipun tampaknya tidak berarti
dan kurang berharga, tetapi lakukanlah itu. Hendaklah engkau berbicara dengan
saudaramu dan engkau senantiasa menunjukkan muka yang manis padanya,
karena sesungguhnya yang sedemikian itu termasuk perbuatan yang baik.
Angkatlah sarungmu sampai kepertengahan betis, tetapi jikalau engkau enggan
berbuat semacam itu, maka bolehlah sampai pada kedua matakaki. Takutlah
pada perbuatan melemberehkan sarung, sebab sesung-guhnya yang sedemikian
itu termasuk kesombongan dan sesung-guhnya Allah itu tidak suka kepada
kesombongan. Jikalau ada seseorang yang mencaci-maki padamu atau mencela
dirimu dengan sesuatu yang ia tahu bahwa cela tadi memang ada dalam dirimu,
maka janganlah engkau membalas mencela padanya dengan sesuatu yang
engkau tahu bahwa cela itu memang ada dalam dirinya, sebab hanyasanya
tanggungan- yakni dosa – perbuatan itu adalah pada diri orang yang mencela
saja.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnad
yang shahih dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan
shahih.

794. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Pada suatu ketika ada seorang
lelaki bersembahyang dengan melemberehkan sarungnya lalu Rasuiullah s.a.w.
bersabda padanya: “Pergilah dulu dan ber-Wudhu’lah.” Kemudian orang
tersebut lalu pergi dan berwudhu’. Setelah itu ia datang lagi, lalu beliau s.a.w.
bersabda pula: “Pergilah dan berwudhu’lah!”Selanjutnya ada seorang lelaki lain
berkata: “Ya Rasulullah, mengapakah Tuan memerintahkan orang itu berwudhu’
kemudian Tuan berdiam saja padanya – yakni tidak menyuruh apa-apa lagi
padanya. Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya orang itu bersembahyang
dan ia melemberehkan sarungnya dan sesungguhnya Allah itu tidak akan
menerima shalatnya seseorang yang melembererikan sarungnya itu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang shahih atas
syarat Imam Muslim.

795. Dari Qais bin Bisyr at-Taghlibi, katanya: “Saya diberitahu oleh
ayahku dan ia adalah kawan erat pada Abuddarda’, katanya: “Di Damsyik ada
seorang lelaki dari golongan para sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Ibnul
Handhaliyah. Ia adalah seorang yang suka menyendiri dan jarang sekali duduk-
duduk bersama dengan orang-orang banyak. Hanyasanya kerjanya ialah
bersembahyang dan jikalau selesai, maka kerjanya lagi hanyalah bertasbih dan
bertakbir, sehingga ia mendatangi tempat keluarganya lagi. Pada suatu ketika ia
berjalan melalui kita dan kita di saat itu berada di tempat Abuddarda’, kemudian
Abuddarda’ berkata padanya: “Berikanlah kepada kita sesuatu uraian yang
dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula menyebabkan
bahaya bagi anda.”Orang itu lalu berkata: “Pada suatu ketika Rasulullah s.a.w.
mengirimkan sepasukan tentera, lalu datang. Ada seorang lelaki yang termasuk
juga dalam kalangan pasukan tadi datang terus duduk di tempat duduk yang
diduduki oleh Rasulullah s.a.w. kemudian orang itu berkata kepada orang yang
ada di dekatnya: “Andaikata anda mengetahui keadaan ketika kita bertemu
muka, yakni kita semua dan musuh, maka ada seseorang yang menyerang musuhnya lalu menusuknya. Kemudian orang itu berkata: “Ambillah ini
daripada-ku. Saya adalah anak keturunan al-Ghifari.” Bagaimanakah pendapat
anda dalam hal ucapannya itu?” Orang yang ada di dekatnya itu menjawab:
“Saya tidak mempunyai pendapat lain, kecuali bahwa pahala orang itu sudah
batal – yakni musnah karena kesombongannya dengan ucapannya tadi. Ada
orang lain yang juga mendengarkannya lalu ia berkata: “Saya tidak menganggap
bahwa ada sesuatu yang tidak baik karena adanya ucapannya yang sedemikian
tadi.” Kedua orang – yakni yang berpendapat bahwa orang yang membunuh itu
lenyap pahalanya dan yang mengatakan tidak apa-apa – saling bertengkar
faham, sehingga Rasulullah s.a.w. mendengar persoalan tadi, kemudian
bersabda: “Maha Suci Allah! Tidak ada halangannya jikalau ia diberi pahala dan
dipuji.” Saya – Bisyr -melihat pada Abuddarda’ dan ia merasa gembira dengan
keterangan orang tersebut – yakni Ibnul Handhaliyah. Abuddarda’ lalu meng-
angkat kepalanya melihat orang itu dan bertanya: “Anda mendengar sendirikah
yang sedemikian itu dari Rasulullah s.a.w.?” la menjawab: “Ya.” Abuddarda’
mengulang-ulangi kata-katanya itu, sehingga saya pasti akan berkata:
“Hendaklah ia duduk saja pada kedua lututnya.”
Bisyr – ayah Qais yang meriwayatkan Hadis inr – berkata: “Ibnul
Hanzhalah lalu berjalan melalui kita lagi pada suatu hari yang lain. Abuddarda’
berkata padanya: “Sudilah kiranya anda memberikan kepada kita suatu uraian
yang dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak menyebabkan
bahaya kepada anda.” Orang itu berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada
kita: “Orang yang memberikan perbelanjaan kepada kuda – untuk perang yaitu
dengan jalan menggembalanya, memberi minurn, makan dan segala yang
diperlukan dalam perawatannya – adalah sebagai orang yang membeberkan
tangannya dengan mengeluarkan sedekah tanpa menggenggamnya samasekali.”
Selanjutnya pada hari yang lain lagi orang itu berjalan pula melalui kita, lalu
Abuddarda’ berkata padanya: “Sudilah kiranya anda menguraikan suatu uraian
yang dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula membahayakan anda.” Orang itu berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda; “Sebaik-
baik orang lelaki ialah Khuraim al-Usaidi, andaikata tidak panjang rambut
kepalanya dan tidak pula melemberehkan sarungnya.” Sabda beliau s.a.w.
sampailah pada Khuraim, lalu cepat-cepat ia mengambil pisau kemudian ia
memotong rambut kepalanya dengan pisau tadi sampai pada kedua telinganya
serta mengangkat sarungnya sampai di pertengahan kedua betisnya. Pada suatu
hari yang lain lagi orang itu berjalan melalui kita pula, lalu Abuddarda’ berkata
padanya: “Sudilah kiranya anda memberikan sebuah uraian kepada kita yang
dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula membahayakan
anda.” Orang itu berkata: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya engkau semua itu akan mendatangi saudara-saudaramu – yakni
sesama kaum mu’minin – maka perbaguskanlah kendaraan-kendaraanmu serta
perbaguskan pulalah pakaian-pakaianmu, sehingga engkau semua itu
merupakan seolah-olah sebagai tahi lalat – yakni menonjol tentang keindahan
tubuh dan pakaiannya – di kalangan para manusia, karena sesungguhnya
Allah itu tidak menyukai kepada keburukan-baik dalam ucapan,
pakaianmu.kelakuan dan Iain-Iain-juga tidak menyukai sesuatu yang sengaja
dimaksudkan untuk mengakibatkan keburukan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud isnad hasan, kecuali Qais bin Bisyr,
maka para ahli Hadis berselisih tentang dapatnya ia dipercaya atau tentang
kelemahannya dalam membawakan Hadis. Imam Muslim pernah meriwayatkan
orang ini.

796. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Cara bersarungnya seseorang Muslim itu ialah sampai pertengahan betis
dan tidak ada halangan serta tidak ada dosa untuk bersarung di antara
pertengahan betis itu sampai kepada kedua matakaki. Apa yang ada di bagian
bawah dari kedua matakaki, maka itulah yang akan dimasukkan dalam
neraka.Juga barangsiapa yang menarik – yakni melemberehkan sarungnya sampai menyentuh tanah – dengan maksud kesombongan, maksud
kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah -dengan pandangan
keridhaan dan kerahmatan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

797. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
berjalan melalui Rasulullah s.a.w. dan sarungku ada yang menge-
lembereh, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Hai Abdullah, angkatlah
sarungmu itu!” kemudian saya mengangkatnya. Kemudian beliau
bersabda lagi: “Tambahkanlah – mengangkatnya!” Lalu saya me-
nambahkannya. Maka tidak henti-hentinya saya membenarkan
letaknya sesudah itu.” Sebagian orang-orang sama berkata: “Sampai
di manakah mengangkatnya?” Ibnu Umar menjawab: “Sampai pada
pertengahan kedua betis.” (Riwayat Muslim)

798. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pula, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Barangsiapayang menarik pakaiannya – yakni
melemberehkannya – karena maksud kesombongan, maka Allah tidak akan
melihatnya – dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan – padanya pada hari
kiamat.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimanakah kaum wanita berbuat dengan
ujung pakaiannya,” maksudnya bahwa oleh sebab kaum wanita itu diperintah
menutupi seluruh tubuhnya karena merupakan aurat, maka apakah melem-
berehkan pakaian untuk kaum wanita itu juga berdosa? Beliau s.a.w. menjawab:
“Yaitu kalau mereka melemberehkannya itu sejengkaI.” la berkata: “Kalau begitu
masih dapat terbuka kaki mereka itu.” Beliau s.a.w. bersabda; “Bolehlah
melemberehkannya sampai se-hasta dan jangan menambahkan lagi.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Bab 120

Sunnahnya Meninggalkan Yang Tinggi-tinggi — Yakni Yang
Terlampau Indah — Dalam Hal Pakaian Karena Maksud
Merendahkan Diri

Dalam bab Keutamaan lapar dan mengenakan yang kasar-kasar dalam
kehidupan sudah diuraikan lebih dulu beberapa keterangan yang berhubungan
dengan bab ini.

799. Dari Mu’az bin Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang meninggalkan – keindahan – pakaian karena maksud
merendahkan diri kepada Allah, padahal ia kuasa untuk menggunakannya,
maka ia akan dipanggil oleh Allah pada hari kiamat dengan disaksikan oleh
kepala sekalian makhluk – yakni di hadapan orang banyak, sehingga Allah akan
menyuruhnya supaya memilih pakaian apa saja yang ia- ingin mengenakannya
dari ber-bagai pakaian keimanan.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 121

Sunnahnya Bersikap Sedang — Sederhana — Dalam
Pakaian Dan jangan Merasa Cukup Dengan Apa Yang
Menyebabkan Celanya Yang Tidak Ada Kepentingan Atau
Tidak Ada Tujuan Syara’ Untuk Itu

800. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari nenek lelakinya r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu mencintai kalau melihat bekas ke-nikmatanNya
atas hambaNya itu,” dengan jalan menunjukkan keindahan dan
kesempurnaannya dalam berpakaian, makan, berumahtangga dan Iain-Iain.
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 122

Haramnya Berpakaian Sutera Untuk Kaum Lelaki,
Haramnya Duduk Di Atasnya Atau Bersandar Padanya
Dan Bolehnya Mengenakannya Untuk Kaum Wanita

801. Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Janganlah engkau semua mengenakan pakaian sutera, karena
sesungguhnya orang mengenakannya di dunia ini, maka ia tidak
akan mengenakannya di akhirat.” (Muttafaq ‘alaih)

802. Dari Umar bin al-Khaththab r.a. pula, katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Hanyasanya yang mengenakan pakaian sutera ialah orang yang
tidak mempunyai bagian untuknya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan: “Orang yang tidak mempunyai
bagian untuknya – dalam hal kenikmatan – di akhirat.”

803. Dari Anas r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang mengenakan pakaian sutera di dunia, maka ia tidak akan mengenakannya
di akhirat nanti.” (Muttafaq ‘alaih)

804. Dari Ali r.a., katanya: “Saya melihat Rasulullah s.a.w. mengambil
sutera lalu meletakkannya di tangan kanannya, juga mengambil emas lalu
meletakkannya di tangan kirinya, kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya dua macam benda ini diharamkan atas kaum lelaki dari
ummatku.” (Riwayat Abu Dawud dengan isnad hasan)

805. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Diharamkanlah mengenakan pakaian sutera dan emas atas kaum lelaki
dari ummatku dan dihalalkan untuk kaum wanitanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

806. Dari Hudzaifah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. melarang kita
semua minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak, juga
makan daripadanya dan melarang pula mengenakan pakaian sutera
tipis dan tebal ataupun duduk dr atasnya.” (Riwayat Bukhari)

Bab 123

Bolehnya Mengenakan Pakaian Sutera Untuk Orang Yang
Berpenyakit Gatal-gatal

807. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. memberikan kelonggaran
kepada az-Zubair dan Abdur Rahman bin ‘Auf dalam mengenakan pakaian
sutera karena adanya penyakit gatal-gatal pada kedua orang itu.” (Muttafaq
‘alaih)

Bab 124
Larangan Duduk Di Atas Kulit Harimau Dan Naik Di
Atas Harimau

808. Dari Mu’awiyah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah
engkau semua naik di atas pelana yang terbuat dari
sutera dan jangan pula di atas harimau.”
Hadis hasan yang diriwayatkan oleh imam Abu Dawud dan
lain-lainnya dengan isnad hasan.

809. Dari Abilmalih dari ayahnya r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w.
melarang naik di atas kulit binatang buas.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud, Termidzi dan Nasa’i dengan
beberapa isnad shahih.
Dalam riwayat Imam Termidzi disebutkan:
“Rasulullah s.a.w. melarang pada kulit binatang buas jikalau diduduki.”

Bab 125

Apa Yang Diucapkan Jikalau Mengenakan Pakaian
Baru, Terumpah Dan Sebagainya

810. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila
mengenakan pakaian baru, maka beliau memberikan nama dengan nama yang
dikhususkan untuknya, baikpun berupa sorban, gamis ataupun selendang.
Beliau s.a.w. sesudah mengenakannya itu lalu mengucap – yang artinya:
“Ya Allah, segenap puji adalah bagiMu. Engkau telah memberikan
pakaian ini padaku. Saya memohonkan akan kebaikan pakaian ini dan kebaikan
sesuatu yang dibuat untuk pakaian ini serta saya mohon perlindungan padaMu
dari keburukan pakaian ini dan keburukan sesuatu yang dibuat untuk pakaian
ini.”
Diriwayatkan Imam-Imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Bab 126
Sunnahnya Memulai Pada Anggota Kanan Dalam
Mengenakan Pakaian

Bab ini sudah terdahulu maksud uraiannya dan telah kami sebutkan
beberapa Hadis shahih dalam bab di muka – lihatlah Bab Sunnahnya
mendahulukan anggota kanan yaitu bab ke 99.

Bab 127
Kitab Kesopanan Tidur
Adab-adab Kesopanan Tidur Dan Berbaring

811. Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. itu apabila menempatkan diri pada tempat tidurnya, maka beliau tidur
atas belahan tubuhnya yang sebelah kanan, lalu mengucapkan – yang artinya:
“Ya Allah, saya menyerahkan jiwaku padaMu, saya hadapkan wajahku
padaMu, saya aturkan urusanku padaMu, saya tempatkan punggungku
padaMu. Demikian itu adalah karena kecintaan serta ketakutanku padaMu.
Tiada tempat berdiam dan tiada pula tempat menyelamatkan diri daripadaMu,
melainkan kepadaMu. Saya beriman kepada kitab yang Engkau turunkan serta
kepada Nabi yang Engkau utus.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafaz ini dalam kitab al-Adab
dari kitab shahihnya.

812. Dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda
kepadaku:
“jikalau engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’-lah dulu
sebagaimana wudhu’mu untuk bersembahyang, kemudian berbaringiah pada
belahan tubuhmu sebelah kanan dan ucapkan sebagaimana di atas-yakni yang
meriwayatkan Hadis ini menyebutkan seperti yang tertera dalam Hadis 811 –
dan di situ ditambah: Beliau s.a.w. bersabda: “Jadikanlah ucapan di atas itu
sebagai kalimat-kalimat yang terakhir sekali engkau ucapkan -sebelum tidur
itu.” (Muttafaq ‘alaih)

813. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. itu
bersembahyang dari sebagian waktu malam sebanyak sebelas rakaat. Kemudian apabila fajar telah menyingsing, beliau s.a.w. bersembahyang dua rakaat yang
ringan sekali, kemudian beliau berbaring atas belahan tubuhnya yang sebelah
kanan, sehingga juru azan .datang lalu ia memberitahukan pada beliau – tentang
sudah berkumpulnya para manusia yang hendak bersembahyang subuh
dengan berjamaah.” (Muttafaq ‘alaih)

814. Dari Hudzaifah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu apabila mengambil
tempat tidurnya di waktu malam, beliau meletakkan tangannya di bawah
pipinya lalu mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah, dengan namaMulah saya
mati dan hidup,” dan apabila beliau bangun, lalu mengucapkan – yang artinya:
“Segenap puji bagi Allah yang memberikan kehidupan kepada kita sesudah
mematikan kita dan kepadaNya tempat kembali.” (Riwayat Bukhari)

815. Dari Ya’isy bin Tikhfah al-Ghifari radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Ayahku berkata: Pada suatu ketika saya berbaring dalam masjid atas perutku,
tiba-tiba ada seorang lelaki yang menggerak-gerakkan saya dengan kakinya, lalu
berkata: “Sesungguhnya cara tidur yang sedemikian ini adalah cara berbaring
yang dibenci oleh Allah.”
Ayahku berkata: “Kemudian saya melihat orang itu, tiba-tiba ia adalah
Rasulullah s.a.w.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

816. Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., katanya: “Barangsiapa
yang duduk di suatu tempat duduk dan ia tidak berzikir kepada Allah Ta’ala
dalam duduknya itu, maka atas orang itu ada kekurangan dari Allah dan
barangsiapa yang berbaring di suatu tempat pembaringan dan ia tidak berzikir
kepada Allah Ta’ala dalam berbaringnya itu, maka atas orang itu ada
kekurangan dari Allah.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan. Attirah dengan kasrahnya (a’ mutsannat di atas, artinya ialah kekurangan,
ada yang mengatakan tuntutan karena penganiayaan.

Bab 128
Bolehnya Bertelentang Atas Tengkuk Leher, juga
Meletakkan Salah Satu Dari Kedua Kaki Jikalau Tidak

Dikhuatirkan Terbukanya Aurat Dan Bolehnya Duduk Dengan Bersila
Dan Duduk Ihtiba’ — Yakni Duduk Berjongkok Sambil Membelitkan Sesuatu
Dari Pinggang Ke Lutut Atau Tangannya Merangkui Lutut

817. Dari Abdullah bin Zaid r.a. bahwasanya ia melihat Rasulullah s.a.w.
bertelentang di masjid sambil meletakkan salah satu dari kedua kakinya di atas
kaki yang lain.” (Muttafaq ‘alaih)

818. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Nabi s.a.w. itu
apabila telah bersembahyang fajar – yakni shalat subuh – lalu beliau duduk
bersila di tempat duduknya sehingga terbitnya matahari yang putih indah
sinarnya.”
Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lainnya
dengan beberapa isnad yang shahih

819. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya melihat
Rasulullah s.a.w. ada di halaman Ka’bah sambil duduk ihtiba’ – pantat di tanah
dan kedua betis ditegakkan – dengan kedua tangannya – yakni dengan
merangkulkan kedua tangannya pada lutut, demikian.” Ibnu Umar menjelaskan
dengan kedua tangannya cara duduk ihtiba’ Nabi s.a.w. yaitu semacam
berjongkok. (Riwayat Bukhari)

820. Dari Qailah binti Makhramah radhiallahu ‘anha, katanya: Saya
melihat Nabi s.a.w. dan beliau sedang duduk berjongkok.Setelah saya melihat Rasulullah s.a.w. yang amat tenang dalam duduknya itu, lalu saya berdebar-
debar karena ketakutan – kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi.” (Riwayat Abu
Dawud dan Tirmidzi.

821. Dari as-Syirrid bin Suwaid r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. berjalan
melalui saya dan saya sedang duduk demikian, yaitu saya meletakkan tangan
saya sebelah kiri di belakang punggungku dan saya bersandar pada ujung
tanganku, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Adakah engkau ini duduk sebagaimana
duduknya orang-orang yang dimarahi – yakni cara duduknya orang Yahudi?”
(Riwayat Abu Dawud dengan isnad shahih) Bab 129
Adab-adab Kesopanan Dalam Majlis Dan Kawan
Duduk
822. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:”Janganlah seseorang di antara engkau semua itu menyuruh berdiri
pada seseorang dari tempat duduknya kemudian ia sendiri duduk di situ, tetapi
berikanlah keluasan tempat serta kelapangan – pada orang lain yang baru
datang.”
Ibnu Umar itu apabila ada seorang yang berdiri dari tempat duduknya
karena menghormatnya, ia tidak suka duduk di tempat orang tadi itu. (Muttafaq
‘alaih)

823. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Jikalau seseorang di antara engkau semua itu berdiri dari tempat
duduknya, kemudian ia kembali ke situ, maka ia memang lebih berhak untuk
menempati tempat duduknya tadi.” (Riwayat Muslim)

824. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu’anhuma, katanya: “Kita semua itu
apabila mendatangi Nabi s.a.w., maka setiap seseorang dari kita itu duduk di
tempat mana ia berakhir – maksudnya tidak sampai melangkahi bahu orang lain
untuk menuju ke tempat yang lebih muka.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

825. Dari Abu Abdillah yaitu Salman al-Farisi r.a., katanya: Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Tidaklah seseorang itu mandi pada hari Jum’at dan ia bersuci sekuasa
yang dapat ia lakukan, juga berminyak dari minyaknya ataupun mengenakan
sesuatu dari minyak harum yang ada di rumahnya, kemudian ia keluar – ke
masjid, lalu ia tidak memisah-misahkan antara dua orang – yang sedang duduk,
selanjutnya ia bersembahyang apa yang ditentukan atasnya – yakni shalat
sunnah tahiyyatul masjid – dan seterusnya ia mendengarkan jikalau imam
berbicara – atau berkhutbah, melainkan orang yang melakukan semua itu tentu
diampunkan untuknya antara hari Jum’at yang dilakukan itu dengan hari Jum’at
yang lainnya – yaitu hari Jum’at
berikutnya.”

826. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari nenek lelakinya r.a.
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak halallah bagi seseorang itu kalau memisahkan tempat duduk
antara dua orang, melainkan dengan izin kedua orang itu.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda:
“Janganlah seseorang itu duduk antara dua orang – yang sudah duduk
lebih dulu, melainkan dengan izin keduanya.”

827. Dari Hudzaifah al-Yaman r.a. bahwasanya Rasulullah melaknat
kepada orang yang duduk di tengah lingkaran – maksudnya orang-orang banyak
duduk di tepi melingkari sesuatu tempat lalu orang itu datang belakangan terus
melangkahi bahu mereka dan duduk di tengah-tengah orang banyak. (Riwayat
Abu Dawud dengan isnad hasan)

Imam Termidzi juga meriwayatkan dari Abu Mijlaz bahwasanya ada
seorang lelaki duduk di tengah lingkaran, lalu Hudzaifah berkata: “Dilaknat atau lisannya Muhammad s.a.w. atau Allah melaknat atas lisannya Muhammad s.a.w.
pada orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran.”
Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

828. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
bersabda:
“Sebaik-baik tempat duduk -yakni majlis- ialah yang terlebar -terluas
ruangannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih menurut
syarat Imam Bukhari.

829. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majlis, lalu banyak senda
guraunya yang tidak bermanfaat dalam majlis tadi, lalu ia mengucapkan
sebelum berdiri meninggalkan majlis itu, demikian -yang artinya: “Maha Suci
Engkau, ya Allah dan saya mengucapkan puji-pujian padaMu. Saya
menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun
serta bertaubat padaMu, melainkan orang tersebut pasti diampunkan untuknya
apa-apa -yakni dosa – yang diperolehnya dari majlis yang sedemikian tadi.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih

830. Dari Abu Barzah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda pada
penghabisannya jikalau beliau s.a.w. hendak berdiri dari majlis -yang artinya:
“Maha Suci Engkau ya Allah dan saya mengucapkan pujian-pujian padaMu. Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon
ampun serta bertaubat padaMu.”
Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, sesung-guhnya
Tuan mengucapkan sesuatu ucapan yang tidak pernah Tuan ucapkan sebelum
ini?” Beliau s.a.w. bersabda: “Yang sedemikian itu adalah sebagai penebus dari
apa saja – yakni kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan – yang ada di
dalam majlis itu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, juga diriwayatkan oleh Imam
Hakim yaitu Abu Abdillah dalam kitab Al-Mustadrak dari riwayat Aisyah
radhiallahu ‘anha dan ia mengatakan bahwa Hadis ini adalah shahih isnadnya.

831. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Jarang sekali
Rasulullah s.a.w. itu berdiri meninggalkan sesuatu majlis, sehingga lebih dulu
beliau s.a.w. berdoa dengan doa-doa di bawah ini – yang artinya:
“Ya Allah, bagikanlah kepada kita dari takut kita padaMu sesuatu yang
menghalang-halangi antara kita dengan bermaksiat padaMu. juga dari taat kita
padaMu sesuatu yang dapat menyampaikan kita kepada syurgaMu.demikian
pula dari keyakinan yang dapat meringankan kita menghadapi bencana-bencana
di dunia ini. Ya Allah, berikanlah kenikmatan kepada kita dengan adanya
pendengaran, penglihatan dan kekuatan kita, selama Engkau masih
menghidupkan kita dan jadikanlah semua itu sebagai yang tertinggal dari kita –
yakni sampai di akhir hayat hendaklah masih dapat digunakan sebaik-baiknya.
Jadikanlah pembalasan kita itu tertuju kepada orang yang menganiaya kepada
kita. Berilah kita per-tolongan kepada orang yang memusuhi kita dan janganlah
dijadikan bencana kita ini menimpa agama kita. Jangan pula menjadikan dunia
ini sebagai sebesar-besar perhatian yang kita menuju padanya atau puncak dari
ilmu pengetahuan kita – sehingga tidak memberikan kemanfaatan samasekali
untuk urusan akhirat. Demikian pula janganlah memberikan kekuasaan untuk
memerintah kita kepada orang yang tidak belas kasihan kepada kita.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

832 Dari Abu hurairah r.a., Katanya: ‘Kasuluilah s.a.w. bersabda:
“Tiada sesuatu kaum pun yang berdiri meninggalkan sesuatu majlis dan
tidak sama berzikir kepada Allah Ta’ala dalam majlis itu, melainkan semua itu
berdiri bagaikan bangkai keledai dan mereka semuanya memperoleh
penyesalan.”
(Riwayat Abu Dawud dengan isnad shahih)

833. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Tiada
sesuatu kaumpun yang duduk di suatu majlis yang mereka itu tidak berzikir
kepada Allah Ta’ala dalam majlis tadi, juga tidak mengucapkan bacaan shalawat
kepada Nabi mereka di dalam-nya, melainkan atas mereka itu ada
kekurangannya. Jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan menyiksa kepada
mereka dan jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan mengampunkan pada
mereka.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

834. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
Barangsiapa yang duduk di suatu tempat duduk dan ia tidak berzikir
kepada Allah Ta’ala dalam duduknya itu, maka atasnya adalah kekurangan dari
Allah dan barangsiapa yang berbaring di suatu tempat pembaringan dan ia tidak
berzikir kepada Allah Ta’ala dalam berbaringnya itu, maka atasnya adalah
kekurangan dari Allah.” (Riwayat Abu Dawud)
Sudah terdahulu uraian perihal arti Attirah baru-baru ini -yakni dalam
Hadis no. 813.

Bab 130
Impian Dan Apa-apa Yang Berhubungan Dengan
Impian Itu

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan setengah daripada tanda-tanda – kekuasaan Tuhan – ialah
tidurmu semua diwaktu malam dan siang.” (ar-Rum: 23)

835. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tidak ada yang tertinggal dari kenubuwatan itu melainkan hal-hal yang
menggembirakan.” Para sahabat sama bertanya: “Apakah hal-hal yang
menggembirakan itu?” Beliau s.a.w. bersabda: “Yaitu impian yang baik.”
(Riwayat Bukhari)

836. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Jikalau zaman sudah dekat – yakni dekat dengan datangnya
hari kiamat, maka impian seseorang mu’min itu hampir tidak dusta
dan impian seseorang mu’min itu adalah sebagian dari empat puluh
enam bagian dari kenubuwatan.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Dan yang terbenar di antara engkau semua tentang impiannya ialah yang
terbenar pembicaraannya.”

837. Dari Abu Hurairah r.a. puta, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Barangsiapa yang bermimpi melihat saya dalam tidur, maka ia akan
melihat saya di waktu jaga – yakni melek dan. ini ditakwilkan sewaktu di akhirat
nanti – atau seolah-olah ia melihat saya di waktu jaga, karena syaitan itu tidak
dapat menyerupakan dirinya dengan diriku,” maksudnya tidak dapat
menjelmakan diri seperti beliau s.a.w. itu.” (Muttafaq ‘alaih)

838. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w.
bersabda:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua bermimpi melihat sesuatu
impian yang ia menyukainya maka hanyasanya impian itu adalah dari Allah
Ta’ala. Maka dari itu hendaklah mengucapkan pujian kepada Allah atas impian
tadi -yakni membaca Alhamdulillah -dan hendaklah memberitahukan
impiannya itu – pada orang lain.” Dalam suatu riwayat lain disebutkan: “Maka
janganlah memberitahukan impiannya tersebut, kecuali kepada orang yang ia
mencintainya. Tetapi jikalau bermimpi melihat impian yang selain demikian –
yaitu impian buruk dan tidak disukai, maka hanyasanya impian tadi adalah dari
syaitan. Oleh karena itu hendaklah ia memohonkan perlindungan kepada Allah
daripada keburukannya-yakni membaca ta’awwudz – dan janganlah
menyebut:nyebutkannya kepada orang lain, sebab sesungguhnya impian
sedemikian itu tidak akan membahayakan dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)
839. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Impian yang
baik, dan dalam riwayat lain disebutkan: Impian yang indah itu berasal dari
Allah dan impian buruk itu dari syaitan. Maka barangsiapa yang melihat sesuatu
impian yang ia tidak menyukainya, hendaklah ia meniup di sebelah kirinya
sebanyak tiga kali dan hendaklah pula memohonkan perlindungan kepada Allah
dari syaitan – yakni membaca ta’awwudz yaitu A’udzu billahi minasy syaithanir
rajim, karena sesungguhnya impian buruk tadi tidak akan membahayakan
dirinya.” ‘Annaftsu artinya tiupan-yang dilakukan tiga kali kesebelah kiri itu ialah
suatu hembusan nafas yang halus tanpa mengeluarkan ludah.
840. Dari Jabir r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: “Jikalau seseorang di
antara engkau semua melihat impian yang ia tidak menyukainya, maka
hendaklah ia berludah di sebelah kirinya tiga kali dan hendaklah pula ia
memohonkan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan – yakni membaca
ta’awwudz -sebanyak tiga kali dan lagi baiklah ia beralih dari sebelah yang ia
tidur di atasnya tadi – yaknr kalau tadinya miring kiri hendaklah beralih ke
kanan dan demikian pula sebaliknya.” (Riwayat Muslim)
841. Dari Abul Asqa’ yaitu Watsilah bin al-Asqa’ r.a., katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya termasuk sebesar-besar kedustaan ialah apabila
seseorang itu mengaku-aku pada orang yang selain ayahnya – yakni
bukan keturunan si Fulan, tetapi ia mengatakan keturunannya, atau
orang yang mengatakan ia bermimpi melihat sesuatu yang sebenar-
nya tidak memimpikannya* atau ia mengucapkan atas Rasulullah
s.a.w. sesuatu yang tidak disabdakan olehnya – yakni bukan sabda
Nabi s.a.w. dikatakan sabdanya.” (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Dalam Hadis di atas disebutkan bahwa di antara sebesar-besar kedustaan
ialah:
a. Mengaku kepada seseorang yang bukan ayahnya sebagar
avahnya sendiri adalah termasuk dusta terbesar, karena membuat-
buat sesuatu atas nama Allah Ta’ala, seolah-olah orang yang ber
dusta itu mengatakan: “Allah membuat aku dari mani si Fulan itu,”
padahal sebenarnya bukan orang yang ditunjuk itu yang menyebab-
kan kejadiannya. Orang yang berbuat demikian itu ada kalanya ingin
dihormati atau diagung-agungkan sebab yang diakui sebagai ayah
nya adalah seorang pembesar yang berkedudukan tinggi atau orang hartawan, ada kalanya pula karena ingin dianggap keturunan
ningrat karena yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang bang-
sawan dan ada kalanya sebab yang Iain-Iain. Tetapi pada pokoknya
disebabkan oleh kesombongan dan menginginkan penghormatan
untuk dirinya.
b. Mengatakan bermimpi apa yang tidak dimimpikan, inipun
dusta yang amat besar. Adapun sebabnya adalah sebagaimana yang
diterangkan sebagai penjelasan yang tertera di bawah ini.
Sehubungan dengan dusta dalam hal impian ini, Rasulullah s.a.w. pernah
bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas r.a., yaitu:
“Barangsiapa yang mengaku bermimpi dengan sesuatu impian yang
sebenarnya tidak diiihatnya, maka – pada hari kiamat nanti -akan dipaksa duduk
di antara dua butir biji gandum, tetapi ia tidak mungkin dapat melakukannya.”
c. Mengucapkan sesuatu dusta atas nama Nabi Muhammad s.a.w.,
maksudnya sesuatu yang bukan sabda Nabi s.a.w. dikatakan sabdanya, atau
sesuatu yang disabdakan oleh beliau s.a.w. itu haram, tetapi dikatakan halal dan
demikian pula sebaliknya. Orang semacam itu diancam akan dilemparkan dalam
nerakadan diperintah-kan mencari tempat kediamannya dalam neraka itu,
sebagai tempat tedudukannya. Sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam-
imam Bukhari, Muslim, Termidzi dan Iain-Iain dari Anas r.a. menyebutkan:
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku (Nabi Muhammad) dengan sengaja,
maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya atau tempat kediamannya
daripada neraka.”
Bab 131
Kitab Bersalam Keutamaan Mengucapkan Salam Dan
Perintah Untuk Meratakannya
Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau semua memasuki rumah yang
bukan rumah-rumahmu sendiri, sehingga engkau semua meminta izin lebih dulu
serta mengucapkan salam kepada ahlinya – yakni orang yang ada di dalamnya.” (an-
Nur: 27)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
Jikalau engkau semua memasuki rumah, maka ucapkanlah salam kepada dirimu
sendiri sebagai penghormatan dari Allah yang diberkahi dan dianggap baik.” (an-
Nur: 61)

Allah Ta’ala berfirman pula:
“Jikalau engkau semua diberi penghormatan dengan sesuatu
penghormatan – yakni salam – makajawablah penghormatan – atau salam itu- dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan
yang serupa dengannya.” (an-Nisa’: 86)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Adakah sudah sampai padamu ceritera tamu Ibrahim yang
dimuliakan. Di waktu mereka masuk padanya, lalu mereka menga-
takan: “Salam.” Ibrahim menjawab: “Salam.” (al-Dzariyat: 24)

842.Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: “Manakah amalan Islam
yang terbaik?” Beliau menjawab: “Yaitu engkau memberikan makanan dan
engkau mengucapkan salam kepada orang yang sudah engkau kenal dan
orang yang belum engkau kenal.” (Muttafaq ‘alaih)

843. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w, sabdanya: “Ketika Allah Ta’ala
menciptakan Adam, lalu Dia berfirman: Pegilah- hai Adam – lalu ucapkanlah
salam kepada mereka yaitu kelompok para malaikat yang sedang duduk-
duduk, kemudian dengarlah bagaimana cara mereka memberikan
penghormatan itu padamu, karena sesungguhnya yang sedemikian itulah cara
engkau harus memberikan penghormatan dan juga cara penghormatan untuk
semua keturunanmu.” Adam lalu mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Kemudian
para malaikat menjawab: Assalamu ‘alaika warahmatullah. Jadi mereka
menambahkan untuknya kata-kata warahmatullah.” (Muttafaq ‘alaih)
844. Dari Abu Umarah yaitu al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu anhuma, katanya:
“Kita semua diperintah oleh Rasulullah s.a.w. untuk melakukan tujuh perkara,
yaitu meninjau orang sakit, meng-iKuti janazah, rnentasymitkan orang yang
bersin – yakni mendoakan supaya beroleh kerahmatan dengan mengucapkan:
Yarhamukallah kepada orang yang bersin jikalau ia mengucapkan: Alhamdulillah,
menolong orang yang lemah, membantu orang yang dianiaya, meratakan
salam dan melaksanakan sumpah.” (Muttafaq ‘alaih) Ini adalah salah satu
dari berbagai riwayat Imam Bukhari.

845. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ber-sabda:
“Tidak akan masuk syurga engkau semua itu sehingga engkau semua
beriman dan tidak akan dinamakan beriman engkau semua itu sehingga
engkau semua saling cinta-mencintai. Tidakkah engkau semua suka kalau saya
menunjukkan kepadamu semua pada sesuatu yang jikalau engkau semua
melakukannya tentu engkau semua akan saling crnta-mencintai? Yaitu
ratakanlah salam antara sesamamu semua!” (Riwayat Muslim)
846. Dari Abu Yusuf yaitu Abdullah bin Salam r.a., katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Hai sekalian manusia, ratakanlah salam, berikanlah makanan,
pereratkanlah kekeluargaan, bersembahyanglah – di waktu malam -sedang para
manusia sedang tidur, maka engkau semua akan masuk syurga dengan selamat.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis shahih.

847. Dari at-Thufail bin Ubay bin Ka’ab bahwasanya ia mendatangi
Abdullah bin Umar, lalu ia pergi bersamanya ke pasar, at-Thufail berkata: “Jikalau kita pergi ke pasar, maka tidaklah Abdullah itu melalui seorang
penjual loak ataupun penjual dagangan apapun juga, tidak pula memalui
seseorang miskin, kecuali ia pasti memberi salam padanya.”
At-Thufail berkata: “Pada suatu hari saya datang lagi di tempat (Abdullah
bin Umar, lalu ia meminta supaya saya mengikutinya ke pasar. Saya berkata:
“Apa yang akan engkau kerjakan di pasar, sedangkan engkau tidak akan
berhenti untuk berjualan dan tidak pula menanyakan harga sesuatu barang –
untuk membelinya, tidak pula berpencaharian di pasar itu, juga tidak perlu
duduk-duduk dalam tempat-tempat duduk di pasar.” Saya berkata pula:
“Duduk Sajalah di sini dengan kami dan kita dapat bercakap-cakap.”
Abdullah lalu berkata: “Hai Abu Bathn” – artinya Pak Perut -dan memang
at-Thufail mempunyai perut besar: “Hanyasanya kita pergi ke pasar itu adalah
untuk meratakan salam dan kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita
bertemu dengannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa’ dengan isnad
shahih. Bab 132
Kaifiyat Bersalam
Disunnahkan agar seseorang yang memulai memberikan salam itu
mengucapkan: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jadi ia
menggunakan dhamir jamak, sekalipun orang yang diberi salam hanya
seorang. Selanjutnya orang yang harus memberikan jawabansupaya
mengucapkan: Wa ‘alaikumus-salam warahma-tuliahi wabarakatuh. Jadi supaya ia
menggunakan wawu athaf dalam ucapannya wa ‘alaikum.

848. Dari Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhuma, katanya: Ada seorang
lelaki datang kepada Nabi s.a.w., lalu ia mengucapkan: Assalamu ‘alaikum.
Kemudian beliau s.a.w. membalas salam orang tadi lalu duduk terus bersabda:
“Sepuluh,” maksudnya pahalanya dilipatkan sepuluh kalinya. Selanjutnya
datang pula orang lain lalu ia mengucapkan: Assalamu ‘alaikum warahmatullah.
Beliau s.a.w. lalu membalas salamnya orang itu, lalu duduk lagi: “Duapuluh,”
maksudnya pahalanya dilipatkan duapuluh kali. Seterusnya ada pula orang lain
yang datang, lalu mengucapkan: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kemudian beliau s.a.w. membalas salam orang tersebut, lalu duduk terus
bersabda: “Tigapuluh,” maksudnya pahalanya dilipatkan tigapuluh kali. Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

849. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
Bersabda kepada saya: “Ini Jibril menyampaikan salam padamu.” Aisyah berkata:
“Saya berkata: Wa ‘alaihis-salam warahmatullahi Wabarakatuh.” (Muttafaq ‘alaih)
Demikianlah yang ada dalam sebagian beberapa riwayat dua kitab shahih –
yakni Shahih Bukhari dan Shahih Muslim – dengan menggunakan
wafaarakatuh, dan dalam sebagian riwayat dengan membuang kata-kata itu.
Penambahan dari orang yang dapat percaya itu boleh diterima.

850. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. itu apabila berbicara
mengucapkan sesuatu kalimat, selalulah beliau s.a.w. mengulangi-nya sampai
tiga kali, sehingga dapat dimengerti ucapannya itu dan apabila beliau s.a.w. itu
datang pada sesuatu kaum, lalu beliau memberikan salam kepada mereka maka
salamnya itupun diucap-kannya tiga kali.” (Riwayat Bukhari)
Hal yang sedemikian ini ditangguhkan jikalau kelompok kaum itu
memang banyak jumlah orangnya.

851. Dari al-Miqdad r.a. dalam Hadisnya yang panjang,berkata: “Kita –
maksudnya al-Miqdad dengan kawannya – mengaturkan kepada Nabi s.a.w.
akan bagian yakni berupa susu, kemudian beliau datang di waktu malam lalu memberi salam dengan suatu ucapan salam yang tidak sampai
membangunkan orang yang tidur, tetapi dapat menperdengarkan kepada
orang yang jaga. Selanjutnya Nabi s.a.w. datang lagi lalu memberi salam
sebagaimana salamnya yang sudah-sudah.” (Riwayat Muslim)

852. Dari Asma’ binti Yazid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. berjalan dalam masjid pada suatu hari dan di situ ada sekelompok kaum
wanita yang sedang duduk-duduk, lalu beliau s.a.w. memberikan isyarat
dengan tangannya dengan disertai ucapan salam pula.”
Diriwayatkanoleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
Hal ini ditangguhkan bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu mengumpulkan
antara ucapan salam dengan isyarat tangan dan hal yang sedemikian itu
dikuatkan oleh suatu Hadis dalam riwayat Imam Abu Dawud bahwasanya
beliau s.a.w. lalu memberikan salam kepada kita – kaum wanita yang duduk-
duduk tadi.

853. Dari Abu Jurat al-Hujaimi r.a., katanya: “Saya mendatangi Rasulullah
s.a.w. lalu saya berkata: ‘”Alaikas-salam ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda:
“Janganlah mengucapkan ‘Alaikas-salam sebab sesungguhnya, ‘Alaikas-salam itu
adalah cara penghormatan kepada orang-orang yang sudah mati.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Kete-rangannya sudah
terdahulu dengan kelengkapannya yang panjang -lihat Hadis no. 793. Bab 133
Adab-adab Kesopanan Bersalam
854. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ber-sabda:
“Orang yang berkendaraan supaya memberi salam kepada orang yang
berjalan dan orang yang berjalan kepada orang yang duduk dan orang yang
sedikit kepada orang yang banyak jumlahnya (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan: “Dan orang kecil kepada orang
tua.”

855. Dari Abu Umamah yaitu Shudai bin ‘Ajlan al-Bahili r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya seutama-utama manusia dengan Allah – yakni yang lebih
berhak mendekat kepada Allah – ialah orang yang memulai memberikan
salam di kalangan mereka itu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang baik. Ini juga
diriwayatkan oleh Imam Termidzi dari Abu Umamah pula, demikian
riwayatnya: Rasulullah s.a.w. ditanya: “Ya Rasulullah, ada dua orang yang
saling bertemu muka, maka manakah di antara keduanya itu yang memulai
bersalam.” Beliau s.a.w. menjawab: “Ialah yang lebih utama di antara keduanya
itu dengan Allah Ta’ala” maksudnya orang yang lebih mendekatkan dirinya
kepada Allah dengan mentaatiNya, sebab yang memulai itulah yang lebih
dulu berzikirnya kepada Allah. Jadi lebih berhak untuk mendekatkan diri
kepadaNya. Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan

Bab 134
Sunnahnya Mengulangi Salam Kepada Orang Yang Berulang
Kali Pula Bertemu Dengannya Sekalipun Dalam Waktu
Dekat, Seperti la Masuk Lalu Keluar Lalu Masuk Lagi
Seketika Itu Ataupun Dihalang-halangi Oleh Pohon Dan
Sebagainya Antara Kedua Orang Itu
856. Dari Abu Hurairah r.a. dalam meriwayatkan Hadisnya orang yang
berbuat buruk dalam shalatnya, bahwasanya orang itu datang lalu
bersembahyang, kemudian datang lagi kepada Nabi s.a.w. terus ia memberi
salam kepada beliau dan beliau menjawab salamnya, selanjutnya beliau
bersabda: “Kembalilah bersembahyang lagi, sebab engkau tadi sebenarnya
belum bersembahyang.” Orang itu kembali lagi lalu bersembahyang, setelah
itu datang lagi terus mengucapkan salam kepada Nabi s.a.w. sehingga ia
melakukan sedemikian itu sampai tiga kali banyaknya. (Muttafaq ‘alaih)
857. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: “Apabila
seseorang di antara engkau semua bertemu saudaranya – yakni sesama Muslim,
maka hendaklah mengucapkan salam padanya. Jikalau antara keduanya itu
terhalang oleh sebuah pohon, dinding atau batu kemudian bertemu lagi
dengan saudaranya itu, maka hendaklah bersalam pula sekali lagi.” (Riwayat
Abu Dawud)

Bab 135

Sunnahnya Bersalam jikalau Memasuki Rumahnya

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka apabila engkau semua memasuki rumah, ucapkanlah salam kepada dirimu sendiri
sebagai penghormatan dari sisi Allah yang dlberkahi serta yang dianggap baik sekali,”
(an-Nur: 61)

858. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada saya:
“Hai anakku, jikalau engkau masuk ke tempat keluargamu, maka
ucapkanlah salam. Kalau itu engkau lakukan,maka hal itu akan menyebabkan
adanya keberkahan atas dirimu sendiri dan juga atas seluruh keluarga
rumahmu.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

Bab 136

Mengucapkan Salam Kepada Anak-anak

859. Dari Anas r.a. bahwasanya ia berjalan melalui anak-anak lalu ia
memberikan salam kepada mereka dan berkata: “Rasulullah s.a.w. itu juga
melakukan seperti ini – yakni mengucapkan salam kepada anak-anak.”
(Muttafaq ‘alaih)
Bab 137
Salamnya Orang Lelaki Kepada Isterinya Dan Wanita Yang
Menjadi Mahramnya Atau Kepada Orang Lain
— Yakni Bukan Isteri Atau Mahram, Seorang atau
Banyak Yang Tidak Dikhuatirkan Timbulnya Fitnah
Dengan Mereka Itu. Demikian Pula Salam Kaum
Wanita Itu Pada lelaki Dengan Syarat Tidak
Menimbulkan Fitnah

860. Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: “Di rumah kita ada
seorang wanita, atau dalam riwayat lain disebutkan: “Kita mempunyai seorang
wanita yang sudah tua. la mengambil dari pokok
tanaman sayur bernama silik lalu sayur itu diletakkan olehnya dalam
kuali dan ia menumbuk biji-bijian gandum. Maka jikalau kita semua
telah selesai melakukan shalat Jumaat, kitapun pulanglah lalu kita
mengucapkan salam pada wanita tadi, kemudian ia menghidangkan
makanan yang dimasaknya itu pada kita.” (Riwayat Bukhari)
Tukarkiru artinya menumbuk.
861. Dari Ummu Hani’ yaitu Fakhitah binti Abu Thalib radhi-allahu ‘anha,
katanya: “Saya datang di tempat Nabi s.a.w. pada hari penaklukan kota Makkah
dan beliau s.a.w. sedang mandi, sedang Fathimah menutupinya, kemudian saya
mengucapkan salam pada-nya,” dan selanjutnya Fakhitah menyebutkan
kelanjutan Hadis ini sampai selesai. (Riwayat Muslim)

862. Dari Asma’ binti Yazid radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. berjalan
melalui kita, yaitu kelompok kaum wanita, lalu beliau s.a.w. mengucapkan
salam kepada kita.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Ini adalah lafaznya Imam Abu
Dawud. Adapun lafaznya Imam Termidzi ialah:
Bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan dalam masjid pada suatu hari melalui
sekelompok kaum wanita yang sedang duduk-duduk, lalu beliau s.a.w.
memberikan isyarat dengan tangannya dengan disertai ucapan salam.
Bab 138

Haramnya Kita Memulai Bersalam Kepada Orang-orang
Kafir Dan Caranya Menjawab Salam Kepada
Mereka Dan Sunnahnya Mengucapkan Salam
Kepada Orang-orang Yang Ada Di Dalam Majlis Yang
Di Antara Mereka Ada Kaum Muslimin
Dan Kaum Kafirin

863. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan jangan
pula kepada orang Nasrani. Maka jikalau engkau semua bertemu dengan salah
seorang di antara mereka itu – yakni orang Yahudi atau Nasrani- pada suatu
jalanan, maka paksakanlah kepada mereka itu untuk melalui yang tersempit
dari jalan itu.” (Riwayat Muslim)

864. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau ada golongan ahlulkitab – yaitu orang Yahudi atau Nasrani – memberi salam kepadamu semua, maka ucapkanlah:
Wa’alaikum.” (Muttafaq ‘alaih)

865. Dari Usamah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. berjalan melalui suatu majlis –
pertemuan, yang di dalamnya terdapat berbagai campuran antara kaum
Muslimin dan kaum musyrikin yaitu para penyembah berhala dan ada pula
orang Yahudi, lalu Nabi s.a.w. memberikan salam kepada mereka.” (Muttafaq
‘alaih)
Bab 139

Sunnahnya Memberikan Salam jikalau Berdiri
Meninggalkan Majlis Dan Memisahkan Diri Kepada
Kawan-kawan Duduknya, Banyak Ataupun Seorang

866. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang dari engkau semua berhenti pada sesuatu majlis-sudah
tidak akan masuk ketempat yang lebih muka lagi serta sudah akan duduk,
maka hendaklah mengucapkan salam juga apabila ia hendak berdiri –
meninggalkan majlis, maka hendaklah mengucapkan salam pula – setelah ia
tegak berdiri. Tidaklah ucapan salam yang pertama – yakni sewaktu mulai datang
– itu lebih berhak -yakni lebih perlu dilakukan – daripada yang kedua – apabila
hendak meninggalkan.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Bab 140

Meminta Izin Dan Adab-adab Kesopanannya

Allah Ta’ala berfirman:

“Hai sekaiian orang-orang yang beriman, janganlah engkau semua memasuki
rumah yang bukan rumahmu sendiri, sehingga engkau semua meminta izin dan
mengucapkan salam kepada ahli rumah itu – yakni orang-orang yang ada di
dalamnya.”(an-Nur: 27)

Allah Ta’ala juga berfirman:

Jikalau anak-anakmu itu telah sampai ke umur dewasa, maka hendaklah mereka meminta
izin -jikalau hendak masuk ke tempat-mu-sebagaimana meminta izinnya orang-orang
yang dahulu tadi -yakni sebagaimana orang-orang dewasa yang Iain-Iain.” (an-Nur: 59)

867. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Meminta izin itu
sebanyak tiga kali saja. Maka jikalau diizinkan untukmu – maka masuklah –
dan jikalau tidak – yakni meminta izin sampai tiga kali tetapi tidak ada
jawaban, maka kembalilah.” (Muttafaq ‘alaih) 868. Dari Sahl bin Sa’ad r.a katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hanyasanya
meminta izin itu diadakan peraturannya karena adanya penglihatan.”
Maksudnya bahwa melihat keadaan seseorang dari celah-celah pintu atau
dinding dan sebagainya itu dilarang. Oleh karena itu hendaklah meminta izin
saja, jikalau hendak masuk rumah seseorang yaitu dengan rnengetuk pintu,
menekan bel dan Iain-Iain. (Muttafaq ‘alaih)

869. Dari Rib’i bin Hirasy, katanya: “Kami diberitahu oleh seorang lelaki dari
kabilah Bani ‘Amir bahwasanya ia meminta izin kepada Nabi s.a.w. dan beliau
itu sedang ada dalam rumah. Kemudian orang itu berkata: “Adakah saya
boleh masuk?” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda kepada pelayannya: “Keluarlah
menemui orang ini dan ajarkanlah cara meminta izin padanya. Katakanlah
padanya supaya ia mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum, adakah saya boleh
masuk?” Orang itu mendengar keterangan beliau s.a.w. lalu mengucapkan:
Assamu ‘alaikum, adakah saya boleh masuk.” Nabi s.a.w. lalu memberikan izin
kepada orang tadi dan iapun masuklah.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud
dengan isnad shahih.

870. Dari Kildah bin al-Hanbal r.a., katanya: “Saya mendatangi Nabi s.a.w.
lalu saya masuk padanya dan saya tidak mengucapkan salam, lalu Nabi s.a.w.
bersabda: “Kembalilah dan ucapkanlah: Assalamu ‘alaikum. Apakah saya boleh
masuk?”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Bab 141
Menerangkan Bahwa Sunnah Hukumnya Apabila
Kepada Orang Yang Meminta Izin Ditanyakan:
“Siapakah Engkau? Supaya Mengucapkan “Fulan”
Dengan Menyebut Nama Dirinya Yang Mudah
Dimaklumi, Baik Nama Sendiri Atau Nama
Kunyahnya Dan Kemakruhannya Mengucapkan: “Saya”
Dan Yang Seumpamanya

871. Dari Anas r.a. dalam Hadisnya yang masyhur mengenai ceritera isra’,
katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kemudian Jibril naik dengan saya ke
langit dunia, lalu ia meminta supaya dibukakan pintu. la lalu ditanya:
“Siapakah ini?” la menjawab: “‘Jibril.” Ditanya: “Siapakah yang beserta anda?”
la menjawab: “Muhammad.” Selanjutnya ia naik lagi ke langit yang kedua,
ketiga, keempat dan seterusnya. la ditanya pada tiap-tiap pintu langit:
“Siapakah ini?” la menjawab: “Jibril.” (Muttafaq ‘alaih)

872. Dari Abu Zar r.a., katanya: “Saya keluar pada suatu malam dari beberapa
malam, tiba-tiba tampak Rasulullah s.a.w. sedang berjalan sendirian. Saya terus
berjalan di bawah bayangan bulan, lalu beliau s.a.w. menoleh lalu bertanya:
“Siapakah ini?” Saya menjawab: “Abu Zar.” (Muttafaq ‘alaih)
873. Dari Ummu Hani’ radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya men-datangi Nabi
s.a.w. dan beliau s.a.w. sedang mandi dan Fathimah menutupinya, lalu beliau
bertanya: “Siapakah ini?” Saya menjawab: Ummu Hani’. (Muttafaq ‘alaih)

874. Dari Jabir r.a., katanya: “Saya mendatangi Nabi s.a.w. lalu saya mengetuk
pintu, kemudian beliau s.a.w. bertanya: “Siapakah ini?” Lalu saya menjawab:
“Saya.” Kemudian beliau mengucapkan: “Saya, saya,” seolah-olah beliau
membenci jawapan yang sedemikian itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 142

Sunnahnya Mentasymitkan — Mendoakan Agar
Dikaruniai Kerahmatan Oleh Allah Dengan
Mengucapkan: Yarhamukallah — Kepada Orang
Yang Bersin, Jikalau la Memuji Kepada Allah Ta’ala
—Yakni Membaca Alhamdulillah — Dan Makruh
Mentasymitkannya Jikalau la Tidak Memuji Kepada
Allah Ta’ala, Begitu Pula Uraian Tentang Adab-adab
Kesopanan Bertasymit, Bersin Dan Menguap

875. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu mencintai bersin dan benci kepada menguap.
Maka apabila seseorang di antara engkau semua bersin dan ia memuji
kepada Allah Ta’ala – yakni mengucapkan Alhamdulillah – maka menjadi
hak atas setiap orang Muslim yang mendengarnya supaya ia
mengucapkan padanya: Yarhamukallah, yakni: “Semoga engkau diberi
kerahmatan oleh Allah. Adapun menguap, maka hanyasanya menguap itu
dari syaitan*. Maka apabila seseorang di antara engkau semua menguap,
hendaklah menolaknya sekuat mungkin, sebab sesungguhnya seseorang
di antara engkau semua itu apabila menguap maka ketawalah syaitan
daripadanya itu.” (Riwayat Bukhari)
876. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Apabila
seseorang di antara engkau semua itu bersin, maka hendaklah
mengucapkan: “Alhamdulillah”dan hendaklah saudaranya atau
kawannya yang mendengarkan itu laiu mengucapkan:Yarhamukallah
Selanjutnya apabila saudara atau kawannya tadi sudah mengucapkan:
Yarhamukallah, maka hendaklah orang yang bersin tadi mengucapkan:
Yahdikumullah wayush-lihu balakum, artinya: Semoga Allah memberikan
petunjuk pada anda dan pula membaguskan hati anda. (Riwayat
Bukhari)

Menguap itu sudah dimaklumi. Bahasa Arabnya Tatsaub dan ismnya Tsaufaa’. la
dianggap berasal dari syaitan, sebagai tanda kebencian kita padanya, karena
menguap itu hanya terjadi dengan sebab adanya tubuh yang berat, perut yang
berisi penuh dan condong sekali pada kemalasan. Ingin tidur dan Iain-Iain
yang tidak baik. Menguap dikatakan berasal dari syaitan sebab syaitan itu
memang kerjanya selalu mengajak kepada hawa nafsu supaya terus-menerus
mengikuti kesyahwatan-kesyahwatan belaka. Jadi maksudnya itu yang
terutama ialah menakut-nakuti kita dari sesuatu yang dapat
mengakibatkan menguap tadi seperti terlampau kenyang sehingga berat
melakukan ibadat dan ketaatan. Intaha. Diringkaskan dari Nibayah.

877. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Apabila seseorang di antara engkau semua itu bersin lalu ia
mengucapkan: Alhamdulillah, maka tasymitkanlah ia – yakni doakan ia supaya
memperoleh kerahmatan Allah dengan mengucapkan: Yarhamukatlah. Tetapi
jikalau ia tidak mengucapkan: Alhamdulillah, maka janganlah engkau semua
mentasymitkannya.” (Riwayat Muslim)
878. Dari Anas r.a., katanya: “Ada dua orang yang sedang berada disisi Nabi
s.a.w., lalu beliau s.a.w. mentasymitkan pada yang seorang di antara keduanya
itu – waktu ia bersin, tetapi tidak mentasymitkan kepada yang lainnya. Lalu
berkatalah orang yang tidak ditasymitkan oleh beliau itu: “Si Fulan ini bersin
lalu anda mentasymitkan ia, sedang sayapun bersin, tetapi anda tidak
mentasymitkan saya. Apakah sebabnya?” Beliau s.a.w. menjawab: “Orang ini
setelah bersin mengucapkan Alhamdulillah, sedang engkau tidak
mengucapkan Alhamdulillah.” (Muttafaq ‘alaih)
879. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila bersin, lalu
meletakkan tangannya atau bajunya pada mulutnya dan memperlahankan – atau
tidak memperdengarkan – suaranya karena bersinnya rtu.” Orang yang
meriwayatkan Hadis ini ragu-ragu – apakah dengan kata-kata khafadha atau
ghadhdha, tetapi artinya sama yaitu memperlahankan atau tidak
memperdengarkan yakni menutupi suaranya. Diriwayatkan oleh Imam-imam
Abu Dawud dan termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan
shahih.

880. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Orang-orang Yahudi sama-sama bersin
di sisi Rasulullah s.a.w. dan mereka mengharapkan hendaknya beliau s.a.w.
mengucapkan: Yarhamukumullah, tetapi beliau s.a.w. mengucapkan:
Yahdikumullah wayushlihu balakum. Jadi bukan didoakan supaya dirahmati
oleh Allah, tetapi didoakan semoga diberi petunjuk dulu oleh Allah dan
diperbaguskan hatinya, sehingga suka menganut agama Islam, sebab pada
waktu itu mereka belum memeluk agama Islam,sekalipun mengetahui
kebenarannya Muhammad s.a.w. sebagai utusan Tuhan. Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

881. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua itu menguap, maka hendaklah ia
memegangkan tangannya pada mulutnya, sebab sesungguhnya syaitan itu
akan masuk di dalamnya – jikalau mulut t i d a k ditutup.” (Riwayat Muslim)
Bab 143
Sunnahnya Berjabatan Tangan Ketika Bertemu Dan
Menunjukkan Muka Yang Manis, juga Mencium Tangan
Orang Shalih Dan Mencium Anaknya, Serta Merangkul
Orang Yang Baru Datang Dan Bepergian Dan Makruhnya
Membungkukkan Badan — Dalam Memberi Penghormatan

882. Dari Abul Khaththab yaitu Qatadah, katanya:”Saya berkata
kepada Anas r.a.: “Adakah cara saling berjabatan tangan itu di kalangan
para sahabatnya Rasulullah s.a.w. itu?” Anas menjawab: “Ya, ada.”
(Riwayat Bukhari)

883. Dari Anas r.a., katanya; “Ketika ahli Yaman datang, lalu Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Orang-orang Yaman sudah datang padamu semua dan mereka itulah
pertama-tama orang yang datang dengan melakukan berjabatan tangan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
884. Dari al-Bara’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada
dua orang Muslimpun yang bertemu lalu keduanya
berjabatan tangan, melainkan keduanya itu diampuni dosanya oleh
Allah sebelum keduanya itu berpisah.” (Riwayat Abu Dawud)

885. Dari Anas r.a., katanya: “Ada seorang lelaki berkata: “Ya
Rasulullah, ada seseorang di antara kita bertemu dengan saudaranya atau
sahabatnya, apakah ia boleh membongkokkan badan untuk
menghormatinya itu.” Beliau s.a.w. menjawab: “Tidak boleh.” Orang
itu bertanya lagi: “Apakah boleh ia merangkulnya dan mencium
tubuhnya?” Beliau s.a.w. menjawab: “Tidak boleh, kalau baru datang
dari bepergian dan lama tidak bertemu, maka kecuali boleh merangkul
itu, seperti datang dari ibadat haji dan Iain-lain.” Orang itu berkata lagi:
“Apakah boleh ia mengambil tangan saudara atau sahabatnya itu laiu
berjabatan tangan dengannya?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ya, boleh.”
Diriwayatkan oleh ImamTermidzidania mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

886. Dari Shafwan bin ‘Assal r.a., katanya: “Ada seorang Yahudi berkata
kepada sahabatnya: “Marilah bersama kami pergi ketempat Nabi ini,” yang
dimaksudkan ialah Nabi Muhammad s.a.w. Kedua-nya mendatangi Rasulullah
s.a.w. lalu menanyakan perihal sembilan ayat-ayat yang terang.” Shafwan
seterusnya menguraikan Hadis ini sampai ucapannya: “Lalu orang-orang –
yakni dua orang Yahudi serta para hadhirin yangada di situ – sama mencium
tangan dan kaki beliau s.a.w. dan keduanya berkata: “Kita semua menyaksikan
bahwa anda adalah seorang Nabi.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan lain-lainnya dengan isnad-isnad
shahih.
887. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia menyebutkan sesuatu ceritera
yang di dalamnya ia mengatakan: “Lalu kita semua mendekat kepada Nabi s.a.w.
kemudian kita mencium tangan beliau itu.” (Riwayat Abu Dawud)

888. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Zaid bin Haritsah datang di
Madinah dan beliau s.a.w. sedang ada dalam rumahku. Zaid
mendatanginya lalu mengetuk pintu, kemudian Nabi s.a.w. berdiri
untuk menyambutnya – karena Zaid baru datang dari bepergian – lalu
beliau s.a.w. menarik bajunya terus merangkul serta menciumnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.

889. Dari Abu Zar r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau
menghinakan samasekali sesuatu dari perbuatan baik sekalipun jikalau
engkau sewaktu bertemu dengan saudaramu itu lalu menunjukkan muka
yang manis berseri-seri.” (Riwayat Muslim)
890. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. mencium Hasan bin Ali,
lalu al-Aqra’ bin Habis berkata: “Sesungguhnya saya ini mempunyai sepuluh
orang anak, tetapi saya tidak pernah mencium seseorangpun dari mereka itu.”
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Barangsiapa yang tidak berbelas kasihan, maka
ia tidak dibelas kasihani oleh Allah.” (Muttafaq ‘alaih) Bab 144
Kitab Perihal Meninjau Orang Sakit, Menghantarkan
janazah, Menyembah-yanginya, Menghadhiri
Pemakamannya, Berdiam Sementara Di Sisi Kuburnya
Sesudah Ditanamkan Meninjau Orang Sakit

891. Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
memerintahkan kepada kita supaya meninjau orang sakit, mengikuti janazah –
yang akan dibawa ke kubur, mentasymitkan orang bersin – yakni mendoakan
supaya ia mem-peroleh kerahmatan Allah dengan mengucapkan:
Yarhamukallah, kalau orang yang bersin itu mengucapkan: Alhamdulillah,
melaksanakan sumpah, menolong orang yang dianiaya, mengabulkan
undangan orang yang mengundang dan meratakan salam.” (Muttafaq ‘alaih)

892. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ber-sabda:
“Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya itu ada lima perkara yaitu
menjawab salam, meninjau orang sakit, mengikuti janazah-janazah – yang
akan dimakamkan, mengabulkan undangan dan mentasymitkan orang yang
bersin.” (Muttafaq ‘alaih)

893. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla itu akan berfirman nanti pada
hari kiamat:
“Hai anak Adam – yakni manusia, Aku sakit, tetapi engkau tidak suka
meninjauKu.” Manusia berkata: “Ya Tuhanku, bagaimanakah saya dapat
meninjauMu, sedangkan Engkau adalah Tuhan yang menguasai seluruh
alam ini?” Allah berfirman: “Adakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang
hambaKu, si Fulan itu sakit, tetapi engkau tidak suka meninjaunya. Tidakkah
engkau mengetahui, bahwasanya apabila engkau meninjaunya, tentulah
engkau akan mendapatkan Aku di sisinya? Hai anak Adam, Aku meminta
makanan padamu, tetapi engkau tidak suka memberikan makanan itu padaKu.
Manusia berkata: “Ya Tuhanku, bagaimanakah saya dapat memberikan makanan
padaMu.sedang Engkau adalah Tuhan yang menguasai seluruh alam ini?” Allah
berfirman: “Tidakkah engkau mengetahui bahwa seorang hambaKu, si Fulan
itu meminta makanan padamu, tetapi engkau tidak suka memberikan makanan
itu padanya. Adakah engkau tidak mengetahui, bahwasanya apabita engkau
memberikan makanan padanya, tentuiah engkau akan mendapatkan yang sede-
mikian itu di sisiKu. Hai anak Adam, Aku meminta minuman padamu,
tetapi engkau tidak suka memberikan minuman itu padaKu.” Manusia berkata: “Ya Tuhanku, bagaimanakah saya dapat memberikan minuman padaMu,
sedangkan Engkau adalah Tuhan yang menguasai seluruh alam ini?” Allah
berfirman: “Ada seorang hambaKu, si Fulan itu meminta minuman padamu,
tetapi engkau tidak suka memberikan minuman itu padanya. Andaikata saja
engkau suka memberikan minuman padanya, tentuiah engkau akan
mendapatkan yang sedemikian itu di sisiKu.” (Riwayat Muslim)
894. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tinjaulah orang
sakit, berikanlah makanan pada orang yang lapar dan merdekakanlah
tawanan.” (Riwayat Bukhari)
At’aanii ialah orang yang tertawan.

895. Dari Tsauban r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya orang Islam
itu apabila meninjau saudaranya sesama Muslimnya – yang sakit, maka tidak
henti-hentinya ia berada di dalam tempat penuaian syurga sehingga ia kembali.”
Beliau s.a.w. ditanya: “Ya Rasulullah, apakah khurfah atau penuaian syurga
itu,” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu tempat di syurga yang – buah-huahannya –
tinggal dipetik saja.” (Riwayat Muslim)

896. Dari Ali r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang Muslimpun yang meninjau saudaranya Muslim -yang sakit –
di waktu pagi, melainkan ada tujuhpuluh ribu malaikat yang mendoakan
padanya supaya memperoleh kerahmatan Tuhan sampai orang itu berada di waktu petang dan jikalau ia meninjaunya itu di waktu petang, maka ada
tujuhpuluh ribu malaikat yang mendoakan padanya supaya ia memperoleh
kerahmatan Tuhan sampai orang itu berada di waktu pagi.Juga orang tersebut
akan memperoleh tempat buah-buahan yang sudah waktunya dituai di dalam
syurga.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
Alkharif artinya ialah buah-buahan yang sudah waktunya dituai atau
dipetik.

897. Dari Anas r,a., katanya: “Ada seorang anak Yahudi yang menjadi
pelayan Nabi s.a.w, lalu ia sakit. la didatangi oleh Nabi s.a.w. untuk
meninjaunya. Beliau s.a.w. lalu duduk di dekat kepalanya, lalu bersabda
padanya: “Masuklah agama Islam!” Anak itu lalu melihat kepada ayahnya
yang ketika itu sudah ada di sisinya – seolah-olah anak tadi meminta
pertimbangan pada ayahnya. Ayahnya berkata: “Taatilah kehendak Abul
Qasim” – yaitu Nabi s.a.w. Anak itu lalu menyatakan masuk Islam, Setelah
itu Nabi s.a.w. keluar dan beliau bersabda: “Alhamdulillah yang telah
menyelamatkan anak itu dari siksa api neraka.” (Riwayat Imam Bukhari)
Bab 145

Ucapan Yang Dapat Digunakan Untuk Mendoakan Orang
Sakit
898. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu apabila
ada seseorangyang mengeluh karena ada sesuatu yang dirasa sakit pada dirinya
atau ada luka, kecil atau besar, maka Nabi s.a.w. berdoa dengan menggunakan
jari tangannya sedemikian. Sufyan bin ‘Uyainah yang meriwayatkan Hadis ini
menunjukkan cara menggunakan jari itu, yakni telunjuknya diletakkan di
bumi laludiangkat dan di waktu meletakkan itu mengucapkan – yang artinya:
”Dengan menyebut nama Allah, ini adalah tanah bumi kita, di-campur
dengan ludah sebagian dari kita, dengannya dapat di-Sembuhkan orang sakit
di antara kita, dengan izin Tuhan kita.”

899. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. pada suatu
waktu meninjau setengah dari keluarganya yang sakit. Beliau s.a.w. mengusap
dengan tangannya yang kanan dan mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah,
Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah kesukaran – yakni penyakit – ini.
Sembuhkanlah, Engkau sajalah yang dapat menyembuhkan. Tiada kesembuhan
kecuali kesembuhan daripadaMu, yakni kesembuhan yang tidak lagi
meninggalkan penyakit.” (Muttafaq ‘alaih)
900. Dari Anas r.a. bahwasanya ia berkata kepada Tsabit rahima-hullah:
“Sukakah engkau saya beri ucapan mantera-mantera dengan mantera-mantera
yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w.?” la menjawab: “Baiklah.” Anas
mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, yang dapat
melenyapkan kesukaran -penyakit. Sembuhkanlah, Engkau sajalah yang dapat
menyembuhkan. Tiada yang kuasa menyembuhkan kecuali Engkau, suatu
kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Riwayat Bukhari)
901. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Saya ditinjau oleh
Rasulullah s.a.w. – waktu ia menderita sakit – lalu beliau s.a.w. mengucapkan –
yang artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad, ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad,
ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad.” (Riwayat Muslim)

902. Dari Abu Abdillah yaitu Usman bin Abul ‘Ash r.a. bahwasanya ia
mengadu kepada Rasulullah s.a.w. karena adanya suatu penyakit yang
diderita dalam tubuhnya, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda padanya:
“Letakkanlah tanganmu pada tempat yang engkau rasa sakit dari tubuhmu
itu, kemudian ucapkanlah “Bismillah” tiga kali, lalu ucapkanlah pula
sebanyak tujuh kali-yang artinya: “Saya mohon perlindungan dengan
kemuliaan Allah dan kekuasaanNya dari keburukannya sesuatu yang saya
peroleh dan saya takutkan.” (Riwayat Muslim)

903. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Barangsiapa yang meninjau orang sakit yang belum waktunya untuk
didatangi oleh ajal kematiannya, lalu orang yang meninjau tadi
mengucapkan untuk yang sakit itu sebanyak tujuh kali, yaitu ucapan – yang artinya: “Saya mohon kepada Allah yang Maha Agung, yang menguasai ‘arasy
yang agung, semoga Allah menyembuhkan penyakitmu, melainkan Allah
akan menyembuhkan orang tadi dari penyakit yang dideritainya.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Imam Hakim berkata bahwa Hadis
ini adalah shahih menurut syaratnya Imam Bukhari.

904. Dari Ibnu Abbas r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w. masuk ke
tempat A’rab- penghuni pedalaman negeri Arab – untuk meninjaunya-karena
sakit-dan Nabi s.a.w. itu apabila masuk ke tempat orang
sakit untuk meninjaunya, maka beliau mengucapkan – yang artinya:
“Tidak ada halangan apa-apa. Ini sebagai pencuci dosa-dosamu
Insya Allah.” (Riwayat Bukhari)
905. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Jibril mendatangi Nabi s.a.w.
lalu berkata: “Hai Muhammad, adakah anda sakit?” Beliau s.a.w. menjawab:
“Ya.” Jibril lalu mengucapkan – yang artinya: “Dengan nama Allah, saya
memberikan mantera-mantera padamu, dari segala macam bahaya yang
menyakitkan dirimu, juga dari semua hati dan mata yang mendengki. Allah
akan menyembuhkan penyakitmu. Dengan nama Allah, saya memberikan
mantera-mantera padamu.” (Riwayat Muslim) 906. Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
keduanya itu menyaksikan Rasulullah s.a.w. bahwa beliau bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan – yang artinya: “Tiada Tuhan melainkan
Allah dan Allah adalah Maha Besar,” maka ucapannya itu akan dibenarkan oleh
Tuhannya dan Tuhan berfirman: “Tiada tuhan selain Aku dan Aku adalah
Maha Besar.” Kemudian jikalau orang itu mengucapkan – yarig artinya: “Tiada
Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutuNya,” maka Tuhan
berfirman: “Tiada Tuhan melainkan Aku yang Maha Esa, tidak ada sekutu
bagiKu.” Seterusnya apabila orang itu mengucapkan – yang artinya: “Tiada
Tuhan melainkan Allah, bagiNya adalah segenap kerajaan dan baginya pula
segala puji-pujian,” maka Allah berfirman: “Tiada Tuhan melainkan Aku,
bagiKu segenap kerajaan dan bagiKu pula segala puji-pujian.” Dan jikalau
orang itu mengucapkan – yang artinya: “Tiada Tuhan melainkan Allah dan
tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah,” maka
Allah berfirman: “Tiada Tuhan melainkan Aku dan tiada daya serta tiada
kekuatan melainkan dengan pertolonganKu.”
Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan semua di atas itu di waktu sakitnya lalu ia
meninggal dunia, maka ia tidak akan dapat dimakan Olehapi neraka.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 146

Sunnahnya Menanyakan Kepada Keluarga Orang Yang
Sakit Tentang Keadaan Si Sakit Itu

907. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Ali bin Abu Thalib
r.a. keluar dari sisi Rasulullah s.a.w. di waktu sakit beliau s.a.w. yang
menyebabkan kematiannya, lalu orang-orang sama bertanya: “Hai Abulhasan –
Pak Hasan, sebab Ali r.a. mempunyai anak yang namanya al-Hasan,
bagaimanakah keadaan Rasulullah s.a.w.?” Kemudian Ali r.a. menjawab: “Beliau
sembuh dengan puji-pujian Allah.” Ali r.a. selalu ditanya, sebab memang
keluarganya yaitu sebagai saudara sepupu dan pula menjadi menantu beliau
s.a.w. Adapun ucapannya: “sembuh” itu hanyalah menurut per-kiraannya
sendiri-saja dan pula untuk menggembirakan hati para sahabat, padahal
sebenarnya itulah sakit yang membawa kematian beliau s.a.w. (Riwayat Bukhari)
Bab 147
Apa yang Diucapkan Oleh Orang Yang Sudah Putus
Harapan Dari Hidupnya — Karena Sakitnya Sudan
Dirasa Sangat Sekali Dan Tidak Akan Sembuh Lagi
908. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya mendengar
Nabi s.a.w. dan beliau s.a.w. sambil menyandarkan dirinya kepadaku,
mengucapkan doa – yang artinya: “Ya Allah, berilah peng-
ampunan padaku, belas kasihanilah aku dan pertemukanlah aku
dengan kawan yang tertinggi – yakni malaikat dan hamba-hamba
yang shalih.” (Muttafaq ‘alaih)
909. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Saya melihat Rasulullah Saw.
dan beliau ketika itu sedang menghadapi sakara- tulmaut. Di sisinya ada
sebuah gelas yang berisi air. Beliau s.a.w. memasukkan tangannya ke
dalam gelas kemudian mengusap wajahnya dengan air tadi, !alu
mengucap – yang artinya: “Ya Allah, berilah aku pertolongan untuk
menghadapi kesukaran-kesukaran hendak meninggal dan pula
sakaratulmaut ini.” (Riwayat Termidzi)
Bab 148
Sunnahnya Wasiat Kepada Keluarga Orang YangSakit Dan
Orang Yang Melayani Orang Sakit Itu Supaya Berbuat Baik
Padanya, Menahan Dan Sabar Pada Apa Yang Menyukarkan
Perkaranya, juga Wasiat UntukKepentingan Orang Yang
Sudah Dekat SebabKematiannya Dengan Adanya Had Atau
Qisbash Dan Lain-Iain Sebagainya.
910. Dari Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhuma, bahwasa-nya ada
seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi s.a.w. dan ia sedang
hamil karena zina. Wanita itu lalu berkata: “Ya Rasulullah saya
mengerjakan sesuatu yang menyebabkan saya harus diberi had – yakni
hukuman. Maka dari itu, laksanakanlah hukuman itu pada diriku.”
Nabiullah s.a.w. lalu mengundang wali wanita tadi, lalu ber-sabda:
“Berbuat baiklah pada wanita ini. Jikalau nanti ia telah melahirkan
kandungannya, maka datanglah kepadaku dengan membawa orang ini.”
Orang itu melaksanakan semua kehendak beliau s.a.w. – yakni
diperlakukan dengan baik dan setelah bayinya lahir lalu dibawa
kepadanya.
Nabi s.a.w. lalu memerintahkan untuk menghukum orang tadi lalu
diikatkanlah pakaiannya pada tubuhnya,seterusnya menyuruh supaya
dirajam dan dirajamlah ia. Kemudian beliau s.a.w. menyem-bahyangi
janazahnya. (Riwayat Muslim)

Bab 149

Bolehnya Seseorang Yang Sakit Mengatakan: “Saya
Sakit” Atau “Sangat Sakit” Atau “Panas” Atau
“AduhKepalaku” Dan Lain Sebagainya Dan Uraian
Bahwasanya Tidak Ada Kemakruhan Mengatakan
Sedemikian Tadi, Asaikan Tidak Karena Timbulnya
Kemarahan Dan Menunjukkan Kegelisahan — Sebab
Sakitnya Tadi
911. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya masuk ke tempat Nabi
s.a.w. dan beliau di kala itu menderita penyakit panas, lalu saya
memegangnya, kemudian saya berkata: “Sesungguhnya Tuan ini benar-
benar sakit panas yang sangat.” Lalu beliau s.a.w. bersabda; “Benar,
sesungguhnya penyakit panas saya ini adalah seperti panas-nya dua orang
di antara engkau semua – yang dijadikan satu.” (Muttafaq ‘alaih)

912. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. datang ke
tempatku untuk meninjau sewaktu saya menderita sesuatu penyakit yang
sangat. Kemudian saya berkata: “Telah sampai padaku penyakit sebagaimana
yang Tuan maklumi ini, sedang saya adalah seorang yang berharta dan tidak ada
yang akan mewarisi harta itu melainkan anak saya perempuan,” selanjutnya
disebutkanlah Hadis ini sampai selengkapnya. (Muttafaq ‘alaih)

913. Dari Alqasim bin Muhammad, katanya: “Aisyah radhiallahu ‘anha
berkata: “Aduh kepalaku.” Kemudian Nabi s.a.w. bersabda; “Bahkan sayalah –
yang lebih sangat sakitnya. Aduh kepalaku,” selanjutnya disebutkanlah Hadis ini
sampai selengkapnya.(Riwayat Bukhari)

Bab 150
Mengajar Orang Yang Sudah Hampir Didatangi Oleh Ajal
Kematiannya Dengan La ilaha illallah

914. Dari Mu’az r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang akhir percakapannya itu La ilaha illallah,
maka ia akan masuk syurga.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Hakim dan
Hakim mengatakan bahwa ini adalah shahih isnadnya.

915. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:”Ajarkanlah kepada orang-orang yang hendak mati di antara
engkau semua itu dengan bacaan La ilaha illallah.” (Riwayat Muslim)

Bab 151
Apa Yang Diucapkan Ketika Memejamkan Mata Orang
Mati
916. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah
s.a.w. masuk ke tempat Abu Salamah dan sudah kepayahan penglihatannya –
sewaktu hendak matinya – lalu beliau s.a.w. memejamkannya, kemudian
bersabda: “Sesungguhnya ruh itu apabila dicabut, maka diikuti oleh
penglihatan.”
Orang-orang dari keluarganya lalu gemuruh suaranya, lalu beliau s.a.w.
bersabda: “Janganlah engkau semua mendoakan atas dirimu sendiri melainkan
dengan yang baik-baik saja, karena sesungguhnya malaikat itupun
mengucapkan: Amin pada apa yang engkau semua doakan itu.” Seterusnya
beliau s.a.w. berdoa: “Ya Allah, berikanlah pengampunan kepada Abu
Salamah, tingkatkanlah derajatnya dalam golongan orang-orang yang
memperoleh petunjuk. jadilah Engkau sebagai pengganti sesudah meninggalnya
itu untuk melindungi orang-orang yang ditinggalkan – seperti isteri dan anak-
anaknya. Berikanlah pengampunan kepada kita dan kepada orang yang mati
ini, ya Rabbal ‘alamin, juga berilah ke-lapangan untuknya dalam kuburnya
serta berikanlah cahaya untuknya dalam kubur itu.” (Riwayat Muslim)

Bab 152 Apa Yang Diucapkan Di Sisi Mayit Dan Apa Yang
Diucapkan Oleh Orang Yang Ditinggalkan
Oleh Mayit

917. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Jikalau engkau semua mendatangi orang sakit atau orang mati,
maka ucapkanlah yang baik-baik saja, sebab sesungguhnya malaikat itu
mengucapkan: Amin kepada apa-apa yang engkau semua ucapkan.”
Ummu Salamah berkata: “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, saya lalu
mendatangi Nabi s.a.w. kemudian saya mengatakan: “Ya Rasulullah,
sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal dunia.” Beliau s.a.w. bersabda:
“Katakanlah – yang artinya: “Ampunkanlah untukku dan untuknya dan
berikanlah untukku ganti yang baik daripadanya.” Lalu saya berkata: “Maka
Allah memberikan ganti untukku seseorang yang lebih baik bagiku daripada
Abu Salamah itu, yakni Muhammad s.a.w. – karena setelah suaminya yakni
Abu Salamah meninggal dunia, lalu Ummu Salamah itu dikawin oleh Nabi
s.a.w.”
Imam Muslim meriwayatkan demikian, yakni: “Jikalau engkau semua
mendatangi orang sakit atau orang mati,” dengan ada keragu-raguan dalam
kata-kata orang sakit atau mati. Adapun yang diriwayatkan oleh Imam Abu
Dawud dan Iain-Iain, jelas diucapkan: “orang mati,” tanpa diragu-ragukan.

918. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang hambapun yang terkena oleh sesuatu mushibah – yakni
bencana, lalu ia mengucapkan – yang artinya: “Sesungguhnya kita ini adalah
untuk Allah dan sesungguhnya kita akan kembali padaNya. Ya Allah,
berikanlah kepada saya akan pahala dengan sebab adanya mushibah saya ini,
juga berikanlah ganti untuk saya sesuatu yang lebih baik daripada yang sudah
hilang, melainkan Allah Ta’ala akan memberinya pahala karena adanya
mushibah dalam dirinya itu dan akan memberikan ganti padanya yang lebih
baik daripada yang sudah meninggal tadi.”
Ummu Salamah berkata: “Ketika Abu Salamah meninggal dunia saya lalu
mengucapkan sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. padaku,
kemudian Allah memberikan ganti untuknya seseorang yang lebih baik dari
Abu Salamah – yakni yang menjadi suaminya – yaitu Rasulullah s.a.w.”
(Riwayat Muslim)

919. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau anak
seseorang hamba meninggal dunia, maka Allah Ta’ala berfirman kepada para
malaikatnya: “Adakah engkau semua telah mencabut nyawa anak hambaKu?”
Mereka menjawab: “Ya.” Allah berfirman lagi: “Adakah engkau semua telah
mencabut nyawa buah hati hambaKu itu?” Mereka menjawab: “Ya.” Allah
berfirman pula: “Kemudian apakah yang diucapkan oleh hambaKu itu?”
Mereka menjawab: “la memuji Engkau dan mengucapkan istirja’ -yaknr Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Dirikanlah
untuk hambaKu itu sebuah rumah dalam syurga dan namakanlah rumah itu
dengan sebutan Baitulhamdi -yakni Rumah Pujian.”Diriwayatkan oleh Imam
Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

920. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: “Tiada suatu balasanpun di sisiku yang
diperuntukkan pada hambaKu yang mu’min, jikalau Aku mencabut nyawa
kekasihnya dari golongan ahli di dunia, kemudian ia meng-harapkan
keridhaanKu – dengan meninggalnya kekasihnya tadi, melainkan balasannya
itu adalah syurga.” Kekasih ialah seperti anak, isteri dan lain-lain. (Riwayat
Bukhari)

921. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Salah seorang dari puteri-puteri Nabi s.a.w. mengutus seseorang kepada
beliau s.a.w. untuk memanggilnya dan memberitahukan padanya bahwa
seseorang anaknya – yakni anak puteri Nabi s.a.w. -itu, lelaki atau perempuan –
yang meriwayatkan Hadis ini ragu-ragu, apakah anak itu lelaki atau
perempuan – sedang berada dalam keadaan akan meninggal dunia. Puteri Nabi
s.a.w. yang memanggil itu ialah Zainab, sedang yang sakit namanya Umamah.
Nabi s.a.w. lalu bersabda kepada utusan puterinya itu: “Kembalilah dulu ke
tempat puteriku itu dan beritahukanlah padanya bahwasanya bagi Allah
adalah apa-apa yang diambil, bagiNya apa-apa yang diberikan dan segala
sesuatu menurut ajal yang ditentukan di sisiNya. Maka dari itu perintahkanlah
ia supaya bersabar saja dan supaya meng-harapkan keridhaan Allah.”
Selanjutnya disebutkan Hadis ini sampai selengkapnya. (Muttafaq ‘alaih)

Bab 153

Bolehnya Menangisi Orang Mati Tanpa Nadab —
Menghitung-hitung Kebaikan Mayit — Juga Tanpa
Suara Keras Dalam Tangisnya Itu

Ada pun bersuara keras ketika menangisi mayit itu, maka hukumnya
adalah haram dan ini akan diuraikan dalam suatu bab tersendiri yaitu Kitab
Larangan, Insya Allah.
Adapun menangis biasa, maka ada beberapa Hadis yang mengu-raikan tentang
dilarangnya itu dan bahwasanya mayit itu akan disiksa dengan sebab tangis
keluarganya. Hal sedemikian ini ditakwilkan dan ditangguhkan atas orang
yang mewasiatkan itu. Adapun yang dilarang itu hanyalah tangis yang di
dalamnya disertai nadab atau dengan suara keras luarbiasa. Adapun dalilnya
tentang bolehnya menangis tanpa nadab dan tidak dengan suara keras ialah
beberapa Hadis yang banyak sekali jumlahnya, di antaranya ialah:

922. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
meninjau Sa’ad bin Ubadah dan besertanya ialah Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad
bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhum. Kemudian
Rasulullah s.a.w. menangis. Ketika orang-orang sama mengetahui tangisnya
Rasulullah s.a.w., maka merekapun menangislah. Selanjutnya beliau s.a.w.
bersabda: “Ada-kah engkau semua tidak mendengar? Sesungguhnya Allah itu tidak akan menyiksa sebab adanya airmata yang mengalir di mata, tidak pula
karena kesusahan hati, tetapi Allah menyiksa itu ialah dengan sebab perbuatan
ini ataupun Allah memberikan kerahmatannya.” Beliau s.a.w. menunjuk kepada
lisannya. (Muttafaq ‘alaih)

923. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
pada suatu ketika diaturkanlah berita tentang anak dari puterinya yang dalam
keadaan akan meninggal dunia, lalu kedua mata Rasulullah s.a.w. mengalirkan
airmata. Kemudian Sa’ad berkata pada beliau s.a.w.: “Apakah artinya ini, ya
Rasulullah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ini adalah sebagai tanda belas kasihan
yang dijadikan oleh Allah Ta’ala dan hati hamba-hambaNya. Hanya- sanya
Allah itu mengasihi orang-orang yang mempunyai hati belas kasihan dari
golongan hamba-hambaNya itu.”(Muttafaq ‘alaih)

924. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat
anaknya yaitu Ibrahim r.a. dan ia sedang berderma dengan jiwanya –
yakni menghadapi kematian, maka kedua mata Rasulullah s.a.w. itu
melelehkan airmata. Abdur Rahman bin Auf berkata kepadanya:
“Tuanpun menangis ya Rasulullah?” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Hai Ibnu
Auf, sesungguhnya airmata ini adalah sebagai tanda kasih sayang.”
Selanjutnya airmata pertama itu diikuti airmata kedua dan seterusnya.
Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya matapun dapat mengalirkan
airmata dan hatipun dapat berdukacita. Kita tidak mengucapkan
melainkan apa yang dapat memberikan keridhaan kepada Tuhan kita
dan sesungguhnya kita ini dengan berpisah denganmu itu, hai Ibrahim
niscayalah bersedih hati.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim juga meriwayat-kan
sebagiannya.
Hadis-hadis dalam bab ini banyak sekali disebutkan dalam kitab
shahih dan tersohor sekali.
Wallahu a’lam.
Bab 154
Menahan — Tidak Menyiar-nyiarkan — Sesuatu Yang Tidak
Balk Yang Diketahui Dari Seseorang Mayit
925. Dari Abu Rafi’ yaitu Aslam, hambasahaya Rasulullah s.a.w. bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang memandikan seseorang mayit, lalu ia menyimpan – yakni
merahasiakan – atas keburukan mayit itu – yang diketahui olehnya, maka Allah
memberikan pengampunan kepada orang tadi sebanyak empatpuluh kali.”
, Diriwayatkan oleh Imam Hakim dan ia berkata bahwa ini adalah Hadis
shahih menurut syarat Imam Muslim.
Bab 155
Menyembahyangi Mayit, Mengantarkannya — Ke
Kubur, Menghadhiri Pemakamannya DanMakruhnya
Kaum Wanita Ikut Mengantarkan Janazah-janazah

Tentang keutamaan mengantarkan mayit sudah lebih dulu uraiannya –
lihat Kitab Meninjau orang sakit dari Hadis no. 891 dan seterusnya.

926. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menyaksikan mayit sehingga ia disembahyangi – yakni
ikut menyembahyangi pula, maka ia memperoleh pahala seqirath dan
barangsiapa yang menyaksikan sehingga di kubur, maka ia memperoleh
pahala dua qirath.”
Beliau s.a.w. ditanya: “Seberapakah dua qirath itu?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Yaitu seperti dua gunung yang besar-besar.” (Muttafaq ‘alaih)

927. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
”Barangsiapa mengikuti janazahnya seseorang Muslim dengan sebab adanya
keimanan serta mengharapkan keridhaan Allah dan ia terus menyertainya
sehingga mayit itu disembahyangi dan seiesai dimakamkan, maka
sesungguhnya orang yang sedemikian itu akan kembali dengan membawa pahala sebanyak dua qirath, setiap seqirath itu adalah sebesar gunung Uhud.
Dan barangsiapa yang ikut menyembahyanginya kemudian kembali sebelum
dimakamkan, maka sesungguhnya ia akan kembali dengan membawa pahala
seqirath.” (Riwayat Bukhari)

928. Dari Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Kita semua
dilarang untuk mengikuti mengantarkan janazah – ke kubur, tetapi larangan itu
tidak diperkeraskan untuk kita – maksudnya ialah untuk kaum wanita.”
(Muttafaq ‘alarh)
Maknanya ialah bahwa larangan mengikuti janazah ke kubur bagi kaum
wanita itu tidak diperkeraskan sebagaimana halnya larangan yang
diperkeraskan dalam perkara-perkara yang diharam-kan – jadi hukumnya ialah
makruh saja.

Bab 156
Sunnahnya Memperbanyakkan Orang Yang
Menyembahyangi Janazah Dan Membuat Barisan-
barisan Orang-orang Yang Menyembahyangi Itu
Menjadi Tiga Deretan Atau Lebih

929. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang mayitpun yang disembahyangi oleh sesuatu ummat dari
kaum Muslimin yang sampai berjumlah seratus orang yang semuanya
memohonkan syafaat – yakni pertolongan supaya diampuni dosa-dosanya –
kepada mayit tadi, melainkan Allah akan mengabulkan permohonan syafaat
mereka itu pada mayit tersebut.”(Riwayat Muslim)

930. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang Muslimpun yang mati, lalu janazahnya disembahyangi oleh
empatpuluh orang yang semuanya tidak menyekutukan sesuatu kepada Allah,
melainkan Allah akan mengabulkan permohonan syafaat orang-orang yang
menyembahyangi itu-yakni mohon pertolongan kepada Allah agar diampuni
dosa-dosanya -bagi mayit tersebut.” (Riwayat Muslim)

931. Dari Martsad bin Abdullah al-Yazani, katanya: “Malik bin Hubairah itu
apabila menyembahyangi janazah dan dianggapnya sedikit orang-orang yang
ikut menyembahyangi itu, maka mereka itu dibaginya rnenjadi tiga bagian –
yakni tiga baris. Kemudian ia berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
‘.. “Barangsiapa yang disembahyangi oleh tiga baris, maka hal itu telah
mewajibkan janazah itu – mendapatkan syurga.”
Diriwayatkan oleh imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ia adalah Hadis hasan.

Bab 157

Apa-apa Yang Dibaca Dalam Shalat janazah

Cara bersembahyang janazah ialah:
Bertakbir em pat kali. Sesudah takbir pertama membaca ta’awwudz –
A’udzu billahi minasy syaithanir rajim – lalu membaca Fatihatulkitab – yakni
surat al-Fatihah, kemudian bertakbir yang kedua kalinya, lalu mengucapkan
shalawat kepada Nabi s.a.w. mengucapkan: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa
‘ala ali Muhammad. Adapun yang lebih utama ialah supaya disempurnakan
dengan ucapan: Kama shallaita ‘ala Ibrahim sampai ucapan Hamidum majid.
Jadi jangan membaca sebagaimana yang dikerjakan oleh sebagian besar orang
awam, yaitu mereka sama mengucapkan: Innallaha wa malaikatahu yushailuna
‘alan nabiyyi dan seterusnya sampai habisnya ayat, sebab sesungguhnya saja
tidak akan sahlah shalatnya, jikalau seseorang itu meringkaskan bacaannya pada
yang demikian itu belaka. Selanjutnya lalu bertakbir yang ketiga dan berdoa
untuk mayit dan untuk seluruh kaum Musiimin, sebagaimana yang akan kami
uraikan Hadis-hadisnya di belakang. Insya Allah Ta’ala. Seterusnya ialah
bertakbir keempat kalinya dan berdoa. Setengah daripada sebaik-baiknya doa
ialah: ajrahu wa la taftinna ba’dahu waghfir lana walahu-artinya: Ya Allah, janganlah menghalang-halangi kita untuk memperoleh pahala sebab
memperoleh mushibah ditinggalkan mayit itu, jangan pula
ada fitnah sepeninggalnya dan ampunilah untuk kita semua dan
untuk mayit ini pula. Yang terpilih ialah supaya seseorang itu
memperpanjangkan doanya dalam doa sehabis takbir keempat ini. jadi
menyalahi apa-apa yang biasa dilakukan oleh sebagian banyak manusia – yang
suka memendekkan doa itu. Ini adalah berdasarkan Hadis Ibnu Abi Aufa
yang akan kami sebutkan di belakang Insya
Allah Ta’ala. Adapun doa-doa yang datang dari Nabi s.a.w. sesudah
takbir ketiga, di antaranya ialah:

932. Dari Abdur Rahman bin Auf bin Malik r.a., katanya: “Rasulullah
s.a.w. menyembahyangi janazah, lalu saya menghafal-kan sesuatu dari
doanya, yaitu beliau s.a.w. mengucapkan – yang
artinya:
“Ya Allah, ampunilah ia dan belas kasihanilah.selamatkanlah ia dan
maafkanlah, muliakanlah tempat kediamannya – dalam kubur
– dan luaskanlah tempat masuknya, bersihkanlah ia dengan air, salju
dan embun, bersihkanlah ia dari kesalahan-kesalahannya sebagai-
mana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran, berilah ia
ganti berupa perumahan yang lebih baik dari perumahannya – di
dunia juga ganti keluarga yang lebih baik dari keluarganya-di dunia
– serta kawinkanlah ia dengan suami – atau isteri – yang lebih baik dari
suami – atau isterinya – di dunia. Masukkanlah ia dalam syurga dan
lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka.”
‘Aufa berkata: “Sehingga saya mengharapkan hendaknya sayalah yang
menjadi mayit ketika itu.” (Riwayat Muslim)

933. Dari Abu Hurairah, Abu Qatadah dan Abu Ibrahim a|-Asyhali dari
ayahnya dan ayahnya adalah seorang sahabat, radhi- allahu ‘anhum dari Nabi
s.a.w. bahwasanya beliau menyembahyangi janazah, lalu mengucapkan – yang
artinya:
“Ya Allah, ampunilah untuk yang masih hidup dan yang telah mati dari kita,
yang kecil dan yang besar – maksudnya yang muda dan yang tua, yang lelaki dan
yang perempuan, yang hadhir ini dan yang tidak hadhir. Ya Allah, barangsiapa
yang Engkau hidupkan di antara kita, maka hidupkanlah dengan menetapi
Agama Islam dan barang-yang Engkau matikan dari kita, maka matikanlah
dengan menetapi keimanan. Ya Allah, janganlah menghalang-halangi kita
untuk memperoleh pahala sebab mendapatkan mushibah ditinggalkan mayit
ini dan jangan ada fitnah sepeninggalnya.” Diriwayatkan oleh Imam
Termidzi dari riwayat Abu Hurairah dan al-Asyhali. Juga diriwayatkan
oleh Imam Abu Dawud dari riwayat Abu Hurairah dan Abu Qatadah.
Imam Hakim berkata: Hadis Abu Hurairah ini shahih menurut syaratnya
Imam-imam bukhari dan Muslim.” Imam Termidzi berkata: “Imam
Bukhari berkata: “Selengkap-lengkap riwayat-riwayat Hadis dalam bab ini
ialah riwayatnya al-Asyhali.” Imam Bukhari berkata: “Sebagus-bagus Hadis
dalam bab ini ialah Hadisnya ‘Auf bin Malik.

934. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar rasulullah
s.a.w. bersabda: “Jikalau engkau semua menyembahyangi mayit, maka bersikap ikhlaslah
dalam mengucapkan doa untuk mayit itu.” (Riwayat Abu Dawud)

935. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. perihal doa
menyembahyangi janazah, yaitu – yang artinya: “Ya Allah, Engkau adalah
Tuhan janazah ini, Engkau pula yang menciptakannya, Engkau
memberikannya petunjuk untuk memeluk Agama Islam. Engkau mencabut
ruhnya dan Engkau lebih mengetahui perihal rahasia dan apa yang kelihatan
daripada dirinya. Kita semua datang menghadapMu untuk memohonkan
syafaat padanya. Maka dari itu ampunilah janazah ini.” (Riwayat Abu Dawud)

936. Dari Watsilah bin al-Asqa’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
menyembahyangi janazah seorang lelaki dari kaum Muslimin beserta kita,
lalu saya mendengar beliau s.a.w. mengucapkan – yang artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya Fulan anak Fulan ini adalah dalam tanggunganMu
dan ikatan keamananMu, maka dari itu lindungilah ia dari fitnah kubur dan
siksanya. Engkau adalah ahli dalam menetapi janji dan memiliki pujian. Ya
Allah, maka ampunilah ia, belas kasihanilah, sesungguhnya Engkau adalah
Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Riwayat Abu Dawud)

937. Dari Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu ‘anhuma, bahwa-sanya ia
bertakbir untuk menyembahyangi janazah anak perem-puannya, lalu ia berdiri
sesudah takbir keempat seperti kadar waktu berdirinya antara dua takbir,
kemudian ia berkata: “Rasulullah s.a.w. melakukan sedemikian ini.” Dalam riwayat lain disebutkan: Abdullah bin Abu’Aufa bertakbir yang
keempat kalinya, lalu berdiam diri sebentar, sehingga saya mengira bahwa ia
akan bertakbir untuk kelima kalinya, kemudian bersalam menoleh kesebelah
kanannya lalu kesebelah kirinya. Setelah ia selesai bersembahyang,kitapun
bertanya padanya: “Apa-kah artinya itu tadi? – maksudnya antara takbir
keempat dengan salam, mengapa lama sekali? la menjawab: “Sesungguhnya
saya tidak akan menambahkan untukmu semua melebihi dari apa yang saya
lihat dari Rasulullah s.a.w. sebagaimana yang beliau lakukan,” atau ia berkata:
“Memang demikian itulah yang dikerjakan oleh Rasulullah s.a.w.”
Diriwayatkan oleh Imam Hakim dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis
shahih.

Bab 158

Menyegerakan Mengubur janazah

938. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Segerakanlah mengubur janazah itu. Jikalau ia baik, maka
itulah suatu kebaikan yang engkau semua berikan padanya, sedang
jikalau ia selain yang sedemikian – yakni janazah buruk, maka itulah
suatu kejelekan yang engkau semua letakkan pada leher-lehermu
semua.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: fa khairun tuqaddi-munaha
‘alaih – Jadi ilaihi diganti ‘alaihi.

939. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Jikalau janazah itu tetah diletakkan – dalam usungan atau pendosa – lalu
orang-orang lelaki membawanya di atas leher-leher mereka – untuk
dimakamkan dalam kubur. Maka jikalau janazah itu seorang yang shalih, iapun berkatalah: “Dahulukanlah aku -maksudnya segerakanlah dalam
menguburkan janazahku karena ingin segera mengetahui kerahmatan Allah
dalam kubur itu. Tetapi jikalau janazah itu tidak shalih, maka ia berkata kepada
keluarganya: “Aduhai celaka diriku, ke manakah engkau semua hendak pergi
membawa janazahku ini?” Suaranya itu didengar oleh setiap benda, melainkan
manusia dan andaikata manusia itu dengar, niscayalah ia akan tidak sadarkan
diri – atau akan mati sekali.” (Riwayat Bukhari)
Bab 159

Menyegerakan Mengembalikan Hutangnya Mayit
Dan Menyegerakan Dalam Merawatnya, Kecuali
Kalau Mati Secara Mendadak, Maka Perlu Dibiarkan
Dulu Sehingga Dapat Diyakinkan Kematiannya

940. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Diri seorang mu’min itu
tergantung karena hutangnya, sehingga hutangnya itu dilunaskan.” Maksudnya
bahwa urusannya itu masih tidak dapat diselesaikan,apakah ia selamat dari siksa
atau akan binasa karena siksa. la tetap ditahan sampai hutangnya dipenuhi oleh
keluarganya yang masih hidup.
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa, ini adalah
Hadis hasan.

941. Dari Hushain bin Wahwah r.a. bahwasanya Thalhah bin al-Bara’ r.a.
sakit, lalu didatangi oleh Nabi s.a.w. perlu meninjaunya kemudian beliau s.a.w.
bersabda: “Sesungguhnya saya tidak melihat Thalhah ini, melainkan ia sudah
meninggal dunia. Maka dari itu, semestinya beritahukanlah hal itu padaku dan
segerakanlah memberikan perawatan padanya -sampai dimakamkan, sebab
sesungguhnya saja tidak patut bagi mayatnya seseorang Muslim itu kalau
ditahan di antara keluarga-nya,” maksudnya kalau mati siang, kuburkanlah
pada siang itu juga, demikian pula kalau malam, juga kuburkanlah pada malam
itu juga. (Riwayat Abu Daud)

Bab 160
Memberikan Nasihat Di Kubur

942. Dari Ali r.a., katanya: “Kita semua sedang mengantarkan seorang
janazah ke makam Baqi’ al-Gharqad, lalu kita didatangi oleh Rasulullah s.a.w.,
kemudian beliau s.a.w. duduk dan kitapun duduk di sekelilingnya. Beliau
s.a.w. membawa sebuah tongkat – yang lengkung kepalanya – lalu beliau
menundukkan kepalanya dan mulai membuat garis-garis halus – di bumi –
dengan tongkatnya itu. Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:
“Tiada seorangpun dari engkau semua itu, melainkan sudah ditentukan tempat
duduknya dari neraka dan tempat duduknya dari syurga.” Para sahabat lalu
berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita tidak boleh menyandarkan diri kita pada
catatan kita itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Beramallah, karena setiap orang itu
dipermudahkan jalannya untuk apa yang ia diciptakan untuknya” – maksudnya
ialah jikalau memang ditakdirkan baik, maka mudah sekali orang itu
melakukan kebaikan, sedang jikalau ditakdirkan jelek, maka mudah pula
meiakukan kejelekan. Selanjutnya Ali r.a. menyebutkan Hadis ini sampai habis.
(Muttafaq ‘alaih)

Bab 161

Berdoa Untuk Mayit Sesudah Dikuburkan Dan
Duduk Di Sisi Kuburnya Sebentar Untuk
Mendoakannya Serta Memohonkan Pengampunan
Untuknya Dan Untuk Membaca — Al-Quran

943. Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan Abu Abdillah dan ada pu!a
yang mengatakan Abu Laila, yaitu Usman bin Affan r.a. katanya: “Rasulullah
s.a.w. itu apabila telah selesai dari menanam mayit, lalu beliau berdiri atas
kuburnya dan bersabda:
“Mohonkanlah pengampunan untuk saudaramu semua ini dan
mohonkanlah untuknya supaya dikarunia ketetapan – jawaban ketika
ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir nanti. Sebab sesungguhnya ia
sekarang ini ditanya – oleh dua malaikat itu.”(Riwayat Abu Dawud)

944. Dari ‘Amr bin al-‘Ash r.a., katanya: “Jikalau engkau semua telah
memakamkan saya, maka berdirilah di sekitar kuburku sekedar selama waktu
menyembelih seekor unta lalu dibagi-bagikan dagingnya, sehingga saya
dapat merasa tenang bertemu dengan engkau semua dan saya dapat memikirkan apa-apa yang akan saya jawabkan kepada utusan-utusan Tuhanku –
yakni malaikat yang akan menanyakan sesuatu.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis ini sudah diuraikan
selengkapnya yang panjang di muka – lihat Hadis no. 709.
Imam as-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Disunnahkan kalau di sisi mayit yang sudah dikuburkan itu dibacakan
sesuatu dari ayat-ayat al-Quran dan jikalau dapat di-khatamkan al-Quran itu
seluruhnya, maka hal itu adalah baik.”

Bab 162

Sedekah Untuk Mayit Dan Mendoakan Padanya

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu – yakni yang datang sesudah
orang-orang yang dahulu – sama mengucapkan: “Ya Tuhan kita, ampunilah kita semua
serta saudara-saudara kita yang telah mendahului kita dengan keimanan,” (al-
Hasyr:10)
945. Dari Aisyah radhiallahu anha bahwasanya ada seorang lelaki berkata
kepada Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya ibuku itu meninggal dunia secara
mendadak dan saya mengira andaikata ia dapat berbicara tentu ia akan
bersedekah. Adakah ibuku akan memperoleh pahala jikalau saya bersedekah
untuknya?” Beliau s.a.w. bersabda: “Ya.” (Muttafaq ‘alaih)
946. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang manusia itu meninggal dunia, maka ter-putuslah
amalannya melainkan dari tiga perkara,yaitu sedekah yang mengalir atau ilmu
pengetahuan yang dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang shalih-lagi
Muslim-yang mendoakan padanya.” (Riwayat Muslim)

Bab 163
Pujian Orang-orang Pada Mayit

947. Dari Anas r.a., katanya: “Orang-orang berjalan melalui Nabi s.a.w.
dengan membawa seorang janazah dan mereka itu memuji-muji kebaikan
janazah tadi, lalu Nabi s.a.w. bersabda: “Wajiblah.” Tidak lama kemudian ada
lagi orang-orang yang berjalan dengan membawa seorang janazah yang lain
dan mereka menyebutkan keburukan janazah itu jalu Nabis.a.w. bersabda
lagi: “Wajiblah.”
“Umar bin al-Khaththab r.a. lalu bertanya: “Apakah yang wajib?” Beliau
s.a.w. menjawab: “Yang itu tadi engkau semua puji-puji kebaikannya, maka
wajiblah janazah itu mendapatkan syurga, sedang yang ini tadi engkau semua
sebut-sebutkan keburukannya, maka wajiblah ia mendapatkan neraka. Engkau
semua adalah saksi-saksi Allah di bumi.” (Muttafaq ‘alaih)

948. Dari Abul Aswad, katanya: “Saya datang di Madinah lalu saya
duduk di tempat Umar bin al-Khaththab r.a., kemudian berlalulah
seorang janazah di muka orang banyak, lalu dipujilah kebaikan orang
yang mati itu. Umar r.a. berkata: “Wajiblah.” Seterusnya ada pula
janazah lain yang melaluinya, mayit inipun dipuji-puji juga
kebaikannya, maka berkatalah Umar r.a.: “Wajiblah.” Selanjutnya
berlalulah untuk ketiga kalinya seorang janazah dan disebut-
sebutkanlah keburukannya, maka berkatalah Umar r.a.: “Wajiblah.”
Abul Aswad berkata: “Saya lalu bertanya: “Apakah yang wajib, ya
Amirul Mu’minin?” Umar r.a. berkata: “Saya mengatakan se-bagaimana yang disabdakan oleh Nabi s.a.w.: “Mana saja orang Muslim yang
disaksikan oleh empat orang tentang kebaikannya, maka Allah akan
memasukkannya dalam syurga.” Kami bertanya: “Jikalau yang
menyaksikan tiga orang?” la berkata: “Tiga orangpun demikian pula.”
Kami bertanya lagi: “Jikalau hanya dua orang, bagaimanakah?” la
menjawab: “Dua orangpun dapat pula.” Selanjutnya kami tidak
menanyakannya bagaimana kalau yang menyaksikan itu hanya seorang
saja.” (Riwayat Bukhari)

Bab 164
Keutamaan Orang Yang Ditinggal Mati Oleh Anak-
anaknya Yang Masih Kecil

949. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang
Muslimpun yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya dan mereka itu
belum mencapai usia dewasa-yakni belum baligh, melainkan Allah akan
memasukkannya dalam syurga dengan keutamaan kerahmatan Allah
kepada anak-anak itu.” (Muttafaq ‘alaih)

950. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorangpun dari golongan kaum Muslimin yang ditinggal mati oleh
tiga orang anaknya, yang akan disentuh oleh api neraka*, melainkan sekedar
menebus persumpahan – tahillatul-qasam,” (Muttafaq ‘alaih)
Tahillatul-qasam ialah firman Allah Ta’ala: “Dan tiada seseorangpun
dari engkau semua, melainkan pasti akan mendatangi neraka itu.” (Maryam: 71) Maksudnya mendatangi neraka itu ialah menyeberang di atas jembatan –
ashshirath – yakni sebuah jembatan yang diletakkan di atas punggung neraka
Jahanam. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari siksa api neraka
Jahanam ini.

951. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Ada seorang wanita datang kepada
Rasulullah s.a.w. lalu berkata: “Ya Rasulullah, orang-orang lelaki sudah sama
pergi dengan memperoleh Hadis Tuan, maka dari itu berikanlah untuk kita
dengan penetapan dari Tuan sendiri yaitu suatu hari yang kita – kaum wanita
– akan men-datanginya, perlunya supaya Tuan mengajarkan kepada kita dari
apa saja yang diajarkan oleh Allah kepada Tuan. Nabi s.a.w. lalu bersabda:
“Berkumpullah engkau semua – hai kaum wanita – pada hari ini.” Mereka lalu
berkumpul, kemudian didatangilah mereka itu oleh Nabi s.a.w., lalu beliau
s.a.w. mengajarkan kepada mereka itu dari apa-apa yang diajarkan oleh Allah
padanya dan selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: “Tiada seorang dari engkau
semua yang mempersembahkan tiga orang anak – maksudnya yang ditinggal
mati oleh tiga orang anaknya, melainkan anak-anak itulah yang akan menjadi
sebagai tabir bagi wanita ttu dari siksa api neraka.” Ada seorang wanita
bertanya: “Dan kalau hanya dua anak, apakah dapat menjadi tabir.” Rasulullah
s.a.w. menjawab: “Dua orang anakpun dapat pula.” (Muttafaq ‘alaih)
* Maksudnya bahwa orang itu tidak akan disentuh oleh neraka, melainkan
dalam waktu yang amat sebentar sekali. Inipun kalau ada dosa yang
mengharuskan ia perlu disiksa dalam neraka di akhirat nanti.
Bab 165
Menangis Serta Takut Di Waktu Melalui Kubur-kuburnya
Orang-orang Yang Menganiaya — Dirinya Karena Enggan
Mengikuti Kebenaran — Dan Tempat Turunnya Siksa Pada
Mereka Itu Serta Menunjukkan Iftiqar Kita Kepada Allab —
Yakni Bahwa Kita Amat Memerlukan Bantuan Dan
Pertolongannya — Dan Pula Menakut-nakuti Dari
Melalaikan Yang Tersebut Di Atas Itu
952. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda kepada sahabat-sahabatnya, yaitu se-waktu mereka sampai di Hijir
yakni perumahan kaum Tsamud dahulu:
Janganlah engkau semua memasuki tempat orang-orang yang disiksa itu,
melainkan engkau semua menangis. Jikalau engkau semua tidak dapat
menangis di situ, maka janganlah memasuki tempat mereka, sehingga tidak
akan mengenai kepadamu semua apa yang pernah mengenai diri mereka itu.”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam sebuah riwayat lain, disebutkan:
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Ketika Rasulullah s.a.w.
berjalan melalui Hijir, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua memasuki tempat kediamannya orang-orang
yang menganiaya diri mereka sendiri itu, kalau-kalau akan mengenai kepadamu semua sebagaimana apa yang pernah mengenai diri mereka – yakni
siksa Allah Ta’ala, melainkan jikalau engkau semua dapat menangis.”
Seterusnya beliau s.a.w. menutupi kepalanya dengan kain penutup dan
mempercepat jalannya sehingga beliau s.a.w. melewati lembah Hijir tadi.

Bab 166

Kitab Adab-adab Kesopanan
Bepergian

Sunnahnya Keluar Pada Hari
Kamis Dan Sunnahnya Pergi Di
Permulaan Siang Hari
953. Dari Ka’ab bin Malik r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. keluar pada hari
peperangan Tabuk pada hari Kamis. Beliau s.a.w. itu memang suka sekali
keluar bepergian pada hari Kamis. (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat kedua
kitab shahih Bukhari dan Muslim disebutkan:
“Niscayalah sedikit sekali -yakni jarang benar- Rasulullah s.a.w. itu keluar
bepergian, melainkan pada hari Kamis.”

954. Dari Shakhr bin Wada’ah al-Ghamidi as-Shahabi r.a. bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada ummatku pada waktu pagi
harinya.”
Rasulullah s.a.w. apabila hendak mengirimkan suatu pasukan -yang beliau
s.a.w. sendiri tidak menyertainya – atau hendak mengirimkan tentara – untuk peperangan, maka beliau s.a.w. mengiririmkannya – yakni diberangkatkan – di
permulaan siang hari -jadi pagi-pagi sekali.
Shakhr adalah seorang pedagang. la mengirimkan dagangannya itu selalu
di permulaan siang hari, maka menjadi kayalah ia dan meluaplah serta
banyaklah hartanya.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Bab 167

Sunnahnya Mencari Kawan ~ Dalam Bepergian —
Dan Mengangkat Seorang Di Antara Yang Sama-sama
Pergi Itu Sebagai Pemimpin Mereka Yang Harus
Diikuti Oleh Peserta-peserta Perjalanan Itu

955. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma.katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:”Andaikata para manusia itu mengetahui – bencana-bencana
keduniaan dan keakhiratan – dengan sebab bepergian sendirian
sebagaimana yang dapat saya ketahui, niscayalah tidak akan ada seorang
pengendara yang pergi di waktu malam sendirian saja.” (Riwayat Bukhari)

956. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari nenek lelakinya r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Seorang yang berkendaraan sendirian – maksudnya pergi seorang diri
tanpa kawan – adalah seperti cara perginya syaitan, dua orang yang
berkendaraan – yakni pergi berduaan – adalah seperti cara perginya dua
syaitan, sedang tiga orang yang sama-sama bepergian adalah sepasukan dalam
perjalanan,” yang dapat bantu-membantu dan ini adalah baik serta tidak seperti
cara perginya syaitan. Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud, Termidzi dan Nasa’i
dengan isnad-isnad shahih dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

* Orang yang berkendaraan atau bahasa Arabnya Arrakib, menurut asalnya
berarti orang yang menaiki unta, tetapi lalu digunakan secara umum untuk
setiap orang yang pergi berkendaraan. Maksud Hadis ini ialah bahwasanya
menyendiri di waktu bepergian itu adalah termasuk kelakuan syaitan atau
merupakan sesuatu yang menyebabkan mudah digoda oleh syaitan itu. Jadi
Hadis ini adalah sebagai anjuran,agar supaya dalam bepergian itu senantiasa
berkawan dengan orang lain, sedikitnya berjumlah tiga orang.

957. Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau ada tiga orang yang keluar dalam bepergian, maka hendaklah
mereka mengangkat seseorang di kalangan mereka sendiri itu untuk menjadi
pemimpinnya.”
Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad
hasan.

958. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Sebaik-baik sahabat itu empat orang, sebaik-baik pasukan itu ialah empat
ratus orang, sebaik-baik tentara – induk pasukan – itu ialah empa tribu orang
dan jumlah duabelas ribu orang itu tidak akan terkalahkan dengan sebab sedikitnya.” Jadi kalau kalah, tentulah karena Iain-Iain, seperti timbulnya
kesombongan, lembeknya semangat atau sebab-sebab lain lagi.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Bab 168

Adab-adab Kesopanan Perjalanan, Turun, Menginap Dan
Tidur Dalam Bepergian, Juga Sunnahnya Berjalan Malam,
Belas-kasihan Pada Binatang-binatang Menjaga
Kemaslahatan-kemaslahatan Binatang-binatang Tadi
Serta Menyuruh Orang Yang Teledor
Membehkan Hak Binatang-binatang Tadi Supaya
Memberikan Haknya Dan Bolebnya Naik Di Belakang
Di Atas Binatang Kendaraan, Jikalau Binatang itu Kuat
Dinaiki — Sampai Dua Orang

959. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Jikalau engkau semua bepergian melalui tempat yang subur, maka
berikanlah pada unta itu akan haknya dari bumi – yakni berikanlah ia
kesempatan makan secukupnya. Tetapi jikalau engkau semua bepergian melalui
tempat yang tandus, maka percepatkanlah binatang-binatang itu untuk segera
dapat sampai di tempat tujuan-nya sebelum kehabisan sumsumnya – yakni
sebelum kehabisan tenaga karena sukarnya perjalanan. Jikalau engkau semua bermalam di jalanan, maka jauhilah menempati
tempat lalu lintas, sebab tempat-tempat itu memang untuk jalannya segala
macam binatang dan juga tempat tinggalnya binatang-binatang yang merayap
di waktu malam.” (Riwayat Muslim)
Makna A’thul ibila hazhzhaha minal ardhi ialah belas kasihani-unta itu dalam
perjalanannya supaya dapat pula sambil makan-makan di kala melakukan
perjalanannya. Sabdanya niqyaha, dengan kasrahnya nun dan sukunnya qaf dan
dengan ya’ mutsannat di bawah – titik dua di bawah – artinya ialah
sumsum. Adapun maksudnya ialah: “Percepatkanlah berjalan dengan
binatang itu sehingga segera sampai di tempat yang dituju sebelum lenyap
Sumsumnya – yakni sebelum kehabisan tenaga – karena sukarnya perjalanan
yang ditempuh. Adapun Atta’ris artinya ialah turun mengjnap di waktu
malam.

960. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila
bepergian lalu menginap di waktu malam, beliau s.a.w. berbaring pada sebelah
kanan tubuhnya dan jikalau tidur sebelum hampir waktu subuh, maka beliau
s.a.w. menegakkan lengan tangan dan meletakkan kepalanya di atas tapak
tangannya itu.” (Riwayat Muslim)
Para alim ulama berkata: “Hanyasanya beliau s.a.w. itu menegakkan lengan
tangannya tadi agar supaya tidak tenggelam dalam tidurnya – yakni terlampau
nyenyak – sehingga akan terlambat bangun untuk shalat subuh melewati
waktunya atau melewati permulaan waktunya.”
961. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hendaklah engkau
semua bepergian di waktu malam, sebab sesungguhnya bumi itu dilipat di
waktu malam itu.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
Adduljah ialah berjalan di waktu malam.

962. Dari Abu Tsa’labah r.a., katanya: “Orang-orang itu apabila turun di
suatu ternpat berhenti, mereka suka berpisah-pisah di lereng-lereng dan
lembah-lembah. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya berpisah-pisahmu di lereng-lereng dan lembah-lembah ini,
hanyasanya itu adalah dari cara yang dilakukan syaitan.
Maka tidak lagi sesudah itu mereka turun berhenti di sesuatu tempat
melainkan yang sebagian berkumpul dengan sebagian yang ‘lain.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

963. Dari Sahl bin ‘Amr, ada yang mengatakan Sahl bin ar-Rabi’
‘Amral-Anshari yang terkenal dengan nama Ibnul Hanzaliyah. la adalah
golongan orang-orang yang ikut menyertai Bai’atur Ridhwan r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. berjalan melalui seekor unta yang punggungnya telah
menempel dengan perutnya-yakni sudah lelah dan tampak lapar serta kurus
sekali, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Takutlah engkau semua kepada Allah dalam memelihara binatang-
binatang yang bisu ini. Naikilah ia dengan baik-baik dan makanlah ia dengan
baik-baik pula.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

964. Dari Abu Ja’far yaitu Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhuma,
katanya: “Saya dinaikkan oleh Rasulullah s.a.w. di belakangnya – di atas punggung seekor binatang kendaraan – pada suatu hari dan beliau
memberitahukan sesuatu pembicaraan kepada saya secara rahasia yang tidak
akan saya beritahukan kepada siapapun juga di antara seluruh manusia ini.
Sesuatu yang paling disenangi oleh Rasulullah s.a.w. untuk dijadikan sebagai
tabirnya di waktu membuang hajatnya ialah sesuatu yang tinggi-tanah
ataupun pasir – juga kumpulan pohon kurma yang rimbun. ]adi semacam
dinding yang terdiri dari pohon-pohon kurma.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim demikian ini secara ikhtisar.
Al-Barqani menambahkan di situ, dengan isnad Imam Muslim
sebagaimana yang di belakang ini sesudah ucapannya kumpulan pohon-pohon
kurma: “Lalu beliau s.a.w. memasuki dinding milik seorang lelaki dari
golongan sahabat Anshar, tiba-tiba di situ ada seekor unta. Setelah Rasulullah
s.a.w, melihatnya, maka unta itupun meringik – atau merintih – dan kedua
matanya melelehkan airmata. la lalu didatangi oleh Nabi s.a.w. kemudian
diusaplah puncak punggungnya -yakni punuknya -dan pula tengkuknya-
yang dekat telinganya, selanjutnya unta itupun berdiamlah. Setelah itu beliau
s.a.w. bertanya: “Siapakah yang memiliki unta jni? Siapakah yang mempunyai
unta ini?” Lalu datanglah seorang pemuda dari golongan sahabat Anshar dan
ia berkata: “Ini adalah kepunyaan saya, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu
bersabda: “Tidakkah engkau takut kepada Allah dalam memelihara binatang
ini yang telah diserahkan oleh Allah untuk menjadi milikmu. Unta itu
mengadu kepada saya bahwa engkau membiarkannya ia lapar dan membuat ia
amat lelah.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud sebagaimana riwayatnya al-Barqani.
Ucapannya: dzifrahu, dengan kasrahnya dzal mu’jamah dan Sukunnya fa’,
ini adalah lafaz mufrad muannats. Ahlullughah berkata: Adzdzifra ialah tempat
yang berpeluh dari unta yang terletak di belakang telinga. Adapun tud-ibuhu
artinya ialah engkau membuatnya sangat lelah.
965. Dari Anas r.a., katanya: “Kita semua apabila turun di suatu tempat
pemberhentian, maka kita tidak akan bertasbih dulu -maksudnya tidak
melakukan shalat sunnah dulu – sehingga kita lepaskan beban-beban itu – dari
punggung unta.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad menurut syaratnya
Imam Muslim.
Ucapannya: Ia nusabbihu artinya ialah kita tidak bersembahyang sunnah dulu,
sedang maksudnya ialah bahwa sekalipun kita gemar sekali melakukan shalat,
namun demikian kita tidak akan men-ahulukan melakukannya sebelum
menurunkan beban-beban itu dari punggung binatang serta
mengistirahatkannya.

Bab 169
Menolong Kawan

Dalam bab ini ada beberapa Hadis ang banyak sekali dan sudah terdahulu
uraiannya, seperti Hadis – yang artinya: “Dan Allah itu selalu memberikan
pertolongan kepada hambaNya, selama hamba itu memberikan pertolongan
kepada saudaranya,” lihat Hadis no. 245 – dan juga seperti Hadis – yang artinya:
“Setiap perbuatan baik itu adalah sedekah,” lihat Hadis no. 134 – dan Iain-lain
Hadis yang menyerupainya.

966. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Pada suatu ketika ;kita sedang
bepergian, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang naik di atas
kendaraannya,lalu ia menolehkan pandangannya kesebelah kanan dan kiri.
Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang kelebihan kendaraan,
maka hendaklah mempereratkan persaudaraan kepada orang yang tidak
mempunyai kendaraan dan barangsiapa yang mempunyai kelebihan bekal,
maka hendaklah ra mempereratkan persaudaraan kepada orang yang tidak
mempunyai bekal lagi.” Selanjutnya beliau s.a.w. menyebutkan berbagai macam
harta sekehendak yang beliau sebutkan, sehingga kita semua meyakinkan
bahwasanya siapapun juga di kalangan kita itu tidak mempunyai hak terhadap
apa-apa yang sudah kelebihan dari yang diperlukan. (Riwayat Muslim)
967. Dari Jabir r.a. dari Rasulullah s.a.w. bahwasanya beliau sa.w. hendak
berangkat berperang, lalu bersabda:
Hai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, sesungguhnya di antara saudara-
saudaramu ini ada suatu kaum yang mereka itu tidak mempunyai harta dan pula
tidak mempunyai keluarga, maka dari itu Seseorang di antara engkau semua
hendaklah menggabungkan pada dirinya dua orang atau tiga orang lagi –
maksudnya yang tidak mampu itu diberi segala pembiayaannya dalam
peperangan. Maka tiada seorangpun dari kita yang mempunyai kendaraan
yang dapat digunakan untuk membawanya – yakni untuk kenaikannya dalam
perjalanan, melainkan sama gilirannya seperti giliran yang lain – jadi kalau yang
mempunyai kendaraan itu naik selama sejam, maka orang miskin yang
digabungkan itupun dapat menaiki selama sejam pula. Jabir berkata: “Saya
menggabungkan pada diriku sebanyak dua atau tiga orang. Jadi gilirannya
naik untaku tiada lain kecuali sama antara giliran yang satu dengan
orang lain. (Riwayat Abu Dawud)

968. Dari Jabir r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. selalu membelakang di
waktu dalam perjalanan, maka beliau membimbing orang yang lemah dan
menaikkan di belakangnya – dalam kendaraan yang dinaikinya, juga mendoakan
padanya.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

Bab 170

Apa-Apa Yang diucapkan apabila seseorang itu menaiki
kenderaannya utk berpergian.

Allah Ta’ala berfirman:
Allah menjadikan untukmu semua kapal dan binatang ternak itu sebagai
kendaraan untukmu, agar supaya engkau semua dapat duduk di atas punggungnya,
kemudian ingatlah akan kenikmatan Tuhanmu, ketika engkau semua telah tetap di
atasnya dan supaya engkau mengucapkan – yang artinya: “Maha Suci Zat Allah yang
telah menundukkan semua ini untuk kita dan kita semua tidak dapat mengendalikannya
– kecuali dengan pertolongan Tuhan. Dan se-sungguhnya kita semua akan kembali
kepada Tuhan kita.” (az-Zukhruf: 12-14)

969. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
apabila berada di atas punggung untanya untuk keluar bepergian, maka beliau
s.a.w. itu bertakbir dulu sebanyak tiga kali, kemudian mengucapkan – yang
artinya: “Maha Suci Zat Allah yang menundukkan kendaraan ini pada kita dan
kita tidak kuasa rnengendalikannya – melainkan dengan pertolongan Allah –
dan sesungguhnya kita akan kembali kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya
kita memohonkan kepadaMu dalam bepergian kita ini akan kebajikan dan
ketaqwaan,juga apa-apa yang Engkau ridhai dari amal perbuatan. Ya Allah,
mudahkanlah segala sesuatu untuk kita dalam bepergian kita ini dan lipatlah-
dekatkanlah-mana-mana yang jauh. Engkau adalah kawan dalam perjalanan,
pengganti – yang mengawas-awasi – dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya
saya mohon perlindungan kepadaMu dari kesukaran perjalanan, ke-sedihan pandangan dan buruknya keadaan ketika kembali, baik mengenai harta,
keluarga ataupun anak.”
Selanjutnya apabila beliau s.a.w. kembali lalu mengucapkan kalimat-
kalimat di atas itu pula dan menambahkan dengan ucapan-yang artinya: “Kita
telah kembali, kita semua bertaubat – kepada Allah, menyembah kepada
Tuhan kita serta mengucapkan puji-pujian padaNya.” (Riwayat Muslim)

970. Dari Abdullah bin Sarjis r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila
bepergian, beliau s.a.w. mohon perlindungan – kepada Allah daripada
kesukaran perjalanan, kesedihan keadaan waktu kembali, adanya kekurangan
sesudah berlebihan, juga dari doa orang yang teraniaya, buruknya pandangan
dalam keluarga dan harta.”
(Riwayat Muslim)
Demikianlah yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim, yaitu Alhaur
ba’dal kaun dengan nun, demikian pula yang diriwayatkan Oleh Imam-imam
Termidzi dan Nasa’i. ImamTermidzi mengatakan: . “Ada yang meriwayatkan
dengan lafaz alkaur dengan ra’ dan keduanya itu mempunyai wajah masing-
masing.”
Para alim ulama berkata: “Maknanya dengan nun dan ra’ semuanya ialah
kembali dari ketetapan dan kelebihan menjadi kekurangan.” Mereka
mengatakan: “Riwayat ra’ – kaur – itu diambil dari kata mentakwirkan sorban
artinya ialah melipat dan mengumpulkannya, sedang riwayat nun ialah dari
kata kaun, sebagai mashdarnyakana yakunu kaunan, jikalau didapatkan
dan menetap.”

971. Dari Ali bin Rabi’ah, katanya: “Saya menyaksikan Ali bin Abu
Thalib r.a. diberi seekor kendaraan untuk dinaiki olehnya. Ketika ia
meletakkan kakinya pada sanggurdi, ia berkata – yang artinya: “Dengan nama Allah – Bismillah.” Setelah berada di punggungnya,lalu
mengucapkan -yang artinya: “Segenap puji bagi Allah yang
menundukkan kendaraan ini untuk kita dan kita tidak kuasa
mengendalikannya – tanpa pertolongan Allah. Sesungguhnya kita akan
kembali kepadaNya.” Selanjutnya ia mengucapkan – yang artinya:
“Segenap puji bagi Allah – Alhamdulillah,” tiga kali. Seterusnya
mengucapkan – yang artinya: “Allah adalah Maha Besar -Allahu Akbar,”
tiga kali. Kemudian mengucapkan pula – yang artinya: “Maha Suci
Engkau, sesungguhnya saya menganiaya diri saya sendiri, maka
berikanlah pengampunan kepada saya, sesungguhnya saja tidak ada
yang dapat memberikan pengampunan melainkan Engkau.”
Setelah mengucapkan semua itu lalu Ali r.a. ketawa. Kepadanya
ditanyakan: “Ya Amirul mu’minin, mengapa anda ketawa?” la
menjawab: “Saya pernah melihat Nabi s.a.w. mengerjakan sebagai-mana
yang saya kerjakan itu, lalu beliau s.a.w. ketawa. Saya bertanya: “Ya
Rasulullah, karena apakah Tuan ketawa?” Beliau s.a.w. menjawab:
“Sesungguhnya Tuhanmu yang Maha Suci itu merasa heran terhadap
hambaNya apabila ia mengucapkan: “Ampunkanlah untukku dosa-
dosaku,” ia mengetahui bahwasanya memang tidak ada yang kuasa
mengampuni dosa selain daripadaKu.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Termidzi dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan, sedang dalam
sebagian naskah dianggap hasan shahih. Hadis seperti di atas adalah
lafaznya Imam Abu Dawud.
Bab 171
Takbirnya Seorang Musafir jikalau Menaiki Tempat
Tinggi — Gunung-gunung — Dan Sebagainya Dan
Bertasbih jikalau Turun Ke jurang Dan Sebagainya
Serta Larangan Terlampau Sangat Dalam
Mengeraskan Suara Takbir Dan Lain-lain

972. Dari Jabir r.a., katanya: “Kita semua – di waktu bepergian -apabila naik
kita bertakbir dan apabila turun kita bertasbih.” (Riwayat Bukhari)

973. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, katanya: “Nabi s.a.w. dan
seluruh tentaranya itu apabila mendaki ke gunung-gunung, mereka
semuanya bertakbir dan apabila turun mereka bertasbih.” Diriwayatkan oleh
Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

974. Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: “Nabi s.a.w. itu apabila kembali dari
haji atau umrah, setiap kali beliau naik di atas gunung atau tanah tinggi yang
keras, beliau tentu bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan
– yang artinya: “Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu
bagiNya,juga bagiNyalah segenap kerajaan dan puji-pujian. Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kita semua kembali, kita semua bertaubat – kepada
Allah, menyembah, bersujud kepadaTuhan kita serta mengucapkan puji-pujian.
Allah menepati janjiNya, menolong hambaNya dan mengalahkan pasukan-
pasukan musuh dengan seorang diri saja.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“jikalau beliau s.a.w. kembali dari memimpin pasukan atau tentara –
dalam peperangan – atau dari haji atau umrah.”

975. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata: “Ya
Rasulullah, saya hendak bepergian, maka berikanlah wasiat pada saya!” Beliau
s.a.w. bersabda: “Hendaklah engkau tetap bertaqwa kepada Allah serta bertakbir
pada setiap berada di tempat yang tinggi.” Setelah orang itu menyingkir, beliau
s.a.w. lalu mengucapkan doa – yang artinya: “Ya Allah, lipatlah – yakni
dekatkanlah – yang jauh untuknya dan permudahkanlah untuknya dalam
perjalanannya itu.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwaini adalah
Hadis hasan.
976. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Kita semua bersama Nabi
s.a.w. dalam bepergian, lalu apabila kita semua naik di atas suatu jurang, kita
semua bertahlil serta bertakbir dan amat keraslah suara-suara kita itu.
Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: “Hai sekalian manusia, kasihanilah pada
dirimu sendiri – yakni jikalau bersuara tidak perlu keras-keras, sebab
sesungguhnya engkau semua itu bukannya berdoa kepada Tuhan yang bersifat
tuli ataupun yang tidak ada Zatnya, sesungguhnya Tuhan itu adalah beserta
engkau semua dan Dia Maha Mendengar lagi Dekat.” (Muttafaq’alaih)
Bab 172
Sunnahnya Berdoa Dalam Bepergian

977. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ber-sabda:
“Ada tiga macam doa yang mustajabah – yakni akan dikabulkan oleh Allah
Ta’ala, yang tiada disangsikan lagi akan terkabulnya, yaitu: doanya orang
yang teraniaya, doanya orang yang dalam bepergian dan doanya orang tua
terhadap anaknya.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Tetapi dalam riwayat Imam Abu
Dawud tidak terdapat kata-kata: ‘ala waladihi yakni atas anaknya.
Bab 173

Apa Yang Diucapkan Sebagai Doa apabila Seseorang Itu
Takut Kepada Orang-orang Atau Lain-lainnya

978. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu apabila
takut kepada sesuatu kaum – yakni golongan, maka beliau s.a.w. mengucapkan –
yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kita menjadikan Engkau – yakni
menjadikan perlindungan dan pen-jagaanMu – dalam leher-leher mereka –
sehingga mereka tidak kuasa memperdayakan kita – dan kita mohon
perlindungan kepadaMu dari kejahatan-kejahatan mereka.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Nasa’i dengan isnad
shahih.

Bab 174
Apa Yang Diucapkan Jikalau Seseorang Itu Menempati
Suatu Pondokan — Penginapan

979. Dari Khaulah binti Hakim radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang turun – berdiam – di suatu tempat pemondokan lalu
mengucapkan – yang artinya: “Saya mohon perlindungan dengan kalimat-
kalimat Allah yang sempurna dari kejahatannya apa saja yang diciptakan
olehNya,” maka orang itu tidak akan terkena bahaya sesuatu apapun, sehingga
ia pergi dari tempat pemondokannya yang sedemikian itu.” (Riwayat Muslim)

980. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu
apabila pergi lalu datang waktu malam, beliau s.a.w. mengucapkan -yang
artinya: “Hai bumi.Tuhanku dan Tuhanmu itu adalah Allah, saya mohon
perlindungan kepada Allah dari kejaha-tanmu dan kejahatannya apa saja yang
ada di dalam dirimu, juga kejahatannya apa saja yang diciptakan dalam
tubuhmu, bahkan kejahatannya segala sesuatu merayap di atasmu. Saya juga
mohon perlindungan denganMu – ya Allah – dari kejahatannya singa dan
manusia, ular dan kala serta dari penduduk negeri ini – yang dimaksudkan
ialah jin – serta dari yang melahirkan – maksudnya iblis yang melahirkan semua
syaitan – dan pula dari apa yang diperanak-kan olehnya – yakni syaitan-syaitan
anak iblis. (Riwayat Abu Dawud)
AI-Aswad artinya orang. At-Khathabi berkata: wa sakinul balad yaitu jin yang
mendiami bumi ini. la berkata: “Albalad – yakni negeri-dari bumi ialah yang digunakan sebagai tempat tinggalnya binatang dan sekalipun di situ tidak ada
bangunan atau rumah-rumah.” la berkata lagi: “Dapat diperkirakan bahwa
maksudnya Alwalid – yang melahirkan – ialah iblis, sedang mawalad – apa-apa
yang dilahirkan olehnya” ialah syaitan-syaitan.

Bab 175

Sunnahnya Mempercepatkannya Seorang Musafir
Untuk Pulang Ke Tempat Keluarganya, jikalau Sudan
Menyelesaikan Keperluannya

981. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bepergian itu sepotong – yakni sebagian – dari siksa. Seseorang akan
terhalang untuk makannya, minumnya serta tidurnya – sebab tidak dapat tertib
seperti di rumah. Maka dari itu, apabila seseorang di antara engkau semua telah
menyelesaikan maksud tujuannya, hendaklah segera kembali ke tempat
keluarganya.”
(Muttafaq ‘alaih)
Bab 176

Sunnahnya Datang Di Tempat Keluarganya Di Waktu
Siang Dan Makruhnya Datang Di Waktu Malam,
Jikalau Tidak Ada Keperluan Penting

982. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau
seseorang di antara engkau semua itu telah lama tidak ada-yakni lama
dalam bepergian, makajanganlah datang di tempat keluarganya di waktu
malam.”Dalam riwayat lain disebutkan: “Bahwasanya Rasulullah s.a.w.itu
melarang kalau seseorang lelaki itu datang di tempat keluarganya- dari
bepergian – di waktu malam.” (Muttafaq ‘alaih)

983. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu tidak pernah datang
di tempat keluarganya di waktu malam. Beliau s.a.w. datang di tempat
mereka di waktu pagi atau petang.” (Muttafaq ‘alaih)
Aththuruq ialah datang di waktu malam.

Bab 177
Apa Yang Diucapkan Apabila Seseorang Musafir Itu
Telah Kembali Dan Apabila Telah
Melihat Negerinya
Dalam bab ini termasuklah Hadis Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma
yang terdahulu mengenai bab takbirnya seorang musafir jikalau menaiki
gunung-gunung atau tempat-tempat yang tinggi.
984. Dari Anas r.a., katanya: “Kita datang – dari perjalanan –
bersama Nabi s.a.w.,sehingga di waktu kita sudah berada di luar kota
Madinah, lalu beliau s.a.w. mengucapkan – yang artinya: “Kita
semua telah kembali, kita semua bertaubat – kepada Allah, me-
nyembah serta mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan kita.”
Beliau s.a.w. tidak henti-hentinya mengucapkan sedemikian itu,
sehingga kita datang di Madinah.”(Riwayat Muslim)
Bab 178
Sunnahnya Orang Yang Baru Datang — Dan
Bepergian — Supaya Masuk Masjid Yang Berdekatan
Dengan Tempatnya Lalu Bersembahyang Dua Rakaat
Di Dalam Masjid Itu

985. Dari Ka’ab bin Malik r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu apabila
datang dari bepergian lalu memulai dengan memasuki masjid, kemudian
bersembahyang dua rakaat di dalamnya.” (Muttafaq ‘alaih) Bab 179
Haramnya Wanita Bepergian Sendirian

986. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak halal-yakni haram-bagi seseorang wanita yang beriman
kepada Allah dan hari penghabisan, kalau ia bepergian sejauh jarak sehari
semalam, melainkan wajib disertai orang yang menjadi mahramnya.”
(Muttafaq ‘alaih)

987. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia men-dengar
Nabi s.a.w. bersabda:

“Janganlah seseorang lelaki itu menyendiri dengan seseorang wanita,
melainkan wanita itu wajiblah disertai oleh orang yang menjadi mahramnya,
juga janganlah seseorang wanita itu pergi, melainkan ia wajiblah disertai orang
yang menjadi mahramnya.”
Ada seorang lelaki berkata: “Sesungguhnya isteri saya hendak keluar untuk
beribadat haji, sedang saya telah dicatat diriku untuk mengikuti peperangan ini
dan ini?” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Pergilah berhaji dengan isterimu.”
(Muttafaq ‘alaih)

Bab 180

Kitab Fadhail (Berbagai Fadhilah Atau Keutamaan)
Keutamaan Membaca Al-Quran
988. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang
pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat – yakni
pertolongan – kepada orang-orang yang mempunyainya.” (Riwayat Muslim)
Maksudnya mempunyainya ialah membaca al-Quran yang di-lakukan
dengan mengingat-ingat makna dan kandungannya lalu mengamalkan isinya,
mana-mana yang merupakan perintah dilaku-kan dan yang merupakan
larangan dijauhi.
989. Dari an-Nawwas bin Sam’an r.a., katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Al-Quran itu akan didatangkan pada hari kiamat nanti, demi-kian
pula ahli-ahli al-Quran yaitu orang-orang yang mengamalkan al-Quran
itu di dunia, didahului oleh surat al-Baqarah dan surat ali-lmran.
Kedua surat ini menjadi hujah untuk keselamatan orang yang
mempunyainya-yakni membaca, memikirkan dan mengamalkan.
(Riwayat Muslim)

990. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sebaik-baik engkau semua ialah orang yang mempelajari al-Quran
dan mengajarkannya pula.” (Riwayat Bukhari)

991. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Orang yang membaca al-Quran dan ia sudah mahir dengan
bacaannya itu, maka ia adalah beserta para malaikat utusan Allah yang
mulia lagi sangat berbakti, sedang orang yang membacanya al-Quran
dan ia berbolak-balik dalam bacaannya-yakni tidak lancar – juga merasa
kesukaran di waktu membacanya itu, maka ia dapat memperoleh dua
pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

992. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Perumpamaan orang mu’min yang suka membaca al-Quran ialah
seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanyapun enak dan
perumpamaan orang mu’min yang tidak suka membaca al-Quran ialah
seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun
perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah
seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan
perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah
seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.”
(Muttafaq ‘alaih)

993. Dari Umar bin al-Khaththab r.a. bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan
adanya kitab al-Quran ini – yakni orang-orang yang beriman – serta
menurunkan derajatnya kaum yang Iain-Iain dengan sebab al-Quran itu
pula – yakni yang menghalang-halangi pesatnya Islam dan tersebarnya
ajaran-ajaran al-Quran itu.” (Riwayat Muslim)

994. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Tidak dihalalkanlah dengki itu, melainkan terhadap dua macam orang,
yaitu: Orang yang diberi kepandaian oleh Allah dalam hal al-Quran, lalu ia
berdiri dengan al-Quran itu – yakni membaca sambil memikirkan dan juga
mengamalkannya – di waktu malam dan waktu siang, juga seorang yang
dikaruniai oleh Allah akan harta lalu ia menafkahkannya di waktu malam dan
siang – untuk kebaikan.” (Muttafaq ‘alaih)

995. Dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a., katanya: “Ada seorang lelaki membaca surat
al-Kahfi dan ia mempunyai seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali,
kemudian tampaklah awan menutupinya. Awan tadi mendekat dan kuda itu
lari dari awan tersebut. Setelah pagi menjelma, orang itu mendatangi Nabi
s.a.w. menyebutkan apa yang terjadi atas dirinya itu. Beliau s.a.w. lalu bersabda:
“Itu adalah sakinah* – ketenangan yang disertai oleh malaikat – yang turun
untuk mendengarkan bacaan al-Quran itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam Hadisnya Zaid bin Tsabit r.a., katanya: “Saya berada di samping
Rasulullah s.a.w., lalu beliau dilutupi oleh sakinah.” Yang dimaksudkan ialah
ketenangan ketika ada wahyu turun pada beliau. Di antaranya lagi ialah
Hadisnya Ibnu Mas’ud r.a.: “Tidak jauh bahwa sakinah itu terucapkan pada lisannya Umar r.a.” Ada yang mengatakan bahwa sakinah ialah kedamaian
dan ada yang mengatakan kerahmatan.

996. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang membaca sebuah huruf dari kitabullah -yakni al-Quran, maka ia
memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan
sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim
itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu
huruf.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

997. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada sesuatu apapun dari
al-Quran – yakni tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat al-Quran yang
dihafalnya, maka ia adalah sebagai rumah yang musnah – sunyi dari
perkakas.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

998. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma dari
Nabi s.a.w., sabdanya:
“Dikatakanlah – nanti ketika akan masuk syurga – kepada orang yang
mempunyai al-Quran – yakni gemar membaca, mengingat-ingat
kandungannya serta mengamalkan isinya: “Bacalah dan naiklah derajatmu – dalam syurga – serta tartilkanlah – yakni membaca perlahan-lahan –
sebagaimana engkau mentartilkannya dulu ketika di dunia, sebab
sesungguhnya tempat kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang
engkau baca,” maksudnya kalau membaca seluruhnya adalah tertinggi
kedudukannya dan kalau tidak, tentulah di bawahnya itu menurut
kadar banyak sedikitnya bacaan.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Bab 181
Perintah Berta’ahud Kepada Al-Quran — Memelihara
Dan Membacanya Secara Tetap — Dan Menakut-
nakuti Berpaling Daripadanya Karena Kelupaan

999. Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Berta’ahudlah kepada al-
Quran – yakni peliharalah untuk selalu membaca al-Quran itu secara tetap
waktunya, sebab demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman
kekuasaanNya, niscayalah al-Quran itu lebih sangat mudah terlepasnya
daripada seekor unta yang ada di dalam ikatan talinya.” (Muttafaq ‘alaih)

1000. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. bersabda:

“Hanyasanya perumpamaan orang yang menghafal al-Quran – di
luar kepala – adalah sebagaimana perumpamaan seekor unta yang
diikat. Jikalau ia terus langsung mengikatnya, dapatlah ia menahannya –
tidak sampai lepas dan lari- dan jikalau ia melepas-kannya, maka itupun
pergilah.” (Muttafaq ‘alaih)

Bab 182

Sunnahnya Memperbaguskan Suara Dalam Membaca
Al-Quran Dan Meminta Untuk Membacanya Dari Orang
Yang Bagus Suaranya Dan Mendengarkan Pada Bacaan Itu
1001. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Allah tidak pernah mendengarkan pada sesuatu – dengan penuh
perhatian dan rasa ridha serta menerima – sebagaimana mendengarnya
kepada seseorang Nabi yang bagus suaranya, ia bertaghanni dengan al-
Quran itu yakni mengeraskan suaranya.”* (Muttafaq ‘alaih)*
Dikatakan oleh para alim ulama: “Bahwasanya sabda Nabi s.a.w.: Yajharu
bihi -artinya: Memperkeraskan suara dalam membaca al-Quran – ini adalah
sebagai penjelasan dari sabdanya: yataghanna – yakni bertaghanni dari kata
ghina’.”

Makna: adzinallahu yakni mendengarkan. Ini sebagai tanda keridhaan
dan diterima.

1002. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda padanya:
“Sesungguhnya engkau telah dikarunia – oleh Allah – mizmar -yakni
seruling – dari mizmar-mizmarnya keluarga Dawud.”* (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda padanya:
“Alangkah gembiranya hatimu, jikalau engkau melihat bahwa saya
mendengarkan bacaanmu – akan al-Quran – tadi malam.”

Imam as-Syafi’i rahimahullah berkata:Artinya bertaghanni ialah
memperbaguskan suara dan melemah-lembutkannya – atau mengiramakan
bacaan al-Quran itu.” Uraian sedemikian ini disaksikan pula dengan Hadis
lain, yaitu:
– yakni: Hiasilah al-Quran itu dengan suara-suaramu. Menurut bangsa Arab,
setiap orang yang mengeraskan suaranya dan mengiramakannya, maka suaranya
itu dapat disebut ghina’.
Maksudnya bahwa bacaan Abu Musa r.a. itu amat indah dan baik sekali. Kata
mizmar atau seruling dijadikan sebagai perumpamaan untuk bagusnya suara
dan kemanisan iramanya, jadi diserupakan dengan suara seruling. Dawud
adalah seorang Nabi ‘alaihis-salam dan beliau ini adalah sebagai puncak dalam
ke-bagusan suaranya di dalam membaca.

1003. Dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a., katanya: “Saya mendengar Nabi s.a.w.
membaca dalam shalat Isya’ dengan surat Attin wazzaitun – dalam salah satu dari
kedua rakaatnya yang dibaca keras. Maka saya tidak pernah mendengar
seseorangpun yang lebih indah bacaannya dari beliau s.a.w. itu.” (Muttafaq
‘alaih

1004. Dari Abu Lubabah yaitu Basyir bin Abdul Mundzir r.a. bahwasanya
Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang tidak bertaghanni dengan al-Quran – yakni di waktu
membacanya, maka ia bukanlah termasuk golongan kita.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang baik.
Makna: yataghanna atau bertaghanni ialah memperbaguskan suaranya ketika
membaca al-Quran

1005. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda kepadaku:
“Bacakanlah al-Quran padaku.” Saya berkata: “Ya Rasulullah, adakah saya akan
membaca al-Quran untuk Tuan, sedangkan al-Quran itu kepada Tuanlah
diturunkannya?” Beliau s.a.w. bersabda: “Saya senang sekali kalau mendengar
al-Quran itu dari orang lain.” Saya lalu membacanya untuk beliau s.a.w. itu surat
an-Nisa’, sehingga sampailah saya pada ayat ini – yang artinya: “Bagaimanakah
ketika Kami datangkan kepada setiap ummat se-orang saksi dan engkau
Kami jadikan saksi atas ummat ini” – an-Nisa’ 42.
Setetah itu beliau s.a.w. lalu bersabda: “Cukuplah sudah bacaanmu
sekarang.” Saya menoleh pada beliau s.a.w. dan kedua matanya
meneteskan airmata.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 183
Anjuran Membaca Surat-surat Atau Ayat-
ayat Yang Tertentu
1006. Dari Abu Said, yaitu Rafi’ bin al-Mu’alla r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku: “Tidakkah engkau suka jikalau
saya mengajarkan padamu akan seagung-agung surat dalam al-Quran
sebelum engkau keluar dari masjid?” Kemudian beliau s.a.w.
mengambil tanganku. Setelah kita ingin hendak keluar, sayapun
berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan tadi bersabda: “Sungguh-
sungguh saya akan mengajarkan padamu seagung-agung surat dalam al-
Quran.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Seagung-agung surat ialah
Alhamduiillahi rabbil-‘alamin – dan seterusnya. Itulah yang disebut
Assab’ul matsani – yakni tujuh ayat banyaknya dan diulang-ulangi dua kali atau surat Alfatihah. Juga itulah yang disebut al-Quran al-‘Azhim
yang diberikan padaku.” (Riwayat Bukhari)
1007. Dari Abu Said al-Khudri r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda mengenai surat Qulhuwallahuahad – yakni surat al-lkhlas, yaitu:
“Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-
Nya,sesungguhnya surat al-lkhlas itu niscayalah menyamai sepertiga al-
Quran – mengenai pahala membacanya.”
Dalam riwayat lain disebutkan: Bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “Apakah seseorang di antara engkau
semua itu akan merasa lemah -tidak kuat – untuk membaca sepertiga al-
Quran dalam satu malam?” Tentu saja hal itu dirasakan berat oleh mereka
dan mereka berkata: “Siapakah di antara kita semua yang kuat
melakukan itu, ya Rasulullah?” Kemudian beliau s.a.w. bersabda: Qul
huwallahu ahad Allahush shamad adalah sepertiga al-Quran – yakni pahala
membacanya menyamai membaca sepertiga al-Quran itu.” (Riwayat
Bukhari)

1008. Dari Abu Said al-Khudri r.a. pula bahwasanya ada seorang lelaki
mendengar orang lelaki lain membaca: Qul huwallahu ahad, dan
seterusnya – dan orang itu mengulang-ulanginya. Setelah datang pagi harinya, orang yang mendengar itu pergi ke tempat Rasulullah s.a.w.
lalu menyebutkan pada beliau s.a.w. apa yang didengarnya, seolah-olah
orang ini menganggapnya sebagai amalan yang kecil saja – kurang berarti.
Kemudian Rasulultah s.a.w. ber- sabda: “Demi Zat yang jiwaku ada di
dalam genggamanNya, sesungguhnya surat al-lkhlas itu niscayalah
menyamai – pahalanya dengan membaca – sepertiga al-Quran.” (Riwayat
Bukhari)

1009. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda
mengenai Qul huwallahu ahad, yaitu: “Sesungguhnya surat ini adalah
menyamai – pahalanya dengan membaca – sepertiga al-Quran.” (Riwayat
Muslim)
1010. Dari Anas r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata: “Ya
Rasulullah, sesungguhnya saya senang sekali pada surat ini, yaitu Qul
huwallahu ahad. Lalu beliau s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya ke-cintaanmu
pada surat itu akan dapat memasukkan engkau dalam syurga.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan. Imam Bukhari juga meriwayatkannya dalam kitab
shahihnya sebagai ta’liq.

1011. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Adakah engkau mengetahui beberapa ayat yang di- turunkan malam
ini? Benar-benar tidak ada samasekali yang se-umpama dengan itu, yaitu surat
Qul a’udzu birabbil falaq dan surat Qul a’udzu birabbin nas.” (Riwayat Muslim)
1012. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. dahulunya
selalu berta’awwudz – mohon perlindungan kepada Allah – dari gangguan jin
dan mata manusia, sehingga turunlah dua surat mu’awwidzah – yaitu surat-surat Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbin nas. Setelah kedua surat itu
turun, lalu beliau s.a.w. mengambil keduanya itu saja – mengamalkannya – dan
meninggalkan yang lain-lainnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1013. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Setengah dari al-Quran itu ada sebuah surat yang jumlah ayatnya ada
tigapuluh buah. Surat itu dapat memberikan syafaat kepada seseorang – jikalau
ia membacanya – sehingga orang itu diampuni, yaitu surat Tabarakal ladzi
biyadihil mulk – yakni surat al-Mulk.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dalam riwayat Imam Abu Dawud disebutkan dengan meng-gunakan
kata: tasyfa’u – sebagai gantinya “syafaat”, artinya sama yaitu memberi syafaat.

1014. Dari Abu Mas’ud al-Badri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah di
waktu malam – yaitu ayat Aamanar rasulu sampai akhir surat, maka kedua ayat
itu mencukupinya.” (Muttafaq ‘alaih)Dikatakan oleh para alim ulama bahwa
arti kafataahu atau mencukupi orang tadi, maksudnya mencukupi dari apa
yang tidak disenangi atau tidak diinginkan pada maiam itu. Ada pula yang
mengartikan mencukupi dari berdiri untuk shalat malam.

1015. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua menjadikan rumah-rumahmu itu sebagai
kuburan – yakni tidak pernah bersembahyang sunnah atau membaca al-Quran
di dalamnya, sehingga sunyi-sunyi saja dari ibadat. Sesungguhnya syaitan itu
lari dari rumah yang di dalamnya itu dibacakan surat al-Baqarah.” (Riwayat
Muslim)

1016. Dari Ubay bin Ka’ab r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai
Abul Mundzir, adakah engkau mengetahui, ayat manakah dari Kitabullah –
yakni al-Quran – yang ada besertamu itu yang teragung?” Saya lalu menjawab:
“Yaitu Allahu la ilaha ilia huwal hayyul qayyum, yakni ayat al-Kursi. Beliau s.a.w.
lalu me-nepuk-nepuk dadaku dan bersabda: “Semoga engkau mudah
memperoleh ilmu, hai Abul Mundzir.” Beliau s.a.w. mendoakan demikian
karena benar sekali apa yang diucapkan itu.(Riwayat Muslim)

1017. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya diserahi oleh Rasulullah s.a.w.
untuk menjaga sesuatu dari hasil zakat Ramadhan-yakni zakat fitrah. Kemudian
datanglah padaku seorang pendatang, Segeralah ia mulai mengambil makanan
itu – sepenuh tangannya lalu diletakkan dalam wadah. Saya lalu menahannya
terus berkata: “Sungguh-sungguh engkau akan saya hadapkan kepada
Rasulullah s.a.w.” Orang itu berkata: “Sesungguhnya saya ini adalah seorang
yang sangat membutuhkan dan saya mempunyai tanggungan keluarga banyak
serta saya mempunyai hajat yang sangat sekali -maksudnya amat fakirnya.
Setelah itu iapun saya lepaskan – dengan membawa makanan secukupnya. Pada
pagi harinya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai Abu Hurairah, apakah yang
dikerjakan oleh tawananmu – yakni orang yang kau pegang – tadi malam?”
Saya menjawab: “Ya Rasulullah, ia mengadukan bahwa ia mempunyai
kebutuhan serta keluarga, lalu saya belas-kasihan padanya, maka dari itu saya
lepaskan sekehendak jalannya – yakni sesuka hatinya pergi.” Rasulullah s.a.w.
lalu bersabda: “Sebenarnya saja orang itu telah berdusta padamu dan ia akan kembali lagi.” Jadi saya mengetahui bahwa ia akan kembali karena begitulah
sabda Rasulullah s.a.w. Selanjutnya saya terus mengintipnya, tiba-tiba ia kembali
lagi dan segera saja mengambil makanan lagi, lalu saya berkata: “Sungguh-
sungguh saya akan menghadapkan engkau kepada Rasulullah s.a.w.” Ia
berkata: “Biarkanlah saja – sekali ini, sebab sesungguhnya saya adalah seorang
yang amat membutuhkan dan saya mempunyai banyak keluarga yang menjadi
tanggungan saya. Saya tidak akan kembali lagi.” Sekali lagi saya menaruh belas-
kasihan padanya, lalu saya lepaskan sekehendak jalannya. Pagi-pagi men-jelma,
kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda padaku: “Hai Abu Hurairah, apa yang
dilakukan oleh tawananmu tadi malam?” Saya berkata: “la mengadukan lagi
bahwa ia amat membutuhkan dan mempunyai banyak tanggungan keluarga,
maka dari itu saya belas-kasihan padanya dan saya lepaskanlah sekehendak
jalannya.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya ia berkata dusta padamu dan
ia akan kembali lagi.” Saya mengintipnya untuk ketiga kalinya. la datang dan
terus mengambil makanan lalu saya tangkaplah ia, kemudian saya berkata:
“Kini sungguh-sungguh saya akan meng-hadapkan engkau kepada Rasulullah
s.a.w. dan ini adalah yang terakhir, karena untuk ketiga kalinya engkau datang,
sedang engkau memastikan tidak akan datang, tetapi engkau datang lagi.” Orang
itu lalu berkata: “Biarkanlah aku – yakni supaya engkau lepaskan saja,
sesungguhnya saya akan mengajarkan beberapa kalimat padamu yang
dengannya itu Allah akan memberikan kemanfaatan padamu.” Saya berkata:
“Apakah kalimat-kalimat itu.” la menjawab: “Jikalau engkau hendak menempati
tempat tidurmu, maka bacalah ayat al-Kursi, karena sesungguhnya saja – kalau
itu engkau baca, engkau akan senantiasa didampingi oleh seorang penjaga dari
Allah dan engkau tidak akan didekati oleh syaitan sehingga engkau berpagi-
pagi.” Akhirnya orang itu saya lepaskan lagi sekehendak jalannya. Saya berpagi-
pagi, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda padaku: “Apakah yang dilakukan oleh
tawananmu tadi malam?” Saya menjawab: “la menyangka bahwa ia telah
mengajarkan padaku beberapa kalimat yang dengannya itu Allah akan memberikan kemanfaatan padaku, lalu saya lepaskanlah ia menurut sekehendak
jalannya.” Beliau s.a.w. bertanya: “Apakah kalimat-kalimat itu?” Saya menjawab:
“la berkata kepada saya: “Jikalau engkau menempati tempat tidurmu, maka
bacalah ayat al-Kursi sejak dari permulaannya sehingga engkau habiskan ayat
itu sampai selesai, yaitu: Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum.” la
melanjutkan katanya kepada saya: “Jikalau itu engkau baca, maka engkau
selalu akan didampingi oleh seorang penjaga dari Allah dan syaitan tidak akan
mendekat padamu sehingga engkau berpagi-pagi.” Nabi s.a.w. lalu bersabda:
“Sesungguhnya ia telah berkata benar padamu – yakni kalau membaca ayat al-
Kursi, maka akan terus mendapat penjagaan dari Allah, tetapi orang itu sendiri
sebenarnya adalah pendusta besar. Adakah engkau mengetahui, siapakah yang
engkau ajak bicara selama tiga malam berturut-turut itu?” Saya menjawab:
“Tidak.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Itu adalah syaitan.” (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Ayat al-Kursi yang dimaksudkan dalam Hadis di atas ialah sebagaimana
yang tercantum di bawah ini dan sebelum membaca ayat tersebut, sebaiknya
membaca Ta’awwudz dulu yaitu: A’udzu billahu minasy syatthanir rajiim,
selanjutnya barulah membaca ayat al-Kursi yang tercantum dalam surat al-
Baqarah ayat 255, bunyinya:
“Allah yang tiada Tuhan selain Dia itu, adalah Maha Hidup serta Berdiri sendiri
– yakni tidak membutuhkan kepada yang selainNya. Dia tidak akan dihinggapi oleh
rasa kantuk dan tidak pula pernah tidur. BagiNya adalah semua yang ada di langit
dan di bumi. Dia Maha Mengetahui apa sajapun yang ada di muka mereka – yakni
seluruh makhluk – dan apa saja yang ada di belakangnya. Siapakah yang kiranya dapat
memberikan syafaat – pertoiongan – di sisiNya – baik sewaktu di dunia ataupun di
akhirat nanti – melainkan dengan izinNya? Kursinya – yakni kerajaanNya – adalah
meluas pada seluruh langit dan bumi dan Dia tidak akan tersibukkan datam memelihara keduanya – langit dan bumi – itu, karena Dia adalah Maha Tinggi serta
Agung.”

1018. Dari Abuddarda’ r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayatdari permulaan surat al-
Kahfi, maka ia terjaga dari gangguan Dajjal.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Dari akhir surat al-Kahfi.” (Riwayat
Muslim)

Bab 184
Sunnahnya Berkumpul Untuk Membaca — Al-Quran

1019. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Pada suatu ketika
Jibril sedang duduk di sisi Nabi s.a.w., lalu mendengar suara – pintu terbuka – di
atasnya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini adalah pintu dari
langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah sama sekali dibuka,
melainkan pada hari ini.” Kemudian turunlah dari pintu tadi seorang
malaikat, lalu Jibril berkata: “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak
pernah turun samasekali, melainkan pada hari ini.” Malaikat yang baru turun
itu lalu memberi salam dan berkata: “Bergembiralah – hai Muhammad –
dengan dua cahaya yang dikaruniakan kepada Tuan dan tidak pernah
dikaruniakan kepada Nabi siapapun sebelum Tuan,yaitu fatihatul kitab-yakni
surat al-Fatihah-dan beberapa ayat penghabisan dari surat al-Baqarah. Tidaklah
Tuan membaca sehuruf dari keduanya itu, melainkan Tuan akan diberi – pahala
besar.” (Riwayat Muslim)
Annaqiidh artinya suara – seperti suara pintu dan Iain-Iain.

1020. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. .bersabda:
“Tiada suatu kaumpun yang sama berkumpul dalam salah satu rumah dari
rumah-rumah Allah – yakni masjid – sambil membaca Kitabullah dan saling
bertadarus di antara mereka itu – yaitu berganti-gantian membacanya,
melainkan turunlah ketenangan di atas mereka, serta mereka akan diliputi oleh
kerahmatan dan diliputi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebutkan
mereka itu kepada makhluk-makhluk yang ada di sisiNya – yakni para
malaikat.” (Riwayat Muslim) Bab 185
Keutamaan Berwudhu’

Allah Ta’ala berfirman:

“Hai sekalian orang yang beriman! Jikalau engkau semua berdiri hendak
bersembahyang, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku dan
sapulah kepala dan basuhlah kakimu sampai ke matakaki. Dan jikalau engkau
semua berjunub, maka sucikanlah dirimu – yakni mandilah. Dan jikalau engkau
semua sakit atau dalam bepergian atau seseorang dari engkau semua datang dari
buang air atau bersetubuh dengan wanita, lalu engkau semua tidak mendapat-kan
air, maka cariiah tanah yang baik – atau bersih yang digunakan untuk
bertayammum, kemudian sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.
Allah tidak menghendaki untuk membuat kesempitan – kesukaran – atasmu
semua, tetapi hendak menyucikan engkau semua dan menyempurnakan
karunianya kepadamu semua, supaya engkau semua bersyukur.” (al-Maidah: 6)

1021. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya ummatku itu akan dipanggil pada hari kiamat
dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya
dari sebab bekas-bekasnya berwudhu’. Maka dari itu, barangsiapa yang
dapat di antara engkau semua hendak memperpanjang – yakni
menambahkan – bercahayanya, maka baiklah ia melakukannya –
dengan menyempurnakan berwudhu’ itu sesempurna mungkin.”
(Muttafaq ‘alaih)
1022. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar
kekasihku Rasulullah s.a.w. bersabda:”Perhiasan-perhiasan – di syurga
– itu sampai dari tubuh seseorang mu’min, sesuai dengan anggota yang
dicapai oleh wudhu'”yakni sampai di mana air itu menyentuh
tubuhnya, sampai di situ pula perhiasan yang akan diperolehnya di
syurga. (Riwayat Muslim)

1023. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang berwudhu’ lalu memperbaguskan wudhu’-nya –
yakni menyempurnakan sesempurna mungkin, maka keluar lah
kesalahan-kesalahannya sehingga keluarnya itu sampai dari
bawah kuku-kukunya.” (Riwayat Muslim)
1024. Dari Usman bin Affan r.a. pula, katanya: “Saya melihat Rasulullah
s.a.w. berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, kemudian beliau s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang berwudhu’ sedemikian, maka diampunkan-lah untuknya
dosa-dosa yang telah lalu dan shalatnya serta jalannya ke masjid adalah sunnah
hukumnya.” (Riwayat Muslim)

1025. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila seseorang hamba yang Muslim atau mu’min itu berwudhu’, lalu
ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari muka-nya itu semua kesalahan
yang disebabkan ia melihat padanya dengan kedua matanya dan keluarnya
ialah beserta air atau beserta tetesan air yang terakhir. Jikalau ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya itu semua kesalahan
yang dilakukan oleh kedua tangannya beserta air atau beserta tetesan air yang
terakhir. Selanjutnya apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah
semua kesalahan yang dijalankan oleh kedua kakinya beserta air atau
beserta tetesan air yang terakhir, sehingga akhirnya keluarlah ia dalam keadaan
suci dari semua dosa.” (Riwayat Muslim)

1026. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. mendatangi
suatu kuburan lalu mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum, hai perumahan kaum
mu’minin dan kita semua Insya Allah akan menyusul engkau semua. Saya
ingin kalau kita semua sudah dapat melihat saudara-saudara kita.” Para sahabat
berkata: “Bukankah kita ini saudara-saudara Tuan, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Engkau semua adalah sahabat-sahabatku, sedang saudara-saudara
kita itu masih belum datang lagi.” Para sahabat berkata pula: “Bagaimanakah
Tuan dapat mengetahui orang yang masih belum datang dari golongan ummat
Tuan, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w. bersabda: “Bagaimanakah pendapatmu,
sekiranya ada seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang putih bersih
kepalanya, putih pula kaki-kakinya berada di samping kuda yang hitam
polos, tidakkah pemilik itu dapat mengetahui kudanya sendiri?” Para sahabat
menjawab: “Ya, tentu dapat, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya ummatku yang akan datang itu ialah dalam keadaan bercahaya
wajahnya serta putih bersih tubuhnya dari sebab berwudhu’ dan saya adalah
yang terlebih dulu dari mereka itu untuk datang ke telaga – haudh,” (Riwayat
Muslim)
1027. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat
melebur semua kesalahan dan dengan-nya dapat pula menaikkan beberapa
derajat?” Para sahabat men-jawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu
bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudhu’ sekalipun menemui beberapa hal
yang tidak disenangi – seperti terlampau dingin dan sebagainya, banyaknya
melangkahkan kaki untuk ke masjid dan menantikan shalat sesudah
melakukan shalat. Itulah yang disebut ribath. Itulah yang disebut ribath –
perjuangan menahan nafsu untuk memperbanyak ketaatan pada Tuhan.”
(Riwayat Muslim)

1028. Dari Abu Malik al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bersuci itu adalah separuh keimanan.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan sudah lalu kelengkapan-nya yang
panjang dalam bab Sabar – lihat Hadis no. 25.
Dalam bab ini termasuk pula Hadisnya ‘Amr bin ‘Abasah r.a. yang juga
sudah diuraikan di muka dalam akhir bab Pengharapan. Hadis itu adalah
suatu Hadis yang agung sekali yang memuat berbagai macam kebaikan.

1029. Dari Umar bin al-Khaththab r.a. dari Nabi s.a.w.,sabdanya: “Tiada
seorangpun dari engkau semua yang berwudhu’ lalu ia menyampaikan yakni
menyempurnakan wudhu’nya, kemudian mengucapkan: Asyhadu alla ilaha
illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, melainkan di-bukakanlah untuknya pintu syurga yang delapan buah banyaknya. la diperbolehkan masuk dari pintu manapun juga yang dikehendaki olehnya.”
(Riwayat Muslim) Imam Termidzi menambahkan ucapan di atas dengan: Alla-hummaj’alni minat tawwabina waj’alni minal mutatthahhirin, -artinya: Ya Allah, jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bersuci.

Bab 186

Keutamaan Berazan

1030. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besar pahalanya berazan
dan menempati saf pertama – di waktu shalat, kemudian mereka tidak
menemukan jalan untuk memperolehnya itu melain-kan dengan cara mereka
mengadakan undian, niscayalah mereka akan melakukan undian itu. Juga
andaikata para manusia mengetahui betapa besar pahalanya datang lebih dulu
– untuk melakukan shalat, niscayalah mereka akan berlomba-lomba untuk itu.
Demi-kian pula andaikata mereka mengetahui betapa besar pahalanya shalat
Isyak dan shalat Subuh – dengan berjamaah, niscayalah mereka akan
mendatangi kedua shalat itu, sekalipun dengan ber-jalan merangkak.”
(Muttafaq ‘alaih)
Alistiham artinya mengadakan undian dan Attahjir ialah datang paling awa!
untuk mengerjakan shalat – di masjid.

1031. Dari Mu’awiyah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Para muazzin – ahli berazan – itu adalah sepanjang-panjang leher manusia
besok pada hari kiamat.”(Riwayat Muslim)

1032. Dari Abdullah bin Abdur Rahman bin Abu Sha’sha’ah bahwasanya
Abu Said al-Khudri r.a. berkata padanya: “Sesungguhnya saya melihat engkau
suka sekali pada kambing dan tempattempat di desa, maka jikalau engkau
berada di tempat kambingmu atau di desamu, lalu engkau berazan untuk
bersembahyang, maka keraskanlah suaramu dengan berazan itu, karena
sesungguhnya tiada seorang jin, manusia atau sesuatu apapun yang
mendengar dengungan suara muazzin itu, melainkan ia akan menjadi saksi
untuknya pada hari kiamat.”
Abu Said berkata: “Saya mendengar yang sedemikian itu dari Rasulullah
s.a.w.” (Riwayat Bukhari)

1033. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“jikalau azan dibunyikan untuk shalat, maka membelakanglah syaitan –
yakni lari ke belakang – sambil berkentut, sehingga ia tidak mendengar lagi suara azan tersebut.

Selanjutnya jikalau azan sudah selesai, maka ia datang lagi,
sehingga apabila dibunyikan iqamat, maka sekali lagi ia membelakang,
kemudian apabila bunyi iqamat telah selesai datanglah ia kembali sehingga ia
mengusikkan – yakni menggoda – antara seseorang itu dengan hatinya sendiri
sambil mengucapkan: “Ingatlah ini dan ingatlah itu,” yaitu sesuatu yang tidak
diingatnya sebelum ia bersembahyang itu, sampai-sampai seseorang itu tidak
lagi mengetahui, sudah berapa rakaat ia bersembahyang.” (Muttafaq ‘alaih)

1034. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:”Jikalau engkau
mendengar azan, maka ucapkanlah sebagai-mana yang diucapkan oleh
muazzin, kemudian bacalah shalawat untukku, karena sesungguhnya saja barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali shalawatan, maka Allah
akan memberikan kerahmatan padanya sepuluh kali, selanjutnya mohonlah
wasilah kepada Allah untukku, sebab sesungguhnya wasilah itu adalah suatu
tingkat dalam syurga yang tidak patut diberikan melainkan kepada seseorang
hamba dari sekian banyak hamba-hamba Allah dan saya mengharapkan agar
sayalah hamba yang memperoleh tingkat wasilah tadi. Maka dari itu
barangsiapa yang memohonkan wasilah untukku – kepada Allah, wajiblah ia
memperoleh syafaatku.” (Riwayat Muslim)

1035. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. .bersabda;
“Jikalau engkau semua mendengar azan, maka ucapkanlah ,sebagaimana
yang diucapkan oleh muazzin.”(Muttafaq ‘alaih)

1036. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang
ketika – sudah selesai – mendengarkan azan lalu mengucapkan – yang artinya:
“Ya Allah yang Maha Menguasai doa yang sempurna serta shalat yang akan
didirikan ini, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan,
bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan,”
maka akan dapatlah ia memperoleh syafaatku pada hari kiamat.” (Riwayat
Bukhari)

1037. Dari Said bin Abu Waqqash r.a. dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau
bersabda: “Barangsiapa yang ketika – telah selesai – mendengarkan azan lalu
mengucapkan – yang artinya: “Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan
melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya dan bahwasanya
Muhammad adalah hamba dan pesuruhNya. Saya rela dengan Allah sebagai
Tuhan, dengan Muhammad sebagai rasul dan dengan Islam sebagai agama,”
maka diampunkanlah dosanya.” (Riwayat Muslim)

1038. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Doa itu tidak akan
ditolak antara azan dan iqamah.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud
dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Bab 187

Keutamaan Shalat

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari keburukan dan kemunkaran.” (al-
‘Ankabut: 45)

1039. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Adakah engkau semua mengetahui, andaikata pada pintu
seseorang di antara engkau semua itu ada sebuah sungai dan ia
mandi di situ sebanyak lima kali dalam sehari, apakah masih ada
kotoran sekalipun sedikit yang tertinggal di badannya?” Para sahabat
rnenjawab: “Tidak ada kotoran sedikitpun yang tertinggal di badan
nya.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Demikian itulah perumpamaan
shalat lima waktu, dengan mengerjakan semua itu Allah akan meng-
hapuskan semua kesalahan.”
1040. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu itu adalah seumpama sebuah sungai yang mengalir, banyak airnya yang ada di pintu seseorang di antara engkau semua. la mandi di situ setiap hari
lima kali.” (Riwayat Muslim)
1041. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ada seorang lelaki yang memberikan
ciuman pada seseorang wanita – lain, lalu ia men-datangi Nabi s.a.w.
kemudian memberitahukannya akan halnya. Kemudian AllahTa’ala
menurunkan ayat-yang artinya: “Dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan
beberapa saat dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu dapat
melenyapkan kejele-kan-kejelekan.” Orang tadi lalu berkata: “Adakah ayat itu
untuk saya saja?” Beliau s.a.w. bersabda: “Untuk seluruh ummatku.” (Muttafaq
‘alaih)
1042. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:”Shalat lima waktu, Jum’at yang satu sampai Jum’at yang lain adalah
sebagai penutup dosa selama waktu antara semuanya – yakni antara waktu yang satu dengan waktu yang berikutnya, selama tidak dikerjakan dosa-dosa yang besar.” (Riwayat Muslim) 1043. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada seorang Muslimpun yang datang padanya shalat yang diwajibkan,
lalu ia memperbaguskan wudhu’nya, kekhusyu’annya serta ruku’nya,
melainkan shalat yang dilakukannya tadi akan menjadi penutup dosa-dosa
yang dilakukan sebelum itu, selama tidak dikerjakan dosa besar. Yang
sedemikian itu berlaku untuk setahun sepenuhnya.” (Riwayat Muslim)

Bab 188
Keutamaan Shalat Shubuh Dan Ashar

1044. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang bersembahyang shalat bardain – yakni shalat Subuh dan
shalat Asar, maka ia akan masuk syurga.” (Muttafaq ‘alaih)

1045. Dari Abu Zuhairyaitu Umarah bin Ruwaibah r.a., katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersembahyang sebelum
terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya,” yakni shalat Subuh dan shalat
Asar. (Riwayat Muslim)

1046. Dari Jundub bin Sufyan r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang bersembahyang Subuh, maka ia adalah dalam
tanggungan Allah – yakni mengenai keselamatan dirinya dan Iain-Iain. Maka
perhatikanlah, hai anak Adam – yakni manusia, janganlah sampai Allah itu
menuntut kepadamu sesuatu dari tanggungannya.” (Riwayat Muslim)
Keterangan Hadis di atas harap dilihat dalam Hadis no. 388.

1047. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Berganti-gantilah untuk menyertai engkau semua beberapa malaikat di
waktu malam dan beberapa malaikat di waktu siang. Mereka sama berkumpul
dalam shalat Subuh dan shalat Asar. Kemudian naiklah malaikat yang
bermalam denganmu semua itu, lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal
sebenarnya Allah adalah lebih Maha Mengetahui tentang hal-ihwal hamba-
hamba-Nya, tanyaNya: “Bagaimanakah engkau semua meninggalkan hamba-
hambaKu?” lalu para malaikat itu menjawab: “Kita meninggalkan mereka dan
mereka sedang melakukan shalat dan sewaktu kita mendatangi mereka itu, juga
di waktu mereka melakukan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

1048. Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali r.a., katanya: “Kita semua ada di
sisi Nabi s.a.w. Beliau s.a.w. lalu melihat bulan di malam bulan purnama –
yakni tanggal empatbelas bulan hijriyah, kemudian beliau bersabda:
“Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana engkau
semua melihat bulan ini, tidak akan memperoleh kesukaran engkau
semua dalam melihatNya itu. Maka jikalau engkau semua dapati tidak
akan dialahkan oleh shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum
terbenamnya, maka lakukanlah itu,” maksudnya jangan sampai
dialahkan oleh sesuatu hal sehingga tidak melakukan kedua shalat itu
dan jelasnya ini adalah merupakan perintah wajib. (Muttafaq ‘alaih)
Dalam suatu riwayat disebutkan: “Beliau s.a.w. lalu melihat ke bulan
pada malam bulan purnama itu – yakni bulan tanggal empatbelas.”

1049. Dari Buraidah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang meninggalkan shalat Asar, maka leburlah -yakni rusaklah – amal
kelakuannya.” (Riwayat Bukhari)
Bab 189

Keutamaan Berjalan Ke Masjid

1050. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau sore hari,
maka Allah menyediakan untuknya suatu hidangan – yang lazim
diberikan untuk tamu – di syurga, setiap kali ia pergi pagi atau sore
hari itu.” (Muttafaa’alaih)

1051. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
” Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia pergi ke salah
satu dari beberapa rumah Allah – yakni masjid – untuk menyelesaikan
salah satu shalat wajib dari beberapa shalat yang diwajibkan oleh Allah,
maka langkah-langkahnya itu yang selangkah dapat menghapuskan satu
kesalahan sedang langkah yang lainnya dapat menaikkan satu derajat.”
(Riwayat Muslim)

1052. Dari Ubay bin Ka’ab r.a., katanya: “Ada seorang dari golongan sahabat
Anshar yang saya tidak mengetahui seseorangpun yang rumahnya lebih jauh
letaknya dari rumah orang itu jikalau hendak ke masjid, tetapi ia tidak
pernah terlambat oleh sesuatu shalat – yakni setiap shalat fardhu ia mesti mengikuti berjamaah. Kepadanya dikatakan: “Alangkah baiknya jikalau
engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap
gulita serta di waktu teriknya panas matahari.” la menjawab: “Saya tidak senang
kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku
sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke
tempat keluargaku itu dicatat pahalanya
untukku.”
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Allah telah mengumpulkan untuk pahala
kesemuanya itu – yakni waktu pergi dan pulangnya semuanya diberi pahala.”
(Riwayat Muslim)

1053. Dari Jabir r.a., katanya: “Ada beberapa bidang tanah di sekitar masjid itu
kosong, lalu keluarga Bani Salimah berkehendak akan berpindah di dekat
masjid. Hal itu sampai terdengar oleh Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda kepada
mereka: “Ada berita yang sampai kepadaku bahwa engkau semua hendak
berpindah di dekat masjid.” Mereka menjawab: “Benar, ya Rasulullah. Kita
memang berkehendak demikian.” Beliau lalu bersabda lagi: “Hai keluarga Bani
Salimah, bekas langkah-langkahmu – ke masjid itu – dicatat pahalanya untukmu
semua. Maka itu tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, tentu dicatatlah bekas
langkah-langkahmu semua itu.” Mereka lalu berkata: “Kita tidak senang lagi
untuk berpindah.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Bukhari juga meriwayat-kan yang
semakna dengan Hadis di atas dari riwayat Anas.

1054. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya sebesar-besar manusia perihal pahalanya dalam shalat ialah
yang terjauh di antara mereka itu tentang jalannya lalu lebih jauh lagi. Dan orang yang menantikan shalat sehingga ia dapat mengikuti shalat itu bersama
imam adalah lebih besar pahala-daripada orang yang melakukan shalat itu –
dengan munfarid -lalu ia tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

1055. Dari Buraidah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sampaikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang ber-jalan di waktu malam ke masjid-
masjid bahwa mereka akan memperoleh cahaya yang sempurna besok pada
hari kiamat.” (Riwayat Abu Dawud dan Termidzi)

1056. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat
melebur semua kesalahan dan dengan-nya dapat pula menaikkan beberapa
derajat?” Para sahabat men-jawab: “Baiklah, ya Rasulutlah.” Beliau s.a.w. lalu
bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudhu’ sekalipun menemui beberapa hal
yang tidak disenangi – seperti terlampau dingin dan sebagainya, banyak-nya
melangkahkan kaki untuk ke masjid dan menantikan shalat sesudah
melakukan shalat. Itulah yang dapat disebut ribath, itulah yang disebut ribath
– perjuangan menahan nafsu untuk memper-banyak ketaatan pada Tuhan.”
(Riwayat Muslim)

1057. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jikalau engkau
semua melihat seseorang membiasakan -pulang pergi – ke masjid, maka
saksikanlah ia dengan keimanan -yakni bahwa orang itu benar-benar orang
yang beriman. Allah Azzawajalla berfirman: “Hanyasanya yang meramaikan
masjid-masjidnya Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari
akhir.”* sampai ke akhir ayat. Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
* Kelengkapan isi ayat di atas, yang tercantum dalam surat al-Bara’ah atau
at-Taubah, ayat 16, artinya adalah sebagai berikut:
“Serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat, juga tidak takut melainkan
kepada Allah. Maka mudah-mudahanlah mereka itu termasuk golongan
orang-orang yang rnemperoleh petunjuk benar – dari Tuhan.”

Bab 190
Keutamaan Menantikan Shalat


1058. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Seseorang di antara engkau semua itu masih tetap dianggap dalam shalat,
selama shalat itu menyebabkan ia tertahan. jadi tidak ada yang menghalang-
halangi ia untuk kembali ketempat keluarga itu melainkan karena menantikan
shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

1059. Dari Abu Hurairah r.a., pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Dan malaikat itu mendoakan kepada seseorang di antara engkau semua
supaya mendapatkan kerahmatan, selama orang itu masih ada di dalam tempat
shalatnya yang ia bersembahyang di situ, juga selama ia belum berhadas.
Malaikat itu mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah orang itu, ya Allah, belas
kasihanilah ia.” (Riwayat Bukhari)

1060. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengakhirkan shalat Isya’
pada suatu malam sampai ke pertengahan malam, kemudian beliau s.a.w.
menghadap – kepada orang banyak – dengan wajahnya setelah selesai
bersembahyang, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Orang-orang sudah bersembahyang
dan mereka telah tidur dan engkau semua senantiasa dianggap dalam
melakukan shalat, sejak engkau semua menantikan shalat itu.” (Riwayat Bukhari)

Bab 191
Keutamaan Shalat Jamaah
1061. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya kasulullah
s.a.w. bersabda: “Shalat jamaah adalah lebih utama dari shalat fadz – yakni
sendirian -dengan kelebihan duapuluh tujuh derajat.” (Muttafaq ‘alaih)

1062. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Shalatnya seseorang lelaki dalam jamaah itu dilipat gandakan pahalanya
melebihi shalatnya di rumahnya secara sendirian -munfarid – atau di
pasarnya dengan duapuluh lima kali lipatnya. Yang sedemikian itu ialah
karena bahwasanya apabila seseorang itu berwudhu’ lalu memperbaguskan cara wudhu’nya, kemudian keluar ke masjid, sedang tidak ada yang menyebabkan keluarnya itu melainkan karena hendak bersembahyang, maka tidaklah ia melangkah sekali langkah, melainkan dinaikkanlah untuknya sederajat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan. Selanjutnya apabila ia bersembahyang, maka para malaikat itu senantiasa mendoakan untuknya supaya ia memperoleh kerahmatan Allah, selama masih tetap berada di tempat shalatnya,juga selama ia tidak berhadas. Ucapan malaikat itu iaiah: “Ya Allah, berikanlah kerahmatan pada orang itu; ya Allah, belas-kasihanilah ia.” Orang tersebut dianggap berada dalam shalat, selama ia menantikan shalat – jamaah.”(Muttafaq ‘alaih) Ini adalah lafaznya Imam Bukhari.

1063. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Ada seorang lelaki buta matanya
datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: “Ya Rasulullah,saya ini tidak
mempunyai seorang pembimbing yang dapat membimbing saya untuk pergi
ke masjid,” lalu ia meminta kepada Rasulullah s.a.w. supaya diberi
kelonggaran untuk bersembahyang di rumahnya saja, kemudian beliau s.a.w.
memberikan kelonggaran padanya. Setelah orang itu menyingkir, lalu beliau
s.a.w. memanggilnya dan berkata padanya: “Adakah engkau mendengar azan
shalat?” Orang itu menjawab: “Ya, mendengar.” Beliau s.a.w. bersabda lagi:
“Kalau begitu, kabulkanlah isi azannya itu.”
Maksudnya: Datanglah untuk mengikuti jamaah, kalau meng-
hendaki banyak fadhilah. (Riwayat Muslim)

1064. Dari Abdullah, ada yang mengatakan: ‘Amr bin Qais yang terkenal
dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum, seorang muazzin r.a. bahwasanya ia
berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Madinah ini banyak sekali binatang
melatanya – seperti ular, kala dan Iain-Iain – juga banyak binatang buasnya.”
Kemudian Rasulullah s.a.w. ber-sabda: “Apakah engkau mendengar ucapan
Hayya ‘alas shalah dan Hayya ‘alal falah? – maksudnya: Apakah engkau
mendengar bunyi azan? Kalau memang mendengar, maka marilah datang ke
tempat berjamaah.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
Hayyahalan artinya marilah datang.

1065. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya,
niscayalah saya telah bersengaja hendak menyuruh supaya diambilkan kayu
bakar, lalu dicarikanlah kayu bakar itu, kemudian saya menyuruh supaya
shalat dilakukan dengan dibunyikan azan dahulu untuk shalat .tadi,
selanjutnya saya menyuruh seseorang lelaki untuk menjadi imamnya orang
banyak – dalam shalat jamaah itu, seterusnya saya sendiri pergi ke tempat orang-
orang lelaki – yang tidak ikut berjamaah – untuk saya bakar saja rumah-rumah
mereka ‘tu.” (Muttafaq ‘alaih)

1066. Dari Ibnu Mas’ud r.a.,katanya: “Barangsiapa yang senang kalau
menemui Allah Ta’ala besok – pada hari kiamat – dalam keadaan Muslim,
maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat fardhu ini di waktu ia dipanggil
untuk mendatanginya – yakni jika sudah mendengar azan, sebab
sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabimu semua s.a.w. beberapa
jalan petunjuk dan sesungguhnya shalat-shalat itu adalah termasuk sebagian
dari jalan-jalan petunjuk tersebut. Andaikata engkau semua sama
bersembahyang dalam rumah-rumahmu sendiri sebagaimana shalatnya orang
yang suka meninggalkan jamaah itu, yakni yang bersembahyang dalam
rumahnya, niscayalah engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu,
selanjutnya jikalau engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu, maka
niscayalah engkau semua tersesat. Sungguh-sungguh saya telah melihat sendiri
bahwa tidak ada seorangpun yang suka meninggalkan shalat-shalat – itu
dengan berjamaah -melainkan ia adalah seorang munafik yang dapat
dimaklumi ke-munafikannya. Sungguh ada pula seseorang itu yang didatangkan untuk menghadhiri shalat jamaah itu, ia disandarkan antara dua
orang lelaki sehingga ia ditegakkan di dalam saf – karena ia mengetahui
betapa besar fadhilahnya shalat berjamaah itu.”
(Riwayat Muslim)

Dalam lain riwayat Imam Muslim disebutkan, katanya: “Sesungguhnya
Rasulullah s.a.w. itu mengajarkan kepada kita akan jalan-jalan petunjuk dan
sesungguhnya termasuk salah satu dari jalan-jalan petunjuk itu ialah
melakukan shalat di masjid yang diazankan di situ – yakni shalat-shalat yang
dilakukan dengan jamaah.

1067. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada tiga orangpun Maka dari itu, hendaklah engkau semua tetap menjaga
jamaah, sebab hanyasanya serigala itu dapat makan dari kambing yang jauh –
yakni yang terpencil dari kawanannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
yang berada dalam suatu kampung atau suatu desa yang di kalangan
mereka tidak didirikan shalat – jamaah, melainkan syaitan telah dapat
memenangkan mereka itu. Maka dari itu, hendaklah engkau semua tetap menjaga
jamaah, sebab hanyasanya serigala itu dapat makan dari kambing yang jauh –
yakni yang terpencil dari kawanannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

Bab 192
Anjuran Mendatangi Shalat Jamaah Shubuh Dan Isyak
1068. Dari Usman r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dengan jamaah, maka seolah-
olah ia mendirikan shalat separuh malam dan barangsiapa yang mengerjakan
shalat Subuh dengan jamaah, maka seolah-olah ia mendirikan shalat semalam
suntuk.” (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Termidzi dari Usman r.a., katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menghadhiri shalat Isya’ dengan jamaah maka baginya
adalah pahala mengerjakan shalat selama separuh malam dan barangsiapa
yang bersembahyang Isya’ dan Subuh dengan jamaah, maka baginya adalah
pahala seperti mengerjakan shalat semalam suntuk.”
Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1069. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besar pahalanya
mengerjakan shalat Isya’ dan Subuh – dengan berjamaah,
niscayalah mereka akan mendatangi kedua shalat itu, sekalipun
dengan berjalan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih) Dan Hadis ini telah dahulu secara lengkapnya yang panjang. Lihat Hadis
no. 1030.

1070. Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak ada suatu shalatpun yang terlebih berat dirasakan oleh orang-orang
munafik itu daripada shalat Subuh dan Isya’, tetapi andaikata mereka
mengetahui betapa besar pahalanya kedua shalat itu, niscayalah mereka akan
mendatanginya sekalipun dengan berjalan merangkak – ke tempat jamaahnya.”
(Muttafaq ‘alaih)

Bab 193

Perintah Menjaga Shalat-shalat Wajib Dan larangan
Keras Serta Ancaman Hebat Dalam
Meninggalkannya

Allah Ta’ala berfirman:
“jagalah shalat-shalat wajib itu dan shalat pertengahan.”(al-Baqarah: 238)
Beberapa alim-ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shalat
pertengahan ialah shalat Asar.
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Jikalau mereka – orang-orang kafir – itu teiah bertaubat dan sama mendirikan
shalat serta menunaikan zakat, maka lepaskanlah jalan mereka – yakni anggaplah sebagai
orang mu’min yang Iain-lain.” (at-Taubah: 5)

1071. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya bertanya kepada Rasulullah
s.a.w.: “Manakah amalan yang lebih utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu
shalat tepat pada waktunya.” Saya bertanya lagi: “Kemudtan amalan apakah?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Ber-bakti kepada kedua orangtua.” Saya bertanya pula: “Kemudian apa lagi?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu berjihad fi-sabilillah.”
(Muttafaq ‘alaih)

1072. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Agama Islam itu didirikan atas lima perkara.yaitu menyaksikan
bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad
adalah pesuruh Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke
Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

1073. Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Saya diperintah untuk memerangi para manusia, sehingga mereka itu suka
menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya
Muhammad adalah utusan Allah, juga men-dirikan shalat menunaikan zakat.
Jikalau mereka telah mengerjakan yang sedemikian itu, maka terpeliharalah
mereka itu daripadaku mengenai darah dan hartabenda mereka, melainkan
dengan haknya Agama Islam, sedang hisab mereka adalah tergantung atas
Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

1074. Dari Mu’az r.a., katanya: “Saya diutus oleh Rasulullah s.a.w. ke
Yaman, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi sesuatu kaum dari golongan
ahlulkitab-yakni kaum Yahudi dan Nasrani, maka ajaklah mereka untuk
menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya saya
adalah utusan Allah. Jikalau mereka sudah taat untuk berbuat sedemikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah itu mewajibkan
kepada mereka shalat lima kali dalam sehari semalam. Jikalau mereka sudah taat
untuk berbuat sedemikian itu, maka beritahukanlah pula bahwasanya Allah itu
mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan sedekah – zakat – yang
diambil dari golongan mereka yang kaya-kaya dan dikembalikan kepada
golongan mereka yang fakir-fakir. Jikalau mereka sudah taat berbuat
sedemikian, maka takutlah engkau akan harta-harta mereka yang mulia –
maksudnya jangan bertindak zalim dan menganiaya. Takutlah kepada doanya
orang yang dianiaya. sebab sesungguhnya saja, antara doa itu dengan Allah
tidak ada lagi tabirnya – yakni doa orang yang dianiaya pasti akan dikabulkan.”
(Muttafaq ‘alaih)

1075. Dari Jabir r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran itu
adalah meninggalkan shalat,” yakni kalau sudah meninggalkan shalat, maka
orang itu tentu kafir. (Riwayat Muslim)

1076. Dari Buraidah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Ikatan perjanjian antara
kita – yaitu kaum Muslimin – dan mereka – yaitu kaum munafikin – ialah
shalat. Maka barangsiapa yang meninggalkan shalat, sungguh-sungguh kafirlah
ia.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

1077. Dari Syaqiq bin Abdullah at-Tabi’i yang sudah dimufakati -oleh para
alim-ulama-tentang kebaikannya, rahimahullah,berkata: “Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. tidak berpendapat akan sesuatu dari sekian banyak amalan
yang jikalau ditinggalkan lalu menjadikan kafir, kecuali hanya shalat saja.”
Yakni: jadi kalau shalat yang ditinggalkan maka dapat menye-babkan orang
yang meninggalkannya itu menjadi kafir.
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dengan isnad shahih.

1078. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya pertama-tama amalan yang seseorang itu di-hisab
dengannya ialah shalatnya, maka jikalau baik shalatnya itu, sungguh-sungguh
berbahagialah dan beruntunglah ia dan jikalau rusak, sungguh-sungguh
menyesal dan merugilah ia. jikalau seseorang itu ada kekurangan dari sesuatu
amalan wajibnya, maka Tuhan Azzawajalla berfirman: “Periksalah olehmu
semua – hai malaikat, apakah hambaKu itu mempunyai amalan yang sunnah.”
Maka dengan amalan yang sunnah itulah ditutupnya kekurangan amalan
wajibnya, kemudian cara memperhitungkan amalan-amalan lainnya itupun
seperti cara memperhitungkan amalan shalat ini.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 194

Keutamaan Saf Pertama Dan Perintah
Menyempurnakan Saf-saf Yang Permulaan —
Yakni jangan Berdiri Di Saf Kedua Sebelum
Sempurna Saf Pertama Dan jangan Berdiri Di Saf
Ketiga Sebelum Sempurna Saf Kedua Dan
Seterusnya, Serta Meratakan Saf-saf Dan Merapatkannya

1079. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. keluar pada kita semua, lalu bersabda:
“Tidak dapatkah engkau semua berbaris sebagaimana berbaris-nya para
malaikat disisi Tuhannya?” Kita lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah cara
para malaikat itu berbaris di sisi Tuhannya?” Beliau s.a.w. bersabda: “Mereka
menyempurnakan saf-saf permulaan – yakni tidak berdiri di saf kedua sebelum
sempurnanya saf pertama dan tidak di saf ketiga sebelum sempurnanya saf kedua
dan seterusnya, juga mereka itu saling rapat-merapatkan saf-saf itu.” (Riwayat
Muslim)

1080. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besarnya pahala azan
dan menempati saf pertama, kemudian tidak dapat memperoleh jalan untuk itu melainkan dengan mengadakan undian, niscayalah mereka itu akan
mengadakan undian.” (Muttafaq ‘alaih)

1081. Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sebaik-baiknya saf bagi kaum lelaki ialah saf pertama-nya, sedang sejelek-
jeleknya saf bagi mereka ialah saf yang peng-habisan. Adapun sebaik-baiknya
saf bagi kaum wanita ialah saf penghabisan, sedang sejelek-jeleknya saf bagi
mereka ialah saf pertamanya.” (Riwayat Muslim)
1082. Dari Abu Said r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. melihat di kalangan
sahabat-sahabatnya ada kemunduran – yakni ada orang-orang yang suka
berdiri di saf belakang saja, lalu beliau s.a.w. bersabda kepada mereka: “Majulah
engkau semua lalu ikutilah saya dan hendaknya mengikuti engkau semua
orang-orang yang se-sudahmu itu. Tidak henti-hentinya sesuatu kaum itu
suka membelakang, sehingga mereka akan dibelakangkan pula oleh Allah.’
Maksudnya kalau orang itu gemar membelakang dalam kemuliaan, tentu
dibelakangkan oleh Allah dalam pemberian kerahmatan. (Riwayat Muslim) 1083. Dari Abu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. pernah mengusap
bahu-bahu kita dalam shalat lalu bersabda: “Ratakanlah olehmu semua – saf-saf
itu – dan jangan berselisih – seperti ada yang lebih maju atau lebih mundur, sebab
hati-hatimupun akan berselisih pula. Hendaknya mendampingi saya orang-
orang yang dewasa dan yang berakal cukup di antara engkau semua itu,
kemudian orang-orang yang mendekati mereka – yakni yang tarafnya ada di
bawah-nya, kemudian orang-orang yang mendekati mereka – yakni yang
tarafnya di bawah mereka lagi.” (Riwayat Muslim)

1084. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ratakanlah saf-safmu
semua itu, karena sesungguhnya merata-kan saf-saf itu termasuk tanda
kesempurnaan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan:
“Karena meratakan saf-saf itu adalah termasuk tanda didirikan-nya shalat.”

1085. Dari Anas r.a. pula, katanya: “Shalat telah diiqamati, kemudian
Rasulullah s.a.w. menghadap kepada kita semua dengan wajahnya lalu
bersabda:
“Tetaplah engkau semua mendirikan saf-safmu semua itu dan rapatkanlah
saf-saf tadi, karena sesungguhnya saya ini dapat melihat engkau semua dari
belakang punggungku.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafaznya dan juga oleh Imam
Muslim yang semakna dengan itu. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan pula: “Seorang dari kita menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan
juga kakinya dengan kaki kawannya -yakni amat rapat sekali.”

1086. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Niscayalah engkau semua harus meratakan saf-safmu itu atau -kalau tidak
suka meratakan saf-saf, maka niscayalah Allah akan memperselisihkan antara
muka-muka hatimu – yakni menjadi ummat yang suka bercerai-cerai.”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu
meratakan antara saf-saf kita, sehingga seolah-olah diratakannya barisan anak
panah. Demikianlah sehingga beliau meyakinkan bahwa kita semua telah
mengerti benar-benar akan cara meratakan saf-saf itu. Selanjutnya pada suatu
hari beliau s.a.w. keluar lalu berdiri sehingga hampir saja akan bertakbir, lalu
melihat ada seorang yang dadanya menonjoh ke muka saf, kemudian beliau
s.a.w. bersabda:
“Hai hamba-hamba Allah, niscayalah engkau semua harus meratakan saf-
safmu atau niscayalah Allah akan memperselisihkan antara muka-muka
hatimu.”

1087. Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. mengisikan sela-sela saf dari arah sini ke arah situ, sehingga dada-dada dan
bahu-bahu kita saling mengusap – antara yang seorang dengan lainnya. Beliau
s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua berselisih – yakni terlampau maju
atau terlampau mundur dari saf, maka hal itu akan menyebabkan berselisihnya hati-hatimu semua.” Beliau s.a.w. juga bersabda: “Sesungguhnya Allah dan
malaikatnya menyampaikan kerahmatan pada saf-saf permulaan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

1088. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Tetaplah mendirikan saf-saf dengan rata, samakanlah letaknya
antara bahu-bahu, tutuplah semua sela yang kosong dan bersikap haluslah
dengan tangan saudara-saudaramu – yakni jikalau diajak maju atau mundur
untuk meratakan saf-saf. Janganlah engkau semua meninggalkan
kekosongan-kekosongan untuk diisi oleh syaitan. Barangsiapa yang
merapatkan saf, maka Allah akan me-rapatkan hubungan dengannya dan
barangsiapa yang memutuskan saf – yakni tidak suka mengisi mana-mana yang
tampak kosong, maka Allah memutuskan hubungan dengannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih

1089. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Rapatkanlah saf-saf
mu semua, perdekatkanlah jarak antara saf-saf itu – yang sekiranya antara kedua
saf itu kira-kira tiga hasta – dan samakanlah letaknya antara leher-leher. Maka
demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya
saya niscaya-lah dapat melihat syaitan itu masuk di sela-sela kekosongan saf,
sebagaimana halnya kambing kecil.”
Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad
menurut syarat Imam Muslim.
Alhadzaf dengan ha’ muhmalah dan dzal mu’jamah yang keduanya
difathahkan, lalu fa’ ialah kambing kecil, hitam warnanya yang ada di Yaman.
1090. Dari Anas r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda;
“Sempurnakanlah saf yang termuka dahulu, kemudian yang ada di
belakangnya itu – lalu yang ada di belakangnya lagi. Maka mana yang masih
kurang rapatnya, hendaklah itu ada di saf yang ter-belakang sendiri.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan,

1091. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah dan malaikatNya menyampaikan kerah-matan pada
saf-saf yang sebelah kanan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad menurut syaratnya
Imam Muslim, tetapi di dalamnya ada seorang lelaki yang masih
diperselisihkan dapatnya dipercaya oleh para ahli Hadis.

1092. Dari al-Bara’ r.a., katanya: “Kita semua apabila bersembahyang di
belakang Rasulullah s.a.w., maka kita semua senang kalau berada di sebelah
kanannya. Beliau menghadap kepada kita dengan wajahnya, lalu saya
mendengar beliau s.a.w. mengucapkan ” doa – yang artinya: “Ya Tuhan, lindungilah saya dari siksaMu pada hari Engkau menghidupkan – sesudah mati
yakni pada hari kiamat -atau pada hari Engkau mengumpulkan hamba-
hambaMu.” (Riwayat Muslim)

1093. Dari Abu Hurairah r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pertengahkanlah imam – yakni antara
ma’mum yang berdiri di sebelah kanan dan di sebelah kiri hendaklah
sama banyaknya, sehingga imam itu tempatnya ada di tengah – dan
tutuplah sela-sela yang kosong.” (Riwayat Abu Dawud)
Bab 195

Keutamaan shalat-shalat Sunnah Rawaatib Yang
Mengikuti Shalat-shalat Fardhu Dan Uraian Sesedikit-
sedikit Rakaatnya, Sesempurna sempurnanya Dan Yang
Pertengahan Antara Keduanya

1094. Dari Ummul mu’minin yaitu Ummu Habibah yakni Ramlah binti
Abu Sufyan radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada seorang hambapun yang Muslim yang bersembahyang karena Allah
Ta’ala setiap hari duabelas rakaat sebagai shalat sunnah yang bukan diwajibkan,
melainkan Allah akan mendirikan untuknya sebuah rumah dalam syurga, atau:
melainkan untuknya akan didiri-kanlah sebuah rumah dalam syurga.” (Riwayat
Muslim)

1095. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
bersembahyang bersama Rasulullah s.a.w. dua rakaat sebelum Zuhur
dan dua rakaat lagi sesudahnya, juga dua rakaat sesudah Jum’ah, dua
rakaat sesudah Maghrib dan dua rakaat pula sesudah Isya’.” (Muttafaq
‘alaih)

1096. Dari Abdullah bin Mughaffal r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Antara setiap dua azan boleh bersembahyang sunnah, antara setiap
dua azan boleh bersembahyang sunnah, antara setiap dua azan boleh
bersembahyang sunnah.” Dalam ketiga kalinya ini beliau s.a.w. bersabda:
“Bagi orang yang suka mengerjakan itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Yang dimaksudkan dengan dua azan itu ialah azan dan iqamat.

Bab 196

Mengokohkan Sunnahnya Dua Rakaat Shubuh

1097. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu tidak
meninggalkan shalat sunnah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat
sebelum Subuh.” (Riwayat Bukhari)

1098. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Tidak ada sesuatu
amalanpun dari golongan amalan-amalan sunnah yang lebih ditetapi oleh
Nabi s.a.w. melebihi dua rakaat fajar – yakni dua rakaat sebelum shalat
Subuh.” (Muttafaq ‘alaih)

1099. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula dari Nabi s.a.w.,
sabdanya: “Dua rakaat sunnah fajar – yakni sebelum Subuh – adalah lebih baik
nilainya daripada dunia dan apa saja yang ada di dalamnya ini -yakni dunia dan
seisinya.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: “Niscaya-lah kedua
rakaat sebelum Subuh itu lebih saya cintai daripada dunia seluruhnya ini.”

1100. Dari Abu Abdillah yaitu Bilal bin Rabah r.a., juru azan Rasulullah s.a.w.
bahwasanya ia mendatangi Rasulullah s.a.w. untuk memberttahukannya dengan
masuknya shalat Subuh. Kemudian Aisyah mempersibukkan Bilal dengan
sesuatu urusan yang ditanyakan oleb Aisyah kepada Bilal itu, sehingga
waktupun menjadi pagi sekali. Selanjutnya Bilal berdiri lalu
memberitahukannya dengan masuknya waktu shalat dan beliau s.a.w.
mengikuti pemberitahuannya itu. Rasulullah s.a.w. belum lagi keluar. Setelah
beliau s.a.w. keluar, lalu beliau s.a.w. bersembahyang dengan orang banyak.
Bilal kemudian memberitahukan kepada beliau s.a.w. bahwa Aisyah
mempersibukkan dirinya dengan sesuatu perkara yang ditanyakan padanya,
sehingga waktunya menjadi pagi sekali dan Nabi s.a.w. terlambat keluarnya.
Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya saya tadi melakukan sembahyang dua
rakaat fajar-sebelum Subuh.” Bilal berkata: “Ya Rasulullah, Tuan tadi sudah
berpagi-pagi sekali.” Beliau s.a.w. menjawab: “Andaikata saya berpagi-pagi
lebih daripada pagi tadi, niscayalah saya akan melakukan dua rakaat dan saya
perbaguskan serta saya perindahkan lagi.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

Bab 197

Meringankan Dua Rakaat Fajar — Sunnah Sebelum
Subuh, Uraian Apa Yang Dibaca Dalam Kedua
Rakaat Itu Serta Uraian Perihal Waktunya

1101. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha: “Bahwasanya Nabi s.a.w.
bersembahyang dua rakaat yang ringan sekali antara azan dan iqamah dari
shalat Subuh.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam-imam Bukhari dan Muslim disebutkan pula: Beliau
s.a.w. bersembahyang dua rakaat fajar, lalu meringankan kedua rakaatnya,
sehingga saya bertanya, apakah beliau s.a.w. itu juga membaca Ummul Quran –
yakni surat al-Fatihah.
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Beliau s.a.w. bersembahyang dua
rakaat fajar, jikalau telah mendengar azan dan meringankan kedua rakaat itu.
Dalam riwayat lain lagi juga disebutkan: Jikalau telah terbit fajar.

1102. Dari Hafshah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu
apabila muazzin sudah berazan dan Subuh – yakni fajar shadik – sudah terbit,
beliau s.a.w. lalu bersembahyang dua rakaat yang ringan.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: “Rasulullah s.a.w. itu apabila fajar
telah terbit, maka beliau s.a.w. tidak bersembahyang melainkan dua rakaat
yang ringan.”

1103. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Nabi
s.a.w. itu bersembahyang di waktu malam dua rakaat, dua rakaat,
lalu melakukan witir pada waktu akhir malam. Beliau s.a.w. juga
bersembahyang dua rakaat sebelum shalat Subuh dan seolah-olah
azan itu ada di dekat kedua telinganya.” (Muttafaq ‘alaih)

1104. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
itu dalam rakaat pertama dari kedua buah rakaat fajar – sebelum Subuh – itu
membaca: Qulu amanna billahi wa ma unzila ilaina, yaitu ayat dalam surat al-
Baqarah – ayat 136 – dan di rakaat akhirnya membaca: Amanna billahi wasyhad
bianna muslimun – surat ali-lmran ayat 52.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam rakaat akhirnya membaca: “Ta’alau
ila kalimatin sawain bainana wa bainakum – surat ali-lmran ayat 64.
Diriwayatkan kedua Hadis di atas itu oleh Imam Muslim.

1105. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu membaca
dalam kedua rakaat fajar, yaitu: Qul ya ayyuhal kafirun – untuk rakaat pertama
– dan Qul huwallahu ahad – untuk rakaat kedua. (Riwayat Muslim)

1106. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya meneliti Nabi
s.a.w. selama sebulan, beliau s.a.w. dalam dua rakaat sebelum Subuh itu
membaca: Qul ya ayyuhal kafirun -untuk rakaat pertama – dan Qul huwallahu
ahad – untuk rakaat kedua.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 198
Sunnahnya Berbaring Sesudah Mengerjakan Shalat
sunnah Dua Rakaat Fajar — Sebelum Subuh — Pada
Lambung Sebelah Kanan Dan Anjuran Untuk Melakukan
Ini, Baikpun Pada Malam Harinya Bersembahyang
Tahajjud Atau Tidak

1107. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. itu apabila
sudah selesai bersembahyang dua rakaat fajar – shalat sunnah sebelum Subuh-lalu
beliau s.a.w. berbaring pada lambungnya yang sebelah kanan – yakni miring
kanan.” (Riwayat Bukhari)

1108. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu
bersembahyang antara sesudah selesainya shalat Isya’ sampai terbitnya fajar
sebanyak sebelas rakaat, setiap habis dua rakaat beliau s.a.w. bersalam dan
berwitir dengan satu rakaat. Jikalau muazzin sudah diam dengan bunyi azan
shalat Subuh dan sudah tampak jelas terbitnya fajar dan telah didatangi oleh
muazzin, lalu beliau s.a.w. berdiri untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat
yang ringan, kemudian berbaring pada belahan tubuhnya yang kanan
sehingga beliau s.a.w. didatangi oleh muazzin untuk memberitahu-kan
waktunya iqamat.” (Riwayat Muslim)
Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha: Yusallimu baina kulli rak’ataini,
demikianlah yang tertera dalam kitab shahih Muslim. Adapun artinya ialah
bersalam sesudah setiap dua rakaat – baina dengan arti sesudah.

1109. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua sudah bersembahyang dua rakaat
sunnah fajar – sebelum Subuh, maka hendaklah berbaring pada sebelah
kanannya.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnad-
isnad shahih. Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.

Bab 199
Shalat Sunnah Zuhur

1110. Dari ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya bersembahyang
bersama Rasulullah s.a.w. dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat
sesudahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
1111. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu tidak
meninggalkan shalat sunnah sebanyak empat rakaat sebelum Zuhur.” (Riwayat
Bukhari)

1112. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Nabi s.a.w.
bersembahyang di rumahku empat rakaat sebelum Zuhur kemudian keluar lalu
bersembahyang bersama orang banyak, terus masuk rumah lagi lalu
bersembahyang dua rakaat. Beliau s.a.w. itu juga bersembahyang Maghrib
bersama orang banyak lalu masuk rumah terus bersembahyang dua rakaat
sunnah dan beliau s.a.w. bersembahyang Isya’ dengan orang banyak dan masuk
rumah lalu bersembahyang dua rakaat sunnah. (Riwayat Muslim) 1113. Dari Ummu Habibah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa menjaga shalat sunnah empat rakaat sebelum Zuhur dan
empat rakaat lagi sesudahnya, maka Allah mengharamkan orang itu atas
neraka.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi, dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1114. Dari Abdullah bin as-Saib r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersembahyang empat rakaat sunnah setelah matahari lingsir -tergelincir-yaitu
sebelum shalat Zuhur -yang wajib- dan bersabda: “Bahwasanya ini adalah saat
dibukanya pintu-pintu langit, maka saya senang kalau amalan shalihku naik di
situ.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

1115. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. apabila tidak
bersembahyang empat rakaat sebelum Zuhur, maka beliau s.a.w.
bersembahyang empat rakaat itu sesudahnya Zuhur.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 200
Shalat Sunnah Asar

1116. Dari Ali bin Abu Thalib, katanya: “Nabi s.a.w. itu bersembahyang
sunnah empat rakaat sebelum Asar, memisahkan antara empat rakaat tadi
dengan bersalam – yakni sesudah dapat dua rakaat bersalam dulu – kepada para
malaikat muqarrabun dan orang-orang yang mengikuti mereka dari
golongan kaum Muslimin dan mu’minin.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1117. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:

“Allah memberikan kerahmatan kepada orang yang bersembahyang sunnah
empat rakaat sebelum Asar.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1118. Dari Ali bin Abu Thalib r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersembahyang
sunnah dua rakaat sebelum Asar.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
Bab 201
Shalat Sunnah Maghrib, Sesudah Dan Sebelumnya
Sudah terdahulu dalam bab-bab di muka Hadisnya Ibnu Umar radhiallahu
‘anhuma – lihat Hadis no. 1095 – dan Hadisnya Aisyah radhiallahu ‘anha – lihat
Hadis no. 1112 – dan keduanya itu adalah shahih bahwa Nabi s.a.w.
bersembahyang dua rakaat sesudah Maghrib.
1119. Dari Abdullah bin Mughaffal r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Bersembahyanglah engkau semua sebelum Maghrib – yakni shalat
sunnah.” Beliau s.a.w. mengucapkan dalam sabdanya yang ketiga kalinya dengan
tambahan: “Bagi siapa yang ingin melakukan-nya.” (Riwayat Bukhari)

1120. Dari Anas r.a., katanya: “Sungguh-sungguh saya telah melihat golongan
sahabat-sahabat besar-besar sama bersegera ke ruang dalam masjid ketika
Maghrib – yakni sesudah azan Maghrib dibunyikan perlu shalat sunnah di situ.
(Riwayat Bukhari)

1121. Dari Anas r.a. pula, katanya: “Kita semua di zaman Rasulullah
s.a.w. bersembahyang dua rakaat sesudah terbenamnya matahari yakni sebelum
Maghrib.” la ditanya: “Apakah Rasulullah s.a.w. juga bersembahyang sunnah
itu?” Anas r.a. menjawab: “Beliau s.a.w. melihat kita bersembahyang dua
rakaat itu, tetapi beliau s.a.w. tidak menyuruh kita melakukannya dan tidak
pula melarangnya.” (Riwayat Muslim)

1122. Dari Anas r.a. pula, katanya: “Kita semua ada di Madinah, maka jikalau
muazzin telah selesai berazan untuk shalat Maghrib, maka orang-orang sama
bersegera ke ruang dalam masjid lalu bersembahyang dua rakaat, sehingga
sesungguhnya seseorang asing – yang tempatnya bukan di Madinah –
niscayalah kalau ia masuk masjid pasti mengira bahwa shalat wajib Maghrib
sudah selesai dikerjakan karena banyaknya orang yang bersembahyang sunnah
dua rakaat sebelum Maghrib itu.” (Riwayat Muslim)

Bab 202
Shalat Sunnah Isya’ Sesudah Dan Sebelumnya

Dalam bab ini termasuklah Hadisnya Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma
yang lalu – lihat Hadis no. 1095, katanya: “Saya bersembahyang bersama
Nabi s.a.w. dua rakaat sesudah Isya’ dan juga Hadisnya Abdullah bin
Mughaffal, yaitu sabda Nabi s.a.w.: “Antaraduaazan-yakni azan dan
iqamah – itu boleh melakukan shalat sunnah.”
(Muttafaq ‘alaih)
Lihat sebagaimana disebutkan di muka – lihat Hadis no. 1096.

Bab 203

Shalat Sunnah Jum’ah

Dalam bab ini termasuklah Hadisnya Ibnu Umar radhiallahu
‘anhuma yang lalu – lihat Hadis no. 1095 – yang menyebutkan
bahwasanya ia bersembahyang bersama Nabi s.a.w. dua rakaat sesudah
shalat Jum’ah. (Muttafaq ‘alaih)

1123. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:”Jikalau engkau semua bersembahyang Jum’ah, maka hendaklah
sesudahnya itu bersembahyang sunnah empat rakaat.” (Riwayat Muslim)

1124. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
itu tidak bersembahyang sesudah Jum’ah sehingga pulang, kemudian
beliau s.a.w. bersembahyang dua rakaat di rumahnya.” (Riwayat
Muslim) Bab 204
Sunnahnya Mengerjakan Shalat-shalat Sunnah Di
Rumah, Baikpun Sunnah Rawatib Atau Lain-lainnya Dan
Perintah Berpindah Untuk Bersembahyang Sunnah Dari
Tempat Yang Digunakan
Bersembahyang Wajib Atau Memisahkan Antara Kedua
Shalat Itu Dengan Pembicaraan

1125. Dari Zaid bin Tsabit r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Bersembahyanglah engkau semua, hai sekalian manusia, sebab
sesungguhnya seutama-utama shalat itu ialah shalatnya seseorang yang
dikerjakan dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan.”
(Muttafaq ‘alaih)

1126. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Jadikanlah dari sebahagian shalatmu – yakni yang sunnah – itu di rumah-
rumahmu sendiri dan janganlah menjadikan rumah-rumah itu sebagai
kuburan – yakni tidak pernah digunakan shalat sunnah atau membaca al-
Quran yakni sunyi dari ibadat.” (Muttafaq ‘alaih)

1127. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau seseorang di
antara engkau semua itu telah menyelesaikan shalatnya di masjid, maka
hendaklah memberikan sekedar bagian dari sebagian shalatnya – yakni yang
sunnah-sunnah – untuk rumahnya, karena sesungguhnya Allah membuat
kebaikan dalam rumahnya itu karena shalatnya tadi.” (Riwayat Muslim)

1128. Dari ‘Amr bin ‘Atha’ bahwasanya Nafi’ bin Jubair me-nyuruhnya pergi
kepada as-Saib bin Yazid anak lelaki dari saudara perempuannya Namir, perlu
menekankan padanya – yakni ‘Amr supaya bertanya kepada as-Saib – perihal
sesuatu yang pernah dilihat oleh Mu’awiyah dari dirinya mengenai shalat. As-
Saib lalu berkata: “Ya, saya pernah bersembahyang Jum’ah dengan Mu’awiyah
di ruang dalam masjid. Ketika imam sudah bersalam, saya lalu berdiri lagi di
tempatku shalat – wajib – tadi lalu saya bersembahyang sunnah. Kemudian
setelah ia masuk rumah, lalu ia menyuruh saya datang padanya, kemudian
berkata: “Jangan engkau mengulangi tagi sebagaimana yang engkau kerjakan
tadi. Jikalau engkau shalat Jum’ah, maka janganlah engkau persambungkan di
tempatmu tadi itu dengan shalat sunnah, sehingga engkau berbicara dulu atau
keluar, karena sesungguhnya Rasulullah s.a.w. menyuruh kita yang sedemikian
itu, yaitu supaya tidak dipersambungkan shalat itu dengan shalat lain
sehingga kita berbicara atau keluar dulu.” (Riwayat Muslim)

Bab 205

Anjuran Melakukan Shalat Witir Dan Uraian Bahwa
Shalat ini Adalah Sunnah Yang Dikokohkan Serta
Uraian Mengenai Waktunya

1129. Dari Ali r.a., katanya: “Shalat witir itu bukannya wajib sebagaimana
shalat yang difardhukan, tetapi Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat itu dan
bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Witir – yakni ganjil, maka lakukanlah
shalat witir – yaitu yang rakaatnya ganjil, hai ahli al-Quran.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan

1130. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Dari seluruh malam itu
Rasulullah s.a.w. sungguh-sungguh telah melakukan witir – yakni waktu
berwitir beliau s.a.w. tidak tertentu waktunya, yaitu di permulaan malam, di
pertengahan malam, di akhir malam dan berakhirlah waktu witir beliau s.a.w.
itu sampai waktu sahur- hampir menyingsingnya fajar shadik.” (Muttafaq
‘alaih)

1131. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Jadikanlah shalat witir itu sebagai akhir shalatmu di waktu malam.”
(Muttafaq ‘alaih)
1132. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
;
“Berwitirlah engkau semua sebelum engkau semua berpagi-pagi – yakni
sebelum terbitnya fajar shadik.” (Riwayat Muslim)

1133. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w.
melakukan shalatnya di waktu malam, sedang ia – yakni Aisyah yaitu isterinya
– melintang antara kedua tangannya – yakni di mukanya. Maka jikalau
tinggal mengerjakan witir, beliau s.a.w. membangun-kannya, lalu
Aisyahpun berwitirlah.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan: “Maka jikalau tinggal
mengerjakan witir, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Bangunlah dan
berwitirlah, hai Aisyah.”

1134. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
“Dahuluilah shalat Subuh itu dengan witir – maksudnya’ Bangunlah
sebelum waktunya shalat Subuh lalu berwitirlah dulu.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi, dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1135. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang takut
kalau tidak bangun di akhir malam, maka hendaklah berwitir di permulaan dan barangsiapa lupa hendak bangun di akhir malam, maka hendaklah berwitir di
akhir malam, karena sesungguhnya shalat akhir malam itu disaksikan oleh para
malaikat dan yang sedemikian itulah yang lebih utama.” (Riwayat Muslim) Bab 206
Keutamaan Shalat Dhuha Dan Uraian Perihal Sesedikit-
sedikitnya Rakaat Dhuha, Sebanyak-banyaknya Dan Yang
Pertengahannya Serta Anjuran Untuk Menjaga Untuk Terus
Melakukannya

1136. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Kekasihku – yakni Nabi Muhammad
s.a.w. telah memberikan wasiat padaku untuk melakukan puasa sebanyak tiga
hari dalam setiap bulan, juga dua rakaat sunnah Dhuha dan supaya saya
bersembahyang witir dulu sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)
Melakukan shalat witir sebelum tidur itu hanyalah disunnahkan bagi
seseorang yang tidak mempercayai dirinya akan dapat bangun pada akhir
malam. Tetapi sekiranya dapat mempercayai dirinya, Maka pada akhir
malam adalah lebih utama lagi.

1137. Dari Abu Zar r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Setiap ruas tulang dari
seseorang di antara engkau semua itu harus ada sedekahnya pada saban pagi
harinya, maka setiap sekali tasbih – bacaan Subhanallah – adalah sedekah, setiap
sekali tahmid – bacaan Alhamdulillah – adalah sedekah, setiap sekali tahlil –
bacaan La ilaha ilallah – adalah sedekah, setiap sekali takbir – bacaan Allahu
Akbar – adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah,
melarang dari kemunkaran adalah sedekah dan yang sedemikian itu dapat dicukupi oleh dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang dart shalat Dhuha.”
(Riwayat Muslim)
1138. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu
bersembahyang Dhuha empat rakaat dan menambahkan dari jumlah itu
sekehendak hatinya.” (Riwayat Muslim)
1139. Dari Ummu Hani’ yaitu Fakhitah binti Abu Thalib radhiallahu
‘anha, katanya: “Saya pergi ke tempat Rasulullah s.a.w. pada hari pembebasan –
kota Makkah, lalu saya temui beliau s.a.w. sedang mandi. Setelah selesai beliau
s.a.w. mandi, lalu bersembahyang sebanyak delapan rakaat. Itulah shalat
Dhuha.” (Muttafaq ‘alaih)
Ini adalah yang diringkaskan dari lafaznya salah satu dari beberapa
riwayat Muslim.
Bab 207
Bolehnya Melakukan Shalat Dhuha Dari Tingginya
Matahari Sampai Tergelincir — Atau Lingsirnya Dan
Yang Lebih Utama lalah Dilakukan Ketika Sangatnya
Panas Dan Meningginya Waktu Dhuha
1140. Dari Zaid bin Arqam r.a. bahwasanya ia melihat sekelompok
kaum – beberapa orang – sama melakukan shalat Dhuha lalu ia berkata:
“Apakah, orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat Dhuha di waktu
selain ini adalah lebih utama, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Shalatnya orang-orang yang bertaubat itu ialah jikalau anak-anak unta
itu telah merasa panas matahari.” (Riwayat Muslim) Tarmadhu dengan fathahnya ta’ dan mim dan dengan dhad mu’jamah,
yaitu sangat panas, sedang alfishal ialah jama’nya fashil yaitu anak unta
yang masih kecil. Bab 208
Anjuran Melakukan Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid
— Menghormat Masjid — Dua Rakaat Dan
Makruhnya Duduk Sebelum Bersembahyang Dua Rakaat,
Di Waktu Manapun juga Masuknya Masjid Itu Dan Sama
Halnya, Apakah Bersembahyang Dua Rakaat Tadi Dengan
Niat Tahiyat, Shalat Fardhu, Sunnah Rawatib Dan Lain-
lainnya

1141. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau salah seorang di antara engkau semua itu masuk masjid,
maka janganlah duduk dulu sebelum bersembahyang dua rakaat.”
(Muttafaq ‘alaih)
1142. Dari Jabir r.a., katanya: “Saya mendatangi Nabi s.a.w. dan ia
berada di masjid, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Bersembahyanglah dua rakaat.” (Muttafaq ‘alaih)

Bab 209
Sunnahnya Dua Rakaat Sesudah Wudhu’

1143. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. berkata kepada
Bilal:
“Hai Bilal, beritahukanlah kepada saya dengan suatu amalan yang paling
engkau harapkan pahalanya serta yang engkau amalkan dalam Islam, karena
sesungguhnya saya mendengar suara derap kedua terumpahmu di mukaku di
dalam syurga.” Bilal menjawab: “Saya tidak melakukan sesuatu amalan yang
lebih saya harapkan di sisiku daripada kalau saya habis bersuci sesuatu sucian
dalam waktu malam ataupun siang, melainkan saya tentu bersembahyang dengan
sucianku itu, sebagaimana yang ditentukan untukku – yakni setiap habis
berwudhu’ lalu melakukan shalat sunnah wudhu’.” (Muttafaq ‘alaih)

Ini adalah lafaznya Imam Bukhari
Addaffu dengan fa’ ialah suara terumpah dan gerakannya di atas bumi.
Wallahu a’lam.

Bab 210

Keutamaan Shalat Jum’ah, Kewajibannya, Mandi
Untuk Menghadhirinya, Datang Berpagi-pagi
Kepadanya, Doa Pada Hari Jum’ah, Membaca
Shalawat Nabi Pada Hari Itu, Uraian Perihal Saat
Dikabulkannya Doa-doa Dan Sunnahnya
Memperbanyak Zikir Kepada Allah Ta’ala
Sesudah Jum’ah

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka jikalau shalat sudah diselesaikan, maka menyebarlah di bumi dan carilah dari
keutamaan Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, supaya engkau semua
dapat berbahagia.” (al-Jumu’ah: 10)

1144. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit pada hari itu ialah hari jum’ah. Pada
hari itulah Adam diciptakan dan pada hari itu pula ia dimasukkan dalam
syurga dan juga pada hari itulah ia dikeluarkan dari syurga itu,” (Riwayat
Muslim)

1145. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa berwudhu’ lalu memperbaguskan wudhu’nya, Kemudian
mendatangi shalat Jum’ah terus mendengar dan berdiam diri – tidak berbicara
samasekali, maka diampunkanlah untuknya antara Jum’ah itu dengan
Jum’ah yang berikutnya, dengan diberi tambahan tiga hari lagi. Barangsiapa
yang memegang kerikil – batu kecil untuk dipermain-mainkan sehingga tidak
memperhatikan isi khutbah, maka ia telah melakukan kelalaian – yakni
bersalah.” (Riwayat Muslim)

1146. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., katanya: “Shalat lima waktu dan
dari Jum’ah satu ke Jum’ah berikutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan, adalah
sebagai penebus – yakni penebus dosa – antara waktu-waktu kesemuanya itu –
yakni antara waktu yang satu dengan waktu yang berikutnya, selama dosa-dosa
besar dijauhi.” (Riwayat Muslim)

1147. Dari Abu Hurairah dan juga dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhum,
bahwasanya keduanya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda di atas tiang-
tiang mimbarnya:
“Niscayalah kaum-kaum – orang-orang banyak – itu harus suka
menghentikan kebiasaan mereka meninggalkan shalat-shalat Jum’ah, atau –
kalau tidak demikian, maka niscayalah Allah akan menutup di atas hati-hati
mereka kemudian pastilah mereka akan termasuk dalam golongan orang-
orang yang lalai.” (Riwayat Muslim)

1148. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Jikalau seseorang di antara engkau semua mendatangi shalat Jum’ah, maka
hendaklah mandi dulu.” (Muttafaq ‘alaih)

1149. Dari Abu Said r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Mandi Jum’ah itu adalah wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”
(Muttafaq ‘alaih)
Yang dimaksudkan dengan Almuhtalim ialah orang yang sudah baligh –
dewasa dan berakal, sedang yang dimaksudkan wajib ialah secara pilihan,
seperti kata seseorang pada kawannya: “Hakmu itu wajib atasku.”

1150. Dari Samurah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
berwudhu’ pada hari Jum’ah, maka dengan ke-ringanan itu – bolehlah
dilakukan dan tanpa mandi – dan itupun sudah baik. Tetapi barangsiapa
yang mandi, maka mandi itu adalah lebih utama.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1151. Dari Salman r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidaklah
seseorang lelaki itu mandi pada hari Jum’ah, lalu bersuci sekuasa ia
melakukan bersuci tadi dan berminyak dengan minyaknya atau mengambil
darisebagian harum-haruman – minyak harum – yang ada di rumahnya,
selanjutnya ia keluar, lalu tidak memisahkan antara dua orang yang sedang
duduk, kemudian ber- sembahyang yang telah ditentukan untuknya – yakni
shalat sunnah Tahiyyatul masjid, seterusnya berdiam diri – tidak bercakap-
cakap – ketika imam berbicara, melainkan diampunkanlah untuknya antara
Jum’ah itu dengan Jum’ah lainnya – yakni yang berikutnya.” (Riwayat
Bukhari)
1152. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’ah sebagaimana mandi ketika janabah,
lalu pergi – ke masjid, maka seolah-olah ia berkurban seekor unta, dan
barangsiapa yang pergi pada jalan kedua, maka seolah-olah ia berkurban seekor
lembu, dan barangsiapa pergi pada jam ketiga, maka seolah-olah ia berkurban
seekor kambing yang bertanduk, dan barangsiapa pergi pada jam keempat,
maka seolah-olah ia berkurban seekor ayam betina, dan barangsiapa pergi pada
jam kelima, maka seolah-olah ia berkurban sebutir telur. Apabila imam telah
keluar, maka para malaikat – yang mencatat – itu semuanya mendengarkan
zikir – yakni khutbah.” (Muttafaq ‘alaih)
Sabdanya: Ghuslal janabah yakni mandi seperti mandi ketika janabah dalam
sifat dan keadaannya.

1153. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. menyebut-
nyebutkan hari Jum’ah, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Dalam hari Jum’ah itu suatu saat yang tidak dicocoki oleh seseorang
Muslim dan ia sedang berdiri bersembahyang sambil memohonkan sesuatu
permohonan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan apa yang
dimohonkannya itu.” Rasulullah mengisyaratkan dengan tangannya sebagai
tanda mempersedikitkan waktu yang dimaksudkan itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1154. Dari Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Abdullah
bin Umarradhiallahu ‘anhuma berkata: “Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menceriterakan tentang Rasulullah s.a.w. dalam hal shalat Jum’ah?”
la berkata: “Saya – Abu Burdah -[menjawab: “Ya, saya pernah mendengar ia
berkata: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Waktu yang mustajab itu ialah antara duduknya imam – di atas mimbar
sampai shalat diselesaikan.” (Riwayat Muslim)

1155. Dari Aus bin Aus r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya di antara hari-harimu semua yang lebih utama ialah hari
Jum’ah, maka dari itu perbanyakkanlah membaca shalawat padaku dalam hari
Jum’ah itu, sebab sesungguhnya shalawatmu semua itu ditunjukkan
kepadaku.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

Bab 211
Sunnahnya Sujud Syukur Ketika Mendapatkan
Kenikmatan Yang Nyata Atau Terhindar
Dari Bencana Yang Nyata

1156. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Kita semua keluar dengan
Rasulullah s.a.w. dari Makkah menuju Madinah. Ketika kita sudah berada di
dekat ‘Azwara’, beliau s.a.w. lalu turun -dari kendaraannya, kemudian
mengangkat kedua tangannya terus berdoa kepada Allah sesaat, selanjutnya
lalu turun untuk bersujud, kemudian berdiam diri agak lama, kemudian
berdiri mengangkat kedua tangannya sesaat lalu turun untuk bersujud lagi
dan ini dilakukan sampai tiga kali. Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya
saya bermohon kepada Tuhanku supaya dapat memberikan syafaat kepada
ummatku, lalu Tuhan memberikan padaku sepertiga dari ummatku itu.
Kemudian saya turun untuk bersujud karena menyatakan kesyukuran kepada
Tuhanku. Selanjutnya saya mengangkat kepalaku lalu saya bermohon lagi pada
Tuhanku untuk ummatku, kemudian Tuhan memberikan kepadaku sepertiga
ummatku lagi, lalu saya turun pula untuk bersujud kepada Tuhanku karena
menyatakan kesyukuran kepada Tuhanku. Se-terusnya saya mengangkat
kepalaku sekali lagi, lalu saya bermohon kepada Tuhanku untuk ummatku,
kemudian memberikan pula sepertiga yang terakhir, maka saya turun untuk
bersujud kepada Tuhanku.” (Riwayat Abu Dawud)

Bab 212
Keutamaan Bangun Shalat Di Waktu Malam

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan dari sebagian waktu malam, maka lakukanlah shalat Tahajud, sebagai suatu
amalan sunnah untukmu, mudah-mudahan Tuhanmu akan mengangkatmu ke tempat
yang terpuji.” (al-lsra’: 79)

Allah Ta’ala berfirman pula:
“Mereka sama meninggalkan tempat-tempat pembaringannya -untuk melakukan
ibadat di waktu malam.” (as-Sajdah: 16)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Mereka itu sedikit sekali dari waktu malam yang mereka pergunakan untuk
tidur.” (az-Zariyat: 17)
1157. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. itu berdiri untuk
bersembahyang malam, sehingga pecah-pecah kedua tapak kakinya. Saya
berkata kepadanya: “Mengapa Tuan mengerjakan sedemikian ini, ya
Rasulullah, padahal sudah diampunkan untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang
dahulu dan yang kemudian?” beliau s.a.w. lalu bersabda: “Tidakkah saya ini
seorang hamba yang banyak bersyukur.” (Muttafaq ‘alaih) Diriwayatkan dari al-Mughirah sedemikian itu pula. (Muttafaq ‘alaih)
1158. Dari Ali r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mendatanginya dan Fathimah di
waktu malam, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Apakah engkau berdua tidak
bersembahyang?” (Muttafaq ‘alaih)
Tharaqahu artinya mendatangi di waktu malam.

1159. Dari Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallhu ‘anhum
dari ayahnya bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Sebagus-bagus orang lelaki
ialah Abdullah, andaikata ia suka bersembahyang di waktu malam.”
Salim berkata: “Sejak saat itu Abdullah tidak tidur di waktu malam,
kecuali sebentar sekali.” (Muttafaq ‘alaih)
1160. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Hai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si Fulan itu. Dulu ia suka
sekali bangun bersembahyang di waktu malam, tetapi kini meninggalkan
bangun sembahyang waktu malam itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1161. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Ada seorang lelaki yang disebut-sebut
di sisi Nabi s.a.w., yaitu bahwa orang tersebut tidur di waktu malam sampai
pagi – yakni tidak bangun untuk bersembahyang malam, lalu beliau s.a.w.
bersabda: “Orang itu sudah dikencingi oleh syaitan dalam kedua telinganya” atau
beliau s.a.w. bersabda: “di telinganya.” (Muttafaq ‘alaih)

1162. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Syaitan itu memberikan ikatan pada ujung kepala seseorang di antara
engkau semua sebanyak tiga buah, jikalau ia tidur. la membuat ketentuan
pada setiap ikatan itu dengan kata-kata yang berbunyi: “Engkau
memperoleh malam panjang, maka tidurlah terus!” Jikalau orang itu
bangun lalu berzikir kepada Allah Ta’ala maka terurailah sebuah ikatan dari
dirinya, selanjutnya jikalau ia terus berwudhu’, lalu terurai pulalah ikatan
satunya lagi dan seterusnya, jikalau ia bersembahyang, maka terurailah
ikatan se-luruhnya, sehingga berpagi-pagi ia telah menjadi bersemangat serta
berhati gembira. Tetapi jikalau tidak sebagaimana yang tersebut di atas, maka ia
berpagi-pagi menjadi orang yang berhati buruk serta pemalas.” (Muttafaq
‘alaih)
Qafiyatur ra’si yaitu ujung penghabisan dari kepala.

1163. Dari Abdullah bin Salam r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Hai sekalian manusia, ratakanlah salam, berikanlah makanan,
bersembahyanglah di waktu malam sedang para manusia sedang tidur, maka
engkau semua akan dapat memasuki syurga dengan selamat.”
Diriwayatkan oleh-lmam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.
1164. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Seutama-utama puasa bulan Ramadhan ialah bulan Allah yang dimuliakan –
yakni berpuasa dalam bulan Muharram, sedang seutama-utamanya shalat
sesudah shalat fardhu ialah shalat di waktu malam.”(Riwayat Muslim)

1165. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi
s.a.w. bersabda:
“Shalat sunnah di waktu malam itu dua rakaat dua rakaat, maka jikalau engkau
takut masuknya shalat Subuh, maka berwitirlah dengan serakaat.” (Muttafaq
‘alaih)

1166. Dari Ibnu Umar r.a. pula, katanya: “Nabi s.a.w. itu bersembahyang di
waktu malam dua rakaat dan berwitir dengan serakaat.” (Muttafaq ‘alaih)

1167. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. berbuka – tidak berpuasa –
dari sebulan penuh, sehingga kita menyangka bahwa beliau s.a.w. tidak pernah
berpuasa dalam bulan itu, tetapi kadang-kadang beliau s.a.w. berpuasa dari
sebulan penuh, sehingga kita menyangka bahwa beliau s.a.w. tidak pernah
berbuka sedikitpun dalam bulan itu. Tidaklah engkau menginginkan hendak
melihat beliau bersembahyang dari waktu malam, melainkan engkau akan
dapat melihat beliau s.a.w. bersembahyang, tetapi tidaklah engkau
menginginkan beliau s.a.w. tidur, melainkan engkau akan dapat melihat beliau
s.a.w. sedang tidur.” Maksudnya antara shalat malam dengan tidurnya itu
demikian teratur waktunya, juga dilakukan tanpa berlebih-lebihan antara
keduanya itu yakni sedang. (Riwayat Bukhari)
1168. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu
bersembahyang sebelas rakaat, yakni di waktu malam. Beliau bersujud sekali
sujud dari rakaat-rakaat tadi sekira seseorang dari engkau semua membaca
limapuluh ayat sebelum beliau mengangkat kepalanya. Beliau s.a.w. juga
mengerjakan shalat dua rakaat sebelum shalat Fajar – yakni Subuh, kemudian
berbaringlah pada belahan tubuhnya yang kanan – sesudah bersembahyang
sunnah dua rakaat tadi, sehingga datanglah pada beliau itu orang yang
mengajaknya untuk bersembahyang Subuh – dengan jamaah. (Riwayat Bukhari)

1169. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. tidak
pernah menambah lebih dari sebelas rakaat – sunnah, baik dalam bulan
Ramadhan ataupun selain Ramadhan. Beliau s.a.w. bersembahyang empat rakaat,
maka janganlah engkau bertanya betapa indah dan panjangnya, kemudian
bersembahyang lagi empat rakaat, maka jangan pula engkau bertanya betapa
indah dan panjangnya, kemudian bersembahyang tiga rakaat.
Saya – yakni Aisyah – lalu bertanya: “Ya Rasulullah, apakah Tuan juga tidur
sebelum berwitir?” Beliau s.a.w. menjawab: “Hai Aisyah, sesungguhnya kedua
mataku itu tidur, tetapi hatiku tidaklah tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

1170. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. itu
tidur di permulaan malam dan bangun pada akhir malam lalu
bersembahyang.” (Muttafaq ‘alaih) 1171. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya bersembahyang bersama Nabi
s.a.w. pada suatu malam, maka tidak habis-habisnya beliau s.a.w. itu berdiri
sehingga saya bermaksud untuk melakukan sesuatu yang buruk.” la ditanya:
“Apakah yang hendak engkau maksudkan?” la menjawab: “Saya bermaksud
untuk duduk dari meninggalkan beliau s.a.w. – yakni tidak meneruskan ikut
berjamaah dengan Nabi s.a.w. dan akan bersembahyang munfarid.” (Muttafaq
‘alaih)

1172. Dari Hudzaifah r.a., katanya: “Saya bersembahyang beserta Nabi
s.a.w. pada suatu malam, maka beliau membuka -dalam rakaat pertama –
dengan surat al-Baqarah. Saya berkata: “Beliau ruku’ pada ayat keseratus,
kemudian berlalulah.”
Saya berkata: “Beliau bersembahyang dengan bacaan tadi itu dalam satu
rakaat, kemudian berlalu.”
Selanjutnya saya berkata: “Beliau ruku’ dengan bacaan di atas itu, kemudian
membuka dalam rakaat kedua – dengan surat an-Nisa’ lalu membacanya,
kemudian membuka lagi – sebagai lanjutannya -surat ali-lmran, kemudian
membacanya.
Beliau s.a.w. membacanya itu dengan rapi sekali – tidak tergesa-gesa, jikalau
melalui ayat yang di dalamnya mengandung pen-tasbihan – memaha-sucikan –
beliaupun mengucapkan tasbih, jikalau melalui ayat yang mengandung suatu
permohonan, beliaupun memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan
berta’awwudz -mohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang tidak
baik -beliaupun berta’awwudz – mohon perlindungan.
Kemudian beiiau s.a.w. ruku’ dan di situ beliau mengucapkan: Sub-hana rabbial
‘azhim. Ruku’nya adalah seumpama saja dengan berdirinya – yakni perihal
lamanya hampir persamaan belaka, selanjutnya beliau rriengucapkan:
Sami’allahu liman hamidah Rabbana lakal hamd, lalu berdiri dengan berdiri yang lama men-dekati ruku’nyatadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan:
Sub-hana rabbial ala, maka sujudnya itu mendekati pula akan berdirinya –
tentang lama waktunya. (Riwayat Muslim)

1173. Dari Jabir r.a.,katanya: “Rasulullah s.a.w. ditanya: “Shalat apakah yang
lebih utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu panjangnya berdiri” (Riwayat
Muslim)
Yang dimaksud dengan lafaz alqunut ialah berdiri.

1174. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda padanya:
“Shalat yang paling dicintai oleh Allah ialah shalatnya Dawud dan puasa
yang paling dicintai oleh Allah ialah puasanya Dawud. la tidur separuh malam,
bangun shalat yang sepertiganya dan tidur yang seperenamnya. la berpuasa
sehari dan berbuka – yakni tidak berpuasa – sehari.” (Muttafaq ‘alaih)

1175. Dari Jabir r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya di waktu malam itu niscayalah ada suatu saat yang tidak
dicocoki oleh seseorang Muslim yang di waktu itu memohonkan suatu
kenaikan kepada Allah, baik dari urusan ke duniaan atau akhirat, melainkan
Allah akan memberikan permoho-nannya tadi. Yang sedemikian ini ada di
setiap malam.” (Riwayat Muslim)
1176. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:”Apabila
seseorang di antara engkau semua bangun di waktu malam, maka hendaklah
membuka – memulai – shalatnya dengan dua rakaat yang ringan.” (Riwayat
Muslim)

1177. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila
bangun di waktu malam, maka beliau membuka -memulai – shalatnya
dengan dua rakaat yang ringan.” (Riwayat Muslim)

1178. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila
terlambat melakukan shalat malam karena sakit atau Iain-Iain, maka beliau
s.a.w. bersembahyang duabelas rakaat di waktu siang harinya.” (Riwayat
Muslim)

1179. Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: “Rasuiullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang tertidur sampai meninggalkan bacaan hizibnya atau
sesuatu bagian dari hizibnya itu – yang dibiasakan mem-baca – di waktu malam,
lalu ia membacanya di antara shalat Fajar -Subuh – dan shalat Zuhur, maka
dicatatlah untuknya seolah-olah ia membacanya itu di waktu malam.” (Riwayat
Muslim)
1180. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah merahmati seseorang lelaki yang bangun di waktu malam dan
membangunkan isterinya, lalu apabila isterinya enggan, lelakinya itu
memercik-mercikkan air di mukanya. Allah juga merahmati seorang wanita
yang bangun di waktu malam, lalu bersembahyang dan membangunkan
suaminya dan apabila suaminya itu enggan, lalu memercik-mercikkan air di
mukanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1181. Dari Abu Hurairah r.a. dan dari Abu Said radhiallahu ‘anhuma,
keduanya berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang lelaki itu membangunkan isterinya di waktu malam, lalu
keduanya bersembahyang atau mengerjakan shalat dua rakaat semua, maka
dicatatlah termasuk golongan orang-orang lelaki dan perempuan yang ingat –
kepada Allah.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1182. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua mengantuk dalam shalat, maka
hendaklah ia tidur dulu sehingga lenyaplah kantuk itu dari dirinya, karena
sesungguhnya seseorang di antara engkau semua itu jikalau bersembahyang
sedang ia mengantuk, barangkali ia bermaksud hendak memohonkan
pengampunan, tetapi lalu memaki-maki dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih) 1183. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasuiullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua bangun di waktu malam lalu
membaurlah al-Quran itu pada lisannya – yakni tidak keruan-keruan lagi
bacaannya sebab mengantuk, kemudian ia tidak dapat mengetahui lagi apa
yang dibaca olehnya – yakni tidak lagi memperhatikan isi dan maknanya,
maka baiklah ia berbaring-yakni tidur saja dulu.”(Riwayat Muslim)
Bab 213

Sunnahnya Bangun Malam Ramadhan Yaitu Untuk
Mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih

1184. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ber-sabda:
“Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karena
didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridhaan Allah, maka
diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang ter-dahulu.” (Muttafaq ‘alaih)

1185. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya:
“Rasulullah s.a.w. itu menganjur-anjurkan supaya senang mengerjakan
shalat – pada malamnya – bulan Ramadhan, tanpa menyuruh orang-orang itu
dengan kekerasan – yakni bukan kewajiban. Beliau s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karena
didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridhaan Allah, maka
diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang ter-dahulu.” (Riwayat Muslim)

Bab 214

Keutamaan Mengerjakan Shalat Di Malam Lailatul-
Qadri Dan Uraian Perihal Malam-malam Yang Lebih
Dapat Diharapkan Menemuinya

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami – Allah – menurunkan al-Quran itu pada malam Laitlatul-
qadri” sampai akhirnya ayat. (Surah al-Qadr)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran itu pada waktu malam yang
diberkahi,” sampai beberapa ayat selanjutnya.
(ad-Dukhan: 3)
1186. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa
berdiri bersembahyang dalam bulan Ramadhan karena didorong keimanan
dan keinginan memperoleh keridhaan Allah, maka diampunkanlah
untuknya dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaq ‘alaih)

1187. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya beberapa orang
lelaki dari para sahabat Nabi s.a.w. diberitahu dalam impian mengenai tibanya
lailatul-qadri yaitu dalam tujuh yang terakhir – yang dimaksudkan ialah antara
malam ke 22 sampai malam ke 28. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Saya melihat
impian-impianmu semua itu cocok yaitu pada tujuh yang terakhir. Maka barangsiapa hendak mencari lailatul-qadri itu, hendaklah mencari-nya pada
tujuh yang terakhir itu juga.” (Muttafaq ‘alaih)

1188. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu beri’tikaf
dalam sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan dan beliau s.a.w.
bersabda: “Carilah lailatul-qadri itu dalam sepuiuh yang terakhir – yakni antara
malam ke 21 sampai malam ke 30 – dari bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

1189. Dari Aisyah radhillahu ‘anha pula bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Carilah lailatul-qadri itu dalam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir
dari bulan Ramadhan – yakni malam ke 21,23, 25, 27 dan 29. (Riwayat Bukhari)

1190. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila
telah masuk sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan, maka beliau
menghidup-hidupkan malamnya – yakni melakukan ibadat pada malam
harinya itu, juga membangunkan isterinya, bersungguh-sungguh – dalam
ibadat – dan mengeraskan ikat pinggangnya – maksudnya adalah sebagai kata
kinayah men-jauhi berkumpul dengan isterinya.” (Muttafaq ‘alaih)

1191. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu
bersungguh-sungguh dalam beribadat dalam bulan Ramadhan yang tidak demikian bersungguh-sungguhnya kalau dibandingkan dengan bulan
lainnya, juga di dalam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan itu beliau
s.a.w. bersungguh-sungguh pula yang tidak demikian bersungguh-
sungguhnya kalau dibandingkan dengan hari-hari Ramadhan yang lainnya.”
(Riwayat Muslim)

1192. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya berkata: “Ya
Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya mengetahui pada malam
apa tibanya lailatul-qadri itu, apakah yang harus saya ucapkan pada malam
itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ucapkanah: Artinya: Ya Allah, sesungguhnya
Engkau adalah Maha Pengampun, gemar memberikan pengampunan, maka
ampuni iah saya.
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

Bab 215

Keutamaan Bersiwak — Bersugi — Dan Perkara-
perkara Kefitrahan
1193. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Andaikata tidak akan menjadikan keberatan bagi ummatku atau atas
sekalian manusia, niscayalah mereka itu akan saya perintah untuk bersiwak pada
tiap-tiap akan bersembahyang.” (Muttafaq ‘alaih)

1194. Dari Hudzaifah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila bangun dari
tidur, beliau menggosok-gosok mulutnya – yakni gigi-giginya – dengan siwak.”
(Muttafaq ‘alaih)
1195. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Kita semua menyediakan
untuk Rasulullah s.a.w. akan siwaknya serta air untuk berwudhu’nya, lalu ia
dibangkitkan oleh Allah sekehendak waktu yang diinginkan olehNya
untuk membangkitkannya di waktu malam, lalu beliau s.a.w. bersiwak lalu
berwudhu’ dan terus ber-sembahyang.” (Riwayat Muslim) 1196 Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya perbanyakkan
benar – untuk menyuruh – engkau semua dalam hal bersiwak.” (Riwayat
Bukhari)
1197. Dari Syuraih bin Hani’, katanya: “Saya berkata kepada Aisyah
radhiallahu ‘anha: “Dengan amalan apakah yang dimulai oleh Nabi s.a.w.,
jikalau beliau s.a.w. memasuki rumahnya?” la menjawab: “Dengan bersiwak.”
(Riwayat Muslim)
1198. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya masuk ketempat Nabi s.a.w.
sedang ujung siwak itu ada di lisan beliau s.a.w.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan ini adalah lafaznya Imam Muslim.

1199. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Siwak itu adalah menyebabkan sucinya mulut dan menyebab adanya
keridhaan Tuhan.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab
shahihnya dengan isnad-isnad shahih.
Imam Bukhari Rahimahullah menyebutkan Hadis ini dalam
kitab shahihnya sebagai ta’liq* dengan shiqat jazam, la mengatakan:
“Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Siwak itu dan seterusnya.”
* Ta’liq maksudnya dengan membuang awal sanad dalam Hadis di atas.
Hadis yang dita’liqkan itu disebut Hadis Mu’allaq. Persoalan ini termasuk
dalam Musthalah Hadis atau ilmu untuk mengetahui hal-hal yang
berhubungan dengan macam-macam nama Hadis, tingkatannya serta yang Iain-Iain lagi.Adapun maksudnya dengan shighat jazam itu ialah bahwa Hadis
di atas itu diberi hukum yang mantap perihal keshahihannya.

1200. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya; “Kefitrahan –
kemurnian sejak kejadian manusia – itu ada lima hal, atau lima hal ini
termasuk dalam kefitrahan, yaitu berkhitan, mencukur rambut kemaluan,
memotong kuku, mencabuti rambut ketiak dan mencukur kumis.”
(Muttafaq ‘alaih)
Alistihdad ialah mencukur’anah yaitu rambut yang ada di sekitar kemaluan –
lelaki ataupun wanita.

1201. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada sepuluh hal termasuk kefitrahan – kemurnian sejak ke-jadian
manusia, yaitu: mencukur kumis, mebiarkan tumbuhnya janggut, bersiwak,
menghirup air dalam hidung, memotong kuku, membasuh ruas-ruas jari-jari,
mencabuti rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan dan bercebok.” Yang
meriwayatkan Hadis ini berkata: “Saya lupa pada yang kesepuluh, kecuali
kalau yang kesepuluh itu ialah berkumur.” Waki’ berkata dan orang ini adalah
salah seorang dari yang meriwayatkan Hadis ini: Intiqashulma’ ialah beristinja’ –
bercebok.” (Riwayat Muslim)
Albarajim dengan ha’ muwahhadah dan jim yaitu ruas-ruas jari-jari dan
i’faut-lihyah artinya ialah tidak mencukurnya sedikitpun daripada rambut
janggut.”
1202. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., katanya:
“Guntinglah kumis – yang memanjang melebihi dua bibir – dan biarkanlah
tumbuhnya janggut.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 216

Mengokohkan Kewajiban Zakat Dan Uraian Tentang
Keutamaannya Serta Apa-apa Yang Berhubungan Dengan
Zakat Itu

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan dirikanlah shalat olehmu semua dan berikanlah zakat.”
(al-Baqarah: 43)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Dan mereka tidaklah diperintah, melainkan untuk beribadat kepada Allah,
penuh keikhlasan mengerjakan agama untukNya, serta dengan kecondongan hati,
demikian pula mendirikan shalat dan memberikan zakat. Yang sedemikian itu adalah
agama yang benar.” (al-Bayyinah: 5)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Ambillah sedekah dari sebagian hartabenda mereka, untuk memberikan serta
menyucikan hati mereka.” (at-Taubah: 103)
1203. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Agama Islam itu didirikan atas lima perkara, yaitu menyaksikan
bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad
adalah hamba dan pesuruh Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat,
beribadat haji di Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan.” (Muttafaq
‘alaih)

1204. Dari Thalhah bin Ubaidullah bin Usman bin ‘Amr bin Ka’ab at-Taimi
r.a., katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. yaitu
dari penduduk Najad, teruraikan rambut kepalanya, kita dapat
mendengarkan dengungan suaranya, tetapi tidak dapat kita fahami apa yang
diucapkan olehnya itu, sehingga ia mendekat kepada Rasuluilah s.a.w. Tiba-
tiba orang tersebut menanyakan perihal Agama Islam. Rasulullah s.a.w. lalu
bersabda:
“Yaitu lima kali shalat dalam sehari semalam.” la bertanya: “Apakah tidak ada
lagi kewajiban atas diriku selain shalat lima kali sehari semalam itu?” Beliau
s.a.w. menjawab: “Tidak ada, melainkan kalau engkau ingin beribadat sunnah.”
Rasulullah s.a.w. lalu menyambung sabdanya: “Dan berpuasa dalam
bulan Ramadhan.” Orang itu bertanya: “Apakah tidak ada kewajiban lain
selain itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Tidak, melainkan kalau engkau hendak
beribadat sunnah.”
Thalhah berkata: “Rasulullah s.a.w. lalu menyebutkan kepada orang itu
perihal zakat, lalu orang itu bertanya: “Apakah tidak ada kewajiban lain atas
diriku selain itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Tidak ada, melainkan kalau
engkau hendak beribadat sunnah.”
Orang itu lalu menyingkir dan ia berkata: “Demi Allah, saya tidak akan
menambah dari kewajiban-kewajiban itu dan tidak pula akan saya kurangi.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Orang itu akan berbahagia jikalau ia benar
kata-katanya.” (Muttafaq ‘alaih)

1205. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
mengutus Mu’az r.a. ke Yaman, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Ajaklah mereka itu untuk bersyahadat bahwa tiada Tuhan melainkan Allah
dan bahwa saya adalah pesuruh Allah. Jikalau mereka sudah mentaati untuk
melakukan itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah
mewajibkan atas mereka itu lima kali shalat dalam setiap sehari semalam.
Jikalau mereka sudah mentaati yang sedemikian itu, maka beritahukanlah
kepada mereka pula bahwasanya Allah mewajibkan sedekah – yakni zakat – atas
mereka yang diambil dari golongan yang kaya-kaya di kalangan mereka dan
dikembalikan kepada golongan yang fakir-fakir dari mereka.” (Muttafaq
‘alaih)

1206. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Saya diperintahkan – oleh Allah, supaya saya memerangi kepada para
manusia,sehingga mereka suka menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan
melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah pesuruh Allah
mendirikan shalat dan memberikan zakat. Jikalau mereka telah melakukan
yang sedemikian itu, maka terpeliharalah darah-darah serta hartabenda mereka daripadaku, sedang tentang hisab – yakni perhitungan amalan –
mereka adalah terserah atas Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

1207. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Ketika Rasulullah s.a.w. telah
meninggal dunia, dan Abu Bakar r.a. telah menjadi khalifah, sedang telah
menjadi kafirlah orang Arab yang kembali pada kekafiran. Umar r.a. berkata
kepada Abu Bakar r.a.: “Bagaimanakah dasarnya engkau memerangi para
manusia itu, sedangkan Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Saya diperintah untuk memerangi para manusia, sehingga mereka
mengucapkan La ilaha illallah, maka barangsiapa yang mengucapkan
sedemikian itu,sungguh-sungguh ia telah terpelihara daripadaku akan
hartabenda dan dirinya melainkan dengan haknya yakni yang sudah ditentukan
dalam Agama Islam. Adapun hisabnya orang itu adalah atas Allah.”
Abu Bakar menjawab: “Demi Allah, niscayalah saya akan memerangi
orang yang memperbedakan antara shalat dan zakat, sebab sesungguhnya
zakat adalah haknya harta. Demi Allah andaikata orang-orang itu enggan
memberikan kepadaku ikatan-ikatan -yang berhubungan dengan ketentuan
zakat – yang dulu pernah mereka tunaikan kepada Rasulullah s.a.w.,
niscayalah saya akan memerangi mereka sebab keengganan memberikannya
itu.”
Setelah itu Umar berkata: “Demi Allah, tidaklah keterangan Abu
Bakar itu melainkan saya telah melihat bahwa Allah telah membuka
dada Abu Bakar untuk dasar melakukan peperangan, maka saya
berpendapat bahwa itulah yang hak – yakni benar.” (Muttafaq ‘alaih)

1208. Dari Abu Ayyub r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada
Nabi s.a.w.: “Beritahukanlah kepada saya perihal sesuatu amalan yang dapat
memasukkan saya ke dalam syurga!” Beliau s.a.w. bersabda:”Supaya engkau
menyembah kepada Allah, tidak menyekutu-kan sesuatu denganNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mempereratkan ikatan
kekeluargaan.” (Muttafaq ‘alaih)

1209. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang A’rab -penghuni
pedalaman negeri Arab – mendatangi Nabi s.a.w. lalu berkata: “Ya Rasulullah,
tunjukkanlah kepada saya akan sesuatu amalan yang apabila saya
mengerjakannya, maka saya dapat memasuki syurga.” Beliau s.a.w. menjawab:
“Supaya engkau menyembah kepada Allah, tidak menyekutukan sesuatu
denganNya, mendirikan shalat, memberikan zakat yang diwajibkan dan
berpuasa Ramadhan.”
Orang itu lalu berkata: “Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman
kekuasaanNya, saya tidak akan menambah dari itu semua.” Setelah orang itu
menyingkir, Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Barangsiapa yang senang jikalau melihat
seseorang lelaki dari ahli syurga, maka hendaklah melihat orang ini tadi.”
(Muttafaq ‘alaih)

1210. Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: “Saya berbai’at kepada Nabi
s.a.w. untuk tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasihat
kepada setiap orang Islam.” (Muttafaq ‘alaih)

1211. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorangpun yang memiliki emas dan tidak pula yang memiliki perak,
lalu ia tidak menunaikan haknya – zakatnya – dari emas dan perak itu,
melainkan apabila telah tiba hari kiamat nanti dibuatkan untuknya beberapa
lembaran dari api neraka lalu di-panaskanlah dalam neraka Jahanam,
kemudian diseterikalah lambung, kening dan punggungnya dengan lembaran-lembaran tadi, setiap kali ia telah menjadi dingin lalu
dikembalikan lagi untuknya – yakni dipanaskan dan diseterikakan lagi. Hal
sedemikian itu terjadi dalam masa yang perkiraan lamanya ialah selama
limapuluh ribu tahun – menurut hitungan hari dunia, sehingga
diputuskanlah antara sekalian hamba Tuhan, lalu orang itu dapat mengetahui
kelanjutan nasib dirinya, ada kalanya ke syurga dan ada kalanya ke neraka.”
Rasulullah s.a.w. lalu ditanya: “Ya Rasulullah, kalau unta bagaimanakah?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Tiada seorangpun yang memiliki unta yang ia tidak
menunaikan haknya – yakni zakatnya, dan setengah daripada haknya unta ialah
memerah susunya di waktu ia didatangkan di tempat air – lalu air susunya itu
disedekahkan kepada siapa saja yang memerlukan, melainkan apabila telah
tiba hari kiamat, maka dibeberkanlah di mukanya sebidang tanah luas lagi
licin dan unta-unta itu dalam keadaan yang gemuk-gemuk yang pernah
dialaminya. Orang itu tidak akan kehilangan seekor anak untapun – yakni
seluruh miliknya itu lengkap – dan semua untanya itu akan menginjak-
injaknya dengan kakinya serta menggigitnya dengan mulutnya. Setiap kali ia
telah dilaluinya oleh yang mula-mula, maka akan dikembalikan pula yang
terakhirnya maksudnya terus saja unta-unta itu berputar-putar untuk
menginjaknya. Hal ini terjadi dalam suatu masa yang perkiraan lamanya itu
ialah limapuluh ribu tahun, sehingga diputuskanlan antara seluruh hamba
Tuhan, lalu orang itu akan mengetahui kelanjutan nasibnya ada kalanya ke
syurga dan ada kalanya ke neraka.”
Beliau s.a.w. lalu ditanya: “Ya Rasulullah kalau lembu dan kambing,
bagaimanakah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Tiada seorang yang memiliki lembu
ataupun kambing yang ia tidak menunaikan haknya – zakatnya, melainkan
apabila telah tiba hari kiamat, maka dibeberkanlah untuknya sebidang tanah
luas lagi licin. Ia tidak akan kehilangan seekorpun dari ternaknya itu, di dalamnya tidak ada yang bertanduk lengkung, tidak ada yang tak bertanduk
dan tidak ada pula yang patah tanduknya. Semuanya itu menuberuknya
dengan tanduk-tanduknya tadi dan menginjak-injaknya dengan kaki-
kakinya. Setiap kali ia telah dilalui oleh yang mula-mula, maka akan
dikembalikan pula yang terakhirnya. Hal ini terjadi dalam masa yang perkiraan
lamanya itu ialah limapuluh ribu tahun, sehingga diputuskanlah antara
sekalian hamba Tuhan, lalu orang itu akan mengetahui kelanjutan nasibnya,
ada kalanya ke syurga dan ada kalanya ke neraka.”
Beliau s.a.w. lalu ditanya: “Ya Rasulullah, kalau kuda bagaimanakah?” Beliau
s.a.w. menjawab: “Kuda itu ada tiga macam. la bagi seseorang adalah merupakan
dosa, ada pula yang bagi seseorang merupakan tabir – untuk keperluan peribadi
sehingga tidak memelukan bantuan orang lain,tetapi ada yang bagi seseorang
merupakan pahala. Adapun kuda yang bagi seseorang itu merupakan dosa, ialah
kuda yang diikatnya-yakni dimilikinya- untukdijadikan bahan riya’ – yakni
berpameran, lagi untuk kemegahan atau untuk menentang kepada ummat
Islam, maka kuda sedemikian inilah yang pemiliknya dapat memperoleh dosa.
Adapun kuda yang dapat menjadi sebagai tabir ialah seseorang yang
mengikatnya – yakni memilikinya – untuk sabilillah, kemudian ia tidak
melalaikan haknya Allah dalam hal punggungnya – yakni untuk dinaiki guna
melakukan ketaatan ataupun di waktu ada keperluan sendiri, bahkan tidak
melalaikan pula akan lehernya – maksudnya diperhatikan apa-apa yang
menjadi kemaslahatan kuda tadi dan melindunginya dari bahaya – maka
inilah kuda yang dapat menjadi tabir. Adapun kuda yang bagi pemiliknya
merupakan pahala ialah seseorang yang mengikatnya -yakni memilikinya –
untuk kepentingan sabilillah saja dan diperun-tukkan seluruh ummat Islam,
digembalakan di tanah yang penuh tanaman ataupun taman – yang banyak
makanannya. Maka tidaklah kuda itu makan sesuatu dari ladang atau taman
itu, melainkan dicatatlah untuknya beberapa kebaikan sebanyak apa yang
dimakan oleh kuda tersebut, bahkan dicatatlah beberapa kebaikan sebanyak hitungan kotorannya dan kencingnya. Tidak pula kuda itu menempuh dengan
kakinya lalu berlari ke sebuah atau dua buah bukit -lalu kembali lagi ke tempat
penggembalaannya – melainkan Allah mencatat untuknya beberapa kebaikan
sebanyak hitungan bekas langkahnya dan juga sebanyak kotoran-kotoran yang
ada. Tidak pula pemiliknya itu melalui sesuatu sungai, laiu kuda itu minum dari
sungai tadi,sedangkan ia tidak hendak memberi minuman padanya, melainkan
Allah mencatat untuk pemiliknya itu beberapa kebaikan sebanyak hitungan
tegukan yang diminumnya.”
Beliau s.a.w. ditanya lagi: “Ya Rasulullah, kalau keledai bagaimanakah?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Tiada sesuatu wahyu yang diturunkan kepada saya
mengenai hal keledai ini, melainkan ayat yang tersendiri maknanya ini tetapi
menghimpun segala macam persoalan, yaitu – yang artinya: “Barangsiapa yang
mengerjakan seberat timbangan semut kecil dari kebaikan, maka ia akan menge-
tahuinya dan barangsiapa yang mengerjakan seberat timbangan semut kecil,
dari kejelekan, maka ia akan mengetahuinya pula.” (az-Zalzalah: 7-8) (Muttafaq
‘alaih)
Dan ini adalah lafaznya Imam Muslim.
Alqa’ artinya ialah tempat yang rata dan luas dari bumi, sedang alqarqar ialah
licin.
Bab 217

Wajibnya Puasa Ramadhan, Uraian Keutamaan
Berpuasa Dan Hal-hal Yang Berhubungan Dengan Puasa
Itu
Allah Ta’ala berfirman:
“Hai sekalian orang yang beriman! Diwajibkanlah puasa atas engkau semua
sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang yang sebelum engkau semua itu,”
sampai kepada firmanNya: “Bulan ramadhan yang di dalamnya itu diturunkan al-
Quran, sebagai :petunjuk untuk semua manusia dan merupakan keterangan-
keterangan dari petunjuk dan yang memperbedakan antara kebenaran dan kesesatan.
Maka barangsiapa di antara engkau semua ada yang menyaksikan bulan
Ramadhan,hendaklah berpuasa dan barangsiapa yang sakit atau datam perjalanan, maka berpuasalah menurut hitungan yang tidak dipuasainya itu pada bari-hari yang lain,”
sampai akhirnya ayat. (al-Baqarah: 183)

1212. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ber-sabda:
“Allah ‘Azzawajalla berfirman – dalam Hadis qudsi: “Semua amal perbuatan
anak Adam – yakni manusia – itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena
sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan saya akan memberikan balasan
dengannya. Puasa adalah sebagai perisai – dari kemaksiatan serta dari neraka.
Maka dari itu, apabila pada hari seseorang di antara engkau semua itu
berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar.
Apabila ia dimaki-maki oleh seseorang atau dilawan bermusuhan, maka
hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya saya adalah berpuasa.” Demi Zat yang
jiwa Muhammad ada di dalam genggaman ke-kuasaanNya, niscayalah bau
bacin dari mulut seseorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah
daripada bau minyak kasturi. Seseorang yang berpuasa itu mempunyai dua
kegembiraan dan ia dapat merasakan kesenangannya, yaitu apabila ia berbuka,
iapun bergembiralah dan apabila telah bertemu dengan Tuhannya, iapun
gembira dengan adanya amalan puasanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan ini adalah lafaz riwayat Imam Bukhari.
Dalam riwayat Imam Bukhari yang lain disebutkan: Allah berfirman
dalam Hadis qudsi:
“Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwatnya
karena taat pada perintahKu – Allah. Puasa adalah untukKu dan Aku akan
memberikan balasannya, sedang sesuatu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh
kali lipat gandanya.”
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Setiap amal perbuatan anak Adam – yakni manusia itu, yang berupa
kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dengan sepuluh kalinya sehingga tujuhratus kali lipatnya.”Allah Ta’ala berfirman: “Melainkan puasa, karena
sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku akan memberikan
balasannya. Orang yang berpuasa itu meninggalkan kesyahwatannya, juga
makanannya semata-mata karena ketaatannya pada perintahKu. Seseorang
yang berpuasa itu mempunyai dua macam kegembiraan, sekali kegembiraan di
waktu berbukanya dan sekali lagi kegembiraan di waktu menemui Tuhannya.
Niscayalah bau bacin mulut orang yang berpuasa itu lebih
harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

1213. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menafkahkan sepasang binatang – yakni dua ekor kuda,
lembu ataupun unta – dalam kepentingan fi-sabilillah, maka ia akan dipanggil
dari semua pintu syurga dengan ucapan: “Hai hamba Allah, inilah yang lebih
baik.” Maka jikalau seseorang itu dari golongan ahli shalat, ia akan dipanggil
dari pintu Shalat, barangsiapa yang termasuk dalam ahli jihad, ia akan
dipanggil dari pintu Jihad, barangsiapa yang termasuk dalam ahli puasa, ia
akan dipanggil dari pintu Rayyan – artinya puas atau kenyang minuman,
barangsiapa yang termasuk dalam ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu
Shadaqah.”
Abu Bakar r.a. berkata: “Biabi anta wa ummi ya Rasuiullah, tidak ada kerugian
samasekali bagi seseorang yang telah dipanggil dari pintu-pintu itu, tetapi
apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Ya, ada dan saya mengharapkan agar anda termasuk dalam
golongan orang yang dipanggil dari segala pintu tadi.” (Muttafaq ‘alaih)

1214. Dari Sahl bin Sa’ad r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya di dalam
syurga itu ada sebuah pintu yang disebut pintu Rayyan – artinya: Puas dan
kenyang minum. Dari pintu ini masuklah semua orang yang berpuasa besok pada hari kiamat. Tidak ada seorang yang selain orang-orang yang berpuasa itu
yang dapat masuk dari pintu itu. Dikatakanlah: “Manakah orang-orang yang
berpuasa.” Mereka itu lalu berdiri, lalu tidak seorangpun yang dapat masuk
dari pintu Rayyan tadi selain orang-orang yang berpuasa. Jikalau mereka telah
masuk seluruhnya, lalu pintu itupun ditutuplah, jadi tidak seorangpun lagi
yang dapat memasukinya.” (Muttafaq ‘alaih)

1215. Dari Abu Said r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang
hambapun yang berpuasa sehari dengan niat fi-sabilillah – yakni semtata-mata
menuju kepada ketaatan kepada Allah, melainkan Allah akan menjauhkan
wajahnya – yakni dirinya -karena puasanya tadi, sejauh perjalanan tujuhpuluh
tahun dari neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

1216. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang berpuasa Ramadhan karena didorong oleh keimanan dan mengharapkan
keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuk dosa-dosanya yang terdahulu.”
(Muttafaq ‘alaih)

1217. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila bulan Ramadhan telah datang, maka dibukalah pintu-pintu
syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan diikatlah semua syaitan.”
(Muttafaq ‘alaih)

1218. Dari Abu Hurairah r.a, pula bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Berpuasalah karena melihat – rukyah – bulan dan berbukalah karena
melihat bulan. Maka apabila terhalang oleh awan atasmu semua, maka
sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban sebanyak tigapuluh hari.” (Muttafaq
‘alaih)
Ini adalah lafaznya Imam Bukhari.
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Maka jikalau tertutup oleh awan atasmu semua, maka berpuasalah
sebanyak tigapuluh hari.”
Bab 218
Dermawan Dan Melakukan Kebaikan Serta
Memperbanyak Kebagusan Dalam Bulan Ramadhan Dan
Menambahkan Amalan Itu Dari Yang Sudah-sudah
Apabila Tiba Sepuluh Hari Terakhir Dari Ramadhan Itu

1219. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. itu adalah sedermawan-dermawannya para manusia dan lebih-lebih
lagi kedermawaannya itu ialah dalam bulan Ramadhan ketika ditemui oleh
Jibril. Jibril itu menemui beliau s.a.w. pada setiap malam bulan Ramadhan
lalu membacakan al-Quran padanya. Maka niscayalah Rasulullah s.a.w. itu,
ketika ditemui oleh Jibril,adalah lebih dermawan dalam memberikan kebaikan
daripada angin yang dilepaskan tiupannya.” (Muttafaq ‘alaih)

1220. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. apabila telah
masuk sepuluh hari – yang terakhir dari Ramadhan -maka beliau s.a.w.
menghidupkan malamnya – dengan memperbanyakkan amalan ibadatnya, juga
membangunkan isterinya – agar ikut memperbanyak amalannya – serta
mengeraskan ikat pinggang-nya – yakni sebagai kata kinayah bahwa beliau s.a.w.
menjauhi untuk berkumpul dengan isterinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Bab 219

larangan Mendahului Ramadhan Dengan Puasa Sesudah
Pertengahan Sya’ban, Melainkan Bagi Orang Yang
Mempersambungkan Dengan hari-hari Yang
Sebelumnya Atau Tepat Pada Kebiasaan Yang
Dilakukannya, Misalnya Bahwa Kebiasaannya Itu ialah
Berpuasa Hari Senin Dan Kemis Lalu Bertepatan Dengan Itu

1221. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Janganlah seseorang
di antara engkau semua itu mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau
dua hari, kecuali kalau seseorang itu biasa berpuasa tepat hari puasanya, maka
hendaklah ia berpuasa pada hari itu.” (Muttafaq ‘alaih)
1222. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua berpuasa sebelum Ramadhan. Ber-puasalah
Ramadhan itu karena melihat – yakni rukyah – bulan dan berbukalah
karena melihat bulan. Apabila terhalang di balik bulan itu oleh awan,
maka sempurnakanlah hitungan tigapuluh hari.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan shahih.
1223. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila telah tertinggal separuh dari bulan Sya’ban, maka janganlah
engkau berpuasa.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan shahih.

1224. Dari Abulyaqzhan, yaitu ‘Ammar bin Yasir radhiallahu
‘anhuma, katanya:
“Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragu-ragukanlah hari
itu – yakni apakah masih Sya’ban ataukah sudah masuk hari Ramadhan,
maka ia telah bermaksiat dengan Abul Qasim – yakni Nabi Muhammad
s.a.w.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi, dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Bab 220

Apa Yang Diucapkan Di Waktu Melihat Bulan Sabit Yakni
Rukyatul Hilat

1225. Dari Thalhah bin Ubaidullah r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. itu apabila
melihat bulan sabit – yakni hilal, maka mengucapkan -yang artinya: “Ya Allah,
keluarkanlah bulan sabit itu dengan penuh keberkahan dan keimanan,
keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Inilah bulan
sabit membawa petunjuk dan kebaikan.”
Diriwayatkanoleh ImamTermidzidan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 221

Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya Selama Tidak
Takut Menyingsingnya Fajar

1226. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bersahurlah
engkau semua, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada
keberkahannya.” (Muttafaq ‘alaih)

1227. Dari Zaid bin Tsabit r.a., katanya: “Kita bersahur bersama Rasulullah
s.a.w. kemudian kita berdiri untuk melakukan shalat -yakni shalat Subuh.”
Kepadanya ditanyakan: “Berapa jarak waktu antara keduanya itu?” Yakni
antara selesainya sahur dengan berdirinya untuk shalat Subuh. la menjawab:
“Sekira cukup membaca limapuluh ayat.” (Muttafaq ‘alaih)

1228. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.vv. itu mempunyar dua orang juru azan, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi
Maktum. Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Bilal itu berazan di waktu masih malam – yakni
sebelum menyingsingnya fajar sadik, maka makanlah dan minumlah
engkau semua – untuk bersahur – sehingga Ibnu Ummi Maktum
berazan – sebagai tanda masuknya waktu Subuh.”
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Tidak ada jaraknya antara
kedua orang juru azan itu, melainkan kalau yang ini turun -yakni Bilal
– lalu yang ini – yakni Ibnu Ummi Maktum – naik.” Maksudnya jarak
waktu antara keduanya itu tidak terlalu lama. (Muttafaq ‘alaih)

1229. Dari ‘Amr bin al-‘Ash r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Pemisahan – yakni perbedaan – antara puasa kita dengan puasanya
kaum ahlulkitab -yakni kaum Yahudi dan Nasrani – itu ialah adanya
makan sahur.” (Riwayat Muslim)
Bab 222

Keutamaan Menyegerakan berbuka Dan Apa Yang
Digunakan Untuk Berbuka Itu Serta Apa Yang
Diucapkan Setelah Selesai Berbuka

1230. Dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada henti-hentinya orang-orang itu memperoleh kebaikan,
selama mereka itu suka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq ‘alaih)

1231. Dari Abu ‘Athiyah, katanya: “Saya dan Masruq masuk ke tempat
Aisyah radhiallahu ‘anha, laiu Masruq berkata padanya: “Ada dua
orang lelaki dari sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. tidak melalaikan
kebaikan, yang seorang menyegerakan Maghrib dan berbuka, sedang yang
lainnya mengakhirkan Maghrib dan berbuka.” Aisyah lalu bertanya:
“Siapakah yang menyegerakan Maghrib dan berbuka?” Masruq menjawab:
“Yaitu Abdullah – yang dimaksudkan Abdullah bin Mas’ud.” Aisyah
radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Demikian itulah yang dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w.” (Riwayat Muslim)

1232. Dari Abu Hurairah r.a., pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah ‘Azzawajalla berfirman – dalam Hadis qudsi: “Yang paling saya
cintai di antara hamba-hambaKu ialah yang lebih menyegerakan berbukanya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1233. Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Apabila malam telah menghadap – yakni datang – dari sebelah ini-yakni
dari sebelah timur- dan siang telah berlalu dari sebelah ini – yakni sebelah
barat, juga matahari telah terbenam, maka benar-benar sudah waktunyalah
seseorang yang berpuasa itu berbuka,” yakni jangan menunggu lama lagi.
(Muttafaq ‘alaih)

1234. Dari Abu Ibrahim yaitu Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu ‘anhuma,
katanya: “Kita berjalan – yakni bepergian – bersama Rasulullah s.a.w. dan
beliau s.a.w. berpuasa. Ketika matahari terbenam, lalu beliau bersabda kepada
sebagian kaum – yang mengikuti
perjalanan itu: “Hai Fulan, turunlah lalu masaklah roti itu dengan air untuk
kita.” Orang itu berkata: “Andaikata sore hari nanti,tentunya lebih
baik.”Maksudnya: Oleh sebab tampak masih agak siang, maka
alangkah baiknya kalau memasaknya itu menantikan agak sore sedikit. Beliau
s.a.w. lalu bersabda lagi: “Turunlah laiu masaklah roti dengan air untuk kita.”
Orang itu berkata lagi: “Sesungguhnya hari ini masih siang bagi Tuan – guna
berbuka.” Beliau s.a.w. bersabda lagi: “Turunlah, lalu masaklah roti dengan
air untuk kita.”
Yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Orang yang disuruh tadi lalu
turun, kemudian ia memasak roti dengan air untuk orang banyak.
Rasulullah s.a.w. lalu minum kemudian bersabda: “Apabila engkau semua telah melihat waktu malam datang dari sebelah sini -yakni sebelah timur, maka
benar-benar sudah waktunyalah seseorang yang berpuasa itu berbuka.”
Beliau bersabda demikian sambil menunjuk dengan tangannya ke arah
sebelah timur. (Muttafaq ‘alaih)
Sabdanya: Ijdah dengan menggunakan Jim lalu dal lalu ha’yang keduanya
muhmalah, artinya ialah campurlah roti sawiq dengan air.

1235. Dari Salman bin ‘Amr ad-Dhahabi ash-Shahabi r.a. dari Nabi
s.a.w., sabdanya:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua berbuka, maka hendaklah
berbuka atas kurma, tetapi apabila tidak menemukan kurma, maka
hendaklah berbuka atas air, karena sesungguhnya air itu suci.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1236. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu berbuka
sebelumnya melakukan shalat – Maghrib – atas beberapa buah kurma
basah, tetapi apabila tidak ada kurma basah, maka berbuka atas kurma
biasa, tetapi apabila tidak ada kurma, maka beliau s.a.w. minum beberapa
teguk air.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Bab 223

Perintah Kepada Orang Yang Berpuasa Supaya
Menjaga Lisan Dan Anggotanya Dari Perselisihan Dan
Saling Bermaki-makian Dan Sebagainya

1237. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Apabila pada hari seseorang di antara engkau semua itu berpuasa,
maka janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula
bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seseorang atau dilawan
bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya saya adalah
berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih)

1238. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan tidak pula
meninggalkan berkelakuan dengan dasar dusta, maka tidak ada keperluannya
bagi Allah dalam ia meninggalkan makan dan minumnya.” Maksudnya: Di
waktu berpuasa itu hendaknya meninggalkan hal-hal di atas, agar berpahala
puasanya tadi. (Riwayat Bukhari)
Bab 224

Berbagai masalah Dalam Puasa

1239. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Apabila seseorang di
antara engkau semua lupa – bahwa ia berpuasa, ialu ia makan atau minum,
maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya – yakni hal itu tidak
membatalkan puasanya, karena sesungguhnya Allah itulah yang
memberinya makan dan pula minumnya.” (Muttafaq ‘alaih)

1240. Dari Laqith bin Shabirah r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
beritahukanlah padaku perihal berwudhu’.” Beliau S.a.w. bersabda:
“Sempurnakanlah wudhu’ itu, sela-selailah dengan air antara jari-jari,
persangatkanlah menghirup air dalam hidung, melainkan jikalau engkau
dalam keadaan berpuasa.”Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan
Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1241. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. dicapai oleh
fajar – yakni didahului oleh menyingsingnya fajar, sedang beliau s.a.w. dalam
keadaan berjanabat karena berkumpul dengan isterinya, lalu beliau s.a.w.
mandi dan terus berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih)

1242. Dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma berkata:
“Rasulullah s.a.w. berpagi-pagi dalam keadaan berjanabat, bukannya karena
bermimpi – maksudnya karena berkumpul dengan isterinya, kemudian beliau
berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 225

Keutamaan Berpuasa Dalam Bulan Muharram,
Sya’ban Dan Bulan-bulan Yang Mulia —
Asyhurul Hurum

1243. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan
Allah yang dimuliakan – yakni Muharram – dan seutama-utama shalat
sesudah shalat wajib ialah shaliatullail – yakni shalat sunnah di waktu malam.”
(Riwayat Muslim)

1244. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Tidak pernah Nabi s.a.w.
itu berpuasa dari sesuatu bulan lebih banyak daripada Sya’ban, karena
beliau s.a.w. itu berpuasa dalam bulan Sya’ban itu seluruhnya.” “Dalam
suatu riwayat disebutkan:
“Beliau s.a.w. itu berpuasa dalam bulan Sya’ban, melainkan sedikit
sekali yang tidak – yakni sebagian besar dalam bulan ini dipuasai.”
(Muttafaq ‘alaih)

1245. Dari Mujibah al-Bahiliyah dari ayahnya atau dari paman-nya – yakni
saudara lelaki dari ayahnya, bahwasanya ia – ayah atau pamannya itu –
mendatangi Rasulullah s.a.w. kemudian pergi lagi. Selanjutnya ia
mendatangi Rasulullah s.a.w. lagi sesudah setahun, tetapi hal-ihwal serta
keadaan tubuhnya telah berubah. la lalu berkata: “Ya Rasulullah, apakah Tuan tidak mengenal lagi kepada saya?” Beliau s.a.w. bertanya: “Siapakah
engkau?” la menjawab: “Saya adalah al-Bahili yang datang pada Tuan
tahun yang lalu.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Apakah yang menyebabkan
perubahan dirimu, padahal engkau dahulu baik sekali keadaan
tubuhmu?” la menjawab: “Saya tidak pernah makan sesuatu makanan sejak
saya berpisah dengan Tuan dahulu, melainkan di waktu malam.
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Kalau begitu, engkau telah menyiksa
dirimu sendiri,” kemudian beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya:
“Berpuasalah dalam bulan Shabar – yakni bulan Ramadhan – dan
sehari saja dalam setiap bulan lainnya.” la berkata: “Tambahkanlah itu
untuk saya, sebab sesungguhnya saya masih ada kekuatan lebih dari itu.”
Beliau s.a.w. bersabda: “Berpuasalah dua hari.” la berkata:
“Tambahkanlah!” Beliau s.a.w. bersabda: “Berpuasalah tiga hari.” la
berkata: “Tambahkanlah!” Beliau s.a.w. bersabda: “Berpuasalah bulan-
bulan mulia – yaitu Rajab, Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram – dan
tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah,
berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.” Beliau s.a.w.
bersabda demikian dengan menunjukkan tiga buah jari-jarinya lalu
mengumpulkannya dan kemudian membukanya – maksudnya tiga hari
puasa lalu tiga hari tidak dan demikian seterusnya. (Riwayat Abu Dawud)
Syahrush shabri atau bulan Shabar yakni bulan Ramadhan.

Bab 226

Keutamaan Berpuasa Dan Lain-lain Dalam Hari-hari
Sepuluh Pertama Dari Bulan Zulhijjah

1246. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang mengerjakan amalan shalih pada hari-hari itu
yang lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini,” yakni hari-hari sepuiuh –
yang pertama dari Zulhijjah. Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, apakah
juga tidak lebih dicintai oleh Allah guna mengerjakan jihad fi-sabilillah?”
maksudnya: Untuk mengerjakan jihad, apakah tidak lebih dicintai oleh Allah
kalau dilakukan dalam hari-hari selain hari-hari pertama dari bulan Zulhijjah
itu.
Beliau s.a.w. menjawab: “Tidak lebih dicintai oleh Allah pada hari-hari
selain hari-hari sepuluh itu untuk berjihad fi-sabilillah, kecuali seseorang
yang keluar dengan dirinya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan
membawa sesuatu apapun dari yang tersebut – yakni setelah berjihad lalu mati
syahid. (Riwayat Bukhari)
Bab 227
Keutamaan Berpuasa Pada Hari Arafah, ‘Asyura Dan Tasu’a
1247. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ditanya perihal
berpuasa pada hari Arafah – yaitu tanggal 9 Zulhijjah. Beliau s.a.w. lalu
bersabda: “Puasa pada hari itu dapat menutupi dosa pada tahun yang lampau
serta tahun yang akan datang.” (Riwayat Muslim)

1248. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
berpuasa pada hari ‘Asyura – yaitu tanggal 10 bulan Muharram – dan
memerintahkan – ummatnya – untuk berpuasa pada hari itu pula. (Muttafaq
‘alaih)

1249. Dari Abu Qatadah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ditanya perihal
berpuasa pada hari ‘Asyura – tanggal 10 Muharram, Beliau s.a.w. lalu bersabda:
“Puasa pada hari itu dapat menutupi dosa tahun yang lampau.” (Riwayat
Muslim)

1250. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Niscayalah jikalau saya masih tetap hidup sampai tahun muka, tentulah
saya akan berpuasa pada hari kesembilan – bulan Muharram yakni Tasu’a.”
(Riwayat Muslim)

Bab 228

Sunnahnya Berpuasa Enam Hari Dari Bulan Syawwal
1251. Dari Abu Ayyub r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa berpuasa dalam bulan Ramadhan kemudian mengikutinya
dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka ia adalah seperti berpuasa setahun
penuh.”* (Riwayat Muslim)
Enam hari bulan Syawwal itu boleh di permulaan bulan yakni tanggal 2
sampai dengan 7 Syawwal dan boleh pula di pertengahan atau di akhir bulan.
Jadi asalkan bulan Syawwal boleh. Boleh puia dipersambungkan atau
dipisah-pisahkan, seperti dilakukan tanggal 2,5,10,20,26 dan 28 Syawwal. Tetapi
tanggal 1 Syawwal jangan digunakan berpuasa, sebab Idul-fitri dan haram
berpuasa di dalamnya.

Bab 229

Sunnahnya Berpuasa Pada Hari Senin Dan Kemis
1252. Dari Abu Qatadah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ditanya perihal
berpuasa pada hari Senin, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Itu adalah hari yang saya dilahirkan di dalamnya dan hari yang saya
diangkat sebagai Rasul atau hari yang pada saya diturunkan al-Quran.”
(Riwayat Muslim)

1253. Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w. katanya: “Ditunjukkanlah
amalan-amalan itu – oleh para malaikat kepada Allah Ta’ala – pada hari Senin
dan Kemis, maka saya senang jikalau amalanku itu ditunjukkan, sedang saya
dalam keadaan berpuasa.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan, Hadis ini diriwayatkan pula oleh
Imam Muslim, tanpa menyebutkan berpuasa

1254. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. berusaha
keras untuk berpuasa pada hari Senin dan Kemis – karena besarnya keutamaan
yang terdapat di dalamnya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

Bab 230
Sunnahnya Berpuasa Tiga Hari Dalam Setiap Bulan
Yang lebih utama sekali ialah berpuasa tiga hari itu dijatuhkan dalam hari-
hari bidh – yang artinya putih – yakni pada tanggal tigabelas, empatbelas dan
limabelas. Ada yang mengatakan yaitu tanggal duabelas, tigabelas dan
empatbelas, tetapi yang shahih dan masyhur ialah pendapat yang pertama.
1255. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya diwasiati oleh kekasihku –
yakni Nabi Muhammad s.a.w. dengan tiga macam perkara, yaitu berpuasa tiga
hari dari setiap bulan, melakukan dua rakaat shalat sunnah Dhuha dan supaya
saya bersembahyang witir sebelum saya tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

1256. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Saya diwasiati oleh kekasihku-yakni
Nabi Muhammad s.a.w. dengan tiga macam perkara. Saya samasekali tidak
akan meninggalkannya selama saya hidup, yaitu berpuasa tiga hari dari tiap-
tiap bulan, melakukan shalat sunnah Dhuha dan supaya saya tidak tidur dulu
sebelum saya bersembahyang witir.” (Riwayat” Muslim)

1257. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Berpuasa tiga hari dari tiap-tiap bulan adalah sama dengan berpuasa
setahun penuh.” (Muttafaq ‘alaih)
1258. Dari Mu’adzah a!-‘Adawiyah, bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah
radhiallahu ‘anha: “Apakah Rasulullah s.a.w. itu berpuasa sebanyak tiga hari
dari setiap bulan?” Aisyah radhiallahu anha menjawab: “Ya.” Saya – Mu’adzah –
bertanya: “Dari bulan apa saja beliau s.a.w. berpuasa?” Aisyah menjawab:
“Beliau tidak memperdulikan dari bulan manakah beliau berpuasa itu.”
(Riwayat Muslim)

1259. Dari Abu Zar r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda;
“Jikalau engkau berpuasa tiga hari dari sesuatu bulan, maka berpuasalah
pada tanggal tigabelas, empatbelas dan limabelas.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
1260. Dari Qatadah bin Milhan r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
memerintahkan kepada kita untuk berpuasa dalam hari-hari bidh-yang artinya
putih, yaitu pada tanggal tigabelas, empatbelas dan limabelas.” (Riwayat Abu
Dawud)

1261. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Rasulullah s.a.w. itu tidak
berbuka – yakni berpuasa – pada hari-hari bidh – yang artinya putih, baik beliau
s.a.w. berada di rumah ataupun di dalam perjalanan.”
Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dengan isnad yang baik.
Bab 231
Keutamaan Orang Yang Memberi Makan Buka
Kepada Orang Yang Berpuasa, Keutamaan Orang
Berpuasa Yang Dimakan Makanannya Di Sisinya Dan
Doanya Orang Yang Makan Kepada Orang Yang
Makanannya Dimakan Di Sisinya Itu

1262. Dari Zaid bin Khalid al-]uhani r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Barangsiapa yang memberi makan buka kepada orang yang berpuasa,
maka ia memperoleh seperti pahala orang yang berpuasa tadi tanpa dikurangi
sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa -yang diberi makan tadi.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis
hasan shahih.

1263. Dari Ummu Umarah al-Anshariyah radhiallahu ‘anha
bahwasanya Nabi s.a.w. masuk di tempatnya, lalu ia menghidangkan
sesuatu makanan kepada beliau s.a.w., kemudian beliau bersabda:
“Makanlah!” Ummu Umarah berkata: “Sesungguhnya saya ini ber-puasa.”
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya orang yang berpuasa itu
dimohonkan kerahmatan oleh para malaikat, apabila ada orang yang
makan makanannya di sisinya – yakni di tempatnya orang yang berpuasa
tadi, sehingga mereka selesai.”
Mungkin beliau s.a.w. bersabda: “Sampai orang-orang itu kenyang.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.

1264. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. datang kepada Sa’ad bin
Ubadah r.a., lalu Sa’ad menyuguhkan roti dan minyak, kemudian beliau
s.a.w. makan. Setelah selesai beliau s.a.w. mengucapkan doa – yang
artinya: “Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempatmu dan
orang-orang yang berbakti telah makan makananmu dan para malaikat
memohonkan kerahmatan atasmu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

Bab 232
Kitab I’tikaf
I’tikaf

1265. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. itu mengerjakan i’tikaf pada sepuluh hari yang penghabisan dari
bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)
1266. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w.
mengerjakan i’tikaf pada sepuluh hari penghabisan dari bulan
Ramadhan, sehingga Allah ‘Azzawajalla mematikannya, kemudian
beri’tikaflah para isteri beliau s.a.w. itu sesudahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
1267. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu mengerjakan i’tikaf
dalam setiap bulan Ramadhan sebanyak sepuluh hari. Ketika pada tahun
beliau s.a.w. dicabut ruhnya – yakni tahun wafatnya, maka beliau s.a.w.
mengerjakan i’tikaf sebanyak duapuluh hari.” (Riwayat Bukhari) Bab 233
Kitab Haji
Haji
Allah Ta’ala berfirman:
“Allah mewajibkan atas semua manusia melakukan ibadat haji Baitullah, yaitu kepada
orang yang kuasa mengadakan perjalanan ke situ Barangsiapa yang kafir, maka
sesungguhnya Allah itu Maha kaya – yakni tidak membutuhkan – dari alam semesta.”
(ali-lmran: 97)
1268. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:”Islam didirikan atas lima perkara, yaitu menyaksikan
bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad
adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah
dan berpuasa dalam bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

1269. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya: “Rasulullah s.a.w. berkhutbah
kepada kita lalu bersabda:
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu semua
akan beribadat haji, maka kerjakanlah ibadat haji itu.” Kemudian ada seorang
lelaki bertanya: “Apakah itu untuk setiap tahun, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w.
berdiam saja – yakni tidak menjawab pertanyaannya tadi – kemudian orang itu
menanyakannya sampai tiga kali. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Jikalau saya menjawab: “Ya,” niscayalah beribadat haji akan menjadi wajib setiap tahun
sekali, dan tentu engkau semua tidak akan kuasa mengerjakannya.” Selanjutnya
beliau s.a.w. bersabda: “Tinggalkanlah aku – yakni janganlah menanyakan
padaku – apa-apa yang saya tinggalkan untukmu semua – yakni apa-apa yang
tidak saya sebutkan. Hanyasanya yang menyebabkan rusaknya orang-orang
yang sebelummu semua itu ialah karena mereka terlampau banyak bertanya dan
senantiasa menyalahi pada Nabi-nabi mereka. Maka dari itu, apabila saya
memerintahkan kepadanmu semua dengan sesuatu perkara, lakukanlah itu
sekuat tenaga yang ada padamu semua dan jikalau saya melarang engkau semua
dari sesuatu perkara, maka tinggalkanlah itu.” (Riwayat Muslim)

1270. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. ditanya:
“Amalan manakah yang lebih utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Beriman
kepada Allah dan RasulNya.” Ditanya lagi: “Kemudian apakah?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Jihad fi-sabilillah.” Ditanya pula: “Kemudian apakah?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Haji yang mabrur.” (Muttafaq ‘alaih) Mabrur artinya ialah orang
yang mengerjakan haji itu tidak melakukan sesuatu kemaksiatan di dalamnya.

1271. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa mengerjakan haji, lalu ia tidak berbuat kelalaian dan tidak
pula mengerjakan dosa – yakni kemaksiatan besar atau yang kecil tetapi
berulang kali, maka ia akan kembali dari ibadat hajinya itu-sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya-yakni tidak ada dosa dalam dirinya
samasekali.” (Muttafaq ‘alaih)

1272. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam
waktu antara dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur -lihat keterangannya
dalam Hadis 1270, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu
melainkan syurga.” (Muttafaq ‘alaih)
1273. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
kita mengetahui bahwa jihad adalah seutama-utama amalan. Maka dari itu,
apakah kita – kaum wanita – tidak baik mengikuti jihad?” Beliau s.a.w. lalu
menjawab: “Bagi engkau semua – kaum wanita, maka sebaik-baiknya jihad
ialah mengerjakan haji yang mabrur” – lihat Hadis no. 1270 tentang arti
mabrur. (Riwayat Bukhari)
1274. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada suatu haripun yang di situ Allah lebih banyak memerdekakan
hambaNya dari siksa api neraka daripada hari Arafah.” (Riwayat Muslim)
1275. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
“Mengerjakan umrah dalam bulan Ramadhan itu menyamai pahalanya
dengan sekali haji atau sekali haji beserta saya.” (Muttafaq ‘alaih)

1276. Dari Ibnu Abbas r.a. pula bahwasanya ada seorang wanita berkata: “Ya
Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah atas sekalian hamba-
hambaNya yang berhubungan dengan ibadat haji itu telah menemui ayahku
dan beliau sudah menjadi seorang tua yang lanjut usianya, juga tidak dapat
menetap untuk duduk dalam kendaraan – maksudnya “Tidak kuat mengadakan
perjalanan. Maka apakah boleh saya mengerjakan haji untuknya – yakni saya
yang beribadat haji, sedang pahalanya ayah yang memiliki.” Beliau s.a.w.
menjawab: “Ya, boleh.” (Muttafaq ‘alaih)

1277. Dari Laqith bin ‘Amir r.a. bahwasanya ia mendatangi Nabi s.a.w., lalu
berkata: “Sesungguhnya ayahku itu seorang yang sudah tua lagi lanjut usianya.
la tidak dapat mengerjakan haji dan tidak dapat melakukan umrah serta tidak
kuasa bepergian, bagaimanakah itu?” Beliau s.a.w. bersabda: “Beribadat hajilah
untuk ayahmu itu serta berumrah pulalah!”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1278. Dari as-Saib bin Yazid r.a., katanya: “Saya diikutkan untuk beribadat haji
beserta Rasulullah s.a.w. dalam haji wada’ – haji Nabi s.a.w. yang terakhir
sebagai mohon diri – dan saya di waktu itu berusia tujuh tahun.” (Riwayat
Bukhari)
1279. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bertemu sekelompok para penaik kendaraan di Rawha’, lalu beliau s.a.w.
bertanya: “Siapakah kaum – yakni orang-orang – ini?” Mereka menjawab: “Kita
kaum Muslimin.” Mereka bertanya: “Siapakah anda?” Beliau s.a.w. menjawab:
“Saya Rasulullah.” Kemudian ada seorang wanita yang mengangkat seorang
anak bayi lalu bertanya: “Apakah anak ini boleh beribadat haji – maksudnya:
Kalau beribadat haji, apakah sudah dapat pahala.” Rasulullah s.a.w. lalu
menjawab: “Ya dan untukmu – yakni untuk orangtuanya – juga ada pahalanya.”
(Riwayat Muslim)

1280. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. beribadat haji di atas
kendaraan dan itu adaiah unta muatan milik beliau.”* (Riwayat Bukhari)

* Zamilah adalah unta yang digunakan untuk membawa beban atau muatan,
jadi bukan untuk perahan, sembelihan dan Iain-Iain. Pada umumnya yang
digunakan untuk membawa beban itupun digunakan pula untuk kenaikan
orang, sebagai-mana yang dilakukan oleh Nabi s.a.w. yang diceriterakan
dalam Hadis di atas.

1281. Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, katanya: ‘”Ukadz, Mijannah
dan Zulmajaz adalah merupakan pasar-pasar di zaman Jahiliyah, lalu orang-
orang sama merasa akan memperoleh dosa jikalau berdagang pada musim-
musim pasaran itu, kemudian turunlah ayat – yang artinya: “Tidak ada dosanya atas engkau semua jikalau
engkau semua mencari keutamaan rezeki dari Tuhan mu semua,”
– yakni dalam musim-musim haji. (Riwayat Bukhari)

Bab 234
Kitab Jihad
Jihad


Allah Ta’ala berfirman:
“Dan perangilah kaum musyrikin itu seluruhnya sebagaimana mereka memerangi
engkau semua seluruhnya pula dan ketahuilah bahwasanya Allah itu beserta orang-
orang yang bertaqwa.” (at-Taubah: 36)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Diwajibkan padamu sekalian berperang, sedang perang itu suatu hal yang dibenci
olehmu semua dan barangkali engkau semua membenci sesuatu, padahal ia adalah lebih
baik untukmu semua, juga barangkali engkau semua senang pada sesuatu, padahal ia
adalah lebih buruk untukmu semua. Allah adalah Maha Mengetahui, sedangkan engkau
semua tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Berangkatlah engkau semua, dengan rasa ringan atau berat dan berjihadlah
dengan harta-harta dan dirimu semua fisabilillah.” (at-Taubah: 41)
Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman
dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang fi-sabilillah, sebab itu
mereka dapat membunuh dan dibunuh, menurutjanji yang sebenarnya dari Allah
yang disebutkan dalam Taurat, Injil dan al-Quran. Siapakah yang lebih dapat me-
menuhi janjinya daripada Allah? Oleh sebab itu, bergembiralah engkau semua
dengan perjanjian yang telah engkau semua perbuat dan yang sedemikian itu adalah
suatu keuntungan yang besar.” (at-Taubah: 111)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Tidaklah sama antara orang-orang yang duduk-duduk – di rumah yakni tidak
mengikuti peperangan – dari golongan kaum mu’minin yang bukan karena keuzuran,
dengan orang-orang yang berjihad fi-sabilillah dengan barta-harta dan dirinya. Allah
melebih- kan tingkatan orang-orang yang berjihad dengan harta-harta dan
dirinya itu daripada orang-orang yang duduk-duduk tadi Kepada masing-
masing dari kedua golongan itu, Allah telah menjanjikan kebaikan dan Allah
lebih mengutamakan orang-orang yang berjihad daripada orang-orang yang
duduk-duduk dengan pahala yang besar,
Yaitu berupa derajat-derajat – yang tinggi, juga pengampunan dan
kerahmatan daripadaNya dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.”
(an-Nisa’: 95-96)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Hai sekalian orang-orang yang beriman. Sukakah kalau saya tunjukkan
kepadamu semua akan sesuatu perdagangan yang dapat menyelamatkan engkau
semua dari siksa yang menyakitkan? Yaitu supaya engkau semua beriman kepada Allah dan RasulNya dan pula
berjihad fi-sabilillah dengan harta-harta dan dirimu semua. Yang sedemikian itu
adalah lebih baik untukmu semua, jikalau engkau semua mengetahui.
Allah juga akan mengampunkan dosa-dosamu semua serta memasukkan
engkau semua dalam syurga-syurga yang mengalirlah sungai-sungai di
bawahnya, demikian pula beberapa tempat tinggal yang indah di syurga ‘Adn –
kesenangan yang kekal – dan yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang
besar.
Ada pula pemberian-pemberian yang Iain-Iain yang engkau semua
mencintainya, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (as-Shaf: 10-13)

Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak sekali dan masyhur-masyhur.
Adapun Hadis-hadis yang menguraikan keutamaan jihad ini lebih
banyak untuk dapat diringkaskan; di antara Hadis-hadis itu ialah:

1282. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. di-tanya:
“Amalan apakah yang lebih Utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Beriman
kepada Allah dan RasulNya.” Beliau s.a.w. ditanya lagi: “Kemudian
amalan apakah?” Beliau menjawab: “Yaitu jihad fisabilillah.” Beliau s.a.w.
ditanya lagi: “Kemudian amalan apakah?” Beliau menjawab: “Yaitu haji
yang mabrur” – lihat Hadis no. 1270 perihal arti mabrur. (Muttafaq
‘alaih)
1283. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
amalan manakah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Shalat tepat pada waktunya.” Saya ber-tanya lagi: “Kemudian
amalan apakah?” Beliau menjawab: “Yaitu berbakti kepada kedua
orangtua.” Saya bertanya lagi: “Kemudian amalan apakah?” Beliau
menjawab: “Yaitu jihad fi-sabilillah.” (Muttafaq ‘alaih)

1284, Dari Abu Zar r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, amalan
apakah yang lebih utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu beriman kepada
Allah dan berjihad fi-sabilillah.” (Muttafaq ‘alaih)

1285. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Niscayalah
sekali berangkat untuk berperang fi-sabilillah, di waktu pagi ataupun sore
itu adalah lebih baik nilainya daripada dunia dan segala apa yang ada di
dalamnya ini – yakni dari hartabenda di dunia dan seisinya ini.” (Muttafaq
‘alaih)

1286. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Ada seorang lelaki datang
kepada Rasulullah s.a.w., lalu berkata: “Manusia manakah yang lebih utama?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu orang mu’min yang berjihad fi-sabilillah
dengan diri dan hartanya.” la bertanya lagi: “Kemudian siapakah?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Yaitu orang mu’min yang – memencilkan dirinya- dalam suatu
jalanan di gunung – maksudnya suatu tempat di antara dua gunung yang
dapat digunakan sebagai kediaman – dari beberapa tempat di gunung, untuk
menyembah kepada Allah dan meninggalkan para manusia dari kejelekannya
diri sendiri,” jadi mengasingkan diri dari orang banyak sehingga tidak akan
sampailah kejelekannya diri sendiri itu kepada orang-orang banyak tadi.”
(Muttafaq ‘alaih)
1287. Dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bertahan – yakni tetap berdiam di dalam posnya bagi tentara -selama
sehari fi-sabilillah adalah lebih baik daripada dunia dan segala sesuatu
yang ada di atasnya. Tempat cemeti seseorang di antara engkau semua
dari syurga itu lebih baik daripada dunia dan segala sesuatu yang ada di
atasnya. Juga sekali berangkat yang dilakukan oleh seseorang hamba
untuk berperang fi-sabilillah, baik di waktu pagi ataupun sore, adalah
lebih baik daripada dunia dan segala sesuatu yang ada di atasnya.”
(Muttafaq ‘alaih)

1288. Dari Salman r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bertahan – yakni tetap berdiam dalam posnya bagi tentara -selama sehari
semalam – fi-sabilillah – adalah lebih baik daripada berpuasa sebulan serta
beramal ibadat di situ, jikalau ia meninggal dunia, maka diberi pahalalah
amalnya yang sudah ia kerjakan, juga “diberikan pula rezekinya – yakni dalam
syurga sebagaimana orang yang mati syahid – dan aman dari hal-hal yang
menyebabkan fitnah -dalam kubur.” (Riwayat Muslim)

1289. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Setiap mayit itu dihabiskan atas amalnya – sebagai yang sudah ada saja,
melainkan orang yang bertahan dalam peperangan fisabilillah, karena
sesungguhnya orang ini, amalannya itu tetap berkembang sampai hari
kiamat dan ia diamankan dari fitnah kubur.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
1290. Dari Usman r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Bertahan – tetap berdiam di posnya bagi tentara – selama sehari fi sabilillah
adalah lebih baik daripada seribu hari yang selainnya itu dari beberapa tempat
yang ada.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1291. Dari Abu Hurairah r.a., pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah memberikan jaminan kepada orang yang keluar untuk berjihad fi-
sabilillah, sedang tidak ada yang menyebabkan ia keluar itu kecuali untuk
berjihad dalam agamaKu – agama Allah, beriman kepadaKu, mempercayai
Rasul-rasuIKu, maka Allah menjamin orang tersebut bahwa Aku – Allah – akan
memasukkannya dalam syurga, atau akan Aku kembalikan orang itu ke
rumahnya yang ia keluar daripadanya itu dengan memperoleh pahala atau
ghanimah – harta rampasan.
Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya,
tiada suatu lukapun yang dikenakan lukanya itu ketika berjihad fi-sabililiah,
melainkan akan datanglah pada hari kiamat sebagaimana keadaannya di
waktu dilukainya dulu, warna-nya adalah seperti warna darah, sedangkan
baunya adalah seperti bau minyak kasturi.
Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya,
andaikata tidak menyebabkan rasa berat bagi kaum Muslimin, niscayalah saya
tidak akan duduk di belakang sesuatu pasukan yang berangkat berperang fi-
sabilillah untuk selama-lama-hya-yakni beliau s.a.w. akan terus mengikuti peperangan dan tidak suka ditinggalkan, andaikata hal itu tidak menjadikan rasa
berat bagi ummat Islam, tetapi saya tidak memperoleh kelonggaran, lalu saya
dapat membawa – yakni memimpin – mereka dan merekapun tidak
memperoleh kesempatan dan dirasakan berat atas mereka kalau mereka
tertinggal daripadaku.
Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya,
niscayalah saya senang sekali kalau saya berperang fi-sabilillah, lalu saya
dibunuh, kemudian saya berperang lagi terus dibunuh lagi, selanjutnya
berperang lagi terus dibunuh lagi.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari meriwayatkan
sebagian daripadanya.

1292. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorangpun yang terluka, yaitu yang dilukai ketika melakukan
peperangan fi-sabilillah, melainkan ia akan datang pada hari kiamat, sedang
lukanya itu masih berdarah. Warnanya adalah warna darah dan baunya
adalah bau minyak kasturi.” (Muttafaq ‘alaih)

1293. Dari Mu’az r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa yang berperang
ft-sabilillah, yaitu dari golongan orang Islam, sepanjang jarak waktu antara dua
perahan susu unta -yakni sekalipun waktunya hanya sebentar sekali, maka
wajiblah baginya itu syurga. Juga barangsiapa yang dilukai dengan sesuatu
luka ketika mengadakan peperangan fi-sabilillah ataupun terkena kesusahan
dengan satu macam kesusahan, maka sesungguhnya apa yang dialaminya itu akan datang sederas apa yang pernah terjadi. Warnanya adalah seperti minyak
za’faran sedang baunya adalah seperti bau minyak kasturi.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
1294. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Ada seorang lelaki dari sahabat-
sahabatnya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui suatu tempat di pegunungan yang
di situ terdapatlah sebuah mata air kecil dari air tawar, lalu merasa heran
dengan itu – yakni ia ingin sekali menempatinya. la berkata: “Andaikata saya
memencilkan diri di sini dari orang banyak, kemudian saya berdiam di sini –
tentulah lebih senang. Tetapi samasekali saya tidak akan melakukan
kehendakku ini sehingga saya akan meminta izin dulu kepada Rasulullah s.a.w.
Hal itu disebutkan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau lakukan itu, sebab sesungguhnya berdirinya salah seorang di
antara engkau semua untuk melakukan perang fi-sabilillah itu adalah lebih
utama daripada shalatnya dalam rumahnya sendiri selama tujuhpuluh hari.
Tidakkah engkau semua ingin kalau Allah memberikan pengampunan padamu
semua serta memasukkan engkau semua daiam syurga? Untuk memperoleh itu,
berperanglah engkau semua fi-sabilillah. Barangsiapa yang berperang fi-
sabilillah daiam jarak waktu antara dua kali perahan susu unta – yakni
sekalipun dalam waktu yang amat sebentar, wajiblah baginya itu syurga.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
Alfuwaq ialah jarak waktu antara dua kali perahan susu.
1295. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Ditanyakan kepada Rasulullah
s.a.w.: “Ya Rasulullah, apakah amalan yang menyamai jihad fi-sabilillah?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Tidak akan kuat engkau semua melakukannya.” Mereka – yakni para sahabat -mengulangi pertanyaannya tadi sampai dua atau
tiga kali. Semuanya itu oleh beliau s.a.w. hanya dijawab: “Engkau semua tidak
akan kuat melakukannya.” Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:
“Perumpamaan orang yang berjihad fi-sabilillah itu ialah seperti orang yang
berpuasa, yang bersungguh-sungguh ibadatnya, yang taat dalam
melaksanakan ayat-ayat Allah, tidak lalai sedikitpun dari shalat dan puasanya,
sehingga orang yang berjihad itu kembali.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan ini adalah lafaznya Imam Muslim.
Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan:
Ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya
akan sesuatu amalan yang pahalanya menyamai jihad!” Beliau s.a.w. bersabda:
“Saya tidak menemukannya.” Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Adakah
engkau kuat kalau sekiranya orang yang berjihad itu keluar lalu engkau
masuk dalam masjidmu, kemudian engkau terus mendirikan ibadat dan tidak
lalai sedikitpun, juga dengan berpuasa dan tidak pernah berbuka?” Orang itu
lalu berkata: “Siapakah yang kuat melakukan seperti itu.”

1296. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabda-nya:
“Setengah daripada sebaik-baik keadaan kehidupan para manusia ialah
seseorang yang memegang kendali kudanya untuk melakukan peperangan fi-
sabilillah, ia terbang di atas punggungnya. Setiap kali ia mendengar suara
gemuruh atau suara dahsyatdi medan peperangan itu, ia segera terbang ke sana
untuk mencari supaya terbunuh atau kematian yang disangkanya bahwa di
tempat suara gemuruh itulah tempatnya. Atau seseorang yang memelihara
kambing di puncak gunung dari beberapa puncak gunung yang ada,
ataupun di suatu lembah dari beberapa lembah ini. la mendirikan shalat dan
menunaikan zakat serta menyembah Tuhannya sehingga ia didatangi oleh keyakinan – yakni kematian. Tidak ada dari para manusia itu kecuali dalam
kebaikan.” (Riwayat Muslim)

1297. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w,
bersabda:
“Sesungguhnya dalam syurga itu ada seratus derajat yang disediakan
oleh Allah bagi orang-orang yang berjihad fi-sabilillah, Jarak antara kedua
derajat itu adalah sebagaimana jarak antara langit
dan bumi.” (Riwayat Bukhari)
1298. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang ridha dengan Allah sebagai Tuhan dan dengan
Muhammad sebagai Rasul, maka wajiblah baginya itu syurga.”
Abu Said merasa terpesona dengan sabda beliau s.a.w. ini, lalu berkata:
“Ulangilah lagi sabda itu, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. mengulangi sabdanya itu
kembali, kemudian melanjutkan sabdanya:
“Dan ada yang selainnya itu, Allah mengangkat dengannya pada seseorang
hamba seratus derajat dalam syurga, jarak antara kedua derajat itu adalah
sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” Abu Said bertanya: “Amalan apakah
itu, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu berjihad fi-sabilillah, sekali
lagi berjihad fi-sabilillah.” (Riwayat Muslim)
1299. Dari Abu Bakar bin Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Saya
mendengar ayah saya r.a., di waktu ia sedang berada di hadapan musuh, ia
berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya pintu-pintu syurga itu ada di bawah naungan pedang-
pedang.” Lalu ada seorang lelaki yang kurang teratur keadaan pakaiannya, lalu berkata:
“Hai Abu Musa, adakah anda mendengar sendiri Rasulullah s.a.w. bersabda
sedemikian itu?” la menjawab: “Ya.” Orang itu ialu kembali ke tempat kawan-
kawannya lalu berkata: “Saya mengucapkan salam sejahtera kepadamu semua.”
Kemudian ia mematahkan rangka pedangnya lalu melemparkannya, selanjut-
nya berjalanlah ia dengan membawa pedangnya ke tempat musuh, terus
memukul dengan pedangnya tadi sehingga ia terbunuh.” (Riwayat Muslim)
1300. Dari Abu ‘Abs yaitu Abdur Rahman bin Jabr r.a., katanya: ‘Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Tidaklah kedua kaki seseorang hamba itu berdebu karena melakukan
peperangan fi-sabilillah, lalu akan disentuh oleh api neraka.” (Riwayat
Bukhari)

1301. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena ketakutannya
kepada Allah, sehingga air susu kembali dalam tetek. Tidak pula akan
berkumpul pada seseorang hamba debu karena melakukan peperangan fi-
sabiliilah dan asap neraka Jahanam.” Diriwayatkan oleh imamTermidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

1302. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada dua macam mata yang tidak akan disentuh oleh neraka, yaitu mata
yang menangis karena ketakutan kepada Allah dan mata yang pada malam hari
menjaga – musuh datang – dalam melakukan peperangan fi-sabilillah.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1303. Dari Zaid bin Khalid r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang memberikan persiapan – seperti kendaraan, bekal, senjata
dan Iain-Iain – kepada seseorang yang melakukan peperangan fi-sabilillah,
maka orang itu dianggap ikut berperang. ]uga barangsiapa yang berlaku sebagai
pengganti kepada seseorang yang berperang fi sabilillah – dalam keluarganya –
seperti membantu kehidupan keluarga yang ditinggalkan itu – dengan
memberikan kebaikan – nafkah dan segala macam kebutuhan keluarga itu,
maka orang yang sedemikian juga dianggap ikut berperang.” (Muttafaq ‘alaih)

1304. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. berabda:
“Seutama-utama sedekah ialah memberikan naungan kemah untuk
peperangan fi-sabilillah, juga memberikan pelayan kepada orang yang
berperang fi-sabilillah – untuk menjadi pelayannya – dan pula memberikan unta yang cukup dewasa untuk dikumpuli oleh unta lelaki, guna
kepentingan peperangan fi-sabilillah.”
Diriwayatkan oleh ImamTermidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1305. Dari Anas r.a. bahwasanya ada seorang pemuda dari suku Aslam berkata:
“Ya Rasulullah, sesungguhnya saya menghendaki untuk mengikuti
peperangan, tetapi saya tidak mempunyai bekal yang dapat saya sediakan
bersamaku.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Datanglah pada si Fulan, karena
sesungguhnya ia sudah bersiap-siap kemudian ia sakit.”
Pemuda itu mendatangi orang yang sakit, lalu berkata: “Sesungguhnya
Rasulullah s.a.w. menyampaikan salam pada anda dan beliau s.a.w. bersabda
supaya anda memberikan pada saya persiapan yang sudah anda sediakan – untuk
mengikuti peperangan.” Orang itu lalu berkata – kepada pelayan wanitanya:
“Hai Fulanah, berikanlah pada pemuda ini apa-apa yang sudah saya siapkan
dan jangan engkau tahan sedikitpun daripadanya-yakni berikan sajalah
semuanya. Demi Allah, tidak ada sesuatupun yang engkau tahan, lalu akan
diberi keberkahan oleh Allah dalam benda itu.” (Riwayat Muslim)

1306. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
mengirimkan pasukan ke tempat Banu Lahyan, lalu bersabda: “Hendaklah
dari setiap dua orang itu, salah seorang saja yang ikut dalam pasukan yang
dikirimkan, sedang pahala adalah antara keduanya.” Ini jikalau yang tidak ikut
itu memberikan kelengkapan seperlunya kepada yang hendak ikut berangkat.
(Riwayat Muslim)
Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: “Hendaklah dari setiap
dua orang, seorang saja yang keluar.” Kemudian beliau s.a.w. bersabda kepada orang yang duduk-yakni tertinggal: “Mana saja orang di antara engkau semua
yang berlaku sebagai pengganti dari orang yang ikut keluar berperang – fi-
sabilillah – baik dalam urusan keluarga dan hartanya dengan baik-baik, maka
bagi orang yang tidak mengikutinya tadi adalah pahala sebanyak separuh dari
pahala orang yang ikut keluar berperang.” Maksudnya ikut mengurusi
keluarga orang yang berperang dengan memberikan nafkah dan apa saja yang
menjadi kebutuhan keluarga itu.

1307. Dari al-Bara’ r.a., katanya: “Ada seorang lelaki dengan berselubung
besi – di kepalanya dan bersenjata – datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: “Ya
Rasulullah, saya berperang atau masuk Islam dulu?” Beliau s.a.w.
bersabda:”Masuklah dalam Agama Islam dulu kemudian berperanglah!” Orang
itu lalu masuk Islam kemudian berperang lalu terbunuh. Rasulullah s.a.w.
lalu bersabda: Orang itu beramal hanya sedikit, dan diberi pahala banyak.”
(Muttafaq ‘alaih) Dan ini adalah lafaznya Imam Bukhari.

1308. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Tiada seorangpun yang
masuk syurga lalu ingin kembali ke dunia lagi, sedangkan ia tidak
mempunyai sesuatu apapun di atas bumi itu, melainkan orang yang mati
syahid. la mengharap-harapkan kiranya dapat kembali ke dunia lalu dibunuh
sampai sepuluh kali karena ia mengetahui kemuliaan mati syahid itu.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Karena ia mengetahui keutamaan mati
syahid itu.” (Muttafaq ‘alaih)
1309. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah memberikan pengampunan kepada orang yang mati syahid, yaitu segala sesuatu yang menjadi dosanya,
melainkan hutang. ” (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: “Mati dalam
peperangan fi-sabilillah itu dapat menutupi segala macam dosa,
melainkan hutang.”

1310. Dari Abu Qatadah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. berdiri di
hadapan orang banyak lalu menyebut-nyebutkan bahwasanya jihad fi-
sabilillah dan keimanan kepada Allah itu adalah seutama-utama amal
perbuatan. Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah,
bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya terbunuh dalam melakukan
peperangan fi-sabilillah, apakah kesalahan-kesalahan saya dapat
tertutup?” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Ya, jikalau engkau dibunuh
dalam peperangan fi-sabilillah dan engkau dalam keadaan sabar,
mengharapkan keridhaan Allah, menghadap – yakni maju – dan tidak
membelakang -yakni tidak mundur.” Selanjutnya Rasulullah s.a.w.
bersabda lagi: “Bagaimana sekarang ucapanmu?” Orang itu berkata:
“Bagaimanakah pendapat Tuan jikalau saya dibunuh dalam peperangan
fisabilillah, apakah kesalahan-kesalahan saya dapat tertutup?”
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ya dapat, asalkan engkau mati dalam
keadaan sabar, mengharapkan keridhaan Allah, sedang maju dan tidak
mundur. Kecuali kalau engkau mempunyai hutang, sebab
sesungguhnya Jibril a.s. mengatakan sedemikian itu padaku.”
(Riwayat Muslim)
1311. Dari Jabir r.a., katanya: “Ada seorang lelaki berkata: “Di
manakah tempatku, ya Rasulullah, jikalau saya terbunuh – dalam
melakukan peperangan fi-sabilillah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Dalam
syurga.” Orang itu lalu melemparkan beberapa buah kurma yang ada di
tangannya kemudian berperang sehingga ia terbunuh.” (Riwayat-
Muslim)
1312. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. dan para ;Sahabatnya
berangkat sehingga mereka dapat mendahului kaum musyrikin ke
suatu tempat bernama Badar, lalu kaum musyrikinpun datanglah.
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Janganlah ada seorangpun yang mendahului
bertindak di antara engkau semua ini kepada sesuatu tindakan, sehingga saya
adalah yang terdekat daripadanya -yakni harus mendapatkan persetujuan
dulu. Kaum musyrikin Lalu mendekat. Selanjutnya Rasulullah bersabda pula:
“Ayolah berdiri semua untuk menuju ke syurga yang luasnya adalah selebar
semua langit dan bumi.” Anas berkata; “Umair bin al-Humam al-Anshari r.a,
berkata: “Ya Rasulullah, syurga itu luasnya adalah selebar semua langit dan
bumi?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ya.” la berkata: “Aduh, aduh.”* Rasulullah
s.a.w. lalu bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau mengucapkan: “Aduh,
aduh.” la menjawab: “Tidak, demi Allah ya Rasulullah, hanya saja saya
mengharapkan semoga saya dapat menjadi ahli syurga itu.” Beliau s.a.w.
bersabda: “Engkau termasuk ahli syurga itu.”‘Umair lalu mengeluarkan
beberapa buah kurma dari dalam tempatnya lalu makan sebagian
daripadanya, kemudian berkata: “Niscayalah kalau saya masih hidup sehingga
saya dapat makan habis kurma-kurmaku ini, maka itu adalah hidup yang
panjang sekali.” ia pun lalu melemparkan kurma yang dibawanya itu lalu maju
untuk memerangi kaum musyrikin tadi sehingga ia sendiri terbunuh.”
(Riwayat Muslim) Alqaranu dengan fathahnya qaf dan ra’, artinya ialah tempat meletakkan
anak-anak panah.
* “Bakhin, bakhin” yang di atas itu diterjemahkan “Aduh, aduh”,
maksudnya untuk menyatakan keheranan kepada sesuatu yang dianggap baik
sekali, bukan karena sakit atau menyatakan keluhan jiwa

1313. Dari Anas r.a. pula, katanya: “Ada beberapa orang – dari Najab –
datang kepada Nabi s.a.w. dan mereka berkata: “Kirimkanlah kepada kita
semua beberapa orang lelaki yang dapat mengajarkan al-Quran dan as-
Sunnah kepada kita itu.” Nabi s.a.w. lalu mengirimkan kepada mereka
sebanyak tujuhpuluh orang dari golongan kaum Anshar yang dinamakan
al-Qurra’ – yakni para ahli baca al-Quran. Di dalam kalangan mereka itu
termasuk pulalah paman saya – yakni saudara lelaki dari ibu Anas – yang
bernama Haram. Tujuhpuluh orang di atas itu semua dapat membaca al-
Quran serta mentadarusnya – membaca secara berganti-ganti – di Waktu
malam juga mempelajarinya, sedang pada siang harinya mereka bekerja
membawa air lalu mereka letakkan dalam masjid selain itu mereka juga
mencari kayu bakar lalu menjualnya dan
dengan wang hasil penjualannya itu mereka membeli makanan untuk para
ahlus shuffah – yakni kaum fakir miskin yang tidak berkeluarga yang
bertempat di belakang masjid – dan pula untuk kaum fakir yang Iain-Iain.
Mereka semuanya – tujuhpuluh orang tadi – dikirimkan oleh Nabi s.a.w.
Tiba-tiba mereka dihadang oleh kaum musyrikin – yakni musuh kaum
Muslimin, kemudian musuh-musuh itu membunuh mereka sebelum
mereka sampai di tempat yang dituju. Mereka -kaum Muslimin-itu berkata:
“Ya Allah, sampaikanlah berita kita ini kepada Nabi kita, yaitu bahwa kita semua telah menemui Engkau -Allah, lalu kita merasa ridha denganMu dan
Engkau ridha dengan amalan kita ini.”
Ada seorang lelaki – musuh – datang kepada Haram yaitu paman saudara
lelaki dari ibu – Anas dari arah belakangnya, lalu orang itu menusuknya
dengan tombak sehingga ia dapat menewaskannya. Haram, berkata: “Saya
berbahagia – karena dapat menemui mati syahid, demi Zat yang menguasai
Ka’bah.”
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya saudara-saudaramu telah
dibunuh dan sesungguhnya mereka berkata: “Ya Allah,sampaikanlah berita
kita ini kepada Nabi kita.yaitu bahwa kita semua telah menemui Engkau –
Allah, lalu kita semua merasa ridha denganMu dan Engkau ridha dengan
amalan kita ini.” (Muttafaq ‘alaih) Dan ini adalah lafaznya Imam Muslim.

1314. Dari Anas r.a. pula, katanya: “Pamanku yakni Anas bin an-Nadhr r.a.
tidak mengikuti peperangan Badar, kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah,
saya tidak mengikuti pertama-tama peperangan yang Tuan lakukan untuk
memerangi kaum musyrikin-Jikalau Allah mempersaksikan saya – yakni
menakdirkan saya ikut menyaksikan – dalam memerangi kaum musyrikin –
pada waktu yang akan datang, niscayalah Allah akan memperlihatkan apa yang
akan saya perbuat. Ketika pada hari peperangan Uhud, kaum Muslimin
menderita kekalahan, lalu Anas bin an-Nadhr itu berkata: “Ya Allah, saya
mohon keuzuran – pengampunan – padaMu daripada apa yang dilakukan
oleh mereka itu – yang dimaksudkan ialah kawan-kawannya, karena
meninggalkan tempat yang sudah ditentukan oleh Nabi s.a.w., juga saya
berlepas diri – maksudnya tidak ikut campur tangan – padamu dari apa yang
dilakukan oleh mereka -yang dimaksudkan ialah kaum musyrikin yang
memerangi kaum Muslimin.
Selanjutnya iapun majulah, lalu Sa’ad bin Mu’az menemuinya. Anas bin
an-Nadhr berkata: “Hai Sa’ad bin Mu’az, marilah menuju syurga. Demi Tuhan
yang menguasai an-Nadhr – ayahnya, sesung-guhnya saya dapat menemukan
bau harum syurga itu dari tempat di dekatUhud.”
Sa’ad berkata: “Saya sendiri tidak sanggup melakukan sebagaimana yang
dilakukan oleh Anas itu, ya Rasulullah.”
Anas – yang merawikan Hadis ini yakni Anas bin Malik, kemenakan
Anas bin an-Nadhr – berkata: “Maka kami dapat menemukan dalam
tubuh Anas bin an-Nadhr itu delapanpuluh buah lebih pukulan pedang
ataupun tusukan tombak ataupun lemparan panah. Kita menemukannya
telah terbunuh dan kaum musyrikin telah pula mencabik-cabiknya. Oleh sebab itu tidak
seorangpun yang dapat mengenalnya lagi, melainkan saudara
perempuannya saja, karena mengenal jari-jarinya.”
Anas – perawi Hadis ini – berkata: “Kita sekalian mengira atau menyangka
bahwasanya ayat ini turun untuk menguraikan hal Anas Bin an-Nadhr itu atau
orang-orang yang seperti dirinya, yaitu ayat -yang artinya:
“Di antara kaum mu’minin itu ada beberapa orang yang menepati
apa yang dijanjikan olehnya kepada Allah,” sampai seterusnya ayat tersebut.
(Muttafaq ‘alaih)
Hadis di atas telah lalu uraiannya dalam bab Almujahadah yakni
Bersungguh-sungguh.

1315. Dari Samurah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Semalam saya
melihat dalam impian dua orang lelaki yang mendatangi saya, lalu memanjat
sebuah pohon denganku. Kedua memasukkan saya dalam sebuah rumah yang
paling indah dan utama yang saya samasekali belum pernah melihat rumah yang
lebih indah daripada rumah tadi. Keduanya berkata: “Adapun rumah ini
adalah perumahan orang-orang yang mati syahid.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan ini adalah sebagian dari suatu
Hadis yang panjang dan di dalamnya terkandunglah berbagai macam ilmu
pengetahuan. Kelengkapan Hadis ini akan datang dalam bab: Keharaman
berdusta, Insya Allah Ta’ala.

1316. Dari Anas r.a. bahwasanya Ummur Rabi’ binti al-Bara’, yaitu ibunya
Haritsah bin Suraqah, ia mendatangi Nabi s.a.w., lalu berkata: “Ya Rasulullah,
tidakkah Tuan suka memberitahukan kepada saya tentang Haritsah – yakni
anaknya yang terbunuh pada hari peperangan Badar. Jikalau ia ada di dalam
syurga, maka saya akan bersabar, tetapi jikalau ia ada di tempat yang selain itu, maka saya akan bersangat-sangat untuk menangisinya.” Nabi s.a.w. lalu
bersabda: “Hai ibu Haritsah, sesungguhnya saja ada beberapa taman di dalam
syurga itu dan sesungguhnya anakmu itu telah mem-peroleh syurga al-Firdaus
yang tertinggi.” (Riwayat Bukhari)

1317. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Ayahku
didatangkan kepada Nabi s.a.w. – pada hari peperangan Uhud dan ayahnya itu
telah mati syahid. Ayahku itu telah dirusakkan tubuhnya, kemudian diletakkan
di hadapan beliau s.a.w. Saya berkehendak akan membuka wajahnya, tetapi
orang-orang banyak melarang saya. Selanjutnya Nabi s.a.w. bersabda: “Para
malaikat tidak henti-hentinya menaunginya dengan sayap-
sayapnya.”(Muttafaq ‘alaih)

1318. Dari Sahl bin Hunaif r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang memohonkan kepada Allah akan kesyahidan – yakni
supaya mati syahid – dengan hati yang sebenar-benarnya, maka Allah akan
menyampaikan orang itu ke tempat kediaman para syuhada – yakni pahalanya
disamakan dengan mereka, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya.” (Riwayat
Muslim)

1319. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang
mencari kesyahidan – yakni supaya mati syahid – dengan hati yang sebenar-
benarnya, maka ia akan diberi kesyahidan itu – yakni memperoleh pahala
seperti orang yang mati syahid, sekalipun kesyahidan itu tidak mengenainya – yakni sekalipun tidak benar-benar mati dalam pertempuran fi-sabilillah.”
(Riwayat Muslim)

1320. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang yang mati syahid itu tidak mendapatkan kesakitan karena terkena
pembunuhan, melainkan hanyalah sebagaimana seseorang di antara engkau
semua mendapatkan kesakitan karena terkena gigitan – semut dan sebagainya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

1321. Dari Abdullah bin Abu ‘Aufa radhiallahu’anhu ma bahwasanya
Rasulullah s.a.w., pada salah satu dari hari-hari di waktu beliau itu menemui
musuh, beliau menantikan sehingga matahari condong – hendak terbenam,
beliau lalu berdiri di muka orang banyak, kemudian bersabda:
“Hai sekalian manusia, janganlah engkau semua mengharap-harapkan
bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah akan keselamatan. Tetapi jikalau
engkau semua menemui musuh itu, maka bersabarlah. Ketahuilah olehmu
semua bahwasanya syurga itu ada di bawah naungan pedang.”
Selanjutnya Nabi s.a.w. bersabda:
“Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan, yang
menghancur-leburkan gabungan pasukan musuh. Hancur-leburkanlah mereka
dan berilah kita semua kemenangan atas mereka.” (Muttafaq ‘alaih)
1322. Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada dua macam doa yang tidak akan ditolak atau sedikit sekali ditolaknya,
yaitu doa ketika ada panggilan shalat – yakni antara azan dan iqamah – dan pula
doa ketika berkecamuknya peperangan, yakni di waktu sebagian yang
bertempur itu bergulat dengan sebagian lainnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1323. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila berperang,
mengucapkan:
“Ya Allah, Engkau adalah pembantu serta penolongku, dengan-Mulah saya
bertempur dan denganMu pula saya menghubungkan diri dan denganMu
juga saya berperang.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1324. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. itu apabila takut kepada
sesuatu kaum – atau golongan, beliau mengucapkan:
“Ya Allah sesungguhnya kita menjadikan Engkau – yakni men-jadikan
perlindungan dan penjagaanMu – dalam leher-leher mereka sehingga mereka
tidak kuasa memperdayakan kita – dan kita mohon perlindungan
kepadaMu dari kejahatan-kejahatan mereka.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1325. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Kuda itu diikatkan pada ubun-ubunnya -sebagai isyarat betapa utamanya
maju dalam pertempuran dengan menaiki kuda itu. Kebaikan itu tetap ada
sampai hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)

1326. Dari Urwah al-Bariqi r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Kuda itu diikatkan pada ubun-ubunnya- lihat uraiannya dalam Hadis no.
1325. Kebaikan tetap ada sampai hari kiamat, yaitu memperoleh pahala – jikalau
mati syahid dalam peperangan fi-sabilillah – atau memperoleh ghanimah –
yakni harta rampasan jikalau mendapatkan kemenangan.” (Muttafaq ‘alaih)

1327. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menahan – memiliki serta merawat – seekor kuda yang
digunakan untuk perang fi-sabilillah karena didorong oleh keimanan kepada
Allah dan mempercayai sungguh-sungguh akan janjiNya, maka
sesungguhnya makanan untuk mengenyangkannya, minuman untuk
melepaskan dahaganya, kotorannya, dan kencingnya itu ada timbangan
pahalanya besok pada hari kiamat.” (Riwayat Bukhari)

1328. Dari Abu Mas’ud r.a., katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada
Rasulullah s.a.w. dengan membawa seekor unta yang diikatkan hidungnya –
semacam kendali untuk kuda, lalu ia berkata: “Ini untuk sabilillah.” Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Engkau akan memperoleh besok
pada hari kiamat sebanyak tujuhratus ekor unta yang semuanya juga diikat
hidungnya seperti ini.” (Riwayat Muslim)

1329. Dari Abu Hammad, ada yang mengatakan Abu Su’ad, ada pula yang
mengatakan Abu Usaid, ada lagi Abu ‘Amir, ada pula Abu ‘Amr, ada pula Abul
Aswad dan ada yang mengatakan Abu ‘Abs, yaitu Uqbah bin ‘Amir al-Juhani
r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda di atas mimbarnya:
“Dan persiapkan untuk memerangi kaurn kafirin itu segala kekuatan
yang engkau semua dapat menyiapkannya. Ingatlah bahwasanya kekuatan
ialah memanah, ingatlah sesungguhnya kekuatan ialah memanah dan ingatlah
sesungguhnya kekuatan iaiah memanah.” (Riwayat Muslim)

1330. Dari Abu Hammad r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Akan dibukakanlah untuk kemenanganmu semua beberapa negeri dan
Allah akan mempercukupkan engkau semua – yakni menolongmu dalam
peperangan. Maka jangan lemahlah seseorang di antara engkau semua itu
untuk bermain-main dengan anak-anak panahnya,” – Ini adalah sebagai
anjuran untuk melatih diri agar pandai memanah.” (Riwayat Muslim)

1331. Dari Abu Hammad r.a. pula bahwasanya ia berkata: “Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Barangsiapa yang telah diajari memanah, lalu meninggalkannya – untuk
terus berlatih, maka ia bukan dari golongan kita – kaum Muslimin,” atau beliau
s.a.w. bersabda: “Orang itu telah melakukan kemaksiatan.” (Riwayat Muslim)

1332. Dari Abu Hammad r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu memasukkan dengan sebab adanya sebatang anak
panah itu tiga macam orang dalam syurga, yaitu pembuatnya yang dalam
membuat anak panah tadi mengharapkan keridhaan Allah, juga orang yang
memanahkannya dan pula orang yang memberikan anak panah itu – sebagai
bantuan kepada orang yang hendak berangkat berperang fi-sabilillah.
Lemparlah – dengan panah – dan naiklah – kuda, tetapi jikalau engkau
semua pandai melemparkan panah, maka hal itu adalah lebih saya sukai
daripada engkau pandai menaiki kuda.
Barangsiapa yang meninggalkan melempar – dengan panah -setelah ia
diajarinya, karena ia tidak suka lagi padanya, maka sungguhnya itu adalah
suatu kenikmatan yang ditinggalkannya,” atau beliau s.a.w. bersabda: “Orang
itu menutupi kenikmatan yang telah diberikan padanya itu.” (Riwayat Abu
Dawud)

1333. Dari Salamah bin al-Akwa’ r.a., katanya: “Nabi s.a.w. berjalan melalui
suatu kelompok orang saling berlomba untuk memanah, lalu beliau s.a.w.
bersabda: “Pandaikanlah dirimu untuk melempar – dengan panah itu – hai
keturunan Ismail, sebab sesungguhnya ayahmu – yakni Nabiullah Ismail a.s. –
adalah seorang yang pandai melempar – dengan panah.” (Riwayat Bukhari)

1334. Dari ‘Amr bin ‘Abasah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa melempar dengan sebatang anak panah dalam peperangan fi-
sabilillah, maka baginya adalah pahala yang sama dengan memerdekakan
seorang hambasahaya.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1335. Dari Abu Yahya yaitu Khuraim bin Fatik r.a., katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menafkahkan sesuatu nafkah untuk peperangan fi-
sabilillah, maka dicatatlah untuknya pahala sebanyak
tujuhratus kali lipatnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1336. Dari Abu Said r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang
hambapun yang berpuasa sehari dalam sabilillah, melainkan Allah menjauhkan
diri orang itu dengan sebab puasanya sehari tadi, sejauh perjalanan tujuhpuluh
tahun dari neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

1337. Dari Abu Umamah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa yang
berpuasa sehari dalam sabilillah, maka Allah membuatkan antara orang itu
dengan neraka sebuah khandak -tanah yang digali – sebagaimana jauhnya
antara langit dan bumi.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

1338. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mati dan belum pernah melakukan peperangan, juga
tidak pernah tergerak hatinya untuk melakukannya itu – yakni tidak ada
keinginannya samasekali untuk berjihad fi-sabilillah, maka ia mati dengan
menetapi satu cabang dari ke-munafikan.” (Riwayat Muslim)

1339. Dari Jabir r.a., katanya: “Kita semua bersama Nabi s.a.w. dalam suatu
peperangan, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang lelaki yang engkau
semua tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu
lembah, melainkan orang-orang tadi ada besertamu – yakni sama-sama
memperoleh pahala, mereka itu terhalang oleh sakit – maksudnya andaikata
tidak sakit pasti ikut berperang.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Mereka itu terhalang oleh keuzuran.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Melainkan mereka – yang tertinggal
itu – berserikat denganmu semua dalam hal pahalanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari riwayat Anas, juga diriwayatkan
oleh Imam Muslim dari riwayat Jabir dan lafaz di atas adalah bagi Imam
Muslim.
1340. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya ada seorang A’rab -penghuni
pedalaman negeri Arab – mendatangi Nabi s.a.w., lalu berkata: “Ya Rasulullah,
ada seorang yang berperang dengan tujuan hendak merebut harta rampasan, ada
pula seorang yang berperang dengan tujuan supaya disebut-sebut namanya dan
ada pula eorang yang berperang dengan tujuan untuk memperlihatkan betapa
besar keberaniannya.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Ada seorang berperang untuk
menunjukkan keberanian, ada pula yang berperang untuk memper-tahankan
kebaikan nama keluarga.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Ada orang yang berperang karena
melepaskan kemarahannya, maka yang manakah di antara semua itu yang
termasuk orang yang berperang fi-sabilillah?”
Rasulullah s.a.w. menjawab:
“Barangsiapa yang berperang dengan tujuan supaya kalima-tullah – yakni
agama Allah – itu menjadi yang tertinggi, maka orang sedemikian itulah yang
disebut jihad fi-sabilillah.” (Muttafaq ‘alaih)

1341. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada sepasukan tentara atau sekelompok barisan tempur yang berperang
lalu memperoleh ghanimah – harta rampasan – dan selamat – dari kematian,
melainkan mereka itu telah mempercepatkan dua pertiga pahala yang harus
diperolehnya. Tiada sepasukan tentara atau sekelompok barisan tempur yang
kembali dengan tangan hampa – yakni tidak memperoleh ghanimah – dan
terkena bencana – mati syahid atau luka-luka – melainkan telah sempurnalah
pahala yang harus mereka peroleh itu.” (Riwayat Muslim)
1342. Dari Abu Umamah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata: “Ya
Rasulullah, berikanlah izin kepadasaya untuk merantau ke negeri orang lain.
Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya cara perantauan untuk ummatku
itu ialah berjihad fi-sabiliilah
‘Azzawajalla.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang baik.

1343. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma dari Nabi
s.a.w., sabdanya:
“Pulang dari peperangan itu pahalanya seperti dalam melaku-kan
peperangan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang baik.
Alqaftah ialah pulang. Maksudnya ialah bahwa pulang dari peperangan
setelah selesainya. Ini mengandung pengertian bahwasanya pulangnya
seseorang dari peperangan sesudah perang itu selesai, juga diberi pahala
sebagaimana semasih dalam peperangan -sampai datang di rumah
1344. Dari as-Saib bin Yazid r.a., katanya: “Ketika Nabi s.a.w. datang dari
peperangan Tabuk, lalu disambut oleh orang banyak. Saya juga menyambut
beliau s.a.w. itu bersama beberapa anak kecil di tempat yang bernama
Tsaniyyatul wada’.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih dengan
menggunakan lafaz di atas. ]uga diriwayatkan oleh Imam Bukhari, katanya: “Kita semua pergi untuk menyambut Rasulullah s.a.w. bersama anak-anak
kecil di Tsaniyyatul wada’.”
1345. Dari Abu Umamah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa yang tidak
pernah berperang atau tidak pernah mempersiapkan keperluan-keperluan
untuk orang yang akan melakukan peperangan atau tidak berlaku sebagai
pengganti dari seseorang yang melakukan peperangan dalam keluarganya
dengan kebaikan – yakni mencukupi keluarga yang ditinggalkan dengan
memberikan nafkah, perlindungan dan apa saja yang dibutuhkan, maka Allah
akan mengenakan padanya dengan sesuatu bencana sebelum hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh imam Abu Dawud dengan isnad shahih
1346. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Berjihadlah engkau
semua kepada kaum musyrikin itu dengan hartamu, dirimu dan lisanmu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
1347. Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan Abu Hakim, yaitu an-Nu’man
bin Muqarrin r.a., katanya: “Saya menyaksikan Rasulullah s.a.w., jikalau
beliau tidak melakukan peperangan di permulaan siang hari, maka tentulah
beliau mengakhirkan peperangan sehingga lingsirnya – tergelincirnya –
matahari dan meniuplah angin dan turunlah kemenangan.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
1348. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua mengharap-harapkan bertemu musuh, tetapi
apabila engkau semua menemui mereka, maka bersabarlah.” (Muttafaq ‘alaih)

1349. Dari Abu Hurairah r.a. dan dari Jabir radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
Nabi s.a.w. bersabda:
“Perang itu tipuan,” yakni dalam peperangan wajiblah menggunakan
tipudaya untuk dapat memperoleh kemenangan. (Muttafaq ‘alaih)

Bab 235
Uraian Peribal Kelompok Golongan Orang-orang Yang
Dapat Disebut Mati Syabid Dalam Pabala
Akbirat Dan Mereka Ini Wajib Dimandikan Dan
Disembabyangi, Berbeda Dengan Orang Yang
Terbunuh Dalam Berperang Melawan Kaum Kafirin

1350. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang-orang yang mati syahid itu ada lima macam, yaitu orang yang mati
karena penyakit taun – yakni pes, orang yang mati karena penyakit perut, orang
yang mati lemas – tenggelam dalam air, orang yang mati karena kerobohan –
pohon, rumah dan Iain-Iain – dan orang yang mati syahid dalam peperangan
fi-sabilillah.” (Muttafaq ‘alaih)

1351. Dari Abu Hurairah r.a. pula, dari Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Apa sajakah yang engkau semua masukkan dalam hitungan orang-orang
yang mati syahid di kalangan engkau semua itu? Para sahabat menjawab: “Ya
Rasulullah, barangsiapa yang terbunuh dalam melakukan peperangan fi-
sabilillah, maka ia adalah orang yang mati syahid.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Kalau demikian cara penganggapannya, maka sesungguhnya orang-orang yang
mati syahid di kalangan ummatku itu niscaya sedikit sekali.” Mereka lalu
bertanya: “Kalau demikian, maka siapa sajakah ya Rasulullah?” Beliau s.a.w.
bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh dalam melakukan peperangan fi-sabilillah,
maka ia adalah orang yang mati syahid, juga barangsiapa yang mati dalam
melakukan peperangan fi-sabilillah – sekalipun tidak terbunuh, misalnya
jatuh dari kudanya, maka iapun mati syahid. Demikian pula barangsiapa yang
mati karena dihinggapi penyakit taun – yakni pes, maka itupun orang yang
mati syahid, juga barangsiapa yang mati karena dihinggapi penyakit perut,
maka ia juga mati syahid dan orang yang lemas-mati tenggelam dalam air –
itupun syahid.” (Riwayat Muslim)

1352. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma,
katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang terbunuh karena membela harta – yang menjadi
miliknya, maka ia adalah syahid.” (Muttafaq ‘alaih)

1353. Dari Abul-A’war yaitu Said bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail, salah
seorang di antara sepuiuh orang yang disaksikan akan mem-peroleh syurga –
yakni bahwa Nabi s.a.w. telah menjelaskan bahwa mereka itu pasti masuk
syurga – radhiallahu anhum, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang terbunuh karena membela harta – yang dimilikinya,
maka ia adalah mati syahid, barangsiapa terbunuh karena membela darahnya
– yakni mempertahankan diri karena hendak dibunuh oleh seseorang, maka ia
juga mati syahid, barang- siapa yang terbunuh karena mempertahankan
agamanya, iapun mati syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena
mempertahankan keluarganya – kehormatan mereka, maka ia juga mati syahid.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1354. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada
Rasulullah s.a.w., lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat
Tuan,jikalau ada seseorang datang hendak mengambil hartaku?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Jangan engkau berikan padanya.” Orang itu bertanya:
“Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau ia menyerang saya?” Beliau
menjawab: “Balaslah serangannya!” la bertanya lagi: “Bagaimanakah pendapat
Tuan, jikalau ia berhasil membunuh saya?” Beliau s.a.w. menjawab: “Engkau
mati syahid.” la bertanya pula: “Bagaimanakah pendapat Tuan jikalau saya
dapat membunuhnya?” Beliau s.a.w. menjawab: “la masuk dalam neraka.”
(Riwayat Muslim)
Bab 236
Keutamaan Memerdekakan
Hambasahaya
Allah Ta’ala berfirman:
“Tetapi ia – manusia – itu tidak berusaha menempuh jalan mendaki. Dan apakah
yang menyebabkan engkau mengerti, apa jalan mendaki itu?
Yaitu memerdekakan hambasahaya,” sampai selesainya ayat. (al-Balad: 11-13)
1355. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang memerdekakan seorang hambasahaya yang Muslim,
maka Allah akan memerdekakan dengan setiap anggota orang yang ia
merdekakan itu akan anggotanya sendiri dari api neraka, sehingga
kemaluannya – orang memerdekakan tadi dihindarkan dari neraka – dengan
sebab ia memerdekakan kemaluan hambasahaya tadi.” (Muttafaq ‘alaih)
1356. Dari Abu Zar r.a,, katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, amalan
manakah yang lebih utamaf” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu beriman kepada
Allah dan berjihad fi-sabilillah.” Abu Zar berkata: “Saya lalu bertanya lagi:
“Hambasahaya manakah yang lebih utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu
yang dianggap terbaik oleh pemiliknya dan termahal harganya.” (Muttafaq
‘alaih)
Bab 237

Keutamaan berbuat Baik Kepada Hambasahaya
Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sembahlah olehmu semua akan Allah dan janganlah menyekutukan
sesuatu denganNya, berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang menjadi kerabat, tetangga yang bukan kerabat,
kawan dalam perjalanan, orang yang sedang dalam perjalanan dan apa-apa yang menjadi
milik tangan kananmu – yakni hambasahaya.” (an-Nisa’: 36)

1357. Dari al-Ma’mr bin Suwaid, katanya: “Saya melihat Abu Zar r.a. ia
mengenakan sesuatu pakaian, sedang bujangnya -hambasahaya kecil – juga
mengenakan pakaian sebagaimana yang dikenakan olehnya – yakni dalam hal
mutu kain, potongan dan coraknya. Saya lalu bertanya padanya, mengapa ia
berbuat demikian. Abu Zar lalu menyebutkan bahwasanya ia pada zaman Rasulullah s.a.w. pernah memaki seseorang lelaki, kemudian dicacinya orang
itu dengan menyebutkan ibunya. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda:
“Engkau ini benar-benar seorang yang dalam dirimu itu masih ada sifat
Jahiliyah. Para hambasahaya itu adalah saudara-saudaramu juga merupakan
pembantu-pembantumu. Oleh Allah mereka itu dijadikan dibawahtanganmu-
yakni berada di bawah kekuasaanmu. Oleh sebab itu barangsiapa yang
saudaranya itu ada di bawah tangannya – yakni barangsiapa yang memiliki
hambasahaya, hendaklah ia memberinya makan dari apa yang dimakan olehnya
sendiri, memberinya pakaian dari apa-apa yang dikenakan olehnya, janganlah
memaksa mereka mengerjakan sesuatu yang dapat mengalahkan mereka – yakni
yang mereka tidak kuat mengerjakannya, tetapi jikalau mereka engkau paksa
sedemikian, maka wajiblah engkau menolong mereka itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1358. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jikalau seseorang di
antara engkau semua telah didatangi oleh pelayannya dengan membawa
makanannya, maka jikalau ia tidak mengajak duduk bersama pelayannya itu,
hendaklah memberinya saja sesuap atau dua suap, satu macam atau dua macam
suapan makanan, sebab sesungguhnya pelayan itu telah merampungkan
pekerjaannya.” (Riwayat Bukhari)
Al-uklah dengan dhammahnya hamzah, artinya ialah suapan makanan.

Bab 238

Keutamaan Hambasahaya Yang Menunaikan Hak Allah
Ta’ala Dan Hak Tuannya

1359. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya hambasahaya itu apabila suka menasihati ke-pada tuannya,
berbuat baik dalam beribadat kepada Tuhannya, maka ia memperoleh
pahalanya dua kali.” (Muttafaq ‘alaih)

1360. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
”Seorang hambasahaya yang berbuat kebaikan itu memiliki dua pahala. Demi
Zat yang jiwa Abu Hurairah ada di dalam genggaman kekuasaanNya, andaikata
tiada kewajiban jihad fi-sabilillah, haji dan berbakti kepada ibuku, niscayalah
saya lebih senang kalau saya mati sedang saya di saat itu sebagai seorang
hambasahaya.” (Muttafaq ‘alaih)

1361. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. , katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Hambasahaya yang berbuat baik dalam beribadat kepada Tuhannya
dan menunaikan hak kepada tuannya yang sudah menjadi kewajibannya
itu, serta suka memberi nasihat dan taat, maka hambasahaya yang
sedemikian itu mempunyai dua pahala.” (Riwayat Bukhari)

1362. Dari Abu Musa al-Asy’ari pula, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
Ada tiga orang yang dapat memiliki dua pahala, yaitu: Orang dari
golognan ahlul-kitab – yakni kaum Yahudi dan Nasrani – yang beriman
kepada Nabinya – yakni Nabi Isa Almasih – dan beriman pula kepada
Muhammad, juga hambasahaya apabila suka menunaikan hak Allah dan
hak tuannya, demikian pula seorang lelaki yang memiliki seorang
hambasahaya wanita, lalu diberinya pendidikan memperbaguskan adab
kesopanannya, lagi pula diberinya pelajaran dan memperbaguskan
ajaran-ajarannya, kemudian hambasahaya wanita tadi dimerdekakan
terus dikawin sendiri olehnya, maka orang lelaki itupun dapat
memperoleh dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih) Bab 239

Keutamaan Beribadat Dalam Keadaan Penuh Kekacauan
Yaitu Percampur-bauran Dan Timbulnya Berbagai Fitnah
Dan Sebagainya
1363. Dari Ma’qil bin Yasar r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Beribadat dalam keadaan penuh kekacauan itu sama keutamaannya
dengan berhijrah padaku.” (Riwayat Muslim)

Bab 240

Keutamaan Bermurah Hati Dalam Berjual-beli,
Mengambil Dan Memberi, Bagusnya Menunaikan Hak
Yang Menjadi Tanggungannya — Yakni Mengembalikan
Hutang, Bagusnya Meminta Haknya — Yakni Menagih,
Memantapkan Takaran Dan timbangan, Larangan
Mengurangi Timbangan, Juga Keutamaan Memberi
Waktu Bagi Seseorang Yang Kecukupan Kepada Orang
Yang Kekurangan — Dalam Mengembalikan Hutangnya —
Serta Menghapuskan Samasekali — Akan Hutang — Orang
Yang Kekurangan Itu

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan kebaikan apa saja yang engkau semua lakukan, maka sesungguhnya Allah
adalah Maha Mengetahui dengannya.” (al-Baqarah: 215)
Allah Ta’ala juga berfirman: “Hai kaumKu, penuhilah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah
engkau semua mengurangi para manusia itu akan barang-barangnya.” (Hud: 85)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Celaka – atau Neraka Wail – bagi orang-orang yang mengurangi timbangan
atau takaran. Jikalau mereka itu menimbang – menakar -daripada manusia – untuk
dirinya sendiri, maka mereka mencukupinya, tetapi jikalau mereka menakarkan atau
menimbangkan untuk orang-orang itu, maka mereka mengurangi. Tidakkah mereka itu
mengira bahwasanya mereka akan dibangkitkan – dari kubur setelah mati-untuk
menghadapi hari yang agung-yaitu hari kiamat. Pada hari itu semua manusia berdiri
menghadap kepada Tuhan yang menguasai alam semesta ini.” (al-Muthaffifin: 1)

1364. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki datang kepada
Nabi s.a.w. untuk menagih hutang yang dipinjam oleh beliau s.a.w. itu, lalu
orang itu berkeras bicara pada beliau. Para sahabat bermaksud hendak membalas
kekasaran orang itu, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Biarkanlah ia berhak demikian, sebab seseorang yang mempunyai hak itu
berhak pula mengeluarkan pembicaraan.” Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:
“Berikanlah pada orang itu unta yang sebaya dengan unta yang dahulu
dipinjam daripadanya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kita tidak
mendapatkan – yakni tidak memiliki – melainkan unta yang lebih tua dari
unta yang dipinjam dulu.” Beliau s.a.w. bersabda: “Berikan sajalah itu, sebab
sesungguhnya yang terbaik di antara engkau semua ialah yang terbagus
pula cara mengembalikan pinjamannya,” yakni memberikan pada waktunya
yang ditentukan dan memberikan kelebihan
sebagai hadiah.” (Muttafaq ‘alaih)
1365. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah memberikan
kerahmatan kepada orang yang bermurah hati ketika menjual, juga ketika
membeli dan pula ketika meminta haknya – yakni menagih hutang.” (Riwayat
Bukhari)

1366. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: “Saya mendengar
s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menyenangkan hatinya, jikalau Allah
menyelamatkannya dari beberapa kesusahan pada hari kiamat, maka
hendaklah memberi waktu – untuk mengembalikan hutang – kepada orang yang
dalam keadaan kekurangan – orang miskin – atau samasekali
menghapuskan hutangnya itu.” (Riwayat Muslim)
1367. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Ada seorang lelaki – dari ummat sebelum Nabi s.a.w. – suka sekali
memberikan hutang kepada orang banyak, ia berkata kepada bujangnya:
“Jikalau engkau mendatangi seorang yang dalam kekurangan – dan
mempunyai tanggungan hutang, maka bebaskan sajalah hutang itu
daripadanya, mudah-mudahan Allah akan mem-bebaskan dosa dari diri kita.
Orang itu lalu menemui Allah – yakni meninggal dunia, kemudian Allah
membebaskan dosanya.” (Muttafaq ‘alaih)
1368. Dari Abu Mas’ud al-Badri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada seseorang dari golongan ummat yang sebelum engkau semua
dihisab, ia tidak mempunyai sesuatu kebaikanpun, melainkan ia suka
mempergauli orang banyak – yakni bergaul dalam perjual-belian – dan orang
itu adalah kaya sekali. la menyuruh bujang-bujangnya supaya membebaskan
hutang dari orang yang dalam keadaan kekurangan. Allah ‘Azzawajalla lalu
berfirman:
“Kami – Allah – adalah lebih berhak untuk berbuat sedemikian itu, maka – hai
Malaikat: “Bebaskaniah dosa-dosa orang itu.”
(Riwayat Muslim)

1369. Dari Hudzaifah r.a., katanya: “Allah mendatangkan seseorang hamba
dari sekian banyak hamba-hambaNya ini, ia telah dikaruniai oleh Allah akan
harta, lalu Allah berfirman padanya: “Apakah yang engkau lakukan di
dunia?”
Hudzaifah berkata: “Orang-orang di akhirat itu tidak ada yang dapat
menyimpan sesuatu pembicaraanpun di hadapan Allah.”
Orang itu berkata: “Ya Tuhanku, Engkau telah mengaruniakan harta
padaku, saya lalu berjualan kepada orang banyak dan sudah menjadi watak
saya yaitu bersabar – kepada orang yang kekurangan kalau memberikan
hutangnya, lagi pula suka menerima berapa saja yang mereka berikan sebagai
cicilan. Jadi saya memberikan kelonggaran kepada orang kaya dan
memberikan tangguhan waktu kepada orang yang kekurangan.” Allah Ta’ala lalu berfirman: “Aku lebih berhak berbuat sedemikian itu daripadamu. Hai
Malaikat: “Bebaskaniah dosa hambaKu ini.”
‘Uqbah bin ‘Amir dan Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu ‘anhuma
berkata: “Demikian itulah yang kita dengarkan sendiri dari mulut Rasulullah
s.a.w.” (Riwayat Muslim)

1370. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang memberikan tangguhan waktu kepada orang yang dalam
kekurangan – untuk mengembalikan hutangnya -ataupun sama membebaskan
hutangnya itu, maka Allah akan memberikan naungan padanya pada hari
kiamat di bawah naungan ‘arasy Nya pada hari tiada naungan, melainkan
naungan Allah sendiri.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan
bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1371. Dari Jabir r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. membeli daripadanya seekor
unta, lalu memberikan harganya dan beliau s.a.w. memberikan kelebihan,
yakni dari harga yang ditentukan dalam akad berjual-beli itu, masih diberi
tambahan lagi. (Muttafaq ‘alaih)

1372. Dari Abu Shafwan yaitu Suwaid bin Qais r.a., katanya: “Saya
mengambil berbagai pakaian bersama Makhramah al-‘Abdi dari Hajar – untuk
diperdagangkan. Kemudian beliau s.a.w. membeli beberapa celana kepada kita
dengan harga mahal. Saya mempunyai seorang penimbang yang menimbang
banyaknya uang upah -yakni harganya.” Nabi s.a.w. berkata kepada
penimbang itu: “Timbanglah dan lebihkanlah – timbangan harganya itu.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Bab 241

Kitab IImu
llmu Pengetahuan

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku.” (Thaha: 114)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Katakanlah: “Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui – yakni berilmu
– dan orang-orang yang tidak mengetahui – yakni tidak berilmu.” (az-Zumar: 9)
Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari engkau semua dan orang-
orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Hanyasanya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba- hambaNya itu ialah para alim-ulama.”
1373. Dari Mu’awiyah r.a.,katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk memperoleh kebaikan,
maka Allah membuat ia menjadi pandai dalam hal keagamaan.” (Muttafaq
‘alaih)

1374. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada kehasudan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam
perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta, kemudian ia
mempergunakan untuk menafkahkannya itu guna apa-apa yang hak –
kebenaran – dan seseorang yang dikaruniai ilmu pengetahuan oleh Allah,
kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu – antara dua orang
atau dua golongan yang berselisih – serta mengajarkan ilmunya itu pula.”
(Muttafaq ‘alaih)
Artinya ialah bahwa seseorang itu tidak patut dihasudi atau diiri kecuali
dalam salah satu dari kedua perkara di atas itu untuk ditiru dan diamalkan
seperti orang tersebut.
Yang dimaksudkan dengan Alhasad ialah ghibthah yaitu mengharapkan
seperti yang ada pada orang lain.
1375. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Perumpamaan dari
petunjuk dan ilmu yang dengannya saya diutus oleh Allah itu adalah seperti
hujan yang mengenai bumi. Di antara bumi itu ada bagian yang baik, yaitu
dapat menerima air, kemudian dapat pula menumbuhkan rumput dan
lalang yang banyak sekali, menahan masuknya air dan selanjutnya dengan air
yang bertahan itu Allah lalu memberikan kemanfaatan kepada para manusia,
karena mereka dapat minum daripadanya, dapat menyiram dan bercucuk
tanam. Ada pula hujan itu mengenai bagian bumi yang lain, yang ini hanyalah
merupakan tanah rata lagi licin. Bagian bumi ini tentulah tidak dapat menahan
air dan tidak pula dapat menumbuhkan rumput. Jadi yang sedemikian itu
adalah contohnya orang pandai dalam agama Allah dan petunjuk serta ilmu
yang dengannya itu saya diutus, dapat pula memberikan kemanfaatan kepada
orang tadi, maka orang itupun mengetahuinya – mempelajarinya, kemudian
mengajarkannya – yang ini diumpamakan bumi yang dapat menerima air
atau dapat menahan air, dan itu puIalah contohnya orang yang tidak suka
mengangkat kepala untuk menerima petunjuk dan ilmu tersebut. Jadi ia
enggan menerima petunjuk Allah yang dengannya itu saya dirasulkan – ini
contohnya bumi yang rata serta licin.” (Muttafaq ‘alaih)

1376. Dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda kepada Ali r.a.:
“Demi Allah, niscayalah andaikata Allah memberikan petunjuk kepada
seseorang lelaki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu adalah lebih baik
daripada unta-unta yang merah-merah,” sebagai kiasan hartabenda yang paling
dicintai oleh bangsa Arab. (Muttafaq ‘alaih)

1377. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya Nabi s.a.w. bersaba: “Sampaikanlah – kepada orang lain – ajaran yang berasal daripadaku,
sekalipun hanya seayat belaka. Percakapkanlah tentang kaum Bani Israil – yakni
kaum Yahudi – dan tidak ada halangan apapun. Dan barangsiapa yang berdusta
atas diriku dengan sengaja maka baiklah ia menempati tempat duduknya dari
neraka.” (Riwayat Bukhari)

1378. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu
pengetahuan di situ, maka Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan
untuk menuju ke syurga.” (Riwayat Muslim)

1379. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk – yakni kebenaran, maka
baginya adalah pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak
dikurangi sedikitpun dari pahala mereka itu.” (Riwayat Muslim)

1380. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila anak Adam – yakni manusia – meninggal dunia, maka putuslah
amalannya – yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi, melainkan dari
tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dapat diambil
kemanfaatannya atau anak yang shalih yang suka mendoakan untuknya.”
(Riwayat Muslim)
1381. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Dunia ini adalah terlaknat, terlaknat pula apa-apa yang ada di atasnya,
melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang
yang alim serta orang yang menuntut ilmu.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi
dan ia mengatakan bahwa itu adalah Hadis hasan.

Sabda Nabi s.a.w.: “Wa maa walah” artinya: Dan apa-apa yang
menyamainya, ialah taat atau melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

1382. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
keluar untuk menuntut ilmu, maka ia dianggap
sebagai orang yang berjihad fi-sabilillah sehingga ia kembafi.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.

1383. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
“Tiada sekali-kali akan kenyanglah seseorang mu’min itu dari kebaikan,
sehingga penghabisannya nanti adalah syurga.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1384. Dari Abu Umamah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Keutamaan orang alim atas orang yang beribadat ialah seperti
keutamaanku atas orang yang terendah di antara engkau semua.”
“Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, juga para penghuni langit dan
bumi, sampaipun semut yang ada di dalam liangnya, bahkan sampaipun ikan
yu, niscayalah semua itu menyampaikan kerahmatan kepada orang-orang
yang mengajarkan kebaikan kepada para manusia.”
Adapun yang selain Allah ialah memohonkan agar orang-orang yang
mengajar kebaikan itu diberi kerahmatan oleh Allah.
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1385. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari sesuatu ilmu pengetahuan
di situ, maka Allah akan memudahkan untuknya suatu jalan untuk menuju
syurga, dan sesungguhnya para malaikat itu niscayalah meletakkan sayap-
sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu itu, karena ridha sekali dengan
apa yang dilakukan oleh orang itu. Sesungguhnya orang alim itu niscayalah
dimohonkan pengampunan untuknya oleh semua penghuni di langit dan
penghuni-penghuni di bumi, sampaipun ikan-ikan yu yang ada di dalam air.
Keutamaan orang alim atas orang yang beribadat itu adalah seperti
keutamaan bulan atas bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya para alim
ulama adalah pewarisnya para Nabi, se-sungguhnya para Nabi itu tidak
mewariskan dinar ataupun dirham, hanyasanya mereka itu mewariskan ilmu.
Maka barangsiapa dapat mengambil ilmu itu, maka ia telah mengambil dengan
bagian yang banyak sekali.” (Riwayat Abu Dawud dan Termidzi)

1386. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang yang mendengarkan
sesuatu ucapan dari kami – yakni dari Nabi s.a.w. – lalu ia menyampaikannya
sebagaimana yang didengar olehnya. Maka banyak sekali orang yang diberi
berita itu lebih dapat mengingat-ingat – yakni lebih memperhatikan –
daripada orang yang men-dengarnya sendiri?”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis
hasan shahih.

1387. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang ditanya mengenai sesuatu ilmu, lalu ia menyimpannya –
yakni tidak suka menerangkan yang benar, maka ia akan diberi kendali – di
mulutnya – besok pada hari kiamat dengan kendali dari neraka.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1388. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan dari golongan
ilmu yang semestinya untuk digunakan mencari keridhaan Allah
‘Azzawajalla, tetapi ia mempelajarinya itu tiada lain maksunnya, kecuali
hendak memperoleh sesuatu tujuan dari keduniaan, maka orang yang sedemikian tadi tidak akan dapat menemukan keharuman syurga pada hari
kiamat.” Yakni bau harumnya syurga itu tidak akan dapat dirasakannya.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1389. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan
sekaligus pencabutan yang dicabutnya dari para manusia, tetapi Allah
mencabut ruhnya para alim-ulama, sehingga apabila tidak ditinggalkannya
lagi seorang alimpun – di dunia ini, maka orang-orang banyak akan
mengangkat para pemimpin – atau kepala-kepala pemerintahan – yang bodoh-
bodoh. Mereka – para pemimpin dan kepala – itu ditanya, lalu memberikan
keterangan fatwa dengan tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka
akhirnya mereka itu semuanya sesat dan pula menyesatkan – orang lain.”
(Muttafaq ‘alaih)

Bab 242

Kitab Memuji Dan Bersyukur Kepada Allah Ta’ala
Memuji Dan Bersyukur Kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman: “Maka Ingatlah olehmu semua akan Daku, niscayalah Aku ingat padamu semua dan
bersyukurlab pula kepadaKu dan jangan kafir padaKu,” yakni: menutupi kenikmatan-
kenikmatan yang telah dikaruniakan.” (al-Baqarah: 152)
Allah Ta’ala juga berfirman:

“Niscayalah jikalau engkau semua bersyukur padaKu, pastilah Aku akan
menambahkan – kenikmatan itu – padamu semua.” (Ibrahim: 7)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
Katakanlah: “Segala puji-pujian itu adalah bagi Allah.”(al-lsra’: 111)

Allah Ta’ala berfirman pula: “Dan akhir doa mereka – dalam syurga – ialah
bahwa segenap puji-pujian itu adalah bagi Allah yang Maha Menguasai seluruh alam
ini.” (Yunus: 10)

1390. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya “Nabi s.a.w. pada malam beliau
diisra’kan, beliau diberi dua buah gelas yang masing-masing berisi arak dan
susu. Beliau s.a.w. melihat keduanya itu, lalu mengambil yang berisikan susu.
Jibril a.s. berkata: “Alhamdulillah -yakni segenap puji-pujian bagi Allah – yang
telah memberikan petunjuk kepada Tuan kepada kefithrahan ini – kefithrahan
yakni kemurnian sejak manusia dilahirkan yakni Agama Islam. Andaikata Tuan
mengambil arak, niscayalah ummat Tuan sesat semuanya.” (Riwayat Muslim)

1391. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: “Segala perkara yang mempunyai kepentingan – menurutsyara’ – yang tidak
dimulai melakukannya dengan ucapan Alhamdulillah, maka perkara itu
menjadi kurang keberkahannya.”
Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lainnya.
1392. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila anak seseorang hamba itu meninggal dunia, maka
berfirmanlah Allah kepada para malaikatNya: “Apakah engkau semua
sudah mencabut ruhnya anak hambaKu.” Mereka men-jawab: “Ya.”
Allah berfirman lagi: “Apakah engkau semua sudah mengambil buah
hatinya.” Mereka menjawab: “Ya.” Allah berfirman lagi: “Kemudian
bagaimanakah ucapan hambaKu itu.” Mereka menjawab: “la memuji
kepadaMu serta mengucapkan istirja’,” yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi
raji’un, artinya: Sesungguh-nya kita semua ini adalah milik Allah dan
kita semua tentu kembali kepadaNya. Allah Ta’ala lalu berfirman:
“Dirikanlah untuk hambaKu itu sebuah rumah dalam syurga dan
namakanlah rumah itu dengan sebutan: Baitulhamd – yakni Rumah
Pujian.”
Diriwayatkanoleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.

1393. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu niscayalah ridha kepada seseorang hamba
yang makan sekali makanan lalu ia memuji kepada Allah atas makanan
itu serta ia minum sekali minuman lalu memuji kepada Allah atas
minuman itu.” (Riwayat Muslim) Bab 243
Kitab Shalawat Kepada Rasulullah
s.a.w.
Bacaan Shalawat Kepada Rasulullah s.a.w.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya menyampaikan
shalawatnya kepada Nabi – yakni Nabi Muhammad. Hai orang-orang yang
beriman, ucapkanlah shalawat dan salam dengan sebenar-benarnya salam
kepada Nabi itu.” (al-Ahzab: 56)

1394. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w, bersabda:
“Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku sekali shalawat, maka
Allah akan memberikan kerahmatan padanya sepuluh kali dengan
sebab sekali shalawat tadi.” (Riwayat Muslim)

1395. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seutama-utama manusia bagiku pada hari kiamat ialah orang yang
terbanyak bacaan shalawatnya padaku,” yakni lebih diutamakan oleh beliau
s.a.w. untuk dapat memperoleh syafaatnya dan dapat kedudukan yang
terdekat dengannya.
Diriwayatkanoleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1396. Dari Aus bin Aus r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama sekalti ialah hari
Jum’at, maka perbanyakkanlah membaca shalawat padaku pada hari itu, sebab
sesungguhnya bacaan shalawatmu itu ditunjukkan kepadaku.”
Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah shalawat kita semua itu
dapat ditunjukkan kepada Tuan, sedangkan Tuan sudah hancur tubuhnya?”
Dalam sebagian riwayat disebutkan: dengan kata-kata: “Sedangkan Tuan telah
rusak tubuhnya?” Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah
mengharamkan pada tanah untuk makan tubuhnya sekalian Nabi.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1397. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Terkena debulah hidung seseorang – yakni amat hina sekali seseorang –
yang di waktu nama saya disebutkan di sisinya, tetapi ia tidak suka membaca
shalawat padaku.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1398. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua membuat kuburku itu sebagai hari raya – yakni
untuk tempat berkumpul-kumpul guna bersenang-senang. Bacalah shalawat padaku karena sesungguhnya bacaan shalawatmu semua itu dapat sampai
padaku, di mana saja engkau semua berada.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1399. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada seorangpun yang memberi salam padaku, melainkan Allah
mengembalikan ruhku, sehingga saya dapat rnenjawab salam orang itu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1400. Dari Ali r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang kikir ialah
orang yang apabila namaku disebut disisinya ia tidak suka membaca
shalawat padaku.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis shahih.

1401. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. pernah
mendengar seseorang yang berdoa dalam shalatnya, tetapi ia tidak
mengucapkan puji-pujian kepada Allah Ta’ala dan tidak pula membaca
shalawat pada Nabi s.a.w., lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tergesa-gesa sekali
orang ini,” kemudian orang itu dipanggilnya. Nabi s.a.w. lalu bersabda pada
orang itu atau pada orang lain juga: “Jikalau seseorang di antara engkau semua
hendak berdoa, maka hendaklah memulai dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhannya yang Maha Suci serta puja-pujaan padaNya, selanjutnya
membaca shalawat kepada Nabi s.a.w., seterusnya bolehlah ia berdoa dengan
apa yang dikehendaki olehnya.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.

1402. Dari Abu Muhammad,yaitu Ka’ab bin ‘Ujrah r.a., katanya: “Nabi s.a.w.
keluar pada kita, lalu kita berkata: “Ya Rasulullah, kita semua telah mengerti
bagaimana cara bersalam kepada Tuan, tetapi bagaimanakah cara kita kalau
membaca shalawat kepada Tuan?” Beliau s.a.w. bersabda:
“Ucapkanlah:
“Alhhumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala
ali Ibrahim, innaka hamidum majid.
Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala ali
Ibrahim, innaka hamidum majid.”
Artinya:
Ya Allah, berikanlah tambahan kerahmatan pada Muhammad dan pada
keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan tambahan
kerahmatan pada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha
Terpuji lagi Termulia.
Ya Allah, berikanlah tambahan keberkahan pada Muhammad dan pada
keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah menambahkan keberkahan
pada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi
Termulia. (Muttafaq ‘alaih)
1403. Dari Abu Mas’ud al-Badri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. datang
kepada kita dan kita semua sedang dalam majlisnya Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu
Basyir bin Sa’ad berkata kepada beliau s.a.w.: “Allah menyuruh kita supaya
kita membaca shalawat kepada Tuan, ya Rasulullah, maka bagaimanakah cara
kita mengucapkan shalawat kepada Tuan itu?” Rasulullah s.a.w. lalu diam,
sehingga kita semua mengharapkan, alangkah baiknya kalau tadi-tadi Basyir
tidak bertanya kepada beliau tentang hal itu. Kemudian Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Ucapkanlah:
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Kama shailaita ‘ala
Ibrahim.
Wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Kamabarakta ‘ala ali Ibrahim.
Innaka hamidum majid.
Artinya periksa dalam Hadis no. 1402 di atas. Adapun tentang salam, maka
sebagaimana yang engkau semua sudah diajari.” (Riwayat Muslim)

1404. Dari Abu Humaid as-Sa’idi r.a., katanya: “Para sahabat berkata: “Ya
Rasulullah, bagaimanakah cara kita mengucapkan shalawat kepada Tuan?”
Beliau s.a.w. bersabda;
“Ucapkanlah:
Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala azwajihi wa dzurriyyatihi. Kama
shailaita ‘ala Ibrahim.
Wa barik ‘ala Muhammad, wa ‘ala azwajihi wa dzurriyyatihi. Kama barakta ‘ala
Ibrahim.
Innaka hamidum majid.” Ya Allah, berikanlah tambahan kerahmatan pada Muhammad dan pada
isteri-isteri dan keturunan-keturunannya. Sebagaimana Engkau telah
memberikan tambahan kerahmatan pada Ibrahim.
Dan berikanlah tarnbahan keberkahan pada Muhammad dan pada isteri-
isteri dan keturunan-keturunannya. Sebagaimana Engkau telah menambahkan
keberkahan pada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi
Termulia. (Muttafaq ‘alaih)
Bab 244
Kitab Berbagai Zikir Keutamaan Zikir Dan
anjuran Mengerjakannya

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan niscayalah berzikir kepada Allah itu adalah lebih besar -keutamaannya.”
(al-‘Ankabut: 45)
Allah Ta’ala juga berfirman:

“Maka berzikirlah engkau semua kepadaKu, tentu Aku akan ingat padamu
semua.” (al-Baqarah: 152)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan takut
dan bukan dengan suara keras, di waktu pagi dan petang dan janganlah engkau termasuk
orang-orang yang lalai” (al-A’raf: 205)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan berzikirlah engkau semua kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, supaya
engkau semua berbahagia.” (al-Jumu’ah: 10)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang Islam, lelaki dan perempuan,” sampai kepada
firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang’yang berzikir kepada Allah, lelaki dan
perempuan dengan sebanyak-banyaknya, maka Allah menyediakan kepada mereka itu
pengampunan serta pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)
Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang
sebanyak-banyaknya dan Maha Sucikanlah Allah itu di waktu pagi dan sore,” sampai akhir
ayat. (al-Ahzab: 41-42)
Ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali dan dapat dimaklumi.
1405. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Ada dua kalimat yang ringan pada lisan – yakni mudah diucapkan,
tetapi berat sekali dalam timbangan – di akhirat, dicintai oleh Allah Maria
Pengasih, yaitu Subhanallah wa bihamdih dan
Subhanallabil ‘azhim.”
Artinya: Maha Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian
padaNya dan Maha Suci Allah yang Maha Agung. (Muttafaq ‘alaih)
1406. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Niscayalah kalau saya mengucapkan: Subhanallah walhamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu akbar -Maha Suci Allah,
segenap puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah adalah Maha
Besar, maka itu adalah lebih saya sukai daripada apa saja yang matahari terbit
atasnya – yakni lebih disukai dari dunia dan seisinya ini.” (Riwayat Muslim)
1407. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa mengucapkan:
La ilaha illallah wahdahu la syarikalah, labul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala
kulli syai-in qadir – Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu
bagiNya. BagiNya adalah semua kerajaan dan puji-pujian dan Allah adalah
Maha Kuasa atas segala scsuatu, dalam sehari seratus kali, maka ia memperoleh
pahala yang menyamai dengan memerdekakan sepuluh orang hambasahaya,
juga untuknya dicatatlah sebanyak seratus kebaikan dan dihapuskanlah dari
dirinya sebanyak seratus keburukan, juga ia dapat memperoleh perjagaan dari
godaan syaitan pada harinya itu sampai waktu sore. Tiada seorangpun yang
dapat memperoleh sesuatu yang lebih utama dari apa yang dilakukan oleh
orang di atas itu, melainkan seseorang yang mengerjakan lebih banyak dari
itu.”
Beliau s.a.w. selanjutnya bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallah wa bihamdih -Maha Suci
Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian padaNya, dalam sehari sebanyak
seratus kali, maka dihapuskanlah dari dirinya Semua kesalahan-kesalahannya,
sekalipun kesalahan-kesalahannya
itu banyaknya seperti buih lautan.” (Muttafaq ‘alaih)

1408. Dari Abu Ayyub al-Anshari r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Barangsiapa mengucapkan: La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku
wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir -artinya lihat Hadis no. 1407, sebanyak sepuluh kali, maka ia adalah sebagaimana seseorang yang
memerdekakan empat jiwa dari keturunan Ismail.” (Muttafaq ‘alaih)

1409. Dari Abu Zar r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda
kepada saya:
“Tidakkah engkau semua suka kalau saya beritahukan kepadamu perihal
ucapan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya ucapan yang paling
dicintai oleh Allah ialah Subhanallah wa bihamdih.” (Riwayat Muslim)
1410. Dari Abu Malik al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Bersuci itu adalah separuh keimanan, bacaan Alhamdulillah itu adalah
memenuhi beratnya timbangan – di akhirat, sedang Subhanallah dan
Alhamdulillah itu memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi.”
(Riwayat Muslim)

1411. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Ada seorang A’rab-
penghuni pedalaman negeri Arab – datang kepada Rasulullah s.a.w., lalu
berkata: “Ajarkanlah kepada saya sesuatu ucapan yang baik saya ucapkan!”
Beliau s.a.w. bersabda: “Katakanlah:
La ilaha illallah wahdahu la syarikalah, Allahu Akbar kabira, walhamdu lillahi
katsira, wa subhanaliahi rabbil ‘alamin wa la haula wa la quwwata illa billahil
‘azizil hakim.”
Artinya:Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu
bagiNya. Allah adalah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah
dengan sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah yang menguasai seluruh alam dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang
Maha Mulia lagi Bijaksana.
Orang A’rab tadi lalu berkata: “Itu semua adalah untuk memuji Tuhanku.
Lalu manakah yang untuk kepentinganku?” Beliau s.a.w. bersabda:
“Katakanlah: Allahummaghfir li warhamni wahdini warzuqni” – Ya Allah, berilah
pengampunan pada saya, berilah kerahmatan, juga petunjuk dan rezeki kepada
saya. (Riwayat Muslim)

1412. Dari Tsauban r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila selesai dari
sembahyangnya, beliau s.a.w. lalu mengucapkan istighfar “‘ yakni Astaghfirullah,
artinya: Saya mohon ampun kepada Allah, sebanyak tiga kali, kemudian
mengucapkan: Allahumma antas salam, wa minkas salam, tabarakta ya Dzaljalali wal-
ikram.”
Ya Allah, Engkau adalah Maha Menyelamatkan, daripadaMulah
datangnya keselamatan, Engkau Maha Tinggi, hai Zat yang memiliki
keperkasaan dan kemuliaan.
Kepada al-Auza’i ditanyakan-dan ini adalah salah seorang yang
meriwayatkan Hadis: “Bagaimanakah ucapan istighfar itu?” la menjawab:
“Orang yang beristighfar itu supaya mengucapkan: Astaghfirullah,
astaghfirullah.” (Riwayat Muslim)

1413. Dari Almughirah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu apabila
selesai dari shalat dan telah bersalam, lalu mengucapkan:
La ilaha illalahu wahdahu la syarikatah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa
‘ala kulli syai-in qadir – artinya lihat Hadis no. 1407. Allahumma la mani’a lima a’thaita wa la mu’thia lima mana’ta wa la yanfa’u
dzaljaddi minkal jaddu – Ya Allah, tiada yang kuasa menolak terhadap apa saja
yang Engkau berikan dan tiada yang kuasa memberi terhadap apa saja yang
Engkau tolak dan tiada akan memberikan kemanfaatan kekayaan itu kepada
orang yang me-milikinya daripada siksaMu. (Muttafaq ‘alaih)

1414. Dari Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘Anhuma bahwasanya ia
mengucapkan setiap selesai mengerjakan shalat dan bersalam:
La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala
kulli syai-in qadir- artinya lihat Hadis no. 1407. Lahaula wa la quwwata illabillah –
Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.
La ilaha illallahu wa la na’budu illa iyyahu, lahun ni’mati wa lahut stsana-ul
hasan. La ilaha illallahu mukhlishina lahuddina wa Iau karihal kafirun.
Tiada Tuhan melainkan Allah dan kita tidak menyembah selain daripadaNya.
BagiNyalah segala kenikmatan dan keutamaan bagi-Nya pula puji-pujian yang
baik. Tiada Tuhan melainkan Allah, kita berikhlas hati menjalankan agama
untukNya, sekalipun orang-orang kafir sama membenci.
Abdullah bin az-Zubair berkata: “Rasulullah s.a.w. bertahlil dengan yang
tersebut di atas itu sehabis setiap bersembahyang.” (Riwayat Muslim)

1415. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya kaum fakir dari golongan para
sahabat Muhajirin mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu berkata: “Orang-orang
yang memiliki harta banyak itu sama pergi -yakni meninggal dunia – dengan
membawa derajat yang tinggi-tinggi dan kenikmatan yang kekal. Sebabnya
ialah karena mereka bersembahyang sebagaimana kita bersembahyang,
mereka ber-puasa sebagaimana kita berpuasa, lagi mereka mempunyai ke-
lebihan dari harta-harta mereka dan dapat mereka gunakan untuk beribadat
haji, berumrah, berjihad serta bersedekah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Tidakkah engkau semua suka kalau saya ajarkan kepadamu semua sesuatu
yang dengannya itu engkau semua dapat mencapai pahala orang yang telah
mendahuluimu dan dapat men-dahului orang yang sesudahmu. Juga tiada
seorangpun yang lebih utama pahalanya daripadamu semua, selain orang
yang mengerjakan sebagaimana yang engkau kerjakan itu?” Mereka
menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. bersabda: “Hendaklah engkau
semua membaca tasbih, tahmid dan takbir sehabis shalat – wajib -sebanyak
tigapuluh tiga kali masing-masing.”
Abu Shalih yang meriwayatkan Hadis ini dari Abu Hurairah, ketika
ditanya bagaimana cara menyebutkan tasbih, tahmid dan takbir itu, lalu
menjawab: “Orang yang berzikir itu supaya me-ngucapkan: “Subhanallah,
Alhamdulillah dan Allahu Akbar – Maha Suci Allah dan segenap puji bagi
Allah dan Allah adalah Maha Besar.” Sehingga jumlah semuanya itu ada
tigapuluh tiga kali. (Muttafaq *a!alh)
Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya: “Lalu kembalilah kaum
fakir dari golongan sahabat Muhajirin itu kepada Rasulullah s.a.w. lalu
mereka berkata: “Saudara-saudara kita yakni orang-orang yang berharta sudah
sama mendengar apa yang kita kerjakan ini, kemudian merekapun
mengerjakan seperti itu pula.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Yang
sedemikian itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada orang
yang di-
kehendaki.”
Addutsur adalah jamaknya datsrun dengan fathahnya dal dan saknahnya
tsa’ yang bertitik tiga, artinya ialah harta yang banyak.

1416. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Rasulullah s.a.w. bersabda :
“Barangsiapa yang membaca Subhanallah sehabis tiap bersembahyang –
wajib – sebanyak tigapuluh tiga kali dan membaca Alhamdudillah sebanyak
tigapuluh tiga kali dan pula membaca Allahu Akbar sebanyak tigapuluh tiga
kali dan untuk menyempurna-kan keseratusnya ia membaca: La iiaha illallahu
wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir –
artinya lihatlah dalam Hadis no. 1407, maka diampunkanlah untuknya semua
kesalahan-kesalahannya,sekalipun banyaknya itu seperti buih lautan.” (Riwayat
Muslim)

1417. Dari Ka’ab bin ‘Ujrah r.a. dari Rasulullah s.a.w. sabdanya: “Beberapa
penghujung yang tidak akan rugilah orang yang mengucapkannya atau
yang mengerjakannya sehabis setiap shalat yang diwajibkan, yaitu tigapuluh
tiga kali bacaan tasbih, tigapuluh tiga kali bacaan tahmid dan tigapuluh
empat kali bacaan takbir.” (Riwayat Muslim)
1418. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu
berta’awwudz – yakni berdoa untuk mohon perlindungan -pada setiap selesai
shalat dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya -Ya Allah, saya mohon
perlindungan kepadaMu daripada licik dan kikir, saya mohon perlindungan
pula padaMu kalau saya sampai dikembalikan kepada serendah-rendahnya
usia – yakni usia ter-lampau tua, juga saya mohon perlindungan padaMu
daripada fitnah dunia serta saya mohon perlindungan padaMu daripada
fitnah kubur.” (Riwayat Bukhari) 1419. Dari Mu’az r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengambil tangannya
dan berkata: “Hai Mu’az, demi Allah, sesungguhnya saya ini mencintaimu.”
Beliau s.a.w. lalu melanjutkan sabdanya: “Saya berwasiat padamu, hai Mu’az,
janganlah sekali-kali engkau meninggalkan setiap selesai bersembahyang
mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah, berilah saya pertolongan untuk tetap
berzikir kepadaMu, serta bersyukur kepadaMu dan beribadat secara baik
kepadaMu.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih

1420. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua bertasyahhud – yaitu
mengucapkan bacaan Attahiyyat dan seterusnya, maka pada penghabisannya
hendaklah mohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Maka
supaya ia mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah,sesungguhnya saya mohon
perlindungan kepadaMu daripada siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur,
dari fitnah di waktu hidup dan setelah mati dan pula dari kejahatan fitnahnya
Dajjal yang mengembara.” (Riwayat Muslim)
1421. Dari Ali r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila berdiri mengerjakan
shalat, maka salah satu dari yang terakhir sekali beliau ucapkan antara
tasyahhud dan salam, yaitu bacaan – yang artinya: “Ya Allah, ampunilah saya
dosa-dosa yang lampau dan yang akan datang, juga yang saya sembunyikan
serta yang saya tampakkan, bahkan juga yang saya perlebih-lebihkan dan dosa
yang Engkau adalah lebih mengetahui daripada saya sendiri. Engkau adalah
Maha Mendahulukan serta Maha Mengakhirkan, tiada Tuhan melainkan
Engkau.” (Riwayat Muslim)

1422. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. itu
memperbanyak dalam mengucapkan ketika ruku’ dan sujudnya, yaitu Subhanakallahumma rabbana wa bihamdikallahummaghfirli -Maha Suci Engkau ya
Allah, Tuhan kita dan dengan mengucapkan puji-pujian padaMu, ya Allah
berilah pengampunan padaku.” (Muttafaq ‘alaih)

1423. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w.
mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya: “Subbuhun quddusun Rabbul
malaikati warruh – Maha Suci dan Maha Bersih, yaitu Tuhan semua malaikat
serta Jibril.” (Riwayat Muslim)
1424. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Adapun ketika ruku’ maka Maha Agungkanlah Tuhan di dalamnya,
sedang ketika sujud, maka giatlah dalam berdoa, sebab nyata engkau semua
akan dikabulkan doamu semua itu.” (Riwayat Muslim)

1425. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sedekat-dekat keadaan seseorang hamba dari Tuhannya ialah di waktu ia
sedang bersujud, maka perbanyakkanlah berdoa dalam sujud itu.” (Riwayat
Muslim)

1426. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengucapkan
dalam sujudnya: Allahummaghfir li dzanbi kullahu, diqqabu wa jillahu wa
awwalahu wa akhirahu wa ‘alaniatahu wa sirrabu – ya Allah, berilah
pengampunan padaku akan semua dosaku, yang kecil dan yang besar, yang
permulaan dan yang penghabisan, yang terang-terangan dan yang rahasia.”
(Riwayat Muslim) 1427. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Pada suatu malam saya
kehilangan Nabi s.a.w., lalu saya selidiki,tiba-tiba beliau s.a.w. sedang
melakukan ruku’ atau sujud dan di situ beliau mengucapkan: Subhanaka wa
bihamdika la ilaha ilia anta – Maha Suci Engkau dan dengan mengucapkan puji-
pujian padaMu, tiada Tuhan melainkan Engkau.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Lalu jatuhlah tanganku -Aisyah- pada kedua
tapak kakinya yang bagian dalam dan beliau sedang ada di dalam masjid,
sedang kedua tapak kaki itu didirikan. Diwaktu itu beliau s.a.w. mengucapkan –
yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan dengan
keridhaanMu daripada kemurkaanMu dan dengan pengampunanMu dari
siksaanMu. ]uga saya mohon perlindungan padaMu, saya tidak menghitung-
hitungkan pujian atasMu. Engkau adalah sebagaimana yang Engkau pujikan pada
diriMu sendiri. (Riwayat Muslim)

1428. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Kita semua berada di sisi
Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda: “Adakah seseorang di antara engkau
semua itu tidak kuasa mencari seribu kebaikan dalam setiap harinya?”
Kemudian ada seorang dari golongan yang duduk-duduk di waktu itu
bertanya pada beliau s.a.w.: “Bagaimanakah caranya mencari seribu kebaikan
itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Hendaknya orang – yang ingin mendapat seribu
kebaikan dalam sehari itu – tadi membaca tasbih seratus kali, maka untuknya
dicatatlah sebanyak seribu kebaikan atau dihapuskanlah dari dirinya seribu
kesalahan.” (Riwayat Muslim)
Al-Humaidi berkata: “Demikianlah yang disebutkan dalam kitab
Muslim yakni dengan kata-kata: “Au yuhaththu” – artinya: atau dihapuskan.
Al-Barqani berkata: “Hadis ini dtriwayatkan oleh Syu’bah dan juga Abu
‘Awanah dan Yahya al-Qaththan dari Musa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari arahnya itu. Mereka mengatakan: Wa yuhaththu – artinya: dan
dihapuskan, tanpa kata: “Alfin – yakni seribu.”

1429. Dari Abu Zar r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Atas setiap ruas
tulang dari seseorang di antara engkau semua itu pada setiap paginya harus ada
masing-masing sedekahnya. Maka setiap sekali bacaan tasbih adalah sedekah,
setiap sekali bacaan tahmid adalah sedekah, setiap sekali bacaan tahlil adalah
sedekah, setiap sekali bacaan takbir adalah sedekah, memerintahkan kepada
kebaikan juga sedekah, mencegah dari kemungkaran juga sedekah dan
keseluruhannya itu dapat dicukupi oleh dua rakaat yang dikerjakan oleh
seseorang itu dari shalat Dhuha.” (Riwayat Muslim)

1430. Dari Ummul mu’minin yaitu Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu
‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. keluar dari rumahnya pada pagi hari ketika
bersembahyang Subuh. Waktu itu Juwairiyah ada di dalam masjidnya.
Kemudian beliau s.a.w. kembali setelah melakukan shalat Dhuha, sedangkan
Juwairiyah duduk. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Engkau masih tetap dalam
keadaan di waktu tadi saya tinggalkan.” Juwairiyah menjawab: “Ya.” Nabi s.a.w.
lalu bersabda: “Saya telah mengucapkan setelah meninggalkan engkau tadi
empat macam kalimat, sebanyak tiga kali, andaikata kalimat-kalimat itu
ditimbang dengan kalimat-kalimat yang engkau ucapkan sejak hari ini tadi,
niscaya kalimat-kalimat yang saya ucapkan itu menang daripada yang engkau
ucapkan. Kalimat-kalimat itu ialah: “Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi
wa ridba nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kaiimatibi – Maha Suci Allah dan
dengan mengucapkan puji-pujian padaNya, sebanyak hitungan makhluk-
Nya, sesuai dengan keridhaan ZatNya, seberat timbangan ‘arasyNya dan
sepanjang beberapa kalimatNya.” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Subhanallah ‘adada
khalqihi. Subhanalfah ridha nafsihi. Subhanallah zinata ‘arsyihi. Subbanallah
midada kalimatihi.”
Dalam riwayat Imam Termidzi disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: “Tidakkah
engkau suka kalau saya ajari beberapa kalimat yang baik engkau membacanya,
yaitu: Subhanallah ‘adada khalqihi, tiga kali; Subhanallah ridha nafsihi, tiga kali;
Subhanatlah zinata ‘arsyihi, tiga kali; Subhanallah midada kalimatihi, tiga kali.”

1431. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. dari Nabi s.a.w,, sabdanya:
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak
berzikir kepadaNya ialah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim,
yaitu sabda Nabi s.a.w. “Perumpamaan rumah yang di dalamnya digunakan
untuk berzikir kepada Allah dan rumah yang tidak digunakan untuk
berzikir kepada Allah adalah seperti benda yang hidup dan benda yang mati.”

1432. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi: “Aku adalah menurut sangkaan
– keyakinan – hambaKu kepadaKu. Aku adalah beserta hambaKu itu apabila ia
berzikir – ingat – kepadaKu. Maka jikalau ia berzikir kepadaKu dalam dirinya,
maka Akupun ingat padanya dalam diriKu dan jikalau ia berzikir kepadaKu
di kalangan orang banyak, maka Aku ingat pada orang itu di kalangan makhluk yang lebih baik dari mereka itu – yakni di kalangan para malaikat.”
(Muttafaq ‘alaih)

1433. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Telah dahululah orang-orang yang menyendiri.” Para sahabat bertanya:
“Siapakah orang-orang yang menyendiri itu, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Mereka itu ialah yang sama berzikir kepada Allah dengan
sebanyak-banyaknya, baik lelaki ataupun perempuan.” (Riwayat Muslim)
Maksudnya: Menyendiri dalam ingatnya kepada Allah di waktu orang-
orang lain tidak mengingat kepadaNya. Inilah yang lebih dahulu
memperoleh keridhaan Allah Ta’ala.
Diriwayatkan Almufarridun dengan tasydidnya ra’ dan ada yang
meriwayatkan dengan takhfifnya – yakni ra’nya tanpa syaddah lalu dibaca
mufridun. Tetapi yang masyhur yang dikatakan oleh Jumhur Ulama ialah
dengan tasydid.

1434. Dari Jabir r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Seutama-utama zikir ialah lafaz La ilaha illallah.” Diriwayatkan oleh Imam
Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.

1435. Dari Abdullah bin Busr r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata:”Ya
Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak-yakni hukum-
hukumnya sudah lengkap-atas diriku, maka beritahukanlah kepada saya akan sesuatu yang saya dapat ber-pegang padanya.” Beliau s.a.w. bersabda:
“Supaya lisanmu itu senantiasa basah dengan berzikir kepada Allah.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1436. Dari Jabir r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa mengucapkan:
Subhanallah wa bihamdih, maka ditanamlah untuknya sebatang pohon
kurma dalam syurga.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1437. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Saya bertemu Nabi Ibrahim a.s., pada malam saya diisra’kan, lalu beliau
berkata: “Hai Muhammad, sampaikanlah salam saya kepada ummatmu dan
beritahukanlah kepada mereka bahwasanya syurga itu bagus tanahnya, tawar
airnya dan bahwasanya ia adalah merupakan tanah datar yang rata dan benih
tanaman syurga itu ialah: Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu
Akbar.”
Diriwayatkan oleh I mam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1438. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidakkah
engkau semua suka kalau saya beritahukan kepadamu semua akan sebaik-baik
amalanmu, juga seindah-indahnya bagi Tuhan yang Maha Merajaimu semua,
serta yang tertinggi dalam derajat-derajatmu semua, bahkan lebih baik untukmu semua dari-pada menafkahkan emas dan perak, juga lebih baik
untukmu semua daripada engkau semua bertemu dengan musuhmu lalu
engkau tebas leher-leher mereka itu dan merekapun menebas leher-lehermu
semua?” Para sahabat berkata: “Baiklah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Yaitu
berzikir kepada Allah Ta’ala.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi. Imam Hakim, Abu Abdillah
mengatakan bahwa isnad Hadis ini adalah shahih.

1439. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahwasanya ia bersama Rasulullah s.a.w.
masuk ke tempat seorang wanita dan di mukanya ada beberapa biji atau
beberapa kerikil – batu-batu kecil – yang digunakan untuk menghitung
tasbihnya, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau suka kalau saya
memberitahukan padamu tentang sesuatu yang lebih mudah untukmu
daripada ini dan bahkan lebih utama?” Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:
“Yaitu suatu bacaan – yang artinya: Maha Suci Allah sebanyak hitungan apa-
apa yang diciptakan olehNya di langit. Maha Suci Allah sebanyak hitungan
apa-apa yang diciptakan olehNya di bumi. Juga Maha Suci Allah sebanyak
hitungan apa-apa yang ada di antara langit dan bumi. Maha Suci Allah
sebanyak hitungan apa-apa yang diciptakan olehNya. Allah adalah Maha Besar
sebanyak seperti itu pula.segenap puji bagi Allah sebanyak seperti itu pula.
Tiada Tuhan melainkan Allah sebanyak seperti itu pula dan tiada daya serta
tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah sebanyak seperti itu
pula.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
1440. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah sa..w. bersabda
kepadaku: “Tidakkah engkau suka kalau saya tunjukkan kepadamu pada sesuatu
gedung simpanan dari beberapa gedung simpanan syurga?” Saya – Abu Musa –
berkata: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Yaitu ucapan: La
haula wala quwwata ilia billah -Tiada daya dan tiada kekuatan, melainkan
dengan pertolongan Allah.” (Muttafaq ‘alaih) Bab 245
Berzikir Kepada Allah Ta’ala Dengan Berdiri, Duduk,
Berbaring, Berhadas, Sedang Junub Dan Haidh, Kecuali Al-
Quran, Maka Tidak Halal Bagi Orang Yang Sedang Junub
Atau Haidh

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langh dan bumi, perbedaan malam dan
siang, itu semua adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang
mempunyai pemikiran – yakni suka menggunakan akal fikirannya, yaitu orang-orang
yang suka berzikir kepada Allah, baik sedang berdiri, duduk ataupun ketika berbaring
pada lambung-lambung mereka.” (ali-lmran: 190)

1441. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu berzikir
kepada Allah dalam segala keadaannya.” (Riwayat Muslim)
1442. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Andaikata seseorang di antara engkau semua itu ketika mendatangi
isterinya – hendak bersetubuh dengannya – lalu mengucapkan dulu: Bismillah
Allahumma jannibnasy syaithana wa jannibisy syaithana ma razaqtana – Dengan
nama Allah, ya Allah, jauhkanlah syaitan dari kita dan jauhkan pula syaitan itu
dari anak yang akan Engkau rezekikan pada kita,kemudian ditakdirkan akan
ada seorang anak di antara kedua suami-isteri itu, tentulah syaitan tidak akan
dapat membuat bahaya pada anak itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 246

Apa Yang Diucapkan Ketika Hendak Tidur Dan Bangun
Tidur

1443. Dari Hudzaifah dan Abu Zar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. itu apabila menempati tempat tidur – yakni hendak tidur, beliau s.a.w.
mengucapkan: Bismikallahumma ahya wa amutu – Dengan namaMu ya Allah saya
hidup dan mati. Dan apabila beliau s.a.w. bangun dari tidur, lalu
mengucapkan: Al-hamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur –
Segenap puji bagi Allah yang menghidupkan kita – yakni membangunkan dari
tidur – sesudah mematikan kita – yakni sehabis kita tidur yang disamakan
sebagai mati – dan kepadaNyalah kita kembali.” (Riwayat Bukhari)
Bab 247
Keutamaan Berhimpun Untuk Berzikir Dan
Mengajak-ajak Untuk Menetapinya Dan Larangan
Memisahkan Diri Daripadanya Kalau Tanpa Uzur

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sabarkanlah dirimu berkumpul bersama orang-orang yang menyeru kepada
Tuhan di waktu pagi dan petang. Mereka mengharapkan keridhaanNya dan janganlah
engkau menghindarkan pandanganmu dari mereka itu.” (al-Kahf: 21)

1444. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mempunyai beberapa malaikat yang
berkeliling di jalan-jalan untuk mencari para ahli zikir, jikalau mereka
menemukan sesuatu kaum yang berzikir kepada Allah’Azza-wajalla lalu
mereka memanggil-kawan-kawannya: ” Ke marilah.di sinilah ada hajatmu –
ada yang engkau semua cari. Mereka lalu berputar di sekeliling orang-orang
yang berzikir itu serta menaungi mereka dengan sayap-sayapnya sampai ke
langit dunia. Tuhan mereka lalu bertanya kepada mereka, tetapi Tuhan
sebenarnya lebih Maha Mengetahui hal itu. Firman Tuhan: “Apakah yang
diucapkan oleh hamba-hambaKu itu?” Para malaikat menjawab: “Mereka itu
sama memaha sucikan Engkau, memaha besarkan, memuji serta memaha
agungkan padaMu – yakni bertasbih, bertakbir, bertahmid dan bertamjid.
Tuhan berfirman lagi: “Adakah mereka itu dapat melihat Aku?” Malaikat
menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka itu tidak melihat Engkau.” FirmanNya: “Bagaimanakah sekiranya mereka dapat melihat Aku?” Dijawab:
“Andaikata mereka melihat Engkau, tentulah mereka akan lebih giat
ibadatnya padaMu, lebih sangat memaha agungkan padaMu, juga lebih
banyak pula bertasbih padaMu.” FirmanNya: “Apakah yang mereka minta
itu?” Dijawab: “Mereka meminta syurga.” FirmanNya: “Adakah mereka pernah
melihat syurga?” Dijawab: “Tidak, demi Allah, ya Tuhan, mereka tidak pernah
melihat syurga itu.” FirmanNya: “Bagaimanakah andaikata mereka dapat
melihatnya?” Dijawab: “Andaikata mereka pernah melihatnya, tentulah
mereka akan lebih lobanya pada syurga itu, lebih sangat mencarinya dan lebih
besar keinginan mereka pada syurga tadi.” FirmanNya: “Dari apakah mereka
memohonkan perlindungan?” Dijawab: “Mereka mohon perlindungan
daripada neraka.” FirmanNya: “Adakah mereka pernah melihat neraka itu?”
Dijawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihatnya.” FirmanNya:
“Bagaimanakah andaikata mereka pernah melihatnya?” Dijawab: “Andaikata
mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih sangat larinya dan
lebih sangat takutnya pada neraka itu.” FirmanNya: “Kini Aku hendak
mempersaksikan kepadamu semua bahwasanya Aku telah mengampunkan
mereka itu.”
Nabi s.a.w.bersabda: “Ada salah satu di antara para malaikat itu berkata:
“Di kalangan orang-orang yang berzikir itu ada seorang yang sebenarnya
tidak termasuk golongan mereka; hanyasanya ia datang karena ada sesuatu
hajat belaka.” Allah berfirman: “Mereka adalah sekawanan sekedudukan dan
tidak akan celakalah orang yang suka menemani mereka itu – yakni orang
yang pendatang itupun memperoleh pengampunan pula.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Dari Abu Hurairah r.a. dari
Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mempunyai para
malaikat yang berkeliling – di bumi – dan utama-utama keadaannya. Tugas
mereka ialah mengikuti majlis-majlis berzikir. Maka apabila mereka
menemukan sesuatu majlis yang berisi zikir di dalamnya, merekapun lalu duduk bersama orang-orang yang berzikir itu dan saling berputar
menaungi mereka dengan sayap-sayapnya antara satu dengan yang lainnya,
sehingga memenuhi tempat yang ada di antara mereka dengan langit dunia.
Selanjutnya jikalau orang-orang yang berzikir itu telah berpisah, para malaikat
tadi lalu mendaki dan naik ke langit, kemudian Allah ‘Azzawajalla bertanya
kepada mereka, tetapi Allah sebenarnya lebih mengetahui tentang hal itu:
“Dari manakah engkau semua datang?” Mereka menjawab: “Kita semua baru
datang dari hamba-hambaMu yang ada di bumi, mereka itu sama bertasbih,
bertakbir, bertahlil, bertahmid serta memohonkan sesuatu padaMu.”
FirmanNya; “Apakah yang mereka mohonkan padaKu?” Dijawab: “Mereka
mohon akan syurgaMu.” FirmanNya: “Apakah mereka pernah melihat
syurgaKu itu?” Dijawab: “Tidak,ya Tuhan.” FirmanNya: “Bagaimana pula
sekiranya mereka pernah melihat syurgaKu itu.” Para malaikat berkata lagi:
“Mereka itu juga memohonkan perlindungan padaMu.” FirmanNya: “Dari
apakah mereka sama memohonkan perlindungan padaKu?” Dijawab; “Dari
nerakaMu, ya Tuhan.” FirmanNya: “Apakah mereka pernah melihat
nerakaKu itu?” Dijawab: “Tidak pernah.” FirmanNya: “Bagaimana pula
sekiranya mereka pernah melihat nerakaKu.” Para malaikat itu berkata lagi:
“Mereka juga memohonkan pengampunan daripadaMu.” Allah lalu
berfirman: “Sungguh-sungguh Aku telah mengampuni mereka itu, kemudian
Aku berikan pula apa-apa yang mereka minta dan Aku berikan perlindungan
pula mereka itu dari apa-apa yang mereka mohonkan perlindungannya.”
Nabi s.a.w. bersabda: “Para malaikat itu berkata: “Ya Tuhan, di kalangan mereka
ada seorang hamba yang banyak sekali kesalahannya, ia hanyalah berjalan saja
melalui orang-orang yang berzikir tadi lalu duduk bersama mereka.” Allah lalu
berfirman: “Kepada orang itupun saya berikan pengampunan pula. Mereka
adalah kaum yang tidak akan celaka orang yang suka mengawani mereka.”

1445. Dari Abu Hurairah dan dari Abu Said radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada sesuatu kaumpun yang duduk-duduk sambil berzikir kepada
Allah, melainkan dikelilingi oleh para malaikat dan ditutupi oleh kerahmatan
serta turunlah kepada mereka itu ketenangan -dalam hati mereka – dan Allah
mengingatkan mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisinya – yakni
disebut-sebutkan hal-ihwal mereka itu di kalangan para malaikat” (Riwayat
Muslim)
1446. Dari Abu Waqid al-Harits bin ‘Auf r.a. bahwasanya Rasulullah
s.a.w., pada suatu ketika sedang duduk dalam masjid beserta orang
banyak,tiba-tiba adatiga orang yangdatang. Yang dua orang terus menghadap
kepada Rasululah s.a.w. sedang yang seorang lagi lalu pergi. Kedua orang itu
berdiri di depan Rasulullah s.a.w. Adapun yang seorang, setelah ia melihat ada
tempat yang longgar dalam himpunan majlis itu, lalu terus duduk di situ,
sedang yang satu lagi duduk di belakang orang banyak, sedangkan orang
ketiga terus menyingkir dan pergi.
Setelah Rasulullah s.a.w. selesai – dalam mengamat-amati tiga orang tadi –
lalu bersabda: “Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan
perihal tiga orang ini? Adapun yang seorang -yang melihat ada tempat longgar
terus duduk di situ, maka ia menempatkan dirinya kepada Allah, kemudian
Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang lainnya – yang duduk di
belakang orang banyak, ia adalah malu – untuk berdesak-desakan dan sikap
ini terpuji, maka Allah pun malu padanya, sedangkan yang seorang lagi -yang
terus menyingkir, ia memalingkan din, maka Allah juga berpaling dari
orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1447. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Mu’awiyah r.a. keluar menuju
suatu golongan yang berhimpun dalam masjid, lalu ia berkata: “Apakah yang menyebabkan engkau semua duduk ini?” Orang-orangmenjawab: “Kita duduk
untuk berzikir kepada Allah.” la berkata lagi: “Apakah, demi Allah, tidak ada
yang menyebabkan engkau semua duduk ini melainkan karena berzikir
kepada Allah saja?” Mereka menjawab: “Ya, tidak ada yang menyebabkan kita
semua duduk ini, kecuali untuk itu.” Mu’awiyah lalu berkata: “Sebenarnya
saya bukannya meminta sumpah dari engkau semua itu karena sesuatu dugaan
yang meragukan terhadap dirimu semua dan tiada seorangpun yang
sebagaimana kedudukan saya ini dari Rasulullah s.a.w. yang lebih sedikit
Hadisnya daripada saya sendiri -karena sangat berhati-hatinya meriwayatkan
Hadis. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu ketika keluar menuju suatu
golongan yang berhimpun dari kalangan sahabat-sahabatnya, lalu beliau s.a.w.
bersabda: “Apakah yang menyebabkan engkau semua duduk ini?” Para sahabat
menjawab: “Kita duduk untuk berzikir kepada Allah, juga memuji padaNya
karena telah menunjukkan kita semua kepada Agama Islam dan
mengaruniakan kenikmatan Islam itu pada kita.” Beliau s.a.w. bersabda lagi:
“Apakah, demi Allah, tidak menyebabkan engkau semua duduk ini melainkan
karena itu?” Sesungguhnya saya bukannya meminta sumpah dari engkau
semua itu karena sesuatu dugaan yang meragukan terhadap dirimu semua,
tetapi Jibril datang padaku dan memberitahukan bahwasanya Allah merasa
bangga dengan engkau semua itu kepada malaikat – yakni kebanggaanNya itu
ditunjukkan kepada para malaikat.” (Riwayat Muslim) Bab 248
Zikir Di Waktu Pagi Dan Sore

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan rasa rendah diri dan takut
dan tidak pula dengan ucapan yang keras-keras, yaitu pada waktu pagi dan sore dan
janganlah engkau termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 205)
Ahli lughah berkata: “Al-Aashal adalah jama’nya lafaz ashil, yaitu waktu
antara Asar dan Maghrib – yakni waktu sore hari.
Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Dan memaha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu
sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya.” (Thaha: 130)
“Dan maha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian pada Tuhanmu di waktu
sore dan pagi.” (Ghafir: 55)
Ahli lughah berkata: Al’asyiy ialah waktu antara tergelincirnya -yakni
lingsirnya – matahari sampai terbenamnya.
Allah Ta’ala berfirman pula: “Cahaya itu ada di dalam rumah-rumah yang Allah mengizinkan kalau ditinggikan –
bangunannya dan dimuliakan rumah-rumah Allah itu – serta NamaNya disebut-
sebutkan di dalamnya, yaitu tempat untuk memaha sucikan padaNya di waktu pagi
dan sore. Beberapa orang lelaki yang tidak lalai karena perniagaan dan ual-beli dari
berzikir kepada Allah” sampai habisnya ayat. (an-Nur: 36)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Sesungguhnya Kami – Allah – telah menundukkan gunung-gunung itu untuk
bertasbih bersama Dawud di waktu sore dan pagi.” (Shad: 18)

1448. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan ketika pagi dan sore: Subhanallah wa
bihamdi, seratus kali, maka tidak akan datang seseorang pun besok pada hari
kiamat yang keadaannya lebih utama dari apa yang dikerjakannya, kecuali
seseorang yang mengucapkan seperti apa yang diucapkan olehnya itu atau
menambahkan dari ucapannya tadi.” (Riwayat Muslim)
1449. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Ada seorang lelaki datang
kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: “Ya Rasulullah, ada sesuatu yang saya bertemu
dengannya, yaitu seekor kala, lalu menyengat pada saya tadi malam.” Beliau
s.a.w. bersabda: “Andaikata engkau mengucapkan ketika engkau berada di
waktu sore, yaitu: “A’udzu bikalimatilahit tammati min syarri ma khalaq – Saya
mohon per-lindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari
apa saja yang diciptakan olehNya, niscayalah binatang itu tidak akan
membahayakan padamu.” (Riwayat Muslim)
1450. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau s.a.w. di
waktu pagi mengucapkan – yang artinya: Ya Allah, dengan karuniaMu kita
berpagi-pagi dan dengan karuniaMu pula kita bersore-sore. Dengan
pertolonganMu kita hidup dan dengan takdirMu kita mati dan
kepadaMulah tempat kita kembali.” Selanjutnya jikalau di waktu sore beliau
s.a.w. mengucapkan – yang artinya: Ya Allah, dengan karuniaMu kita
bersore-sore, dengan pertolonganMu kita hidup dan dengan takdirMu kita
mati dan kepadaMulah tempat kita kembali.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1451. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Abu Bakar as-Shiddiq r.a. berkata:
“Ya Rasulullah, perintahkanlah kepada saya untuk mengucapkan beberapa
kalimat yang perlu saya bunyikan di waktu saya berpagi-pagi atau bersore-
sore!” Beliau s.a.w. bersabda: “Ucapkanlah – yang artinya: “Ya Allah, yang
Maha Menciptakan semua langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib
dan yang terang, tuhan segala sesuatu serta yang Maha Merajainya.
Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau. Saya mohon
perlindungan dari kejahatan diri saya sendiri dan dari kejahatan syaitan
serta apa yang yang menyebabkan kemusyrikin kepada Allah.” Selanjutnya
Nabi s.a.w. bersabda: “Ucapkanlah itu jikalau engkau berpagi-pagi, bersore-
sore dan ketika engkau mengambil tempat tidurmu – yakni hendak tidur.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1452. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu apabila
bersore-sore mengucapkan – yang artinya: kita bersore-sore dan segenap kerajaan pada waktu sore inipun kepunyaan Allah, segenap puji-
pujian bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada
sekutu bagiNya.”
Yang merawikan Hadis ini berkata: “Saya mengira beliau s.a.w.
mengucapkan sehabis yang di atas itu bacaan-bacaan – yang artinya: Bagi
Allah segenap kerajaan dan bagiNya pula segenap puji-pujian dan Allah
adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Tuhan, saya mohon
kepadaMu akan kebaikannya apa yang ada pada malam ini dan
kebaikannya apa yang ada pada malam yang berikutnya dan saya mohon
perlindungan padaMu akan kejahatannya apa yang ada pada malam ini
dan kejahatannya apa yang ada pada malam sesudahnya. Ya Tuhan, saya
mohon perlindungan kepadaMu daripada kemalasan dan buruknya usia
tua. Saya juga mohon perlindungan kepadaMu dari siksa dalam neraka
dan siksa dalam kubur.”
Jikalau di waktu pagi, beliau s.a.w. mengucapkan sedemikian itu pula
dengan kata-kata – yang artinya: “Kita berpagi-pagi dan segenap
kerajaan pada waktu pagi inipun kepunyaan Allah.” (Riwayat Muslim)

1453. Dari Abdullah bin Khubaib, dengan dhammahnya kha’
mu’jamah, r.a. katanya: “Nabi s.a.w. bersabda kepada saya: “Bacalah Qul
huwallahu ahad dan dua buah surat Ta’awwudz -yakni Qul a’udzu
birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbin nas, ketika engkau bersore-sore
dan ketika engkau berpagi-pagi, maka yang sedemikian itu dapat
mencukupi untukmu dari segala sesuatu.” Diriwayatkan oleh Imam-
imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan shahih.
1454. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Tiada seorang hambapun yang pada pagi setiap hari dan sore
setiap malam, mengucapkan: “Bismillahil ladzi la yadhurru ma’asmihi
syai-un fil-ardhi wa la fissama-i wa huwas sami’ul ‘alim -Dengan nama Allah
yang segala sesuatu tidak akan dapat membahayakan dengan menyebut
namaNya itu, baik yang ada di bumi ataupun yang ada di langit dan
Allah adalah Maha Mendengar lagi Mengetahui, sebanyak tiga kali,
melainkan ia tidak akan terkena bahaya oleh sesuatu apapun.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Bab 249
Apa-apa Yang Diucapkan Ketika Akan Tidur
Allah Ta’ala berfirman
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi serta dalam perbedaan
waktu malam dan siang adalah merupakan tanda-tanda – kekuasaan Allah – bagi orang-
orang yang mempunyai pemikiran – yakni yang suka menggunakan akal fikirannya.
Mereka itu sama berzikir kepada Allah sambil berdiri dan duduk dan ketika berbaring
pada lambung-lambungnya – yakni ketika hendak tidur,” sampai akhirnya beberapa
ayat. (ali-lmran: 190)
1455. Dari Hudzaifah dan Abu Zar radhiallahu’anhuma bahwasanya
Rasulullah s.a.w. itu apabila menempati tempat tidurnya -yakni akan tidur,
beliau s.a.w. mengucapkan: Bismikallahumma ahya wa amutu – Dengan
menyebut namaMu, ya Allah, saya hidup dan mati.” (Riwayat Bukhari)
1456. Dari Ali r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya dan
juga kepada Fathimah – isterinya Ali r.a.:
“Jikalau engkau berdua menempati tempat tidurmu – yakni akan tidur,”
atau: “jikalau engkau berdua mengambil tempat pembaringanmu – yakni
hendak tidur, maka bacalah takbir sebanyak tigapuluh tiga kali, tasbih sebanyak
tigapuluh tiga kali dan tahmid Juga sebanyak tigapuluh tiga kali.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Tasbih itu sebanyak tigapuluh empat kali.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Takbir itu sebanyak tiga-puluh empat
kali.” (Muttafaq ‘alaih)
1457. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau seseorang di antara engkau semua menempati tempat tidurnya –
yakni akan tidur, maka hendaklah mengibas-ngibaskan
tempat tidurnya dengan sarungnya yang bagian dalam, sebab sesungguhnya
ia tidak mengetahui apa yang ia tinggalkan di situ, kemudian supaya
mengucapkan-yang artinya: Dengan namaMu ya Tuhanku saya meletakkan
lambungku dan dengan namaMu pula saya mengangkatnya. Jikalau Engkau
mengambil jiwaku, maka kasihanilah ia dan jikalau Engkau biarkan ia – yakni
tetap hidup, maka jagalah ia sebagaimana yang Engkau berikan penjagaan itu
kepada para hambaMu yang shalih-shalih.” (Muttafaq ‘alaih)

1458. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. apabila
mengambil tempat pembaringannya – yakni akan tidur, beliau meniup dalam
kedua tangannya dan membaca surat-surat Mu’awwidzah – yaitu surat-surat al-
ikhlas,al-Falaq dan an-Nas-kemudian dengan kedua tangan itu beliau
mengusapkan ke tubuhnya. (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam-imam Bukhari dan Muslim disebutkan
demikian:
Bahwasanya Nabi s.a.w. apabila menempati tempat tidurnya -yakni akan tidur
– pada setiap malamnya, beliau mengumpulkan kedua tapak tangannya lalu di
dalamnya itu membaca: Qul hu-wallahuahad, Qul a’udzubirabbilfalaq dan Qul
a’udzu birabbinn nas, kemudian dengan kedua tangannya itu beliau mengusap
tubuhnya sekuasa yang dicapai olehnya, dimulai dulu atas kepala-nya, lalu
wajahnya, kemudian yang berhadapan dari tubuhnya – yakni tubuhnya
yang bagian muka terus yang bagian belakang. Beliau s.a.w. mengerjakan
sedemikian itu sampai tiga kali. (Muttafaq ‘alaih) Para ahli lughah berkata: Annaftsu talah tiupan secara perlahan-lahan tanpa
mengeluarkan ludah.

1459. Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma, katanya: ‘Rasulullah
s.a.w. bersabda kepada saya:
“Jikalau engkau mendatangi tempat pembaringanmu – yakni akan tidur,
maka berwudhu’lah dahulu sebagaimana wudhu’mu untuk
bersembahyang, kemudian berbaringlah pada belahan tubuhmu sebelah
kanan dan ucapkanlah – yang artinya:
Ya Allah, saya menyerahkan jiwaku kepadaMu, saya aturkan urusanku
kepadaMu, saya tempatkan punggungku kepadaMu. Demikian itu adalah
karena cinta dan takut kepadaMu. Tiada tempat bersandar dan tiada tempat
berlindung daripadaMu selain kepadaMu. Saya beriman kepada kitab yang
Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau Rasulkan.
Jikalau engkau mati, maka matimu adalah menetapi kefithrahan – yakni
tetap dalam Agama Islam, maka itu jadikanlah ucapan-ucapan itu sebagai
kata-kata terakhir yang engkau bunyikan -sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

1460. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. apabila menempati tempat
tidurnya – yakni akan tidur, beliau mengucapkan – yang artinya: “Segenap puji
bagi Allah yang memberikan makan dan minum kepada kita, memberikan
kecukupan dan tempat kediaman kepada kita. Maka alangkah banyaknya
orang yang tidak mempunyai orang yang dapat mencukupinya dan tidak pula
ada yang memberikan tempat kediaman padanya.” (Riwayat Muslim)

1461. Dari Hudzaifah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. apabila hendak tidur,
beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian berkata: “Allahumma qini ‘adzabaka yawma tab’atsu ‘ibadaka – ya Allah, lindungilah saya
dari siksaMu pada hari Engkau membangkitkan seluruh hambaMu.”
Diriwayatkanoleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari riwayat Hafshah
radhiallahu ‘anha dan dalam Hadis ini disebutkan bahwa beliau s.a.w.
mengucapkan kata-kata di atas itu sebanyak tiga kali.
Bab 250

Kitab Doa-doa
Doa-doa

Allah Ta’ala berfirman:
“Tuhanmu semua berfirman: Berdoalah engkau semua padaKu, pasti Aku
mengabulkan doamu semua itu.” (Ghafir: 60)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Berdoalah engkau semua kepada Tuhanmu dengan had dan rahasia – yakni
dengan permohonan yang timbul dari jiwa, se-sungguh Allah itu tidak menyukai
orang yang melanggar batas.” (al-A’raf: 55)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu – hai Muhammad –
tentang Aku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku ini dekat. Aku dapat
mengabulkan permohonan orang yang berdoa padaKu jikalau ia telah
memohonkan itu padaKu,” sampai habisnya ayat. (al-Baqarah: 186)

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Siapakah yang dapat mengabulkan permohonan orang yang dalam keadaan
terpaksa – yakni menderita kekurangan, jikalau ia
berdoa kepadaNya, dan dapat pula menghilangkan keburukan -yakni penderitaan –
dari dirinya itu,” sampai habisnya ayat. (an-Naml: 62)

1462. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w.
sabdanya:
“Berdoa itu termasuk golongan ibadat.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
1463. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu suka
doa-doa yang menghimpun – yakni yang mengandung segala macam
kepentingan dan keperluan – dan beliau s.a.w. meninggalkan yang selain
itu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1464. Dari Anas r.a., katanya: “Sebagian banyak doa Nabi s.a.w., itu ialah:
Rabbana atina fiddun-ya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar – Ya
Tuhan kami, berikanlah kebaikan pada kita di dunia dan kebaikan di akhirat
dan lindungilah kita dari siksa neraka.” (Muttafaq ‘alaih)
Imam Muslim dalam riwayatnya menambahkan: Katanya: Anas apabila
berkehendak akan berdoa dengan sesuatu doa, maka berdoa dengan doa di
atas itu. Juga apabila berkehendak me-mohonkan sesuatu permohonan yang
lain, maka dalam doanya itu dimasukkanlah doa di atas itu pula. 1465. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mengucapkan – yang
artinya: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohonkan kepadaMu akan petunjuk,
ketaqwaan, dapat menahan diri dari melakukan kemaksiatan serta kekayaan –
cukup dari kekurangan sehingga tidak meminta kepada orang lain.” (Riwayat
Muslim)
1466. Dari Thariq bin Asy-yam r.a., katanya: “Seseorang itu apabila masuk
Islam, lalu Nabi s.a.w. mengajarkan shalat padanya, kemudian orang itu
diperintah supaya berdoa dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya: Ya Allah,
berikanlah kepada saya pengampunan, kerahmatan, petunjuk, kesihatan dan
rezeki.”
(Riwayat Muslim)
Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Dari Thariq bahwasanya ia
mendengar Nabi s.a.w. yang pada ketika didatangi oleh seseorang lelaki lalu
berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah yang harus saya ucapkan di waktu saya
akan me-mohonkan sesuatu pada Tuhanku?” Beliau s.a.w. bersabda: “Kata-
kanlah – yang artinya: Ya Allah, berikanlah pengampunan padaku,
kerahmatan, kesihatan dan rezeki, sebab doa ini dapat menghimpun segala
kepentinganmu dalam urusan dunia serta akhiratmu.”

1467. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang artinya: “Ya Allah, Zat
yang Maha mengubah-ubah hati, ubah-ubahlah hati kita – dari satu kepada
lain keadaan – untuk terus menetapi ketaatan padaMu.” (Riwayat Muslim)

1468. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Mohonlah engkau
perlindungan kepada Allah daripada kesengsaraan bencana, dicapai oleh
kecelakaan, buruknya ketentuan dan kegembiraan musuh karena bahaya yang
kita peroleh.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: Abu Sufyan-yang meriwayatkan Hadis ini –
berkata: “Saya sangsi bahwa saya menambah salah satu dari empat macam
permohonan di atas itu.”
1469. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan –
dalam doanya yang artinya: “Ya Allah, perbaguskanlah untukku akan agamaku
yang itu adalah pegangan perkaraku, perbaguskanlah untukku duniaku yang di
dalamnya adalah ke-hidupanku, juga perbaguskanlah akhiratku yang di
dalamnya itulah tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan
bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematian itu sebagai istirahat
untukku dari segala keburukan.” (Riwayat Muslim)
1470. Dari Ali r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada saya:
“Ucapkanlah: Allahummahdini wa saddidny – Ya Allah, berikanlah petunjuk
kepadaku dan lempangkanlah perjalananku.” Dalam riwayat lain disebutkan:
“Allahumma inni as-alukal huda wassadad” – Ya Allah, sesungguhnya saya mohon
kepadaMu akan petunjuk dan kelempangan perjalanan. (Riwayat Muslim)

1471. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan-dalam doanya
yang artinya:
Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu dari kelemahan
dan kemalasan, kelicikan, usia terlampau tua dan kikir. Saya juga mohon
perlindungan padaMu daripada siksa kubur dan saya mohon perlindungan
pula padaMu dari fitnahnya hidup dan mati.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Juga dari beratnya beban hutang dan
dikalahkan oleh orang-orang – yakni jangan sampai berbuat kezaliman
ataupun dizalimi orang lain.” (Riwayat Muslim)

1472. Dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. bahwasanya ia berkata kepada
Rasulullah s.a.w.; “Ajarkanlah kepada saya sesuatu doa yang dapat saya baca
dalam shalatku!” Beliau s.a.w. bersabda:
“Katakanlah – yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya telah menganiaya
diriku sendiri dengan penganiayaan yang banyak sekali dan tidak dapat
mengampunkan semua dosa itu kecuali Engkau, maka berikanlah untukku
pengampunan dari hadhiratMu dan belas kasihanilah saya, sesungguhnya
Engkau adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam rumahku – yakni doa yang perlu
saya baca dalam rumahku.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “penganiayaan yang banyak,” ada yang
mengatakan: “penganiayaan yang besar,” dengan tsa’ yang bertitik tiga dan
dengan ba’ bertitik satu. Maka seyugianya supaya dua kata itu dihimpunkan,
lalu dikatakan: “katsiran kabiran – yang banyak dan besar.”
1473. Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau s.a.w. berdoa
dengan doa ini – yang artinya:
Ya Allah, berikanlah pengampunan untukku kesalahan dan kebodohanku,
berlebih-lebihanku dalam perkaraku dan apa saja yang Engkau lebih
mengetahui tentang itu daripada saya sendiri. Ya Allah, ampunkanlah kesalahanku yang saya lakukan dengan kegiatan dan
bermain-main, ketidak-sengajaan serta yang memang saya sengaja, juga segala
sesuatu yang dari diriku.
Ya Allah, ampunkanlah untukku kesalahan-kesalahan yang saya lakukan
dahulu atau yang saya lakukan kemudian – yakni sesudah saat ini, juga yang
saya sembunyikan serta yang saya tampakkan dan apa-apa yang Engkau lebih
mengetahui tentang itu daripada saya sendiri. Engkau adalah Maha
Mendahulukan serta Maha Mengakhirkan dan Engkau adalah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.” (Muttafaq ‘alaih)

1474. Dan Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu
mengucapkan dalam doanya-yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya mohon
perlindungan kepadaMu daripada kejahatannya apa yang saya kerjakan dan
dari kejahatannya apa yang tidak saya kerjakan. (Riwayat Muslim)

1475. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Sebagian dari doanya
Rasulullah s.a.w. ialah – yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya mohon
perlindungan padaMu daripada lenyapnya kenikmatanMu – yang dikaruniakan
padaku – dan bergantinya kesihatan daripadaMu – yang ada dalam diriku –
juga dari tibanya siksaMu – atas diriku – dengan mendadak dan pula dari
segala macam kemurkaanMu.” (Riwayat Muslim)

1476. Dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
mengucapkan – dalam doanya yang artinya:
Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada
kelemahan dan kemalasan, kekikiran dan usia terlampau tua serta siksa kubur.
Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ini untuk dapat bertaqwa kepadaMu,
juga sucikanlah jiwaku itu karena Engkau adalah sebaik-baik Zat yang dapat
menyucikannya. Engkaulah yang Maha Menguasai serta yang menjadi Tuhannya. Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu
daripada ilmu pengetahuan yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak dapat
khusyu’,dari jiwa yang tidak puas-puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
(Riwayat Muslim)

1477. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
mengucapkan – dalam doanya yang artinya:
Ya Allah, kepadaMu saya menyerahkan din, kepadaMu saya beriman,
kepadaMu saya bertawakkal, kepadaMu saya kembalikan -segala urusan, dengan
petunjukMu saya berbantah – dengan musuh – dan dengan hukum-hukumMu
saya memberikan ketentuan hukum. Maka dari itu ampunilah saya akan
dosa-dosaku yang dahulu dan yang kemudian, yang saya sembunyikan serta
yang saya tampakkan. Engkau adalah Maha Mendahulukan serta Maha Meng-
akhirkan, tiada Tuhan melainkan Engkau.”
Setengah para perawi Hadis ini menambahkan kalimat – yang artinya: Dan
tiada daya serta tiada kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah.
(Muttafaq ‘alaih)

1478. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. berdoa
dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya: Ya Allah, se sungguhnya saya
mohon perlindungan kepadaMu daripada fitnah-ya neraka dan siksanya
neraka, juga dari keburukannya kekayaan an kefakiran.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Ini adalah lafaznya Imam
Abu Dawud.
1479. Dari Ziad bin ‘llaqah dari pamannya, yaitu Quthbah bin Malik r.a.,
katanya: “Nabi s.a.w. itu mengucapkan – dalam doanya yang artinya – Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu dari keburukan-
keburukannya budi pekerti, amal perbuatan serta hawanafsu.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
1480. Dari Syakl bin Humaid r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
ajarkanlah kepada saya sesuatu doa!” Beliau s.a.w. bersabda:
“Katakanlah – yang artinya: Ya Allah, saya mohon perlindungan kepadaMu
daripada keburukan pendengaranku dan dari keburukan penglihatanku dan
dari keburukan lidahku dan dari keburukan hatiku serta dari keburukan
maniku.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan
Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1481. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mengucapkan -dalam doanya
yang artinya: “Ya Allah saya mohon perlindungan kepadaMu daripada
penyakit belang-belang pada kulit, gila, kusta dan penyakit-penyakit yang
buruk-buruk.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1482. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan –
dalam doanya yang artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu daripada
kelaparan, sebab sesungguhnya lapar itu adalah seburuk- buruknya kawan tidur.
Juga saya mohon perlindungan padaMu dari berkhianat, karena sesungguhnya
khianat itu adalah seburuk-buruknya sifat yang menjadi ciri seseorang.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
1483. Dari Ali r.a. bahwsanya seorang budak mukatab – yaitu seorang
hambasahaya yang dapat menjadi merdeka apabila dapat menebus harga
dirinya sendiri kepada tuan yang memilikinya -datang padanya lalu berkata:
“Sesungguhnya saya ini tidak kuat untuk membayar harga tebusan diriku ini,
maka itu berilah pertolongan kepadaku!” Ali r.a. berkata: “Tidakkah engkau
suka kalau saya ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang saya diajari oleh
Rasulullah s.a.w., andaikata engkau mempunyai hutang – atau tanggungan –
seperti gunung sekalipun, tentu Allah akan menunaikan hutangmu itu? Yaitu,
katakanlah:
Allahummakfini bihatalika ‘an haramika wa aghnini bifadh-lika ‘amman siwaka –
Ya Allah, cukupkanlah, saya dengan memperoleh apa-apa yang halal
daripadaMu untuk tidak sampai melanggar apa-apa yang menjadi
keharamanMu dan perkayakanlah diriku dengan memperoleh keutamaan
daripadaMu sehingga tidak memerlukan yang selain daripadaMu.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1484. Dari Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi
s.a.w. mengajarkan kepada ayahnya yaitu Hushain akan dua kalimat yang
dapat digunakan sebagai doa, yaitu – yang artinya:
Ya Allah, berikanlah ilham padaku berupa kelapangan jalanku dan
lindungilah saya dari kejahatan diriku sendiri. Diriwayatkan oleh Imam
Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1485. Dari Abdulfadhli yaitu al-‘Abbas bin Abdul Muthalib r.a., katanya:
“Saya berkata: “Ya Rasulullah, ajarkanlah pada saya sesuatu doa untuk bermohon
kepada Allah Ta’ala.” Beliau s.a.w. bersabda: “Mohonlah akan keselamatan
kepada Allah.” Saya tetap beberapa hari berdoa seperti itu, kemudian saya
mendatanginya lagi lalu berkata: “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sesuatu
doa untuk bermohon kepada Allah Ta’ala.” Beliau s.a.w. bersabda kepada saya:
“Hai ‘Abbas, paman Rasulullah, mohonlah kepada Allah akan keselamatan di
dunia dan akhirat.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis shahih.

1486. Dari Syahr bin Hausyab, katanya: “Saya berkata kepada Ummu
Salamah radhiallahu ‘anha: “Hai Ummul mu’minin, bagai-manakah doa
Rasulullah s.a.w. yang sebagian banyak sekali, jikalau beliau itu ada di sisimu?” la
menjawab: “Sebagian banyak doa beliau s.a.w. itu ialah – yang artinya:
“Wahai Zat yang membolak-balikkan keadaan hati. Tetapkanlah hatiku atas
agamaMu.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1487. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Setengah daripada doanya Nabi Dawud a.s. ialah – yang artinya:
Ya Allah, sesungguhnya saya mohon kepadaMu untuk mencintaiMu dan
mencintai orang yang cinta kepadaMu, juga perbuatan yang dapat
menyampaikan diriku ke arah dapat mencintai padaMu. “Ya Allah, jadikanlah kecintaan padaMu itu yang lebih saya cintai
daripada diri saya sendiri, juga melebihi kecintaan pada keluargaku serta
melebihi kecintaan kepada air yang dingin.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1488. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Kekalkanlah – ketika berdoa itu – dengan menggunakan lafaz: Ya Dzal jalali
wal Ikram – Hai Zat yang memiliki keperkasaan dan kemuliaan.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi. Imam an-Nasa’i juga meriwayatkan
Hadis ini dari riwayat Rabi’ah bin ‘Amir as-Shahabi. Imam Hakim berkata
bahwa Hadis ini shahih isnadnya.
Alizhzhu dengan kasrahnya lam dan syaddahnya zha’ mu’jamah, artinya ialah
tetapilah secara langsung – yakni kekalkanlah – doa ini dan
perbanyakkanlah menggunakannya

1489. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. berdoa dengan doa
yang banyak sekali, kita tidak dapat hafal sedikitpun dari doanya itu. Kita lalu
berkata: “Ya Rasulullah, Tuan telah berdoa dengan sesuatu doa yang banyak
sekali, sehingga kita tidak dapat hafal sedikitpun daripadanya.” Beliau s.a.w.
lalu bersabda:
“Tidakkah engkau semua suka kalau saya tunjukkan kepadamu semua
sesuatu doa yang menghimpun keseluruhannya itu? Yaitu supaya engkau
mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya saya mohon kepadaMu dari kebaikan sesuatu
yang dimohonkan oleh NabiMu yaitu Muhammad s.a.w. Saya juga mohon
perlindungan kepadaMu dari kejahatannya sesuatu yang dimohoni
perlindungannya oleh NabiMu yaitu Muhammad s.a.w. Engkau adalah
yang dimohoni pertolongan dan atas pertolonganMulah adanya kecukupan –
sampai memperoleh apa yang diinginkan dari kebaikan dunia dan akhirat. Dan
tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1490. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Setengah dari doa Rasulullah s.a.w.
ialah – yang artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya kita mohon kepadaMu apa-apa yang menyebabkan
datangnya kerahmatanMu dan apa-apa yang me yebabkan
pengampunanmu, juga selamat dari dosa dan memperoleh dari semua
kebaikan, demikian pula berbahagia dengan syurga dan selamat dari
siksa api neraka.”
Diriwayatkan oleh Imam Hakim yaitu Abu Abdillah dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih menurut syarat Imam
Muslim.

Bab 251
Keutamaan Berdoa Di Luar Adanya Orang Yang
Didoakan

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka sama berkata: “Ya Tuhan kita,
berikanlah pengampunan kepada kita dan kepada saudara-saudara kita yang telah
mendahului kita dengan membawa keimanan.” (al-Hasyr: 10)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Dan mohonlah pengampunan dari dosa untukmu sendiri dan untuk sekalian
orang-orang yang beriman, lelaki ataupun perempuan,” (Muhammad: 19)

Allah Ta’ala juga berfirman dalam memberitahukan perihal Ibrahim a.s.:

“Wahai Tuhan kita, berikanlah pengampunan untukku dan kedua
orangtuaku, juga kepada sekalian orang-orang yang beriman pada hari
berdirinya hisab – yakni hari kiamat.” (Ibrahim: 41)
1491. Dari Abuddarda’r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang hambapun yang Muslim yang berdoa untuk
saudaranya yang tidak ada – yakni yang waktu itu tidak ada di sisinya,
melainkan malaikat akan berkata: “Engkau juga memperoleh
sebagaimana yang engkau doakan itu.” (Riwayat Muslim)
1492. Dari Abuddarda’ r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Doa seseorang Muslim kepada saudaranya di luar adanya yang
didoakan itu adalah mustajab – yakni dikabulkan. Di sisi kepalanya ada
malaikat yang diserahi untuk itu. Setiap ia berdoa untuk saudaranya
itu dengan kebaikan, maka malaikat yang diserahi itu berkata: Amin –
semoga Allah mengabulkan doamu itu – dan engkaupun memperoleh
sebagaimana yang engkau doakan itu.” (Riwayat Muslim)
Bab 252
Beberapa Masalah Dari Hal Doa

1493. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang diberi sesuatu kebaikan – seperti pemberian
dan Iain-Iain – oleh orang lain, lalu ia mengucapkan kepada orang
yang melakukannya itu: “Jazakallahu khairan – Semoga Allah
memberikan balasan kebaikan kepadamu, maka benar-benar ia
telah mempersangatkan pujiannya itu.”
Diriwayatkan oleh imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan shahih

1494. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah
engkau semua berdoa untuk bahayanya diri sendiri, janganlah
pula berdoa untuk bahayanya anak-anakmu semua dan jangan pula
berdoa untuk bahayanya harta-hartamu semua – yakni mendoakan supaya diri
sendiri, anak atau hartanya itu mendapat bahaya atau kecelakaan, sebab tiada
mencocoki doa-doa itu akan sesuatu saat yang di waktu itu Allah akan
dimintai untuk mengabul-kannya, maka Allah pasti mengabulkan doamu
tersebut,” – yakni apabila diucapkannya doa itu tepat pada waktu yang mustajab,
maka dikhuatirkan bahwa doa-doa untuk memohonkan bahaya dan
kecelakaan tadi akan benar-benar terlaksana. (Riwayat Muslim)

1495. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Sedekat-dekat seseorang hamba itu dari Tuhannya ialah dalam keadaan ia
bersujud, maka dari itu perbanyakkanlah berdoa – ketika bersujud itu.”
(Riwayat Muslim)

1496. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Akan dikabulkanlah sesuatu doa bagi seseorang di antara engkau semua,
selama ia tidak tergesa-gesa, lalu ia mengucapkan: “Saya sungguh-sungguh
telah berdoa kepada Tuhanku, Tuhan tidak suka mengabulkan
permohonanku itu.” (Muttafaq ‘alaih)
tetapi Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
Nabi s.a.w. bersabda: “Tidak henti-hentinya sesuatu doa bagi seseorang
hamba itu akan dikabulkan, selama ia tidak berdoa untuk terjadinya sesuatu
dosa atau untuk pemisahan kekeluargaan dan selama ia tidak tergesa-gesa.”
Beliau s.a.w. ditanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah artinya tergesa-gesa
itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu jikalau orang itu berkata: “Sungguh-
sungguh saya telah berdoa dan benar-benar saya sudah memohonkan, tetapi
saya tidak mengetahui – tidak meyakinkan – bahwa Tuhan akan
mengabulkannya,” selanjutnya orang itu lalu merasa menyesal di saat itu dan
akhirnya meninggalkan berdoa.”

1497. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ditanya:
“Manakah doa yang lebih pasti untuk didengar itu-selanjutnya lalu dikabulkan?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu di tengah malam yang terakhir
dan sehabis shalat-shalat yang diwajibkan.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1498. Dari ‘Ubadah bin as-Shamit r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w
bersabda: “Tiada di atas bumi ini seseorang Muslim pun yang berdoa
kepada Allah dengan sesuatu permohonan, melainkan Allah pasti akan
memberikan itu padanya, ataupun akan memalingkan dari dirinya dari
keburukan yang seumpama dengan itu, selama ia tidak berdoa untuk
terlaksananya sesuatu dosa atau untuk pemisahan kekeluargaan.”
Kemudian ada seorang lelaki dari golongan kaum berkata: “Jikalau
demikian, kita akan memperbanyakkan permohonan – yang baik-baik –
itu, bagaimanakah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Allah adalah Maha Lebih
Banyak karunianya – untuk mengabulkan permohonan yang banyak
tadi.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Hakim dari
riwayat Abu Sa’id dan di situ ditambahkan sabda Nabi s.a.w.: “Atau
orang yang berdoa itu menabung pahala seumpama dengan doanya itu
untuk dirinya sendiri.”

1499. Dari Ibu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. itu ketika ditimpa oleh kesempitan -yakni di waktu hati kesal dan
ingin marah-marah, beliau s.a.w. mengucapkan:
“La ilaha illallahu ‘azhimul halim; La i/aha Illallahu rabbul ‘arsyil ‘azhim;
La ilaha illallahu rabbus samawati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil karim.” Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Agung lagi Penyantun. Tiada
Tuhan melainkan Allah yang Maha Menguasai ‘arasy yang agung. Tiada
Tuhan melainkan Allah yang Maha Menguasai langit-langit dan
Menguasai Bumi dan Menguasai ‘arasy yang mulia. (Muttafaq ‘alaih)

Bab 253
Karamat-karamatnya Para Waliullah Dan Keutamaan
Mereka

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Ingatlah bahwasanya para waliullah – yakni kekasih-kekasih Allah – itu tiada
ketakutan atas mereka dan merekapun tidak akan bersedih hati. Mereka itu ialah
orang-orang yang beriman dan juga bertaqwa. Bagi mereka adalah
kegembiraan di dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Tiada perubahan
sama sekali untuk kalimat-kalimat Allah. Yang sedemikian itu adalah
kebahagiaan yang agung.” (Yunus: 62)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Dan goyangkanlah olehmu – hai Maryam – pohon kurma itu, niscayalah ia
akan menjatuhkan kepadamu buah kurma yang baru masak. Maka makanlah dan
minumlah,” sampai habisnya ayat. (Maryam: 25-26)
Allah Ta’ala berfirman pula:

“Setiap kali Zakaria masuk kepadanya yaitu di mihrab, didapati makanan di
dekatnya. la berkata: “Hai Maryam, bagaimanakah engkau dapat memperoleh ini?”
Maryam menjawab: “Itu adalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah itu
mengaruniakan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya tanpa ada batas
hitungannya.” (ali-lmran: 37)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan di waktu engkau semua meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah
selain Allah, carilah tempat persembunyian di dalam gua, nanti Tuhanmu semua akan
menyebarkan kerahmatan-Nya untukmu semua dan menyediakan apa-apa yang
berguna dari pekerjaanmu itu untuk kepentinganmu semua pula.
Engkau lihat matahari ketika terbitnya miring dari gua mereka di sebelah kanan dan
ketika terbenam, meninggalkan mereka di sebelah kiri,” sampai habisnya ayat. (al-
Kahf: 16-17)

1500. Dari Abu Muhammad yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar as-Shiddiq
radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya ash-habush shuffah adalah para manusia
yang fakir-fakir dan bahwasanya Nabi s.a.w. pernah pada suatu ketika bersabda:
“Barangsiapa yang disisinya ada makanan cukup untuk dua orang, maka
hendaklah pergi dengan tiga orang dan barangsiapa yang disisinya ada
makanan cukup untuk empat orang, maka hendaklah pergi dengan lima atau enam orang,” atau seperti yang sedemikian itulah kurang lebih sabda beliau
s.a.w.
itu.
Abu Bakar datang dengan membawa tiga orang sedang Nabi s.a.w. berangkat
dengan membawa sepuluh orang. Abu Bakar makan malam di tempat Nabi
s.a.w. kemudian menetap di situ sehingga ia bersembahyang Isya’. Kemudian
kembali lalu datang di rumahnya setelah lewat waktu malam – yakni sampai
jauh malam -sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Isterinya lalu berkata:
“Apa yang menyebabkan anda tertahan untuk menemui tamu-tamu anda?”
Abu Bakar bertanya: “Apakah orang-orang itu belum engkau beri makan
malam?” la menjawab: “Mereka tidak mau sehingga anda datang dan para
pelayan sudah menawarkan pada mereka itu.”
Abdur Rahman berkata: “Saya lalu pergi kemudian bersembunyi. Abu
Bakar berkata: “Hai Tolol” dan seterusnya iapun mencaci dan memaki, lalu
berkata kepada keluarganya: “Makanlah engkau semua tanpa adanya
kecukupan. Demi Allah, saya tidak makan makanan ini selama-lamanya.”
Abdur Rahman berkata: “Demi Allah, tiada sesuap makananpun yang kita
ambil, melainkan bertambahlah makanan dari bawahnya, lebih banyak dari
keadaannya semula. Orang-orang sama makan sampai kenyang, tetapi
makanan itu menjadi lebih banyak lagi dari yang sebelumnya dimakan. Abu
Bakar melihat makanan itu, lalu berkata kepada isterinya: “Hai saudarinya
Bani Firas, apakah yang terjadi ini?” Isterinya menjawab: “Entahlah, demi
kecintaan mataku, niscayalah makanan ini, keadaannya sekarang lebih
banyak dari tadinya, bahkan lipat tiga kalinya. Abu Bakar lalu makan
daripadanya dan berkata: “Hanyasanya sumpah yang saya ucapkan tadi adalah
dari godaan syaitan.” Selanjutnya ia makan pula sesuap daripadanya kemudian
dibawa ke tempat Nabi s.a.w. dan paginyapun tempat makanan itu masih
ada di tempat beliau s.a.w. Antara kita dengan sesuatu kaum ada suatu janji, lalu waktu yang ditentukan – dalam janji – itu lewatlah. Kita semua terpisah-
pisah menjadi duabelas orang yang setiap seorang di antara mereka itu
disertai orang banyak. Allah lebih mengetahui beberapa jumlah yang dibawa
oleh setiap orang itu. Mereka semua lalu makan.”

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Abu Bakar bersumpah tidak akan makan makanan itu, isterinyapun lalu
bersumpah tidak akan makan, akhirnya atau para tamu atau para tamu itupun
bersumpah pula tidak akan makan, sehingga Abu Bakar suka makan lebih dulu.
Abu Bakar lalu berkata: “Ah, sumpah ini adalah dari syaitan belaka.” la lalu
meminta makanan itu, kemudian ia makan dan keluarga serta para tamupun
makan juga. Tetapi tiada sesuappun yang mereka angkat, melainkan
bertambahlah makanan itu dari bagian bawahnya, yang keadaannya lebih
banyak dari semula. Abu Bakar lalu berkata: “Hai saudarinya Bani Firas apakah
yang terjadi ini?” Isterinya menjawab: “Demi ke cintaan mataku,
sesungguhnya makanan itu keadaannya kini niscayalah lebih banyak
daripada sebelumnya kita makan tadi.” Mereka lalu makan lagi, kemudian
dikirimkanlah makanan itu kepada Nabi s.a.w. dan Abdur Rahman
menyebutkan bahwa beliau s.a.w. juga makan daripadanya.”
Dalam riwayat yang lain lagi disebutkan:
“Abu Bakar berkata kepada Abdur Rahman: “Layanilah tamu-tamumu itu,
sebab saya akan berangkat kepada Nabi s.a.w. Jadi selesaikanlah semua
hidangan untuk menghormati mereka itu sebelum saya datang kembali.”
Abdur Rahman berangkat – ke tempat para tamu – lalu mendatangkan makanan
yang ada di sisinya. la berkata kepada mereka: “Ayolah makan.” Para tamu
bertanya: “Manakah tuan rumah kita ini – yang mereka maksudkan ialah Abu
Bakar as-Shiddiq?” Abdur Rahman berkata lagi: “Ayolah makan.” Mereka
berkata pula: “Kita tidak akan makan,sehingga tuan rumah kita ini datang.”
Abdur Rahman berkata lagi: “Terimalah hidangan untuk menghormat anda sekalian ini, sebab sesungguhnya Abu Bakar, jikalau nanti datang dan anda
sekalian belum makan, tentu kami akan mendapat marah daripadanya.” Para
tamu tetap menolak, maka saya merasa dalam hatiku bahwa Abu Bakar tentu akan
marah pada saya. Setelah Abu Bakar datang, saya lalu menyingkir daripadanya. la
berkata – kepada para tamu: “Apakah yang anda sekalian kerjakan ini.” Mereka
lalu memberitahukan kepadanya perihal belum makannya itu. Selanjutnya
Abu Bakar berkata: “Hai Abdur Rahman.” Tetapi saya berdiam saja. la berkata
lagi: “Hai Abdur Rahman.” Saya tetap diam saja. Sekali lagi ia berkata: “Hai tolol,
saya bersumpah padamu, kalau engkau mendengar suaraku ini, supaya engkau
datang ke mari.” Saya lalu keluar, kemudian saya berkata: “Tanyakan sendiri
pada tamu-tamu bapak.” Mereka menjawab: “Betul, ia telah datang dengan
membawa makanan itu.” Abu Bakar berkata lagi: “Jadi anda sekalian hanya
hendak menantikan saya, demi Allah, saya tidak akan makan makanan ini pada
malam ini.” Orang-orang yang lain berkata: “Demi Allah, kita tidak makan juga
sehingga anda suka pula makan.” la berkata: “Celaka anda sekalian ini, mengapa
anda sekalian tidak suka menerima hidangan sebagai penghormatan kepada
anda sekalian ini?” Lalu ia berkata kepada keluarganya: “Coba bawa ke mari
makananmu itu.” Abu Bakar datang dengan membawa makanan lalu ia
meletakkan tangannya dan mengucapkan: “Bismillah,” kemudian berkata lagi:
“Sumpah tadi itu dari godaan syaitan.” la makan dan orang-orang lainpun
makan pula.” (Muttafaq ‘alaih)

Ucapannya: Ghuntsar dengan dhammahnya ghain mu’jamah, lalu nun
sukun kemudian tsa’ bertitik tiga, artinya ialah orang yang bodoh lagi tolol.
Ucapannya: fa-jadda’a artinya mencaci-maki, sedang aljad’u artinya
pemutusan – atau pemisahan. Ucapannya yajidu ‘alayya dengan kasrahnya
jim, artinya marah.
1501. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Niscayalah di kalangan ummat-ummat yang sebelummu semua itu ada
orang-orang yang diberi ilham. Maka andaikata ada seorang
yang sedemikian itu di kalangan ummat saya, maka sesungguhnya ia adalah
Umar,”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim
dari riwayat Aisyah. Dalam riwayat kedua ahli Hadis itu Ibnu Wahab berkata:
Muhaddatsun artinya ialah orang-orang yang memperoleh ilham.

1502. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Para
penduduk Kufah mengadukan Sa’ad – yakni Sa’ad bin Abu Waqqash r.a.
kepada Umar bin al-Khaththab r.a. – yang pada waktu itu menjabat sebagai
khalifah, sedang Sa’ad sebagai gubernur yang diangkat olehnya untuk daerah
Kufah. Oleh sebab itu Umar lalu memecat Sa’ad dan meggunakan ‘Ammar
untuk memerintah penduduk Kufah itu – sebagai ganti Sa’ad.
Orang-orang Kufah itu mengadukan,sampai-sampai mereka itu
menyebutkan bahwasanya Sa’ad itu tidak bagus dalam mengerjakan shalatnya.
Sa’ad diminta datang oleh Umar r.a. lalu berkata: “Hai Abu Ishaq – yakni Sa’ad
bin Abu Waqqash, sesungguhnya orang-orang Kufah menyangka bahwa
engkau tidak bagus dalam melakukan shalat.” Sa’ad menjawab: “Tentang saya
ini, demi Allah, sesungguhnya saya bersembahyang dengan orang-orang itu
sebagaimana shalatnya Rasulullah s.a.w., tidak saya kurangi sedikitpun. Saya
bersembahyang shalat Isya’, lalu saya perpanjangkan dalam kedua rakaat yang
pertama, sedang kedua rakaat yang penghabisan saya peringankan.” Umar
berkata: “Itu adalah penyangkaan orang-orang padamu, hai Abu Ishaq.” Selanjutnya Umar mengirimkan Sa’ad bersama seorang atau beberapa
orang ke daerah Kufah untuk menanyakan kepada penduduk Kufah tentang
diri Sa’ad tadi. Tiada suatu masjidpun yang diri Sa’ad itu dan para penduduk
Kufah itu sama memuji akan kebaikannya. Akhirnya masuklah di suatu masjid
di lingkungan Bani ‘Abs. Kemudian ada seorang lelaki di antara mereka itu
berdiri, namanya Usamah bin Qatadah yang diberi nama gelar yaitu Abu
Sa’dah. la berkata: “Adapun kalau anda bertanya kepada kami tentang Sa’ad,
maka sesungguhnya Sa’ad itu tidak pernah ikut pergi memimpin pasukan –
ke medan perang, tidak pernah mengadakan pembagian -harta rampasan –
dengan samarata dan tidak pernah menjatuhkan putusan dengan berdasarkan
keadilan.”
Sa’ad lalu berkata: “Aduh, demi Allah, niscayalah saya akan berdoa
dengan tiga macam permohonan: “Ya Allah, jikalau hambamu ini – Usamah
bin Qatadah – berkata dusta dan melakukan hanya karena congkak dan
kesombongan belaka, maka panjangkanlah usianya, langsungkanlah
kefakirannya dan permudahkanlah ia untuk berbagai kefitnahan.”
Sesudah beberapa saat berlalu, orang itu jikalau ditanya, siapa dirinya, ia
menjawab: “Aku adalah orangtua bangka yang terkena fitnah, karena doanya
Sa’ad sudah mengena pada diriku.”
Abdulmalik bin Umair yang meriwayatkan Hadis ini dari Jabir bin
Samurah berkata: “Saya sendiri melihat orang itu sesudah tuanya, kedua
alisnya telah rontok-rontok di atas kedua matanya karena amat lanjut usianya
itu dan sesungguhnya ia menampakkan diri pada kaum wanita sambil
menarik-narik tangan mereka itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1503. Dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasanya Said bin ‘Amr bin Nufail r.a.
diajukan sebagai lawan oleh Arwa binti Uwais kepada Marwan bin al-Hakam
– yang waktu itu sebagai khalifah. Wanita itu mendakwa bahwa Said mengambil sebagian dari tanahnya. Said lalu berkata: “Saya sudah mengambil
sebagian tanahnya, padahal saya sudah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda.”
Marwan bertanya: “Apa yang anda dengar dari Rasulullah s.a.w.?” la menjawab:
“Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengambil tanah sejengkal secara penganiayaan, maka
tanah itu akan dikalungkan di lehernya sampai tujuh lapis bumi di bawahnya.”
Marwan lalu berkata:”Saya tidak lagi akan meminta keterangan tentang
kebenaranmu setelah mendengar ini.” Said lalu berdoa: “Ya Allah, jikalau
wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan matikanlah ia dalam
tanahnya sendiri.”
‘Urwah berkata; “Wanita itu tidak mati-mati sehingga peng-lihatannya
lenyap – yakni menjadi buta matanya, Dan pada suatu ketika ia berjalan di
tanahnya sendiri, tiba-tiba terjerumuslah ia dalam suatu lobang, kemudian
mati di situ.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim dari Muhammad bin Zaid bin Abdullah
bin Umar, yang isinya semakna dengan uraian di atas itu dan bahwasanya ia
melihat wanita tadi sudah buta mencari-cari dinding – di waktu berjalan –
sambil mengucapkan: “Saya terkena oleh doanya Said.” Selanjutnya ketika
wanita itu berjalan melalui sumur yang ada di dalam rumah yang dijadikan
bahan pertengkaran dulu, tiba-tiba ia jatuh di dalamnya, lalu itulah yang
menjadi kuburnya – yakni sebab kematiannya.

1504. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Ketika tiba waktunya peperangan Uhud, ayah saya memanggil saya
di waktu malam, lalu berkata: “Saya tidak mengira pada diriku
sendiri ini, melainkan rasanya akan terbunuh dalam permulaan
orang-orang yang terbunuh dari sahabat-sahabat Nabi s.a.w. Se- sungguhnya saya tidak meninggalkan sesudah matiku sesuatu yang
bagiku lebih mulia daripada dirimu sendiri selain diri Rasulullah
s.a.w. – yakni beliau s.a.w. yang dianggap termulia kemudian
anaknya itu. Sesungguhnya saya mempunyai tanggungan hutang,
maka dari itu tunaikanlah hutangku itu dan berikanlah baik-baik
kepada saudara-saudaramu.” Kemudian kita berpagi-pagi – untuk
melakukan peperangan, kemudian ayahku adalah pertama kali
orang yang terbunuh. Saya tanamkan bersamanya seorang lain
dalam sekubur. Kemudian jiwaku tidak enak kalau ayahku saya
tinggalkan teruster kubur bersama orang lain itu, lalu saya keluarkan
lagi tubuhnya setelah dalam kuburnya itu selama enam bulan, tiba-
tiba ia masih dalam keadaan seperti waktu saya meletakkan dahulu,
kecuali telinganya saja – yang rusak. Selanjutnya saya jadikanlah ia
dalam kubur sendirian – yakni tidak disertai orang lain dalam
kubur.” (Riwayat Bukhari)

1505. Dari Anas r.a. bahwasanya ada dua orang lelaki dari para sahabatnya
Nabi s.a.w. keluar dari sisi Nabi s.a.w. di waktu malam yang gelap-gulita, tiba-
tiba bersama kedua orang itu seperti ada dua lampu yang ada di hadapannya.
Setelah keduanya berpisah maka tiap seorang dari keduanya itupun seperti ada
sebuah lampu yang menyertainya, sehingga ia datang kepada keluarganya.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari beberapa jalan, di antara sebagian jalan
itu disebutkan bahwa kedua orang lelaki itu ialah Usaid bin Hudhair dan
‘Abbad bin Bisyr radhiallahu ‘anhuma.

1506. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasuiullah s.a.w. mengirimkan
sepuluh orang sebagai mata-mata merupakan suatu pasukan dan
mengangkatnya ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari r.a. sebagai kepala untuk memimpin mereka itu. Mereka lalu berang-kat, sehingga datanglah mereka di
suatu tempat bernama al-Hudat yang terletak antara ‘Usfan dan Makkah.
Kedalangan mereka itu disebut-sebut oleh suatu kabilah dari orang-orang
Hudzail yang dinamakan Bani Lihyan, mereka ini mengejar sepuluh orang
tersebut, sedang para pengejar dari Bani Lihyan itu berjumlah hampir seratus
orang ahli pemanah. Mereka meneliti jejak-jejak sepuluh orang tadi. Setelah
‘Ashim dan kawan-kawannya merasa akan memperoleh perlawanan, lalu
mereka berlindung di suatu tempat, kemudian tempat ini dikepung oleh
kaum – musuh. Para pengejar itu berkata: “Turunlah engkau semua – hai
sepuluh orang, lalu serahkanlah tanganmu dan engkau semua memperoleh
janji dan ikatan kata dari kita, bahwa kita tidak akan membunuh
seseorangpun dari engkau semua. ‘Ashim berkata: “Hai kaum – kafirin, saya
tidak akan turun untuk menjadi orang yang memperoleh jaminan hidup dari
orang kafir. Ya Allah, beritahukanlah tentang hal-ihwal kita ini kepada
NabiMu yaitu Muhammad s.a.w.” Musuh lalu melempari mereka dengan
panah, lalu ‘Ashim dapat mereka bunuh. Ada tiga orang yang turun -hendak
menyerah -dengan berdasarkan janji dan ikatan kata – yakni tidak akan dibunuh.
Di antara mereka ini ialah Khubaib, Zaid bin Datsinah dan seorang lelaki lain.
Setelah tiga orang ini dapat mereka pegang, mereka lalu melepaskan tali
busurnya masing-masing, kemudian tiga orang itu mereka ikat kuat-kuat.
Orang yang ketiga – yang tidak disebut namanya di atas -berkata: “Inilah
pertama-tama pengkhianatan. Demi Allah, niscayalah saya tidak akan suka lagi
menemui engkau semua – untuk terus berjalan. Bagi saya sudah ada penuntun –
dalam persoalan ini – yakni dengan mereka, “yang dimaksudkan ialah orang-
orang yang sudah mati terbunuh. Jadi ringkasnya ia lebih suka mengikuti
kematian kawan-kawannya itu. Orang ini lalu mereka tarik-tarik dan mereka
perlakukan dengan menyiksanya. Tetapi orang ini tetap enggan untuk
mengawani kaum musuh – untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya orang
ini mereka bunuh. Selanjutnya kaum Bani Lihyan tersebut berangkat dengan membawa Khubaib dan Zaid bin Datsinah, sehingga mereka menjual kedua
orang tawanan ini di Makkah sesudah peperangan Badar berakhir. Keluarga al-
Harits bin ‘Amir bin Naufal bin ‘Abdi Manaf membeli Khubaib. Khubaib
adalah yang membunuh al-Harits pada hari peperangan Badar dulu. Dengan
demikian berada di tempat keluarga al-Harits sebagai seorang tawanan
sehingga seluruh keluarga itu berkehendak akan membunuhnya.
Khubaib meminjam sebuah pisau cukur dari salah seorang puteri al-
Harits untuk mencukur rambut kemaluannya, lalu wanita ini meminjamkan
pisau cukur itu padanya. Ada seorang anak kecil yaitu anak wanita yang
meminjami pisau cukur tadi merangkak ke tempat Khubaib, sedang wanita
tadi sedang lalai mengamat-amati anaknya tadi, sehingga anak itu mendatangi
Khubaib, lalu wanita itu melihat sendiri bahwa Khubaib mendudukkan anak
tersebut di atas pahanya, sementara pisau cukur masih tetap ada di tangannya.
Wanita itu amat terkejut sekali dan hal yang sedemikian ini diketahui oleh
Khubaib. Terkejutnya ialah karena takut kalau anaknya itu akan disembelih
oleh tawanannya. Khubaib lalu berkata: “Adakah anda takut kalau saya
membunuh anak ini. Ah, saya tidak akan mengerjakan perbuatan sekeji itu.”
Wanita – yang diuraikan di atas itu berkata: “Demi Allah, saya tidak pernah
melihat seorang tawananpun yang lebih baik daripada Khubaib. Demi Allah,
benar-benar saya pernah menemuinya pada suatu hari, ia sedang makan
sedompol anggur di tangannya, sedang kan ia di waktu itu sedang diikat erat-erat
dengan besi, lagi pula tiada buah-buahan seperti itu di Makkah. “Wanita itu
melanjutkan katanya: “Hal itu niscayalah suatu rezeki yang dikaruniakan oleh
Allah kepada Khubaib.”
Setelah orang-orang Bani Lihyan keluar dengan membawa Khubaib dari
tanah suci untuk membunuhnya di tanah halal – bukan Tanah Haram yakni
tanah suci Makkah, maka Khubaib berkata kepada mereka: “Lepaskanlah aku
sebentar karena aku hendak bersembahyang dua rakaat.” Mereka
membiarkannya, lalu ia ber-sembahyang dua rakaat, kemudian ia berkata: “Demi Allah andai-kata engkau semua tidak akan timbul sangkaan bahwasanya
saya dalam ketakutan – karena akan mati, niscayalah aku akan menambah
sembahyangku ini lagi. Ya Allah, hitunglah jumlah mereka ini, bunuh
mereka secara berganti-ganti menurut gilirannya dan jangan-lah meninggalkan
seorangpun di antara mereka itu.” Selanjutnya Khubaib berkata pula:
Saya takkan memperdulikan,
Asalkan aku mati sebagai Muslim.
Dalam keadaan bagaimanapun,
Kematianku adalah untuk Allah.
Hal itu adalah Zat Tuhan,
Jikalau Dia berkehendak,
Pasti akan memberikan keberkahan,
Atas semua anggota tubuh yang terceraikan.
Khubaib adalah seorang yang membuat sunnah yang pertama kali bagi
setiap orang Muslim untuk dibunuh dengan kesabaran, supaya melakukan
shalat dahulu.
Nabi s.a.w. memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya perihal berita
sepuluh orang di atas pada hari mereka mendapatkan mushibah – yakni
bencana yang menimpa mereka sebagaimana di atas.
Ada beberapa orang dari golongan kaum Quraisy menyuruh orang-orang
lain ke tempat ‘Ashim bin Tsabit ketika mereka diberitahu bahwa ‘Ashim
telah terbunuh, supaya orang-orang yang dikirimkan itu datang dengan
membawa sesuatu anggota badan dari ‘Ashim yang dapat dikenal. ‘Ashim
dahulu pernah membunuh seseorang dari golongan pembesar-pembesarnya
kaum Quraisy. Tetapi Allah lalu mengirimkan kepada janazah ‘Ashim itu
semacam awan dan terdiri dari lebah. Lebah-lebah itulah yang melindungi
tubuh ‘Ashim dari utusan-utusan kaum Quraisy – yang hendak memotong
sebagian anggotanya untuk dijadikan bukti kematian-nya. Oleh sebab itu musuh-musuh tadi tidak dapat memotong sesuatu anggotapun dari tubuh
‘Ashim. (Riwayat Bukhari)
Ucapannya: Al-Hudat adalah sebuah tempat dan adbdhullah ialah awan,
sedang addabru, artinya lebah. Ucapannya: Uqtulhum bidadan, boleh dengan
ba’nya dikasrahkan atau difathahkan – lalu berbunyi badadan. Bagi orang yang
membacanya kasrah, maka ia berkata: “Itu adalah jama’nya biddah dengan
kasrahnya ba’, artinya bagian. Maknanya ialah: “Bunuhlah mereka itu – ya
Allah – dalam waktu yang terbagi-bagi menurut pembagian gilirannya
masing-masing.” Adapun bagi orang yang membaca fathahnya ba’, maka
maknanya iaiah secara berpisah-pisah dalam rnembunuhnya itu, yakni satu
demi satu, yaitu dari kata attabdid.
Dalam bab ini banyak Hadis lain yang shahih yang sudah terdahulu dalam
tempatnya masing-masing dalam kitab ini, di antaranya ialah Hadisnya anak
yang mendatangi pendeta dan ahli sihir-lihat Hadis no.30,juga Hadisnya juraij –
no. 259, demikian pula Hadisnya orang-orang yang melarikan diri dalam gua
yang tertutup oleh batu besar – no. 12, Hadisnya orang yang mendengar suara
dalam awan – no. 560 – yang mengatakan: “Siramlah kebun si Fulan itu dan Iain-
Iain lagi.
Bukti-bukti tentang kekaramahan para waliullah itu amat banyak sekali lagi
masyhur.
Wa billahit taufik.
1507. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Tidak pernah sama
sekali saya mendengar Umar r.a. berkata kepada sesuatu: “Sesungguhnya saya mengira perkara itu begini,” melain-kan kejadian perkara tersebut adalah tepat
sebagaimana yang diperkirakan olehnya.” (Riwayat Bukhari)

Bab 254
Kitab Perkara-perkara Yang Terlarang
Melakukannya Haramnya Mengumpat dan Perintah
Menjaga Lisan

Allah Ta’ala berfirman:

“Janganlah sebagian di antara engkau semua itu mengumpat sebagian yang lainnya.
Sukakah seseorang di antara engkau semua makan daging saudaranya dalam keadaaan ia
sudah mati, maka tentu engkau semua membenci. Takutlah kepada Allah, sesungguhnya
Allah adalab Maha Menerima taubat lagi Penyayang.” (al-Hujurat: 12)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Dan janganlah engkau turut apa yang engkau tidak mengetahui, sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan diberi pertanyaan – apa saja yang
telah dilakukan olehnya.” (al-lsra’: 36)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Tidaklah seseorang itu mengucapkan sesuatu ucapan, melainkan di sisinya ada
malaikat Raqib – pencatat kebaikan – dan ‘Atid -pencatat keburukan.” (Qaf: 18)
Ketahuilah bahwasanya setiap seorang mukallaf – yakni akil baligh – itu
sayugianya menjaga lisannya dari segala macam perkataan, melainkan
perkataan yang di dalamnya tampak nyata adanya kemaslahatan. Apabila
sama nilainya antara berbicara dan tidak berbicara menurut pandangan
kemaslahatan, maka sunnahnya ialah menahan mulut dari berkata-kata itu,
sebab kadang-kadang perkataan yang mubah – yakni boleh dan tidak haram
itu – dapat menyeret kepada keharaman atau kemakruhan. Hal ini banyak
dalam adat kebiasaannya, sedangkan keselamatan itu tidak dapat diimbangi
nilainya oleh sesuatu apapun.
1508. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:”Barangsiapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik
atau – kalau tidak dapat berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja.”
(Muttafaq ‘alaih)
Hadis ini secara terang sekali menjelaskan bahwasanya sayugianya seseorang
itu tidak berbicara, melainkan j ikalau pembicaraannya itu berupa suatu
kebaikan yakni pembicaraan yang tampak nyata adanya kemaslahatan di
dalamnya. Oleh sebab itu, jikalau ia sangsi tentang akan timbulnya
kemaslahatan dalam pembicaraannya tadi, maka janganlah berbicara.
1509. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
manakah kaum Muslimin itu yang lebih utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu
yang orang-orang Islam lain merasa selamat daripada gangguan lisannya – yakni
pembicaraannya – serta dari tangannya.” (Muttafaq ‘alaih)

1510. Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang
kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya – yakni mulut –
serta antara kedua kakinya – yakni kemaluannya, maka saya memberikan
jaminan syurga untuknya.” (Muttafaq ‘alaih)

1511. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan
suatu perkataan yang tidak ia fikirkan – baik atau buruknya, maka dengan
sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih
jauh daripada jarak antara sudut timur dansudut barat.” (Muttafaq
‘alaih)
Makna yatabayyanu ialah memikirkan apakah perkataannya itu baik
atau tidak.

1512. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya
seseorang hamba itu niscayalah mengatakan suatu perkataan dari apa-apa yang
diridhai oleh Allah Ta’ala yang ia sendiri tidak banyak mengambil perhatian dengan kata-katanya, lalu Allah mengangkatnya dengan beberapa derajat. Dan
sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah mengatakan suatu perkataan dari
apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah Ta’ala yang ia sendiri tidak banyak
mengambil perhatian dengan kata-katanya, lalu orang itu terjatuh dalam neraka
Jahanam sebab kata-katanya tadi.” (Riwayat Bukhari)

1513. Dari Abu Abdur Rahman yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani r.a.
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan
dari apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta’ala, ia tidak mengira bahwa
perkataan itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat dicapainya, lalu Allah
mencatat untuknya bahwa ia akan memperoleh keridhaanNya sampai pada
hari ia menemuiNya -yakni hari kematiannya atau pada hari kiamat nanti. Dan
sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan dari
apa-apa yang menjadikan kemurkaan Allah, ia tidak mengira bahwa perkataan
itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat dicapainya, lalu Allah
mencatatkan untuknya bahwa ia akan memperoleh kemurkaanNya sampai
pada hari ia menemuiNya.”
Diriwayatkan oleh Malik dalam kitab Al-Muwaththa’ dan juga oleh
Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
1514. Dari Sufyan bin Abdullah r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
beritahukanlah kepada saya sesuatu perkara yang saya wajib tetap berpegangan
dengannya itu!” Beliau s.a.w. menjawab: “Katakanlah: “Tuhanku adalah Allah,”
kemudian berbuat luruslah.” Saya bertanya lagi: “Ya Rasulullah, apakah yang
paling Tuan takut-kan atas diri saya?” Beliau s.a.w. lalu mengambil lisannya,
kemudian bersabda: “Ini.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih. 1515. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Janganlah engkau semua memperbanyak kata, selain untuk berzikir
kepada Allah Ta’ala, sebab sesungguhnya banyaknya pembicaraan kerasnya
hati dan sesungguhnya sejauh-jauh manusia dari Allah ialah yang berhati
keras,” -yakni enggan menerima petunj’uk baik. (Riwayat Termidzi)
1516. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah akan keburukannya yang ada di antara
kedua rahangnya – yakni mulut – dan keburukannya apa yang ada di antara
kedua kakinya – yakni kemaluan, maka dapatlah ia masuk syurga.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih
1517. Dari ‘Utbah bin ‘Amir r.a. katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, apakah
yang menyebabkan keselamatan itu?” Beliau s.a.w. bersabda: “Tahanlah
lidahmu – yakni hati-hatilah dalam berbicara, hendaklah rumahmu itu dapat
merasakan luas padamu -maksudnya: lakukanlah sesuatu yang dapat
menyebabkan engkau suka tetap berada di rumah seperti melakukan ketaatan
kepada Allah Ta’ala dan Iain-Iain – dan menangislah atas kesalahan yang engkau
kerjakan.” Diriwayatkanoleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.

1518. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jikalau anak
Adam – yakni manusia – itu berpagi-pagi, maka sesungguhnya semua anggota
itu memberikan sikap tunduk kepada lidah – maksudnya: menasihati agar
berhati-hati. Anggota-anggota itu berkata: “Takutlah engkau kepada Allah
dalam urusan kita semua ini, sebab keselamatan kita ini tergantung daripada
kelakuanmu. Jikalau engkau lurus, maka kitapun lurus, sedang jikalau engkau
bengkok, maka kitapun bengkok pula.” (Riwayat Termidzi) Makna tukaffirul lisan ialah menunjukkan sikap tunduk dan patuh
kepada lidah
1519. Dari Mu’az r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, beritahukanlah
kepada saya dengan sesuatu amalan yang dapat menyebabkan saya masuk
syurga dan menjauhkan saya dari neraka.” Beliau s.a.w. bersabda: “Niscayalah
engkau itu menanyakan sesuatu persoalan yang agung – yakni penting, tetapi
sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi orang yang dipermudahkan oleh
Allah. Yaitu supaya engkau menyembah kepada Allah, tidak menyekutukan
sesuatu denganNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa dalam
bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji di Baitullah.” Selanjutnya beliau
s.a.w. bersabda: “Sukakah engkau saya tunjukkan pada pintu-pintu kebaikan?
Puasa adalah perisai – dari berbuat kemaksiatan, sedekah itu dapat
melenyapkan kesalahan – yakni dosa – sebagatmana air memadamkan api dan
pula shalat seseorang di tengah malam.” Seterusnya Rasulullah s.a.w. membaca
ayat yang artinya:
“Lambung-lambung mereka meninggalkan tempat-tempat tidur – yakni
mereka tidak tidur,” sehingga sampai pada firmanNya yang artinya: “Apa
yang mereka kerjakan.”
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda lagi:
“Sukakah engkau saya beritahu tentang pokok perkara – yakni Agama Islam
ini, tiangnya dan pula puncak punggungnya?” Saya menjawab: “Baiklah, ya
Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Pokoknya ialah Islam, tiangnya ialah
shalat, sedang puncak punggungnya ialah jihad.” Seterusnya beliau s.a.w.
bersabda pula: “Sukakah engkau saya beritahu tentang pangkal yang
mengemudikan semua itu?” Saya menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau
s.a.w. kemudian mengambil lisannya lalu bersabda: “Tahanlah ini atas dirimu –
yakni berhati-hatilah mengemudikan lidah itu.” Saya berkata: “Ya Rasulullah,
apakah kita ini pasti akan dituntut – yakni diterapi hukuman – dengan apa yang kita bicarakan itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Kehilangan engkau ibumu –
Ini merupakan kata kebiasaan bagi bangsa Arab, semacam kita mengatakan:
Celaka engkau ini, tidakkah para manusia itu dimasukkan dalam neraka
dengan tersungkur di atas muka-mukanya itu, melainkan hanya karena hasil
perkataannya?”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih. Uraian tentang Hadis ini sudah ada di muka. Keterangan:
Dalam Riadhus Shalihin belum ada Hadis ini di muka.

1520. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Adakah engkau semua mengetahui, apakah mengumpat itu?” Para sahabat
menjawab: “Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui.” Beliau s.a.w.
bersabda: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang ada dalam diri saudaramu
dengan apa-apa yang tidak disukai olehnya.” Beliau s.a.w. ditanya:
“Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau dalam diri saudara saya itu memang
benar-benar ada apa yang dikatakan itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Jikalau
benar-benar ada dalam dirinya apa yang engkau ucapkan itu, maka sungguh-
sungguh engkau telah mengumpatnya dan jikalau tidak ada dalam dirinya
apa yang engkau ucapkan itu, maka sungguh-sungguh engkau telah
membuat-buat kedustaan pada dirinya.” (Riwayat Muslim)

1521. Dari Abu Bakrah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda dalam
khutbahnya pada hari Nahar – yakni hari raya Kurban, di Mina dalam melakukan haji wada’ – ibadat haji terakhir bagi beliau s.a.w. sebagai mohon
diri:
“Sesungguhnya darah-darahmu, harta-hartamu dan kehormatan-
kehormatanmu semua itu adalah haram dilanggar sebagaimana kesucian
harimu itu – ‘Idul Adha – dalam bulanmu ini dan dalam negerimu ini.
Ingatlah, tidakkah saya telah menyampaikan.” (Muttafaq ‘alaih)

1522. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya berkata kepada Nabi s.a.w.:
“Cukuplah bagi Tuan Shafiyah itu demikian demikian” – Shafiyah adalah
isterinya Rasulullah s.a.w. pula, sebagaimana halnya Aisyah. Sebagian para
perawi Hadis ini mengatakan: Yang dimaksudkan Aisyah itu ialah bahwa
Shafiyah itu pendek. Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Benar-benar engkau telah
mengucap-kan sesuatu perkataan yang apabila perkataan tadi itu dicampur
dengan air laut, tentu dapat mencampurinya” – yakni mengubah air laut itu
menjadi berubah rasa dan baunya. Aisyah berkata: “Saya pernah pula
menceriterakan perihal seseorang kepada beliau s.a.w., lalu beliau berkata: “Saya
tidak suka menceriterakan hal-ihwal seseorang – yang buruk – sebab
sesungguhnya sayapun mempunyai demikian, demikian” – yakni setiap orang
tentu ada celanya sendiri.
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.
Makna muzajtahu yakni engkau campurkan dengan percampuran yang
dapat menyebabkan perubahan dalam rasa atau baunya, karena sangat bacinnya
bau perkataan tadi dan sangat sekali buruknya. Hadis ini termasuk salah satu
ancaman yang terkeras untuk melarang mengumpat atau ghibah.
Allah Ta’ala berfirman – yang artinya: “Muhammad itu tidaklah mengatakan menurut hawa nafsu –
kemauannya – sendiri. Itu hanyalah wahyu yang diwahyukan
kepadanya.” (an-Najrn: 3-4)

1523. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ketika saya
dimi’rajkan, saya berjalan melalui suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku
dari tembaga yang dengan kuku-kuku tadi mereka menggaruk-garukkan
muka serta dada-dada mereka sendiri. Saya bertanya: “Siapakah mereka itu,
hai Jibril?” Jibril menjawab: “Itulah orang-orang yang makan daging sesama
manusia -yakni mengumpat – dan menjatuhkan kehormatan mereka.”
(Riwayat Abu Dawud)

1524. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Setiap Muslim atas sesama Muslim itu haramlah darahnya, kehormatannya
serta hartanya – yakni haram dilanggar.” (Riwayat Muslim) Bab 255
Haramnya Mendengar Kata Umpatan — Ghibah — Dan
Menyuruh Kepada Orang Yang Mendengar Umpatan Yang
Diharamkan Itu supaya Menolaknya dan Mengingkari —
Tidak Menyetujui — Kepada Orang Yang
Mengucapkannya. Jikalau Tidak Kuasa Ataupun Orang
Tadi Tidak Suka Menerima Nasihatnya, Supaya la
Memisahkan Diri Dari Tempat Itu Jikalau Mungkin la
Berbuat Demikian

Allah Ta’ala berfirman:

“Jikalau mereka – yakni orang-orang mu’min – mendengar kata-kata yang tidak
berguna, maka mereka berpaling daripadanya.” (al-Qashash: 55)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Orang-orang mu’min ialah orang-orang yang berpaling dari kata-kata yang
tidak berguna.” (al-Mu’minun: 3)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan diberi
pertanyaan – tentang apa-apa yang dilakukan masing-masing.” (al-lsra’: 36) Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan apabila engkau melihat orang-orang yang memperolok-olokkan keterangan-
keterangan Kami, hendaklah engkau meng-hindarkan diri dari mereka itu, sehingga
mereka membicarakan perkara yang lain. Dan jikalau engkau terlupa karena godaan
syaitan, janganlah engkau terus duduk sesudah teringat itu bersama-sama dengan
orang-orang yang menganiaya.” (al-An’am: 68)

1525. Dari Abuddarda’ r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa yang
menolak dari keperwiraan saudaranya -seperti mencegah orang yang hendak
mengumpat saudaranya itu di hadapannya, maka Allah menolak diri orang
itu dari neraka pada hari kiamat” – Saudara yang dimaksudkan ialah orang yang
sesama Muslim atau mu’min.
Diriwayatkanoleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.

1526. Dari ‘Itban bin Malik r.a. dalam Hadisnya yang panjang lagi
masyhur yang telah dulu uraiannya dalam bab Harapan – lihat Hadis no. 416,
katanya: “Nabi s.a.w. berdiri untuk bersembahyang lalu bersabda: “Manakah
Malik bin Addukhsyum?” Lalu ada seorang yang berkata: “la adalah seorang
munafik yang tidak mencintai Allah dan RasulNya.” Kemudian Nabi s.a.w.
bersabda: “Janganlah engkau berkata demikian, tidakkah engkau melihat
bahwa ia juga telah mengucapkan La ilaha illallah, yang dengan membacanya
ia menghendaki keridhaan Allah. Sesungguhnya Allah telah meng-haramkan
kepada neraka orang yang mengucapkan La ilaha illallah yang dengan
mengucapkannya itu ia mengharapkan keridhaan Allah itu.” (Muttafaq
‘alaih) ‘Itban dengan kasrahnya ‘ain menurut keterangan yang masyhur dan ada
yang menceriterakan dengan didhammahkan ‘ainnya itu dan sehabis’ain
ialah ta’ yang bertitik dua diatas lalu ba’ bertitik satu. Adapun
Addukhsyum dengan dhammahnya dal dan sukunnya kha’ serta dhammahnya
syin. Kha’ dan syin itu mu’jamah semuanya.

1527. Dari Ka’ab bin Malik r.a. dalam Hadisnya yang panjang dalam kisah
taubatnya dan sudah lampau keterangannya dalam bab Taubat – lihat Hadis no.
21, ia berkata: “Nabi s.a.w. bersabda dan waktu itu beliau sedang duduk di
kalangan kaum di Tabuk – yakni orang-orang yang sama-sama mengikuti
peperangan Tabuk: “Apa-kah yang dikerjakan oleh Ka’ab bin Malik?”
Kemudian ada seorang dari Bani Salimah berkata: “Ya Rasulullah, ia tertahan
oleh baju indahnya dan keadaan sekelilingnya yang permai pandangannya.”
Mu’az bin Jabal lalu berkata: “Buruk sekali yang engkau katakan itu. Demi
Allah ya Rasulullah, kita tidak mengetahui tentang diri Ka’ab itu melainkan
baik-baik saja.”
Rasulullah s.a.w. lalu berdiam diri. (Muttafaq ‘alaih)
‘Ithfahu artinya di kedua tepinya atau sekelilingnya, ini adalah sebagai
isyarat keheranan seseorang pada dirinya sendiri.

Bab 256

Uraian Perihal Ghibah — Mengumpat Yang Dibolehkan

Ketahuilah bahwasanya mengumpat itu dibolehkan karena adanya
tujuan yang dianggap benar menurut pandangan syara’ Agama Islam, yang
tidak akan mungkin dapat sampai kepada tujuan tadi, melainkan dengan cara
mengumpat itu. Dalam hal ini adalah enam macam sebab-sebabnya:
Pertama: Dalam mengajukan pengaduan penganiayaan, maka bolehlah
seseorang yang merasa dirinya dianiaya apabila mengajukan pengaduan
penganiayaan itu kepada sultan, hakim ataupun lain-lainnya dari golongan
orang yang mempunyai jabatan atau kekuasaan untuk menolong orang yang
dianiaya itu dari orang yang menganiayanya. Orang yang dianiaya tadi
bolehlah mengucapkan: “Si Fulan itu menganiaya saya dengan cara
demikian.”
Kedua: Dalam meminta pertolongan untuk menghilangkan sesuatu
kemungkaran dan mengembalikan orang yang melakukan kemaksiatan
kepada jalan yang benar. Orang itu bolehlah mengucapkan kepada orang
yang ia harapkan dapat menggunakan kekuasaannya untuk menghilangkan
kemungkaran tadi: “Si Fulan itu mengerjakan demikian, maka itu cegahlah ia
dari perbuatannya itu,” atau Iain-Iain sebagainya. Maksudnya iaiah untuk
dapat sampai guna kelenyapannya kemungkaran tadi. Jadi apabila tidak
mempunyai maksud sedemikian, maka pengumpatan itu adalah haram hukumnya.
Ketiga: Dalam meminta fatwa – yakni penerangan keagamaan. Orang
yang hendak meminta fatwa itu bolehlah mengucapkan kepada orang yang
dapat memberi fatwa yakni mufti: “Saya dianiaya oleh ayahku atau saudaraku
atau suamiku atau si Fulan dengan perbuatan demikian, apakah ia berhak
berbuat sedemikian itu padaku? Dan bagaimana jalan untuk menyelamatkan
diri dari penganiayaannya itu? Bagaimana untuk memperoleh hakku itu
serta bagaimanakah caranya menolak kezalimannya itu?” dan sebagainya.
Pengumpatan semacam ini adalah boleh karena adanya keperluan. Tetapi yang
lebih berhati-hati dan pula lebih utama ialah apabila ia mengucapkan:
“Bagaimanakah pendapat anda mengenai seseorang atau manusia atau suami
yang berkeadaan sedemikian ini?” Dengan begitu, maka tujuan meminta
fatwanya dapat dihasilkan tanpa menentukan atau menyebutkan nama
seseorang. Sekalipun demikian, menentukan yakni menyebutkan nama
seseorang itu dalam hal ini adalah boleh atau jaiz, sebagaimana yang akan Kami
cantumkan dalam Hadisnya Hindun – lihat Hadis no. 1532. Insya Allah Ta’ala.
Keempat: Dalam hal menakut-nakuti kaum Muslimin dari sesuatu
kejelekan serta menasihati mereka – jangan terjerumus dalam kesesatan
karenanya. Yang sedemikian dapat diambil dari beberapa sudut, di antaranya
ialah memburukkan kepada para perawi Hadis yang memang buruk ataupun
para saksi – dalam sesuatu perkara. Hal ini boleh dilakukan dengan
berdasarkan ijma’nya seluruh kaum Muslimin, tetapi bahkan wajib karena
adanya kepentingan. Di antaranya lagi iaiah di waktu bermusyawarat untuk
mengambil seseorang sebagai menantu, atau hendak berserikat dagang
dengannya, atau akan menitipkan sesuatu padanya ataupun hendak
bermuamalat dalam perdagangan dan Iain-Iain sebagainya, ataupun hendak
mengambil seseorang sebagai tetangga. Orang yang dimintai musyawarahnya
itu wajib tidak menyembunyikan hal keadaan orang yang ditanyakan oleh
orang yang meminta per-timbangan tadi, tetapi bolehlah ia menyebutkan beberapa cela yang benar-benar ada dalam dirinya orang yang ditanyakan itu
dengan tujuan dan niat menasihati. Di antaranya lagi ialah apabila seseorang
melihat seorang ahli agama-pandai dalam selok-belok keagamaan -yang
mondar-mandir ke tempat orang yang ahli kebid’ahan atau orang fasik yang
mengambil ilmu pengetahuan dari orang ahli agama tadi dan dikhuatirkan
kalau-kalau orang ahli agama itu terkena bencana dengan pergaulannya
bersama kedua macam orang tersebut di atas. Maka orang yang melihatnya
itu bolehlah menasihatinya – yakni orang ahli agama itu – tentang hal-ihwal
dari orang yang dihubungi itu, dengan syarat benar-benar berniat untuk
menasihati.
Persoalan di atas itu seringkali disalah-gunakan dan orang yang berbicara
tersebut – yakni orang yang rupanya hendak menasihati -hanyalah karena
didorong oleh kedengkian. Memang syaitan pandai benar mencampur-baurkan
pada orang itu akan sesuatu perkara. la menampakkan pada orang tersebut,
seolah-olah apa yang dilakukan itu adalah merupakan nasihat-tetapi sebenarnya
adalah karena lain tujuan, misalnya kedengkian, iri hati dan sebagainya. Oleh
sebab itu hendaklah seseorang itu pandai-pandai meletakkan sesuatu dalam
persoalan ini.
Di antaranya lagi misalnya ada seseorang yang sedang mempunyai sesuatu
jabatan yang tidak menetapi ketentuan-ketentuan

1528. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya ada sesorang lelaki meminta
izin kepada Nabi s.a.w untuk menemuinya, lalu beliau s.a.w bersabda untuk
menemuinya, lalu beliau s.a.w bersabda – kepada sahabat-sahabat:”Izinkanlah
ia, ia adalah seburuk-buruknya orang dari seluruh keluarganya.” (Muttafaq
‘alaih)
Imam bukhari mengambil keterangan dari Hadis ini akan bolehnya
mengumapat pada orang-orang yang suka membuat kerusakan serta ahli
bimbang – tidak berpenderian tetap.

1529. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: “ Saya
tidak menyakinkan kepada si fulan dan si fulan itu bahwa keduanya itu
mengetahui sesuatu perihal agama kita”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ia berkata:
“Allaits bin Sa’ad, salah seorang yang meriwayatkan hadis ini berkata:”Kedua
orang lelaki ini termasuk golongan kaum munafik.

1530. Dari Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya mendatangi
Nabi s.a.w. lalu saya berkata: “Sesungguhnya Abuljahm dan Mu’awiyah itu
sama-sama melamar diriku.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Adapun
Mu’awiyah itu adalah seorang fakir yang tiada berharta, sedangkan Abuljahm
adalah seorang yang tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya.”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Adapun Abuljahm, maka ia adalah seorang yang gemar memukul
wanita.” Ini adalah sebagai tafsiran dari riwayat yang menyebutkan bahwa ia
tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya. Ada pula yang mengartikan
lain ialah bahwa “tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya” itu artinya
banyak sekali bepergiannya.

1531. Dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: “Kita keluar bersama Rasulullah
s.a.w. dalam suatu perjalanan yang menyebabkan orang-orang banyak
memperoleh kesukaran, lalu Abdullah bin Ubay berkata: “Janganlah engkau semua memberikan apa-apa kepada orang yang ada di dekat Rasulullah,
sehingga mereka pergi – yakni
berpisah dari sisi beliau s.a.w. itu.” Selanjutnya ia berkata lagi: “Niscayalah kalau
kita sudah kembali ke Madinah, sesungguhnya orang yang berkuasa akan
mengusir orang yang rendah.”
Saya lalu mendatangi Rasulullah s.a.w. dan memberitahukan hal ucapannya
Abdullah bin Ubay di atas. Beliau s.a.w. menyuruh Abdullah bin Ubay datang
padanya, tetapi ia bersungguh-sungguh dalam sumpahnya bahwa ia tidak
melakukan itu -yakni tidak berkata sebagaimana di atas. Para sahabat lalu
berkata: “Zaid berdusta kepada Rasulullah s.a.w.” Dalam jiwaku terasa amat
berat sekali karena ucapan mereka itu, sehingga Allah Ta’ala menurunkan ayat,
untuk membenarkan apa yang saya katakan tadi, yaitu – yang artinya: “Jikalau
orang-orang munafik itu datang padamu.” (al-Munafiqun: 1)
Nabi s.a.w. lalu memanggil mereka untuk dimintakan pengam-punan –
yakni supaya orang-orang yang mengatakan bahwa Zaid berdusta itu
dimohonkan pengampunan kepada Allah oleh beliau s.a.w., tetapi orang-
orang itu memalingkan kepalanya – yakni enggan untuk dimintakan
pengampunan.” (Muttafaq ‘alaih)

1532. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Hindun yaitu isterinya Abu
Sufyan berkata kepada Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang
lelaki yang kikir, ia tidak memberikan nafkah yang dapat mencukupi
kebutuhanku serta untuk keperluan anakku, melainkan dengan cara saya
mengambil sesuatu daripadanya, sedang ia tidak mengetahuinya. “Beliau s.a.w.
lalu bersabda:” Ambil sajalah yang sekiranya dapat mencukupi kebutuhanmu
dan untuk kepentingan anakmu dengan baik-baik – yakni jangan berlebih-
lebihan.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 257

Haramnya Mengadu Domba Yaitu Memindahkan
Kata-kata Antara Para Manusia Dengan Maksud
Hendak Merusakkan

Allah Ta’ala berfirman:
“Jangan pula engkau mematuhi – orang yang suka mencela, berjalan membuat
adu domba.” (al-Qalam: 11)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Tiada seseorang itu mengucapkan sesuatu perkataan, melainkan di sisinya ada
malaikat Raqib – pencatat kebaikan – dan ‘Atid pencatat keburukan.” (Qaf: 18)

1533. Dari Hudzaifah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat
masuk syurga seseorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)

1534. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
berjalan melalui dua buah kubur, lalu bersabda:
“Sesungguhnya dua orang mati ini disiksa, tetapi tidaklah mereka disiksa
karena kesalahan besar. Ya, tetapi sebenarnya besar juga. Adapun yang seorang
di antara keduanya itu dahulunya -ketika di dunia – suka berjalan dengan melakukan adu domba, sedang yang lainnya, maka ia tidak suka menghabiskan
samasekali dari kencingnya – yakni di waktu kencing kurang memperdulikan
kebersihan serta kesucian dari najis.”
Muttafaq ‘alaih. Ini adalah lafaz dari salah satu riwayat Imam Bukhari.
Para ulama berkata bahwa maknanya: “Tidaklah mereka itu disiksa karena
melakukan kesalahan yang besar,” yakni bukan kesalahan besar menurut
anggapan kedua orang tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu merupakan
hal besar – berat – bagi itu meninggalkannya.

1535. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Tahukah engkau
semua, apakah kedustaan besar itu? Yaitu Namimah atau banyak bicara adu
domba antara para manusia.” (Riwayat Muslim)

Al’adhha dengan fathahnya ‘ain muhmalah dan sukunnya dhad mu’jamah dan
dengan ha’ menurut wazan Alwajhu. Ada yang mengatakan Al’idhatu dengan
kasrahnya ‘ain dan fathahnya dhad mu’jamah menurut wazan Al’idatu, artinya
ialah kedustaan serta kebohongan besar. Menurut riwayat pertama, maka
al’adhhu adalah mashdar, dikatakan: ‘adhahahu ‘adhhan artinya melemparnya
dengan kedustaan atau pengadu-dombaan.
Bab 258

Larangan Memindahkan Kata-kata Atau Pembicaraan
Orang-orang Kepada Para Penguasa Negara, Jikalau
Tidak Didorong Oleh Sesuatu Keperluan Seperti
Takutnya Timbulnya Kerusakan Dan Lain-lain
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan jangan tolong-menolonglah engkau semua padahal yang dosa dan
permusuhan.” (al-Maidah: 2)
Dalam bab ini banyak sekali Hadis-hadis yang sudah dicantumkan dalam
bab sebelumnya.

1536. Dari Ibnu Mas’ud r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah seseorang dari sahabat-sahabatku itu menyampaikan sesuatu
padaku, sebab sesungguhnya saya ini ingin kalau keluar kepadamu semua itu
dengan dada – hati – yang selamat – yakni tenang.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi.
Bab 259

Celanya Orang Yang Bermuka Dua — Kemunafikan —

Allah Ta’ala berfirman:
“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat bersembunyi dari
Allah. Allah adalah bersama mereka itu pada malam hari, ketika mereka
mengucapkan perkataan yang tidak disukai oleh Allah dan Allah adalah Maha
Mengetahui apa-apa yang mereka kerjakan,” sampai dua ayat yang berikutnya.
(an-Nisa’: 108-109)

1537. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Engkau semua menemukan para manusia itu adalah sebagai logam, mana
yang pilihan di antara mereka di zaman Jahiliyah, maka mereka itu pulalah yang
merupakan pilihan di zaman Islam, jikalau mereka pandai dalam agama.
Engkau semua menemukan sebaik-baik para manusia dalam hal ini*- yakni
mengenai pemerintahan dan kekhalifahan- ialah yang paling tidak suka untuk
menjabatnya. Engkau semua akan menemukan seburuk-buruk para manusia
ialah orang yang bermuka dua – plin plan atau munafik, ia datang di golongan
orang-orang yang sini dengan muka yang satunya dan datang kepada
golongan orang-orang yang sana dengan muka yang lainnya.” (Muttafaq ‘alaih)

* Al-Qadhi berkata: “Hal yang dimaksudkan di sini dapat diihtimalkan, maknanya
ialah urusan Agama Islam, sebagaimana halnya Umar bin al-Khaththab r.a.
dan Iain-Iain yang seumpama dengannya. Mula-mula ia sangat membenci
Islam dengan kebencian yang amat sangat, tetapi setelah masuk Islam ia berikhlas hati dan rnencintainya secara luarbiasa dan berjihad untuknya
dengan jihad yang sebenar-benarnya. Tetapi dapat diihtimalkan pula bahwa
maksudnya ialah urusan pemerintahan dan kekuasaan negara, sebab jikalau
seseorang diberi kekuasaan itu tanpa ia memintanya, maka ia akan
memperoleh pertolongan untuk itu yakni inayat dari Allah Ta’ala.” Intaha
dari syarah Muslim.

1538. Dari Muhammad bin Zaid bahwasanya ada beberapa orang berkata:
kepada nenek lelakinya yakni Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma:
“Sesungguhnya kita semua masuk menghadap sultan-sultan kita, lalu kita
berkata kepada mereka lain dengan yang kita bicarakan jikalau kita telah keluar
dari sisi mereka itu.” Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Kita
meng-anggap hal yang semacam itu sebagai suatu kemunafikan di zaman
Rasulullah s.a.w. dulu.” (Riwayat Bukhari)
Bab 260

Haramnya Berdusta
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah engkau turut apa yang tidak engkau mengerti.” (al-lsra’: 36)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Tiadalah seseorang itu mengucapkan sesuatu perkataan, me-lainkan di sisinya ada
malaikat Raqib – pencatat kebaikan – dan ‘Atid-pencatat keburukan.” (Qaf: 18)
1539. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya kata benar itu menunjukkan kepada kebaikan dan
sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada syurga dan sesungguhnya
seseorang itu niscayalah berkata benar, sehingga dicatatlah ia di sisi Allah
sebagai seorang yang ahli berkata benar. Dan sesungguhnya kata dusta itu
menunjukkan kepada kecurangan dan sesungguhnya kecurangan itu
menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah
berkata dusta sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang yang ahli
berkata dusta.” (Muttafaq ‘alaih)

1540. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Empat macam perkara, barangsiapa
dalam dirinya terdapat semua perkara itu, maka ia adalah seorang
munafik murni dan barangsiapa yang dalam dirinya terdapat salah satu daripada empat perkara tadi, maka ia telah memiliki satu macam sifat dari
kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat itu, yaitu: apabila ia
dipercaya berkhianat, apabila berkata berdusta, apabila berjanji bercidera –
menyalahi janjinya – dan apabila bertengkar, jahat kelakuannya.” (Muttafaq
‘alaih) Uraian Hadis di atas sudah lampau bersama Hadis Abu Hurairah r.a.
yang seumpama dengan itu dalam bab Menetapi perjanjian – lihat Hadis no.
187.
1541. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w. sabdanya:
“Barangsiapa yang mengaku-aku bermimpi melihat sesuatu yang
sebenarnya tidak dilihatnya dalam impian, maka ia akan dipaksa untuk
mengikatkan dua biji syair, tetapi ia tidak kuasa untuk melakukannya dan
barangsiapa yang mencuri untuk mendengar pembicaraan sesuatu kaum,
sedangkan mereka benci kalau hal itu didengar olehnya, maka dituangkanlah
di kedua telinganya itu timah yang cair pada hari kiamat.
Juga barangsiapa yang menggambar sesuatu gambaran – yang mempunyai
ruh dan berbentuk jisim, maka ia akan disiksa dan dipaksa untuk meniupkan
ruh di dalam gambarannya itu, sedangkan ia tidak kuasa meniupkan ruh di
dalamnya.” (Riwayat Bukhari)
Tahallama yaitu berkata bahwasanya ia bermimpi dalam tidurnya dan
melihat demikian dan demikian, padahal sebenarnya ia berdusta – yakni
tidak bermimpi sedemikian itu. Al-anuk dengan dibaca mad dan
dhammahnya nun ringannya kaf – yakni tidak disyaddah – ialah timah yang
dicairkan – yakni panas sekali.

1542. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Nabi s.a.w.
bersabda: “Sesangat-sangatnya dusta yang diperbuat ialah apabila seseorang itu
mengaku bahwa kedua matanya melihat sesuatu – dalam impian – yang
sebenarnya tidak dilihat – atau diimpikan.” (Riwayat Bukhari)
Maknanya ialah bahwa ia mengatakan: “Saya bermimpi melihat sesuatu,”
padahal tidak dilihatnya – yakni tidak diimpikannya.
1543. Dari Samurah bin Jundub r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. itu sering
benar bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “Adakah seseorang di antara engkau
semua ini ada melihat sesuatu impian?” Kemudian kepada beliau s.a.w. itu
diceriterakanlah sekehendak Allah perihal apa yang diceriterakan itu – oleh
sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya beliau s.a.w. pernah bersabda pada suatu
pagi, demikian:
“Tadi malam saya didatangi oleh dua orang pendatang. Kedua-nya berkata
kepada saya: “Berangkatlah.” Sayapun berangkatlah bersama dua orang itu. Kita
lalu datang kepada seorang lelaki yang sedang berbaring, tiba-tiba ada orang
lain yang sedang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah batu besar.
Sekonyong-konyong orang yang berdiri itu menjatuhkan batu tersebut ke
arah kepala orang yang berbaring tadi, kemudian pecahlah kepalanya, sedang
batu itu terus menggelinding ke arah sana. Yang melempar itu mengikuti
perginya batu tersebut lalu mengambilnya. la tidak kembali kepada orang
yang disiksanya itu, sehingga orang ini sembuh kembali kepalanya
sebagaimana keadaannya semula. Orang yang berdiri itu lalu kembali
mendekati orang yang berbaring dan melakukan sebagaimana yang dilakukan
dalam kali pertama tadi -dan demikian seterusnya yaitu dijatuhi batu,
kepalanya pecah lalu sembuh dijatuhi batu lagi, kepalanya pecah dan sembuh
lagi dan selanjutnya.”
Beliau s.a.w bersabda: “Saya lalu bertanya kepada dua orang yang mengajak
berangkat dulu: “Subhanallah, siapakah ini?” Lalu keduanya berkata:
“Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah, sehingga datanglah kita kepada seorang lelaki yang tidur terlentang pada tengkuknya, tiba-tiba di situ
ada pula orang yang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah alat pengait
dari besi, sekonyong-konyong ia mendatangi orang yang terlentang tadi
menuju ke salah satu belahan mukanya, kemudian memotong-motong ujung
mulutnya sampai ke tengkuknya, juga dari lobang hidung ke tengkuknya
serta dari mata ke tengkuknya. Setelah itu ia berpindah kepada belahan
mukanya yang lain, lalu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan terhadap
belahan muka yang satunya tadi. Belum lagi ia selesai mengerjakan yang ini,
sehingga belahan pertama itu telah menjadi sembuh kembali sebagaimana
dulunya, lalu diulangkanlah mengerjakan terhadap belahan pertama tadi
sebagaimana cara melakukan pekerjaan yang mula-mula untuk pertama
kalinya itu.”
Beliau s.a.w. bersabda: “Saya lalu bertanya: “Subhanallah, siapakah kedua
orang ini?” Kedua orang yang menyertai saya itu berkata: “Berangkatlah,
berangkatlah!” Kitapun berangkatlah, sehingga datanglah kita kepada sebuah
tempat semacam dapur besar.” Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata:
“Saya mengira beliau s.a.w. juga menyebutkan: “Dalam dapur itu terdengar
teriakan yang bercampur-baur serta berbagai suara gemuruh.” Kita menjenguk
di dalamnya, tiba-tiba yang ada di situ adalah orang-orang lelaki dan orang-
orang perempuan yang semuanya telanjang bulat. Mereka itu didatangi oleh
nyala api yang berasal dari bawah mereka, Jikalau nyala api itu menjiiat-jilat
tubuh mereka, maka merekapun gemuruhlah suaranya. Saya bertanya:
“Siapakah orang-orang itu?” Kedua kawan saya itu menjawab: “Berangkatlah,
berangkatlah!” Kitapun berangkatlah, sehingga kita datang di suatu sungai.”
Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Saya mengira beliau s.a.w. juga
mengucapkan: “Sungai itu merah warnanya bagaikan darah.” Tiba-tiba di
sungai itu ada seorang yang berenang menuju tepinya, sekonyong-konyong di
tepi sungai tadi ada pula seorang lelaki lain yang telah mengumpulkan batu-
batu besar di sisinya. Orang yang berenang itu terus berenang sekuat ia me-lakukannya, setelah hampir di tepinya, lalu datanglah orang yang sudah
mengumpulkan batu-batu tadi dan yang berenang itu mem-bukakan
mulutnya, kemudian dilemparnya dengan batu oleh yang ada di tepi. Sekali
lagi orang itu berenang ke tengah terus kembali lagi dan setiap kembali, ia pun
membukakan mulutnya lalu yang di tepi melemparkan batu tepat di mulutnya
itu. Saya bertanya kepada kedua kawan saya: “Siapakah kedua orang itu – yakni
yang berenang dan yang melempari?” Keduanya berkata kepada saya:
“Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah sehingga datanglah kita
kepada seseorang yang buruk sekali rupa roman mukanya, atau ia adalah
sejelek-jelek orang lelaki yang pernah engkau lihat tentang rupa roman
mukanya. Di sisinya ada api dan ia menyalakan itu dan ia berjalan di
sekelilingnya. Saya bertanya lagi kepada kedua kawan saya: “Siapakah orang
itu?” Keduanya men-jawab: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun
berangkatlah, se-hingga datanglah kita di suatu taman yang rimbun
tanamannya lagi panjang-panjang, di dalamnya tampaklah penuh sinar cahaya
musim bunga, tiba-tiba di antara kedua sudut taman itu ada seorang lelaki
yang tinggi perawakannya, hampir-hampir saya tidak dapat melihat kepalanya
karena menjulang tinggi sekali ke langit, sedang di sekitar orang tersebut ada
beberapa anak dan amat banyak sekali jumlah-nya dan saya tidak pernah
samasekali melihat mereka itu. Saya bertanya: “Siapakah orang ini dan siapa
pula anak-anak itu?” Kedua kawan saya menjawab: “Berangkatlah,
berangkatlah!” Kitapun berangkatlah sehingga datanglah kita di suatu pohon
besar yang belum pernah samasekali saya melihat pohon yang lebih besar serta
lebih indah daripadanya. Kedua kawan saya itu berkata: “Naiklahdi taman
itu!” Kitapun naiklah menuju ke suatu kota yang dibangun dengan bata-bata
yang terbuat dari emas dan bata-bata dari perak. Kita mendatangi pintu kota,
lalu kita minta supaya dibukakan, kemudian pintupun dibukalah untuk kita.
Kita masuk di dalamnya, lalu kita dijemput oleh beberapa orang lelaki yang
sebagian muka-muka mereka itu bagus-bagus sebagaimana yang pernah engkau lihat, sedang sebagiannya Iagi buruk sebagaimana yang pernah engkau
lihat. Kedua kawan saya itu berkata kepada orang-orang tersebut: “Pergilah
lalu terjunlah dalam sungai itu. Tiba-tiba sungai itu adalah sungai yang
melintang dan airnya mengalir, seolah-olah airnya adalah susu kerena
putihnya. Mereka lalu terjun di dalamnya kemudian kembali ke tempat kita,
sedang keburukan muka-muka-nya sudah lenyap semua dan mereka berganti
memiliki roman muka yang sebagus-bagusnya.
Beliau s.a.w. bersabda; kedua kawan berkata kepada saya: “Inilah yang
disebut syurga ‘Adn dan di sana itu tempat kediaman Tuan.” Penglihatan
saya lalu naik ke atas, amat tinggi sekali, sekonyong-konyong tampaklah
sebuah istana bagaikan awan yang putih sekali. Sekali Iagi keduanya berkata:
“Nah, di sana itulah tempat tinggal Tuan.” Saya berkata kepada keduanya:
“Semoga Allah memberikan keberkahan kepada anda berdua. Sekarang
biarkanlah saya ke sana akan masuk ke dalamnya.” Keduanya berkata:
“Adapun sekarang, maka jangan dulu, tetapi Tuan akan memasukinya nanti.”
Seterusnya saya berkata kepada kedua kawan saya itu: “Sejak tadi malam saya
telah melihat berbagai keajaiban, maka apakah sebenarnya yang saya lihat
itu?” Keduanya berkata kepada saya: “Kini saya akan memberitahukan kepada
Tuan.
Adapun orang pertama yang Tuan datangi, ia dipecah kepalanya dengan
batu, maka sesungguhnya itulah orang yang mengambil al-Quran lalu
menyisihkannya-yakni menolaknya sesudah mengerti isi dan maknanya, juga
itulah orang yang tidur – yakni lalai – dari melakukan shalat-shalat yang
diwajibkan.
Adapun orang yang Tuan datangi, ia sedang dipotong-potong ujung
mulutnya sampai ke tengkuknya dan dari lobang hidung sampai
ketengkuknya dan juga dari matanya sampai ketengkuknya itu ialah orang-
orang yang pergi dari rumahnya lalu membuat kata-kata dusta dengan kedustaan yang sampai mencapai ke segaia penjuru – yakni mengobral kata-
kata bohong.
Adapun orang-orang lelaki dan perempuan yang berada di dalam
tempat semacam bangunan dapur besar itu adalah para pezina lelaki dan
wanita.
Adapun orang lelaki yang Tuan datangi sedang berenang dalam sungai dan
dilempari batu di mulutnya itu ialah pemakan riba.
Adapun orang yang tampak buruk sekali roman mukanya yang di sisinya
ada api yang dinyalakan olehnya dan ia berjalan di sekelilingnya itu ialah
malaikat Khazin, yaitu penjaga neraka Jahanam.
Adapun orang yang tinggi perawakannya yang ada di dalam taman,
maka ia adalah Nabi Ibrahim a.s. sedang anak-anak yang di sekelilingnya itu
ialah setiap anak bayi yang mati atas kefitrahan.”
Dalam riwayat al-Barqani disebutkan: “Anak yang mati me-netapi
kefitrahan.”
Sampai di sini lalu sebagian kaum Muslimin ada yang berkata: “Dan anak-
anaknya kaum musyrikin bagaimanakah nasibnya, ya Rasulullah?” Beliau
s.a.w. menjawab: “Juga anak-anaknya kaum musyrikin termasuk di kalangan
mereka itu.”
Adapun orang yang sebagian mukanya bagus dan sebagian Iagi
buruk, maka mereka itu ialah orang-orang yang mencampur-
adukkan antara amal perbuatan yang shalih sedang yang lainnya
jelek, tetapi Allah telah memberikan pengampunan kepada mereka
itu.” (Riwayat Bukhari)
Dalam riwayat Imam Bukhari lainnya disebutkan demikian:
“Tadi malam saya melihat dua orang lelaki, lalu keduanya itu mengeluarkan
saya dan mengajak pergi ke tanah yang suci.” Kemudian beliau s.a.w.
menyebutkan Hadis di atas dan selanjutnya bersabda: “Kita bertiga lalu pergi ke
sebuah lobang sebagai bentuk dapur besar, bagian atasnya adalah sempit sedang bagian bawahnya lebar sekali dan di bawahnya itu ada api menyala. Jikalau api
itu menjulang ke atas, maka orang-orang yang ada di situ sama naik pula ke atas,
sehingga hampir-hampir mereka itu akan dapat keluar dari dalamnya, tetapi
jikalau api itu padam, maka merekapun kembali ke bawah lagi. Di situ
terdapatlah orang-orang lelaki dan perempuan yang semuanya telanjang
bulat.”
Dalam riwayat Hadis itu disebutkan pula: “Sehingga datanglah kita ke
suatu sungai dari darah.” Yang meriwayatkan tidak sangsi lagi dalam keadaan
sungai yang dikatakan dari darah itu. “Di situ ada seorang lelaki yang berdiri
di tengah sungai, sedang di tepi sungai ada pula seorang lelaki lain dan di
mukanya ada batu-batu. Orang yang di sungai itu hendak maju ke tepi,
tetapi apabila ia ber-kehendak keluar, lalu orang yang di tepi itu
melemparnya dengan batu, tepat mengenai mulutnya lalu mengembalikan
ke tengah sungai sebagaimana keadaannya semula. Jadi setiap kali ia akan
keluar, setiap itu pula yang di tepi melemparnya dengan batu mengenai
mulutnya dan kembalilah ia ke tengah lagi sebagai tadinya.”
Dalam riwayat Hadis tadi juga disebutkan: “Kedua kawan saya itu naik ke
pohon dengan membawa saya lalu keduanya memasuk-kan saya ke dalam
sebuah rumah yang saya samasekali belum pernah melihat rumah yang seindah
itu. Di dalamnya ada beberapa orang tua dan para pemuda.”
Dalamnya juga disebutkan: “Adapun yang Tuan lihatdipotong-potong
tepi mulutnya itu, maka ia adalah seorang tukang dusta yang berbicara dengan
kedustaan lalu disiar-siarkanlah dustanya itu sampai mencapai ke segenap
penjuru alam. Maka diperlakukanlah orang tersebut sedemikian rupa sampai
pada hari kiamat.”
Dalamnya disebutkan pula: “Orang yang Tuan lihat dipecah kepalanya itu
ialah orang yang telah diajari al-Quran oleh Allah, lalu tidur – lalai – untuk
membacanya di waktu malam dan tidak pula mengerjakan isinya pada siang
harinya, maka itu diperlakukanlah orang itu sedemikian rupa sampai pada hari kiamat. Adapun rumah pertama yang Tuan masuki itu ialah perumahan
umumnya kaum Muslimin. Adapun yang ini, ialah perumahan kaum syuhada –
yakni mati dalam peperangan untuk membela agama Allah. Saya adalah
Jibril dan ini adalah Mikail. Maka angkatlah kepala Tuan sekarang.” Saya – Nabi
s.a.w. – mengangkat kepala saya, tiba-tiba tampak di atas saya itu bagaikan awan.
Keduanya berkata: “Di sana itulah tempat kediaman Tuan.” Saya berkata: “Kalau
begitu biarkanlah saya hendak memasuki rumah saya.” Keduanya menjawab:
“Sesungguhnya saja masih ada usia Tuan yang tertinggal dan belum lagi Tuan
sempurnakan. Andaikata sudah Tuan sempurnakan, maka Tuan boleh
mendatangi tempat kediaman Tuan itu.”
(Riwayat Bukhari)
Sabdanya: yuslaghu ra’suhu dengan menggunakan tsa’ bertitik tiga dan ghain
mu’jamah, artinya memecah dan membelahnya.” Yatadahdahu artinya
menggelinding. Alkallub dengan fathahnya kaf dan dhammahnya lam
musyaddadah, adalah sudah dimaklumi maknanya – yaitu alat pengait.
Yusyarsyiru, artinya memotong-motong. Dhaudhau dengan dua dhad yang
keduanya mu’jamah, artinya berteriak-teriak. Fa-yafgharu dengan fa’ dan ghain
mu’jamah, artinya membukakan. Almar-aah dengan fathahnya mim, artinya
pandangan yakni air muka. Yahusysyuha dengan fathahnya ya’ dan dhammahnya
ha’ muhmalah serta syin mu’jamah, artinya menyalah-kan. Rawdhatun
mu’tammah dengan dhammahnya mim, sukunnya ‘ain, fathahnya ta’ dan
syaddahnya mim, artinya ialah rimbun tanamannya lagi panjang-panjang.
Dawhah dengan fathahnya dal, sukunnya wawu dan dengan ha’ muhmalah,
artinya ialah pohon besar. Almahdhu dengan fathahnya mim, sukunnya ha’
muhmalah dengan dhad mu’jamah, artinya ialah susu. Fa-sama bashari artinya
melihat ke atas. Shu’udan dengan dhammahnya shad dan ‘ain, artinya tinggi-
tinggi. Arrababah dengan fathahnya ra’ dan dengan ba’ bertitik satu yang
didobbelkan, artinya ialah awan.

Bab 261

Uraian Perihal Dusta Yang Dibolehkan

Ketahuilah bahwasanya dusta itu, sekalipun asal hukumnya adalah
diharamkan, tetapi dapat menjadi jaiz atau boleh dalam sebagian keadaan,
yakni dengan beberapa syarat yang sudah saya terangkan dalam kitab Al-
Adzkar. Adapun keringkasannya keterangan tersebut ialah bahawasanya
pembicaraan itu adalah sebagai perantaraan untuk menuju kepada sesuatu
maksud. Maka dari itu, semua maksud yang baik yang untuk menghasilkannya
itu dapat dilakukan tanpa berdusta, maka berdusta dalam keadaan
sedemikian adalah haram, tetapi jikalau tidak mungkin dihasilkannya
melainkan dengan berdusta maka bolehlah berdusta itu. Selanjutnya, apabila
menghasilkan maksud itu merupakan sesuatu yang mubah, yakni boleh saja
hukumnya, maka berdusta di situ juga mubah hukumnya, sedang jikalau
menghasilkannya itu merupakan sesuatu yang wajib, maka berdusta itupun
menjadi wajib pula hukumnya. Misalnya jikalau ada seseorang Muslim
bersembunyi dari kejaran seorang yang zalim dan menginginkan akan
membunuhnya atau hendak mengambil hartanya dan orang itu
menyembunyikan hartanya, lalu ada seseorang yang ditanya, maka wajiblah
yang ditanya itu berdusta dengan maksud untuk menyembunyikan orang
tersebut yakni yang akan dianiaya itu. Demikian pula jikalau di sisinya ada
suatu titipan dan ada seorang zalim yang hendak mengambilnya, maka
wajiblah yang dititipi itu berdusta dengan maksud menyembunyikannya.
Tetapi yang lebih berhati-hati dalam kesemuanya ini ialah supaya seseorang itu melakukan tawriyah. Makna tawriyah itu ialah menggunakan sesuatu
ibarat atau kata-kata yang tujuannya adalah benar yakni bukan merupakan kata-
kata dusta, nisbat untuk dirinya sendiri, sekalipun tampaknya sebagai kata-
kata dusta menurut lahiriyahnya lafaz yang diucapkan itu, nisbat bagi
pemahaman orang yang diajaknya bercakap-cakap. Sekalipun demikian,
andaikata ia tidak menggunakan tawriyah, lalu langsung saja menggunakan
ucapan yang benar-benar dusta, maka hal itu pun tidak juga haram
hukumnya dalam hal ini.
Para ulama mengambil dalil tentang bolehnya berdusta itu ialah dengan
Hadisnya Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha bahwasanya ia mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bukannya orang yang berdusta apabila seseorang itu ber-maksud
mengislahkan – yakni memperbaiki – antara para manusia -yang sedang
berselisih, lalu ia menyampaikan sesuatu berita yang baik-baik atau
mengucapkan yang baik-baik.” (Muttafaq ‘alaih)
Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya: Ummi Kultsum berkata:
“Saya tidak pernah mendengar Rasulullah s.a.w. meringankan dalam segala
sesuatu yang diucapkan oleh para manusia itu – perihal dusta, melainkan dalam
tiga keadaan, yaitu dalam peperangan, dalam mengislahkan antara para
manusia dan ucapan seseorang suami terhadap isterinya atau seorang isteri
terhadap suaminya – yang masing-masing itu untuk kemaslahatan keluarga.”
Bab 262

Memiliki Ketetapan Dalam Apa Yang
Diucapkan Atau Apa Yang
Diceriterakan

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah engkau turut pada sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengertian
dalam hal itu.” (al-lsra’: 36)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Tidaklah seseorang itu mengucapkan sesuatu ucapan, melainkan di sisinya ada malaikat
Raqib – pencatat kebaikan – dan ‘Atid – pencatat keburukan.” (Qaf:18)

1544. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Cukuplah
seseorang itu dustanya apabila ia mengutarakan segala sesuatu yang
didengar olehnya.” (Riwayat Muslim)
1545. Dari Samurah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang membicarakan sesuatu Hadis daripada saya – Nabi s.a.w., sedang ia mengetahui bahwa apa yang dibicarakan olehnya itu adalah dusta, maka ia
adalah seseorang di antara golongan kaum pendusta.” (Riwayat Muslim)
1546. Dari Asma’ radhiallahu ‘anha bahwasanya ada seorang perempuan berkata:
“Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini mempunyai seorang madu, maka apakah
kiranya saya memperoleh dosa jikalau saya berpura-pura kenyang dari suami
saya itu selain yang ia berikan pada saya?” Nabi s.a.w bersabda; “Seseorang
yang berpura-pura kenyang dengan sesuatu yang ia tidak diberi, maka ia adalah
orang yang mengenakan dua macam pakaian kedustaan.” (Muttafaq ‘alaih)
Almutasyabbi’ ialah seseorang yang menampakkan dirinya sebagai seseorang
yang kenyang, padahal ia sebenarnya bukan seorang yang kenyang. Adapun
maknanya di sini ialah bahwa ia menampakkan bahwa ia memperoleh
sesuatu keutamaan – seperti pemberian dan Iain-Iain, padahal sebenarnya ia
tidak memperoleh itu.
Adapun labisu tsaubai zurin yaitu yang menanggung kedustaan, maksudnya
ialah memalsukan dirinya sendiri di hadapan orang banyak bahwa ia seolah-
olah mengenakan pakaian ahli zuhud, ahli ilmu pengetahuan atau seorang
yang berharta banyak dengan tujuan agar orang-orang itu tertipu oleh apa
yang dilihatnya, padahal sebenarnya ia tidak memiliki sifat sebagaimana yang
di-perlihatkan kepada orang banyak itu. Ada pula ulama yang me-nerangkan
bahwa maksudnya tidak sebagaimana yang diuraikan di atas.
Wallahu a’lam. Bab 263
Uraian Kesangatan Haramnya Menyaksikan Kepalsuan
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan jauhilah perkataan palsu.” (al-Haj:30) Allah
Ta’ala juga berfirman:
“Janganlah engkau turut sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengertian dalam
hal itu.” (al-lsra’: 36)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Tidaklah seseorang itu mengucapkan sesuatu ucapan, melainkan di sisinya ada
malaikat Raqib – pencatat kebaikan – dan malaikat ‘Atid – pencatat keburukan.” (Qaf:
18)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Sesungguhnya Tuhanmu itu tetap mengadakan pengintipan.”(Al-Fajr: 14)
“Dan mereka itu adalah orang-orang yang tidak suka menjadi saksi palsu.” (al-
Furqan:72) Allah Ta’ala berfirman pula:
1547, Dari Abu Bakrah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ber-sabda:
“Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan kepadamu
semua tentang sebesar-besarnya dosa besar.” Kita -yakni para sahabat – berkata:
“Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Yaitu menyekutukan
kepada Allah, berani melawan kedua orang tua,” semula beliau s.a.w.
bersandar lalu duduk, kemudian bersabda: “Ingatlah, juga perkataan palsu dan
menjadi saksi palsu.” Tidak henti-hentinya beliau s.a.w. itu mengulang-ulangi
sabdanya yang terakhir ini, sehingga kita mengucapkan: “Alangkah baiknya
kalau beliau diam.” (Muttafaq ‘alaih) Bab 264
Haramnya Melaknat Diri Seseorang Atau Terhadap
Binatang
1548. Dari Abu Zaid, yaitu Tsabit bin adh-Dhahhak al-Anshari r.a dan ia
adalah termasuk golongan ahli bai’atur-ridhwan, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam dengan dusta lagi
sengaja – misalnya ia berkata: “Demi Allah, kalau saya melakukan begini, maka
saya masuk agama Yahudi atau Kristen, maka orang itu adalah sebagaimana
apa yang diucapkan – yakni kalau yang disumpahkan itu terjadi, orang
tersebut hukumnya menjadi kafir kalau ketetapan hatinya akan memeluk
agama itu.
Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu benda – yakni
bunuh diri, maka ia akan disiksa pada hari kiamat dengan benda yang
digunakan untuk bunuh diri itu.
Seseorang itu tidak perlu memenuhi nazar kepada sesuatu yang ia tidak
memilikinya, sedangkan melaknat kepada seseorang mu’min itu adalah sama
dengan membunuhnya.” (Muttafaq ‘alaih)

1549. Dari Abu Hurairah r.a.,: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak seyogyanyalah
bagi seseorang yang ahli berkata benar itu kalau menjadi seorang yang suka
melaknat.” (Riwayat Muslim)
1550. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang-orang yang suka melaknat itu tidak akan dapat menjadi
orang-orang yang memberikan syafa’at serta sebagai saksi pada hari
kiamat.” (Riwayat Muslim)
1551. Dari Samurah bin Jundub r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua saling laknat-melaknati dengan menggunakan
kata-kata Allah melaknat, jangan pula dengan kata-kata Allah memurkai
ataupun dengan kata-kata masuk neraka.”
Diriwayatkan oleh Imam-Imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
1552. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bukannya seorang mu’min yang suka mencemarkan nama orang, atau yang
suka melaknat dan bukan pula yang berbuat kekejian serta yang kotor
mulutnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.
1553. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya seseorang hamba itu apabila melaknat kepada sesuatu,
maka naiklah kelaknatannya itu ke langit, lalu ditutuplah pintu-pintu langit
itu agar tidak masuk ke dalamnya, kemudian turun kembali ke bumi lalu
ditutuplah pintu-pintu yang menuju ke arah bumi itu agar tidak dapat
masuk ke dalamnya, selanjutnya ia bolak-balik ke kanan dan ke kiri. Seterusnya apabila tidak lagi ia memperoleh jalan masuk, maka kembalilah ia
kepada orang yang dilaknat, jikalau yang dilaknat memang benar-benar
sebagaimana isi yang dilaknatkan, maka kelaknatan itupun tetap berada
dalam diri orang ini, tetapi jikalau tidak, maka kembalilah ia kepada orang yang
mengucapkannya – sehingga ia akan memperoleh bencana dengan sebab
ucapan laknatnya tersebut.” (Riwayat Abu Dawud)

1554. Dari ‘Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Pada suatu
ketika Rasulullah s.a.w. dalam salah satu perjalanannya dan di situ ada seorang
wanita dari golongan sahabat Anshar menaiki unta. Wanita itu agaknya kesal –
pada untanya itu, lalu melaknatinya. Kemudian Rasulullah s.a.w. mendengar
ucapannya itu, lalu bersabda:
“Ambillah apa-apa yang ada di atas unta itu dan biarkanlah ia berjalan –
tanpa beban apa-apa, sebab ia sudah mendapat laknat.”
‘Imran berkata: “Seolah-olah saya masih dapat melihat sekarang ini, unta itu
berjalan di kalangan para manusia dan tidak seorangpun yang ambil perhatian
padanya.” (Riwayat Muslim)

1555. Dari Abu Barzah, yaitu Nadhlah bin ‘Ubaid al-Aslami r.a., katanya:
“Pada suatu ketika ada seorang gadis berada di atas untanya dan di situ ada
sementara hartabenda kaum – orang banyak, tiba-tiba ia melihat Nabi s.a.w. –
yang hendak berjalan di situ pula sedangkan jalan di gunung sudah sempit
karena banyak orang, lalu gadis itu berkata: “Hayo. Ya Allah laknatilah unta
ini.” Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Janganlah mengawani kita seekor unta yang
sudah terkena laknat ini.” (Riwayat Muslim)
Ucapannya “Hal” dengan fathahnya ha’ muhmalah dan sukunnya lam,
yaitu sebagai kata bentakan terhadap unta.
Ketahuilah bahwa Hadis ini kadang-kadang dipersukar arti dan maknanya,
padahal tiada kesukaran samasekali dalam mengartikan itu. Adapun maksudnya ialah untuk melarang kalau unta yang sudah dilaknati itu mengawani mereka –
yakni orang-orang yang dalam perjalanan. Jadi samasekali tidak ada larangan
untuk menyem-belihnya, menaikinya asalkan tidak berkawankan dengan Nabi
s.a.w. Maka semua yang di atas itu juga Iain-Iain penggunaan terhadap unta itu
adalah tetap boleh dan tiada halangan samasekali, kecuali hanya dilarang untuk
mengawani Nabi s.a.w. dalam seperjalanan, karena penggunaan kesemuanya
itu memang jaiz. Kalaupun ada sebagian yang dilarang – yakni mengawani
Nabi s.a.w. dalam seperjalanan, maka untuk maksud yang Iain-Iain tetap
dibolehkan. Wallahu a’lam.

Bab 265
Bolehnya Melaknati Kepada Orang-orang
Yang Mengerjakan Kemaksiatan Tanpa
Menentukan Perorangannya

Allah Ta’ala berfirman:

“Ingatlah bahwa laknat Allah adalah atas orang-orang yang menganiaya.”
(Hud: 18)
Allah Ta’ala berfirman pula:

“Maka berserulah orang yang menyerukan bahwasanya laknat Allah adalah atas
orang-orang yang menganiaya.” (al-A’raf)

Sudah tetap dalam Hadis shahih bahwasanya Rasulultah s.a.w. bersabda:
“Allah melaknat kepada orang yang menghubungkan rambutnya dengan
rambut orang lain serta orang yang meminta supaya rambutnya dihubungkan
dengan rambut orang lain” – lihat Hadis no. 1639, sabdanya pula: “Allah
melaknat kepada orang makan harta riba” – Hadis no. 1612, sabdanya lagi: “Allah melaknat orang-orang yang menggambar – sesuatu yang berjiwa, lihat bab
no. 305, sabdanya lagi: “Allah melaknat orang yang mengubah-ubah batas-batas
bumi” yakni batas-batas yang ditentukan dalam bumi itu – menurut persetujuan
negara-negara yang bersangkutan, sabdanya lagi: “Allah melaknat pencuri yang
mencuri sebutir telur,” sabdanya lagi: “Allah melaknat orang melaknat kepada
kedua orang tuanya” -Hadis no. 338, juga “Allah melaknat orang yang
menyembelih selain karena Allah,” juga sabdanya: “Barangsiapa yang
melakukan sesuatu kemungkaran atau memberi tempat perlindungan kepada
orang yang melakukan kemungkaran, maka atasnya adalah laknat Allah,
seluruh malaikat serta sekalian manusia” – Hadis no. 1801 iabdanya lagi: “Ya
Allah, laknatilah kepada kabilah-kabilah Ri’l, Dzakwan dan ‘Ushayyah, mereka
semua itu bermaksiat kepada Allah dan RasulNya.” Ini adalah nama tiga kabilah
bangsa Arab, juga sabdanya: “Allah melaknat kepada kaum Yahudi, mereka
menggunakan makam-makam nabi-nabi mereka sebagai masjid,” demikian
pula sabdanya: “Allah melaknat kepada orang-orang lelaki yang
menyerupakan dirinya sebagai orang-orang perempuan dan orang-orang
perempuan yang menyerupakan dirinya sebagai 0rang-orang lelaki.” – Hadis
1628-
Semua lafaz-lafaz di atas itu tercantum dalam Hadis shahih bahkan
sebagiannya adalah di dalam kedua kitab shahihnya Imam -Imam Bukhari dan
Muslim, sebagian lagi di salah satu dan kedua kitab shahih itu. Hanyasanya
saya bermaksud meringkaskannya dengan cukup menunjukkan pada Hadis-
hadis itu belaka, sedang-kan sebagian yang terbesar akan saya uraikan dalam
masing-masing babnya dari kitab ini. Insya Allah.
Bab 266
Haramnya Memaki Orang Islam Tanpa Haq (Kebenaran)
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min, lelaki atau
perempuan, tanpa adanya sesuatu yang mereka lakukan, maka orang-orang yang
menyakiti itu menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (al-Ahzab: 58)

1556. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Mencaci-maki seorang Muslim adalah suatu kefasikan, sedang
memeranginya – membunuhnya – adalah kekufuran.” (Muttafaq ‘alaih)

1557. Dari Abu Zar r.a., bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tidakkah seorang melemparkan kefasikan atau kekufuran kepada
orang lain, melainkan akan kembalilah kefasikan atau kekufuran itu
pada dirinya sendiri, jikalau yang dikatakan se-demikian itu bukan
yang memiliki sifat tersebut.” (Riwayat Bukhari)

1558. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Kedua orang yang saling maki-memaki itu dosanya adalah atas orang
yang memulai di antara kedua orang itu, sehingga yang dianiaya
melanggar – melebihi batas apa yang dikatakan oleh orang yang memulai
tadi.” (Riwayat Muslim)

1559. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Nabi s.a.w. di-datangi
oleh para sahabatnya dengan membawa seorang yang minum arak.
Beliau s.a.w. bersabda: “Pukullah ia.” Abu Hurairah berkata; “Maka di antara kita ada yang memukul dengan
tangannya, ada yang memukul dengan terumpahnya, ada yang
memukul dengan bajunya.” Setelah orang itu kembali, se-bagian kaum –
orang-orang tadi – ada yang berkata: “Semoga engkau dihinakan oleh
Allah.” Lalu beliau s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua berkata
demikian, janganlah memberi pertolongan kepada syaitan untuk menggoda
orang ini – sehingga berbuat yang tidak dibenarkan oleh agama.” (Riwayat
Bukhari)

1560. Dari Abu Hurairah r.a., katanya:
“Barangsiapa yang mendakwa berzina kepada hambasahayanya, maka
kepada yang mendakwa itu akan dilaksanakanlah had atas dirinya besok pada
hari kiamat, kecuali kalau hambasahaya itu memang berbuat sebagaimana
yang dikatakan oleh orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 267

Haramnya Memaki-maki Orang-orang Mati
Tanpa Adanya Hak (Kebenaran) Dan
Kemaslahatan Syariat

Ini adalah menakut-nakuti daripada meniru orang tersebut dengan kelakuan
bid’ahnya, kefasikannya atau Iain-Iain sebagainya.
Dalam bab ini ada ayat dan Hadis-hadis sebagaimana yang tercantum di
muka dalam bab sebelum ini.

1561. Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua memaki-maki orang-orang yang sudah mati,
sebab sesungguhnya mereka itu telah sampai kepada amalan-amalan
mereka yang sudah dikerjakan dahulu -sewaktu di dunia, baik kebajikan
atau kejahatan.” (Riwayat Bukhari) Bab 268
Larangan Menyakiti
Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min, leiaki atau perempuan,
tanpa adanya sesuatu yang mereka lakukan, maka orang-orang yang menyakiti itu
menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (al-Ahzab: 58)
1562. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Seorang Muslim itu ialah orang yang kaum Muslimin Iain-Iain
selamat dari gangguan lisan dan tangannya-yakni selamat dari kekejaman
perkataan serta perbuatannya. Seorang muhajir-yang meninggalkan – ialah
orang yang meninggalkan apa-apa yang
dilarang oleh Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

1563. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma pula,
katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
Barangsiapa yang suka jikalau dijauhkan dari neraka dan dimasukkan
dalam syurga, maka hendaklah ia di datangi oleh kematiannya dan di waktu itu ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir – yakni hari kiamat,
juga hendaklah ia men-datangkan sesuatu kepada seluruh manusia yang
sekiranya ia sendiri suka kalau sesuatu tadi didatangkan pada dirinya sendiri –
yakni berbuat sesuatu kepada orang lain yang ia suka kalau hal itu
diperlakukan pula atas dirinya sendiri.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan ini adalah sebagian dari suatu Hadis
panjang yang sudah lampau uraiannya dalam bab Mentaati orang-orang yang
memegang pemerintahan – lihat Hadis no. 666.
Bab 269

Larangan Saling Benci-membenci, Putus-memutuskan
— Ikatan Persahabatan Dan Saling Belakang-
membelakangi — Tidak Sapa-menyapa —

Allah Ta’ala berfirman:
“Hanyasanya orang-orang mu’min itu adalah sebagai beberapa
orang saudara.” (al-Hujurat: 10)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Kaum mu’minin itu merendahkan diri kepada sesama kaum mu’minin
serta bersikap mulia – tegas – terhadap kaum kafirin.” (al-Maidah: 54)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang beserta-nya adalah
orang-orang yang bersikap keras terhadap kaum kafirin serta saling sayang-
menyayangi antara sesama mereka – kaum Muslimin.” (al-Fath: 39)

1564. Dari Anas r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah
engkau semua saling benci-membenci, saling dengki-mendengki, saling
belakang-membelakangi dan saling putus-memutuskan – ikatan
persahabatan atau kekeluargaan – dan jadilah engkau semua hai namba-hamba Allah sebagai saudara-saudara. Tidaklah halal bagi seseorang
Muslim kalau ia meninggalkan – yakni tidak menyapa – saudaranya
lebih dari tiga hari.” (Muttafaq ‘alaih)

1565. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Pintu-pintu syurga itu dibuka pada Senin dan Kemis, lalu
diampunlah bagi setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu
dengan Allah, melainkan seseorang yang antara dirinya dengan saudara
itu ada rasa kebencian -dalam hati, lalu dikatakanlah- yakni Allah
berfirman kepada malaikatnya: “Nantikanlah dulu kedua orang ini,
sehingga keduanya berdamai kembali. Nantikanlah kedua orang ini,
sehingga keduanya berdamai kembali.” (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim juga disebutkan: “Ditunjukkanlah semua amalan –
manusia kepada Tuhan – pada setiap hari Kemis dan Senin,” lalu disebutkanlah
bunyi Hadis yang
lanjutannya sama dengan di atas.
Bab 270

Haramnya Hasad — Dengki — yaitu Mengharapkan
Lenyapnya Sesuatu Kenikmatan Dari Pemiliknya,
Baikpun Yang Berupa Kenikmatan Urusan Agama Atau
Urusan Keduniaan

Allah Ta’ala berfirman:

“Apakah mereka – yakni orang-orang yang terkena laknat – itu mendengki
– atau iri hati – kepada orang-orang lain karena keutamaan – yakni karunia – yakni
diberikan Allah kepada mereka ini?” (an-Nisa’: 54)
Dalam bab ini termasuk pulalah Hadisnya Anas r.a., yang lalu dalam bab
sebelum ini – lihat Hadis no. 1564.

1566. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Takutlah engkau semua pada sifat dengki – iri hati, sebab
sesungguhnya dengki itu dapat makan – yakni menghabiskan –
kebaikan-kebaikan sebagaimana api makan kayu bakar” atau
sabdanya: “makan rumput.” (Riwayat Abu Dawud)
Keterangan:
Seseorang yang tidak gembira kalau saudaranya mendapatkan
sesuatu, sedangkan ia sendiri akan gembira kalau mem-perolehnya,
maka orang yang sedemikian ini disebut orang dengki. Menurut Imam
Ghazali kedengkian itu ada tiga macam, yaitu:
(a) Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang dan ia
dapat menggantikannya.
(b) Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang, se-
kalipun ia tidak dapat menggantikannya, baik karena merasa
mustahil bahwa dirinya akan dapat menggantikannya atau memang
kurang senang memperolehinya atau sebab Iain-Iain. Pokoknya asal
orang itu jatuh, ia gembira. Ini adalah lebih jahat dari kedengkian
yang pertama.
(c) Tidak ingin kalau kenikmatan orang lain itu hilang, tetapi ia
benci kalau orang itu akan melebihi kenikmatan yang dimilikinya
sendiri. Inipun terlarang, sebab jelas tidak ridha dengan apa-apa
yang telah dibagikan oleh Allah.
Ada suatu sifat lain yang bentuknya seolah-olah seperti dengki,
tetapi samasekali bukan termasuk kedengkian, bukan pula suatu sifat
yang buruk dan jahat, sebaliknya malahan merupakan sifat utama dan
terpuji. Apakah itu? Sifat itu dinamakan ghibthah. Marilah kita
selidiki apa makna ghibthah itu? Ghibthah ialah suatu kesadaran atau suatu keinsafan yang tumbuh dari
akal fikiran manusia yang berjiwa besar dan luhur. la sadar dan insaf
akan kekurangan atau kemunduran yang ada di dalam dirinya,
kemudian setelah menyadari dan menginsafi hal itu, lalu ia bekerja
keras, berusaha mati-matian agar dapat sampai kepada apa-apa yang
telah dapat dicapai kawannya, tanpa disertai kedengkian dan iri hati.
Sekalipun ia menginginkan mendapatkan apa yang telah didapatkan
oleh orang lain, namun hatinya tetapi bersih, sedikitpun tidak
mengharapkan agar kenikmatan orang lain lenyap atau hilang
daripadanya. Manusia yang bersifat ghibthah senantiasa menginginkan
petunjuk dan nasihat, bagaimana dan jalan apa yang wajib
ditempuhnya untuk menuju cita-citanya itu.
Jadi ghibthah bukan sekali-kali dapat disamakan dengan dengki.
Seseorang yang luhur budi, tidak berjiwa kintel yang dapat memiliki
sifat ini. Ringkasnya apabila ia mengetahui sesuatu yang berupa
kenikmatan dan kebaikan apapun yang ada dalam peribadi orang lain,
ia tidak hanya terus berangan-angan kosong tanpa berusaha dan tidak
pula mendengki orangnya, juga tidak mengharapkan lenyapnya
kenikmatan atau kebaikan tadi daripadanya, baik dengan maksud
supaya kenikmatan itu berpindah kepada dirinya sendiri atau tidak.
Sebaliknya ia makin menggiatkan usaha untuk mencapainya, bahkan
kalau dapat melebihi adalah lebih baik lagi. la ingin memperoleh
ketinggian sebagaimana orang lain yang dilihatnyapun belum puas
sehingga berada di atasnya, belum rela hatinya sehingga yang
diperolehnya itu adalah kenikmatan yang lebih tinggi nilainya.
Ini bukan bersaing, sebab jalan yang dilaluinya adalah wajar.
Misalkan seorang pedagang, ia tidak merusak harga pasaran pada
umumnya, tidak pula mengahasut pembeli dengan mengatakan bahwa
barang yang dijual oleh orang lain itu berkwalitet jelek atau barang palsu atau dengan menempuh jalan yang tidak terhormat menurut
ukuran masyarakat yang sopan. Jadi keuntungan yang didapatkan
adalah wajar dan cara memperolehnya pun wajar pula. Kalaupun hal
semacam di atas ada sebagian orang yang menyebutkan bersaing, tetapi
persaingan itu adalah sihat, bukan persaingan secara akal bulus.
Dari uraian di atas, kita dapat mengerti bahwa manakala dengki itu
hanya dimiliki oleh manusia yang berjiwa rendah dan mendorongnya
untuk berangan-angan kosong untuk mendapatkan kenikmatan yang
dimiliki orang lain, tetapi ghibthah malahan sebaliknya itu, sebab
ghibthah inilah pendorong utama untuk beramal dan berusaha agar
mendapat kebaikan dan kenikmatan yang diidam-idamkan,
samasekali tidak disertai rasa ingin melakukan sesuatu keburukan
apapun pada orang lain, la ingin sama-sama hidup dan bekerjasama
secara sebaik-baiknya. Jadi perbedaan antara kedua macam sifat dan
akhlak itu jauh sekali, sejauh antara jarak langit dengan bumi. Dengki
adalah tercela dan pendengki adalah sangat terkutuk, sedangkan
ghibthah adalah terpuji dan pengghibthah adalah sangat terhormat.

Bab 271
Larangan Menyelidiki Kesalahan Orang Serta
Mendengarkan Pada Pembicaraan Yang Orang Ini Benci
Kalau la Mendengarnya

Allah Ta’ala berfirman:
“Janganlah engkau semua saling selidik-menyelidiki – yakni uemata-matai
kesaiahan orang lain,” (al-Hujurat: 12)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min, lelaki atau perempuan,
tanpa adanya sesuatu yang mereka lakukan, maka orang-orang yang menyakiti itu
menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (al-Ahzab: 58)

1567. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Takutlah engkau semua kepada persangkaan, sebab sesungguhnya
persangkaan itu adalah sedusta-dustanya percakapan. Janganlah engkau semua
berusaha mengetahui keburukan orang lain, jangan pula menyelidiki – yakni
memata-matai – cela orang lain, jangan pula engkau semua berlomba –
memiliki sendiri akan sesuatu dan mengharapkan jangan sampai orang lain
memiliki seperti itu, juga janganlah engkau semua saling dengki-mendengki,
saling benci-membenci, belakang-membelakangi – yakni tidak sapa menyapa –
dan jadilah engkau semua, hai hamba Allah sebagai saudara-saudara,
sebagaimana Allah memerintahkan hal itu kepadamu semua. Seorang Muslim
adalah saudara orang Muslim yang lain, janganlah ia menganiaya saudaranya,
jangan menghinakannya dan jangan menganggapnya remeh – yakni tidak
berharga. Ketaqwaan itu di sini, ketaqwaan itu di sini letaknya,” dan beliau
s.a.w. menunjuk ke arah dadanya.
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:
“Cukuplah seseorang itu memperoleh kejelekan, jikalau ia merendahkan
diri saudaranya sesama Muslimnya. Setiap Muslim itu

atas orang Muslim lain haramlah darahnya, kehormatannya serta hartanya.
Sesungguhnya Allah itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu semua, tidak
pula kepada rupa-rupamu semua dan juga tidak melihat kepada amalan-
amalanmu semua, tetapi Allah itu melihat – yakni memperhatikan – kepada isi
hatimu semua.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Janganlah engkau semua dengki-
mendengki, belakang membeiakangi, berusaha menge-tahui keburukan orang
lain, menyelidiki cela orang lain dan janganlah engkau semua saling icuh-
mengicuh dan jadilah engkau semua, hai hamba-hamba Allah sebagai saudara-
saudara.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Janganlah saling putus-memutuskan – ikatan persahabatan atau
kekeluargaan, jangan pula belakang-membelakangi, benci-membenci, dengki-
mendengki dan jadilah engkau semua, hai hamba-hamba Allah sebagai
saudara-saudara.”
Dalam riwayat lain lagi juga disebutkan:
“Dan janganlah engkau semua saling diam-mendiamkan – tidak suka
memulai mengucapkan salam dan tidak pula suka menghormat dengan
pembicaraan-dan jangan pula setengah dari engkau semua ada yang menjual
atas jualannya orang lain.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan semua riwayat-riwayat yang
tercantum di atas itu dan Imam Bukhari juga meriwayatkan sebagian banyak
daripadanya.
Keterangan:
Icuh-mengicuh artinya mengatakan pada seseorang dengan harga tinggi,
mengatakan telah menawar sekian tidak dapat perlunya hanya ingin
menjerumuskan orang lain itu agar suka membeli dengan harga tinggi,
sedang ia sendiri dapat janji keuntungan dari orang yang menjualnya.
Adapun artinya menjual atas jualannya orang lain ialah misalnya pedagang
yang berkata kepada pembeli: “Jangan jadi beli di sana itu, saya punya seperti
barang itu dan harganya murah serta mutunya tinggi.”

1568. Dari Mu’awiyah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Sesungguhnya engkau itu apabila mengikuti – yakni mengamat-amati –
cela-celanya kaum Muslimin, maka engkau akan dapat merusakkan mereka atau
hampir-hampir engkau akan dapat menyebabkan kerusakan mereka.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad yang baik.

1569. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya ia didatangi oleh kawan-kawannya
dengan membawa seorang lelaki. Kepadanya dikatakan: “Ini adalah si Fulan
yang janggutnya meneteskan arak.” Ibnu Mas’ud lalu berkata: “Sesungguhnya
kita semua itu dilarang untuk memata-matai, tetapi jikalau ada sesuatu bukti
yang nyata untuk kita gunakan sebagai pegangan, maka kita akan
meneterapkan hukuman padanya.”
Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad
menurut syaratnya Imam-imam Bukhari dan Muslim.
Bab 272

Larangan Mempunyai Prasangka
Buruk Kepada Kaum Muslimin Yang
Tanpa Adanya Dharurat

Allah Ta’ala berfirman:
“Hai sekalian orang-orang yang beriman, jauhilah sebagian banyak dari prasangka
itur sebab sesungguhnya sebagian dan prasangka itu adalah dosa.” (a!-Hujurat: 12)

1570. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Takutlah olehmu semua akan prasangka, sebab sesungguhnya prasangka itu
adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 273

Haramnya Menghinakan Seorang Muslim
Allah Ta’ala berfirman:
“Hai sekalian orang-orang yang beriman, janganiah sesuatu kaum itu
menghinakan kaum yang lain, karena barangkali kaum yang dihinakan itu lebih balk
daripada yang menghinakan.
Jangan pula golongan wanita yang satu itu menghinakan golongan wanita yang
lain, karena barangkali golongan yang di-hinakan itu lebih baik daripada golongan
yang menghinakan. Janganlah pula engkau semua mencela pada sesamamu dan
janganlah memanggilkan dengan gelaran – yang mengandung ejekan. Jahat sekali
nama yang buruk itu sesudah adanya keimanan. Barangsiapa yang tidak suka bertaubat,
maka mereka itulah orang-orang yang menganiaya.” (al-Hujurat: 11)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Celaka – atau neraka wail – bagi setiap orang yang suka mengumpat serta
menista.” (al-Humazah: 1)

1571. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Cukuplah
seseorang itu memperoleh kejelekan apabila ia
menghinakan saudaranya sesama Muslim.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis ini sudah lampau uraiannya secara
panjang baru-baru ini – lihat Hadis no. 1567.

1572. Dari Ibnu Mas’ud r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Tidak dapat masuk
syurga seseorang yang dalam hatinya ada seberat timbangan seekor semut kecil dari kesombongan.” Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Sesungguhnya ada
seorang lelaki yang gemar sekali kalau pakaiannya bagus dan terumpahnya
bagus.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, juga
mencintai keindahan. Sombong itu ialah menolak petunjuk yang hak – yakni
kebenaran – serta menghinakan para manusia. (Riwayat Muslim)
Makna Batharul haqqi ialah menolak kebenaran, sedang “Ghamthubum”
ialah menghinakan mereka, yakni para manusia.

Uraian Hadis ini sudah lalu yang lebih jelas, yakni dalam bab-
Kesombongan.

1573. Dari Jundub bin Abdullah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w bersabda:
“Ada seorang lelaki berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan memberikan
pengampunan kepada si Fulan itu.” Allah azzawajalla lalu bersabda: “Siapakah
yang berani menyumpah-nyumpah atas namaKu bahwa Aku tidak akan
mengampuni si Fulan itu sesungguhnya aku telah mengampuni orang itu
dan Aku menghapuskan pahala amalanmu – yakni yang bersumpah tadi.”
(Riwayat Muslim) Bab 274

Larangan Menampakkan Rasa Gembira
Karena Adanya Bencana Yang Mengenai
Seorang Muslim
Allah Ta’ala berfirman:
‘Hanyasanya kaum mu’minin itu adalah sebagai orang-orang

yang sesaudara.’ (al-Hujurat: 10)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang senang kalau perbuatan keji tersiar di kalangan
orang-orang yang beriman, maka orang-orang yang sedemikian itu akan memperoleh
siksa yang pedih di dunia dan di akhirat.” (an-Nur: 19)

1574. Dari Watsilah bin al-Asqa’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau gembira karena adanya sesuatu bencana pada
saudaramu – sesama Muslim, sebab jikalau engkau demikian, maka Allah akan
memberikan kerahmatan kepada saudaramu itu sedang engkau sendiri akan
diberi cobaan – yakni bala’ – olehNya.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis Hasan.
Dalam bab ini termasuk pula Hadisnya Abu Hurairah yang lalu -lihat Hadis
no. 1567 – dalam bab Menyelidiki cela orang lain, yaitu: “Setiap orang Muslim
atas orang Muslim itu haram,” sampai akhirnya Hadis itu.
Bab 275
Haramnya Menodai Nasab — Keturunan —
Yang Terang Menurut Zahirnya Syara’
Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang beriman, lelaki atau
perempuan, tanpa adanya sesuatu yang mereka perbuat, maka orang-orang yang
menyakiti itu benar-benar telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata.” (al-
Ahzab: 58)

1575. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Ada dua perkara di kalangan para manusia yang keduanya itu
menyebabkan kekafiran pada mereka – jika dikerjakan dengan sengaja dan
mengetahui akan keharamannya, yaitu: menodai ke-turunan dan menangisi
dengan suara keras-keras kepada mayat.” (Riwayat Muslim)
Bab 276
Larangan Mengelabui Dan Menipu
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang beriman, lelaki atau perempuan,
tanpa adanya sesuatu yang mereka perbuat, maka orang-orang yang menyakiti itu
benar-benar telah menanggung kedustaan dan dosa yang nyata.” (al-Ahzab: 58)
1576. Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengangkat senjata – yakni memerangi -kepada kita, maka ia
bukanlah termasuk golongan kita – kaum Muslimin – dan barangsiapa yang
mengelabui – atau menipu – pada kita, maka iapun bukan termasuk golongan
kita.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain dari Imam Muslim disebutkan bahwasanya Rasulullah
s.a.w. berjalan melalui penjual setumpuk bahan makan, lalu beliau s.a.w.
memasukkan tangannya ke dalam makanan itu, kemudiari jari-jarinya terkena
basah. Beliau lalu bersabda: “Apakah ini, hai pemilik makanan.” Pemiliknya
itu menjawab: “Itu tadi terkena air hujan, ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi:
“Mengapa yang terkena air itu tidak engkau letakkan di bagian atas makanan
ini, sehingga orang-orang dapat mengetahuinya. Barangsiapa yang mengelabui
– atau menipu – kita, maka ia bukanlah termasuk golongan kita – kaum
Muslimin.” 1577. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua saling icuh-mengicuh.”
(Muttafaq ‘alaih) Arti icuh-mengicuh lihatlah Hadis no. 1567.
1578. Dari Ibu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
melarang pengicuhan.” (Muttafaq ‘alaih)

1579. Dari Ibnu’Umar radhiallahu’anhuma pula,katanya: “Ada seorang lelaki
yang memberitahukan kepada Rasulullah s.a.w. bahwasanya ia ditipu oleh
seseorang dalam berjual-beli, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau engkau
membeli – sesuatu dari seseorang, maka katakanlah padanya: “Harus tidak ada
penipuan.” Maksudnya jikalau terjadi ada penipuan, maka boleh dikembalikan
selama waktu tiga hari.” Aikhilabah dengan kha’ mu’jamah yang dikasrahkan
dan ba’ yang bertitik satu, artinya ialah penipuan

1580. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang merusakkan isteri seseorang – atau di usahakan supaya
isteri orang itu bercerai dari suaminya – atau hamba sahaya seseorang, maka ia
bukanlah termasuk golongan kita – kaum Muslimin.” (Riwayat Abu Dawud)
Khabbaba dengan kha’ mu’jamah lalu ba’ muwahhadah yang didobbelkan,
artinya merusakkan atau menipunya.
Bab 277
Haramnya Bercidera — Tidak Menepati Janji

Allah Ta’ala berfirman:
“Hai sekalian orang-orang yang beriman, tepatitah segala perjanjian.” (al-Maidah: 1)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Dan tepatiah perjanjian, karena sesungguhnya perjanjian itu akan ditanyakan.”
(al-lsra’: 34)

1581. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya Rasulullah s.a.w, bersabda:
“Ada empat macam perkara yang apabila kesemuanya ada di dalam diri
seseorang, maka orang itu adalah seorang munafik yang murni dan barangsiapa
yang di dalam dirinya ada salah satu dari empat macam perkara tadi, maka ia
dihinggapi oleh salah satu sifat kemunafikan.sehingga ia meninggalkan sifat
tersebut yaitu: apabila ia dipercaya berkhianat, apabila berbicara berdusta,
apabila berjanji tidak menepati dan apabila bertengkar melakukan kejahatan.”
(Muttafaq ‘alaih)
1582. Dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar dan Anas radhiallahu ‘anhum,
berkata: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Setiap orang yang bercidera – yakni tidak menepati janji – itu akan
memperoleh sebuah bendera pada hari kiamat, diucapkan: “Inilah percideraan
si Fulan.” (Muttafaq ‘alaih)

1583. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Setiap orang yang bercidera itu akan memperoleh sebuah bendera pada
pantatnya besok pada hari kiamat, bendera itu dinaikkan dan tingginya itu
menurut kecideraannya. Ingatlah, tiada seorang penciderapun yang lebih besar
dosa cideranya itu pada seorang penguasa umum.” (Riwayat Muslim)

1584. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Allah Ta’ala
berfirman: “Ada tigaorang yang Aku adalah lawan mereka pada hari kiamat,
yaitu seorang yang memberikan perjanjian padaKu, lalu bercidera – perjanjian
itu ialah hendak taat padaNya, juga seseorang yang menjual seorang merdeka –
dan disiar-siarkan sebagai budak atau hamba sahaya, lalu ia makan wang harganya
dan seseorang yang menggunakan tenaga buruh, lalu buruh itu telah
memenuhi kewajibannya sebagaimana mestinya, sedang orang itu tidak
memberikan upahnya.” (Riwayat Bukhari) Bab 278
Larangan Mengundat-undat —
Yakni Membangkit-bangkitkan
Sesuatu Pemberian Dan Sebagainya

Allah Ta’ala berfirman: “Hai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah engkau
semua membatalkan sedekah-sedekahmu semua – yakni meleburkan pahala sedekah-
sedekah itu – dengan sebab mengundat-undat serta berbuat sesuatu yang menyakiti hati
– orang yang disedekahi.” (al-Baqarah: 264)

Allah Ta’ala berfirman pula:
“Orang-orang yang menafkahkan harta-hartanya fi-sabilillah -yakni untuk membela
agama Allah – dan pemberiannya itu tidak diiringi dengan mengundat-undat serta
perbuatan yang menyakiti hati, maka mereka itulah yang memperoleh pahala besar.”
(al-Baqarah: 262)

1585. Dari Abu Zar r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Ada tiga macam orang
yang tidak diajak bicara oleh Allah -dengan pembicaraan keridhaan, tetapi
dengan nada kemarahan pada hari kiamat dan tidak pula dilihat olehNya –
dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan, serta tidak pula disucikan
olehNya -yakni dosa-dosanya tidak diampuni – dan mereka itu akan
mendapatkan siksa yang menyakitkan sekali.” Katanya: “Rasulullah s.a.w.
membacakan kalimat di atas itu sampai tiga kali banyaknya.” Selanjutnya Abu
Zar berkata: “Mereka itu merugi dan menyesal sekali, siapakah mereka itu, ya
Rasulullah?” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Yaitu orang yang melemberehkan – pakaiannya sampai menyentuh tanah, orang yang mengundat-undat – yakni
apabila memberikan sesuatu seperti sedekah dan Iain-Iain lalu menyebutkan
kebaikannya kepada orang yang diberi itu dengan maksud mengejek orang
tadi – serta orang yang melakukan barangnya -maksudnya membuat barang
dagangannya menjadi laku atau terjual – dengan jalan bersumpah dusta – seperti
mengatakan barangnya itu baik sekali atau tidak ada duanya lagi.” (Riwayat
Muslim)
Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: “Almusbilu izarahu”
artinya orang yang melemberehkan sarungnya atau pakaiannya dan Iain-Iain
sampai lebih bawah dari kedua mata kakinya dengan maksud kesombongan.
Bab 279
Larangan Berbangga Diri Dan Melanggar Aturan

Allah Ta’ala berfirman:

“Janganlah engkau melagak-lagak dirimu sendiri sebagai orang suci. Allah lebih
mengetahui kepada siapa yang bertaqwa.” (an-Najm: 32)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Hanyasanya ada jalannya untuk menyalahkan orang-orang yang melakukan
penganiyaan terhadap para manusia dan melanggar aturan di bumi tiada
menurut kebenaran. Mereka itulah yang akan memperoleh siksa yang pedih.”
(as-Syura: 42)

1586. Dari ‘lyadh bin Himar r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan wahyu kepadaku supaya
engkau semua itu bersikap merendahkan diri, sehingga tidak seorangpun yang melanggar aturan terhadap diri orang lain, dan tidak pula seseorang itu
membanggakan dirinya kepada orang lain.” (Riwayat Muslim)
Ahli lughah berkata: Albaghyu ialah melanggar aturan serta berlagak
sombong.
1587. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
Jikalau ada seseorang berkata: “Para manusia sudah rusak binasa,”
maka orang itu sendirilah yang paling rusak di antara mereka,”
(Riwayat Muslim)
Riwayat yang masyhur berbunyi: Ahlakuhum dengan rafa’nya kaf –
sebagaimana di atas itu dan ada yang meriwayatkan dengan nasabnya kaf – lalu
berbunyi Ahlakahum artinya ia sendirilah yang merusakkan mereka.
Larangan semacam di atas itu adalah untuk orang yang mengatakan
sedemikian tadi dengan tujuan keheranan pada diri sendiri – sebab dirinya
sendiri yang tidak rusak – juga dengan maksud menganggap kecil semua manusia
dan merasa dirinya lebih tinggi di atas mereka. Yang sedemikian ini yang
diharamkan.

Tetapi ada orang yang mengatakan sebagaimana di atas, yaitu: “Para manusia
sudah rusak” dan sebabnya ia mengatakan demikian karena ia melihat adanya
kekurangan di kalangan para manusia itu, perihal urusan agama mereka, serta
ia mengatakan itu karena merasa sedih atas nasib yang mereka alami, juga
merasa kasihan pada agama, maka perkataannya itu tidak ada salahnya.
Demikianlah yang ditafsirkan oleh para ulama dan begitulah cara mereka
itu memisah-misahkan persoalan ini. Di antara yang mengucapkan seperti ini dari golongan para imam-imam yang alim-alim yaitu Malik bin Anas, al-
Khaththabi, al-Humaidi dan Iain-Iain. Hal ini sudah saya terangkan dengan
jelas dalam kitab al-Adzkar.
Bab 280

Haramnya Meninggalkan Bercakap — Yakni Tidak
Sapa-menyapa — Antara Kaum Muslimin Lebih Dari Tiga
Hari Kecuali Karena Adanya Kebid’ahan Dalam Diri
Orang Yang Ditinggalkan Bercakap Tadi — Yakni Yang
Tidak Disapa — Atau Karena Orang Itu Menampakkan
Kefasikan Dan Lain-lain Sebagainya

Allah Ta’ala berfirman:

“Hanyasanya orang-orang mu’min itu adalah saudara, maka berbuat baiklah –
damaikanlah – antara kedua saudaramu.” (al-Hujurat: 10)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Janganlah engkau semua tolong-menolong dalam hal yang dosa dan
pelanggaran hukum.” (al-Maidah: 2)

1588. Dari Anas r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau
semua saling putus-memutuskan -hubungan persahabatan atau kekeluargaan
– jangan pula saling belakang-membelakangi dan janganlah benci-membenci
serta jangan pula dengki-mendengki dan jadilah engkau semua, hai hamba-
hamba Allah sebagai saudara-saudara. Tidak halallah bagi seseorang Muslim kalau meninggalkan – yakni tidak menyapa -saudaranya lebih dari tiga hari.”
(Muttafaq ‘alaih)
1589. Dari Abu Ayyub r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada halallah bagi seseorang Muslim kalau meninggalkan -yakni tidak
menyapa – saudaranya lebih dari tiga malam – yakni keduanya saling bertemu
lalu yang seorang berpaling ke sini dan yang seorang lagi berpaling ke sana.
Yang terbaik di antara kedua orang itu ialah orang yang memulai mengucapkan
salam.” (Muttafaq ‘alaih)

1590. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ditunjukkanlah amalan-amalan itu – kepada Allah oleh para
malaikat – pada hari Senin dan Kemis, lalu Allah memberikan
pengampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan
sesuatu dengan Allah, melainkan seseorang yang antara dirinya
dengan saudaranya itu ada rasa kebencian – dalam hati masing-
masing – lalu Allah berfirman: “Tinggalkanlah kedua orang ini –
yakni jangan dihapuskan dulu catatan dosanya – sehingga keduanya
itu suka berdamai.” (Riwayat Muslim)
1591. Dari Jabir r.a.,katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya syaitan itu sudah berputus asa untuk dapat disembah oleh
orang-orang yang bersembahyang di daerah ]azirah Arabiah, tetapi masih tetap
dapat membuat kerusakan di antara mereka itu – yakni para penduduk di situ.”
(Riwayat Muslim)
Attahrisy yaitu membuat kerusakan dan mengubah-ubah hati mereka serta
mengusahakan supaya mereka itu saling putus-memutuskan – hubungan
persaudaraan dan persahabatan.
1592. Dari Abu Hurairah r,a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak halallah bagi seseorang Muslim kalau meninggalkan -yakni tidak
menyapa – saudaranya lebih dari tiga hari. Maka barangsiapa yang
meninggalkan – tidak menyapa – lebih dari tiga hari, lalu ia meninggal dunia,
maka masuklah ia ke dalam neraka.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud
dengan isnad menurut syaratnya Imam-imam Bukhari dan Muslim.

1593. Dari Abu Khirasy yaitu Hadrad bin Hadrad al-Aslami, ada yang
mengatakan: Assulami Asshahabi r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang meninggalkan – yakni tidak menyapa -saudaranya
selama setahun, maka ia seolah-olah mengalirkan darahnya – yakni mengenai
kebesaran dosanya seperti membunuhnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih

1594. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Tidak halallah
bagi seseorang mu’min itu meninggalkan -yakni tidak menyapa – seseorang
mu’min lainnya lebih dari tiga hari. Jikalau telah berjalan lebih dari tiga
hari, maka hendaklah menemuinya dan mengucapkan salam padanya. Jikalau
yang diberi salam itu membalas ucapan salamnya, maka keduanya telah
berserikat – yakni sama-sama – memperoleh pahala, tetapi jikalau yang diberi
salam itu tidak membalas padanya, maka ia telah kembali dengan membawa dosa,
sedang yang sudah memberi salam itu telah keluar dari sebutan meninggalkan
– yakni tidak dianggap bahwa ia tidak menyapa.”
Diriwayatkan oleh Imam Dawud dengan isnad hasan. Imam Abu Dawud berkata: “Meninggalkan – yakni tidak menyapa – ini
kalau karena Allah Ta’ala – misalnya yang tidak disapa itu seorang fasik
atau suka kebid’ahan dan Iain-Iain yang dibenarkan menurut agama –
maka dalam hal yang sedemikian itu tidak ada dosanya sama sekali.”
Bab 281
Larangan Berbisiknya Dua Orang Tanpa Orang Yang Ketiga
Dan Tanpa Izinnya Yang Ketiga Ini, Melainkan Karena
Adanya Keperluan, Ya’itu Kalau Kedua Orang Itu
Bercakap-cakap Secara Rahasia Sekira Orang Yang Ketiga
Itu Tidak Dapat Mendengarkannya Atau Yang Semakna
Dengan Itu, Umpamanya Keduanya Bercakap-cakap Dengan
Sesuatu Bahasa Yang Tidak Dimengerti Oleh Orang Yang
Ketiga Tadi

Allah Ta’ala berfirman:
“Hanyasanya berbisik-bisik itu adalah dari tipudaya syaitan.” (al-Mujadalah: 10)
1595. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Jikalau mereka – yakni yang sedang berada dalam majlis – itu bertiga
orang, maka janganlah yang dua orang berbisik-bisik, meninggalkan orang
yang ketiga.” (Muttafaq ‘alaih)
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan ia
menambahkan: Abu Shalih berkata kepada Ibnu Umar: “Jikalau berempat
orang, bagaimanakah?” la menjawab: “Tidak membahayakan engkau – yakni
kalau orang yang ada di situ empat jumlahnya, maka kalau yang dua orang
berbisik-bisik tidak ada halangannya yakni boleh saja.
Juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dari Abdullah
bin Dinar, katanya: “Saya bersama Abdullah bin Umar berada di rumah Khalid
bin ‘Uqbah yang ada di pasar, lalu ada seorang lelaki datang hendak
mengajak Abdullah bin Umar berbicara secara berbisik-bisik, sedangkan yang bersama Abdullah bin Umar itu tidak ada orang lain kecuali saya – yakni
Abdullah bin Dinar. Abdullah bin Umar lalu memanggil seorang lelaki lain,
sehingga jumlah kita adalah empat orang. Abdullah bin Umar lalu berkata
kepada saya dan juga kepada orang ketiga yang baru dipanggilnya tadi:
“Mundurlah engkau berdua – maksudnya tetap berdiamlah engkau berdua –
di sini sementara waktu, sebab sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Janganlah dua orang itu berbisik-bisik dengan meninggalkan
seorang yang lain.”

1596. Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau engkau
semua bertiga orang, maka janganlah yang dua orang itu berbisik-bisik dengan
meninggalkan seorang yang lain, sehingga engkau semua bercampur dengan
orang banyak – yakni jumlah yang hadir itu ada empat orang atau lebih –
perlunya ialah agar supaya yang sedemikian – berbisik-bisiknya dua orang –
tadi tidak menyebabkan kesedihan kepada orang yang tidak ikut diajak
berbisik-bisik itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 282
Larangan Menyiksa Hamba Sahaya, Binatang,
Wanita Dan Anak Tanpa Adanya Sebab Yang
Dibenarkan Oleh Syara’ Ataupun Dengan Cara
Yang Melebihi Kadar Kesopanan — Meskipun
Dibenarkan Oleh Syara’
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-
orang miskin, tetangga yang menjadi kerabat, tetangga yang bukan kerabat, teman
dalam perjalanan, orang yang dalam perjalanan dan apa-apa yang menjadi milik
tangan kananmu – yakni hamba sahaya. Sesungguhnya Allah i tu tidak menyukai
orang-orang yang sombong serta membanggakan diri.” (an-Nisa’: 36)

1597. Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Ada seorang wanita yang disiksa – oleh Allah – dengan sebab seekor
kucing. la penjarakan binatang itu sehingga mati lalu masuklah ia dalam
neraka. Wanita itu tidak suka memberinya makan dan minum ketika ia
memenjarakannya itu, juga tidak dibiarkannya makan dari binatang-binatang
kecil yang merayap di bumi.” (Muttafaq ‘alaih)
Khasyasyul ardhi dengan fathahnya kha’ mu’jamah dan dengan syin
mu’jamah yang didubbelkan, artinya ialah binatang-binatang merayap serta
yang kecil-kecil yang ada di bumi.
1598. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pula bahwasanya ia berjalan melalui
beberapa pemuda dari golongan Quraisy. Mereka itu membuat seekor burung
yang hidup – guna dipakai sebagai sasaran – dan mereka melemparnya kepada
pemilik burung itu, mereka memberikan setiap anak panah mereka yang
tidak mengenai sasarannya. Setelah mereka melihat Ibnu Umar, merekapun lalu
berpisah-pisah – yakni buyar. Kemudian Ibnu Umar berkata: “Siapakah yang
melakukan ini? Allah melaknat orang yang. mengerjakan sedemikian ini.
Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melaknat kepada orang yang membuat sesuatu
benda yang ada ruhnya -yakni yang hidup – untuk dijadikan sebagai sasaran –
misalnya untuk lempar-lemparan atau tembak-tembakan.” (Muttafaq ‘alaih)
Algharadhu dengan fathahnya ghain mu’jamah dan ra’, yaitu suatu yang
dituju atau benda yang dijadikan tujuan yakni sasaran.

1599. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. melarang kalau binatang-
binatang itu dipenjarakan untuk dibunuh.” (Muttafaq ‘alaih)
Maknanya ialah dipenjarakan dengan tujuan supaya mati dengan cara itu –
yakni kelaparan.

1600. Dari Abu ‘Ali, yaitu Suwaid bin Muqarrin r.a., katanya: “Saya telah
mengetahui bahwa saya adalah orang ketujuh dari tujuh orang bersaudara dari
golongan anak-anak Muqarrin. Kita tidak mempunyai seorang pelayan pun
melainkan seorang saja, kemudian pelayan kita itu dipukul oleh saudara kita
yang terkecil – di antara saudara-saudara yang Iain-Iain. Selanjutnya Rasulullah s.a.w. menyuruh kepada kita supaya pelayan tersebut kita merdekakan –
sebab ia adalah hamba sahaya.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Saya adalah orang ketujuh dari semua
saudaraku.”

1601. Darr Abu Mas’ud al-Badri r.a., katanya: “Saya pernah memukul bujang
saya dengan cemeti, lalu saya mendengar suara dari belakang saya, berkata:
“Ketahuilah hai Abu Mas’ud.” Saya tidak memahami benar-benar isi suara
yang diucapkan karena kemarahan. Setelah mendekat kepada saya, tiba-tiba
yang bersuara itu adalah Rasulullah s.a.w. dan selanjutnya bersabda:
“Ketahuilah hai Abu Mas’ud bahwasanya Allah itu lebih kuasa untuk
berbuat semacam itu padamu daripada engkau berbuat sedemikian tadi pada
bujang ini.”
Saya lalu berkata: “Saya tidak akan memukul seorang hamba sahayapun
sehabis peristiwa ini untuk selama-lamanya.”
Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu cemeti itu jatuh dari tanganku
karena kewibawaan beliau s.a.w.
Dalam riwayat lain lagi disebutkan: Saya lalu berkata: “Ya Rasulullah, ia
saya nyatakan merdeka karena mengharapkan keridhaan Allah.” Kemudian
beliau s.a.w. bersabda: “Andaikata engkau tidak berbuat sedemikian ini – yakni
memerdekakan hamba sahaya yang sudah dipukuli tadi – niscayalah engkau
akan dijilat oleh api neraka atau akan disentuh api neraka itu.” Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dengan semua riwayat di atas itu.

1602. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda: “Barangsiapa yang memukul bujangnya dan ia tidak diterapi
hukuman had – sebagai balasan pukulannya – atau menempeleng bujangnya, maka kaffarah – yakni dendanya – ialah memerdekakan hamba sahayanya itu.”
(Riwayat Muslim)

1603. Dari Hisyam bin Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya ia berjalan di negeri Syam melalui beberapa orang dari Anbath.
Mereka itu didirikan di bawah matahari – yakni dijemur di panas matahari-
dandituangkanlah minyak di atas kepala mereka. la berkata: “Ada peristiwa
apakah ini?” la memperoleh jawaban bahwa mereka itu disiksa karena
belum memenuhi pembayaran pajak – kepada negara.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Mereka itu ditahan dengan sebab urusan
pajak.” Hisyam lalu berkata: “Saya menyaksikan niscayalah saya pernah
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menyiksa
orang yang menyiksa para manusia ketika ada di dunia.” Selanjutnya ia masuk
ke tempat amir – yakni gubernur – lalu ia diberitahu tentang hal itu,
kemudian amir
itu menyuruh supaya orang-orang yang disiksa tadi didatangkan di
mukanya lalu mereka dilepaskan semuanya. (Riwayat Muslim)
Al-Anbath ialah para petani dari golongan orang-orang ‘ajam
– yakni bukan Arab di Syam.

1604. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w.
melihat seekor keledai yang ditandai di mukanya -dengan menggunakan
pengicisan dengan api – lalu beliau mengingkari yang sedemikian itu – yakni
menganggapnya sebagai suatu kemungkaran atau hal yang dosa. Kemudian
ibnu Abbas berkata: “Demi Allah, saya tidak akan menandai keledai itu melainkan di bagian tubuh yang jauh sekali dari mukanya.” la lalu menyuruh
mendatangkan keledainya lalu diciskanlah – diseterikakanlah – pada kedua
pantatnya. Ibnu Abbas adalah pertama-tama orang yang mengeciskan pada
kedua pantat binatang. (Riwayat Muslim)
Alja’iratani ” ialah ujung pantat yang ada di sekitar buritan – yakni
dubur.

1605. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma pula bahwasanya Nabi s.a.w.
dilalui oleh seekor keledai yang telah diberi tanda ciscisan – dengan api – di
mukanya, lalu beliau s.a.w. bersabda:”Allah melaknat kepada orang yang
menandai sedemikian ini.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan pula: Rasulullah s.a.w.
melarang memukul di muka dan memberi tanda cis-cisan di muka.
Bab 283
Haramnya Menyiksa Dengan Api Pada Semua
Binatang, Sampai Pun Kutu Kepala Dan Sebagainya

1606. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. mengirimkan kita
– beberapa orang – sebagai perutusan, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Jikalau
engkau semua dapat menemukan si Fulan dan si Fulan,” yakni dua orang dari
golongan kaum Quraisy yang juga disebutkan namanya oleh beliau s.a.w. itu.
Selanjutnya beliau bersabda: “Kalau dapat menemukan keduanya itu, maka
bakar sajalah keduanya itu dengan api.” Setelah kita hendak keluar – yakni
berangkat menjalankan tugas, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda lagi:
“Sesungguhnya saya tadi telah menyuruh engkau semua untuk membakar
kedua orang itu, yakni si Fulan dan si Fulan, tetapi sesungguhnya tidak akan
menyiksa dengan menggunakan api itu, melainkan Allah belaka. Jadi jikalau
engkau berdua menemukan keduanya tersebut, maka bunuh sajalah
mereka – dengan alat selain api.” (Riwayat Bukhari)

1607. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Kita semua bersama Rasulullah s.a.w.
dalam suatu perjalanan, lalu beliau berangkat untuk menyelesaikan hajatnya.
Kemudian kita melihat seekor burung kecil bersama dua ekor anaknya. Kita
lalu mengambil kedua anak burung tersebut. Selanjutnya burung induknya itu datanglah sambil menaungkan sayapnya – seolah-olah mencari sesuatu – Nabi
s.a.w. datang kembali kemudian bersabda: “Siapakah yang mengejutkan
burung itu dengan mengambil anaknya? Kembali-kanlah anaknya itu
kepadanya!”
Seterusnya beliau s.a.w. juga melihat perkampungan semut yang telah kita
bakar, lalu bersabda: “Siapakah yang membakar ini?” Kita menjawab: “Kita semua
yang membakar.” Kemudian bersabda lagi: “Sesungguhnya saja tidak patutlah
menyiksa dengan menggunakan api itu melainkan Tuhan yang menguasai api
neraka itu.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad shahih.
Ucapannya Qaryatu namlin maknanya ialah tempat semut bersama
dengan semut-semut lain yakni perkampungan semut.

Bab 284
Haramnya Menunda-nundanya Seorang Kaya
Pada Sesuatu Hak Yang Diminta Oleh Orang Yang Berhak
Memperolehnya

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kepadamu semua supaya engkau semua
memberikan semua amanat itu kepada para ahlinya – yakni yang berhak
menerima amanal-amanat itu.” (an-Nisa’: 58)
Allah Ta’ala juga berfirman:

“Tetapi jikalau yang seorang mempercayai kepada yang lainnya, maka
hendaklah yang dipercaya itu memberikan – yakni mengem-balikan – barang
yang diamanatkan padanya.” (al-Baqarah: 283)
1608. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Menunda-nundanya seseorang kaya – dalam memberikan
pembayaran atau mengembalikan hutang – adalah suatu
penganiayaan. Dan jikalau seseorang di antara engkau semua
dihiwalahkan-dipertukarkan hutangnya -atas seseorang yang kaya, maka
hendaknya suka dihiwalahkan itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Makna utbi’a ialah dihiwalahkan atau dipertukarkan. Misalnya
A mempunyai hutang pada B dan B mempunyai hutang pada C. Lalu B
berkata kepada A: “Hutangmu kepadaku itu saya hiwalahkan kepada C.
Jadi mengembalikannya juga kepada C sebanyak jumlah hutangmu
kepadaku itu.”
A yang diminta demikian itu hendaklah suka menerima, sebab
pokoknya ia berhutang dan wajib mengembalikan.
Jikalau hutang B kepada C lebih banyak daripada hutang A kepada B,
tentulah sisanya itu tetap menjadi urusan antara B dan C saja, setelah
sebagian hutang itu dihiwalahkan kepada A.
Bab 285

Makruhnya Seseorang Yang Menarik Kembali
Hibah — Yakni Pemberiannya — Kepada Orang
Yang Akan Dihibahi, Sebelum Diterimakan Kepada
Yang Akan Dihibahi Itu Atau Hibah Yang
Akan Diberikan Kepada Anaknya Dan Sudah
Diterimakan Atau Belum Diterimakan Padanya,
Juga Makruhnya Seseorang Membeli Sesuatu
Benda Yang Disedekahkan Dari Orang Yang
Disedekahi Atau Yang Dikeluarkan Sebagai
Zakat Atau Kaffarah — Denda — Dan Iain-Iain
Sebagainya, Tetapi Tidak Mengapa Kalau
Membelinya Itu Dari Orang Lain — Bukan Yang
Disedakahi Atau Dizakati Dan Sebagainya —
Karena Sudah Berpindah Milik Dari Orang
Ini Ke Orang Lain Itu

1609. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
“Orang yang kembali dari hibahnya – yakni menarik kembali apa
yang sudah diberikannya itu – adalah seperti anjing yang kembali makan
tumpah-tumpahannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda:
“Perumpamaan orang yang mengambil kembali sedekahnya adalah
seperti seekor anjing yang tumpah-tumpah lalu ia kembali kepada
tumpah-tumpahannya itu, kemudian memakannya.”
Dalam riwayat lain disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: “Orang yang
kembali pada hibahnya-yakni menarik kembali pemberiannya -adalah
seperti orang yang kembali makan tumpah-tumpahannya.”

1610. Dari ‘Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: “Saya menyedekahkan
seekor kuda – kepada sebagian orang-orang yang berjihad – fi-sabilillah,
lalu orang yang diberi ini menyia-nyiakannya – yakni kurang mengurusi
makan minumnya dan Iain-Iain – lalu saya ingin membelinya dan saya
mengira bahwa ia akan menjualnya dengan harga murah. Kemudian
saya bertanya kepada Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda: “Jangan engkau
membeli kuda itu-yakni yang sudah engkau sedekahkan itu dari orang
yang menerimanya sendiri – dan janganlah engkau menarik kembali
apa-apa yang telah engkau sedekahkan, sekalipun ia akan
menjualnya itu padamu dengan harga sedirham saja, Sebab sesungguhnya
orang yang menarik kembali sedekahnya adalah seperti orang yang kembali
makan tumpah-tumpahannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Hamaltu ‘a/a farasin fi-sabilillah maknanya ialah saya bersedekah seekor kuda
kepada sebagian orang yang melakukan jihad fi-sabilillah. Bab 286

Mengokohkan Keharamannya Makan
Harta Anak Yatim

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang makan harta-harta anak yatim dengan cara
penganiayaan, maka hanyasanya yang mereka makan dalam perut mereka i tu adalah api
neraka dan mereka akan masuk dalam neraka Sa’ir.” (an-Nisa’: 10)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Dan janganlah engkau mendekat kepada harta-harta anak yatim, melainkan
dengan cara penggunaan yang lebih baik – seperti menjaga dan
memperkembangkannya.” (al-An’am: 152)

Allah Ta’ala juga berfirman:

Dan mereka sama menanyakan tentang anak-anak yatim. Katakanlah:
“Berbuat baik kepada mereka itu adalah yang terbaik dan jikalau engkau semua bergaul
baik-baik dengan mereka, maka mereka itupun saudara-saudaramu dan Allah
mengetahui siapa orang yang membuat kerusakan dari orang yang berbuat kebaikan.”
(al-Baqarah: 220)
1611. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., bersabda: “Jauhilah tujuh macam
hal yang merusakkan.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah.apakah tujuh
macam hal itu?” Beliau s.a.w
bersabda:
“Yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah, sihir, membunuh jiwa yang
diharamkan oleh Allah, melainkan dengan hak – yakni berdasarkan kebenaran
menurut syariat Agama Islam – makan harta riba, makan harta anak yatim,
mundur pada hari berkecamuknya peperangan serta mendakwa kaum wanita
yang muhshan – pernah bersuami-lagi mu’min dan pula lalai -dengan dakwaan
melakukan zina. (Muttafaq ‘alaih)
Almubiqat artinya hal-hal yang merusakkan.
Bab 287

Memperkeraskan Haramnya Harta Riba
Allah Ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang makan riba itu tidak dapat berdiri tegak, melainkan
sebagaimana berdirinya orang yang kemasukan syaitan. Yang sedemikian itu disebabkan
karena mereka mengatakan: “Sesungguhnya berjual-beli itu sama dengan riba.”
Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba dan barangsiapa yang
memperoleh nasihat dari Tuhannya, lalu ia berhenti sesudah itu, maka apa-apa yang
dilakukan dahulu sebelum itu habislah sudah dosanya, sedang perkaranya diserahkan
kepada Allah. Tetapi barangsiapa yang kembali lagi mengerjakannya – sesudah mengerti
keharamannya, maka itulah orang-orang yang akan mendapatkan neraka dan mereka di
dalamnya itu kekal selama-lamanya.
Allah menghapuskan keberkahan harta riba itu dan memperkembangkan pahala
sedekah-sedekah,” kamu sampai kepada firmanNya:
“Hai sekalian orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
tinggalkanlah sisa-sisa riba,” sampai habisnya ayat.
Adapun hadis-hadisnya yang berhubungan dengan ini, maka banyak sekali
dalam kitab shahih lagi termasyhur, di antaranya ialah hadisnya Abu Hurairah
yang sudah lampau uraiannya dalam bab sebelum ini – lihat hadis no. 1609

1612. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu melaknatkan
kepada orang yang makan harta riba dan orang yang menyerahkan harta riba
itu kepada orang lain – sebagai hibah, hadiah dan sebagainya.” (Riwayat
Muslim) Imam Termizi dan Iain-Iain menambahkan: “Juga dilaknat kedua orang
saksinya serta juru tulisnya.”
Bab 288

Haramnya Ria’— Pamer Atau
Memperlihatkan Kebaikan
Diri Sendiri

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah mereka itu diperintah melainkan untuk menyembah kepada
Allah dengan bersikap ikhlas terhadap agamaNya, lagi mencondongkan diri,” sampai
habisnya ayat.
(al-Bayyinah: 5)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Janganlah engkau semua membatalkan sedekah-sedekahmu semua – yakni
menghapuskan pahala sedekah-sedekah itu – dengan sebab melakukan undat-undat –
membanggakan kebaikan daripada orang yang diberi – serta menyakiti hati. Orang
sedemikian ini adalah sama dengan orang yang menafkahkan hartanya semata-mata
karena hendak berbuat ria’ kepada para manusia,” sampai habisnya ayat. (al-Baqarah:
214)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Mereka itu suka melakukan ria’ kepada para manusia dan tidak
berzikir – yakni ingat – kepada Allah, meiainkan hanya sedikit
sekali.” (an-Nisa’: 142)
1613. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah yang paling tidak
membutuhkan kepada serikat-yakni sekutu – di antara orang-orang
yang memerlukan serikat – yakni sekutu – itu.
Barangsiapa yang mengerjakan sesuatu amalan dan ia
memperserikatkan – menyekutukan – besertaKu dengan yang selain
Aku untuk mendapatkan pahalanya amalan tadi, maka Kutinggalkanlah
orang itu-yakni tidak Kuperdulikan-dan pula apa yang diserikatkan
itu.” (Riwayat Muslim)

1614. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya pertama-tama orang yang diputuskan – diperiksa
ketika diadakan hisab – pada hari kiamat ialah seseorang lelaki yang mati
syahid – mati dalam peperangan fi-sabilillah. Orang itu didatangkan, lalu
diperlihatkanlah kepadanya akan kenikmatan -yangakan dimilikinya,
kemudian iapun dapat melihatnya pula. Allah berfirman: “Apakah yang
engkau amalkan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan
itu?” Orang itu menjawab: “Saya berperang untuk membela agamaMu –
ya Tuhan – sehingga saya terbunuh dan mati syahid.” Allah berfirman:
“Engkau berdusta tetapi sebenarnya engkau berperang itu ialah supaya
engkau dikatakan sebagai seorang yang berani dan memang engkau
sudah dikatakan sedemikian itu.” Orang itu lalu disuruh minggir,
kemudian diseret atas mukanya sehingga dilemparkan ke dalam api
neraka. Selanjutnya ialah seorang lelaki yang belajar sesuatu ilmu agama dan
mengajarkannya serta membaca al-Quran, ia didatangkan, lalu
diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat
diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya. Allah berfirman: “Apakah
amalan yang sudah engkau kerjakan sehingga engkau dapat
memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?” Orang itu menjawab: “Saya
belajar sesuatu ilmu dan sayapun mengajarkannya, juga saya membaca
al-Quran untuk mengharapkan keridhaanMu.” Kemudian Allah
berfirman: “Engkau berdusta, tetapi sesungguhnya engkau belajar ilmu
itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang alim, juga engkau
membaca al-Quran itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang
pandai dalam membaca al-Quran dan memang engkau telah dikatakan
sedemikian itu. Selanjutnya orang itu disuruh minggir dan diseret atas
mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka.
Ada pula seorang lelaki yang telah dikaruniai kelapangan hidup oleh Allah
dan pula diberi berbagai macam hartabenda. la didatangkan lalu
diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya
dan ia juga dapat melihatnya itu. Allah berfirman: “Apakah amalan yang
sudah engkau lakukan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan
itu?” la menjawab: “Tiada suatu jalanpun yang Engkau cinta kalau jalan itu
diberikan nafkah, melainkan sayapun menafkahkan harta saya untuk jalan tadi
karena mengharapkan keridhaanMu.” Allah berfirman: “Engkau berdusta,
tetapi engkau telah mengerjakan yang sedemikian itu supaya dikatakan:
“Orang itu amat dermawan sekali” dan memang sudah dikatakan sedemikian
itu.” Orang itu lalu disuruh minggir terus diseret atas mukanya sehingga
dilemparkanlah ia ke dalam api neraka.” (Riwayat Muslim)
Jariun dengan fathahnya jimdan kasrahnya ra’ serta mad, artinya ialah
seorang yang berani lagi cerdas berfikir.
1615. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ada beberapa
orang yang berkata padanya: “Sesungguhnya kita ini kalau masuk ke tempat
sultan-sultan kita, lalu kita mengatakan kepada mereka itu dengan kata-kata
yang berlainan dengan apa yang kita bicarakan jikalau kita sudah keluar dari
sisi sultan-sultan
itu.”
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma lalu berkata: “Kita semua menganggap
yang sedemikian itu sebagai suatu kemunafikan di zaman Rasulullah s.a.w.
dahulu.” (Riwayat Bukhari)

1616. Dari Jundub bin Abdullah bin Sufyan r.a., katanya: “Nabi s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang memperlihatkan amalannya karena ria’, maka Allah akan
memperlihatkan – ketidak ikhlasannya itu – dan barangsiapa yang berbuat
ria’, maka Allah akan menampakkan keria’annya itu.” (Muttafaq ‘alarh)
Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari riwayat Ibnu Abbas. Samma’a
dengan tasydidnya mim, artinya ialah mempertontonkan amalannya kepada
para manusia dengan tujuan ria’. Samma’al- lahu bihi, artinya Allah akan
membuka kedoknya itu pada hari kiamat
Adapun makna Man raa’aa raa’allahu bihi ialah barangsiapa yang
memperlihatkan kepada para manusia akan amal shalihnya, supaya ia
dianggap sebagai orang yang agung atau tinggi dipandangan mereka, padahal
sebenarnya ia tidak sebagaimana yang diperlihatkan itu, maka Allah akan mempertontonkan rahasia hatinya itu kepada seluruh makhluk pada hari
kiamat.

1617. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan yang semestinya
dapat digunakan untuk memperoleh keridhaan Allah ‘Azzawajalla dengan
ilmunyatadi, tetapi ia mempelajarinya itu tidak ada maksud lain kecuali untuk
memperoleh sesuatu kebendaan dari harta dunia, maka orang tersebut tidak
akan dapat menemukan bau harumnya syurga pada hari kiamat,” yakni bau
harum yang ada dalam syurga.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
Hadis-hadis lain yang berhubungan dengan bab ini amat banyak sekali lagi
masyhur-masyhur.
Bab 289
Sesuatu Yang Disangka Sebagai
Ria’, Tetapi Sebenarnya
Bukan Ria’

1618. Dari Abu Zar r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ditanya: “Bagaimanakah
pendapat Tuan perihal seseorang lelaki yang mengerjakan suatu amalan yang
baik dan ia mendapatkan pujian dari orang banyak karena amalannya itu?”
Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Yang sedemikian itulah kegembiraan seorang
mu’min yang diterima secara segera – yakni semasih di dunia sudah dapat
merasakan kenikmatannya. (Riwayat Muslim)
Bab 290
Haramnya Melihat Kepada Wanita Ajnabiyah
Bukan Mahramnya — Dan Kepada Orang
Banci Yang Bagus Tanpa Ada Keperluan Yang Dibenarkan
Menurut Syara’

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman itu, supaya mereka memejamkan
mata mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (an-Nur: 30)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu seluruhnya akan
ditanyakan – perihal perbuatannya masing-masing.” (al-lsra’: 36)

Allah Ta’ala berfirman pula:
“Allah Maha Mengetahui akan kekhianatan mata serta apa yang tersembunyi dalam
hati.” (Ghafir: 19)

Kekhianatan mata maksudnya ialah pandangan mata kepada sesuatu yang
terlarang menurut agama, juga kedipan atau kerlingan mata untuk
mengejek dan membawa kepada jalan yang salah.

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Sesungguhnya Tuhanmu itu senantiasa mengadakan pengintaian.” (al-Fajr: 14)

1619. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sudah
ditentukan atas anak Adam – manusia – perihal bagiannya dari zina, ia
akan mendapatkannya itu dengan pasti. Adapun kedua mata, maka
zinanya ialah melihat, kedua telinga, zinanya ialah mendengarkan, lisan,
zinanya iaiah berbicara, tangan, zinanya ialah mengambil, kaki, zinanya
iaiah melangkah, hati bernafsu dan menginginkan dan yang sedemikian
itu akan dibenarkan oleh kemaluan atau didustakannya.” (Muttafaq
‘alaih) Ini adalah lafaznya Imam Muslim, sedang riwayatnya Imam
Bukhari adalah diringkaskan.

1620. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Takutlah engkau
semua duduk di jalan-jalan.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kita tidak
mempunyai tempat lain untuk tempat kita duduk-duduk, kitapun bercakap-
cakap di jalan-jalan itu.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Jikalau engkau semua
enggan, melainkan akan tetap duduk-duduk di situ, maka berilah pada jalan-
jalan itu akan haknya.” Mereka bertanya: “Apakah haknya jalan itu, ya
Rasulullah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu memejamkan mata, menahan diri
dari berbuat yang menyakiti – yakni berbahaya, membalas salam, memerintah
kepada kebaikan dan melarang kejahatan.” (Muttafaq ‘alaih)
1621. Dari Abu Thalhah, yaitu Zaid bin Sahl r.a., katanya: “Kita semua pernah
duduk-duduk di halaman rumah, lalu datanglah Rasulullah s.a.w. Beliau
s.a.w. berhenti di muka kita, kemudian bersabda: “Bagaimanakah engkau
semua ini, duduk-duduk di tempat kenaikan – yakni di tangga tempat naik
turunnya orang yang empunya rumah. Jauhilah duduk di tempat kenaikan
rumah itu.” Kita semua berkata: “Kita ini hanyalah duduk untuk sesuatu yang
tidak dilarang – oleh agama. Kita duduk-duduk di sini untuk mengingat-
ingatkan – soal-soal ilmu agama – serta untuk bercakap-cakap.” Beliau s.a.w.
lalu bersabda: “Adapun kalau engkau semua enggan dilarang, maka
tunaikanlah haknya, yaitu memejamkan mata, membalas salam dan berbicara
yang baik.” (Riwayat Muslim)
Ash-shu’udaat dengan dhammahnya shad dan ‘ain, artinya ialah beberapa
jalan – dari luar menuju ke rumah.

1622. Dari Jarir r.a., katanya: “Saya bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal
melihat dengan sekonyong-konyong- kepada sesuatu yang diharamkan, lalu
beliau s.a.w. menjawab: “Palingkanlah segera akan penglihatanmu.” (Riwayat
Muslim)

1623. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya pernah berada
di sisi Rasulullah s.a.w. dan di dekatnya ada Maimunah, kemudian
datanglah Ibnu Ummi Maktum – seorang sahabat Nabi s.a.w. yang buta.
Peristiwa ini terjadi sesudah kita diperintah untuk meletakkan tabir – yakni
antara lelaki dan perempuan yang bukan mahramnya harus diberi tabir
jikalau hendak bertemu. Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Bersembunyilah engkau
berdua-Ummu Salamah dan Maimunah-dari Ibnu Ummi Maktum ini.” Kita berkata: “Ya Rasulullah, bukankah ia seorang buta yang tidak dapat melihat
serta tidak dapat pula mengenal kita.” Lalu Nabi s.a.w. bersabda: “Apakah
engkau berdua itu juga buta. Bukankah engkau berdua dapat melihatnya.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1624. Dari Abu Said r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah
seseorang lelaki itu melihat kepada auratnya orang lelaki lain, jangan pula
seseorang wanita melihat auratnya orang wanita lain. Jangan pula seseorang
lelaki itu berkumpul tidur dengan orang lelaki lain dalam satu pakaian dan
jangan pula seseorang wanita itu berkumpul tidur dengan orang wanita lain
dalam satu pakaian.” (Riwayat Muslim)
Bab 291

Haramnya Menyendiri Dengan
Wanita Lain — Yakni Yang Bukan Mahramnya —

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan jikalau engkau semua meminta kepada para wanita itu – yakni yang ajnabiyab
atau bukan mahramnya – akan sesuatu benda, maka mintalah kepada mereka di belakang
tabir.” (al-Ahzab: 53)
1625. Dari Uqbah bin ‘Amir r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Takutlah engkau semua masuk kepada wanita – yang bukan mahramnya.”
Kemudian ada seorang lelaki dari sahabat Anshar berkata: “Bagaimanakah
pendapat Tuan tentang ipar?” Beliau s.a.w. bersabda: “Ipar itulah yang
menyebabkan kematian – yakni kerusakan.”* Maksudnya menyendirinya
seorang wanita dengan ipar suami itu menyebabkan timbulnya fitnah dan
kerusakan, maka
diumpamakan sebagai yang menyebabkan kematian. (Muttafaq ‘alaih)
Albamwu ialah keluarga dari suami seperti saudara lelaki suami, anak lelaki
saudara itu atau anak lelaki pamannya.

* Makna dari Hadis ini ialah bahwa menyendirinya hamwu – ipar dan
sebagainya yang tertulis di atas – itu adalah lebih besar bahayanya daripada
orang yang benar-benar asing, sebab kadang-kadang lelaki itu
mempertunjukkan sesuatu yang baik pada isteri tadi, kemudian beratlah
kiranya bagi suaminya untuk mengusahakan sesuatu yang ada di luar kemampuannya, atau akan menyebabkan buruknya hubungan dan Iain-Iain
sebagainya. Selain itu suami juga tidak akan terkesan sesuatu apapun dalam
hatinya untuk mengamat-amati lelaki tersebut, terutama mengenai keadaan
batinnya dengan ke luar masuk dalam rumahnya itu.

1626. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Janganlah sekali-kali seseorang lelaki di antara engkau semua itu
menyendiri dengan seorang wanita, melainkan haruslah ada mahramnya
beserta wanita tadi.” (Mu’ttafaq ‘alaih)

1627. Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kemuliaannya –
yakni kehormatannya – para isteri kaum lelaki yang mengikuti peperangan atas
yang duduk – yakni tidak mengikuti peperangan – adalah sebagaimana
kemuliaan – yakni kehormatan -ibu-ibu mereka – yakni ibu-ibunya yang tidak
mengikuti. Tiada seorang lelakipun dari golongan orang-orang yang duduk –
tidak mengikuti peperangan – yang menjadi ganti seorang lelaki yang
mengikuti berjihad, untuk mengawasi keluarganya, kemudian ia berkhianat
kepada sahabatnya – yang ikut berjihad tadi, melainkan orang yang berkhianat
tadi akan dihentikan di muka orang yang berjihad besok pada hari kiamat,
selanjutnya yang berjihad itu akan mengambil kebaikan-kebaikannya orang
yang mengawasi tersebut, sekehendak hatinya sehingga ia rela – yakni sampai
merasa puas.” Kemudian Rasulullah s.a.w. menoleh kepada kita semua lalu
bersabda: “Bagaimanakah dalam perkiraanmu – maksudnya: Bukankah itu suatu
hal yang berat tanggungannya. (Riwayat Muslim)
Bab 292
Haramnya Orang-orang Lelaki Menyerupakan
Diri Sebagai Kaum Wanita Dan Haramnya Kaum
Wanita Menyerupakan Diri Sebagai Kaum
Lelaki, Balk Dalam Pakaian, Gerakan Tubuh Dan Lain-lain

1628. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
melaknat kepada orang-orang lelaki yang berlagak banci – yakni bergaya
sebagai wanita, juga orang-orang perempuan yang berlagak sebagai orang
lelaki.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Rasulullah s.a.w. melaknat kepada orang-orang lelaki yang menyerupakan
diri sebagai kaum wanita dan orang-orang perempuan yang menyerupakan
diri sebagai kaum pria.” (Riwayat Bukhari)

1629. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. melaknat kepada
seorang lelaki yang mengenakan pakaian orang perempuan, juga melaknat
orang perempuan yang mengenakan pakaian orang lelaki.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1630. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada
dua golongan ahli neraka yang belum pernah saya melihat keduanya itu*,’
yaitu sekelompok kaum yang memegang cemeti sebagai ekor lembu, mereka
memukul para manusia dengan cemeti tadi dan beberapa kaum wanita yang
berpakaian tipis, telanjang sebagian tubuhnya, berjalan dengan gaya kecongkaan dan me-miringkan bahu-bahunya – yakni jalannya diserupakan
dengan kaum lelaki yang menunjukkan kesombongannya. Kepala kaum
wanita ini adalah seperti unta gemuk yang miring jalannya. Mereka itu tidak
dapat masuk syurga dan tidak dapat memperoleh bau harum syurga,
padahal sesungguhnya bau harum syurga itu dapat dicapai dari jarak
perjalanan sejauh sekian dan sekian – yakni amat jauh sekali.” (Riwayat
Muslim)
Makna Kasiyat ialah mengenakan kenikmatan Allah, sedang ‘Ariyat
ialah sunyi dari ucapan syukur kepada kenikmatan-kenikmatan itu. Ada
yang mengatakan bahwa maknanya itu ialah menutupi sebagian tubuhnya
dan membuka sebagian yang lain, untuk menampakkan kecantikannya dan
Iain-Iain. Ada pula yang mengatakan bahwa artinya itu ialah mengenakan
pakaian yang tipis untuk menunjukkan keadaan warna tubuhnya. Mailat
artinya, ada yang mengatakan miring – yakni tidak jujur -dari ketaatan
kepada Allah dan apa-apa yang harus dipeliharanya dan Mumilat ialah
mengajarkan kelakuan-kelakuannya yang tercela di atas itu kepada orang
lain. Ada lagi yang mengatakan bahwa artinya Mailat ialah berjalan dengan
gaya kesombongan dan Mumilat ialah bahwa jalannya tadi memiringkan
bahu-bahunya. Apa pula yang mengatakan bahwa Mailat ialah menyisir
rambutnya dengan sisiran yang miring dan ini adalah cara menyisirnya
kaum wanita pelacur, sedang “Mumilat” ialah menyisir orang lain dengan
cara sebagaimana tersebut di atas itu. Ru-usuhunna ka-asminatii bukhti yakni
kepala-kepala mereka itu dibesar-besarkan sendiri dan digemuk-
gemukkannya dengan melipatkan sorban, ikatan kain dan Iain-lain
sebagainya.
* Saya belum pernah melihat kedua golongan itu, yakni semasih beliau
s.a.w. hidupnya dahulu, Hadis ini adalah salah satu dari sekian banyak
mu’jizat beliau s.a.w. yang menunjukkan bahwa kedua golongan itu akan
terjadi sesudah beliau s.a.w. dan pada zaman kita ini banyak kita saksikan. Bab 293
Larangan Menyerupakan Diri
Dengan Syaitan Dan
Orang-orang Kafir
1631. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau sekalian makan dengan tangan kiri, sebab sesungguhnya
syaitan itu makan dengan tangan kiri.” (Riwayat Muslim)

1632. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Janganlah sekali-sekali seseorang di antara engkau semua itu makan dengan
tangan kirinya dan janganlah sekali-kali pula minum dengannya itu, sebab
sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kirinya dan minumpun
dengan tangan kirinya.”
(Riwayat Muslim)

1633. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tidak suka menyumba
rambutnya, maka selisihilah mereka itu.” (Muttafaq’alaih) Yang dimaksudkan dengan sumba ialah menyumba atau me-nyemir
rambut janggut dan kepala yang putih dengan warna kuning atau merah.
Adapun dengan menggunakan warna hitam, terlarang, sebagaimana yang akan
kami uraikan dalam bab sehabis ini. Insya Allah Ta’ala.
Bab 294

Larangan Orang Lelaki Dan Perempuan Untuk
Menyumba — Yakni Menyemir — Rambutnya
Dengan Warna Hitam

1634. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. didatangi oleh para sahabat
dengan disertai oleh Abu Quhafah yaitu ayahnya Abu Bakar as-Shiddiq
radhiallahu ‘anhuma pada hari pembebasan kota Makkah, sedang kepala dan
janggutnya Abu Quhafah itu sudah putih bagaikan bunga tsaghamah,
kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ubahlah olehmu semua warna putih
ini, tetapi jauhilah -yakni janganlah menggunakan -warna hitam.” (Riwayat
Muslim)
Bab 295
Larangan Menguncit Yaitu Mencukur Sebagian
Kepala Dengan Meninggalkan Sebagian Lainnya
Dan Bolehnya Mencukur Seluruh Kepala
Untuk Orang Lelaki, Tidak Untuk
Orang Perempuan

1635. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
melarang penguncitan -yakni mencukur sebagian kepala – dan meninggalkan
sebagian lainnya.” (Muttafaq ‘alaih)

1636. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pula, katanya: “Rasulullah s.a.w.
melihat seorang anak yang sebagian kepalanya telah dicukur, sedang sebagian
lainnya tidak, lalu beliau s.a.w. melarang orang-orang itu berbuat
sedemikian itu dan bersabda: “Cukurlah seluruhnya atau biarkan saja
seluruhnya – tanpa dicukur.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud
dengan isnad shahih menurut syaratnya Imam-imam Bukhari dan Muslim.

1637. Dari Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
menantikan kepada keluarga Abu Ja’far selama tiga hari -dan mereka itu dalam suasana berkabung karena meninggalnya Ja’far – kemudian beliau s.a.w.
mendatangi mereka setelah itu, lalu bersabda: “Janganlah engkau semua
menangisi lagi kepada saudaraku Ja’far itu setelah hari ini.” Selanjutnya beliau
s.a.w. bersabda pula: “Panggilkanlah ke mari anak-anak saudaraku itu.” Kita
semua – yakni anak-anak Ja’far – didatangkan dan kita semua adalah seolah-olah
anak burung – yakni amat kecil-kecil sekali. Beliau s.a.w. lalu bersabda:
“Panggilkan tukang cukur ke mari.” Tukang cukur itu lalu diperintah untuk
mencukur semua kepala kita. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan
isnad shahih menurut syaratnya Imam-imam Bukhari dan Muslim.

1638. Dari Ali r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. melarang kalau wanita itu
mencukur rambutnya.” (Riwayat Nasa’i)
Bab 296

Haramnya Menghubungkan Rambut Sendiri
Dengan Rambut Orang Lain. Mencacah Kulit
Dengan Gambar. Tulisan Dan Lain-lain —
Serta Wasyr Yaitu Mengikir Gigi
— Untuk Merenggangkannya —

Allah Ta’ala berfirman:

“Tidaklah yang mereka sembah selain Allah itu melainkan hanyalah patung-
patung perempuan saja dan tidaklah yang mereka sembah itu melainkan syaitan yang
durhaka.
la dilaknat oleh Allah. Syaitan i tu berkata: “Niscayalah saya akan menarik sebagian
yang ditentukan dari hamba-hambaMu. Mereka niscayalah akan saya sesatkan dan saya
janjikan kepada mereka harapan-harapan kosong, saya suruh mereka memotong
telinga-telinga binatang dan saya suruh pula mereka itu mengubah makhluk Allah,”
sampai akhirnya ayat. (an-Nisa’: 117-119)

1639. Dari Asma’ radhiallahu ‘anha bahwasanya ada seorang wanita
bertanya kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya anak
saya perempuan itu terkena penyakit campak lalu rontoklah rambutnya dan
saya sudah mengawinkannya, apakah boleh saya hubungkan rambutnya itu
dengan rambut orang lain -dengan diberi cemara dan sebagainya?” Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Allah melaknat kepada orang yang menghubungkan
rambut dengan rambut orang lain dan melaknat pula kepada orang yang
rambutnya dihubungkan dengan rambut orang lain.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Orang yang menghubungkan rambut dengan rambut orang lain serta
orang yang meminta supaya rambutnya dihubungkan dengan rambut orang
lain.”
Ucapannya: Fa-tamarraqa, dengan ra’, artinya ialah rontok dan jatuh.
Alwashilah ialah orang yang menghubungkan rambutnya sendiri atau rambut
orang lain dengan rambutnya orang lain lagi. Almawshulah ialah orang yang
rambutnya dihubungkan, sedang almustawshilah ialah orang yang meminta
supaya dihubungkan itu.
Dari Aisyah radhiallahu’anha ada Hadis semacam di atas itu pula dan
muttafaq ‘alaih.

1640. Dari Humaid bin Abdurrahman bahwasanya ia mendengar Mu’awiyah
r.a. di waktu melakukan ibadat haji, ia berada di atas mimbar dan mengambil
segenggam rambut yang ada di tangan seorang pengawalnya, lalu ia berkata:
“Hai ahli Madinah, di manakah para alim ulamamu ini? Saya mendengar Nabi
s.a.w. melarang semacam ini dan beliau s.a.w. bersabda: “Hanyasanya kaum Bani Israil itu rusak – yakni budi pekerti dan akhlaknya – di kala kaum
wanita mereka itu mengambil rambut seperti ini – yakni menggunakan rambut
cemara. (Muttafaq ‘alaih)

1641. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. itu melaknat kepada orang yang menghubungkan rambutnya dengan
rambut orang lain, juga orang yang meminta supaya rambutnya
dihubungkan dengan rambut orang lain, demikian pula melaknat kepada
orang yang mencacah kulit – dengan gambar, tulisan dan Iain-lain – serta
orang yang meminta supaya dicacah kulitnya.” (Muttafaq ‘alaih)

1642. Dari Ibnu Mas’ud r.a., bahwasanya ia berkata: “Allah melaknat kepada
orang-orang yang mencacah kulitnya serta yang meminta supaya dicacah
kulitnya, juga orang yang meminta supaya rambut alisnya ditipiskan – agar
tampak indah bagaikan bulan sabit, demikian pula orang yang
merenggangkan gigi-giginya untuk maksud kecantikan yang semuanya itu
mengubah-ubah keaslian kejadian makhluk Allah.” Kemudian ada seorang
wanita yang berkata dalam hal ini – seolah-olah menyanggah, lalu Ibnu Mas’ud
berkata: “Bagaimanakah saya tidak akan melaknat kepada orang yang juga
dilaknat oleh Rasulullah s.a.w. dan pelaknatan itu tercantum pula dalam
Kitabullah – yakni al-Quran, Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa-apa yang
didatangkan oleh Rasul, maka ambillah itu dan apa-apa yang dilarang olehnya,
maka tercegahlah dari melakukannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Almutafallijah ialah orang yang mengikir giginya supaya antara yang satu
dengan lainnya itu menjadi renggang sedikit serta memperindahkan
bentuknya, itulah yang disebut Alwasyr. Annamishah ialah orang yang mencabuti alis orang lain dan menipiskannya
agar tampak cantik, sedang Almutanammishah ialah orang yang menyuruh
orang lain supaya melakukan itu pada dirinya
Bab 297
Larangan Mencabut Uban dari Janggut, Kepala Dan Lain-
lain Dan Larangan Orang Banci Mencabut Rambut
Janggutnya Pada Permulaan Tumbuhnya

1643. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari neneknya lelaki r.a. dari Nabi
s.a.w., sabdanya:
“Janganlah engkau semua mencabuti uban, sebab uban itu adalah merupakan
cahaya seorang Muslim pada hari kiamat.” Hadis hasan yang diriwayatkan
oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi serta Nasa’i dengan isnad-isnad
yang bagus. Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1644. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s a w bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan sesuatu amalan yang tidak ada perintah dari
kita, maka amalan itu wajib ditolak.”
(Riwayat Muslim)
Bab 298

Makruhnya Bercebok Dengan Tangan Kanan
Dan Memegang Kemaluan Dengan Tangan
Kanan Ketika Bercebok
Tanpa Adanya Uzur

1645. Dari Abu Qatadah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jikalau seseorang di
antara engkau semua kencing, maka janganlah sekali-kali mengambil – yakni
memegang – kemaluannya itu dengan tangan kanannya, jangan pula bercebok
dengan tangan kanannya dan janganlah seseorang itu mengambil nafas dalam
wadah – ketika minum.” (Muttafaq ‘alaih}
Dalam bab ini banyak lagi Hadis-hadis yang shahih.

Bab 299
Makruhnya Berjalan Dengan Mengenakan
Sebuah Terumpah Atau Sebuah Sepatu Khuf
Tanpa Adanya Uzur Dan Makruhnya Mengenakan
Terumpah Atau Sepatu Khuf Dengan
Berdiri Tanpa Uzur

1646. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah seseorang di antara engkau semua itu berjaian dengan
mengenakan sebuah terumpah saja. Hendaklah kedua-duanya itu dikenakan
semua atau hendaklah dilepaskan sajalah semuanya.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Atau hendaklah ditanggalkan saja keduanya itu – misalnya di waktu yang satu
putus dan Iain-Iain.” (Muttafaq ‘alaih)

1647. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Jikalau tali terumpah seseorang di antara engkau semua putus, maka
janganlah berjalan pada yang satunya – yang tidak putus -sehingga ia
membetulkan keduanya itu.” (Riwayat Muslim)

1648. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang
kalau seseorang itu mengenakan terumpahnya sambil berdiri. Diriwayatkan
oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
Bab 300

Larangan Membiarkan Api Menyala Di Rumah
Ketika Masuk Tidur Dan Lain-lain, Baikpun Api
Itu Dalam Lampu Ataupun Lain-lainnya

1649. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Janganlah engkau semua membiarkan api itu dalam rumah-rumahmu –
dalam keadaan menyala, ketika engkau semua masuk t idur” (Muttafaq ‘alaih)

1650. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Ada rumah terbakar di
Madinah mengenai keluarga rumah itu di waktu malam.” Setelah Rasulullah
s.a.w. diberitahu akan hal-ihwal mereka yang rumahnya terbakar tadi, lalu
beliau s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya api itu adalah musuhmu semua, maka
dari itu jikalau engkau semua akan masuk tidur, padamkanlah api itu dulu.”
(Muttafaq ‘alaih)
1651. Dari ]abir r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: “Tutuplah wadah, ikatlah
mulut tempat air – atau sumbatlah, tutuplah semua pintu dan padamkanlah
lampu. Sebab sesungguhnya syaitan itu tidak dapat mengurai ikatan tempat air,
tidak dapat membuka pintu, juga tidak dapat membuka wadah.
Jikalau seseorang di antara engkau semua itu tidak dapat menemukan,
melainkan hanya dapat memalangkan sebatang tangkai kecil di atas wadahnya,
dan menyebutkan nama Allah, maka hendaklah melakukan sajayang ia dapat melakukannya itu. Sesungguhnya tikus itu dapat menyalakan rumah dari
sesuatu keluarga rumah.” (Riwayat Muslim)

Alfuwaisiqah artinya ialah tikus, sedang tudhrimu artinya membakar.
Bab 301

Larangan Memaksa-maksakan Yaitu Perbuatan
Dan Ucapan Yang Tidak Ada Kemaslahatan
Di Dalamnya Dengan Kemasyarakatan
— Yakni Kesukaran —

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: Saya tidak meminta upah kepadamu semua karena usahaku ini dan saya
bukannya golongan orang yang memaksa-maksakan diri.” (Shad: 86)

1652. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Kita semua dilarang
dari memaksa-maksakan diri.” (Riwayat Bukhari)

1653. Dari Masruq, katanya: “Kita masuk ke tempat Abdullah bin Mas’ud
r.a., lalu ia berkata: “Hai sekalian manusia, barangsiapa yang mengerti tentang
sesuatu ilmu pengetahuan, maka hendaklah mengucapkan itu – yakni
menerangkan sepanjang yang diketahuinya – dan barangsiapa yang tidak
mengerti, maka hendaklah mengucapkan saja: “Allahu a’lam -yakni Allah
adalah lebih mengetahui akan hal itu. Sebab sesungguhnya termasuk
sesuatu ilmu pula, jikalau seseorang itu mengucapkan terhadap sesuatu
yang tidak diketahui olehnya dengan ucapan: Allah a’lam. Allah Ta’ala
berfirman kepada Nabinya s.a.w.:
“Katakanlah – wahai Muhammad: Saya tidak meminta upah kepadamu
semua karena usahaku ini dan saya bukannya golongan orang yang memaksa-
maksakan diri.” (Riwayat Bukhari)
Bab 302
Haramnya Menangis Dengan Suara Keras Kepada Mayat,
Menampar Pipi, Merobek-robek Saku, Mencabuti Rambut,
Mencukur Rambu Serta Berdoa Dengan Mendapatkan
Kecelakaan Dan Kehancuran

1654. Dari Umar bin al-Khaththab r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Mayat
itu dapat disiksa dalam kuburnya dengan sebab tangisan keras padanya yang
disebabkan kematiannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dengan sebab
tangisan yang ditujukan atas dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)

1655. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tidak termasuk golongan kita – kaum Muslimin – orang yang memukul-
mukul pipi, mencabik-cabik saku dan berdoa dengan doa-doa cara zaman
Jahiliyah.” (Muttafaq ‘alaih)
1656. Dari Abu Burdah, katanya: “Abu Musa sakit lalu ia tidak sadarkan
diri, sedang kepalanya di atas pangkuan isterinya yakni dari kalangan
keluarganya. Setelah isterinya melihat itu lalu mulailah ia berteriak-teriak
dengan teriakan keras sekali, sedang Abu Musa tidak dapat menolak – yakni
melarang – sedikitpun dari perbuatan isterinya tadi – sebab masih dalam
keadaan tidak sadar. Setelah Abu Musa sadarkan diri kembali, iapun lalu berkata: “Saya melepaskan diri – yakni tidak ikut bertanggungjawab – terhadap
sesuatu yang Rasulullah s.a.w. sendiri juga melepaskan diri daripadanya.
Sesung-guhnya Rasulullah s.a.w. berlepas diri dari orang yang bersuara keras-
keras dalam menangisnya, juga dari orang yang mencukur rambut serta orang
yang mencabik-cabik saku-ketika ada seseorang keluarga yang meninggal
dunia.” (Muttafaq ‘alaih)
Ashshaliqah yaitu wanita yang mengeraskan suaranya dengan tangisan dan
menyebut-nyebutkan sifat-sifat mayat dengan suara keras pula.
Athaliqah ialah yang mencukur rambutnya ketika memperoleh
mushibah atau bencana.
Asysyaqqah ialah yang merobek-robek pakaiannya.

1657. Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a., katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang ditangisi dengan suara keras – ketika matinya, maka
sesungguhnya ia akan disiksa dengan tangisan keras yang ditujukan pada
dirinya itu besok pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)

1658. Dari Ummu Athiyah, yaitu Nusarbah, dengan dhammahnya nun
dan boleh pula, dengan fathahnya – menjadi Nasaibah, radhiallahu ‘anha,
katanya: “Rasulullah s.a.w. meminta kepada kita semua ketika mengadakan
bai’at, yaitu supaya kita tidak menangis keras-keras – ketika ada orang mati.”
(Muttafaq ‘alaih)
1659. Darian-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Pada
suatu ketika Abdullah bin Rawahah r.a. pingsan – yakni tidak sadarkan diri,
lalu saudara perempuannya menangisinya dengan mengucapkan: “Aduhai
tuanku,” serta Iain-Iain yang sedemikian, sedemikian. la menghitung-
hitungkan kebaikan saudaranya itu sebagaimana hal-ihwal zaman Jahiliyah.
Setelah Abdullah sadarkan diri kembali, iapun berkata: “Tiada sesuatu ucapan
yang engkau ucapkan itu, melainkan kepada saya pun ditanyakan: “Apakah
engkau juga demikian? Maksudnya apakah engkau benar-benar seperti yang
diucapkan oleh saudarimu itu?” (Riwayat Bukhari)

1660. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Sa’ad bin Ubadah r.a.
mengeluh karena sesuatu penyakit yang diderita olehnya. Kemudian
Rasulullah s.a.w. mendatangi untuk menjenguknya bersama Abdur Rahman
bin ‘Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud. Setelah beliau
s.a.w. memasuki tempatnya, beliau menemukannya sedang tidak sadarkan
diri, lalu bersabda: “Apakah sudah meninggal dunia.” Para sahabat berkata:
“Belum, ya Rasulullah.” Rasulullah s.a.w. lalu menangis. Orang-orang banyak
setelah melihat tangis Nabi s.a.w. itu, merekapun menangis pula,
kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Tidaklah engkau semua mendengar?
Sesungguhnya Allah itu tidak menyiksa karena keluarnya airmata dari mata,
tidak pula karena kesedihan hati, tetapi Allah menyiksa karena ini (dan beliau
s.a.w. menunjuk kepada lisannya) atau Allah akan memberikan kerahmatan.”
(Muttafaq ‘alaih)

1661. Dari Abu Malik al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seseorang wanita yang menangisi keras-keras – kepada mayat -itu apabila
ia tidak bertaubat sebelum matinya, maka ia akan didirikan pada hari kiamat
nanti dengan mengenakan baju gamis yang dibuat dari tir serta baju besi yang
penuh kutu penyakit kudis.” (Riwayat Muslim)

1662. Dari Usaid bin Abu Usaidat-Tabi’i dari seorang wanita dari golongan
orang-orang yang mengadakan bai’at kepada Nabi s.a.w., katanya: “Dalam
rangka pembai’atan yang diambil oleh Rasulullah s.a.w. mengenai berbagai
kebaikan yang kita tidak boleh melanggarnya ialah: Kita tidak boleh
mencakar-cakar muka kita, tidak boleh berdoa memperoleh kecelakaan, tidak
boleh mencabik-cabik saku dan tidak boleh mencabuti rambut – ketika ada
orang mati.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

1663. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang mayat pun yang meninggal dunia lalu orang-orang yang
menangisinya itu sama berdiri sambil mengucapkan:
“Aduhai pelindungku, aduhai tuanku atau yang semacam dengan tu,
melainkan Allah mengutus dua malaikat yang memukuli mayat tersebut
sambil mengucapkan: “Apakah engkau benar-benar seperti yang diucapkan
oleh orang-orang itu?”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
Allahzu ialah menyodok dengan kepalan tangan ke arah dada.

1664. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada dua perkara yang ada di kalangan para manusia dan menyebabkan
mereka itu menjadi kafir – kalau menyakinkan bahwa perbuatan itu boleh
menurut agama, yaitu mencemarkan nasab -yakni keturunan – dan menangisi
dengan suara keras kepada mayit.” (Riwayat Muslim)
Bab 303

Larangan Mendatangi Ahli Tenung, Ahli Nujum,
Ahli Terka, Orang-orang Meramal Dan
Sebagainya Dengan Menunjuk Dengan
Menggunakan Kerikil, Biji Sya’ir
Dan Lain-lain Sebagainya

1665. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Orang-orang sama
bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal ahli tenung – atau tukang meramal.*
Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Tidak ada sesuatupun yang hak atau benar
daripadanya.” Orang-orang berkata lagi: “Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka
itu memberitahukan kepada kita akan sesuatu hal yang kadang-kadang lalu
menjadi kenyataan -yakni seolah-olah benar.” Rasulullah s.a.w. kemudian
bersabda: “Itulah sesuatu kalimat hak – yakni merupakan kebenaran – yang
disambar oleh seorang jin, kemudian disampaikan – dibisikkan -dalam telinga
kekasihnya, kemudian dengan sebuah kalimat yang benar itu oleh ahli tenung
tadi dicampurkannya dengan seratus macam kedustaan.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Bukhari dari Aisyah radhiallahu ‘anha disebutkan
bahwsanya Aisyah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya malaikat itu turun ke mega – yakni awan, kemudian
menyebutkan sesuatu perkara yang sudah diputuskan di langit, lalu syaitan itu
memasangkan pendengarannya untuk mencuri isi keputusan tadi, selanjutnya
setelah didengarkan baik-baik, iapun lalu menyampaikannya kepada ahli
tenung. Seterusnya ahli tenung tadi membuat kedustaan seratus macam
banyaknya yang keluar dari hatinya sendiri, di samping satu yang dari syaitan
tersebut – yang dianggap sebagai kebenaran. Sabdanya: fa-yaqurruha dengan fathahnya ya’ dan dhammahnya qaf serta ra’,
artinya ialah menyampaikannya. Al’anan dengan fathahnya ‘ain.

*Kahin yang dapal diartikan tukang tenung, ahli ramal, ahli nujum dan
yang semacamnya itu pekerjaannya ialah memberikan kabar perihal keadaan
yang akan terjadi di masa yang akan datang. la mengaku bahwa ia dapat
mengetahui segala macam rahasia. Di kalangan bangsa Arab ada kahin-kahin
itu, di antaranya ada yang mengaku bahwa dirinya adalah pengikut jin yang
daripadanya ini dapatlah menerima berita-berita, di antaranya lagi ada yang
mengaku dapat mengetahui segala macam persoalan dengan mengemukakan
beberapa macam persoalan dan mengemukakan beberapa macam sebab-
musabab yang menunjukkan akan kejadian-kejadian yang akan datang itu,
yakni dengan mendengar pembtcaraan orang yang akan datang itu, yakni
dengan mendengar pembicaraan orang yang menanyakannya, kelakuannya
atau hal-ihwa! keadaannya. Golongan ini mereka khususkan sebutannya
dengan gelar ‘Arraf – ahli terka yang dapat mengetahui berbagai persoalan,
misalnya ialah yang mengaku dapat mengetahui barang-barangy ang tercuri,
tempat barang yang hilang dan sebagainya. Hadis yang menyebutkan:
“Barangsiapa yang mendatangi kahin – yakni tukang tenung dan sebagainya
itu,” sudah mengandung pengertian untuk tidak bolehnya mendatangi segala
macam ahli kekahinan, penujuman, ramalan, penerkaan dan sebagainya.
Intaha.

1666. Dari Shafiyah binti Ubaid dari salah seorang isteri Nabi s.a.w. –
radhiallahu ‘anha dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Barangsiapa yang mendatangi juru terka, lalu menanyakan sesuatu hal
kepadanya, kemudian membenarkannya – yakni mempercayainya, maka tidak
akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (Riwayat Muslim)

1667. Dari Qabishah bin al-Mukhariq r.a., katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Peramalan dengan garis-garis, penengokan peruntungan -atau nasib –
serta pembentakan burung-untuk melihat untung rugi, semuanya adalah dari
perbuatan sihir – atau pertenungan.”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan. la berkata:
Aththarqu artinya membentak, maksudnya ialah memjentak burung dengan
pengertian bahwa ia akan memperoleh keuntungan atau kecelakaan dengan
melihat ke arah mana terbangnya burung itu. Jikalau terbang ke kanan, maka
merasa dirinya akan memperoleh keuntungan, sedang jikalau ke kiri, maka
dirinya akan mendapatkan celaka.”
Abu Dawud berkata lagi: Al’iyafah ialah tulisan yakni peramalan dengan
menggunakan – atau melihat – garis-garis.
Al-Jauhari berkata dalam kitab Ashshahab: Aljibtu adalah kalimat yang
dimutlakkan pada berhala, tukang tenung, ahli sihir dan sebagainya.

1668. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mencari satu macam ilmu pengetahuan dari golongan
ilmu penujuman, maka berartilah ia telah mencari suatu cabang dari ilmu
sihir. Bertambah ilmu sihirnya itu sebanyak tambahnya dalam ilmu
penujuman tadi.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan
shahih.

1669. Dari Mu’awiyah bin al-Hakam r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya
Rasulullah, sesungguhnya saya ini baru saja meninggalkan kejahiliyahan dan
Allah telah mendatangkan Agama Islam. Di antara kita banyak orang yang
mendatangi ahli tenung itu, bagaimanakah itu kedudukannya?” Beliau s.a.w.
bersabda: “Janganlah engkau mendatangi ahli tenung itu.” Saya berkata lagi: “Di
antara kita ada pula orang yang merasa akan mendapat nasib buruk.” Beliau
s.a.w. bersabda: “Hal itu adalah sesuatu yang mereka dapatkan dalam hati
mereka sendiri, maka tentulah tidak dapat menghalang-halangi mereka – yakni
hal itu tidak akan memberikan bekas apapun kepada mereka, baik kemanfaatan
atau kemudharatan.” Saya berkata pula: “Di antara kita ada pula orang-orang
yang meramalkan nasibnya dengan menggunakan garis-garis.” Beliau s.a.w.
bersabda: “Dahulu ada seorang Nabi dari golongan para Nabi, ia membuat
ramalan dengan garis, maka barangsiapa yang cocok dengan garis itu, ialah
yang memperoleh nasibnya.” (Riwayat Muslim)
1670. Dari Abu Mas’ud al-Badri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
melarang dari harga anjing – yakni menggunakan wang dari hasil penjualan
anjing, juga dari upah hasil perzinaan serta dari pembayaran yang diperoleh
tukang tenung – dukun juru terka karena penenungannya.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam bab ini termasuk pulalah Hadis-hadis yang telah diuraikan dalam bab
sebelumnya. Bab 304
Larangan Dari Perasaan Akan
Mendapat Celaka — Karena
Adanya Sesuatu

1671. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada
penularan penyakit dan tidak ada sesuatu yang menyebabkan
timbulnya kecelakaan. Saya amat taajub dengan faal?” Para sahabat
bertanya: “Apakah faal itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu kata-kata
yang baik.” (Muttafaq ‘alaih)

1672. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada sesuatu yang menyebabkan
timbulnya kecelakaan. Jikalau timbulnya kemalangan itu ada dalam sesuatu
benda, maka hal itu ialah dalam perkara rumah, wanita ataupun kuda.”
(Muttafaq ‘alaih)
Keterangan:
Rumah dapat dianggap menimbulkan kemalangan kalau ruangan atau
halamannya sempit atau tetangganya buruk, wanita dapat dianggap demikian
kalau budipekertinya jahat atau mandul, sedang kuda ialah kalau sukar dinaiki. 1673. Dari Buraidah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. itu tidak pernah merasa akan
memperoleh kecelakaan – karena adanya sesuatu. Diriwayatkan oleh Imam Abu
Dawud dengan isnad shahih.
1674. Dari Urwah bin ‘Amir r.a., katanya: “Disebut-sebutkanlah persoalan
akan timbulnya kemalangan nasib-sebab adanya sesuatu – di sisi Rasulullah
s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Yang terbaik sekali ialah mengucapkan kata-kata yang bagus dan yang
sedemikian itu jangan menolak seseorang Muslim – yakni jikalau ia bersengaja
akan mengerjakan sesuatu yang baik, janganlah sampai diurungkan karena
timbulnya perasaan akan mendapat kemalangan tadi. Jikalau seseorang di
antara engkau semua melihat sesuatu yang tidak disenangi, hendaklah
mengucapkan – yang artinya:
“Ya Allah, tidak ada yang kuasa mendatangkan kebaikan melainkan
Engkau, tidak pula dapat menolak keburukan melainkan Engkau dan tiada
daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolonganMu.”
Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad
shahih.
Bab 305

Haramnya Menggambar Binatang Di Hamparan, Batu,
Baju, Wang Dirham, Wang Dinar, Guling
Bantal Dan Iain-lain, juga Haramnya
Menggunakan Gambar Tadi Diletakkan Di Dinding
Atap, Tabir, Sorban, Baju Dan Sebagainya
Serta Perintah Merusakkan Gambar Itu

1675. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini – yakni
apa-apa yang mempunyai ruh, akan disiksa pada hari kiamat. Kepada mereka
itu dikatakan: “Hidupkanlah apa yang engkau ciptakan itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1676. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. datang dari
bepergian dan saya telah memberikan tutup dalam rumahku dengan tabir
yang tipis sekali, di situ ada beberapa gambar boneka.Setelah Rasulullah s.a.w.
melihatnya lalu berubahlah warna wajahnya, kemudian berkata:
“Hai Aisyah, sesangat-sangatnya manusia dalam hal siksanya di sisi Allah
pada hari kiamat ialah orang-orang yang menyamai dengan apa-apa yang
diciptakan oleh Allah.” Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Tabir itu lalu kami potong-potong
kemudian kami jadikan sebuah atau dua buah bantal daripadanya.” (Muttafaq
‘alaih)
Alqiram dengan kasrahnya qaf, artinya ialah tabir, sedang Assahwah ialah
ruangan yang ada di muka rumah. Ada pula yang mengatakan bahwa artinya
ialah jalan di rumah yang membuka langsung di dinding

1677. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Semua tukang gambar – yang mempunyai ruh – itu dalam neraka,
untuknya diciptakan seorang bagi setiap gambar yang digambar olehnya, lalu
orang itu menyiksanya di neraka Jahanam.”
Ibnu Abbas berkata: “Jikalau engkau dengan pasti harus membuatnya –
yakni perlu sekali membuat gambar-gambar itu, maka buat sajalah gambar
pohon atau sesuatu yang tidak ada ruhnya.(Muttafaq ‘alaih)

1678. Dari Ibnu Abbas r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang menggambar sesuatu gambar -apa-apa yang mempunyai
ruh – di dunia, maka ia akan dipaksa untuk meniupkan ruh di dalam apa yang
digambarkannya itu besok pada hari kiamat, tetapi ia tidak dapat meniupkan
ruh di situ.” (Muttafaq ‘alaih)
1679. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda;
“Sesungguhnya sesangat-sangat manusia perihal siksanya pada hari kiamat
ialah para tukang gambar – apa-apa yang mempunyai ruh.” (Muttafaq ‘alaih)

1680. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: “Siapa orang yang lebih menganiaya daripada
seseorang yang mencoba-coba menciptakan sebagaimana yang Aku
menciptakannya. Baiklah mereka itu membuat seekor semut kecil atau baiklah
membuat sebuah biji atau baiklah mereka itu menciptakan sebiji sya’ir.”
(Muttafaq ‘alaih)

1681. Dari Abu Thalhah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Malaikat tidak akan masuk dalam rumah yang di dalamnya ada anjingnya
atau ada gambar – apa-apa yang mempunyai ruh.” (Muttafaq ‘alaih)

1682. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Jibril berjanji kepada
Rasulullah s.a.w. akan datang padanya, lalu terlambat sekali kedatangannya itu,
sehingga dirasakan amat berat -yakni kecewa – sekali atas diri Rasulullah s.a.w.
itu. Beliau s.a.w. kemudian keluar lalu ditemui oleh Jibril. Nabi s.a.w.
mengadukan hal itu kepadanya, lalu Jibril berkata: “Sesungguhnya kita tidak
akan memasuki sesuatu rumah yang di dalamnya ada anjing atau ada
gambarnya – sesuatu yang mempunyai ruh.” (Riwayat Bukhari) Ratsa, artinya
terlambat, dengan tsa’ bertitik tiga.
1683. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Jibril ‘alaihissalam berjanji
kepada Rasulullah s.a.w. akan datang padanya di sesuatu saat yang
ditentukan, lalu saat itupun tibalah tetapi Jibril belum juga mendatanginya.”
Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Nabi s.a.w. pada waktu itu membawa
tongkat di tangannya, lalu diletakkanlah tongkat itu dari tangannya sambil
bersabda: “Allah dan Rasul-rasulNya tidak akan menyalahi janjinya.”
Selanjutnya beliau s.a.w. menoleh, tiba-tiba ada seekor anak anjing di bawah
tempat tidurnya. Beliau s.a.w. bertanya: “Kapan anjing ini masuk?” Saya
berkata: “Demi Allah, saya tidak mengetahui kapan masuknya.” Beliau s.a.w.
menyuruh mengambil anak anjing tadi lalu dikeluarkan dari rumah.
Kemudian datanglah Jibril ‘alaihis-salam. Rasulullah s.a.w. bertanya kepadanya:
“Tuan telah berjanji pada saya lalu saya duduk menantikan Tuan sedang
Tuan tidak datang-datang, apakah sebabnya?” Jibril berkata: “Saya dihalang-
halangi oleh anjing yang ada di rumah anda tadi itu. Sesungguhnya kita – para
malaikat – ini tidak akan masuk dalam rumah yang di dalamnya ada anjing
atau ada gambar – sesuatu yang mempunyai ruh.” (Riwayat Muslim)
1684. Dari Abul Hayyaj, yaitu Hayyan bin Husain, katanya: Ali r.a. berkata
kepada saya: “Tidakkah engkau suka kalau saya perintah sebagaimana yang saya
diperintah oleh Rasulullah s.a.w.? Yaitu janganlah engkau membiarkan sesuatu
gambar – dari apa-apa yang mempunyai jiwa – melainkan engkau rusakkan
gambar itu, juga janganlah engkau membiarkan sebuah kubur yang menonjol
ke atas, melainkan engkau ratakanlah ia – sampai serendah tanah Iain-lain.”
(Riwayat Muslim) Bab 306

Haramnya Memelihara Anjing Kecuali Untuk Berburu,
Menjaga Ternak Atau Ladang Tanaman
1685. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang menyimpan – yakni memelihara
anjing, kecuali anjing untuk berburu atau menjaga ternak – atau ladang
tanaman, maka berkuranglah pahala orang itu dalam setiap harinya sebanyak
dua qirath.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: “Berkurang
seqirath.”

1686. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menahan – yakni memelihara – anjing, maka dari
amalannya itu dalam setiap harinya berkurang seqirath, kecuali anjing untuk
pertanian – yakni menjaga ladang tanaman – atau untuk menjaga ternak.”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Barangsiapa menyimpan – yakni memelihara – anjing yang bukan anjing
berburu, bukan pula untuk menjaga ternak dan tidak untuk menjaga tanah –
maksudnya ladang tanaman, maka orang itu berkuranglah pahalanya setiap
hari sebanyak seqirath.”

Bab 307

Makruhnya Menggantungkan Lonceng — Bel —
Pada Unta Atau Binatang Lain-lain Dan
Makruhnya Membawa Anjing Dan
Lonceng — Bel — Dalam Bepergian

1687. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Malaikat tidak akan mengawani sekelompok orang-orang yang
bepergian yang di kalangan mereka itu ada anjing atau loncengnya – belnya.”
(Riwayat Muslim)

1688. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda: “Lonceng – yakni bel – itu adalah termasuk golongan seruling-
serulingnya syaitan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih menurut
syarat Imam Muslim. Bab 308
Makruhnya Menaiki Jalalah Yaitu Unta Lelaki
Atau Perempuan Yang Makan Kotoran. Jikalau
la Sudah Makan Makanan Biasa — Bukan
Kotoran — Yang Suci Lalu Dagingnya
Menjadi Enak Dimakan, Maka
Hilanglah Kemakruhannya

1689. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
melarang dari unta jalalah – yakni yang makan kotoran – kalau ia dinaiki.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih
Bab 309

Larangan Berludah Dalam Masjid Dan Perintah
Menghilangkannya jikalau Menemukan
Ludah itu Dan Pula Perintah Membersihkan
Masjid Dari Segala Kotoran

1690 Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Berludah di masjid
adalah suatu kesalahan, sedang dendanya kesalahan tadi ialah menimbun
ludah tersebut.” (Muttafaq alaih)

Maksudnya menimbun ludah ialah apabila lantai masjid itu berupa tanah,
pasir dan yang semacam itu, maka wajiblah Ia menutupinya di bawah tanah
tersebut.
Abulmahasin Arruyani berkata dalam kitabnya yang bernama Albahr:
“Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan menimbunnya itu ialah
mengeluarkan ludah tersebut dari masjid.”
Adapun kalau masjid itu berlantai tegel ataupun pelur semen, kemudian
ada orang yang menggosok-gosokkan ludah itu di masjid sebagaimana di atas
itu dengan kakinya ataupun Iain-Iain, seperti yang dilakukan oleh sebagian
banyak dari orang-orang yang bodoh, maka yang sedemikian itu bukanlah
berarti menimbunnya, tetapi sahkan menambah dengan kesalahan yang lain, lagi makin memperbanyak kotoran itu di masjid. Oleh sebab itu orang yang
sudah terlanjur melakukan semacam itu, hendaklah mengusapnya dengan
bajunya, tangannya ataupun Iain-Iain atau membasuhnya – yakni mencucinya
dengan air.

1691. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. melihat
ingus atau ludah atau dahak di dinding Ka’bah, lalu beliau s.a.w.
menggaruknya.” (Muttafaq ‘alaih)

1692. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya
masjid-masjid ini tidak patut untuk melakukan sesuatu dari kencing ini dan
tidak patut pula untuk membuang kotoran. Hanyasanya masjid itu adalah
untuk berzikir kepada Allah Ta’ala dan membaca al-Quran.” Atau semacam di
atas itulah yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. (Riwayat Muslim)
Bab 310
Makruhnya Bertengkar Dalam Masjid, Mengeraskan
Suara Di Dalamnya, Menanyakan Apa-apa Yang Hilang,
Jual Beli Persewaan Dan Lain-lain Hal Yang Termasuk
Muamalat

1693. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa mendengar seseorang yang menanyakan – mencari – sesuatu
benda yang hilang dalam masjid, maka hendaklah ia mengucapkan: “Semoga
Allah tidak mengembalikan apa-apa yang hilang itu kepadamu, sebab
sesungguhnya masjid itu tidaklah didirikan untuk keperluan itu.” (Riwayat
Muslim)

1694. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jikalau engkau semua melihat seseorang menjual atau membeli – yakni
berjual beli – dalam masjid, maka katakanlah: “Semoga Allah tidak
memberikan keuntungan pada daganganmu.” Juga jikalau engkau semua
melihat ada orang yang menanyakan – mencari -sesuatu yang hilang, maka
katakanlah: “Semoga Allah tidak mengembalikan sesuatu yang hilang itu
padamu.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
1695. Dari Buraidah r.a. bahwasanya ada seorang lelaki menanyakan –
sesuatu yang hilang – di masjid, lalu ia berkata: “Siapakah yang dapat
menunjukkan kepada saya unta merah – yang menjadi miliknya? Kemudian
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Semoga engkau tidak dapat menemukannya lagi.
Hanyasanya masjid itu didirikan untuk keperluan sebabnya ia didirikan.”
Yakni untuk ibadat dan keperluan Iain-Iain yang berhubungan dengan
keagamaan. (Riwayat Muslim)

1696. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari neneknya lelaki r.a. bahwasanya
Rasulullah s.a.w. melarang dari berjual beli di dalam masjid dan kalau sesuatu
yang hilang itu ditanyakan – yakni dicari dengan menanya-nanyakan kepada
orang lain – di dalamnya, juga kalau sesuatu sya’ir diucapkan di dalamnya
pula,” – tetapi kalau sya’iritu mengandung isi puji-pujian kepada Nabi s.a.w.,
untuk ketauhidan dan yang berisikan ilmu pengetahuan yang dituntut oleh
agama, maka tidak ada salahnya. Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud
danTermidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan

1697. Dari as-Saib bin Yazid as-Shahabi r.a., katanya: “Saya berada di masjid,
lalu saya dilempar kerikil oleh seseorang, kemudian saya melihatnya, tiba-tiba
yang melempar itu adalah Umar bin al-Khaththab r.a. la berkata: “Pergilah dan
datanglah kepadaku dengan membawa dua orang itu.” Saya lalu datang
kepadanya dengan dua orang tersebut, Umar lalu bertanya: “Dari manakah
anda berdua ini datang?” Keduanya menjawab: “Dari Thaif.” Lalu Umar berkata
lagi: “Andaikata anda berdua dari penduduk negeri ini – yakni Madinah, niscaya
anda berdua akan saya sakiti, sebab anda berdua memperkeraskan suara dalam
masjidnya Rasulullah s.a.w..” (Riwayat Bukhari)
Bab 311

Larangan Makan Bawang Putih, Bawang Merah,
Petai Dan Lain-lain Yang Mengandung Bau
Busuk Dari Masuk Masjid Sebelum Lenyapnya
Bau Tersebut — Dari Mulut — Kecuali Kalau
Dharurat

1698. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda: “Barangsiapa yang makan buah dari pohon ini – yakni bawang putih –
maka janganlah sekali-kali mendekati masjid kita.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam
riwayat Imam Muslim disebutkan: “Jangan mendekat ke masjid-masjid kita.”

1699. Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang makan
buah dari pohon ini – yakni bawang putih, maka janganlah mendekati kita
dan jangan sekali-kali bersembahyang bersama dengan kita.” (Muttafaq ‘alaih)

1700. Dari Jabir r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, maka
hendaklah menjauhkan diri dari kita atau pula supaya ia menjauhkan diri dari
masjid kita.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Barangsiapa yang makan bawang merah, bawang putih dan petai, maka
janganlah sekali-kali mendekati masjid kita, karena sesungguhnya malaikat itu merasa disakiti – yakni tidak enak perasaannya – sebagaimana merasa disakitinya
– yakni tidak enaknya perasaan – anak Adam daripada bau benda-benda itu.”

1701. Dari Umar bin al-Khaththab r.a. bahwasanya ia berkhutbah pada hari
Jum’at, lalu ia berkata dalam khutbahnya; “Kemudian, sesungguhnya engkau
sekalian itu, wahai para manusia sama makan dari buah kedua pohon ini. Saya
tidak melihat kedua nya itu melainkan sebagai benda yang busuk baunya, yaitu
bawang merah dan bawang putih. Saya telah melihat Rasulullah s.a.w.,
apabila beliau menyuruh ia datang dan selanjutnya diperintah keluar ke
Baqi’. Maka barangsiapa yang memakan keduanya, hendaklah mematikan
dulu baunya dengan jalan direbus.” (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Baqi’ ialah tempat pemakaman kaum Muslimin di Madinah, Maksudnya
disuruh pergi ke Baqi’ ialah untuk mempersangatkan ketidak-sukaan beliau
s.a.w. pada bau kedua buah tersebut kalau ada di masjid, kemudian supaya
menghilangkan bau itu di sana dengan berkumur serta menggosok gigi dan
sebagainya.
Bab 312
Makruhnya Duduk Ihtiba’ Pada Hari Jum’at Di Waktu
Imam Sedang Berkhutbah, Sebab Duduk Semacam Itu Dapat
Menyebabkan Timbulnya Kantuk Lalu Tidak
Memperhatikan Lagi Untuk Mendengarkan Khutbah Dan
Pula Ditakutkan Akan Batalnya Wudhu’

1702. Dari Mu’az bin Anas al-Juhani r.a. bahwasanya Rasulullah melarang
dari duduk ihtiba’ pada hari Jum’at, sedang Imam waktu
itu berkhutbah.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi
dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Keterangan:
Ihtiba’ ialah duduk berjongkok sambil membelitkan sesuatu dari
pinggang ke lutut atau tangannya merangkul lutut.
Bab 313

Larangan Bagi Seseorang Yang Didatangi Tanggal
Sepuluh Zulhijjah Dan la Hendak Menyembelih Kurban
Kalau la Mengambil — Memotong Atau Mencukur —
Sesuatu Dari Rambut Atau Kukunya Sendiri, Sehingga la
Selesai Menyembelih Kurban Tadi

1703. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang memiliki binatang kurban yang hendak disembelihnya,
maka apabila telah tampak sabitnya bulan Dzulhijjah, janganlah sekali-kali ia
mengambil – yakni memotong atau mencukur – dari rambutnya dan jangan
pula dari kuku-kukunya sedikitpun, sehingga ia selesai menyembelih
kurbannya itu.” (Riwayat Muslim)

Bab 314
Larangan Bersumpah Dengan Menggunakan Makhluk
Seperti Nabi, Ka’bah, Malaikat, Langit, Nenek-moyang,
Kehidupan, Ruh, Kepala, Kehidupan Sultan, Kenikmatan
Sultan, Tanah Si Fulan, Amanat Dan Sumpah-sumpah
Semacam Inilah Yang Terkeras Larangannya

1704. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi
s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu melarang engkau semua kalau
bersumpah dengan menggunakan nenek moyangmu semua. Maka barangsiapa
yang bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan Allah saja atau lebih baik
diamlah.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam sebuah riwayat dalam shahih Muslim disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda:
“Maka barangsiapa yang bersumpah, maka janganlah bersumpah melainkan
dengan Allah atau hendaklah ia berdiam saja.”

1705. Dari Abdur Rahman bin Samurah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Janganlah engkau semua bersumpah dengan menggunakan berhala-hala
dan jangan pula dengan nenek-moyangmu semua.” (Riwayat Muslim)
Aththawaghi jama’nya thaghiah yaitu berhala-hala, dari kata ini terdapat
sebuah Hadis yang artinya: “Ini adalah berhala Daus,” yaitu berhala kepunyaan
kabilah Daus serta itulah yang disembah oleh mereka. Dalam riwayat selain
Muslim disebutkan: bith thawaghit, ini adalah jamaknya thaghut dan artinya ialah
syaitan dan dapat pula diartikan berhala.
1706. Dari Buraidah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang bersumpah dengan menggunakan kata
amanat, maka ia bukanlah termasuk golongan kita – kaum Muslimin. Hadis
shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan
isnad shahih.

1707. Dari Buraidah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang bersumpah lalu mengatakan: “Sesungguhnya saya
telah melepaskan diri dari Islam,” maka jikalau ia berdusta maka dosanya
adalah sebagaimana yang diucapkan sendiri itu, tetapi jikalau ia benar-
benar seperti ucapannya tadi, maka tidak akan ia kembali ke agama
Islam dengan selamat.” (Riwayat Abu Dawud)

1708. Dari ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia
mendengar seorang lelaki berkata: “Tidak, demi Ka’bah.”Lalu Ibnu
Umar berkata: “Janganlah engkau bersumpah dengan selain Allah, sebab
sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia dapat
menjadi kafir atau musyrik.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan. Selanjutnya Imam Termidzi berkata: “Sebagian para
alim ulama menafsirkan sabdanya: kafara au asyraka – yakni dapat menjadi
kafir atau musyrik – itu sebagai kata memperkeraskan larangan,
sebagaimana juga diriwayatkan bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: Arria-
u syirkun – artinya pamer itu adalah kemusyrikan.”
Bab 315
Memperkeraskan Keharamannya Sumpah Dusta Dengan
Sengaja

1709. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang bersumpah atas harta seseorang Muslim yang bukan
haknya -yakni dengan maksud akan diambilnya dengan menggunakan
sumpah dusta, maka orang itu akan menemui Allah -di waktu matinya
atau pada hari kiamat nanti, sedang Allah amat murka sekali
kepadanya.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Rasulullah s.a.w. lalu membacakan kepada
kita, untuk menunjukkan kebenaran sabdanya itu, yakni dari Kitabullah
‘Azzawajalla – yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membeli
– yakni menukar – janji Allah dan sumpah mereka sendiri dengan harga
murah,” sampai ke akhir ayat. (Muttafaq ‘alaih)
Lanjutan ayat di atas ialah: Mereka yang berhal demikian tidak akan
memperoleh bagian di akhirat. Allah tidak akan berkata-kata dengan
mereka, tidak memperhatikan mereka pada hari kiamat dan tidak pula
menyucikan mereka dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.

1710. Dari Abu Umamah yaitu lyas bin Tsa’labah al-Haritsi r.a. bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang mengambil hak seseorang
Muslim dengan menggunakan sumpahnya – yakni dengan sumpah dusta atau
palsu, maka Allah mewajibkan untuknya neraka dan mengharamkan syurga
padanya.” Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Bagaimanakah kalau yang
diambilnya itu hanya sesuatu benda yang remeh saja, ya Rasulullah.” Beliau
s.a.w. menjawab: “Sekalipun yang diambilnya itu hanyalah setangkai kayu arak
– untuk bersiwak.” (Riwayat Muslim)
1711. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma dari Nabi
s.a.w., sabdanya:
“Dosa-dosa besar itu ialah menyekutukan sesuatu dengan Allah melawan –
yakni berani – kepada kedua orang tua, membunuh jiwa dan sumpah dusta –
yakni palsu.” (Riwayat Bukhari)
Dalam riwayat Imam Bukhari yang lain disebutkan:
Ada seorang A’rab – penghuni pedalaman negeri Arab – datang kepada Nabi
s.a.w., lalu berkata: “Ya Rasulullah, apa sajakah dosa- dosa besar itu? Beliau
s.a.w. menjawab: “Yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah.” Orang itu
berkata lagi: “Kemudian apakah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu sumpah dusta
– yakni palsu.”
Saya – Abdullah bin’Amr – berkata: “Apakah sumpah dusta itu?” Beliau
s.a.w. menjawab: “Yaitu orang yang mengambil hartanya seseorang Muslim,”
yakni dengan menggunakan sumpah, sedangkan orang itu berdusta dalam
sumpahnya itu.

Bab 316
Sunnahnya Seseorang Yang Sudah Terlanjur Mengucapkan
Sumpah, Lalu Melihat Lainnya Yang Lebih Baik Dan
Yang Disumpahkannya Itu, Supaya la Mengerjakan Saja
Apa Yang Sudah Disumpahkan Tadi Kemudian
Membayar Denda Atas Sumpahnya Tersebut
1712, Dari Abdur Rahman bin Samurah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w.
bersabda kepada saya: “Dan jikalau engkau mengucapkan sumpah atas
sesuatu sumpah, lalu engkau melihat yang lainnya itu lebih baik daripada
yang engkau sumpahkan tadi, maka datangilah yang lebih baik itu dan
bayarkanlah kaffarah – yakni dendanya – dari sumpahmu tersebut.”
(Muttafaq ‘alaih)

1713. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa bersumpah atas sesuatu sumpah lalu melihat yang lainnya itu
lebih baik daripada yang disumpahkannya, maka bayarkanlah kaffarah – yakni
denda – dari sumpahnya tersebut dan baiklah mengerjakan yang lebih baik tadi.”
(Riwayat Muslim)

1714. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya saya, demi Allah. Insya Allah tidak akan bersumpah atas sesuatu
sumpah, kemudian saya melihat ada yang lebih baik dari apa yang saya
sumpahkan tadi, melainkan saya bayarkan sajalah kaffarah – yakni denda – dari
sumpah saya tadi dan saya mengerjakan yang lebih baik itu.” (Muttafaq ‘alaih)
1715. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Niscayalah
kalau seseorang di antara engkau semua itu berlarut-larut dalam sumpahnya
dan tidak membayarkan kaffarahnya – yakni dendanya – dalam keluarganya, hal
itu adalah lebih berdosa baginya di sisi Allah Ta’ala daripada ia memberikan
kaffarah yang telah diwajibkan oleh Allah atas dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Maksudnya: Seseorang yang bersumpah lalu melihat ada yang lebih baik dari
yang disumpahkannya tadi, tetapi ia tetap dalam sumpahnya dan tidak suka
mengerjakan yang lebih baik itu, lalu membayar kaffarah dari yang sudah
terlanjur disumpahkan, hal itu adalah lebih berdosa daripada kalau ia membayar
saja kaffarahnya sumpah yang terlanjur itu, kemudian mengerjakan yang dilihat
lebih baik tadi.
Sabdanya: Yalajja dengan fathahnya lam dan tasydidnya jim yaitu berlarut
terus dalam sumpahnya dan tidak membayar kaffarah, sedang sabdanya:
Atsamu dengan tsa’ bertitik tiga, artinya ialah lebih banyak dosanya.
Bab 317
Pengampunan Atas Sumpah Yang Tidak Disengaja Dan
Bahwasanya Sumpah Semacam Ini Tidak Perlu Dibayarkan
Kaffarah, Yaitu Sumpah Yang Biasa Meluncur Atas Lisan
Tanpa Adanya Kesengajaan, Seperti Seseorang Yang Sudah
Biasa Mengucapkan: “Tidak, Wallahi” Dan “Ya, Wallahi”
Dan Lain-lain Sebagainya

Allah Ta’ala berfirman:
“Allah tidak akan menuntut engkau semua dengan sebab sumpahmu semua yang
tidak disengaja, tetapi Allah menyiksa engkau semua karena sumpah yang engkau
semua teguhkan ikatannya. Maka kaffarah – yakni denda – sumpah yang sedemikian ini
ialah memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan yang biasa engkau semua
berikan kepada keluargamu atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekakan
hambasahaya. Barangsiapa tidak menemukan semua itu – yakni tidak kuasa
melakukannya, maka kaffarahnya ialah berpuasa tiga hari, demikian itulah kaffarahnya
sumpah yang engkau semua sumpahkan dan jagalah sumpahmu semua itu.” (al-
Maidah: 89)

1716. Dari Aisyah radhiallahu’anha, katanya: “Ayat ini diturunkan, yaitu: La
yuaakhidzukumullahu bil-laghwi fi aimanikum – sebagaimana yang tercantum itu –
untuk menjelaskan kata seseorang yang berbunyi: “Tidak demi Allah” dan “Ya,
demi Allah.” (Riwayat Bukhari)
Bab 318
Makruhnya Bersumpah Dalam Berjualan, Sekalipun Benar
Kata-katanya

1717. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Bersumpah itu menyebabkan lakunya dagangan tetapi melenyapkan
keberkahan hasil usaha.” (Muttafaq ‘alaih)

1718. Dari Abu Qatadah r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Takutlah engkau semua pada banyaknya mengucapkan sumpah, sebab
sesungguhnya sumpah itu dapat melakukan – menyebabkan dagangan laku
dengan keuntungan banyak, tetapi kemudian menyebabkan lenyapnya –
keberkahan hasil usaha.” (Riwayat Muslim)
Bab 319
Makruhnya Seseorang Meminta Dengan ZatNya Allah
Azza Wa Jalla Selain Dari Syurga Dan Makruhnya
Menolak Seseorang Yang Meminta Dengan Menggunakan
Ucapan “Dengan Allah Ta’ala” Serta Bersyafa’at Dengan
Kata-kata Itu

1719. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah
dimintakan dengan menggunakan kalimat: Dengan Zatnya Allah,”
melainkan syurga.” (Riwayat Abu Dawud)
1720. Dari Ibnu Umar radhiallahu
‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang meminta perlindungan dengan menggunakan kata-kata:
“Dengan nama Allah,” maka berilah ia perlindungan dan barangsiapa meminta
dengan menggunakan: “Dengan nama Allah,” maka berilah ia. Juga barangsiapa
yang mengundang engkau semua, maka kabulkanlah undangannya itu
barangsiapa yang berbuat sesuatu kebaikan kepadamu semua maka balaslah
kebaikannya itu. Jikalau engkau semua tidak mendapatkan sesuatu yang
digunakan sebagai balasan kepadanya, maka berdoa sajalah untuk kebaikan orang
yang memberi tadi, sehingga engkau semua merasa bahwa engkau semua telah
memberikan balasannya kebaikannya tadi.” Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Nasa’i
dengan isnad-isnad kedua shahih Bukhari dan Muslim.
Bab 320
Haramnya Mengucapkan Syahansyah — Maha Raja Atau
Raja Di Raja — Untuk Seseorang Sultan Atau Lain-
lainnya, Sebab Artinya Itu Ialah Raja Dan Sekalian Raja,
Sedangkan Tidak Boleh Diberi Sifat Sedemikian Itu
Melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

1721. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya
serendah-rendahnya nama di sisi Allah ‘Azzawajalla ialah seseorang
lelaki yang menamakan dirinya Raja Di Raja-atau Maharaja.” (Muttafaq
‘alaih) Sufyan bin Unaiyah berkata: “Raja Di Raja itu ialah seperti
Syahansyah.
Bab 321
Larangan Memanggil Orang Fasik Atau Orang Yang
Berbuat Kebid’ahan Dan Yang Semacam Itu Dengan Ucapan
“Tuan — Sayyid —” Dan Yang Seumpamanya

1722. Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah
engkau semua mengucapkan sayyid – atau Tuan -untuk seorang munafik,
sebab sesungguhnya saja jikalau orang itu benar-benar menjadi sayyid –
yang artinya tinggi martabatnya di atas orang-orang lain yakni menjadi
pemimpin, maka engkau semua benar-benar telah membuat kemurkaan
Tuhanmu sekalian ‘Azzawajalla.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

Bab 322
Makruhnya Memaki-maki Penyakit Panas

1723. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat Ummu
Saib atau Ummul Musayyab, lalu ia berkata: “Mengapa anda, hai Ummu
Saib” atau “hai Ummul Musayyab. Mengapa anda gementar.” Wanita itu
menjawab: “Dihinggapi penyakit panas. Semoga Allah tidak memberkahi
penyakit ini.” Jabir berkata: “Janganlah anda memaki-maki penyakit panas itu,
sebab sesungguhnya penyakit itu dapat melenyapkan semua kesalahan anak
Adam, sebagaimana dapur pandai besi dapat melenyapkan kotoran – yakni
karat – besi.” (Riwayat Muslim)

Tuzafzifina yakni bergerak-gerak dengan gerakan keras sekali -yakni gementar.
Maknanya sama dengan Tarta’idu. Tuzafzifina itu dengan dhammahnya ta’ dan
dengan zai yang didobbelkan serta fa’ yang didobbelkan pula. Diriwayatkan
pula dengan ra’ yang didobbelkan dan dua qaf – lalu berbunyi Turaqriqina.
Bab 323
Larangan Memaki-maki Angin Dan
Uraian Apa Yang Diucapkan Ketika
Ada Hembusan Angin

1724. Dari Abul Mundzir yaitu Ubay bin Ka’ab r.a., katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua memaki-maki angin, maka jikalau engkau semua
melihat sesuatu yang tidak engkau semua sukai, maka ucapkanlah – yang artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya kita semua memohonkan kepadaMu akan
kebaikannya angin ini dan kebaikan apa yang terkandung di dalamnya dan
kebaikan apa yang ia diperintahkan, juga kita mohon perlindungan
kepadaMu dari keburukannya angin ini dan keburukan apa yang
terkandung di dalamnya serta keburukan apa yang ia diperintahkan.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.

1725. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Angin itu adalah dari rahmat Allah, ia datang dengan mem-bawa
kerahmatan dan adakalanya ia datang dengan membawa siksa. Maka jikalau
engkau semua melihat angin, janganlah engkau semua memaki-makinya dan
mohonlah kepada Allah akan kebaikannya dan mohonlah perlindungan
kepada Allah daripada kejahatannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
Sabdanya s.a.w.: Min rauhillah, dengan fathahnya ra’, artinya kerahmatan
Allah kepada hamba-hambaNya.
1726. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. itu apabila angin
berhembus keras, beliau mengucapkan doa – yang artinya: “Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon kepadaMu akan kebaikan angin ini dan kebaikan
apa-apa yang terkandung di dalamnya dan juga kebaikan sesuatu yang ia
dikirimkan untuknya.
Saya juga mohon perlindungan kepadamu daripada kejahatan angin
ini dan apa-apa yang terkandung di dalamnya dan juga sesuatu yang
ia dikirimkan untuknya.” (Riwayat Muslim)
Bab 324

Makruhnya Memaki-maki Ayam

1727. Dari Zaid bin Khalid al-Juhani r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Janganlah engkau semua memaki-maki ayam, sebab sesung-guhnya ayam –
yang jantan – itu membangunkan untuk shalat.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
Bab 325

Larangan Seseorang Mengucapkan “Kita Dihujani Dengan
Berkah Bintang Anu”

1728. Dari Zaid bin Khalid r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersembahyang
shalat Subuh bersama kita sekalian di Hudaibiyah yaitu di tanah bekas terkena
siraman air hujan dari langit yang terjadi pada malam harinya itu. Setelah beliau
s.a.w. selesai shalat, lalu menghadap kepada orang banyak, kemudian
bersabda: “Adakah engkau semua mengetahui apa yang difirmankan oleh
Tuhanmu semua?” Para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya itulah yang
lebih mengetahui.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Allah Ta’ala ber-firman:
“Berpagi-pagi di antara hamba-hambaKu itu ada yang menjadi orang
mu’min dan ada yang menjadi orang kafir. Adapun
orang yang berkata: “Kita dikarunia hujan dengan keutamaan Allah
serta dengan kerahmatanNya, maka yang sedemikian itulah orang
mu’min kepadaKu dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang
berkata: “Kita diberi hujan dengan berkahnya bintang Anu atau
Anu, maka yang sedemikian itulah orang yang kafir padaku dan
mu’min kepada bintang.” (Muttafaq ‘alaih)

Assama’ di sini artinya hujan – karena ia turun dari langit.

Keterangan:
Menjadi kafir kepada Allah, karena berkata sebagaimana di atas itu,
jikalau ia mengimankan dengan sebenar-benarnya bahwa memang
bintang itulah yang kuasa menurunkan hujan. Kafir di sini dapat pula
diartikan menutupi kenikmatan Allah yang telah di-karuniakan
padanya.

Bab 326

Haramnya Seseorang Mengatakan
Kepada Sesama Orang Muslim:
“Hai Orang Kafir”

1729. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila ada seseorang berkata kepada saudaranya – sesama
Muslimnya: “Hai orang kafir,” maka salah seorang dari keduanya –
yakni yang berkata atau dikatakan – kembali dengan membawa
kekafiran itu. Jikalau yang dikatakan itu benar-benar sebagaimana
yang orang itu mengucapkan, maka dalam orang itulah adanya
kekafiran, tetapi jikalau tidak, maka kekafiran itu kembali kepada
orang yang mengucapkannya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

1730. Dari Abu Zar r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang memanggil orang lain dengan sebutan ke-
kafiran atau berkata bahwa orang itu musuh Allah, padahal yang
dikatakan sedemikian itu sebenarnya tidak, melainkan kekafiran itu
kembalilah pada dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)
Haara artinya kembali.
Bab 327
Larangan Berbuat Kekejian — Atau Melanggar Batas —
Serta Berkata Kotor

1731. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bukannya seorang mu’min yang suka mencemarkan nama orang, atau yang
suka melaknat dan bukan pula yang berbuat kekejian serta yang kotor
mulutnya.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.

1732. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
Tidaklah kekejian – atau melanggar batas menurut ketentuan syara’ atau adat –
itu bertempat dalam sesuatu, melainkan ia akan menyebabkan celanya dan
tidaklah sifat malu itu bertempat dalam sesuatu, melainkan ia akan merupakan
hiasannya – yakni malu mengerjakan kejahatan atau apa-apa yang tidak sopan.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis
hasan.

Bab 328

Makruhnya Memaksa-maksakan Keindahan Dalam
Bercakap-cakap Dengan Jalan Berlagak Sombong Dalam
Mengeluarkan Kata-kata Dan Memaksa-maksakan Diri
Untuk Dapat Berbicara Dengan Fasih Atau Menggunakan
Kata-kata Yang Asing — Sukar Diterima — Serta Susunan
Yang Rumit-rumit Dalam Bercakap-cakap Dengan Orang
Awam Dan Yang Seumpama Mereka Itu

1733. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Rusak binasalah
orang-orang yang suka melebih-Iebihkan – dari kadar kemampuan dirinya
sendiri.” Beliau s.a.w. menyabdakan ini tiga kali. (Riwayat Muslim)
Almutanaththi’una yaitu orang-orang yang melebih-Iebihkan dalam segala
perkara.

1734. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu membenci kepada seseorang yang berlebih-lebihan
dalam cara mengeluarkan kata-kata – ketika ber-bicara – dari golongan kaum
lelaki, yaitu orang yang mencela-cela -yakni mempermainkan – lidahnya,
sebagaimana lembu di waktu mencela-cela – yakni mempermainkan lidahnya
itu.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
1735. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya
termasuk golongan orang yang paling saya cintai di antara engkau semua serta
yang terdekat kedudukannya dengan saya pada hari kiamat ialah yang terbaik
budipekertinya di antara engkau semua itu dan sesungguhnya termasuk
golongan orang yang paling saya benci di antara engkau semua serta yang
terjauh kedudukannya dengan saya pada hari kiamat ialah orang yang banyak
bicara, sombong bicaranya serta merasa tinggi apa yang dibicarakannya itu –
karena kecongkaannya.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan. Uraian Hadis ini telah lampau dalam bab Bagusnya budipekerti –
lihat Hadis no. 629.
Bab 329

Makruhnya berkata:” Cemar Jiwaku”

1736. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah
sekali-kali seseorang di antara engkau semua itu mengucapkan: “Cemar
jiwaku,” tetapi hendaklah mengatakan: “Buruk jiwaku.” (Muttafaq ‘alaih)
Para alim-ulama berkata: “Makna khabutsat ialah cemar dan ini juga maknanya
kata laqisat, tetapi tidak disukailah kata-kata khubtsu
itu.” Maksudnya dalam menggunakan kata-kata itu sedapat mungkin dipilihkan
yang sopan didengar oleh orang lain.

Bab 330
Makruhnya Menamakan Anggur Dengan
Sebutan Alkarmu

1737. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua menamakan anggur dengan sebutan
alkarmu – artinya mulia, sebab alkarmu itu adalah sebutan seorang
Muslim.” (Muttafaq ‘alaih)
Ini adalah lafaznya Imam Muslim.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Karena hanyasanya alkarmu itu adalah
hati seseorang Muslim.”
Dalam riwayat Imam-imam Bukhari dan Muslim disebutkan: ‘Orang-orang
itu sama mengatakan alkarmu, hanyasanya alkarmu itu adalah hati nuraninya
seorang mu’min.”

1738. Dari Wa-il bin Hujr r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Janganlah engkau
semua mengatakan alkarmu, tetapi katakan sajalah anggur – yakni ‘inab – dan
alhablah.” (Riwayat Muslim)
Alhablah dengan fathahnya ha’ dan ba’, dapat juga dikatakan dengan
sukunnya ba’.
Bab 331
Larangan Menguraikan Sifat — Keadaan Atau
Hal Ihwal — Wanita Kepada Seseorang Lelaki,
Kecuali Kalau Ada Keperluan Untuk Berbuat
Sedemikian Itu Untuk Kepentingan Syara’
Seperti Hendak Mengawininya
Dan Sebagainya

1739. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Janganlah seseorang wanita menyentuh wanita lain, lalu ia
memberitahukan keadaan atau sifat wanita itu kepada suaminya
yang seolah-olah suami tadi dapat melihat wanita yang diterangkan-
nya tadi.” (Muttafaq ‘alaih)

Bab 332
Makruhnya Seseorang Mengucapkan Dalam
Doanya: “Ya Allah, Ampunilah Saya Kalau
Engkau Berkehendak”, Tetapi Haruslah la
Memantapkan Permohonannya Itu
1740. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah seseorang di antara engkau semua mengucapkan –
ketika berdoa: “Ya Allah, ampunilah saya, jikalau Engkau meng-
hendaki. Ya Allah, belas kasihanilah saya jikalau Engkau meng-
hendaki.” Tetapi hendaklah ia memantapkan permohonannya –
seolah-olah memastikan akan berhasilnya, sebab sesungguhnya
Allah itu tidak ada yang memaksa padaNya – untuk mengabulkan
atau menolak sesuatu permohonan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Tetapi hendaklah orang yang memohon itu bersikap mantap -olah-olah
pasti terkabul doanya – dan hendaklah ia memper-besarkan keinginannya
untuk dikabulkan itu, karena sesungguhnya Allah itu tidak ada sesuatu yang
dipandang besar olehNya yang dapat diberikan kepada orang yang
memohonnya itu.”

1741. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila seseorang di antara engkau semua berdoa, maka
hendaklah memantapkan permohonannya – seolah-olah pasti akan
kabulkan – dan janganlah sekali-kali ia mengucapkan: “Ya Allah,
kalau engkau berkehendak, maka berikanlah apa yang saya mohon- kan itu,” sebab sesungguhnya Allah itu tidak ada yang kuasa
memaksanya – untuk mengabulkan atau menolak sesuatu per-
mohonan.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 333
Makruhnya Ucapan: ”Sesuatu Yang
Allah Menghendaki Dan Si Fulan
Itu Juga Menghendaki”

1742. Dari Hudzaifah bin al-Yaman r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Janganlah
engkau semua mengucapkan: “Sesuatu yang di-kehendaki oleh Allah dan juga
dikehendaki oleh si Fulan,” tetapi ucapkanlah: “Sesuatu yang dikehendaki
oleh Allah, kemudian si Fulan itupun berkehendak demikian.” Diriwayatkan
oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
Bab 334
Makruhnya Bercakap-cakap
Sehabis Shalat Isyak
Yang Akhir
Yang dimaksudkan dengan bercakap-cakap sebagaimana di atas itu ialah
bercakap-cakap yang sifatnya mubah dalam selain waktu sehabis shalat Isya’
itu, yakni yang mengerjakan atau meninggalkan-nya sama saja – artinya tidak
berpahala dan juga tidak berdosa.
Adapun percakapan yang diharamkan atau yang dimakruhkan dalam selain
waktu itu, maka jikalau dalam waktu ini – yakni sehabis shalat Isya’ – menjadi
lebih-lebih lagi haram dan makruhnya. Tetapi percakapan yang mengenai soal-
soal kebaikan semacam ingat-mengingatkan perihal ilmu pengetahuan –
keagamaan – atau ceritera-ceritera mengenai orang-orang yang shalih, tentang
budi- pekerti luhur ataupun berbicara dengan tamu atau beserta orang yang
hendak menyelesaikan keperluannya dan Iain-Iain sebagainya, maka samasekali
tidak ada kemakruhannya, bahkan dapat menjadi disunnahkan. Demikian pula
bercakap-cakap karena ada sesuatu keuzuran – yakni kepentingan – dan sesuatu
yang datang mendadak, juga tidak dimakruhkan. Sudah jelaslah Hadis-hadis
yang shahih dalam menguraikan soal-soal sebagaimana yang saya sebutkan di
atas.
1743. Dari Abu Barzah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu tidak suka
tidur sebelum melakukan shalat Isya’ dan juga tidak suka bercakap-cakap
sehabis melakukan shalat Isya’ itu. (Muttafaq ‘alaih)

1744. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersembahyang Isya’ pada akhir hayatnya, lalu
setelah bersalam beliau s.a.w. bersabda: “Adakah engkau semua
mengetahui malam harimu ini. Sesungguhnya pada pangkal seratus
tahun lagi tidak seorangpun yang tertinggal dari golongan orang
yang ada di atas permukaan bumi pada hari ini – yakni di kalangan
para sahabat dan manusia yang Iain-Iain.” (Muttafaq ‘alaih)
Keterangan:
Apa yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. di atas adalah menjadi kenyataan ketika
wafatnya sahabat beliau s.a.w. yang terakhir yaitu Abuththufail yakni ‘Amir bin
Wailah. la wafat pada tahun110 H yaitu pangkal seratus tahun dari ketika beliau
s.a.w. menyabdakan Hadis di atas. Hadis di atas menunjukkan bolehnya
bercakap-cakap sehabis shalat Isya’, karena berhubungan dengan mempelajari
ilmu pengetahuan.

1745. Dari Anas r.a. bahwasanya para sahabat sama menantikan Nabi s.a.w. –
untuk shalat Isya’, lalu beliau s.a.w. datang kepada mereka hampir-hampir di
pertengahan malam, kemudian ber-sembahyanglah beliau bersama mereka –
yakni shalat Isya’ itu. Anas r.a. berkata: “Selanjutnya beliau berkhutbah – yakni memberi
penerangan – kepada kita, sabdanya:
“Ingat, bahwasanya para manusia – yang Iain-Iain – sudah sama
bersembahyang kemudian tidur, sedangkan engkau semua tetap
dianggap seperti dalam bersembahyang, selama engkau semua
menantikan dikerjakannya shalat itu.” (Riwayat Bukhari)
Bab 335
Haramnya Seseorang Isteri Menolak Untuk
Diajak Ke Tempat Tidur Suaminya, Jikalau
Suami Itu Mengajaknya, Sedangkan Isterinya
Itu Tidak Mempunyai Uzur Yang
Dibenarkan Oleh Syara’

1746. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau
seseorang lelaki mengajak isterinya ketempat tidurnya, lalu isterinya itu
menolak, kemudian suami itu bermalam dalam keadaan marah, maka isterinya
itu dilaknat oleh para malaikat sehingga waktu paginya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Sampai isterinya itu kembali -suka mengikuti
kemauan suaminya.”

Bab 336
Haramnya Seorang Isteri Mengerjakan Puasa
Sunnah Di Waktu Suaminya Ada Di Rumah,
Melainkan Dengan Izin Suaminya Itu

1747. Dari Abu Hurairah r.a. bahwsanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak halallah bagi seseorang isteri kalau ia berpuasa, sedang-kan suaminya
menyaksikan-yakni ada di rumah – melainkan dengan izin suaminya tersebut.
Juga tidaklah dianggap sudah mendapat izin kalau ia dalam rumah suaminya itu,
kecuali izin suaminya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih) Bab 337
Haramnya Makmum Mengangkat
Kepala Dari Ruku’ Atau Sujud Sebelumnya Imam

1748. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Adakah
seseorang di antara kamu itu tidak takut apabila ia mengangkat kepalanya
sebelum imam, lalu Allah akan mengganti kepalanya menjadi bentuk kepala
keledai atau bentuknya sama sekali dijadikan oleh Allah dalam bentuk
keledai.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 338
Makruhnya Meletakkan Tangan Di Atas
Khashirah — Yakni Rusuk Sebelah Atas
Pangkal Paha — Ketika Shalat

1749. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
melarang meletakkan khashr dalam shalat – yaitu meletakkan tangan
di atas rusuk sebelah atas dari pangkal paha. (Muttafaq ‘alaih)
Bab 339

Makruhnya Shalat Di Muka Makanan, Sedang
Hatinya Ingin Padanya Atau Bersembahyang
Dengan Menahan Dua Kotoran Yaitu Ingin
Kencing Atau Berak

1750. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Tidak sempurnalah shalatnya seseorang di muka makanan dan
tidak sempurna pula shalatnya di waktu ia menahan dua macam
kotoran” – yakni ada keinginan akan kencing atau berak dan
termasuk pula ingin kentut. (Riwayat Muslim)
Bab 340

Larangan Mengangkat Mata Ke
Langit — Yakni Ke Arah Atas —
Dalam Shalat

1751. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagaimanakah
keadaan kaum – yakni orang-orang – itu. Mereka sama mengangkat mata
mereka ke langit – yakni ke atas -dalam shalat mereka.” Selanjutnya
mengeraslah sabdanya dalam mengingatkan hal itu sehingga bersabda:
“Niscayalah mereka wajib menghentikan kelakuan mereka semacam itu atau
kalau tidak suka, maka akan disambarkan semua penglihatan mereka – yakni
menjadi buta semuanya.” (Riwayat Bukhari)
Bab 341
Makruhnya Menoleh Dalam Shalat Tanpa Adanya Uzur

1752. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya bertanya kepada
Rasulullah s.a.w. perihal menoleh di waktu shalat, lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Menoleh itu adalah sambaran karena lengah yang dilakukan
oleh syaitan dengan cara penyambaran yang cepat sekali
dalam shalatnya seseorang hamba.” (Riwayat Bukhari)

1753. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada saya:
“Takutlah engkau akan menoleh di waktu shalat, sebab se-sungguhnya
menoleh di waktu shalat itu menyebabkan kerusakan. Jikalau terpaksa harus
menoleh, maka lakukanlah dalam shalat sunnah saja, jangan dalam shalat
fardhu.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.
Bab 342
Larangan Shalat Menghadap Ke Arah Kubur

1754. Dari Abu Martsad yaitu Kannaz bin al-Hushain r.a., katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua bersembahyang
menghadap ke arah kubur dan jangan pula duduk di atas kubur itu.” (Riwayat
Muslim)
Bab 343

Haramnya Berjalan Melalui
Mukanya Orang Yang
Bersembahyang

1755. Dari Abul Juhaim yaitu Abdullah bin al-Harits bin as-Shimmah al-
Anshari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Andaikata seseorang yang berjalan melalui muka orang yang
bersembahyang itu mengetahui perihal betapa besarnya dosa yang
ditanggung olehnya, nicayalah ia akan suka berdiri menantikannya selama
empatpuluh, yang itu adalah lebih baik baginya daripada berjalan melalui
muka orang yang bersembahyang tadi.”
Yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Saya tidak mengerti,
apakah yang dimaksudkan itu empatpuluh hari atau empatpuluh
bulan ataukah empatpuluh tahun.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 344
Makruhnya Makmum Memulai Shalat Sunnah Setelah
Muazzin Mulai Mengucapkan Iqamah,
Baikpun Yang Dilakukan Itu Shalat Sunnah Dari Shalat
Wajib Yang Dikerjakan Itu —
Yakni Rawatib — Ataupun Sunnah Lainnya

1756. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jikalau shalat sudah
dibacakan iqamahnya, maka tidak ada shalat yang perlu dikerjakan selain
shalat yang diwajibkan.” (Riwayat Muslim)
Bab 345

Makruhnya Mengkhususkan Hari
jum’at Untuk Berpuasa Dan Malam
jum’at Untuk Shalat Malam

1757. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Janganlah engkau
semua mengkhususkan malam jum’at untuk berdiri mengerjakan shalat malam
di antara beberapa malam yang lain dan janganlah pula mengkhususkan hari
Jum’at untuk berpuasa dari beberapa hari yang lain, kecuali kalau kebetulan
tepat pada hari puasa yang dilakukan oleh seseorang di antara engkau semua,” –
misalnya bernazar kalau kekasihnya datang ia akan berpuasa, lalu datanglah
kekasihnya itu tepat hari Jum’at, kemudian ia berpuasa pada hari itu juga.
(Riwayat Muslim)

1758. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Janganlah sekali-kali seseorang di antara engkau semua itu
berpuasa pada hari Jum’at kecuali kalau suka berpuasa pula sehari sebelumnya
atau sehari sesudahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
1759. Dari Muhammad bin Abbad, katanya: “Saya bertanya
kepada Jabir r.a.: “Apakah benar Nabi s.a.w. melarang berpuasa
pada hari Jum’at?” la menjawab: “Ya.” (Muttafaq ‘alaih)
1760. Dari Ummul Mu’minin Juwairiyah binti al-Harits radhi-allahu ‘anha
bahwasanya Nabi s.a.w. masuk dalam rumahnya pada hari Jum’at dan ia sedang berpuasa, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Adakah engkau juga berpuasa kemarin?”
Juwairiyah menjawab: “Tidak.” Beliau s.a.w. bertanya pula: “Adakah engkau
berkehendak akan berpuasa juga besok?” la menjawab: “Tidak.” Kemudian
beliau s.a.w. bersabda: “Kalau begitu berbukalah hari ini!” (Riwayat Bukhari) Bab 346
Haramnya Mempersambungkan Dalam Berpuasa Yaitu
Berpuasa Dua Hari Atau Lebih Dan Tidak Makan Serta
Tidak Minum Antara Hari-hari Itu
1761. Dari Abu Hurairah dan Aisyah radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi
s.a.w. melarang puasa wishal – yaitu mempersam-bungkan puasa dua hari atau
lebih tanpa berbuka sedikitpun. (Muttafaq ‘alaih)

1762. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w.
melarang berpuasa wishal – lihat keterangan wishal dalam Hadis 1761. Para
sahabat lalu bertanya: “Tetapi sesungguhnya Tuan sendiri juga berpuasa
wishal?” Beliau s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya saya ini tidak sama denganmu
semua -dalam hal berpuasa wishal ini. Sesungguhnya saya juga diberi makan dan
diberi minum.” Maksudnya Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada beliau
s.a.w. itu seperti orang yang sudah makan dan minum. (Muttafaq ‘alaih) Ini
adalah lafaznya Imam Bukhari

Bab 347

Haramnya Duduk Di Atas Kubur

1763. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Niscayalah kalau seseorang di antara engkau semua itu duduk
di atas bara api, lalu terbakar pakaiannya, kemudian menembus
sampai ke kulitnya, maka hal itu adalah lebih baik baginya daripada
kalau ia duduk di atas kubur.” (Riwayat Muslim)
Bab 348

Larangan Memelur Kubur Dan Membuat Bangunan Di
Atasnya

1764. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. melarang kalau
kubur itu dipelur – ditegel atau disemen dan sebagainya, juga
melarang kalau diduduki di atasnya dan kalau didirikan bangunan di
atasnya.”(Riwayat Muslim)
Bab 349

Memperkeras Keharaman Melarikan
Diri Bagi Seseorang Hamba
Sahaya Dari Tuan Pemiliknya

1765. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Mana saja
hambasahaya yang melarikan diri maka terlepaslah tanggungan – Allah dan
RasulNya – dari hambasahaya itu,” yakni ia tidak akan memperoleh
kerahmatan Allah Ta’ala. (Riwayat Muslim)

1766. Dari Jabir r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Apabila seseorang hambasahaya itu melarikan diri, maka tidak diterimalah
shalatnya.” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka ia
telah menjadi kafir.” Maksudnya: Dapat menjadi kafir kalau
meyakinkan bahwa per- buatannya itu halal menurut agama dan kafir
di sini dapat juga diartikan menutupi kenikmatan tuannya.
Bab 350

Haramnya Memberi Syafa’at — Yakni
Pertolongan — Dalam Hal Melaksanakan
Had-had Atau Hukuman ~ Sehingga Diurungkan
Terlaksananya Hukuman Itu —

Allah Ta’ala berfirman:

“Orang yang berzina, perempuan dan lelaki, maka jaladlah – yakni deralah – keduanya
itu, masing-masing seratus kali dera. Janganlah engkau semua dipengaruhi oleh rasa
belas kasihan kepada keduanya itu dalam melaksanakan agama yakni hukum
Allah, jikalau engkau semua benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”(An-
nur:2)

1767. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya orang-orang
Quraisy disedihkan oleh peristiwa seorang wanita dari golongan
Makhzum yang mencuri – dan wajib dipotong tangannya. Mereka
berkata: “Siapakah yang berani memperbincangkan soal wanita ini
dengan Rasulullah s.a.w.?” Kemudian mereka berkata: “Tidak ada
rasanya seseorangpun yang berani mengajukan perkara ini –
maksudnya untuk meminta supaya dimaafkan dan hukuman potong
tangan diurungkan – melainkan Usamah bin Zaid, yaitu kecintaan
Rasulullah s.a.w. Usamah lalu membicarakan hal tersebut pada
beliau s.a.w., kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Adakah engkau
hendak meminta tolong dihapuskannya sesuatu had – hukuman –
dari had-had yang ditentukan oleh Allah Ta’ala?” Seterusnya beliau berdiri dan berkhutbah: “Hanyasanya yang menyebabkan rusak
akhlaknya orang-orang yang sebelumnya semua itu ialah karena
mereka itu apabila yang mencuri termasuk golongan orang mulia di
kalangan mereka, orang tersebut mereka biarkan saja – yakni tidak
diterapi hukuman apa-apa, sedang apabila yang mencuri itu orang
yang lemah – miskin dan tidak berkuasa, maka mereka laksanakanlah
hadnya. Demi Allah yang mengaruniakan keberkahan, andaikata
Fathimah puteri Muhammad itu mencuri, niscayalah saya potong
pula tangannya,” yakni sekalipun anak sendiri juga harus diterapi
hukuman sebagaimana orang lain. (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu berubahlah warna wajah Rasulullah
s.a.w., kemudian bersabda: “Adakah engkau hendak meminta tolong
dihapuskannya sesuatu had – hukuman – dari had- had yang ditentukan oleh
Allah Ta’ala?”
Usamah lalu berkata: “Mohonkanlah pengampunan untuk saya, ya
Rasulullah.” Yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Kemudian Nabi s.a.w.
menyuruh didatangkannya wanita itu lalu dipotonglah tangannya.”
Bab 351
Larangan Berberak Di Jalanan Orang-orang — Yakni
Tempat Mereka Berlalu Lintas —, juga Di Tempat Mereka
Berteduh Dan Di Tempat Mendatangi Air — Sumber-
sumber Air — Dan Yang Seumpamanya

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti – yakni mengganggu –
orang- orang mu’min, baik lelaki atau perempuan, tanpa adanya sesuatu
kesalahan yang mereka perbuat, maka orang-orang yang menyakiti
itu sungguh-sungguh telah menanggung kedustaan dan dosa yang
nyata.” (al-Ahzab: 58)
1768. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Takutlah engkau semua pada dua perkara yang melaknat,”yakni
menyebabkan orang yang melakukannya itu dilaknat oleh orang banyak.
Para sahabat berkata: “Apakah dua perkara yang melaknat itu?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Yaitu yang menyendiri – maksudnya buang air besar atau kecil –
di jalan orang-orang atau di
tempat mereka berteduh.” (Riwayat Muslim)
Bab 352
Larangan Kencing Dan Sebagainya Di Air Yang Berhenti —
Yakni Tidak Mengalir —

1769. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang kalau air yang
berhenti – yakni yang tidak mengalir – itu dikencingi.
(Riwayat Muslim)
Bab 353

Makruhnya Mengutamakan Seseorang Anak
Melebihi Anak-anak Yang Lainnya Dalam Hal
Menghibahkan — Yakni Memberikan Sesuatu

1770. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ayahnya
datang kepada Rasulullah s.a.w. dengan membawa- nya juga – yakni
membawa an-Nu’man, lalu ayahnya itu berkata: ‘Sesungguhnya saya
memberikan seseorang bujang – hambasahaya -kepada anakku ini.
Hambasahaya itu adalah milik saya.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda:
“Adakah semua anakmu itu juga engkau beri semacam yang engkau
berikan pada anak ini?” Ayah menjawab: ‘Tidak.” Kemudian Rasulullah
s.a.w. bersabda lagi: “Kalau begitu tariklah kembali.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Adakah engkau berbuat se-demikian
ini dengan semua anakmu?” Ayah menjawab: “Tidak.” Kemudian beliau
s.a.w. bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah dan bersikap adillah dalam
urusan anak-anakmu!” Ayah saya kembali lalu menarik lagi sedekah itu.
Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Adakah semua anakmu itu engkau
beri hibah seperti anak ini?” Ayah berkata: “Tidak.” Kemudian beliau
s.a.w. bersabda: “Kalau begitu, janganlah engkau mempersaksikan
kepada saya – yakni jangan menggunakan saya sebagai saksi, sebab
sesungguhnya saya tidak akan suka menyaksi-kan atas dasar kecurangan.”
Dalam riwayat lain pula disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah
engkau menggunakan saya sebagai saksi atas sesuatu kecurangan.” Dalam riwayat lain lagi disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda:
“Persaksikan sajalah kepada orang selain saya,” kemudian beliau
s.a.w. bersabda pula: “Adakah engkau merasa senang jikalau
kebaktian anak-anakmu kepadamu itu sama keadaannya?” Ayah
menjawab: “Ya.” Beliau s.a.w. lalu bersabda lagi: “Kalau begitu,
jangan diteruskan-yakni memberi seseorang anak tanpa anak-anak
yang lain.” (Muttafaq ‘alaih)

Bab 354

Haramnya Berkabung — Meninggalkan Berhias
— Bagi Seseorang Wanita Atas Meninggalnya
Mayit Lebih Dari Tiga Hari, Kecuali Kalau
Yang Meninggal Itu Suaminya, Maka Berkabungnya
Selama Empat Bulan Sepuluh Hari

1771. Dari Zainab binti Abu Salamah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya masuk
ke tempatnya Ummu Habibah, yaitu isterinya Nabi s.a.w. ketika ayahnya yaitu
Abu Sufyan bin Harb meninggal dunia. Ummu Habibah meminta harum-
haruman – seperti minyak wangi dan sebagainya -yang berwarna kuning karena
keaslian kejadiannya atau kuning karena lainnya – dengan dicampuri bahan
penguning dalam membuatnya. la meminyaki seseorang jariyah – gadis – lalu
mengenakannya pada pipinya sendiri, kemudian ia berkata: “Demi Allah, saya
sebenarnya tidak memerlukan pada harum-haruman ini, hanya saja saya pernah
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda di atas mimbar: “Tidak halallah bagi
seseorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir itu kalau ia
berkabung – dengan meninggalkan berhias dan sebagainya – karena meninggal
seorang mayit lebih dari tiga hari, kecuali kalau yang meninggal dunia itu
ialah suaminya, maka berkabungnya itu adalah selama empat bulan sepuluh
hari.” Zainab – yang meriwayatkan Hadis ini – berkata lagi: “Selanjut-nya saya
pernah masuk ke tempat Zainab binti Jahsy radhiallahu ‘anha ketika
saudaranya yang lelaki meninggal dunia. la meminta harum-haruman lalu
mengenakan sekedarnya dari harum-haruman itu, kemudian ia berkata:
“Sebenarnya, demi Allah saya tidak memerlukan menggunakan harum-
haruman ini, hanya saja saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda di
atas mimbar: “Tidak halallah bagi seseorang wanita yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, kalau ia berkabung – dengan meninggalkan berhias dan
sebagainya – karena meninggalnya seseorang mayit, lebih dari tiga hari, kecuali
kalau yang meninggal dunia itu adalah suaminya, maka berkabungnya itu
adalah selama empat bulan sepuluh hari.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 355
Haramnya Menjualkannya Orang Kota Pada
Miliknya Orang Desa Dan Menyongsong
Penjual Di Atas Kendaraan, Juga Haramnya
Menjual Atas Jualan Saudaranya — Sesama
Muslim —, Jangan Pula Melamar Atas Lamaran
Saudaranya, Kecuali Kalau la Mengizinkan
Atau la Ditolak Lamarannya

1772. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. melarang kalau
seseorang kota itu menjualkan untuk seseorang desa, sekalipun ia
adalah saudaranya seayah dan seibu.” (Muttafaq ‘alaih)
Keterangan:
Orang kota menjual untuk orang desa itu maksudnya ialah umpama saja
orang desa itu datang pada orang kota dengan membawa barang-barang yang
diperlukan oleh umum. la meminta kepada orang kota supaya barang-
barangnya itu dijualkan olehnya dengan harga menurut pasaran pada hari itu.
Kemudian orang kota itu berkata padanya: “Biarkan di tempat saya sini saja untuk saya jualnya dengan perlahan-lahan.” Cara inilah yang diharamkan
sebab merugikan orang desa tersebut. Tetapi kalau orang desa itu datang
dengan membawa barang-barang yang kurang diperlukan oleh umum atau
sekalipun banyak diperlukan umum, tetapi memang kemauan orang desa itu
sendiri meminta supaya dijualkan dengan perlahan-lahan, kemudian orang kota
berkata: “Saya akan mengurus penjualan itu untukmu,” atau ia berkata:
“Serahkan sajalah penjualannya itu dengan mengikuti harga pada saat terjual-
nya,” maka yang sedemikian ini tidak haram samasekali.
1773. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: ‘Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Janganlah engkau semua menyongsong kedatangan barang-barang
dagangan sehingga ia diturunkan di pasar-pasar.” (Muttafaq ‘alaih)
Keterangan:
Menyongsong barang dagangan, maksudnya ialah sebelum orang yang
memilikinya itu mengetahui harga pasaran, lalu ia membeli barang-
barangnya tadi tanpa adanya permintaan dari-padanya. Hal ini sama
haramnya, apakah maksud pembeli itu dengan niat menyongsong atau tidak,
seperti seseorang yang sedang berburu lalu melihat orang yang datang dari
pedalaman dengan membawa dagangan, kemudian membelinya dengan harga
yang lebih rendah dari pasaran, padahal pembeli itu mengetahui dan penjual
tidak mengetahui akan harga pasaran itu.
1774. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: ‘Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua menyongsong di atas kendaraan -yakni sebelum
pemiliknya mengetahui harga pasar, lihat keterangan Hadis 1773 – dan jangan
pula seseorang kota menjualkan untuk orang desa – lihat keterangan Hadis
1772.”
Thawus lalu berkata: “Apakah maknanya jangan seseorang kota menjualkan
untuk orang desa itu?” Ibnu Abbas menjawab: “Yaitu janganlah orang kota
menjadi makelar menjualkannya – yakni menjualnya perlahan-lahan dan
harganya menurut harga hari itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1775. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. me-larang kalau
orang kota menjualkan untuk orang desa – lihat keterangan Hadis 1772.
Janganlah pula engkau sekalian icuh-mengicuh – lihat keterangan Hadis 1567,
juga janganlah seseorang itu menjual atas jualan saudaranya – sesama Muslim –
dan jangan pula ia melamar pada wanita yang dilamar oleh saudaranya-sesama
Muslim. Jangan pula seseorang wanita minta diceraikannya saudari-nya – yakni
sesama wanita, dengan maksud ia akan suka menjadi pencukup apa yang
diwadahnya – yakni menjadi ganti dari isteri yang diceraikan tadi.
Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah s.a.w. melarang menyongsong
dagangan di jalan, juga kalau seseorang muhajir – yakni orang kota-
menjualkan untuk orang A’rab – yakni orang desa – dan kalau seseorang
wanita meminta syarat untuk diceraikannya saudarinya – misalnya sewaktu
ia akan dikawin, lalu suka menerimanya dengan syarat bahwa nanti
madunya itu akan diceraikan oleh suaminya, juga melarang kalau
seseorang itu melebihkan harga dari harga saudaranya – sesame Muslim.
Demikian pula beliau s.a.w. melarang pengicuhan dan tashriah – yaitu membiarkan binatang perahan tidak diperah dulu
supaya banyak air susunya, sehingga menimbulkan kesukaan bagi
orang yang menginginkan membelinya. (Muttafaq ‘alaih)

1776. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Janganlah sebagian dari engkau semua itu menjual atas pen-
jualan sebagian yang lainnya, jangan pula melamar atas lamaran
saudaranya – sesama Muslim – kecuali kalau orang ini mengizinkan
padanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Ini adalah lafaznya Imam Muslim.

1777. Dari Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang mu’min itu adalah saudaranya orang mu’min, maka
tidak halallah kalau ia menjual atas jualan saudaranya itu dan jangan
pula melamar atas lamaran saudaranya, sehingga saudaranya ini
meninggalkan lamarannya – misalnya mengurungkan atau memberi-
nya izin.” (Riwayat Muslim)
Bab 356
Larangan Menyia-nyiakan Harta Yang Tidak
Di Dalam Arah-arah Yang Diizinkan Oleh
Syari’at Dalam Membelanjakannya

1778. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu ridha untukmu semua akan tiga perkara dan
benci untukmu semua akan tiga perkara pula. Allah ridha untukmu semua,
jikalau engkau semua menyembahNya dan tidak menyekutukan sesuatu
denganNya dan jikalau engkau semua berpegang teguh dengan agama Allah
dengan bersama-sama -penuh rasa persatuan – dan engkau semua tidak
bercerai-berai. Allah benci untukmu semua akan qif dan qal – dikatakan dari
sini mengatakan ke sana yakni uraian yang tidak ada kepastian benarnya, juga
banyaknya pertanyaan serta menyia-nyiakan harta.” Diriwayatkan oleh Imam
Muslim dan sudah lalu uraian Hadis ini lihat Hadis no. 108.

1779. Dari Warrad, penulis al-Mughirah,katanya:”Al-Mughirah bin
Syu’bah mendiktekan kepada saya dalam suratnya yang di-sampaikan kepada
Mu’awiyah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. itu mengucapkan setiap habis
mengerjakan shalat yang diwajibkan, yaitu – yang artinya: “Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya pulalah segala
kerajaan dan segenap puji-pujian dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Ya Allah tiada yang dapat menolak terhadap apa yang telah Engkau
karuniakan dan tidak ada yang kuasa memberi terhadap apa yang telah Engkau
tolak dan tidak bergunalah kekayaan itu kepada orang yang memilikinya dari
siksaMu.”
Selain itu ditulisnya pula suratnya kepada Mu’awiyah itu bahwa-
sanya Nabi s.a.w. melarang dari qil wa qal – yakni: dari si Anu dan
kata si Anu, yaitu kata-kata tanpa kepastian benarnya, juga melarang
menyia-nyiakan harta, memperbanyak pertanyaan. Beliau s.a.w.
melarang pula berani pada para ibu, menanam anak-anak perem-
puan hidup-hidup dan mencegah – yakni tidak melaksanakan –
apa-apa yang wajib atas dirinya serta meminta apa-apa yang bukan
miliknya.” (Muttafaq ‘alaih)
Hadis ini sudah lalu uraiannya – lihat Hadis no. 340.
Bab 357
Larangan Berisyarat Kepada Seorang Muslim
Dengan Menggunakan Pedang Dan Sebagainya
Baikpun Secara Sungguh-sungguh Atau Sendagurau
Dan Larangan Memberikan Pedang Dalam Keadaan
Terhunus

1780. Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: “Janganlah
seseorang itu berisyaratkan kepada saudaranya dengan menggunakan
pedang, sebab sesungguhnya ia tidak mengetahui barangkali syaitan
menusukkan apa yang di tangannya itu –
pada saudaranya tadi, sehingga menyebabkan ia terjerumus dalam
lobang neraka.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: “Abul Qasim – yakni Nabi
Muhammad s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang berisyarat kepada saudaranya dengan menggunakan besi,
maka sesungguhnya para malaikat melaknatinya sehingga ia
melemparkannya, sekalipun yang diberi isyarat itu adalah saudara seayah dan
seibu.”
Sabdanya s.a.w.: Yanzi’a, ditulis dengan ‘ain muhmalah serta kasrahnya zai,
ada pula yang dengan ghain mu’jamah serta fathah-nya zai, maknanya
berdekatan. Dengan ‘ain muhmalah artinya melempar dan dengan mu’jamah
artinya melempar dan merusakkan asal kata annaz’u itu artinya ialah menusuk
dan merusakkan.

1781. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. melarang kalau pedang itu
diberikan – atau diterima – dalam keadaan terhunus.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
Bab 358

Makruhnya Keluar Dari Masjid Sesudah Azan
Kecuali Karena Uzur, Sehingga Melakukan
Shalat Yang Diwajibkan

1782. Dari Abusysya’tsa, katanya: “Kita semua duduk-duduk bersama Abu
Hurairah r.a. dalam masjid, lalu muadzdzin berazan, kemudian ada seorang
lelaki berdiri dari masjid dan terus berjalan. Abu Hurairah mengikuti orang
tersebut dengan pandangan mata-nya sehingga keluarlah orang tadi dari
masjid. Abu Hurairah lalu berkata; “Orang itu benar-benar telah bermaksiat –
yakni menyalahi ajaran – Abul Qasim – yakni Nabi Muhammad s.a.w.”
(Riwayat Muslim)
Bab 359
Makruhnya Menolak Harum-haruman Tanpa Adanya Uzur

1783. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa
yang ditawarkan kepadanya suatu harum-haruman maka janganlah ia
menolaknya, sebab sesungguhnya harum-haruman itu ringan bawaannya
serta harum baunya.”
(Riwayat Muslim)

1784. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. tidak pernah menolak kalau
ditawari harum-haruman. (Riwayat Bukhari)
Bab 360

Makruhnya Memuji Di Muka Orang Yang Dipuji
Jikalau Dikuatirkan Timbulnya Kerusakan Padanya
Seperti Menimbulkan Rasa Keheranan Pada Diri Sendiri
Dan Sebagainya, Tetapi Jawaz – Yakni Boleh – Bagi
Seseorang Yang Aman Hatinya Dari Perasaan Yang
Sedemikian Itu Jikalau Menerima Pujian Pada Dirinya

1785. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Nabi s.a.w. mendengar seseorang lelaki
memuji pada orang lelaki lain dan mempersangat-kan dalam memujinya itu,
lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Engkau telah merusakkan orang itu atau engkau telah me-
matahkan punggung orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)
A l – I t h r a ‘ artinya bersangatan dalam memberikan pujian.

1786. Dari Abu Bakrah r.a. bahwasanya ada seseorang lelaki
disebut-sebut namanya di sisi Nabi s.a.w., lalu ada orang lelaki lain
memujinya dengan menunjukkan kebaikannya, kemudian Nabi
s.a.w. bersabda: “Celaka engkau, engkau telah mematahkan leher-
nya.” Beliau s.a.w. mengucapkan ini berulang-ulang. Selanjutnya
sabdanya lagi: “Jikalau seseorang di antara engkau semua perlu
harus memuji, maka hendaklah mengatakan: “Saya kira ia adalah
demikian,demikian,apabila memang orang itu diketahuinya benar-
benar seperti itu, sedang yang kuasa memperhitungkan amalannya adalah Allah jua dan tiadalah seseorang itu akan dianggap suci oleh
Allah – hanya disebabkan banyaknya pujian yang diperolehnya dari
orang-orang.” (Muttafaq ‘alaih)

1787. Dari Hammam bin al-Harits dari al-Miqdad r.a. bahwasa-nya
ada seseorang lelaki yang sedang memuji Usman r.a., lalu al-Miqdad
menuju tempat orang tadi, kemudian berjongkok atas kedua
lututnya dan mulailah melempari orang itu dengan kerikil di
mukanya. Usman lalu berkata padanya: “Mengapa engkau berbuat
demikian?” Al-Miqdad menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Jikalau engkau semua melihat orang-orang yang suka
memuji, maka lemparkanlah tanah pada muka mereka itu.”
(Riwayat Muslim)
Hadis-hadis di atas itu menunjukkan larangan memberikan pujian.
Tetapi ada pula Hadis-hadis yang banyak sekali jumlahnya dan shahih-
shahih yang menerangkan bolehnya memberikan pujian itu.
Para alim-ulama berkata: “Jalan mengumpulkan antara Hadis-hadis di
atas – yang melarang dan yang membolehkan – ialah: Jikalau orang yang
dipuji itu memiliki keimanan yang sempurna dan keyakinan yang
baik, serta jiwa yang terlatih, demikian pula penge-tahuan yang
sempurna, sehingga tidak dikhuatirkan akan timbulnya fitnah dalam
jiwanya sendiri apabila menerima pujian, juga tidak tertipu hatinya
dengan demikian itu, malahan kalbunya tidak juga dapat dipermainkan
dengan ucapan pujian tersebut, maka terhadap orang yang semacam ini
pujian itu tidaklah haram dan tidak pula makruh. Tetapi jikalau dikhuatirkan
akan adanya sesuatu dari perkara-perkara yang tersebut di atas, maka memuji
itu adalah dimakruhkan di muka orang tersebut dengan kemakruhan yang sangat. Dengan cara pemisahan sebagaimana di atas itu diturun-kannya
beberapa Hadis yang berselisihan tujuannya itu.
Di antara Hadis-hadis yang menunjukkan bolehnya memuji itu ialah
sabdanya Nabi s.a.w. kepada Abu Bakar r.a.: “Saya harap anda termasuk
golongan orang-orang itu – yakni yang dapat diundang dari segala macam
pintu syurga, lihat Hadis no. 1213 – untuk dapat masuk dari semuanya itu.
Dalam Hadis Iain disebutkan: “Engkau bukan golongan orang-orang itu,”
yakni bukan golongan orang-orang yang melemberehkan sarungnya karena
ada tujuan kesom-bongan – lihat Hadis no. 788. Demikian pula sabda Rasulullah
s.a.w. kepada Umar r.a.: “Tidaklah syaitan itu melihat anda menempuh
sesuatu jalan, melainkan ia akan menempuh jalan selain dari jalan yang anda
lalui.”
Jadi Hadis-hadis mengenai bolehnya memberikan pujian itu banyak
sekali dan sudah saya sebutkan sebagian dari petikan-petikannya dalam kitab
al-Adzkar – yang dikarang oleh Imam an- Nawawi pula.
Bab 361

Makruhnya Keluar Dari Sesuatu Negeri Yang
Dihinggapi Oleh Wabah Penyakit Karena Hendak
Melarikan Diri Daripadanya Serta Makruhnya Datang
Di Negeri Yang Dihinggapi Itu
Allah Ta’ala berfirman:

“Di mana saja engkau semua berada, tentu akan dicapai oleh
kematian, sekalipun dalam benteng-benteng tinggi dan kokoh
penjagaannya.” (an-Nisa’: 78)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Dan janganlah engkau semua menjerumuskan dirimu sendiri dalam kerusakan –
yakni kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

1788. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Umar bin al-
Khaththab r.a. keluar bepergian ke Syam (Palestina), sehingga di waktu ia
datang di Sarghu, dijemputlah ia oleh para pembesar tentera, yaitu Abu
Ubaidah bin al-Jarrah dan kawan-kawannya lalu mereka memberitahukan
padanya bahwa di Syam timbul wabah penyakit tha’un – yakni kolera. Ibnu Abbas berkata: “Umar lalu berkata padaku: “Panggilkan-lah ke mari
orang-orang dari golongan kaum muhajirin yang pertama kali – yakni
orang-orang yang dahulu mengikuti jejak Rasulullah s.a.w. ketika berpindah
dari Makkah ke Madinah.” Saya mengundang mereka, lalu Umar meminta
musyawarat – pertim-bangan – dari mereka itu dan memberitahukan kepada
mereka bahwa di Syam timbul wabah penyakit tha’un. Kaum muhajirin sama
berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata: “Anda keluar untuk
melaksanakan sesuatu perkara dan kita tidak mempunyai pendapat untuk
menyetujui anda kembali.” Sebagian dari mereka ada pula yang berkata:
“Bersama anda ini juga banyak manusia yang Iain-Iain, juga para sahabat
Rasulullah s.a.w. dan kita tidak ber-pendapat untuk menyetujui bahwa anda
akan mengajukan mereka itu untuk menjadi umpan wabah penyakit
tersebut.” Umar lalu berkata: “Sekarang menyingkirlah dari tempatku ini!”
Selanjutnya ia berkata: “Panggilkanlah ke mari orang-orang dari golongan
kaum Anshar – yakni yang membela Rasulullah s.a.w. sedatangnya di Madinah
dari Makkah.” Saya memanggil mereka, lalu Umar me-minta musyawarah
kepada mereka dan mereka ini menempuh jalan sebagaimana halnya kaum
muhajirin dan mereka berselisih pen-dapat seperti juga kaum muhajirin
tadi. Umar lalu berkata: “Sekarang menyingkirlah dari tempatku ini!”
Seterusnya ia berkata: “Panggilkanlah ke mari orang-orang tua Quraisy dari
golongan orang-orang yang berpindah sehabis dibebaskannya Makkah.”
Mereka saya panggil, kemudian ada dua orang yang tidak menyalahi akan
pendapatnya – yakni hendak kembali. Mereka berkata: “Kita berpendapat
supaya anda pulang saja dengan semua orang dan janganlah mengajukan
mereka untuk menjadi umpan wabah penyakit itu.”
Umar kemudian berseru kepada seluruh manusia, katanya:
“Sesungguhnya saya akan berpagi-pagi menaiki kendaraan – untuk kembali ke
Madinah, maka dari itu supaya anda sekalian juga berpagi-pagi berangkat kembali.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah r.a. berkata: “Adakah anda kembali itu
karena lari dari takdir Allah?”
Umar r.a. berkata: “Alangkah baiknya kalau selain anda yang
mengeluarkan pembicaraan seperti itu, hai Abu Ubaidah.” Umar
memang tidak senang kalau Abu Ubaidah menyalahi pendapatnya-
yaitu hendak kembali, lalu Umar berkata: “Ya, kita memang lari dari
takdir Allah untuk menuju kepada takdir Allah pula. Tahukah anda,
andaikata anda mempunyai seekor unta lalu ia turun di suatu jurang
yang di kanan kirinya ada tepi berupa lembah. Lembah yang satu
subur, sedang yang lainnya tandus. Tidakkah kalau unta itu ter-gembala
di lembah yang subur, maka iapun tergembala dengan takdir Allah dan
kalaupun ia tergembala di lembah yang tandus, iapun tergembala
dengan takdir Allah pula?”
Ibnu Abbas berkata: “Selanjutnya datanglah Abdur Rahman bin Auf
r.a. la di waktu itu sedang tidak ada karena mengurusi sesuatu hajatnya
sendiri. la kemudian berkata: “Sesungguhnya saya mem-punyai
pengetahuan mengenai persoalan ini. Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Jikalau engkau semua mendengar adanya wabah tha’un itu di
sesuatu negeri, maka janganlah engkau semua datang di tempat itu.
Tetapi jikalau wabah itu hinggap di sesuatu negeri, sedang engkau
semua sedang berada di situ, maka janganlah engkau semua keluar dari
negeri itu.”
Umar r.a. lalu memuji syukur kepada Allah Ta’ala dan terus
berangkat kembali pulang – ke Madinah.” (Muttafaq ‘alaih)
Al’Udwah ialah tepi jurang.
1789. Dari Usamah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Jikalau engkau semua mendengar menjangkitnya tha’un – kolera –
di sesuatu negeri, maka janganlah engkau semua masuk ke situ tetapi
apabila ia berjangkit di sesuatu negeri dan engkau semua sedang berada
di situ, maka janganlah engkau semua keluar dari negeri tersebut.”
(Muttafaq ‘alaih)
Bab 362
Memperkeras Keharamannya Sihir
Allah Ta’ala berfirman:
“Sulaiman itu tidaklah kafir, tetapi syaitan-syaitan itulah yang
kafir, mereka mengajarkan sihir kepada seluruh manusia,” sampai
habisnya ayat. (al-Baqarah: 102)

1790. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Jauhilah olehmu semua akan tujuh hal yang merusakkan.” Para
sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah tujuh macam hal yang
merusakkan itu?” Beliau s.a.w. bersabda: “Yaitu menyekutukan
sesuatu dengan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh
Allah, melainkan dengan dasar kebenaran – menurut ketentuan-
ketentuan Agama Islam, makan harta riba, makan harta anak yatim,
mundur ke belakang di saat berkecamuknya peperangan serta
mendakwa para wanita yang muhshan, mu’min lagi lalai – dengan
dakwaan berzina.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 363
Larangan Bepergian Dengan Membawa Mushhaf –
Yakni Kitab Suci Al-Quran – Ke Negeri Orang-orang
Kafir, Jikalau Dikuatirkan Akan Jatuhnya Mushhaf Itu
Di Tangan Mereka

1791. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. melarang kalau al-Quran itu dibawa bepergian ke
negeri musuh.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 364
Haramnya Menggunakan Wadah Yang Terbuat Dari Emas
Dan Wadah Dari Perak Untuk Makan, Minum, Bersuci Dan
Macam-macam Penggunaan Yang Lain- lain
1792. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Seseorang yang minum dari wadah yang terbuat dari perak itu,
hanyasanya ia memasukkan api neraka Jahanam dalam perutnya.” (Muttafaq
‘alaih) Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan “Sesungguhnya orang yang
makan atau minum dalam wadah yang terbuat dari emas dan perak – itu
sebenarnya memasukkan api Jahanam dalam perutnya.”

1793. Dari Hudzaifah r.a., katanya: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. itu melarang
kita dari mengenakan sutera tebal dan sutera tipis, juga minum dalam wadah
yang terbuat dari emas dan perak.” Selanjut-nya beliau s.a.w. bersabda:
“Semuanya itu untuk mereka – orang-orang kafir – di dunia dan
untukmu semua nanti di akhirat.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Shahih-shahih Imam-imam Bukhari dan Muslim dari
Hudzaifah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua mengenakan sutera tebal atau sutera tipis dan
janganlah pula engkau semua minum dari wadah yang terbuat dari emas dan
perak dan janganlah makan dari piring emas dan perak itu.”
Bab 365
Haramnya Seseorang Lelaki Mengenakan Pakaian Yang
Dibubuhi Minyak Za’faran
1795. Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. melarang kalau seseorang lelaki
itu berpakaian dengan dibubuhi minyak za’faran.” (Muttafaq ‘alaih)

1796. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Nabi s.a.w. melihat saya mengenakan dua baju yang disumba dengan ashfar-
kuning warnanya.” Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Adakah ibumu yang
menyuruhmu mengenakan pakaian ini?” Saya berkata: “Apakah saya cuci saja
kedua pakaian ini – supaya luntur warnanya? Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Bahkan
bakar sajalah keduanya itu.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Beliau s.a.w.
bersabda: “Se-sungguhnya pakaian macam ini adalah dari golongan
pakaian- pakaiannya orang-orang kafir, maka janganlah engkau mengena-
kannya.” (Riwayat Muslim)
Bab 366

Larangan Berdiam – Tidak Berbicara
Sehari Sampai Malam

1797. Dari Ali r.a., katanya: “Saya menghafal Hadis dari Rasulullah s.a.w.,
yaitu sabdanya:
“Tidak ada keyatiman apabila telah bermimpi – maksudnya sudah akil
baligh – dan tidak boleh berdiam – tidak berbicara – sehari sampai malam.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.
Al-Khaththabi berkata dalam menafsiri Hadis ini, demikian: “Termasuk
golongan salah satu di antara cara ibadat di zaman Jahiliyah ialah berdiam diri
– yakni tidak berbicara. Lalu mereka itu dilarang berbuat demikian dalam
Islam dan diperintah untuk berzikir serta bercakap-cakap dengan baik-baik.”

1798. Dari Qais bin Abu Hazim, katanya: “Abu Bakar as-Shiddiq masuk ke
tempat seorang wanita dari suku Ahmas dan bernama Zainab. la melihat
wanita itu tidak bercakap-cakap, lalu ia berkata: “Mengapa wanita itu tidak
bercakap-cakap.” Orang-orang berkata: “la sengaja berdiam diri – tidak
bercakap-cakap.” Kemudian Abu Bakar berkata kepada wanita itu:
“Berbicaralah engkau, sebab kelakuan sedemikian itu tidak halal. Ini adalah
dari kelakuan orang Jahiliyah.” Selanjutnya wanita itupun berbicaralah.
(Riwayat Bukhari)
Bab 367
Haramnya Seseorang Mengaku Nasab – Atau
Keturunan – Dari Seseorang Yang Bukan Ayahnya
Dan Mengaku Diperintah Oleh Orang Yang Bukan
Walinya – Yakni Yang Tidak Berhak
Memerdekakannya

1799. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengaku – sebagai nasab atau keturunan – kepada orang
yang bukan ayahnya, sedang ia mengetahui bahwa orang itu memang bukan
ayahnya, maka syurga adalah haram
atasnya.” (Muttafaq ‘alaih)

1800. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Janganlah
engkau semua membenci kepada ayahmu sendiri – sehingga mengaku
orang lain sebagai ayahnya, karena barangsiapa yang membenci ayahnya
sendiri, maka perbuatan itu menyebabkan kekafiran,” yakni dapat kafir
kalau meyakinkan bahwa perbuatan- nya itu halal menurut agama
atau dapat diartikan kafir yakni menutupi hak ayahnya atas dirinya
sendiri. (Muttafaq ‘alaih)

1801. Dari Yazid bin Syarik bin Thariq, katanya: “Saya melihat Ali r.a. di atas
mimbar dan saat itu ia sedang berkhutbah. Saya mendengarkannya. la berkata:
“Tidak ada, demi Allah. Kita tidak mempunyai kitab yang perlu kita baca, melainkan Kitabullah -yakni al-Quran – dan apa-apa yang terdapat dalam
lembaran ini.” Se-lanjutnya Ali membeberkan lembaran itu, di dalamnya
terdapat persoalan umur-umur unta dan catatan-catatan hal-hal mengenai soal
luka-melukai. Di dalamnya terdapat pula sabdanya Rasulullah s.a.w., demikian:
“Madinah adalah tanah suci, yaitu antara daerah ‘Air sampai Tsaus – nama
sebuah gunung kecil. Barangsiapa yang melakukan sesuatu kesalahan di situ –
seperti membuat kebid’ahan atau mengerjakan tindak kezaliman atau apa-apa
yang menyakiti kaum Muslimin – atau memberi tempat kepada orang yang
melakukan kesalahan tadi, maka atas orang itu adalah laknat Allah, seluruh
malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalan wajib atau
sunnahnya. Pertanggungan terhadap diri kaum Muslimin itu adalah satu – yakni
sama haknya, berlaku pula kepada orang yang terendah di kalangan mereka itu
mengenai pertanggungan tadi. Maka barangsiapa yang mengacaukan keamanan
seseorang Muslim, maka atasnya adalah laknat Allah, seluruh malaikat dan
sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalan wajib atau sunnahnya.
Selanjutnya barangsiapa yang mengaku bernasab atau ber-
keturunan dari seseorang yang selain ayahnya atau menisbatkan
dirinya kepada seseorang yang bukan walinya – yakni yang tidak
berhak untuk memerdekakan dirinya, maka atasnya adalah laknat
Allah, seluruh malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak menerima
amalan wajib atau sunnahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dzimmatul Muslimin, yakni janji pertanggungan terhadap mereka serta
amanat mereka. Akhfarahu artinya merusakkan janji -atau mengacaukan
keamanan. Ashsharfu ialah taubat – dan ada yang mengatakan artinya itu ialah
amalan wajib, ada lagi yang mengarti-kan tipudaya. Adapun Al’adlu artinya
ialah tebusan – dan ada yang memberi arti: amalan sunnah.
1802. Dari Abu Zar r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Tiada seorangpun yang mengaku bernasab atau berketurunan kepada
seseorang yang selain ayahnya, sedangkan ia mengetahui akan hal itu,
melainkan kafirlah ia – lihat arti kafir dalam Hadis no. 1800. Dan barangsiapa
yang mengaku sesuatu yang bukan miliknya, maka ia tidaklah termasuk
golongan kita – kaum Muslimin – dan hendaklah ia menduduki tempat dari
neraka. Juga barangsiapa yang mengundang seseorang dengan sebutan
kekafiran atau ia berkata bahwa orang itu musuh Allah, sedangkan orang yang
dikatakan tadi sebenarnya tidak demikian, melainkan kembalilah – kekafiran
atau sebutan musuh Allah – itu kepada dirinya sendiri.”
(Muttafaq’alaih)
Ini adalah lafaz dalam riwayat Imam Muslim.
Bab 368

Menakut-nakuti Dari Menumpuk-numpuk Apa-apa
Yang Dilarang Oleh Allah ‘Azza Wa Jalla Serta Oleh
Rasulullah s.a.w.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah itu takut,
jangan sampai mereka ditimpa oleh fitnah ataupun terkena siksa yang pedih.” (an-
Nur: 63)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Allah menakut-nakuti engkau semua, supaya engkau semua mengerjakan
kewajibanmu terhadap Allah itu sendiri.” (ali-lmran: 30)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Sesungguhnya siksa Tuhanmu itu adalah amat kerasnya.” (al-Buruj: 12)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Dan demikianlah hukuman Tuhanmu apabila Dia memberi
hukuman pada negeri-negeri yang penduduknya melakukan ke-
zaliman – yakni kesalahan, sesungguhnya hukuman Tuhan itu adalah
pedih dan sangat.” (Hud: 102)

1803. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., bersabda: “Sesungguhnya Allah
Ta’ala itu cemburu dan kecemburuan Allah itu ialah apabila seseorang
manusia itu mendatangi apa-apa yang diharamkan oleh Allah atas dirinya.”
(Muttafaq ‘alaih)
Bab 369

Apa-apa Yang Perlu Diucapkan Dan Dikerjakan Oleh
Seseorang Yang Menumpuk-numpuk Apa-apa Yang
Dilarang – Oleh Agama – Atas Dirinya

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apabila engkau ditipu oleh syaitan dengan suatu tipuan, maka mohonlah
perlindungan kepada Allah.” (al-A’raf: 200)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu, apabila mereka ditipu oleh syaitan
yang datang berkunjung, mereka lalu ingat kembali dan merekapun dapat mempunyai
pandangan – mana yang seharusnya dikerjakan.” (al-A’raf: 201)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan orang-orang yang berbuat kebaikan itu, apabila menger-jakan perbuatan keji
atau menganiaya dirinya sendiri, mereka lalu ingat kepada Allah, kemudian
mohonkan pengampunan karena dosa mereka itu. Dan siapakah yang dapat
mengampuni dosa melainkan Allah? Dan mereka itu tidakterus mengulangi perbuatan
buruk itu, sedang mereka mengetahui.
Mereka itu balasannya ialah pengampunan dari Tuhan mereka
serta syurga yang di bawahnya mengalirlah beberapa sungai. Kekal-
lah mereka di dalamnya dan itulah pahalanya orang-orang yang
beramal.” (ali-lmran: 135-136)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Dan bertaubatlah engkau semua kepada Allah, semua saja, hai
sekalian orang-orang yang beriman, supaya engkau semua mem-
peroleh kebahagiaan.” (an-Nur: 31)

1804. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa yang
bersumpah, lalu ia mengatakan dalam sumpahnya itu dengan menggunakan
kata-kata berhala Allata dan Al’uzza, maka hendaklah ia segera mengucapkan:
La ilaha illallah. Dan barangsiapa yang mengucapkan kepada kawannya: “Mari,
saya ajak engkau berjudi,” maka hendaklah ia segera bersedekah -sebagai
tebusan dari kata-kata yang buruk itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Bab 370

Kitab Almantsurat Dan Almulah
Beberapa Hadis Yang Berserakan – Tidak Termasuk Dalam
Bab Tertentu – Dan Yang Sedap-sedap Dirasakan
1805. Dari Annawwas bin Sam’an r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
menyebut-nyebutkan perihal Dajjal pada suatu pagi. Beliau s.a.w. menguraikan
Dajjal itu kadang-kadang suaranya direndahkan dan kadang-kadang
diperkeraskan – dan Dajjal itu sendiri oleh beliau s.a.w. kadang-kadang
dihinanya, tetapi kadang-kadang di-perbesarkan hal-ihwalnya sebab amat
besarnya fitnah yang akan ditimbulkan olehnya itu, sehingga kita semua
mengira seolah-olah Dajjal itu sudah ada di kelompok pohon kurma. Setelah pada suatu ketika kita pergi ke tempatnya, beliau s.a.w. kiranya telah
mengetahui apa yang ada di dalam perasaan kita, lalu bertanya: “Ada persoalan
apakah engkau semua ini?” Kita men-jawab: “Ya Rasulullah,Tuan menyebut-
nyebutkan Dajjal pada suatu pagi, Tuan merendahkan serta mengeraskan suara
– dan Dajjal itu Tuan hinakan, juga Tuan perbesarkan peristiwanya karena
besarnya fitnah yang akan ditimbulkan olehnya, sehingga kita semua mengira
bahwa ia sudah ada di kelompok pohon kurma.” Beliau s.a.w. lalu bersabda:
“Kecuali Dajjal, itulah yang paling saya takutkan kalau menimpa atas dirimu
semua. Jikalau ia keluar dan saya masih ada di kalangan engkau semua, maka
sayalah penantangnya untuk melindungi engkau semua. Tetapi jikalau ia
keluar dan saya sudah tidak ada di kalangan engkau semua, maka setiap
manusia adalah sebagai
penantang guna melindungi dirinya sendiri dan Allah adalah peng-gantiku
dalam melindungi setiap orang Muslim.
Sesungguhnya Dajjal adalah seorang pemuda yang rambutnya sangat
keriting, matanya menonjol, seolah-olah saya menyamakan-nya dengan Abul
‘Uzza bin Qathan. Maka barangsiapa yang dapat bertemu dengannya, maka
hendaklah membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.
Dajjal itu akan keluar di Khallah, suatu jalanan yang terletak antara Syam
dan Irak, lalu membuat kerusakan di bagian sebelah kanannya dan juga
membuat kerusakan di bagian sebelah kirinya. Maka itu hai hamba-hamba
Allah, tetapkanlah keimananmu semua.”
Kita para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, berapa lama ia menetap di bumi?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Empatpuluh hari, yang sehari – hari pertama – itu
lamanya sama dengan setahun, yang sehari lagi – hari kedua – lamanya seperti
sebulan, yang sehari sesudah itu -hari ketiga – seperti sejum’at – yakni seminggu,
sedang hari-hari yang selain tiga hari itu adalah sebagaimana keadaan hari-
hari pada masamu sekarang ini.” Kita bertanya lagi: “Ya Rasulullah, dalam sehari yang panjang waktunya sebagaimana setahun itu, apakah kita cukup
mengerjakan seperti shalat sehari saja – yakni lima waktu?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Tidak cukup, maka itu perkirakanlah menurut kadar jaraknya
masing-nasing.” Jadi tetap lima kali dalam perkiraan sehari seperti sekarang.
Kita bertanya pula: “Ya Rasulullah, bagaimanakah kecepatannya dalam
menjelajah bumi?” Beliau s.a.w. bersabda: “Yaitu bagaikan hujan yang didorong
oleh angin dari arah belakangnya. Dajjal itu datang kepada sesuatu kaum,
lalu ia mengajak mereka, kemudian mereka itu beriman padanya dan
mengikuti apa yang dikehendaki olehnya. la menyuruh langit supaya
menurunkan hujan, lalu turunlah hujan, ia menyuruh bumi supaya
menumbuhkan tanaman, lalu tumbuhlah tanamannya. Se-lanjutnya
kembalilah ternak-ternak mereka tergembala di situ dalam keadaan
bergumbul – atau berpunuk – sepanjang – atau sebesar yang pernah ada, juga
mempunyai tetek sekenyang yang pernah ada – yakni penuh air susu – dan
terpanjang pantatnya – sebab semuanya kenyang. Seterusnya datanglah Dajjal
itu pada sesuatu kaum, lalu mereka ini diajaknya mengikuti kehendaknya,
tetapi mereka menolak, kemudian kembalilah Dajjal itu meninggalkan
mereka. Kaum yang menolak ini – karena ketetapan keimanannya -pada
keesokan harinya telah menjadi kering daerahnya – seolah-olah telah lama
tidak kehujanan dan kosong samasekali dari rumput dan tanaman Iain-Iain,
juga tidak lagi mereka memiliki hartabenda sedikitpun. Dajjal itu lalu berjalan
melalui puing-puing – bekas istana yang rusak-rusak, kemudian ia berkata:
“Keluarkanlah harta-harta simpananmu,” tiba-tiba harta-harta di situ dapat
diambil dan meng-ikuti perjalanan Dajjal itu sebagaimana lebah-lebah
mengikuti rajanya.
Setelah itu Dajjal memanggil seorang pemuda yang penuh jiwa
kepemudaannya – menurut riwayat yang dimaksudkan ialah Al-Hidhr, lalu
ia memukul pemuda ini dengan pedang, sehingga terpotonglah tubuhnya
menjadi dua bagian dengan kecepatan bagaikan lemparan anak panah pada sasarannya. Tetapi Dajjal lalu memanggil pemuda yang sudah mati itu, lalu ia
hidup kembali dan menghadapnya, sedang wajahnya berseri-seri sambil
tertawa.
Dalam keadaan sebagaimana di atas itu, tiba-tiba Allah Ta’ala mengutus
Isa al-Masih putera Maryam. la turun di menara – atau rumah tinggi – putih
warnanya, yang terletak di sebelah selatan Damsyik, yaitu mengenakan dua
lembar pakaian yang bersumba, dengan meletakkan kedua tapak tangannya atas
sayap dua malaikat. Jikalau ia menundukkan kepalanya, maka mencucurlah
air dari kepalanya itu, sedang apabila ia mengangkatnya, maka berjatuhan-lah
daripadanya permata-permata besar bagaikan mutiara. Maka tiada seorang
kafirpun yang berdiam di sesuatu tempat yang dapat mencium bau tubuhnya
itu, melainkan ia pasti mati dan jiwanya itu terhenti sejauh terhentinya
pandangan matanya.
Selanjutnya al-Masih mencari Dajjal itu sehingga dapat me-nemukannya
di pintu gerbang negeri Luddin, kemudian ia mem-bunuhnya. Seterusnya
Isa a.s. mendatangi kaum yang telah di-lindungi oleh Allah dari kejahatan
Dajjal itu, lalu ia mengusap wajah-wajah mereka – maksudnya melapangkan
kesukaran-kesukaran yang mereka alami selama kekuasaan Dajjal tersebut –
dan ia memberitahukan kepada mereka bahwa mereka akan mem-peroleh
derajat yang tinggi dalam syurga.
Dalam keadaan yang sedemikian itu lalu Allah memberikan wahyu
kepada Isa a.s. bahwasanya Aku – Allah – telah mengeluarkan beberapa orang
hambaKu yang tiada kekuasaan bagi siapapun untuk menentang serta
berlawanan perang dengan mereka itu. Maka itu kumpulkanlah hamba-
hambaKu – yang menjadi kaum mu’minin – itu ke gunung Thur.
Orang-orang yang dikeluarkan oleh Allah itu ialah bangsa Ya’juj dan Ma’juj.
Mereka itu mengalir secara cepat sekali dari setiap tempat yang tinggi.
Kemudian berjalanlah barisan pertama dari mereka itu di danau
Thabariyah, lalu minum airnya, selanjutnya berjalanlah barisan terakhir dari mereka lalu mereka ini berkata: “Danau ini tentunya tadi masih ada airnya –
dan kini sudah habis.” Nabiullah Isa a.s. serta sekalian sahabat-sahabatnya
dikurung -yakni dikepung dari segala jurusan sehingga tidak dapat keluar,
sampai-sampai nilai sebuah kepala lembu bagi seseorang di antara mereka itu
adalah lebih berharga dari seratus wang dinar emas bagi seseorang di antara
engkau semua pada hari ini. Nabiullah Isa a.s. dan sahabat-sahabatnya
radhiallahu ‘annum semuanya merendah-kan diri kepada Allah Ta’ala
memohonkan agar kesukaran itu segera dilenyapkan.
Allah Ta’ala lalu menurunkan ulat atas bangsa Ya’juj dan Ma’juj tadi di
leher-leher mereka, kemudian menjadilah mereka itu sebagai korban yang mati
seluruhnya dalam waktu sekaligus, seperti kema-tian seseorang manusia.
Nabiullah Isa a.s. serta sahabat-sahabatnya radhiallahu ‘annum lalu turun ke
bumi. Mereka tidak menemukan sejengkal tanahpun di bumi itu melainkan
terpenuhi oleh bau busuk dan bau bacin mayat-mayat bangsa-bangsa Ya’juj
dan Ma’juj tadi. Selanjutnya Nabiullah Isa a.s. dan sahabat-sahabatnya
radhiallahu ‘annum sama merendahkan diri lagi kepada Allah Ta’ala sambil
memohonkan agar mayat-mayat mereka dilenyapkan. Allah Ta’ala
menurunkan burung sebesar batang-batang leher unta dan burung inilah yang
membawa mereka lalu meletakkan mereka itu di sesuatu tempat yang telah
dikehendaki oleh Allah. Seterusnya Allah ‘Azza-wajalla lalu menurunkan
hujan yang tidak tertutup daripadanya tempat yang bertanah keras ataupun
yang lunak – yakni semuanya pasti terkena siraman hujan itu, kemudian
hujan itu membasuh merata di bumi sehingga menyebabkan bumi itu
bersih bagaikan kaca. Kepada bumi itu lalu dikatakan: “Tumbuhkanlah
buah-buahanmu dan luapkanlah keberkahanmu.” Maka pada saat itu
sekelompok manusia cukup makan dari sebiji buah delima saja -karena amat
besarnya. Merekapun dapat bernaung di bawah kulit tempurung delima tadi
dan dikaruniakanlah keberkahan dalam air susu, sehingga sesungguhnya
seekor unta yang mengandung air susu niscayalah dapat mencukupi segolongan besar dari para manusia, seekor lembu yang mengandung air
susu dapat men-cukupi sekabilah manusia, sedang seekor kambing yang
mengan-dung susu dapat mencukupi sedesa manusia.
Seterusnya di waktu mereka dalam keadaan yang sedemikian itu, tiba-tiba
Allah Ta’ala mengirimkan angin yang sejuk nyaman, lalu angin itu
mengambil nyawa kaum mu’minin itu dari bawah ketiaknya. Jadi angin
itulah yang mencabut jiwa setiap orang mu’min dan setiap orang Muslim. Kini
yang tertinggal adalah golongan manusia yang jahat-jahat yang saling
bercampur-baur – antara lelaki dan perempuan – sebagaimana bercampur-
baurnya sekelompok keledai. Maka di atas mereka inilah menjelang tibanya
hari kiamat.” (Riwayat Muslim)
Sabdanya: Khallatan bainas syami wal ‘iraqi, artinya jalanan yang terletak
antara kedua negeri itu. Sabdanya: ‘Aatsa dengan ‘ain muhmalah dan tsa’
bertitik tiga dan juga Al’aitsu ialah sangatnya kerusakan.
Adzdzura, punggung-punggung unta – yakni gumbul. Alya’asib ialah lebah-
lebah lelaki. Jazlataini artinya dua potong dan Algharadh ialah sasaran yang
kepadanya dilemparkanlah anak panah, yakni ia melemparkannya sebagai
lemparannya anak panah kepada sasaran. Almahrudah dengan dal muhmalah
atau mu’jamah, yaitu pakaian yang disumba.
Sabdanya: La yadani yaitu tidak mempunyai kedua tangan yakni tidak
mempunyai kekuatan atau kekuasaan. Annaghafu ialah ulat. Farsa jamaknya
faris yaitu orang yang terbunuh. Azzalaqatu dengan fathahnya zai, lam dan qaf
dan ada yang mengatakan Azzulfatu, dengan dhammahnya zai, sukunnya /am
dan dengan fa’ ialah kaca atau cermin. Al’ishabah yakni jama’ah.
Arrislu artinya air susu. Allaqhatu artinya binatang yang me-ngandung air
susu. Alfi-aam dengan kasrahnya fa’ dan sesudah itu ada hamzah yaitu
segolongan manusia dan Alfakhdzu ialah yang di bawah kabilah dari para
manusia.
1806. Dari Rib’iy bin Hirasy, katanya: “Saya berangkat dengan Abu Mas’ud
al-Anshari ke tempat Hudzaifah al-Yaman radhiallahu ‘anhum, lalu Abu
Mas’ud berkata kepadanya: “Beritahukanlah kepadaku apa yang pernah
engkau dengar dari Rasulullah s.a.w. perihal Dajjal.” Hudzaifah lalu berkata:
“Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Dajjal itu keluar dan sesungguhnya beserta Dajjal itu ada
air dan api. Adapun yang dilihat oleh para manusia sebagai air, maka
sebenarnya itu adalah api yang membakar, sedang apa yang dilihat oleh para
manusia sebagai api, maka sebenarnya itu adalah air yang dingin dan tawar.
Maka barangsiapa yang menemui Dajjal di antara engkau semua, hendaklah
masuk dalam benda yang dilihatnya sebagai api, karena sesungguhnya ini adalah
air tawar dan nyaman sekali.”
Setelah itu Abu Mas’ud berkata: “Sayapun benar-benar pernah
mendengar yang seperti itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1807. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Dajjal itu akan keluar kepada ummatku kemudian menetap sealam
empatpuluh lamanya; tetapi saya tidak mengerti apakah itu empatpuluh hari
atau empatpuluh bulan atau empatpuluh tahun. Kemudian Allah mengutus
Isa putera Maryam a.s. lalu ia mencari Dajjal kemudian merusakkannya – yakni
membunuhnya. Kemudian para manusia itu menetap selama tujuh tahun di
saat itu tidak ada permusuhan samasekali antara dua orang manusiapun.
Selanjutnya Allah ‘Azzawajalla mengutus angin yang dingin dari arah Syam
(Palestina). Maka tidak ada seorangpun yang menetap di atas permukaan bumi
yang dalam hati orang itu ada timbangan seberat semut kecil dari kebaikan
atau keimanan, melainkan pasti akan dicabut nyawanya sehingga andaikata
salah seorang dari engkau semua ada yang masuk di dalam perut gunung, juga
pasti akan dimasuki oleh angin tadi, sampai dapat tercabut nyawanya. Akhirnya yang ketinggalan adalah manusia-manusia yang buruk kelakuannya
yang suka cepat-cepat melakukan keburukan dan kezaliman sampai dapat
diumpamakan sebagai keringanan burung yang sedang terbang atau angan-
angan binatang buas yang hendak memangsa. Orang-orang tersebut tidak
mengerti apa-apa yang baik dan tidak mengingkari apa-apa yang buruk –
yakni kemungkaran dibiarkan belaka. Seterusnya lalu muncullah syaitan yang
menjelma sebagai manusia lalu berkata: “Alangkah baiknya kalau engkau
semua suka mengikuti perintahku?” Orang-orang sama berkata:
“Apakah yang engkau perintahkan kepada kita?” Kemudian syaitan
tersebut mengajak mereka menyembah berhala-berhala. Keadaan
para manusia di saat itu adalah sangat luas rezekinya, senang
hidupnya. Selanjutnya ditiupkanlah dalam sangkakala, maka tiada
seorangpun yang mendengarnya melainkan ia menurunkan leher-
nya yang sebelah dan mengangkat yang sebelah lainnya. Pertama-
tama orang yang mendengarnya itu ialah seseorang yang sedang
memperbaiki pelur kolam untanya, lalu ia tidak sadarkan diri dan
semua manusia di sekitarnyapun tidak sadarkan diri – terus mati.
Kemudian Allah mengirimkan atau sabdanya: Menurunkan hujan
bagaikan rintik-rintik atau bagaikan bayangan, lalu dari air itu
tumbuhlah seluruh tubuh para manusia, terus ditiupkanlah pula
sekali lagi sangkakala tersebut tiba-tiba orang-orang itu sama berdiri
bangun sambil memperhatikan keadaan di waktu itu, kemudian ada
yang mengucapkan: “Hai sekalian manusia, marilah sama mendekat
di hadapan Tuhanmu semua,” dan kepada semua malaikat di-
perintahkan: “Hentikan dulu orang-orang itu, sebab sesungguhnya
mereka akan ditanya lebih dulu.” Kemudian dikatakan pula:
“Keluarkan olehmu semua orang-orang itu perlu dikirim ke neraka.”
Selanjutnya ditanyakan: “Dari berapa?” Lalu dijawab: “Dari setiap-
tiap seribu sebanyak sembilanratussembilanpuluh sembilan orang.” Sabdanya: “Itulah hari yang dapat membuat anak-anak kecil men-
jadi beruban dan itulah hari dibukanya betis manusia, karena amat
kebingungan sekali.” (Riwayat Muslim)
Alliitu ialah batang leher, artinya ialah merendahkan lehernya yang
sebelah dan mengangkat sebelah yang lainnya.

1808. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu
negeripun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan
Madinah yang tidak. Tiada suatu lorong-pun dari lorong-lorong Makkah dan
Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk
melindunginya. Kemu-dian Dajjal itu turunlah di suatu tanah yang
berpasir – di luar Madinah – lalu kota Madinah bergoncanglah
sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan
mengeluarkan akan setiap orang kafir dan munafik.” (Riwayat Muslim)

1809 Dari Anas r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Yang
mengikuti Dajjal dari golongan kaum Yahudi Ashbihan itu ada sebanyak
tujuhpuluh ribu orang. Mereka itu mengenakan pakaian kependetaan.”
(Riwayat Muslim)
1810. Dari Ummu Syarik radhiallahu ‘anha bahwasanya ia men-dengar Nabi
s.a.w. bersabda: “Niscayalah sekalian manusia itu sama melarikan diri dari
gangguan Dajjal yaitu ke gunung-gunung.” (Riwayat Muslim)
1811. Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu peris-tiwapun antara jarak waktu semenjak Allah menciptakan Adam sampai datangnya hari kiamat
nanti, yang lebih besar daripada perkara Dajjal.” (Riwayat Muslim)
1812. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
“Dajjal keluar lalu ada seseorang dari golongan kaum mu’minin, ia ditemui oleh
beberapa orang penyelidik yakni para penyelidik dari Dajjal. Mereka berkata
kepada orang itu: “Ke mana engkau bersengaja pergi?” la menjawab: “Saya
sengaja akan pergi ke tempat orang yang keluar – yakni yang baru muncul
dan yang dimaksudkan ialah Dajjal.” Mereka berkata: “Adakah engkau tidak
beriman dengan Tuhan kita.” la menjawab: “Tuhan kita tidak samar-samar lagi
sifat-sifat keagungannya – sedangkan Dajjal itu tampaknya saja menunjukkan
kedustaannya.” Orang-orang itu sama berkata: “Bunuhlah ia.” Sebagian orang
berkata kepada yang lainnya: “Bukankah engkau semua telah dilarang oleh
Tuhanmu kalau membunuh seseorang tanpa memperoleh persetujuannya.”
Merekapun pergilah dengan membawa orang itu ke Dajjal. Setelah Dajjal dilihat
oleh orang mu’min itu, lalu orang mu’min tadi berkata: “Hai sekalian manusia,
sesungguhnya inilah Dajjal yang disebut-sebutkan oleh Rasulullah s.a.w. Dajjal
memerintah pengikut-pengikutnya menangkap orang mu’min itu lalu ia
ditelentangkan pada perutnya. Dajjal berkata: “Ambillah ia lalu lukailah –
kepala dan mukanya.” Seterusnya ia diberi pukulan bertubi-tubi pada
punggung serta perutnya. Dajjal berkata: “Adakah engkau tidak suka beriman
kepadaku?” Orang mu’min itu berkata: “Engkau adalah al-Masih maha
pendusta.” la diperintah menghadap kemu-dian digergajilah ia dengan gergaji
dari pertengahan tubuhnya, yaitu antara kedua kakinya – maksudnya dibelah
dua. Dajjal lalu berjalan antara dua potongan tubuh itu, kemudian berkata:
“Ber-dirilah.” Orang mu’min tadi terus berdiri lurus-lurus, kemudian Dajjal
berkata padanya. “Adakah engkau tidak suka beriman ke-padaku.” la berkata:
“Saya tidak bertambah melainkan kewas-padaan dalam menilai siapa sebenarnya engkau itu.” Selanjutnya orang mu’min itu berkata: “Hai sekalian
manusia, janganlah ia sampai dapat berbuat sedemikian tadi kepada
seseorangpun dari para manusia, setelah saya sendiri mengalaminya.” la diambil
lagi oleh Dajjal untuk disembelih. Kemudian Allah membuat tabir tembaga
yang terletak antara leher sampai ke tengkuknya, maka tidak ada jalan bagi
Dajjal untuk dapat membunuhnya. Seterusnya Dajjal lalu mengambil orang
tadi, yaitu kedua tangan serta kedua kakinya, lalu melemparkannya. Orang-
orang sama mengira bahwa hanyasanya orang itu dilemparkan olehnya ke
neraka, tetapi se-benarnya ia dimasukkan dalam syurga.”
Setelah itu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang itulah sebesar-besar para
manusia dalam hal kesyahidannya – yakni kematian syahidnya – di sisi Allah
yang menguasai semesta alam ini.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Bukhari juga meriwayat-kan
sebagiannya dengan uraian yang semakna dengan di atas itu.
Almasalihu yaitu para pengintai atau penyelidik.

1813. Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a., katanya: “Tiada seorangpun yang lebih
banyak pertanyaannya mengenai hal Dajjal daripada saya sendiri.
Sesungguhnya Dajjal itu tidak akan membahayakan dirimu.” Saya berkata:
“Orang-orang sama berkata bahwa Dajjal itu mempunyai segunung
tumpukan roti dan sungai
air.” Beliau s.a.w. bersabda: “Hal itu adalah lebih mudah bagi Allah
daripada yang dapat dilakukan oleh Dajjal.” (Muttafaq ‘alaih)
1814. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tiada seorang Nabipun yang diutus oleh Allah, melainkan ia benar-benar memberikan peringatan kepada ummatnya tentang
makhluk yang buta sebelah matanya serta maha pendusta. Ingatlah
sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya
Tuhanmu ‘Azzawajalla semua itu tidaklah buta sebelah mata seperti
Dajjal. Di antara kedua matanya itu tertulislah huruf-huruf kaf, fa’,
ra’ – yakni kafir.” (Muttafaq ‘alaih)

1815. Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidakkah
engkau semua suka saya beritahu perihal Dajjal,yaitu yang belum pernah
diberitahukan oleh seseorang Nabipun kepada kaumnya. Sesungguhnya
Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya ia datang dengan
sesuatu sebagai perumpamaan
syurga dan neraka. Maka yang ia katakan bahwa itu adalah syurga, sebenarnya
adalah neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

1816. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
Rasulullah s.a.w. menyebut-nyebutkan Dajjal di hadapan orang
banyak, lalu berkata: “Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah
matanya. Ingatlah bahwa sesungguhnya al-Masih Dajjal itu buta
sebelah matanya yang sebagian kanan, seolah-olah matanya itu
adalah sebuah biji anggur yang menonjol.” (Muttafaq ‘alaih)

1817. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Tidaklah akan terjadi hari kiamat, sehingga kaum Muslimin sama
memerangi kaum Yahudi dan sehingga kaum Yahudi itu bersembunyi di
balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: “Hai orang Islam,
inilah orang Yahudi ada di belakang saya. Ke marilah, lalu bunuhlah ia,”
kecuali pohon gharqad – semacam pohon yang berduri dan tumbuh di Baitul-
Maqdis, karena sesung-guhnya pohon ini adalah dari pohon kaum Yahudi –
dan oleh sebab itu suka melindunginya.” (Muttafaq’alaih)

1818. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, dunia ini
tidak akan lenyap – yakni timbul hari kiamat, sehingga seseorang lelaki
berjalan melalui makam, lalu ia mondar-mandir di situ, kemudian berkata:
“Aduhai diriku, alangkah baiknya kalau saya yang menempati kubur ini.” la
mengharap sedemikian itu bukan karena tertekan oleh urusan agamanya.
Tidak ada lain yang me-nyebabkan ia berkata sedemikian tadi, kecuali karena
adanya bencana duniawiyah yang menimpa dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)

1819. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga sungai Furat itu terbuka, tampak
tumpukan gunung emas – karena airnya telah kering – yang diperebutkan

sehingga terjadi peperangan, kemudian terbunuhlah dalam berebutan itu dari
setiap seratus tentera ada sembilanpuluh sembilan orang, sehingga setiap
orang yang meng-ikuti pertempuran itu berkata: “Barangkali saja, semogalah
saya yang selamat – yakni termasuk satu dari seratus tadi.” Dalam riwayat lain
disebutkan: “Hampir sekali sungai Furat itu terbuka lalu menampakkan
simpanan gudang emasnya, maka barangsiapa yang hadhir di situ,
janganlah sampai mengambil
sesuatupun dari harta itu.” (Muttafaq ‘alaih)
1820. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Orang-orang sama meninggalkan Madinah dalam sebaik-baiknya keadaan
yang pernah ada dan tidak ada yang mendiami itu melainkan binatang ‘Awafi
(yang dimaksudkan dengan binatang ‘Awafi yakni burung dari golongan
binatang buas serta burung).
Adapun manusia yang terakhir sekali dikumpulkan ialah dua
orang penggembala dari suku Mizainah yang keduanya itu hendak
menuju ke Madinah. Keduanya berteriak-teriak dengan menggem-
bala kambing. Tiba-tiba Madinah ditemukannya penuh binatang
buas belaka – sebab penghuninya sudah habis samasekali. Setelah
keduanya sampai di Tsaniyyatul Wada’ lalu tersungkurlah pada
mukanya.” (Muttafaq ‘alaih)

1821. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda: “Ada seorang khalifah dari beberapa khalifah yang memerintah engkau
semua pada akhir zaman nanti, ia menyebar-nyebarkan harta dan
samasekali tidak menghitung-hitung berapa banyaknya.” (Riwayat Muslim)

1822. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Niscayalah akan
datang pada sekalian manusia suatu zaman yang seseorang itu berkeliling
dengan membawa harta yang akan disedekahkan berupa emas, tetapi ia tidak
menemukan seseorang-pun yang suka mengambil sedekah itu daripadanya.
Juga akan datanglah suatu zaman yang di situ seorang lelaki dapat dilihat oleh
orang banyak, ia diikuti oleh empatpuluh orang perempuan yang semua ini
menggantungkan nasibnya pada lelaki tersebut. lni disebabkan karena
sedikitnya kaum lelaki dan banyaknya kaum wanita. (Riwayat Muslim)

1823. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Ada seorang lelaki
membeli sebidang tanah dari lelaki lain, kemudian orang yang membeli
sebidang tanah tadi menemukan sebuah kendil yang di dalamnya terdapat
emas dalam tanah itu. Orang yang membeli tanah itu berkata kepada
penjualnya: “Ambil-lah emasmu, sebab hanyasanya yang saya beli daripadamu itu
adalah tanahnya saja dan saya tidak merasa membeli emasnya.” Tetapi
orang yang mempunyai tanah-yakni penjualnya- berkata: “Hanya-
sanya yang saya jual kepadamu itu adalah tanah beserta apa yang ada
di dalamnya – jadi termasuk emas itu pula.” Keduanya berselisih lalu
meminta hukum kepada seseorang lain. Kemudian orang yang
dimintai pertimbangan hukum ini berkata: “Apakah salah seorang dari engkau berdua ini ada yang mempunyai anak lelaki?” Seorang
di antara keduanya berkata: “Saya mempunyai seorang anak lelaki.
Yang seorang lagi berkata: “Saya mempunyai seorang anak perem-
puan.” Orang tadi lalu berkata: “Kawinkan sajalah anak lelaki
dengan anak perempuan itu dan belanjakanlah untuk kepentingan
kedua anak itu dari emas ini dan bersedekahlah engkau berdua
dengan harta itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1824. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Ada dua orang wanita yang disertai oleh anaknya masing-masing. Lalu
datanglah seekor serigala, kemudian serigala ini pergi membawa anak salah
seorang dari keduanya itu. Yang seorang berkata kepada kawannya:
“Hanyasanya serigala tadi pergi dengan membawa anakmu,” sedang lainnya
berkata: “Hanyasanya yang dibawa pergi olehnya tadi adalah anakmu.”
Keduanya meminta keputusan hukum kepada Nabi Dawud a.s., lalu
memutuskan untuk diberikan kepada yang tertua di antara kedua wanita
tadi. Keduanya keluar untuk meminta keputusan hukum kepada Nabi
Sulaiman bin Dawud a.s., lalu keduanya memberitahukan hal- ihwalnya.
Sulaiman berkata: “Bawalah ke mari pisau itu, agar saya
dapat membelahnya untuk dibagikan kepada keduanya.” Tiba-tiba
yang kecil – yakni yang muda – di antara kedua wanita itu berkata:
“Jangan anda kerjakan itu, semoga Allah memberikan kerahmatan
kepada anda. Memang itu adalah anak sahabatku ini.” Tetapi
Sulaiman a.s. lalu memutuskan bahwa anak itu adalah milik yang
muda.” (Muttafaq ‘alaih)
1825. Dari Mirdas al-Aslami r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Orang-orang yang shalih itu pergi – yakni habis karena
meninggal dunia, seangkatan demi seangkatan dan akhirnya ter-
tinggallah sisa-sisa yang buruk dari ummat manusia itu bagaikan
ampas buah sya’ir atau seperti sisa-sisa kurma – yakni tinggal yang
jelek-jelek setelah dipilih-pilih waktu memakannya. Allah tidak
menghargai sedikitpun nilai mereka ini.” (Riwayat Bukhari)

1826. Dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqiy r.a., katanya: “Jibril datang
kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: “Anda masukkan golongan apakah para
ahli Badar – yakni orang-orang yang mengikuti pepe-rangan Badar – di
kalangan anda sekalian – yakni kaum Muslimin?” Beliau s.a.w. bersabda:
“Mereka termasuk golongan seutama-utama kaum Muslimin.” Atau
semakna dengan itulah yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. itu. Kemudian
Jibril berkata: “Begitu pulalah yang menyaksikan perang Badar dari
golongan malaikat.” (Riwayat Bukhari)

1827. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: ”Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Jikalau Allah Ta’ala menurunkan siksa kepada sesuatu kaum,
maka siksa itu mengenai semua orang yang termasuk dalam kalangan
kaum itu, kemudian mereka dibangkitkan – diba’ats pada hari kiamat
– menurut masing-masing keniatannya.” (Muttafaq ‘alaih)
1828. Dari Jabir r.a., katanya: “Ada sesuatu batang pohon kurma yang
digunakan oleh Nabi s.a.w. untuk berdiri (yakni di waktu berkhutbah).
Setelah mimbar sudah diletakkan – sebagai ganti batang pohon tersebut dan
batang itu tidak digunakan lagi, kita semua mendengar dari arah batang tadi
seperti suara unta yang sakit karena akan mengeluarkan kandungannya,
sehingga Nabi s.a.w. turun lalu meletakkan tangannya di atas batang tersebut,
kemudian berdiamlah ia.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Ketika datang hari Jum’at, Nabi s.a.w. duduk di atas mimbar lalu
berteriaklah batang pohon yang biasa digunakan oleh Nabi s.a.w. untuk
berdiri waktu berkhutbah, sehingga hampir-hampir ia belah.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
“Batang pohon kurma itu lalu menjerit bagaikan jeritan anak
kecil, lalu Nabi s.a.w. turun sehingga dapat memegangnya kemudian
memeluknya. la merintih bagaikan rintihan anak kecil yang perlu
didiamkan, sehingga akhirnya tenanglah ia.” Nabi s.a.w. lalu ber-
sabda: la menangis karena mendengar peringatan – dalam khutbah itu.”
(Riwayat Bukhari)

1829. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani yaitu Jurtsum bin Nasyir r.a. dari
Rasulullah s.a.w., sabdanya:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mewajibkan kepadamu semua akan
beberapa kewajiban, maka janganlah engkau semua menyia-nyiakannya dan
memberikan batas akan beberapa ketentuan batas, maka janganlah engkau semua
melampauinya, juga mengharamkan beberapa hal, maka janganlah engkau
semua melanggarnya dan mendiamkan – yakni tidak menyebutkan akan halal
atau haramnya, beberapa hal karena belas kasihan padamu, bukannya yang sedemi-kian itu karena kelupaan, maka dari itu janganlah engkau semua
mempertajam pembahasannya mengenai hal-hal itu.”
Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Daraquthni dan lain-lainnya.

1830. Dari Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu ‘anhuma, kata-nya: “Kita
semua berperang bersama Rasulullah s.a.w. sebanyak tujuh kali peperangan
dan kita makan belalang.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Kita semua bersama Nabi s.a.w.
juga, sama makan belalang.” (Muttafaq ‘alaih)

1831. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah
seseorang mu’min itu disengat dari lobang satu sampai dua kali.”
Maksudnya janganlah tertipu dari satu orang sampai dua kali. (Muttafaq
‘alaih)

1832. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat –
dengan pembicaraan yang menunjukkan keridhaan, tidak pula mereka itu
dilihat olehNya – dengan pandangan kerah-matan -dan mereka akan
memperoleh siksa yang pedih sekali, yaitu: Seseorang yang mempunyai
kelebihan air di suatu padang tandus, lalu ia menolak memberikannya itu
kepada ibnus sabil -yakni orang yang sedang mengadakan perjalanan. Juga
seseorang yang menjual kepada seseorang dengan sesuatu benda dagangan
sesudah shalat Ashar, lalu ia bersumpah dengan menyebutkan nama Allah
bahwa ia niscayalah mengambil dagangan

1833. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jarak waktu antara
dua tiupan sangkakala itu adalah selama empatpuluh.” Orang-orang sama bertanya kepada Abu Hurairah: “Apakah empatpuluh hari?” Abu Hurairah
menjawab: “Saya tidak dapat menentukan.” Mereka bertanya lagi: “Apakah
empatpuluh tahun?” la menjawab: “Saya tidak dapat menentukan.” Mereka
sekali lagi bertanya: “Apakah empatpuluh bulan?” la menjawab: “Saya tidak
dapat menentukan.”
Selanjutnya Nabi s.a.w. bersabda:
“Semua anggota tubuh manusia itu rusak binasa, kecuali tulang punggung
yang terbawah sekali – atau ‘ajbadz dzanab. Di situlah nanti tumbuhnya
kejadian manusia – setelah diba’ats dari kubur. Kemudian Allah menurunkan
air dari langit, lalu tumbuhlah para manusia itu bagaikan tumbuhnya sayur-
mayur.” (Muttafaq ‘alaih)

1834. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Pada suatu ketika Nabi
s.a.w. dalam sesuatu majlis, sedang memberikan pembicaraan
kepada kaum – yakni orang banyak, lalu datanglah seorang A’rab
-yaitu penduduk negeri Arab bagian pedalaman, kemudian orang
ini bertanya: “Kapankah tibanya hari kiamat.” Rasulullah s.a.w. terus
saja dalam berbicara itu, sehingga sementara kaum ada yang
berkata: “Beliau s.a.w. sebenarnya mendengar ucapan orang itu,
tetapi beliau benci kepada isi pembicaraannya.” Sementara kaum
lagi berkata: “Ah, beliau s.a.w. tidak mendengarnya.” Selanjutnya
setelah beliau s.a.w. selesai pembicaraannya lalu bertanya: “Mana-
kah orang yang menanyakan perihal hari kiamat tadi?” Orang itu
berkata: “Ya, sayalah itu ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. laiu bersabda:
“Yaitu apabila amanat sudah disia-siakan, maka nantikan sajalah
tibanya hari kiamat.” Orang itu bertanya lagi: “Bagaimanakah cara
menyia-nyiakan amanat itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Jikalau
sesuatu perkara sudah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya,
maka nantikanlah tibanya hari kiamat itu – ada yang menafsiri: Maka nantikanlah saat kehancurannya sesuatu perkara yang diserahkan
tadi.” (Riwayat Bukhari)

1835. Dari Abu Hurairah r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Para imam – yakni pemimpin-pemimpin – itu bersembahyang sebagai
imammu semua. Maka jikalau amalan mereka itu benar, maka pahalanya
adalah untukmu – dan untuk mereka pula, tetapi jikalau amalan mereka itu
salah, maka pahalanya adalah untukmu semua dan dosanya atas mereka
sendiri.” (Riwayat Bukhari)

1836. Dari Abu Hurairah r.a. dalam menafsiri ayat yang artinya: “Adalah
engkau semua itu sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk para manusia,”
ia berkata: “Sebaik-baik para manusia untuk ummat manusia ialah mereka yang
datang membawa para manusia itu dalam keadaan tertawan, dengan diikatkan
rantai-rantai pada leher mereka, sehingga orang-orang yang tertawan itu
dengan senang hati masuk dalam Agama Islam.”

1837. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Allah ‘Azzawajalla merasa heran dari sesuatu kaum yang sama masuk
syurga dalam keadaan mereka itu terbelenggu dengan rantai-rantai.”
Kedua Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Maknanya ialah bahwa mereka itu asalnya menjadi tawanan dalam
peperangan, lalu diikat, tetapi kemudian mereka masuk Agama Islam dan
akhirnya masuk syurga – sebab sampai matinya tetap sebagai seorang Muslim.

1838. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Yang paling
dicintai oleh Allah di antara segala sesuatu yang ada dalam negeri-
negeri itu ialah masjid-masjidnya, sedang yang paling dibenci di antara
segala sesuatu yang ada dalam negeri itu ialah pasar-pasarnya.” (Riwayat
Muslim)

1839. Dari Salman al-Farisi r.a., dari salah satu ucapannya, ia berkata:
“Janganlah engkau sekali-kali menjadi orang yang paling pertama kali masuk
pasar, jikalau engkau dapat, juga janganlah menjadi orang yang paling akhir
keluar daripadanya, sebab sesung-guhnya pasar itu adalah tempat pergulatan
syaitan – maksudnya tempat keburukan seperti menipu, mengicuh, sumpah
palsu dan Iain-Iain – dan di pasar itu pulalah syaitan itu menegakkan
benderanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim sedemikian.
Imam al-Barqani meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Salman,
katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau menjadi orang yang
pertama kali masuk pasar dan jangan pula menjadi orang yang akhir sekali
keluar dari pasar itu. Di pasar itulah syaitan bertelur dan menetaskan anaknya,” –
ini adalah sebagai kiasan bahwa pasar itulah tempat berbagai kemaksiatan
dilakukan.
1840. Dari Ashim al-Ahwal dari Abdullah bin Sarjis r.a., katanya: “Saya
berkata kepada Rasulullah s.a.w.: “Ya Rasulullah, semoga Allah memberikan
pengampunan kepada Tuan.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Juga kepadamu –
semoga Allah memberikan pengampunan.”
Ashim berkata: “Saya berkata kepada Abdullah bin Sarjis:
“Apakah Rasulullah s.a.w. memohonkan pengampunan untukmu?”
la menjawab: “Ya dan juga untukmu.” Kemudian ia membacakan
ayat ini – yang artinya: “Dan mohonlah pengampunan – kepada
Allah – untuk melebur dosamu dan juga untuk sekalian orang-orang
mu’min, baik lelaki ataupun perempuan.” (Riwayat Muslim)

1841. Dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a., katanya: “Nabi s.a.w.
bersabda:
“Sesungguhnya sebagian dari apa-apa yang ditemukan oleh para manusia
dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: “Jikalau engkau tidak
mempunyai rasa malu – untuk mengerjakan ke-burukan, maka berbuatlah
menurut kehendakmu.” (Riwayat Bukhari)
1842. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Pertama-tama
persoalan yang diputuskan di antara sekalian manusia pada hari kiamat
ialah dalam soal darah – yakni bunuh membunuh.” (Muttafaq ‘alaih)

1843. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Malaikat itu diciptakan dari nur – yakni cahaya – dan jin diciptakan
dari api yang menyala-nyala, sedang Adam diciptakandari apa yang sudah diterangkan kepadamu semua – yakni dari tanah.” (Riwayat
Muslim)

1844. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Budipekerti Nabi
s.a.w. itu adalah sesuai dengan ajaran al-Quran.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam serangkaian Hadis yang
panjang.
1845. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Barangsiapa yang ingin bertemu Allah, maka Allah juga ingin
bertemu dengannya dan barangsiapa yang tidak senang untuk bertemu
dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.”
Saya lalu berkata: “Ya Rasulullah, apakah artinya tidak senang untuk
bertemu dengan Allah itu ialah benci kepada kematian. Kalau begitu kita
semuapun benci akan kematian itu?” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Bukan
demikian yang dimaksudkan. Tetapi seseorang mu’min itu apabila
diberi kegembiraan dengan kerahmatan Allah serta keridhaanNya, juga
syurgaNya, maka ia ingin sekali bertemu
dengan Allah, maka itu Allah juga ingin bertemu dengannya, sedang
sesungguhnya orang kafir itu apabila diberi ancaman perihal siksa-
nya Allah dan kemurkaanNya, maka ia tidak senang untuk bertemu
dengan Allah itu dan oleh sebab itu Allah juga tidak senang untuk
bertemu dengannya.” (Riwayat Muslim)
1846. Dari Ummul mu’minin Shafiyah binti Huyay radhiallahu ‘anha,
katanya: “Nabi s.a.w. pada suatu saat beri’tikaf, lalu saya datang
untuk menengoknya di waktu malam, lalu saya berbicara dengannya,
kemudian saya berdiri untuk kembali ke rumah. Tiba- tiba beliau s.a.w.
juga berdiri beserta saya untuk mengantarkan saya pulang. Selanjutnya
ada dua orang lelaki dari kaum Anshar radhiallahu ‘anhuma
berjalan melalui tempat itu. Setelah keduanya melihat Nabi s.a.w. lalu
keduanyapun bercepat-cepat menyingkir. Nabi s.a.w. lalu bersabda:
“Perlahan-lahanlah berjalan, hai saudara berdua. Ini adalah Shafiyah
binti Huyay.” Keduanya lalu berkata:”Subhanallah, ya Rasulullah.”
Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesung-
guhnya syaitan itu berjalan dalam tubuh anak Adam – yakni manusia –
sebagaimana aliran darah. Sesungguhnya saya takut kalau-kalau dalam
hatimu berdua itu timbul sesuatu yang jahat atau mengatakan sesuatu
yang tidak baik.” (Muttafaq ‘alaih)

1847. Dari Abul Fadhl yaitu al-Abbas bin Abdul Muththalib r.a., katanya:
“Saya menyaksikan pada hari peperangan Hunain bersama Rasulullah s.a.w.
Saya dan Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib senantiasa tetap
mengawani Rasulullah s.a.w. itu. Jadi kita tidak pernah berpisah dengannya.
Rasulullah s.a.w. menaiki seekor baghal – sebangsa keledai, miliknya sendiri
yang putih warnanya. Setelah kaum Muslimin dan kaum musyrikin
bertemu, lalu kaum Muslimin sama menyingkir ke belakang mengundurkan
diri. Mulailah Rasulullah s.a.w. melarikan baghalnya menuju ke muka orang-
orang kafir, sedang saya memegang kendali baghalnya, RasuluIlah s.a.w.,
yang saya tahan-tahanlah kendalinya itu agar tidak terlampau cepat larinya.
Abu Sufyan memegang sanggurdi Rasulullah s.a.w. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai Abbas, panggillah orang-orang yang mengikut Bai’atur
Ridhwan di Samurah dulu.”
Al-Abbas berkata dan ia adalah seorang lelaki yang keras sekali suaranya:
“Saya berseru dengan sekeras-keras suara saya: “Mana orang-orang yang ikut
berbai’at di Samurah dulu.” Maka demi Allah, seolah-olah penerimaan
mereka ketika mendengar suara saya itu adalah bagaikan lembu yang menerima
dengan senang hati akan anak-anaknya. Mereka berkata: “Ya labbaik, ya
labbaik – artinya: Kita akan datang.”
Seterusnya mereka itu lalu berperang berhadap-hadapan dengan orang-
orang kafir.
Adapun undangan yang disampaikan kepada kaum Anshar ialah mereka
berkata: “Hai seluruh kaum Anshar, hai seluruh kaum Anshar.” Seterusnya
terbataslah undangan itu kepada keluarga al-Harits bin al-Khazraj.
Rasulullah s.a.w. yang di waktu itu sedang menaiki baghalnya melihat
kepada jalannya peperangan itu sebagai seorang yang merasa terlampau lama
saatnya pertempuran tadi. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Inilah saatnya
berkecamuknya peperangan yang sedahsyat-dahsyatnya.” Seterusnya Rasulullah
s.a.w. lalu mengambil beberapa batu kerikil kemudian melemparkannya pada
muka-muka kaum kafirin itu, terus berkata: “Hancur leburlah mereka semua
demi Tuhannya Muhammad.” Saya mulai memperhatikan suasana-nya tiba-
tiba peperangan itu berlangsung terus sebagaimana keadaannya yang saya
saksikan itu. Tetapi demi Allah, tiada lain hanyalah lemparan Rasulullah s.a.w.
dengan kerikil-kerikil itu – yang menyebabkan suasana berubah samasekali.
Akhirnya sedikit demi sedikit, tidak henti-hentinya saya melihat bahwa
kekuatan mereka menjadi lemah dan perkara merekapun membelakang –
yakni bahwa mereka kalah dalam keadaan yang hina-dina.”
(Riwayat Muslim) Alwathis, arti asalnya ialah dapur api. Maknanya ialah bahwa peperangan
itu berkecamuk dengan dahsyat sekali. Ucapannya: haddahum, dengan ha’
muhmalah, artinya ialah kekuatan mereka.

1848. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu adalah Maha Baik, maka
Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Sesungguhnya Allah
menyuruh kaum mu’minin sebagaimana yang diperintahkan kepada para
Rasul. Allah Ta’ala berfirman: “Hai sekalian para Rasul, makanlah engkau
semua dari apa-apa yang baik – yakni halal bendanya dan halal pula cara
mengusahakannya serta beramal shalihlah engkau semua.” (al-Mu’minun: 51).
Allah Ta’ala juga berfirman: “Hai sekalian orang yang beriman, makanlah
engkau semua akan yang baik-baik – yakni halal bendanya dan halal pula cara
mengusahakannya – dari apa-apa yang Kami rezekikan kepadamu semua.”
Selanjutnya Rasulullah s.a.w. menyebutkan seseorang lelaki
yang lama sekali menempuh perjalanan, keadaannya kusut masai,
penuh debu. la mengangkatkan kedua tangannya ke langit sambil
memohon: “Ya Tuhanku, ya Tuhanku,” tetapi yang dimakannya
haram, yang diminumnya haram, juga dulunya diberi makanan yang
haram – oleh kedua orang tuanya, maka bagaimanakah orang
sedemikian itu dapat dikabulkan doanya.” (Riwayat Muslim)

1849. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada tiga macam orang yang tidak diajak berbicara oleh Allah
-dengan pembicaraan yang menunjukkan keridhaan, tidak pula
disucikan – yakni diampuni dosanya – serta tidak dilihat olehNya
-dengan pandangan kerahmatan – besok pada hari kiamat dan
mereka akan memperoleh siksa yang pedih sekali, yaitu orang tua yang berzina, raja – atau kepala negara – yang pendusta serta orang
miskin yang berlagak sombong.” (Riwayat Muslim) Al’ail yaitu orang fakir.

1850. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Saihan, Jaihan, Furat dan Nil, semuanya itu adalah nama-nama
sungai di syurga.” (Riwayat Muslim)

1851. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. meng-ambil
tangan saya, lalu bersabda:
“Allah menciptakan tanah – yakni bumi – itu pada hari Sabtu, di
situ Allah menciptakan gunung-gunung pada hari Ahad, mencipta-
kan pohon-pohon pada hari Senin, menciptakan apa-apa yang tidak
disenangi – seperti fitnah dan Iain-Iain – pada hari Selasa, mencipta-
kan cahaya pada hari Rabu dan Allah menyebarkan binatang-
binatang di bumi itu pada hari Kemis. Allah menciptakan Adam a.s.
sesudah Ashar pada hari Jum’at, yaitu pada akhir penciptaanNya
pada semua makhluk, pada akhir saat dari waktu siang yakni antara
waktu Ashar sampai malam.” (Riwayat Muslim)

1852. Dari Abu Sulaiman yaitu Khalid bin al-Walid r.a., katanya: “Sungguh-
sungguh telah putuslah di tanganku pada hari peperangan Mu’tah sebanyak
sembilan buah pedang, maka yang masih tertinggal di tanganku tidak ada lain
kecuali pedang bentuk buatan Yamani.” (Riwayat Bukhari) 1853. Dari ‘Amr bin al-‘Ash r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Apabila seseorang hakim memberikan hukum – yakni
keputusan – lalu ia berijtihad, kemudian benar – sesuai dengan
kehendak agama Allah, maka ia memperoleh dua pahala, sedang
apabila ia memberikan hukum dan berijtihad lalu salah, maka ia
memperoleh satu pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

1854. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya penyakit panas itu berasal dari sebaran wap neraka Jahannam,
maka dari itu dinginkanlah ia dengan menggunakan air.” (Muttafaq ‘alaih)

1855. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari Nabi s.a.w., katanya: “Barangsiapa
yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan hutang puasa, maka
bolehlah walinya berpuasa untuk menutupi hutangnya itu.” (Muttafaq
‘alaih)Menurut pendapat yang terpilih ialah bolehnya berpuasa untuk
melunasi hutang puasa yang meninggal dunia karena berdasarkan Hadis ini.
Adapun yang dimaksud dengan perkataan wali – yang boleh memuasainya
itu – ialah keluarga yang berkedudukan sebagai ahli waris dari orang yang
meninggal dunia tadi, ataupun yang bukan
ahli warisnya.

1856. Dari Auf bin Malik bin at-Thufail bahwasanya Aisyah radhiallahu
‘anha diberitahu bahwasanya Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘anhuma
berkata dalam suatu pembelian atau suatu pemberian yang diberikan oleh
Aisyah radhiallahu ‘anha: “Demi Allah, niscayalah Aisyah harus suka
menghentikan ini atau kalau tidak suka, maka niscayalah saya akan
meninggalkan berbicara padanya – yakni tidak menyapanya.” Aisyah berkata:
“Benarkah Abdullah bin az-Zubair berkata demikian.” Orang-orang berkata:
“Ya.” Aisyah lalu berkata: “Saya bernazar karena Allah terhadap dirinya yaitu
saya tidak akan berbicara dengan anak az-Zubair itu selama-lamanya.”
Abdullah bin az-Zubair meminta pertolongan untuk dapat bercakap-
cakap lagi dengan Aisyah itu ketika keadaan tidak saling menyapa tadi sudah
berjalan lama. Tetapi Aisyah tetap berkata:
“Tidak, demi Allah, saya tidak akan menerima permintaan tolongnya itu dan
saya tidak akan melanggar sumpah dalam nazar saya ini.”
Ketika peristiwa itu sudah dirasa amat lama sekali bagi Abdullah bin az-Zubair,
lalu ia berbicara kepada al-Miswar bin Makhramah dan Abdur Rahman bin al-
Aswad bin Abdu Yaghuts dan berkata kepada kedua orang itu: “Saya meminta
kepada saudara berdua, supaya engkau berdua dapat memasukkan saya di
tempat Aisyah radhiallahu ‘anha, sebab sesungguhnya ia tidak halal hukumnya
untuk bernazar terus memutuskan hubungan kekeluargaan dengan saya.” Al-
Miswar dan Abdur Rahman menerima permintaannya itu, sehingga pada suatu
ketika keduanya meminta izin pada Aisyah -dan Abdullah bin az-Zubair ikut
serta. Keduanya berkata: Assalamu ‘alaiki wa rahmatullahi wa barakatuh, apakah
kita semua boleh masuk?” Aisyah berkata: “Masuklah semua.” Mereka berkata:
“Kita semuakah boleh masuk itu?” la menjawab: “Ya, masuklah engkau semua.”
Aisyah radhiallahu ‘anha tidak mengerti bahwa Abdullah bin az-Zubair
menyertai kedua orang tersebut. Setelah semuanya masuk, lalu Abdullah bin
az-Zubair langsung masuk ke dalam tabir -sebab Aisyah radhiallahu ‘anha ada
di balik tabir kalau menemui lelaki dan Abdullah bin az-Zubair itu adalah kemanakannya sendiri yakni anak Asma’, saudarinya. Abdullah segera
merangkul Aisyah -bibinya – radhiallahu ‘anha dan mulailah meminta-minta –
agar dimaafkan kesalahannya – sambil menangis. Al-Miswar dan Abdur
Rahman juga meminta-minta – supaya dimaafkan, kemudian suka bercakap-
cakap lagi dengannya dan menerima permintaan maafnya itu. Keduanya berkata
bahwasanya Nabi s.a.w. melarang apa yang dilakukan dalam hal tidak suka
menyapanya itu. Juga bahwasanya seseorang Muslim itu tidak halal untuk
meninggalkan saudaranya -yaitu tidak menyapa – lebih dari tiga hari.” Setelah
orang-orang itu semuanya banyak-banyak dalam memberikan peringatan dan
peri-hal remehnya soal yang menyebabkan tidak menyapa tadi, lalu Aisyah
radhiallahu ‘anha mulai memberitahukan kepada keduanya itu perihal
nazarnya, kemudian ia menangis dan berkata: “Sesung-guhnya saya telah
bernazar dan nazar itu adalah berat tanggungan-nya.” Keduanya tidak henti-
hentinya memberikan peringatan dan akhirnya Aisyah radhiallahu ‘anha suka
berbicara lagi dengan Abdullah bin az-Zubair. Untuk menebus denda sumpah
nazarnya -yang dilanggar – itu Aisyah radhiallahu ‘anha memerdekakan
empatpuluh orang hambasahaya – sebenarnya yang wajib hanyalah
memerdekakan seorang hambasahaya saja, tetapi oleh sebab sangat taqwanya
kepada Allah, lalu ia berbuat demikian. Aisyah selalu ingat saja akan nazarnya
dulu setelah peristiwa kembali baik, kemudian
menangis, sampai-sampai kerudungnya itu menjadi basah oleh
airmatanya.” (Riwayat Bukhari)

1857. Dari Uqbah bin Amir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. pergi keluar
ke tempat orang-orang yang terbunuh dalam pepe-rangan Uhud, lalu beliau
s.a.w. mendoakan mereka setelah terkubur selama delapan tahun, sebagai
seorang yang hendak mohon diri untuk orang-orang yang masih hidup dan
yang telah mati. Kemudian beliau s.a.w. naik ke mimbar lalu bersabda:
“Sesungguhnya saya sekarang ini di hadapan engkau semua sebagai orang yang mendahului dan saya menyaksikan atasmu semua. Sesungguhnya tempat
perjanjian kita bertemu lagi ialah di Haudh – sebuah danau di syurga.
Sebenarnya saya niscayalah dapat melihat Haudh itu dari tempatku ini. Tidak
ada yang benar-benar saya takuti untuk menimpa engkau semua kalau engkau
semua akan menjadi orang musyrik – sebab tentulah jauh dari kemusyrikan
itu, tetapi yang saya takutkan menimpa engkau semua ialah kalau engkau
semua sama berlomba-lomba dalam mengejar keduniaan.”
Uqbah berkata: “Itulah yang merupakan pandangan saya yang terakhir
yang saya dapat melihat kepada Rasulullah s.a.w.”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
Nabi s.a.w. bersabda: “Tetapi yang saya takutkan menimpa engkau semua
ialah kalau engkau semua sama berlomba-lomba mengejar keduniaan dan
engkau semua lalu saling perang me-merangi, sehingga menyebabkan engkau
semua rusak binasa se-bagaimana rusak binasanya orang yang sebelummu
semua dahulu.”
Uqbah berkata: “Itulah yang terakhir sekali saya melihat Rasulullah s.a.w.
berdiri di atas mimbar.”
Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya sayalah yang dahulu sekali
meninggalkan engkau semua dan saya menyaksikan atasmu semua.
Sesungguhnya saya dapat melihat pada Haudhku itu sekarang.
Sesungguhnya saya juga dikaruniai segala kunci per-bendaharaan bumi serta
kunci-kunci kekayaan bumi. Demi Allah, tidak ada yang saya takutkan untuk
menimpa engkau semua kalau engkau semua akan berlaku musyrik
sepeninggalku nanti, tetapi saya takut kalau engkau semua sama berlomba-
lomba mengejar keduniaan.” Yang dimaksudkan dengan shalat kepada orang-orang yang mati dalam
peperangan Uhud itu ialah berdoa, jadi bukan shalat sebagaimana yang
dimaklumi itu.

1858. Dari Abu Zaid yaitu ‘Amr bin Akhthab al-Anshari r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersembahyang dengan kita semua yaitu
shalat Subuh, lalu beliau naik mimbar, kemudian berkhutbah di
hadapan kita, sehingga datanglah waktu Zuhur, terus turun dan
bersembahyang. Selanjutnya beliau s.a.w. naik mimbar lagi terus
berkhutbah sehingga datanglah waktunya shalat Asar, lalu turun dan
bersembahyang. Sehabis itu beliau s.a.w. naik mimbar lagi sehingga
terbenamlah matahari. Beliau s.a.w. memberitahukan kepada kita
apa yang telah terjadi dan apa-apa yang bakal terjadi. Maka orang
yang terpandai di antara kita – dengan ayat-ayat Allah, itu pulalah
yang paling banyak hafalannya.” (Riwayat Muslim)

1859. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang bernazar akan taat kepada Allah, maka
wajiblah ia taat kepadaNya dan barangsiapa yang bernazar hendak
bermaksiat kepada Allah, maka wajiblah ia tidak bermaksiat
padaNya.” (Riwayat Bukhari)

1860. Dari Ummu Syarik radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w.
memerintahnya supaya membunuh wazagh dan beliau s.a.w. bersabda:
“Wazagh itu dahulu pernah meniup-niup api pada Ibrahim –
supaya lebih menyala.” (Muttafaq ‘alaih) Arti wazagh lihat Hadis no. 1861.

1861. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa membunuh wazagh dalam pukulan pertama, maka ia
memperoleh kebaikan sekian, sekian dan barangsiapa yang membunuhnya
dalam pukulan kedua, maka ia memperoleh ke-baikan sekian, sekian, tetapi
di bawah yang pertama. Kemudian kalau ia dapat membunuhnya dalam
pukulan ketiga kalinya, maka ia memperoleh kebaikan sekian, sekian.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Barangsiapa yang membunuh wazagh dalam pukulan pertama,
maka dicatatlah untuknya seratus kebaikan dan dalam pukulan
kedua di bawahnya itu dan dalam pukulan ketiga di bawahnya itu
pula.” (Riwayat Muslim)
Ahli lughah berkata: Arti wazagh ialah sejenis toke yang besar-besar. Jadi
bukan cicak yang lazim ada di rumah itu.

1862. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada seorang lelaki berkata: “Niscayalah saya akan bersedekah dengan
sesuatu sedekah.” lapun keluarlah dengan membawa sedekahnya, lalu diletakkannya di tangan seorang pencuri. Pagi-pagi orang-orang sama bercakap-
cakap: “Tadi malam itu disedekahkan kepada seorang pencuri.” Orang itu lalu
berkata: “Ya Allah, bagiMulah segenap puji-pujian, niscayalah saya akan
bersedekah lagi dengan sesuatu sedekah.” lapun keluarlah dengan membawa
sedekahnya lalu meletakkannya di tangan seorang wanita penzina -pelacur.
Pagi-pagi orang-orang sama bercakap-cakap: “Tadi malam itu disedekahkan
kepada seorang wanita penzina.” Orang tadi berkata: “Ya Allah, segenap puji-
pujian adalah bagiMu atas se-seorang wanita penzina. Tetapi niscayalah saya
akan bersedekah lagi dengan sesuatu sedekah.” lapun keluarlah dengan
membawa sedekahnya lalu meletakkannya di tangan seorang kaya. Pagi-pagi
orang-orang bercakap-cakap lagi: “Tadi malam itu disedekahkan kepada orang
kaya.” Orang itu lalu berkata: “Ya Allah, bagiMulah, segenap puji-pujian atas
seorang pencuri, seorang pelacur dan seorang kaya.” Kemudian
didatangkanlah suatu impian padanya dan dikatakan kepadanya: “Adapun
sedekahmu kepada pencuri itu, barangkali ia akan menahan dirinya dari
pencurian, adapun yang kepada wanita pelacur, maka barangkali ia menahan
diri dari perzinaannya, sedang yang kepada orang kaya, maka barangkali ia
dapat mengambil cermin teladan dengan perbuatanmu itu, lalu ia suka
menafkahkan sebagian dari apa-apa yang dikaruniakan oleh Allah padanya.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafaznya dan juga diriwayatkan oleh
Imam Muslim dengan uraian yang semakna dengan di atas itu

1863. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Kita semua berada bersama
Rasulullah s.a.w., lalu dihidangkanlah untuk beliau s.a.w. sebuah hasta dan ini
memang sangat menyukakannya. Beliau s.a.w. menggigitnya sekali gigitan
kemudian bersabda:
“Saya adalah penghulu sekalian manusia besok pada hari kiamat, apakah
engkau semua mengerti, apakah sebabnya demikian itu?” Allah akan mengumpulkan seluruh manusia yang dahulu-dahulu dan
yang belakangan di suatu tanah, kemudian dilihat oleh orang yang melihat
dan dapat memperdengarkan kepada orang-orang itu orang yang
mengundang. Matahari dekat sekali dengan mereka itu. Sekalian manusia
mendapatkan kesusahan dan keseng-saraan,sehingga dirasakannya tidak kuat
lagi menahannya dan tidak tahan lagi terhadap penderitaan itu.
Para manusia itu lalu berkata: “Adakah engkau semua tidak mengetahui,
hingga bagaimanakah keadaan yang sama-sama engkau semua alami ini?
Apakah engkau semua tidak memikirkan kepada siapakah yang kiranya dapat
memberikan syafaat untukmu semua kepada Tuhanmu?” Setengah manusia ada
yang berkata kepada yang lainnya: Abukum Adam yakni ayo menuju ke bapakmu
semua yaitu Nabi Adam.
Para manusia lalu mendatangi Nabi Adam, kemudian berkata: “Wahai Nabi
Adam, anda itu adalah bapak dari seluruh manusia. Allah telah menciptakan
bapak dengan tangan kekuasaanNya. Allah telah meniupkan dalam tubuh
bapak dengan ruhNya. Allah juga memerintah kepada para malaikat untuk
menghormat kepada bapak, mereka lalu bersujud – menghormat – bapak dan
memberikan tempat syurga kepada bapak. Sudilah kiranya bapak memberikan
syafaat untuk kita semua kepada Tuhan. Adakah bapak tidak mengetahui
keadaan yang sedang kita alami ini dan hingga bagai-manakah kesengsaraan
kita semua ini?” Nabi Adam lalu menjawab: “Sesungguhnya Tuhanku amat
murka sekali pada hari ini, belum pernah murka sebagaimana sekarang ini
sebelum hari ini dan juga tidak akan murka sebagaimana sekarang ini sesudah
hari ini. Allah sudah melarang kepadaku akan suatu pohon, tetapi
kulanggarlah larangan itu. Diriku, diriku, diriku sendiri – belum tentu
selamat. Silakan pergi saja kepada orang selain aku. Pergilah kepada Nabi Nuh.
Para manusia kemudian mendatangi Nabi Nuh, lalu berkata: “Wahai Nabi
Nuh, anda adalah pertama-tama Rasul yang ada di atas permukaan bumi. Allah
telah memberikan nama kepada anda dengan sebutan “Hamba yang sangat banyak bersyukurnya.” Adakah anda tidak mengetahui keadaan yang sedang kita
alami ini? Adakah anda tidak mengetahui hingga bagaimana kesengsaraan kita
ini? Sudilah kiranya anda memberikan pertolongan untuk kita semua dari
Tuhan anda.” Nabi Nuh lalu menjawab: “Sesungguhnya Tuhanku amat
murka sekali pada hari ini, belum pernah murka sebagaimana sekarang ini
sebelum hari ini dan juga tidak akan murka sebagaimana sekarang ini sesudah
hari ini. Sebenarnya saja aku ini memiliki suatu doa mustajab, kemudian
kupakai untuk mendoakan kerusakan bagi kaumku – yakni dengan adanya
siksa berupa banjir sedunia. Diriku, diriku, diriku sendiri – belum tentu
selamat. Pergilah kepada orang selain aku. Pergilah kepada Nabi Ibrahim.
Para manusia lalu mendatangi Nabi Ibrahim, kemudian berkata: “Wahai Nabi
Ibrahim, anda itu adalah Nabinya Allah, juga sebagai kekasihnya dari
golongan penghuni bumi. Sudilah kiranya anda memberikan syafaat untuk
kita semua kepada Tuhan anda. Adakah anda tidak mengetahui keadaan yang
sedang kita alami sekarang ini.” Nabi Ibrahim menjawab: “Sesungguhnya
Tuhanku amat murka sekali pada hari ini, belum pernah murka sebagaimana
sekarang ini sebelum hari ini dan juga tidak akan murka sebagaimana
sekarang ini sesudah hari ini. Sebenarnya saya ini sudah pernah berdusta
sampai tiga kali banyaknya.* Diriku, diriku, diriku sendiri – belum tentu
selamat. Pergilah kepada orang selain aku, pergilah kepada Nabi Musa.”
Para manusia lalu mendatangi Nabi Musa, kemudian berkata: “Wahai
Nabi Musa, anda itu adalah utusan Allah. Allah telah mengaruniakan
keutamaan kepada anda dengan risalat dan firman-Nya melebihi orang-orang
lain. Sudilah kiranya anda memberikan syafaat untuk kita semua kepada
Tuhan anda. Adakah anda tidak mengetahui keadaan yang sedang kita alami
ini?” Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Tuhanku amat murka sekali pada
hari ini, belum pernah murka sebagaimana sekarang ini sebelum hari ini dan
juga tidak akan murka sebagaimana sekarang ini sesudah hari ini. Sebenarnya saya ini pernah membunuh seorang manusia yang saya tidak diperintah
untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku sendiri – belum tentu selamat.
Pergilah kepada orang selain aku. Pergilah kepada Nabi Isa.”
Para manusia kemudian mendatangi Nabi Isa, lalu berkata: “Wahai Nabi Isa,
anda itu adalah utusan Allah dan kalimatnya disampaikan kepada Maryam
dan anda itupun ruh dari Allah. Anda telah memberikan sabda kepada orang
banyak ketika masih dalam buaian. Sudilah kiranya anda memberikan syafaat
untuk kita semua kepada Tuhan anda. Apakah anda tidak mengetahui keadaan
yang sedang kita alami ini?” Nabi Isa lalu menjawab: “Sesungguhnya
Tuhanku amat murka sekali pada hari ini dan belum pernah murka
sebagaimana sekarang ini sebelum hari ini dan juga tidak akan
murka sebagaimana sekarang ini sesudah hari ini.” Nabi Isa tidak
menyebutkan sesuatu dosa yang pernah dibuatnya. Diriku, diriku, diriku
sendiri – belum tentu selamat. Pergilah engkau semua kepada orang selain aku.
Pergilah kepada Nabi Muhammad. Para manusia terus pergi mendatangi
Muhammad s.a.w. – di dalam riwayat lain diterangkan: Para manusia lalu
mendatangi aku, kemudian berkata: “Wahai Nabi Muhammad, anda itu
adalah pesuruh Allah dan penutup sekalian Nabi. Allah sungguh-sungguh
telah mengaruniakan pengampunan kepada dosa-dosa anda yang sudah-
sudah dan yang akan datang. Sudilah kiranya anda memberi- kan syafaat
untuk kita kepada Tuhan anda. Adakah anda belum mengetahui keadaan
yang sedang kita alami sekarang ini?”
Sayapun lalu berangkat sampai datang di bawah ‘arasy, selanjut-nya sayapun
bersujudlah kepada Tuhanku. Di kala itu Allah mem-bukakan padaku dari
puji-pujianNya serta keindahan penghargaan pujian terhadap hadhiratNya.
Yang sedemikian ini adalah suatu keadaan yang belum pernah dibukakan oleh
Allah kepada siapapun sebelum ini. Selanjutnya lalu dikatakan: “Hai
Muhammad, angkat-lah kepalamu. Ajukanlah permohonan dan pasti akan
dikabulkan permohonanmu itu. Mintalah untuk dapat memberikan syafaat dan pasti engkau akan diberi izin untuk memberi syafaat itu.” Selanjut-nya
saya lalu mengangkat kepalaku, kemudian memohonkan: “Ummat hamba, ya
Tuhan; ummat hamba, ya Tuhan; ummat hamba, ya Tuhan.” Setelah itu lalu
diucapkan: “Hai Muhammad, masukkanlah orang-orang yang tidak
diperlukan untuk dihisab lagi dari ummatmu itu dari pintu sebelah kanan.
Orang-orang itupun juga sebagai kawan-kawan para manusia yang akan masuk
dari pintu selain pintu kanan.”
Nabi s.a.w. meneruskan sabdanya: “Demi Zat yang jiwaku dalam
tanganNya – kekuasaanNya, sesungguhnya jauh jaraknya antara dua
lipatan pintu dari semua lipatan-lipatan pintu-pintu syurga itu adalah
sama jauhnya dengan jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti jarak antara
Makkah dan Bushra.” (Muttafaq ‘alaih)

* Perihal dustanya Nabiullah Ibrahim a.s. sebagaimana yang dikatakannya
sendiri ada tiga kali banyaknya itu, ceriteranya adalah sebagai berikut:
1. Nabi Ibrahim a.s. pernah berkata kepada ayahnya: Inni saqim – Saya ini sakit,
padahal sebenarnya tidak, tetapi ini terpaksa harus beliau a.s. katakan, karena
beliau a.s. itu diajak menyembah sesuatu yang selain Allah Ta’ala yakni berhala,
bersama- sama dengan Raja Namrudz.

2.Nabi Ibrahim a.s. merusak dan memukuli berhala-berhala yang dipuja serta
disembah oleh Raja Namrudz yang musyrik itu,sampai rusak binasa
seluruhnya dan
ditinggalkan sebuah saja, yakni yang terbesar sekali. Ketika masyarakat
menjadi
ramai dan memperkatakan bahwa beliau a.s. yang berbuat pengrusakan itu,
lalu
beliau a.s. ditanya oleh Raja Namrudz, benarkah beliau a.s. yang merusak. Beliau
a.s. menjawab: Bal fa’alahu kabiruhum hadza – yang membuat kerusakan ialah berhala
yang besar sendiri itu, padahal sebenarnya memang beliau a.s. itulah yang
mengerjakan pengrusakan tadi.

3. Pada suatu hari Nabiullah Ibrahim a.s. sedang bepergian dengan isterinya yang
bernama Sarah, sehingga akhirnya datanglah di suatu negeri yang rajanya itu
amat suka sekali kepada golongan kaum wanita yang cantik secara berlebih-
lebihan. Hampir setiap melihat wanita elok, pasti dipinang untuk dijadikan
isterinya dan wanita itupun wajib suka dan tunduk kepada kehendaknya.
Demi beliau a.s. bertemu dengan raja itu, lalu ditanya, siapakah wanita yang
menyertainya itu. Sudah pastilah beliau a.s. akan disiksa atau mungkin juga
akan dibunuh, sekiranya mengatakan yang sebenarnya yakni bahwa Sarah itu
betul-betul isterinya. Oleh sebab itu beliau a.s. berkata, demi untuk
melindungi diri dan keselamatan jiwanya: Ukhti – saudariku. Padahal
sebenarnya adalah isterinya dan bukan saudarinya. Ceritera mengenai bab ini
masih panjang lanjutannya, tetapi oleh sebab buku ini disusun bukan untuk
maksud ini, sebaiknya diringkaskan sampai di sini saja.

1864. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Ibrahim a.s. datang – di Makkah yang dulu disebut Faran -dengan
membawa ibunya Ismail – yakni Hajar – serta anaknya lelaki yakni Ismail.
Ibunya itu menyusui anaknya, sehingga Ibrahim a.s. menempatkan isterinya
itu di dekat Baitullah, di sisi sebuah pohon besar yang ada di sebelah atas
Zamzam yaitu di Masjidul Haram yang sebelah atas sendiri. Di Makkah pada saat itu belum ada seorangpun dan di situ tidak pula ada
airnya. Di situlah Ibrahim a.s. menempatkan isteri dan puteranya. Di sisi
kedua orang ini olehnya diletakkanlah suatu wadah – dari kulit – berisi
kurma dan sebuah tempat air yang berisi air. Ibrahim a.s. lalu membelakang –
yakni meninggalkan Hajar dan Ismail – terus berangkat. Ibu Ismail
mengikuti suaminya, lalu berkata: “Ke manakah anda hendak pergi dan
mengapa anda meninggalkan kita di lembah ini, tanpa ada seseorangpun
sebagai kawan dan tidak ada sesuatu apapun?” Hajar berkata demikian itu
berulang kali, tetapi Ibrahim a.s. samasekali tidak menoleh kepada-nya.
Kemudian Hajar berkata: “Adakah Allah yang memerintahkan anda berbuat
semacam ini?” Ibrahim a.s. menjawab: “Ya.” Hajar berkata: “Kalau demikian,
pastilah Allah tidak akan menyia-nyiakan nasib kita.” Ibu Ismail lalu kembali
ke tempatnya semula.

Ibrahim a.s. berangkatlah, sehingga sewaktu beliau itu datang di Tsaniyah –
di daerah Hajun, di sesuatu tempat yang tidak dilihat oleh mereka – yakni
Hajar dan anaknya, kemudian menghadap kiblat dengan wajahnya yakni ke
Baitullah, terus berdoa dengan doa-doa yang tersebut di bawah ini. Beliau a.s.
mengangkatkan kedua tangannya, lalu mengucapkan, sebagaimana yang
tersebut dalam al-Quran, yang artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya saya me-
nempatkan keturunanku di suatu lembah yang tiada berpohon -yakni
tandus,” sampai pada: “semoga mereka itu bersyukur.”
Ibu Ismail menyusui Ismail dan minum dari air yang ditinggalkan itu,
sehingga setelah habislah air yang ada di tempat air dan iapun haus, juga
anaknyapun haus pula. Ibu itu melihat anaknya ber-gulung-gulung di tanah,
atau katanya: bergulat dengan tanah sambil memukul-mukulkan dirinya di
atas tanah itu, lalu ibunya itu ber-angkat karena tidak tahan melihat keadaan
anaknya semacam itu. Hajar melihat sekelilingnya dan tampaklah olehnya
bahwa Shafa adalah sedekat-dekat gunung di bumi yang ada di samping dirinya, iapun lalu menuju ke puncak gunung ini dan berdiri di atasnya,
kemudian ia menghadap ke lembah, melihat di situ, kalau-kalau dapat
melihat seseorang manusia, tetapi tidak ada. Selanjutnya ia turun dari Shafa,
sehingga setelah ia sampai di lembah lagi, iapun mengangkat gamisnya, terus
berjalan lagi bagaikan jalannya se-seorang yang sedang dalam kesukaran –
yakni berlari-lari, sehingga lembah itu dilampauinya, kemudian mendatangi
Marwah, berdiri di atas puncak Marwah ini, menengok ke lembah, kalau-
kalau ada seseorang manusia yang dapat dilihat olehnya. Tetapi tidak ada,
sehingga Hajar mengerjakan sedemikian itu sebanyak tujuh kali -yakni pergi
bolak-balik antara Shafa dan Marwah.”
Ibnu Abbas berkata: “Nabi s.a.w. bersabda: “Oleh sebab itu para manusia
– dalam mengerjakan ibadat haji meneladan kelakuan Hajar tersebut, bersa’i –
yakni berlari-lari kecil – antara Shafa dan Marwah.” Keduanya ini bukan
gunung yang sebenarnya, tetapi hanyalah tanah yang agak meninggi letaknya.
Ibnu Abbas melanjutkan keterangannya:
“Setelah ia berada di atas Marwah – yakni tujuh perjalanan yang terakhir, lalu
ia mendengar suatu suara. Kemudian ia berkata: “Diamlah” yang
dimaksudkan ialah kepada dirinya sendiri – yang disuruh diam untuk
memperhatikan suara apa itu. Selanjutnya didengarlah dengan penuh
perhatian, lalu sekali lagi dapat di-dengarnya suara tersebut. Iapun terus
berkata: “Anda telah memperdengarkan suara kepada saya, maka segerakanlah
memberikan pertolongan kepada kita, jikalau memang sengaja akan
memberikan pertolongan.”
Tiba-tiba di situ tampaklah oleh Hajar ada seorang malaikat di dekat
tempat sumur zamzam – yang di waktu itu belum keluar airnya. Malaikat itu
meneliti dengan kakinya, atau katanya: Dengan sayapnya, sehingga keluarlah
airnya. Hajar mulai bekerja membuat tempat air itu bagaikan bentuk danau –
yang dibulatkan – dan dengan tangannya ia mengerjakan itu sedang mulutnya mengucapkan: “Ah, beginilah yang saya harapkan.” Hajar
menciduk air itu dan meletakkannya dalam tempat airnya. Air zamzam itu
terus menyumber dengan derasnya setelah diciduk olehnya.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Dengan sekedar cidukan yang dilakukan
oleh Hajar.”
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Nabi s.a.w. bersabda: “Semoga
Allah memberikan kerahmatanNya kepada ibu Ismail, andaikata ia
meninggalkan zamzam itu – yakni tidak diciduk-nya, niscaya akan meluap
airnya ke seluruh bumi.”
Atau sabdanya: “Andaikata ibu Ismail itu tidak menciduk air zamzam tadi,
niscayalah zamzam itu akan merupakan mata air yang dapat mengalir hebat –
yakni dapat memenuhi seluruh permukaan bumi.”
Ibnu Abbas melanjutkan: “Ibu Ismail lalu minum dan dapat lagi menyusui
anaknya.”
Malaikat berkata kepadanya: “Janganlah anda takut akan binasa di sini,
sebab di sini nanti akan didirikanlah sebuah Rumah Allah -yakni Baitullah
yaitu Ka’bah. Yang mendirikan ialah anak ini beserta ayahnya. Sesungguhnya
Allah tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang berbakti kepada Allah –
yang tentu menginginkan berziarah ke Baitullah ini.”
Tempat Baitullah itu meninggi di atas bumi, bagaikan tanah tinggi, yang
akan didatangi oleh beberapa banjir, lalu merusak sebagian kanan dan
sebagian kirinya.
Demikianlah keadaan Hajar dengan anaknya, sehingga pada suatu ketika
berlalulah di tempat mereka itu sekelompok kawanan yang sedang
mengadakan perjalanan dari golongan suku Jurhum. Atau yang datang itu
adalah sekeluarga dari golongan suku Jurhum yang menuju ke suatu tempat
dari jalan Kada’. Mereka turun -yakni berhenti – di bagian bawah kota
Makkah. Mereka melihat ada burung sedang terbang seolah-olah
mengelilingi air. Kata mereka: “Burung ini pastilah terbang mengelilingi suatu mata air. Niscayalah tempat keamanan kita adalah di lembah ini, sebab ada air
di tempat itu. Selanjutnya dikirimkanlah seseorang atau dua orang utusan yang
dapat berlari cepat menuju lembah tersebut dan mereka benar-benar dapat
menemukan tempat air. Utusan-utusan itu kembali terus memberitahukan
kepada orang-orang Jurhum. Mereka semua datang mendekati dan di waktu itu
ibu Ismail sedang ada di tempat air tersebut. Mereka berkata: “Apakah anda
suka mengizinkan kita kalau berdiam saja di sisi anda di sini?” la menjawab:
“Baiklah, tetapi samasekali engkau semua tidak ada hak atas air ini.” Mereka
berkata: “Baiklah.”
Kedatangan orang-orang Jurhum itu berkenan sekali dalam hati ibu
Ismail, karena sebenarnya ia senang untuk berkawan. Orang-orang Jurhum itu
menyuruh semua keluarganya supaya datang di situ dan akhirnya
semuanyapun berdiam di situ, bersama-sama. Di antara orang-orang Jurhum
itu banyak yang ahli dalam ilmu persyairan – yakni puisi dan kesusasteraan
bahasa Arab. Anak Hajar -yakni Ismail – makin hari makin besar dan belajar
bahasa Arab dari mereka. Anak ini menimbulkan kegembiraan serta
membuat mereka menjadi takjub setelah ia tumbuh sebagai seorang pemuda.
Setelah Ismail cukup dewasa, mereka mengawinkannya dengan seseorang
wanita dari suku Jurhum itu. Sementara itu ibu Ismail -yakni Hajar –
wafatlah.”
Ibnu Abbas berkata: “Nabi s.a.w. bersabda:
“Ibrahim a.s. datang – di Makkah – setelah Ismail sudah kawin. la
mengamat-amati apa-apa yang terjadi dalam rumah setelah ditinggal pergi
oleh Ismail, karena Ibrahim tidak dapat berjumpa dengan anaknya itu.
Ibrahim bertanya kepada isterinya, ke mana perginya, lalu dijawab: “la keluar
mencari sesuatu untuk kami.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Keluar untuk berburu guna kepentingan
kami.” Kemudian Ibrahim menanyakan kepada isteri-nya perihal kehidupan
mereka serumahtangga dan keadaan sehari-harinya. Isterinya menjawab: “Nasib kita buruk sekali, yakni dalam keadaan serba sukar dan penuh
kesengsaraan.” Wanita itu me-ngadukan halnya kepada mertuanya tadi.
Ibrahim lalu berkata: “Nanti jikalau suamimu telah datang, maka
sampaikanlah ucapan salam daripadaku dan katakanlah padanya, supaya ia
mengubah bandul pintunya – ini adalah kiasan daripada seseorang isteri.
Setelah Ismail datang, ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu
fikirannya, lalu ia berkata: “Apakah ada seseorang yang tadi datang di
tempat ini?” Isterinya menjawab: “Ya. Kita didatangi oleh seorang tua yang
sifatnya demikian, demikian, iapun bertanya kepada kami perihal diri anda,
lalu saya beritahukan yang sebenarnya. Selanjutnya ia bertanya lagi kepada saya,
bagaimanakah perihal kehidupan kita. Saya memberitahukan padanya
bahwasanya kita hidup dalam keadaan penuh kesengsaraan dan kesukaran.
Ismail bertanya: “Apakah orang tua itu tidak memesankan sesuatu padamu?”
Isterinya menjawab: “Ya, orang tua itu menyuruh saya supaya saya sampaikan
ucapan salamnya kepada anda dan berkata -dalam pesannya: “Ubahlah
bandul pintumu.” Ismail berkata: “Orang tua itu adalah ayahku dan beliau
telah memerintahkan kepada saya supaya saya menceraikan engkau. Maka
itu temui kembalilah keluargamu.” Ismail menceraikan isterinya itu, kemu-
dian kawin lagi dengan seorang perempuan lain.
Ibrahim tetap meninggalkan mereka itu dalam waktu yang di kehendaki
oleh Allah, kemudian mendatangi mereka lagi sesudah itu, tetapi kali inipun
ia tidak menemukan anaknya. la masuk rumahnya dan ditemui oleh
isterinya, lalu menanyakan kepada isterinya itu perihal Ismail, la berkata: “la
sedang keluar untuk mencari rezeki guna kita semua.” Ibrahim bertanya:
“Bagaimana-kah keadaan penghidupanmu semua.” la menanyakan perihal
kehidupan serta keadaan sehari-hari yang mereka alami. Isterinya menjawab:
“Kita semua dalam keadaan baik dan rezeki yang cukup luas.” Wanita inipun
banyak memuji kepada Allah atas segala kenikmatan yang diberikan
olehNya. Ibrahim bertanya: “Apakah yang engkau semua makan.” Isterinya menjawab: “Daging.” Tanya-nya lagi: “Apakah yang engkau semua minum?” la
menjawab: “air.” Ibrahim berdoa: “Ya Allah, berilah keberkahan kepada
mereka ini dalam makanan dagingnya dan minuman airnya.”
Seterusnya Nabi s.a.w. bersabda:
“Di kalangan mereka – penduduk Makkah – di waktu itu tidak ada biji-
bijian, andaikata ini ada, tentulah Ibrahim juga mendoakan keberkahan biji-
bijian itu untuk mereka.”
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka tidak se-orangpun yang
tidak mencampurkan daging dan air itu dalam makanannya untuk selain di
Makkah, melainkan keduanya itu tidak akan mencocokinya.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Ibrahim datang, lalu berkata: “Manakah Ismail?” Isterinya menjawab: “la
pergi untuk berburu.” Isterinya berkata: “Tidakkah bapak suka singgah dulu
di sini untuk makan dan minum?” Ibrahim bertanya: “Apakah makananmu
dan apakah minumanmu?” la menjawab: “Makanan kita adalah daging dan
minuman kita adalah air.” Ibrahim lalu berdoa: “Ya Allah, berikanlah
keberkahan kepada mereka akan makanan serta minuman mereka.”
Ibnu Abbas berkata: “Abul Qasim – yaitu Nabi Muhammad s.a.w.
– bersabda: “Itulah dengan sebab berkah doanya Ibrahim a.s.”
Ibrahim berkata: “Jikalau suamimu datang maka sampaikanlah
ucapan salamku padanya dan perintahkanlah padanya supaya di-
tetapkan saja bandul pintunya.” Setelah Ismail datang, ia berkata:
“Apakah ada seseorang yang datang di tempatmu ini?” Isterinya
menjawab: “Ya, ada seorang tua yang baik sekali keadaan pakaian-nya.”
Wanita itu banyak mengeluarkan pujian pada orang tua tersebut.
Selanjutnya ia berkata: “la bertanya kepadaku tentang hal-ihwal diri
anda. Kemudian saya beritahukan hal itu kepadanya. Lalu bertanya:
“Bagaimanakah keadaan hidup kita, lalu saya mem-beritahukan
bahwasanya kita dalam keadaan baik-baik saja.” Ismail bertanya: “Apakah orang tua tadi memesan sesuatu padamu?” la menjawab: “Ya, ia
menyampaikan ucapan salam pada anda dan memerintahkan kepada
anda supaya anda menetapkan bandul rumahnya.” Ismail berkata:
“Orang tua itu adalah ayahku dan yang dimaksudkan bandul pintu
adalah engkau. Jadi ia menyuruh kepada saya supaya tetap
memegangmu sebagai isteri.”
Ibrahim berdiam meninggalkan mereka selama waktu yang
dikehendaki oleh Allah Ta’ala, kemudian datang pulalah sesudah itu.
Di waktu kedatangan Ibrahim itu, Ismail sedang meraut sebuah anak
panah yang sedang dibuatnya, yaitu di bawah sebuah pohon besar di
dekat sumur zamzam. Setelah dilihatnya, iapun berdirilah
menyongsongnya, kemudian keduanya berbuat sebagaimana se-orang
ayah terhadap anaknya dan sebagai anak terhadap ayahnya. Sehabis itu
Ibrahim berkata: “Hai Ismail, sesungguhnya Allah menyuruh kepadaku
akan sesuatu perkara.” Ismail berkata: “Kalau begitu, lakukanlah
sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada bapak itu!” Ibrahim
berkata: “Apakah engkau akan mem-berikan pertolongan padaku untuk
itu?” la menjawab: “Ya, saya akan menolong bapak.” Ibrahim berkata
lagi: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku, supaya saya
mendirikan sebuah rumah -yakni bait-di sana itu.” Ibrahim menunjuk
pada suatu bidang tanah yang tinggi. Di atas sekitar tanah itulah
rumah itu didirikan. Pada waktu itu ia meninggikan pundamen bait
tersebut. Jadi Ismail yang datang dengan membawakan batunya, sedang
Ibrahim yang men-dirikannya. Sehingga setelah bangunan itu telah
tinggi, datanglah beliau dengan membawa batu ini – yakni almaqam,
lalu batu itu diletakkan. Ibrahim berdiri di atasnya dan beliau sedang
mendirikan
bait dan Ismail memberikan batunya, keduanya sambil mengucap-
kan: Rabbana taqabbal minna innaka antas sami’ul ‘alim artinya: Ya Allah, terimalah amalan kita ini, sesungguhnya Engkau adalah Maha
Mendengar lagi Mengetahui.

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Sesungguhnya Ibrahim keluar dengan membawa Ismail dan ibu
Ismail – yakni Hajar. Beserta mereka adalah sebuah tempat untuk isi air.
Ibu Ismail minum dari wadah air itu lalu meluaplah air susunya untuk
diberikan kepada bayinya itu, sehingga datanglah di Makkah. Ibrahim
meletakkan isterinya di bawah sebuah pohon besar. Selanjutnya
Ibrahim pun pulanglah kembali ke tempat keluarganya di Syam. la
diikuti oleh ibu Ismail, sehingga setelah mereka sampai di tanah Kada’,
isterinya memanggilnya dari belakang: “Hai Ibrahim, kepada siapakah
kita ini anda serahkan, kalau anda meninggalkan kita.” Ibrahim
menjawab: “Kepada Allah.” Isterinya berkata: “Kalau begitu saya ridha
dengan Allah, sebagai Zat yang diserahi.” la lalu kembali dan masih terus
dapat minum air dari wadah air yang di bawahnya tadi dan air
susunyapun tetap meluap untuk diberikan kepada bayinya. Kemudian
setelah air itu habis, ia berkata: “Andaikata saya pergi ke situ, lalu saya melihat-lihat ke sana ke mari, barangkali ada seseorang yang dapat saya
temukan.”
Ibnu Abbas berkata: “Hajar lalu pergi menaiki bukit Shafa, ia melihat ke
sana ke mari dan terus memperhatikan, barangkali ia dapat menemukan
seseorang, tetapi tidak seorangpun yang di temuinya. Setelah ia sampai
di lembah dan berlari kecil serta mendatangi bukit Marwah, kemudian
mengerjakan sedemikian itu pergi-balik sampai tiga kali, kemudian ia
berkata: “Baiklah saya pergi menengok apa yang dilakukan oleh anak
bayiku.” Iapun pergilah, lalu dilihatnya anak itu sedang dalam
keadaannya yang amat berat seolah-olah ia merintih-rintih dengan suara
keras lalu perlahan. Hatinya tidak tenang, kemudian berkata: “Sebaiknya
saya pergi lagi sekali, saya akan melihat ke sana ke mari, barangkali saya
menemukan seseorang.” la pergi lagi, kemudian naik bukit Shafa, terus
melihat dan memperhatikan sekelilingnya, tetapi tidak seorangpun
yang dijumpai olehnya, sehingga lari kecilnya antara Shafa dan Marwah
itu lengkaptujuh kali pergi-balik. la berkata pula: “Cobalah saya melihat
apa yang dilakukan bayi itu.” Tiba-tiba ia mendengar suatu suara, lalu ia
berkata: “Tolonglah, jikalau anda mempunyai sesuatu kebaikan.”
Sekonyong-konyong Jibril a.s. tampak di situ, lalu ia berbuat sesuatu
dengan kakinya dan berkata: “Nah, beginilah.” Jibril a.s. memasukkan kakinya
di bumi lalu memancarlah airnya. Ibu Ismail amat keheranan menyaksikan itu,
sehingga iapun memenuhi kedua tapak tangannya dengan air dan dimasukkan
dalam wadah airnya.”
Selanjutnya diuraikanlah Hadis ini selengkapnya yang panjang.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan riwayat-riwayat ini seluruhnya.
Addawhah ialah pohon besar. Ucapannya: qaffa artinya me-ninggalkan dan
membelakangi. Aljariyyu yaitu utusan, sedang alfa ialah menemukan.
Ucapannya yansyaghu, yaitu merintih dengan suara keras dan perlahan.
1865. Dari Said bin Zaid r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w.:
Kam-ah – tanaman sebangsa manisan – getahnya cair semacam madu,* sedang
airnya dapat digunakan sebagai obat penyakit mata.” (Muttafaq ‘alaih)

* Almannu dapat diartikan madu, yaitu sebangsa madu yang diberikan oleh
Tuhan kepada kaum bani Israil, ketika mereka sedang kebingungan dalam
padang pasir Tiih dulu. Tetapi dapat pula diartikan karunia atau kenikmatan
Tuhan. Jadi menurut arti kedua ini, maka makna Hadis di atas ialah: Kam-ah
itu termasuk kenikmatan – yang dikaruniakan oleh Allah pada para
hambaNya – dan airnya dapat digunakan sebagai obat penyakit mata.”
Wallahu a’lam Bab 371
Kitab Istighfar Mohon Pengampunan

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mohonlah pengampunan – kepada Allah – karena dosamu.”
(Muhammad: 19)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Dan mohonlah pengampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha
Pengampun lagi Penyayang.” (an-Nisa’: 106)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Maka mahasucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan
mohonlah pengampunan kepadaNya, sesungguhnya Tuhan itu adalah Maha Penerima
taubat.” (an-Nashr: 3)

Allah Ta’ala berfirman pula:
“Bagi orang-orang yang bertaqwa adalah beberapa syurga di sisi Tuhan mereka yang
di bawahnya itu mengalirlah beberapa sungai,” sampai pada firmanNya: “Dan
orang-orang yang memohonkan pengampunan di waktu pagi.” (ali-lmran: 15)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan atau menganiaya dirinya sendiri,
kemudian memohonkan pengampunan kepada Allah, maka ia akan mendapatkan Allah
itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (an-Nisa’: 110)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Tidaklah Allah itu akan menyiksa mereka, selagi engkau -Muhammad – masih ada
di kalangan mereka. Allah juga tidak akan menyiksa mereka, selagi mereka itu masih
suka memohonkan pengampunan.” (al-Anfal: 13)

Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Dan orang-orang yang apabila melakukan kejahatan atau mengianiaya dirinya
sendiri, mereka lalu ingat kepada Allah, kemudian memohonkan pengampunan karena
dosa-dosa mereka itu. Siapakah lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa itu selain Allah?
Dan mereka tidak terus-menerus mengulangi perbuatan yang jahat itu, sedang mereka
mengetahui.”‘ (ali-lmran: 135)
Ayat-ayat dalam bab ini banyak, lagi pula dapat dimaklumi.

1866. Dari al-Aghar al-Muzani r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya saja, niscayalah diterangi dengan cahaya dalam hatiku dan
sesungguhnya saya itu niscayalah beristighfar – yakni memohonkan pengampunan kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” (Riwayat
Muslim)

1867. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda:
“Demi Allah, sesungguhnya saya ini niscayalah beristighfar kepada Allah
dan bertaubat kepadaNya dalam seharinya lebih dari tujuhpuluh kali.”
(Riwayat Bukhari)

1868. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, jikalau
engkau semua tidak melakukan apa-apa yang berdosa niscayalah Allah Ta’ala
melenyapkan engkau semua dan niscayalah akan mendatangkan lagi sesuatu
kaum yang berbuat dosa, lalu mereka itu beristighfar kepada Allah, kemudian
Allah memberikan pengampunan kepada mereka itu.” (Riwayat Muslim)
1869. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Kita semua pernah
menghitung Rasulullah s.a.w. dalam sekali majlis mengucapkan istighfar
sebanyak seratus kali, yaitu: Rabbighfir li wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur
rahim.”
Artinya: Ya Tuhan, ampunilah saya serta terimalah taubat saya,
sesungguhnya Engkau adalah Maha Penerima taubat lagi Penyayang.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1870. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang tetap secara langsung beristighfar kepada Allah, maka
Allah menjadikan untuknya suatu jalan keluar dari setiap kesempitan – atau kesukaran – yang ditemuinya, juga diberi kelapangan dari setiap kesusahan yang
dirasakannya, serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak pernah dikira-kira
olehnya.” (Riwayat Abu Dawud)

1871. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan: Astaghfirullahal-ladzi lailaha illa huwal
hayyal qayyuma wa atubu ilaih – artinya: Saya beristighfar kepada Allah yang tiada
Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri dan saya bertaubat
kepadaNya, maka diampunkanlah semua dosanya sekalipun ia benar-benar
pernah melarikan diri dari barisan yang sedang berperang.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud, Termidzi dan Hakim dan
Hakim berkata bahwa ini adalah Hadis menurut syarat Imam-imam Bukhari
dan Muslim.

1872. Dari Syaddad bin Aus r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Penghulu
semua bacaan istighfar itu ialah apabila seseorang hamba mengucapkan – yang
artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Saya menetapi perjanjian dan
ketentuan yang saya ikrarkan kepadaMu – yakni berupa kebaktian, keimanan
dan keikhlasan, sedapat yang saya lakukan. Saya mohon perlindungan
kepadaMu daripada keburukannya apa yang saya lakukan. Saya mengakui akan
kenikmatan yang Engkau limpahkan pada diriku dan saya mengakui pula akan
dosaku. Maka dari itu, berilah pengampunan padaku, karena sesungguhnya
saja tidak ada yang dapat mengampuni semua dosa kecuali Engkau sendiri.
Barangsiapa yang mengucapkan istighfar di atas itu pada waktu siang dengan
penuh kepercayaan akan isi kandungannya, kemudian meninggal dunia pada
harinya itu sebelum sore harinya, maka ia adalah termasuk golongan ahli
syurga. Selanjutnya barangsiapa yang mengucapkannya di waktu malam dan ia
mempunyai kepercayaan penuh akan isi kandungannya, lalu meninggal dunia sebelum pagi harinya, maka ia adalah termasuk golongan ahli syurga.”
(Riwayat Bukhari)
Abu-u dengan ba’ yang didhammahkan, kemudian waw dan hamzah
mamdudah, artinya ialah mengikrarkan serta mengakui.

1873. Dari Tsauban r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila selesai dari
shalatnya lalu beristighfar kepada Allah tiga kali dan selanjutnya mengucapkan
– yang artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Maha Menyelamatkan,
daripadaMulah datangnya keselamatan. Maha Suci Engkau, hai Zat yang
memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Kepada al-Auza’i yaitu salah seorang yang meriwayatkan Hadis ini,
ditanyakan: “Bagaimanakah ucapan istighfar itu?” la menjawab: “Yaitu
mengucapkan Astaghfirullah, astaghfirullah. (Riwayat Muslim)
1874. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu
memperbanyak ucapannya sebelum wafatnya, yaitu – yang artinya: “Maha
Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian padaNya. Saya beristighfar
kepada Allah serta bertaubat kepadaNya. (Muttafaq ‘alaih)
1875. Dari Anas r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi: “Hai anak Adam -yakni
manusia, sesungguhnya engkau itu, selama masih suka berdoa dan berharap
kepadaKu, pastilah Aku mengampuni engkau semua atas dosa apa saja yang
ada pada dirimu dan Aku tidak memperdulikan banyaknya. Hai anak Adam,
jikalau dosa-dosamu itu sampai mencapai mega di langit, kemudian engkau
beristighfar kepadaKu pastilah Aku mengampuni engkau dan Aku tidak mem-perdulikan banyaknya. Hai anak Adam, sesungguhnya engkau itu,
jikalau datang kepadaKu dengan membawa berbagai kesalahan hampir
sepenuh isi bumi, kemudian engkau menemui Aku, asalkan engkau tidak
menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscayalah Aku akan datang kepadamu
dengan pengampunan hampir sepenuh isi bumi itu pula.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan. ‘Ananus sama’ dengan fathahnya ‘ain, ada yang mengatakan artinya
itu ialah mega atau awan, juga ada yang mengatakan, artinya ialah apa-apa yang
tampak padamu dari mega itu Qurabul ardhi dengan dhammahnya qaf, ada
yang meriwayatkan dengan kasrahnya qaf, tetapi dengan dhammah adalah
lebih tersohor, artinya ialah apa-apa yang hampir memenuhi bumi

1876. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
“Hai semua golongan kaum wanita, bersedekahlah engkau semua dan
perbanyakkanlah beristighfar, sebab sesungguhnya saya melihat bahwa engkau
semua itu adalah sebanyak-banyaknya ahli neraka.”
Kemudian ada seorang wanita dari yang hadhir di waktu itu berkata:
“Mengapa kita kaum wanita merupakan jumlah terbanyak dari para ahli
neraka?” Beliau s.a.w. menjawab: “Engkau semua itu suka memperbanyakkan
melaknat serta menutupi kebaikan suami. Saya tidak melihat orang-orang yang
kurang akal dan agamanya di kalangan makhluk yang berakal yang lebih
ghalib – yakni lebih banyak – daripada engkau semua itu.”
Wanita tadi berkata lagi: “Apakah kekurangan akal dan agama kita?” Beliau
s.a.w. menjawab: “Persaksian dua orang perempuan adalah sama nilainya
dengan persaksian seorang lelaki – inilah satu tanda kekurangan akalnya – dan
pula wanita itu diam berhari-hari tanpa melakukan shalat – sebab haidh, nifas
dan sebagainya dan inilah tanda kekurangan agamanya.” (Riwayat Muslim)
Bab 372

Uraian Perihal Apa-apa Yang Disediakan Oleh Allah
Ta’ala Untuk Kaum Mukminin Di Dalam Syurga

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan berdiam di dalam beberapa
syurga yang di tengahnya ada beberapa mata air yang memancar.
Masuklah engkau semua ke dalamnya dengan selamat serta aman sentosa.
Dan Kami hilangkan rasa kedengkian yang ada di dalam hati mereka, sehingga
mereka menjadi sebagai saudaran-saudara, saling berhadap-hadapan di atas ranjang.
Mereka tidak pernah disentuh oleh keletihan dalam syurga itu dan mereka tidak
akan dikeluarkan dari sana.” (al-Hijr: 45-48)

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Hai hamba-hambaKu, pada hari ini engkau semua tidak perlu merasa takut dan
tidak perlu pula berhati susah.
Yaitu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka adalah
pemeluk-pemeluk Agama Islam.
Masuklah engkau semua dalam syurga, juga isteri-isterimu dengan perasaan
gembira.
Kepada mereka diedarkanlah piring-piring dari emas, demikian pula gelas-gelasnya.
Di situ terdapatlah semua yang diinginkan oleh jiwa dan yang sedap dipandang mata
dan engkau semua kekal di dalamnya.
Itulah syurga yang diwariskan kepadamu semua dengan sebab amalan kebaikan
yang telah engkau semua lakukan. Di situ engkau semua akan memperoleh buah-buahan yang banyak sekali, sebagian
daripada buah-buahan itu engkau semua akan memakannya.” (az-Zukhruf: 68-73)
Allah Ta’ala berfirman lagi:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu akan berdiam di tempat yang aman
sentosa – yakni syurga. Mereka mengenakan sutera halus dan sutera berkembang,
sambil duduk berhadap-hadapan. Demikianlah hal-ihwal para ahli syurga itu.
Mereka juga Kami kawinkan dengan bidadari-bidadari yang jelita matanya. Di situ
mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan sentosa. Di
situ mereka tidak akan merasakan kematian lagi, selain kematian yang pertama –
ketika di dunia dulu. Allah melindungi mereka dari siksa neraka jahim. Sebagai
karunia dari Tuhanmu. Yang sedemikian itu adalah suatu kebahagiaan yang agung
sekali.” (ad-Dukhan: 51-57)

Allah Ta’ala berfirman pula:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebaktian – kepada Allah – Itu
niscayalah memperoleh kenikmatan.
Di atas sofa mereka memandang.
Engkau dapat mengenal cahaya kenikmatan tadi pada wajah-wajah mereka.
Mereka diberi minum dari minuman yang ditutup rapat.
Tutupnya adalah minyak kasturi dan untuk memperoleh itu hendaklah
berlomba-lomba orang-orang yang mau berlomba-lomba.
Adapun campurannya adalah dari tasnim.
Yaitu merupakan sebuah mata air yang dengan minuman inilah orang-orang yang
dekat – kepada Allah – akan dapat meminumnya.” (al-Muthaffifin: 22-28)

Ayat dalam bab ini masih banyak lagi dan dapat dimaklumi. 1877. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Dalam syurga itu para ahli syurga sama makan dan minum, tetapi mereka
itu tidak membuang air besar, tidak beringus dan tidak pula membuang air
kecil, tetapi makanan yang sedemikian itu dapat pula keluar serdawa dan
sebagaimana keringat yang keluar dari tubuhnya itu adalah berbau minyak
kasturi. Mereka diilhami untuk terus bertasbih serta bertakbir – kepada Allah –
sebagaimana juga dikaruniainya pernafasan tanpa kesukaran dalam
kesemuanya itu.” (Riwayat Muslim)

1878. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis Qudsi: “Aku menyediakan untuk
hamba-hambaKu yang shalih pahala yang tidak pernah ada mata melihatnya,
tidak pernah ada telinga mendengarnya, juga tidak ada lintasan dalam hati
seseorang manusiapun. Bacalah olehmu semua sekehendakmu – ayat yang
artinya: “Maka tiada seorang-pun yang dapat mengetahui pahala yang
disembunyikan untuk mereka yang berupa apa-apa yang menyenangkan
mata.” (as-Sajdah:17) (Muttafaq’alaih)

1879. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Pertama kali kelompok yang memasuki syurga itu adalah bagaikan rupa
bulan purnama – yakni ketika tanggal empatbelas -kemudian orang-orang
yang masuk di belakang mereka itu adalah sebagai bintang di langit yang
terterang cahayanya. Mereka itu di dalam syurga tidak akan mengeluarkan
kotoran, kecil atau besar juga tidak pernah berludah dan beringus. Sisirnya
adalah terbuat dari emas sedang keringatnya adalah bagaikan minyak kasturi
dan perapiannya adalah aluwwah yaitu kayu harum. Isteri-isteri mereka
adalah bidadari-bidadari yang jelita matanya. Mereka itu dititahkan sebagai seorang lelaki yang sama, sebagaimana rupa ayah mereka yakni Nabi Adam,
tingginya ada enampuluh hasta ke langit – yakni ke atasnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam-imam Bukhari dan Muslim disebutkan
pula:
“Di dalam syurga wadah-wadah yang dipergunakan oleh mereka – yakni para ahli
syurga – adalah terbuat dari emas, keringat mereka adalah bagaikan minyak
kasturi. Tiap seseorang dari semua ahli syurga itu mempunyai dua orang isteri
yang sumsum betisnya itu dapat dilihat dari balik daging karena indahnya,
tiada perbedaan antara para ahli syurga itu dan tiada pula rasa saling benci-
membenci. Hati mereka adalah bagaikan hati satu orang lelaki. Mereka sama
memaha-sucikan Allah pada waktu pagi dan sore.”
Sabdanya: ‘ala khalqi rajulin, oleh sebagian alim-ulama diriwayatkan
dengan fathahnyakha’dan sukunnya lam – lalu berbunyi khalqi, artinya kejadian
atau bentuk rupa – dan sebagian mereka meriwayatkan dengan dhammahnya
kha’ dan lam – lalu berbunyi khuluqi, artinya budipekerti – dan keduanya itu
benar semua.

1880. Dari al-Mughirah bin Syu’bah dari Rasulullah s.a.w. sabdanya:
“Musa bertanya kepada Tuhannya: “Bagaimanakah serendah-rendah tingkat
ahli syurga itu?” Allah berfirman: “Yaitu seorang lelaki yang datang sesudah
para ahli syurga dimasukkan dalam syurga. Kepadanya dikatakan: “Masuklah
ke dalam syurga!” Orang itu berkata: “Ya Tuhanku, bagaimanakah saya dapat
masuk, sedang orang-orang sudah sama menempati kediamannya sendiri-
sendiri dan mereka telah pula mengambil bagian yang ditentukan untuk
mereka ambil – yang berupa kenikmatan-kenikmatan yang bermacam-
macam.” Kepadanya dikatakan lagi: “Adakah engkau ridha kalau untukmu
diberikan bagian seperti kerajaan seseorang raja dari sekian banyak raja-raja di
dunia?” la menjawab: “Saya ridha.” Allah lalu berfirman: “Engkau dapat memperoleh yang sedemikian dan lagi yang seperti itu, lagi yang seperti itu,
juga yang seperti itu pula dan seperti itu pula.” Untuk kelima kalinya ia berkata:
“Saya ridha ya Tuhanku.” Allah berfirman pula: “Inilah untukmu dan ada
sepuluh lagi yang seperti dengan ini. Untukmu juga segala sesuatu yang
diinginkan oleh hatimu dan yang nyaman dipandang oleh matanya.” Orang itu
berkata: “Saya ridha ya Tuhanku.”
Musa bertanya lagi: “Ya Tuhanku, bagaimanakah tingkat yang tertinggi bagi
ahli syurga itu?” Allah berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang Aku
kehendaki. Aku tanamkan kekaramahan mereka dengan tangan kekuasaanKu
dan Aku tutupkan atasnya -supaya tidak diketahui oleh siapapun. Karena itu,
tiada mata yang pernah melihat, tiada telinga yang pernah mendengar dan
tiada pernah terlintas dalam hati seseorang manusiapun.”( Riwayat Muslim)

1881.Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Sesungguhnya saya niscayalah
mengetahui orang dari golongan ahli neraka yang terakhir sekali keluarnya
dari neraka itu dan ia pulalah orang dari golongan ahli syurga yang terakhir
sekali masuknya dalam syurga. Yaitu seorang lelaki yang keluar dari neraka
dengan merangkak, lalu Allah ‘Azzawajalla berfirman padanya: “Pergilah –
menjauhi dari neraka – dan masuklah dalam syurga.” Orang itu mendatangi
syurga kemudian tampak di matanya, seolah-olah syurga itu sudah penuh
sesak. la kembali lalu berkata: “Ya Tuhanku, saya mendapatkan syurga itu
sudah penuh sesak.” Allah ‘Azzawajalla berfirman lagi padanya: “Pergilah dan
masuklah dalam syurga.” Sekali lagi ia mendatangi syurga itu dan tampak pula
dalam pandangannya, seolah-olah syurga itu sudah penuh sesak. la kembali pula
lalu berkata: “Ya Tuhanku, saya mendapatkan syurga itu sudah penuh sesak.”
Allah ‘Azzawajalla berfirman pula: “Pergilah, sesungguhnya untuk bagianmu
itu adalah seperti sedunia luasnya dengan tambahan sepuluh kali lagi yang
seperti itu. Jadi untukmu adalah sepuluh kali seluas dunia.” Orang itu berkata: “Adakah Tuhan mengejek padaku atau menertawakan diriku, sedangkan
Tuhan adalah Maha Merajai.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Sungguh-sungguh saya melihat Rasulullah s.a.w.
ketawa, sehingga tampaklah gigi-gigi gerahamnya, kemudian beliau bersabda:
“Yang sedemikian itu tingkat yang terendah sekali dari golongan para ahli
syurga.” (Muttafaq ‘alaih)

1882. Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya bagi
seseorang mu’min dalam syurga itu adalah sebuah kemah yang terbuat dari
mutiara yang utuh sebiji, berlobang tengah. Panjangnya ke langit – yakni ke
atas tingginya – ada enampuluh mil. Bagi seseorang mu’min di dalamnya itu
ada beberapa keluarga yang dikelilingi oleh orang mu’min tadi, tetapi antara
yang seorang dengan yang lainnya – di kalangan keluarga atau isterinya-isterinya
– tidak ada yang tahu-menahu – karena sangat luasnya atau memang dibuat
sedemikian rupa oleh Allah.” (Muttafaq ‘alaih)
Almilu, yakni semil itu ada enamribu hasta

1883. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya di
dalam syurga itu ada sebuah pohon yang kalau dijalani oleh seseorang
berkendaraan kuda pacuan yang terlatih – makanan serta kekuatan larinya
dan Iain-Iain – lagi laju larinya, dalam waktu seratus tahun, tentu belum dapat menempuhnya – yakni belum lagi dapat sampai ke tempat permulaan
berangkatnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam kedua kitab shahih yakni Bukhari dan Muslim, juga diriwayatkan
dari Abu Hurairah r.a., sabda Nabi s.a.w.: “Seseorang yang berkendaraan di
bawah naungan pohon itu kalau berjalan selama seratus tahun, belum lagi
dapat menempuhnya – yakni kembali ke tempat asal berangkatnya.”

1884. Dari Abu Said al-Khudri r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Sesungguhnya ahli syurga itu niscayalah dapat melihat penghuni-
penghuni bilik-bilik yang ada di atas mereka, sebagaimana engkau semua
melihat bintang yang cemerlang cahayanya yang berlalu di cakrawala dari
arah timur ke arah barat, karena adanya kelebihan keutamaan di antara
mereka itu.”
Para sahabat bertanya: “Apakah itu kediaman-kediaman para Nabi yang
tidak dapat dicapai oleh orang yang selain mereka itu?” Beliau s.a.w. menjawab:
“Benar, demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaannya, tetapi
juga tempatnya orang-orang yang beriman kepada Allah serta percaya benar-
benar kepada Rasul-rasul.” (Muttafaq ‘alaih)

1885. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Niscayalah separuh dari panah yang ada di syurga itu adalah lebih baik
daripada segala sesuatu yang matahari terbit serta terbenam padanya – yakni
lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Muttafaq ‘alaih)

1886. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya di
dalam syurga itu ada pasarnya, yang didatangi oleh para ahli syurga pada tiap
hari Jum’at, lalu meniuplah angin utara- sebagai kiasan yang penuh
kenyamanan dan keberkahan -kemudian mengenai wajah-wajah dan pakaian-pakaian mereka, sehingga mereka itu menjadi bertambah bagus dan elok.
Selanjutnya kembalilah mereka ke tempat keluarga mereka dalam keadaan
mereka telah bertambah bagus dan elok itu. Keluarga-keluarganya itu berkata
kepada mereka: “Demi Allah, sungguh-sungguh anda sekalian telah
bertambah bagus dan eloknya.” Mereka lalu menjawab: “Engkau semuapun,
demi Allah, benar-benar telah bertambah indah dan cantiknya.” (Riwayat
Muslim)

1887 Dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya para ahli syurga itu niscayalah dapat melihat bilik-biliknya
sendiri yang ada di dalam syurga itu, sebagaimana engkau semua dapat
melihat bintang di langit.” (Muttafaq ‘alaih)

1888. Dari Sahl bin Sa’ad r.a. pula, katanya: “Saya menyaksikan dari Nabi
s.a.w. akan suatu majlis yang di situ beliau s.a.w. menerangkan sifat syurga,
sehingga selesai, kemudian dalam akhir pembicaraannya beliau s.a.w. bersabda:
“Di dalam syurga itu adalah kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah
ada mata yang melihatnya, tidak ada telinga yang pernah mendengarnya dan
tidak pernah terlintas dalam hati seseorangpun.”
Selanjutnya beliau s.a.w. membacakan ayat – yang artinya: “Lambung-lambung
mereka menjauh dari tempat-tempat tidurnya -yakni orang-orang yang
berbakti kepada Allah sama meninggalkan tidur,” sehingga firmanNya: “Maka
tiada seorangpun yang dapat mengetahui pahala yang disembunyikan untuk
mereka yang berupa apa-apa yang menyenangkan mata. (as-Sajdah: 17)
(Riwayat Bukhari)
1889. Dari Abu Said bin Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila para ahli syurga sudah memasuki syurga, maka berserulah
seseorang penyeru: “Sesungguhnya bagimu semua adalah dapat terus hidup,
maka tidaklah engkau semua akan mati untuk selama-lamanya, engkau
semua akan sihat terus, maka tidaklah engkau semua akan sakit untuk selama-
lamanya, engkau semua akan tetap muda, maka tidaklah engkau semua
menjadi tua untuk selama-lamanya, engkau semua akan terus memperoleh
kenikmatan, maka tidaklah engkau akan memperoleh kesukaran untuk
selama-lamanya.” (Riwayat Muslim)
1890. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya serendah-rendah tempat bagi seseorang di antara engkau
semua di dalam syurga itu ialah bahwa kepadanya dikatakan: “Berharaplah
untuk mendapatkan apa saja!” iapun lalu mengharapkan memperoleh ini dan
itu. Kepadanya dikatakan lagi: “Adakah engkau sudah habis yang diharap-
harapkan?” la berkata: “Ya, sudah.” Kemudian dikatakan lagi kepadanya:
“Engkau akan memperoleh apa saja yang engkau harapkan dan yang seperti itu
pula besertanya – yakni dikarunia lipat dua kali yang diinginkan tadi.”
(Riwayat Muslim)

1891. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla berfirman kepada ahli syurga: “Hai ahli
syurga.” Mereka berkata: “Labbaik, ya Tuhan, wa sa’daik. Segala kebaikan ada di
dalam tangan kekuasaan Tuhan.” Allah berfirman: “Adakah engkau semua
sudah ridha?” Mereka menjawab: “Bagaimana kita tidak akan merasa ridha, ya
Tuhan kita, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kita karunia-karunia
yang tidak pernah Engkau berikan kepada seseorangpun dari makhluk
Tuhan.” Allah berfirman lagi: “Tidakkah engkau semua suka kalau Aku
berikan yang lebih utama lagi dari yang sedemikian itu?” Mereka bertanya:
“Apakah yang lebih utama dari yang sedemikian ini?” Allah kemudian berfirman: “Aku menempatkan keridhaanKu padamu semua maka Aku tidak
akan bermurka padamu semua sesudah saat ini untuk selama-lamanya.”
(Muttafaq ‘alaih)

1892. Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: “Kita semua berada di sisi
Rasulullah s.a.w. lalu beliau s.a.w. melihat bulan pada malam purnama – yakni
tanggal empatbelas – dan bersabda:
“Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu semua dengan terang-terangan
dapat dipandang mata, sebagaimana engkau semua melihat bulan ini. Tidak akan
engkau semua mendapatkan kesukaran dalam melihatNya itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Keterangan:
Tidak mendapatkan kesukaran untuk melihat Tuhan itu, misalnya untuk
melihatNya haruslah berdesak-desakan atau sukar dilihatnya semacam ingin
melihat bulan sabit yakni bulan tanggal satu ataupun kesukaran yang Iain-Iain.
1893. Dari Shuhaib r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau
semua ahli syurga sudah memasuki syurga, lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala
berfirman: “Adakah sesuatu yang engkau semua inginkan supaya Aku dapat
menambahkan kenikmatan itu padamu semua?” Mereka menjawab: “Bukankah
Engkau telah memutihkan wajah-wajah kita – maksudnya menjadikan wajah-
wajah itu ber-cahaya? Bukankah Engkau telah memasukkan kita dalam syurga
dan menyelamatkan kita dari neraka?” Kemudian tersingkaplah tabir – yang
menutupi Zat Allah Ta’ala. Maka tidak ada suatu kenikmatan yang diberikan
kepada para ahli syurga itu yang lebih mereka sukai daripada melihat kepada Zatnya Tuhan mereka,” – yakni dapat melihat wujudnya Allah Ta’ala dengan
terang-terangan dapat disaksikan oleh mata.(Riwayat Muslim)

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan
yang baik, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka dengan sebab keimanan mereka
itu, mengalirlah di bawah mereka itu beberapa sungai yaitu dalam syurga-syurga
Na’im.
Seruan mereka dalam syurga itu ialah: “Maha Suci Engkau, ya Allah,” sedang
salam penghormatan mereka di situ ialah: “Salam” dan akhir doa mereka ialah bahwa
segenap puji-pujian itu adalah bagi Allah yang menguasai alam semesta ini.” (Yunus:
9-10)
Segenap puji-pujian bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada
kita sekalian untuk perkara ini – yakni penyusunan kitab Riyadhus Shalihin dan
termasuk pula penerjemahannya. Kita tidak akan memperoleh petunjuk apa-
apa, andaikata Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita.
Ya Allah, berikanlah tambahan kerahmatan kepada Nabi Muhammad,
yaitu hamba dan Rasul Tuhan, seorang Nabi yang ummi – tidak pandai
membaca dan menulis, juga kepada keluarga Nabi Muhammad, isteri-isteri
serta seluruh keturunannya, sebagaimana Tuhan telah memberikan tambahan
kerahmatan kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi Ibrahim.
Berikanlah pula tambahan keberkahan kepada Nabi Muhammad,
yaitu seorang Nabi yang ummi dan kepada keluarga Nabi Muhammad, isteri-
isteri serta seluruh keturunannya, sebagaimana Tuhan telah memberikan
tambahan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarga Nabi
Ibrahim.
Di dalam seluruh alam, sesungguhnya Tuhan adalah Maha Terpuji lagi
Sempurna kemuliaannya.
Penyusun kitab Riyadhus Shalihin yakni Imam an-Nawawi r.a. berkata: “Saya telah selesai mengerjakannya pada hari Senin tanggal empat bulan
Ramadhan tahun enamratus tujuhpuluh Hijriyah di Damsyik.”
TAMMAT

  1. Tiada komen.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s